Actions

Work Header

After Heat

Summary:

Hari itu, tepat setelah Bima menyelesaikan siklus heatnya yang berat, mereka berbincang. Saling memeluk dengan hangat, menumpahkan feromon satu sama lain dengan lembut, dan mengobrol seolah dunia yang kecil ini hanya berisi mereka.

Dirumah hangat yang kecil, bersama cinta yang luar biasa besar.

Mereka saling mencintai, besar dan sangat besar. Banyak dan sangat banyak.

Notes:

Happy reading ya ges~~

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Bima akhirnya keluar, menghirup udara segar setelah nyaris 10 hari mengunci diri di dalam kamarnya.

Ya, Bima baru saja melewati fase heat nya.

Ia tidak ingat apa yang terjadi didalam kamar, atau apa yang sudah ia lakukan.

Ia benci mengingat perasaan itu, sakit dan panas.

Meski sudah nyaris 3 tahun bersama para kekasihnya, sampai saat ini Bima masih menolak bantuan mereka saat heat.

Dia masih merasa malu menunjukkan sisi dirinya yang liar dan tidak terkendali pada para kekasihnya.

"Bima?" Yudis yang pertama menyadari kehadirannya, wajahnya tersenyum lebar manis sekali, disusul dengan tiga sosok lainnya.

Ah, Bima rindu segala kehangatan keempatnya.

"Kemarin gelombang heat mu mulai reda, saya perkirakan hari ini selesai, ternyata betul." Sadewa datang, membawa sepiring pempek yang ditata rapih diatas mangkuk. "Saya buat sendiri, special."

Bima tersenyum, meski seluruh tubuhnya sakit dan kepalanya berputar luar biasa, kehangatan yang ia rindukan itu menariknya lebih dahulu.

Ia mendudukkan dirinya, membawa tubuhnya masuk kedalam lingkaran kehangatan yang mereka ciptakan.

"Cah ayu, cah bagus, mas khawatir banget sama kamu." Nakula yang pertama bicara, jemari lentiknya mengelus pipi gembil Bima yang mengecil.

Bima memejamkan mata, menikmati sentuhan yang membuat tubuhnya bereaksi tenang di pipinya. Aroma mint bercampur angin laut yang sejuk membuat perlahan pundaknya merosot, tidak lagi setegang sebelumnya.

Bima meraih jemari tersebut, membawanya kedalam genggamannya dan mengecupi nya lembut.

Dan benar saja, aroma white tea yang segar menguar deras menghujami nya.

Bima menyukainya, sangat menyukainya.

"Bima," Arjuna akhirnya angkat bicara setelah mencoba satu gigit pempek buatan Sadewa dan memujinya melalui matanya.

Terlalu tsundere untuk memujinya secara langsung.

"Iya, Mas?"

"Durasi heatmu kenapa makin lama, Bim? bulan ini sampai nyaris 10 hari." Arjuna membawa dirinya mendekat pada Bima, mendekatkan hidung dan bibirnya pada telinga Bima dan dengan lembut menelusuri leher hingga berakhir mengecup pundak Bima.

"Gatau, Mas." Bima menggeleng, menarik tubuh Arjuna ke dalam dekapannya dan mengecupi berulang pundak milik sosok beraroma red wine bercampur cedarwood yang selalu membuat tubuhnya melemah dan perlahan menghilangkan lelahnya.

Seolah, seluruh lelah Bima dilahap habis olehnya.

Tentu saja, Bima menyukainya. Sangat menyukainya.

Itu kenapa, sebagai hadiah dia selalu mendekapnya erat dan memberikan kecupan bertubi dipundak kekasihnya yang tsundere itu.

Mas Juna itu, selalu menjadi tempatnya pulang. Dan tempat dimana ia bisa menumpahkan lelahnya.

"Apa perlu saya cari-cari supressant yang lebih bagus untuk Bima, Jun?" Tanya Sadewa, menarik tubuh Arjuna dan mengecup pundaknya sekali dengan lembut.

"Kayanya aku aja, kau fokus aja sama recovery mu itu, Dew." Arjuna mengusakkan hidungnya gemas pada rambut lebat Sadewa yang harum.

"Tau nih, baru aja kau sembuh kemarin." Yudis tertawa menimpali ucapan Arjuna.

"Mas Dewa kemarin sakit?" Bima memutar tubuhnya, menatap Sadewa yang kini tengah diunyel-unyel gemas oleh Yudis. Dipeluk, dikecupi dan diusak-usak.

"Cuman kecapean sedikit, Bim." Sadewa menarik Bima kedalam pelukannya, mengecupi setiap helai surai ungu milik Bima dengan lembut.

"Mas, rambutku bau." Bima mendorong wajah Sadewa dari rambutnya.

"Loh, saya mau ngasih feromon saya ke kamu, gimana caranya dong?" Sadewa terkekeh pelan. "Ini saya tahan-tahan aja, padahal bau rambut kamu bikin saya pusing nyaris pingsan." Sadewa mengeratkan pelukannya pada Bima sembari mengecup kasar rambut Bima, mengejeknya.

"Ah kocak nih, Mas Dewa." Bima merentangkan tangannya dan mulai mengeratkan pelukannya pada sosok yang tidak kalah besar darinya tersebut.

Menyambut aroma paling hangat diantara mereka, aroma yang mengingatkan Bima pada cahaya senja yang dilihatnya bersama-sama dengan kekasihnya. Di pinggir pantai yang ombaknya berdebur pelan, dan angin nya berhembus lembut.

Aroma madu yang manis, bercampur dengan amber dan chamomile yang menghangatkan.

Mas Dewa itu, meski yang paling usil, tapi juga yang terhangat. Bima selalu suka, berada dalam pelukannya selalu menjadi hal yang menenangkan Bima.

"Aku ngalah mulu nih sama yang lain, selalu paling terakhir." Suara Yudis memecah kehangatan mereka.

Bima beserta Mas-mas lainnya mengalihkan pandangan mereka pada Yudis dan tertawa pelan.

"Siapa suruh kamu paling kecil?" Ejek Nakula.

"Wah, nyebelin kamu." Yudis mengecup pelan kepala Nakula sebelum akhirnya menghampiri Bima.

Tubuh kecil Yudis menelusup masuk ke dada Bima, memeluk tubuh Bima erat dari depan dan mulai mengecupi tiap jengkal bagian tubuh Bima.

Bima memejamkan matanya, merasa tubuhnya yang lelah dan letih perlahan membaik, dan pundaknya yang berat perlahan menjadi lebih ringan.

Dalam pelukan Yudis, Bima selalu mendapat ketenangan dari aromanya yang menenangkan.

Green fig bercampur pine, membuatnya seolah berada ditengah hutan hujan yang tenang.

Aroma yang selalu Bima dapati sebagai aroma paling cocok untuk Yudis.

Yudis yang menenangkan, dan Yudis yang lapang dada.

Dan pada akhirnya, di permulaan hari yang nyaris terik, Bima lagi-lagi mendapati dirinya tengah bermesraan ria bersama-sama.

Mereka seringkali lupa waktu jika sudah saling menumpahkan feromon untuk satu sama lain.

Rumah hangat mereka yang manis kini dipenuhi dengan berbagai macam Aroma, dengan harum yang paling menyejukkan hingga yang paling menenangkan.

Bercampur menjadi satu dengan Aroma lavender Bima yang halus dan wisteria Bima yang paling lembut.

Mereka saling mengecup, sambil sesekali menghirup lembut satu sama lain.

"Mas, Yudis," Suara Bima memecah hening diantara mereka.

pandangan keempatnya jatuh pada Bima. Menatap Bima dan menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut Bima.

"Heat kali ini, aku ngerasa cape banget." Bima berucap pelan, tangannya masih sibuk mengelus pipi Nakula disisinya.

"Pantes aku ngerasa kamu kok hangat banget, Bim." Yudis menaruh telapak nya di kening Bima. "Beneran hangat kamu, Bim." Yudis menatap yang lainnya dengan pandangan khawatir.

"Mau ke dokter aja, Bim? Mas hari ini kebetulan ga ada meeting." Tawar Nakula.

Bima menggeleng pelan, bibir tipisnya tersenyum manis dan ia kembali menyamankan tubuhnya dalam pelukan keempat kekasihnya.

"Ngga mau, nanti waktu aku sama kalian jadi habis." Geleng Bima.

"Kocak." Kesal Arjuna, "Ayo ke dokter, Bim!" Arjuna bangun, mendudukkan tubuhnya dan menatap Bima dengan tatapan seriusnya.

Bima tertawa pelan dan lemah.

"Apasih, Mas." Tubuh Arjuna terjatuh kembali, ditarik oleh Bima kedalam pelukannya.

"Aduh, Jun, kepalaku!" Yudis merengut kesal karena kepalanya terantuk kepala Arjuna. "Bima yang narik, bukan gua, kocak!" Bima tertawa mendengar pertengkaran kedua sosok dalam pelukannya tersebut..

"Kamu yakin gamau berobat, Bim? saya khawatir sama kamu." Sadewa menangkup pipi Bima, senyum tipisnya muncul karena gemas.

"Nggak, Mas. Nanti juga ini sembuh sendiri, asal ditumpahin feromon banyak-banyak aja, sama istirahat seharian." Bima menampilkan cengiran lebar terbaiknya.

Sadewa menyatukan kening keduanya dan mulai mengusakkan kepala keduanya gemas, disertai tawanya yang menggelegar menghangatkan Rumah kecil mereka.

"Sebetulnya, ada sesuatu yang mau aku obrolin sama kalian." Kalimat singkat yang keluar dari bibir Bima tersebut kini berhasil menarik perhatiaan empat orang disisinya.

Bima yang mendapati reaksi cepat keempatnya terkekeh pelan.

Menggemaskan sekali.

"Loh? kalian kenapa?" Dan dirinya tidak lagi tahan untuk tidak mencubiti pipi keempatnya satu persatu.

"Kamu ini loh cah ayu, seneng banget ngeledekin kita-kita." Nakula menggigit pelan pipi gemas Bima.

Bima tertawa, senyumnya melebar.

"Heat selanjutnya, aku mau dibantu sama kalian semua." Terdapat jeda berupa hening sesaat.

Arjuna menatap Nakula, Nakula menatap Sadewa, Sadewa menatap Yudis dan Yudis menatapnya. Bergantian tanpa kata, seolah ada sesuatu yang hendak mereka ucapkan.

"Biasanya juga kita bantuin kan, Bim?" Arjuna bertanya pelan.

Bima tersenyum kecil, melihat reaksi bingung keempatnya membuat jantungnya berdebar keras.

"Heat selanjutnya aku berniat ditemenin sama kalian semua." Jawaban Bima membuat bibir keempatnya kini terasa kelu.

"Maksudmu, kamu ga perlu supressant dan cuman—

"hem, aku ga perlu lagi pake supressant, ga perlu lagi pake peredam feromon di kamarku." Bima menatap keempatnya, "Aku cuman butuh kalian selama masa heatku." Dan detik selanjutnya, bibirnya tersenyum lebar dengan hangat.

Keempatnya tampak menahan nafas, wajah berseri nampak diwajah-wajah mereka, menggantikan ekspresi khawatir yang sebelumnya tertera jelas di setiap mimik wajah keempatnya.

"Peluk?" Bima merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

Bruk.

Dan detik selanjutnya, Bima sudah tenggelam dalam pelukan keempatnya.

Ia bisa melihat, tiap-tiap warna lembut yang menguar dari tubuh-tubuh mereka.

Melebur menjadi satu dengan aroma mereka yang menyatu, begitupula warna lembut mereka.

Sadewa dengan emas yang manis seperti madu, Nakula dengan biru sejuk seperti angin laut, Arjuna dengan merah menawan persis seperti red wine, dan Yudis dengan hijau yang tenang persis hutan ditengah hujan.

Dan keempat warna indah tersebut menyatu, seolah menari dengan warna ungu lembutnya yang hangat.

Bima menyukainya, mencintai setiap detik momen seperti saat ini.

Oleh karenanya, Bima ingin merasakan lagi, dan lagi. Ingin menyaksikan lagi, dan lagi.

Tidak hanya saat-saat terhangat mereka, tapi juga disaat-saat dimana warna dan aroma mereka melebur ditengah gairah tinggi yang nikmat.

Bima tidak sabar.

Ia ingin tahu, ingin melihat. Bentuk, aroma dan warna mereka di setiap waktu dan kesempatan yang bisa ia miliki.

Keindahan mereka, Bima ingin dapat memiliki setiap jengkal dan keseluruhannya.

Notes:

Jangan lupa follow akun X ku @/akubuahjambu dan request di tellonym ku nyakk!!?