Actions

Work Header

Gurau Canda di Atas Meja Makan

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Keonho dan Seonghyeon ditinggal berdua di dorm. Kakak-kakaknya pergi entah kemana bersama staff, membuat vlog baru. Seonghyeon memasak makan malam sedangkan Keonho menunggu di sofa sambil membaca seri buku terbaru favoritnya. Sesekali ia menyelinap ke dapur untuk mencuil masakan yang sudah matang sebelum akhirnya gerutuan dari Seonghyeon terdengar dan ia diusir dari dapur. Kemudian mereka makan malam dan bersama-sama mencuci piring hingga busa sabun berceceran becek di mana-mana.

Semua berlangsung seperti malam-malam sebelumnya. Sampai pada akhirnya Keonho bertingkah aneh, memeluk Seonghyeon dari belakang dan menggesekkan ujung hidungnya pada leher Seonghyeon. Hampir saja lidahnya tergigit sebab Seonghyeon sedang mengunyah buah anggur sisa kemarin dari kulkas.

Keonho mengecup pundaknya yang terekspos sedikit. Seonghyeon memang memakai kaus milik Keonho, sebab itulah bagian pundaknya melorot. Mereka memang sering berbagi pakaian.

“Kamu kenapa?” tanyanya sembari tertawa kecil.

Keonho membuat suara yang terdengar seperti anjing yang terluka. “Kangen.”

Dahinya mengernyit. “Kangen apa? Kita kan tinggal bareng. Tiap hari ketemu.”

“Bukan kangen yang itu, Sen.” Keonho mulai menggigiti tengkuk lehernya dan Seonghyeon harus berusaha sekuat tenaga agar tidak mendesah.

Ia tahu persis apa yang Keonho maksud dengan ‘kangen’. Seonghyeon memutar bola mata, sedikit merasa geli karena teman satu grupnya bermain kode-kode seperti itu alih-alih mengatakannya secara gamblang. Alhasil, ia berbalik badan dan mengecup bibir Keonho singkat.

“Sekarang udah sembuh kangennya?”

Keonho menatapnya seolah-olah Seonghyeon adalah manusia paling tolol sedunia. “Masih kangen.”

Bibirnya ia tempelkan kembali ke ceruk leher Seonghyeon. Kali ini lebih lama daripada sebelumnya. Sebelum Keonho bisa bermain lebih dalam, Seonghyeon menjauhkan diri.

Keonho, seperti yang sudah bisa ditebak, kesal luar biasa. Alisnya mengerut, bibirnya cemberut, persis seperti anak kecil yang bakal tantrum sebab mainannya diambil. Ujung bibir Seonghyeon terangkat membentuk sebuah seringai. Jemarinya memijat daun telinga Keonho yang memerah. “Gemes banget sih kamu.”

Keonho menggeram keras-keras. Seonghyeon mungkin akan bercanda suaranya mirip knalpot motor, tetapi ia tahan candaannya dan hanya tertawa sambil mencubit pipinya. Alis Seonghyeon sedikit mengerut sebab pipi Keonho begitu padat dan keras untuk ditarik.

“Kenapa? Kamu masih laper? Mau makan yang manis-manis?” Tanya Seonghyeon setengah bercanda.

Beberapa detik Seonghyeon masih bisa menjulurkan lidah ke Keonho, namun akhirnya bibirnya dilahap dengan rakus. Kira-kira hanya itu yang ia ingat. Ia tidak tahu mengapa kini ia merebah di atas meja makan dalam keadaan telanjang, kedua kakinya dibuka lebar-lebar dengan Keonho di tengah-tengahnya. Entah Keonho yang mendorongnya, atau Seonghyeon sendiri yang mempersembahkan diri. Tidak ada bedanya.

Dengan posisi seperti ini, Seonghyeon merasa dirinya adalah hidangan utama yang disajikan di sebuah perjamuan dan Keonho adalah pemangsa yang mendambanya sejak lama.

Pahanya ditahan oleh Keonho yang duduk di kursi, dikecupi di setiap inci. Keonho mengambil jarak dan memandangi bagian bawah Seonghyeon dalam diam. Napasnya terasa membakar, Seonghyeon menahan erangan malu, namun tak bisa menahan agar lubangnya tidak berkedut.

“Seonghyeon.”

Ia paham tindak-tanduk Keonho setiap kali mereka bersanggama. Teman satu grupnya itu selalu meluangkan waktu untuk memandanginya, setiap lekuk, setiap luka kecil, setiap gigitan nyamuk, setiap tahi lalat yang ada—sedemikian intens bak seorang pemuja.

Seonghyeon selalu terheran-heran apa yang begitu menarik, menawan, molek, rupawan dari dirinya sehingga Keonho menatapnya seperti itu. Tapi ia berhenti terheran-heran karena sensasinya tidak buruk juga meski ia harus menelan malu.

“Ken, udah, jangan diliatin terus…”

Keonho terkekeh. “Malu, ya?” Tangannya mencekal pergelangan tangan Seonghyeon yang berusaha menutupi vaginanya.

Seonghyeon menggigit bibir. “Yang bener…”

Suara derik kursi yang ditarik adalah satu-satunya peringatan, tetapi Seonghyeon tidak sadar sampai ia merasakan lidah menyentuh labianya. Tanpa mengizinkan Seonghyeon memproses, Keonho bergerak dengan perlahan, menyapu, mengecup lembut layaknya sedang Seonghyeon tertahan di tenggorokan.

“Ken! Aba-aba dulu, dong!” protesnya, namun Keonho tetap asyik sendiri.

Kedua bibir vagina Seonghyeon dijelajah dan ditinggalkan jejak basah. Ia menahan kedua pahanya sendiri agar tetap mengangkang lebar, memamerkan bagian intimnya yang kini berkedut-kedut, mempersilakan Keonho untuk melakukan apa pun yang dimaui. Malunya meluap ditukar nafsu.

Sentuhan Keonho terasa pelan dan lembut, terasa menyakitkan. Seonghyeon dongkol dibuatnya. Mengingat temannya yang hampir tantrum tadi, ia takjub Keonho belum lepas kendali. Dan lagi, Seonghyeon tidak mengerti mengapa sekarang Keonho malah tidak mempermasalahkan mereka melakukan seks di atas meja makan padahal biasanya ia akan mengamuk jika Seonghyeon melewatkan noda untuk dibersihkan.

Lidah Keonho bertemu dengan tonjolan kecil pada vagina. Sapuannya terasa familier namun tetap mengirimkan gelombang kejut ke seluruh tubuh Seonghyeon. Digelitiknya klitoris dengan ujung lidah, mengingatkan Seonghyeon pada kucing yang sedang minum. Tak kuasa menahan nikmat, ia meloloskan desah beruntun.

“Hnghhh! Ken—”

Tangan Seonghyeon terlepas dan otomatis pahanya menjepit kepala Keonho. Jemarinya yang lengket langsung bersarang pada rambut lebat temannya. Mungkin tidak sengaja menggaruk kulit kepalanya. Pinggulnya menggeliut mirip cacing kepanasan. Keonho dengan segera mencekalnya, mengembalikan paha Seonghyeon ke posisi awal.

Dari lubangnya, deraian lendir meleleh perlahan dan mengalir ke anus. Keonho menarik klitorisnya dalam satu isapan kencang yang membuat cairannya menciprat. Lalu, seperti sengaja membuat Seonghyeon mati terkejut, turun ke lubang masuknya untuk melesakkan lidah.

“Nghhh—?”

Tubuh Seonghyeon tidak henti-hentinya bergetar. Air mata mengancam kabur dari pelupuk matanya. Napas Keonho yang menderu semakin memperparah kedutan. Gumpalan kecil itu kembali dimanja. Dikulum, hingga disedot lubangnya, memaksa lebih banyak cairan untuk menyembur dan memuaskan dahaga.

“Banyak banget, Sen. Ini buat aku semua?”

“Jangan— hahhh ngomong—”

Lidah tak bertulang tapi cukup kuat untuk membuatnya menggelinjang, atau apa pun itu yang dikatakan sebuah pepatah, Seonghyeon hanya tahu Keonho adalah jagonya dalam kegiatan mesum ini. Tanpa sadar, pinggul Seonghyeon bergerak dan punggungnya terangkat untuk menabrakkan diri dengan jamahan Keonho.

Bibir dan lidah menari beriringan. Saat lidah selesai menyodok lubangnya, bibir Keonho mengatup untuk menyesap cairan Seonghyeon dengan tamak. Kemudian dihentak-hentak, meraba dinding dalamnya yang semakin diketatkan oleh Seonghyeon.

“Ahh… Ken… pelan-pelan nghhh!” ucap Seonghyeon. Dan saat ia mengangkat kepalanya sedikit, ia mendapati alis Keonho naik satu seolah ingin mengatakan “Kamu keenakan gini kok minta dipelanin,” tapi buru-buru ia menabrakkan kembali kepala Keonho ke selangkangannya agar diam. Hanya bunyi seruputan basah dan desah cabul yang memenuhi ruangan.

Keonho menutupi lubang masuk milik Seonghyeon dengan permukaan lidahnya untuk mencegah cairan bening meluncur keluar dengan sia-sia. Hidungnya menggesek klitoris. Lalu, dari lubang bergerak ke atas dengan lambat, begitu menyengat, dan tiba di gumpalan kecil pada ujung atas vaginanya.

Perut Seonghyeon mengencang dan melilit. Udara di sekelilingnya menipis, seakan meluap menuju ketiadaan. Akibatnya Seonghyeon tersedak ludahnya sendiri karena berusaha meraup oksigen. Keonho yang tidak mau berhenti barang sebentar di bawah sana sama sekali tidak membantunya.

Ia mulai meracaukan serentetan kata tanpa makna dan kakinya menendang sembarang arah untuk mempertegas racauannya bahwa orgasmenya akan datang. Namun, Keonho tidak menangkap isyarat itu dan semakin lahap menyantap hidangan pencuci mulut.

“Ken, aku—!”

Kepalanya terbanting keras ke permukaan meja. Ketegangan yang mengumpul di perutnya meledak keluar. Ia merasa girang bukan kepalang sampai-sampai kepalanya terasa melayang. Vaginanya mengucur deras dan membasuh mulut Keonho, membuatnya kotor serta berdosa alih-alih menjadi bersih atau suci.

Keonho benar-benar membuatnya orgasme hanya dengan kelihaian lidahnya.

Kedua tangan Seonghyeon menjambak rambut Keonho kuat-kuat, menyuruhnya untuk menjauh dari sana. Namun, Keonho malah semakin meraba klitorisnya yang sudah bengkak dengan lidah, menekan-nekan hingga mulut Seonghyeon terbuka tanpa ada suara yang keluar.

Lubang Seonghyeon terasa dimasuki sesuatu yang lebih panjang dan ramping dari lidah, tubuhnya terlonjak sadar. “Nghhh—nanti dulu… Ken—”

Jemari itu menarik diri dari vagina Seonghyeon, tetapi tidak keluar sepenuhnya. Kepala Keonho terangkat dan Seonghyeon bisa melihat wajah temannya yang paling tampan sejagat raya belepotan oleh cairannya. Bibir mengkilap hingga ke dagu, lalu satu tetes cairan itu tergelincir ke tulang selangka. Kaos biru dongker yang dipakainya memunculkan jejak basah yang begitu kentara.

Keonho mendekat, Seonghyeon refleks mengalungkan tangan pada leher, menariknya melekat untuk melumat bibir penuh maksiat. Langit-langit mulutnya masih mengecap sari buah anggur yang tertinggal, bersatu dengan rasa dirinya sendiri yang menempel di mulut dan bibir Keonho.

Ciumannya kali ini berantakan tanpa irama. Bahkan gigi mereka berbenturan. Dua lidah di dalam gua meliuk lihai dan licin. Satu tangan Keonho menyelinap ke punggung Seonghyeon, mengangkatnya untuk duduk dengan lutut masih tertekuk dan paha terbuka lebar. Jemari Keonho yang masih bersarang di belahan kelamin Seonghyeon kembali bergerak maju-mundur. Refleks Seonghyeon mengerang, dan langsung ditelan oleh Keonho.

Di dalam sana, Keonho bergerak sesuka hati. Tanpa ampun, jarinya memutar, lalu dihadapkan ke atas sebelum mendorongnya untuk mengenai spot yang membuat Seonghyeon kelojotan.

“Hahhh… Ken, tadi…. lagi—” pintanya terbata-bata setelah ciuman dilepas.

Seonghyeon bersumpah ia sekelebat melihat seringaian iblis di ujung bibir temannya. Dalam hati ia mulai merapal doa kendati, mungkin saja, ia sendiri adalah iblisnya.

“Gini? Disini, sayang?”

Titik itu ditumbuk lagi, menyetrumkan vibrasi yang berpusat pada selangkangan dan menjalar ke otak. Seonghyeon terlonjak, kuku menancap pada pundak, dada membusung menyajikan puting susu pada Keonho. Akal sehatnya mengawang menjauhi bumi. Ia benar-benar tolol dibuatnya.

“Iyahhh… lagi… mau lagi, Ken—”

Keonho menuruti. Mata Seonghyeon terpejam untuk menikmati belaian jari Keonho di dalam dindingnya. Menggerapai dengan sok malu-malu padahal akhirnya nanti dihantam juga.

“Sayang, kamu cantik banget,” ujar Keonho, bibir menggerayangi belakang telinga. Perut Seonghyeon bergelenyar kegirangan. “Pengen banget ngasih tau semua orang kalo Eom Seonghyeon aslinya mesum dan suka kalo memeknya diubek-ubek gini.”

Keonho menikmati pemandangan Seonghyeon yang sangat indah dan erotis. Dan hanya Keonho yang bisa melihatnya. “Selalu cantik, memek kamu anget terus sayang.”

Keonho tidak menghentikan jemarinya, kini bergerak pelan-pelan. Tetap saja Seonghyeon gelisah meski dalam hati ia ingin marah.

Otak Seonghyeon sulit memproses kalimat Keonho karena satu jari lagi bergabung dengan dua lainnya di dalam, mengobok-obok isi dari dirinya. Dan dalam satu dorongan kuat, ketiganya menyundul tepat di titik tadi.

“Ahhh!”

Sebelum Seonghyeon bisa merengek agar Keonho menyentuhnya lagi, jemari itu menumbuknya lagi berulang kali. Namun, tidak lama, ketiganya sudah keluar seluruhnya, meninggalkan lubangnya kosong menganga. Ia menggigit bibir supaya rengekan manja yang tertahan tidak lolos. Keonho membawa tangan penuh lendir ke mulutnya dan mengemut setiap jari dan sela-selanya.

Seonghyeon mendelik. “Jorok, Ken…”

Namun Keonho hanya tersenyum dan memposisikan penisnya di depan lubang masuk Seonghyeon. “Enak.”

Ia mengernyit sambil memejamkan mata saat ereksi tegak itu menerobos dirinya. Mulut terbuka dengan deru napas yang dibarengi desah perih keluar dari sana. Ukuran milik Keonho memang di atas rata-rata, dan meskipun Seonghyeon bercinta dengannya sudah tak bisa dihitung jari, meskipun ia sudah diberi segala jenis pemanasan, ia masih saja kepayahan menerima penis Keonho.

Keonho tak memberinya jeda untuk menyesuaikan bentuk dan ukuran penisnya. Pinggang Seonghyeon dicengkeram sedemikian menusuk, lalu pinggulnya mendorong dengan energi dahsyat yang membuat meja makan bergeser mundur.

“Nghh Ken! Pelan-pelan…”

Cicak di dinding pun tahu ucapan itu adalah bohong belaka. Seonghyeon sama sekali tidak mau—tidak pernah mau—Keonho untuk pelan-pelan.

Dan Keonho, antara ia selalu tahu apa yang diinginkan Seonghyeon atau memang ia sendiri juga tidak mau pelan-pelan, menghentakkan pinggulnya tanpa ampun. Seonghyeon mencekal tepi meja selayaknya meja itu memegang antara hidup dan matinya. Dindingnya terasa panas, urat-urat pada penis Keonho seolah menggoreskan, mengukir, menandai kepemilikan, menegaskan kepada siapa Seonghyeon seharusnya kembali mendekap.

Netranya menangkap tonjolan pada perutnya. Sontak ia mengarahkan jemarinya ke sana, merabanya sambil terkikik geli. Rasa perihnya pudar seketika. “Ken, kamu dalem—mmhhh… banget. Liat, sampe di s-sini…”

Mendadak Keonho gelap mata. Seonghyeon bisa mendengar giginya bergemeretak. Kemudian Keonho menambah kecepatan dan staminanya hingga Seonghyeon kembali terdampar di atas meja tanpa punggungnya menyentuh permukaan.

Jari kakinya menekuk berupaya membendung nikmat yang melanda. Kedua tangan Seonghyeon tak sampai untuk mencakar punggung Keonho, hanya bisa terangkat memberi sinyal agar ia menunduk.

Namun Keonho tidak mengindahkan. Satu tangannya kini pindah ke perut, meratakan telapaknya di atas. Dengan perlahan, tangannya menekan tonjolan yang menyembul di perut Seonghyeon.

“Kamu jangan gitu.” Suaranya rendah dan mengancam. Tipikal Keonho jika sedang menahan diri. “Nant aku hamilin, mau?”

Seonghyeon megap-megap. Tekanan telapak tangan Keonho semakin bertambah seiringan dengan tempo gerakan pinggulnya, dan ia tak menyangka hal itu membuatnya sedemikian pengap.

“Jang—an diteken—nghhh! Ahhh! Ken!”

Irama kulit bergesekan beradu dengan denyit meja, bersorak-sorai dalam euforia menggulitakan ruang. Lubang kawin Seonghyeon berkedut hebat, kepalanya sakit akibat permukaan meja yang keras dan penis keras Keonho yang menyodoknya di bawah. Ia kembali memohon.

“Sen— aku sodok sampe dalem sini enak? Anjing… memek kamu enak banget. Memek kamu punya aku… kamu punya aku sayang.”

“Keonho, please, mau peluk. Aku mau—”

Keonho langsung memasukkan lidahnya ke dalam mulut Seonghyeon, menggeser tangannya dari atas perut ke puting susu Seonghyeon yang sudah mengacung. Hanya dengan satu cubitan pada puting sebelah kiri, Seonghyeon melihat putih di balik matanya.

Keonho selalu menganggap meja makan adalah tempat yang sakral, harus bersih dari noda dan segala macam. Tetapi barangkali kali ini Seonghyeon lebih sakral ketimbang meja sialan yang disayanginya, Keonho tidak protes saat Seonghyeon mengucurkan orgasmenya yang kedua kali.

Ciuman dilepas, kini desah, rintih, dan pekik Seonghyeon menggaung nyaring. Gempuran Keonho makin lama makin rusuh dan asal-asalan. Alisnya bertaut dengan kening mengerut, matanya linglung namun tetap berusaha berpusat pada Seonghyeon, napasnya kasar memburu, dan urat-urat pada lehernya menonjol. Seonghyeon paham, maka ia mengetatkan dindingnya kencang hingga Keonho mengumpat kasar. Bersamaan dengan itu, spermanya memenuhi rahim Seonghyeon bagai ledakan.

“Sen— aku keluar— hahhh—”

Benih demi benih mengisi perut. Seonghyeon tidak melihatnya sebab matanya terpejam, namun ia bisa menebak perutnya mengembung dan terlihat hamil. Ia tidak tahu berapa lama mereka melebur. Keonho baru melepaskannya setelah semua air mani dipindahkan ke dalam perut Seonghyeon.

Tidak ada elaborasi lebih jelas dari pernyataan itu. Seonghyeon hanya bisa menggigit lidahnya saat Keonho mengembalikan cairan kental yang keluar menggunakan jari meskipun yang ia inginkan adalah penisnya.

Ia mendengar Keonho duduk di kursi, tangannya kini mengusap-usap perut Seonghyeon. Pandangannya masih mengabur, namun ia paksa dirinya untuk duduk, menelan kembali erangan saat sperma Keonho lebih leluasa untuk keluar.

“Cantik, selalu cantik.”

Notes:

reposted ;D

Series this work belongs to: