Work Text:
Pinggiran kota selalu memiliki dua wajah.
Kota Willow Ridge, sebuah wilayah pinggiran negara bagian Amerika. Kawasan yang memiliki cukup cahaya matahari yang menyelinap di antara jalanan dan toko-toko tempat kehidupan berlangsung disana. Aroma kopi, bising mesin, bahkan suara tawa dan langkah kaki menjadi komponen hidup yang menjadi kota ini bagaikan kota impian pada siang hari.
Namun hal berbeda terjadi setelah matahari terbenam tak menampakkan cahayanya, dengan lampion-lampion kecil menyoroti jalanan yang terkadang tampak basah oleh genangan air hujan yang turun sebelumnya. Keadaan berubah menjadi mencekam.
Hal itu bukan tanpa alasan. Dalam dua bulan terakhir, lima orang menghilang. Dua diantaranya ditemukan tidak bernyawa, dan tiga orang lainnya masih dalam proses pencarian orang hilang.
Media lokal dan berita televisi menyiarkan kabar dari kasus-kasus tersebut. Polisi belum bisa mengidentifikasi pelaku, dan dalam masih dalam pencarian.
Joshua mematikan layar televisi di hadapannya, tubuhnya bergidik ngeri setiap kali melihat berita pada televisi tempat ia bekerja sebagai pelayan paruh waktu. Sebuah cafe kecil bernama Lumina.
“Josh, “ suara memanggil Joshua.
“Table lima. Americano ice. “
Joshua mengerti. Ia mengambil nampan berisikan pesanan pelanggan yang dimaksud keatas kedua tangannya, berjalan menuju meja pemesan.
“Seperti biasa. Americano ice, two shoot,” ucap Joshua ramah ketika dalam pengantaran.
Pelanggan itu tersenyum, lalu memberikan tip besar untuk Joshua, “terima kasih josh, “ ucapnya.
Joshua membalas tersenyum, mengulurkan tangannya, meraih beberapa lembar uang itu dari tangannya, “terimakasih kak Seungcheol atas tip nya, “ balas Joshua.
Keduanya kerap akrab. Joshua mengingat Seungcheol dengan tepat karena pria dengan jas mewah dan jam tangan mahal di tangannya itu selalu datang tepat sebelum cafe tempat ia bekerja tutup, memesan secangkir americano ice dengan tip yang sering dikatakan Seungcheol sebagai tanda maaf karena Joshua kerap harus pulang terlambat karena kedatangannya.
Sedangkan Seungcheol berbeda. Pria berumur pertengahan tiga puluhan itu adalah seorang pebisnis pada jaringan teknologi informasi. Seorang pria kaya raya yang diam-diam memperhatikan Joshua sejak pertama kali keduanya bertemu di tempat yang sama.
“Josh—adik ku sakit. Ia dilarikan ke rumah sakit, “ sebuah suara terdengar panik.
Joshua menoleh, lalu menatap rekan kerjanya itu dengan lekat, “kamu harus segera kesana, “ ucapnya.
“Tapi—apa tidak apa-apa, maksud ku, ini sudah malam dan kamu harus menutup cafe ini sendirian, “ terdengar nada tak enak.
“Jangan mempermasalahkan itu. Adik mu lebih penting aku tidak apa-apa,”
Joshua mencoba menenangkan rekan kerjanya itu dengan tulus.
“Besok akan aku traktir makan siang. Terimakasih banyak Josh.”
Akhirnya cafe itu kembali sepi. Hanya lantunan lagu yang masih terdengar dan juga aktivitas Joshua yang hampir selesai membereskan seluruh isi cafe sebelum ia pulang. Menyisakan Seungcheol yang berdiri lalu pergi begitu saja meninggalkan Joshua.
Pukul 11 malam, seluruh pekerjaannya selesai. Joshua sudah bersiap pulang. Tak jauh, hanya perlu berjalan kaki sekitar 30 menit untuk sampai ke tempat tinggalnya. Hanya saja berita akhir-akhir ini membuat dirinya sedikit takut.
Joshua menghelakan nafasnya, menenangkan dirinya bahwa tak akan terjadi apa-apa. Dirinya siap pulang, earphone telah terpasang, hoodie abu-abu kebesaran miliknya sudah terpakai, dirinya pun mulai berjalan meninggalkan tempat kerjanya, menyusuri jalanan yang lebih sepi dari biasanya.
Langkah demi langkah terdengar gema diatas aspal basah akibat hujan yang turun sedari sore tadi. Keheningan menjadi teman nya. Sampai Joshua merasa bahwa ada suara langkah gema kaki mengikuti nya. Awalnya Joshua mengira hanya perasaannya saja, ia hanya mempercepat langkah kakinya. Namun suara langkah lainnya terdengar melakukan hal yang sama tepat di belakang nya. Jantung Joshua berdegup kencang, dan keringat dingin membasahi pelipisnya.
Sekilas ia menoleh. Menampakkan seorang pria tinggi dengan pakaian hitam mulai mendekat. Langkah kaki Joshua lebih dipercepat, namun langkah pria itu juga semakin cepat, seakan mengejar tempo langkah Joshua. Hingga setelahnya, Joshua dapat merasakan bahwa pria itu semakin dekat, lebih dekat, dan tangan kasar mulai menutup mulut Joshua. Menarik tubuh nya kuat masuk ke dalam salah satu gang sepi di tepi jalan.
“Sssst…tenang cantik. Kita akan bersenang-senang malam ini,” bisik pria itu terdengar serak dan penuh nafsu.
Joshua meronta sekuat tenaga, kakinya mulai menendang udara mencoba untuk melawan, namun tenaganya kurang, tubuhnya hanya semakin diremas kuat oleh pria itu, yang kini justru menyeretnya semakin jauh dari jalanan utama.
Kesadaran Joshua sudah hampir hilang, sebelum suara pukulan keras terdengar. Pria yang membawanya tersungkur jatuh. Membuat tubuh Joshua ambruk sambil terbatuk-batuk. Suara pukulan kembali terdengar lagi dan lagi hingga suara nafas pria itu terdengar pendek tanpa bisa melawan.
Joshua dengan sisa tenaganya menarik diri, menatap pria itu sudah tak berdaya akibat pukulan yang tak ada hentinya. Wajahnya babak belur, darah mengalir dari hidung dan juga mulutnya membuat tubuh Joshua takut hingga bergetar hebat. Sampai sebuah suara menyadarkan nya, “Joshua, kamu baik-baik saja?”
Itu suara Seungcheol. Tengah berlutut di hadapannya. Tangan besar pria itu perlahan menyentuh pipi Joshua, menghapus air mata yang jatuh dari kedua pelupuk matanya.
Joshua tak menjawab. Tatapannya kembali menatap pria yang berusaha menculiknya itu tengah sekarat mencari pegangan untuk bangkit. Joshua kembali panik, sampai Seungcheol mengikuti arah matanya dan mengangkat sebuah bongkahan batu besar kepada Joshua.
“Selesaikan, “ ucapnya.
Joshua menggeleng kuat, dirinya tak bisa melakukan hal itu.
“Selesaikan atau tidak pernah sama sekali, dan biarkan dia hidup bebas untuk terus berkeliaran di sekitar mu, “ ucap Seungcheol dingin.
Entah keberanian yang berasal dari mana asalnya. Joshua menerima bongkahan batu itu. Tangannya mengangkat ke udara, dan dirinya memukul. Satu kali, dua kali, lalu pukulan berikutnya yang lebih keras karena ketakutan nya yang meledak-ledak.
Darah terlihat menggenang. Tubuh dihadapan Joshua berhenti bergerak sepenuhnya. Joshua mundur penuh ketakutan, batu di genggaman nya terlepas, tangannya merah berlumuran darah.
“Aku… Aku…membunuh nya… aku—apa yang aku lakukan “ suara Joshua terdengar panik.
Seungcheol segera menarik Joshua ke dalam pelukannya, mengelus punggung yang tengah bergetar hebat itu, “Ssst…tenang, semua telah selesai, kamu aman. “
Perlahan tubuh Joshua lebih tenang. Deru nafasnya terdengar lebih tenang di dalam pelukan Seungcheol.
“Ayo kita pergi dari sini. Sebelum ada yang datang,” ucap Seungcheol seraya membopong tubuh lemas Joshua berjalan menuju mobil hitam mewahnya.
Mobil itu pun melaju cepat menuju mansion pribadi Seungcheol yang berada di bukit pinggiran kota. Rumah mewah dengan pagar menjulang tinggi yang terbelah sesaat mobil mewah itu melaju masuk.
Suasana di mansion itu hangat. Seungcheol memberikan Joshua pakaian bersih, secangkir teh madu hangat, lalu duduk di sebelahnya. Tak lama ponsel Seungcheol terdengar nyaring, sebuah panggilan masuk yang membuat Seungcheol bangkit dan meninggalkan Joshua beberapa saat.
“Semuanya telah selesai Joshua, “ ucap Seungcheol setelah menutup panggilannya dan kembali duduk tepat di samping Joshua.
Hari semakin larut. Setelah menghabiskan satu gelas teh dan perbincangan singkat antar keduanya, Seungcheol mempersilahkan Joshua untuk tidur, di kamar tepat di samping miliknya. Kamar dengan nuansa abu tua dengan ranjang besar di tengah ruangan, terasa kosong namun seperti memang siap untuk Joshua tinggali.
“Kamu tidur disini saja. Jangan terlalu banyak dipikirkan, “ ucap Seungcheol lalu meninggalkan Joshua.
Malam itu pun berakhir. Meninggalkan Seungcheol yang tersenyum melirik ke arah Joshua dan menutup pintu kamar nya itu.
°°°°°°°°
Pagi hari datang. Cahaya nya masuk dari dalam celah hordeng yang tepat langsung menyinari wajah Joshua. Matanya mengerjap menyesuaikan cahaya. Tubuhnya terasa ringan.
Jam di nakas menunjukan pukul 9. Joshua bangkit dari atas ranjang tempat tidurnya, melangkahkan kaki untuk cuci muka dan keluar dari kamar besar itu berniat mencari Seungcheol untuk meminta pria baik itu untuk menghubungi tempat kerjanya, mengingat ponsel nya hilang tak tahu kemana sejak masalah kemarin.
Suasananya sunyi. Hanya ada suara televisi yang didengar, tepat di hadapan Seungcheol yang tengah duduk di atas sofa besar miliknya dengan mimik wajah yang tak bisa Joshua artikan apa maknanya.
“Seorang pria berinisial AD ditemukan tewas mengenaskan. Diduga AD merupakan pelaku pembunuhan serta pemerkosaan…”
Joshua tak dapat lagi mendengar isi berita. Kepala nya pusing, dan perutnya terasa mual, tubuhnya bahkan hampir terjatuh kalau tidak segera Seungcheol menahannya.
“Josh, kamu gak papa?” tanya Seungcheol khawatir.
“Kita. Kita benar-benar membunuh nya. Kita akan masuk penjara. Kita—”
Joshua terdengar panik. Tubuhnya gemetar dan kepalanya mendadak terasa sakit.
“Hey tenang. Tenag Joshua. Liat aku. Enggak akan ada yang terjadi apapun sama kita, Oke?” ucap Seungcheol mencoba menenangkan.
Joshua hanya diam tak menjawab, namun Seungcheol tahu bahwa itu sebagai sebuah jawaban.
Akhirnya, Seungcheol membawa Joshua kembali masuk ke dalam kamarnya. Meminta pelayan untuk membawakan semangkuk bubur yang langsung Seungcheol suapkan untuk mengisi perut Joshua yang kosong sejak kemarin.
Joshua masih diam, namun tak menolak. Pikirannya terlalu kalut, tak tahu harus melakukan apa saat ini. Di dalam pikirannya hanya perihal bahwa ia telah membunuh seseorang.
Sedangkan Seungcheol duduk dengan tenang hingga menyuapi Joshua bubur hingga habis tanpa mengajaknya bicara, seakan membiarkan Joshua kalut dengan isi pikirannya itu.
“Sekarang kamu istirahat dulu. Aku keluar untuk mengurus sesuatu, “ ucap Seungcheol lalu meninggalkan Joshua.
Diluar, Seungcheol tersenyum penuh kemenangan. Dirinya tak pernah tidak mendapatkan apa yang ia inginkan, bahkan keinginannya memiliki Joshua sekalipun.
Sudah tiga bulan lamanya sejak Seungcheol memperhatikan pria itu, Joshua. Dengan senyum manis dengan mata menyipitnya, yang segera membuat Seungcheol menanamkan rasa kepemilikan di dalam hatinya.
Setiap hari tanpa jeda, ia pergi menemui Joshua, awalnya hanya untuk melihat pria itu, namun rasa itu semakin berubah, perasaan ingin melindungi dan mengklaim kepemilikan atas pria itu semakin kuat.
Jadwal kerja. Alamat. Nama lengkap. Hingga kebiasaan dan juga jam Joshua akan keluar rumah untuk belanja bulanan sudah dihafal dengan baik oleh Seungcheol.
Hanya menunggu waktu saja. Tekad nya saat itu.
Sampai pada suatu malam. Seungcheol biasa untuk datang, memesan minuman yang ia sesapi beberapa belakangan. Disaat itu ia melihat Anderson—pria jangkung, pembunuh dan pelaku kekerasan kelas kakap yang Seungcheol biarkan berkeliaran di wilayahnya. Menatap aneh kearah Joshua. Seungcheol tahu bahwa Anderson telah mengincar Joshua sebagai targetnya. Dan Seungcheol biarkan hal itu terjadi begitu saja.
Sampai malam itu terjadi. Seungcheol melihat Anderson mencoba mengikuti Joshua. Ia hanya mengikuti dengan pelan pria itu terus mendekat kearah Joshua, membiarkankan rasa takut meresap masuk ke dalam jiwa Joshua. Disaat Anderson berani menyentuh Joshua, disitu Seungcheol muncul, memukul Anderson dengan kasar hingga mematahkan jari-jari yang berani menyentuh miliknya. Dan malam itu berakhir begitu saja.
“Seungcheol…”
Seungcheol menoleh. Itu Joshua. Tengah berdiri tepat di hadapannya, masih dengan mimik wajah yang sama.
“Ada apa? Kamu lapar?” tanya Seungcheol.
“Tidak. Hanya—mau mengucapkan, terimakasih. Terimakasih sudah menyelamatkan ku, “ ucap Joshua ragu.
Seungcheol tersenyum. Melangkah mendekat kearah Joshua, mengelus pelan surai hitam milik pria itu.
“Tidak masalah. Selama kamu aman, “ ucapnya.
Hari demi hari pun berlalu. Seungcheol merawat Joshua dengan sungguh-sungguh sejak hari itu. Pakaian, makanan, bahkan fasilitas mewah ia berikan kepada Joshua secara percuma. Berusaha membuka pria itu nyaman berada disisinya.
Sampai, Joshua mulai berontak. Pria itu mulai terus menerus menanyakan tentang pekerjaan nya, tempat tinggal, dan kabar keluarga nya. Seungcheol paham bahwa pria itu mengkhawatirkan kehidupan miliknya. Namun Seungcheol juga tak akan melepaskan Joshua begitu saja setelah apa yang harus dirinya lakukan untuk sejauh ini untuk memiliki Joshua.
“Aku paham. Tapi tunggu sebentar lagi, keadaan belum aman, polisi masih mencari keberadaan pelaku nya, keberadaan kita,“ ucap Seungcheol berusaha memberikan penjelasan kepada Joshua.
“Tidak. Hanya saja, bagaimana pekerjaan ku, teman ku, atau keluarga ku yang tak tahu keberadaan dan kabarku. Aku tak ingin membuat semuanya khawatir, “ debat Joshua pada Seungcheol.
Seungcheol menghelakan nafasnya panjang. Lalu menatap Joshua lekat, lalu melepaskan pelukannya dari pria yang memberontak itu.
“Baiklah. Lakukan saja. Kamu pergi saja tidak apa-apa. Bahkan sekalipun polisi mencurigai kita, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi kepadamu. Aku akan menanggung semuanya sendiri. Demi kamu, demi kebahagiaan kamu. “
Joshua tak bergeming mendengar nya. Seungcheol mulai mengusap wajahnya agar terlihat meyakinkan hingga meneteskan air mata dari pelupuk matanya. Membuat Joshua semakin terikat emosional.
Hingga pada akhirnya, hari ke minggu dan minggu ke bulan, sampai saat 3 bulan lama nya Seungcheol menarik Joshua dalam ikatan emosional yang semakin dalam. Menanamkan rasa butuh dan ketergantungan sepenuhnya kepada dirinya.
Bahkan disaat malam-malam panjang kegelisahan miliknya, Joshua hanya mencari Seungcheol, meminta pria itu untuk memeluknya erat. Sentuhan Seungcheol yang berawal pelukan lembut itu pun, perlahan berubah menjadi kecupan ringan pada kening Joshua, lalu bibir, lalu lebih intim seperti yang diinginkan Seungcheol untuk memiliki Joshua seutuhnya.
Joshua yang semakin hari semakin rapuh, merasa haus akan rasa aman bahkan mulai merespon Seungcheol. Tak ada lagi rengekan, tak ada lagi berontak, yang ada hanya pikiran bahwa ia hanya membutuhkan Seungcheol di dalam hidupnya tanpa memikirkan kehidupan yang dimiliki nya.
Tubuhnya bahkan kini mencari kenyamanan dari Seungcheol, sampai suatu malam setelah malam yang panjang dengan nafas menderu dan peluh yang membasahi keduanya, Seungcheol menarik Joshua erat, “Kamu milik aku sekarang, “ bisik Seungcheol pelan.
Joshua tersenyum dengan wajah merah dan lelah nya, “Selalu,aku selalu milik kamu Seungcheol, selalu, “ jawabnya.
Seungcheol tersenyum penuh makna. Kini semua rencananya berhasil dengan sempurna. Seungcheol sudah seharusnya berterima kasih kepada Anderson, pion yang ia korbankan untuk mendapatkan hati dan jiwa Joshua.
Pemuda itu kini sepenuhnya miliknya—terikat oleh trauma, rasa terima kasih, ketakutan, cinta yang dimanipulasi, dan ketergantungan yang tak terputus. Di pinggiran kota yang kabutnya tak pernah benar-benar hilang, kini kisah Seungcheol dan Joshua berlanjut dalam kegelapan yang manis, posesif, dan abadi di dalam kegelapan. Joshua tak lagi bertanya mengapa ia merasa begitu aman di sini. Sebab kini, bagi Joshua pria itu—Seungcheol adalah segalanya baginya sekarang. Dan Seungcheol, dengan senyumnya tahu bahwa ia sepenuhnya telah menang.
