Work Text:
Tubuh Rion terbanting ke kasur, menatap Caine dengan wajah marah tetapi tetap datarnya itu. "Lepaskan aku, Caine." Caine tak menjawab.
Tubuhnya secara perlahan turun hingga menindih tubuh Rion dibawahnya.
"Jika aku tidak mau?"
Rion berdecak, ia mencoba bangkit. Namun, entah dari mana kekuatan wakil Presidente nya ini menjadi sangat kuat.
Tubuh Rion yang tidak siap dibanting oleh Caine, perutnya ada di bawah, sedangkan punggungnya ditekan oleh dengkul Caine agar tidak bergerak.
"Caine. Lepaskan sekarang juga."
Caine tetap tak bergeming, tetapi mulai terasa ada kecupan kecupan basah di lehernya. Rion mengatupkan bibirnya, menahan desahan agar tidak keluar.
"Kan aku mau denger suara kamu, ayo keluarin ~" Caine memasukkan dua jarinya ke mulut Rion, membuka paksa bibirnya agar mendesah.
Caine melanjutkan kecupan kupu kupu yang ia lakukan, mencari titik terlemah seorang Rion Kenzo di lehernya.
Kecupannya telah sampai di belakang telinga Rion, desahannya menguat hingga ia tak bisa tahan.
"Argh..."
Caine tersenyum, bibirnya terus menyusuri leher dan bagian belakang telinga Rion.
"Enak kan?" Rion tak menjawab, namun dari wajahnya yang semakin merah itu menunjukkan jawaban yang jelas.
"Lepasin aku, Caine."
Caine tak membalas, "kamu pikir dengan cara kayak gitu bakal bikin aku lepasin kamu?" Rion tentu mendengar gumaman Caine.
"Lepasin aku, Caine~"
Caine tetap menggeleng, senyumannya menunjukkan bahaya yang menunggu di depan.
---------
Tubuh keduanya sudah bersatu dalam kehangatan, Caine menatap wajah Rion yang mulutnya itu mendesah kencang.
Lidah menjulur, air liur menetes hingga leher, dan mata yang terbalik. Caine tentu tersenyum manis, menatap Presidente TNMC ini tunduk di bawahnya.
Perutnya menekan tonjolan di perut bawah Rion, desahan yang merdu langsung mengalir dari mulut Rion.
"AKH— Caine... Lepasin! Kumohon♡!" Caine tak mengindahkan permintaan Rion.
Pinggulnya justru semakin kuat bergerak, menusuk kedalam hingga perut Rion benar benar menonjol karena penis.
Tangan Rion mendorong perut Caine agar melepas penisnya dari dalam tubuhnya, menancapkan kukunya di kasur untuk melepaskan diri. "Kenapa mau kabur, hum? Mau diliat anak anak kamu lagi di entot begini?"
Caine mengulurkan tangan, menyentuh telapak tangan Rion yang baru ia lepaskan dari cengkraman selimut.
Mengecupi jari jari kasar yang sudah terbiasa memegang pistol itu, jempolnya bergerak mengelus telapak tangan Rion yang berkeringat.
Rion tentu tak menjawab, otaknya mulai berubah menjadi bubur. Rasanya ia seperti dibuat hanya untuk mendesahkan nama Caine.
"Caine♡, cium... Cium aku—" Caine tentu langsung menyanggupi. Bibir keduanya bertaut, Caine tau Rion mencoba untuk memenangkan kontrol ciuman ini tetapi ia lupa jika Caine itu sama dengan dirinya.
Caine terkekeh menatap wajah fucked up Rion dibawahnya, mengelus air liur yang keluar dari sisi bibirnya.
Caine terkekeh merasakan Rion yang keluar tanpa adanya sperma yang mengalir dari penisnya. Kaki Rion bergemetar, pahanya kejang dan ia keluar untuk yang ke 30 kalinya malam ini.
"Mau lagi?"
"Rion mau~♡" Caine terkekeh, Rion sudah bukan dirinya lagi dan itu karenanya.
Caine menyanggupi ucapan Rion, terus memaju mundurkan pinggulnya hingga ronde ke 40.
Rion yang sudah lelah dan overstimulated itu hanya bisa memejamkan mata, tubuh bagian bawahnya mati rasa.
Caine yang menjadi pelaku dari semua ini tentu bersemangat, bahkan ia daritadi bergumam lagu dan terus menerus tersenyum lebar.
"Mami kenapa seneng banget?" Tanya Echi yang sedang duduk di sofa, Caine yang baru kembali dari dapur tentu menggeleng.
"Nggak apa apa, Chi. Lagi seneng aja" Echi mengangguk walau ia masih tak percaya.
Caine sudah kembali di kamar setelah beberapa kali bertemu anak anaknya.
"Rion~" Rion yang masih tak bisa bergerak itu tentu hanya menunggu Caine di kasur yang basah itu.
"Peluk." Ucap Rion tanpa suara. Caine terkekeh, ia menaruh kain yang ia rendam menggunakan air hangat itu kembali ke tempatnya, memeluk Rion erat.
"Kamu gila banget Caine" ucap Rion dengan suaranya yang habis itu.
"Hehehe" Rion menggelengkan kepalanya, mengecup dahi Caine lama.
"Nanti bersihin badan aku pokoknya" Caine mengangguk, ia masih sibuk menciumi leher dan wajah Rion.
