Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-25
Words:
3,555
Chapters:
1/1
Kudos:
2
Hits:
27

[NGRO] hideout in the living room, i wanna stay right here

Summary:

Bersembunyi di balik rumah, kita bisa bersantai menikmati waktu seperti pemeran utama romansa ringan.

Mainkan lagu: Valley - Like 1999

Work Text:

Hening merayap di ruang tengah itu hanya dipecah oleh ketukan ritmis dari papan ketik laptop milik Reo. Di atas meja kopi kayu berkaki pendek, secangkir kopi hitam yang diseduh satu jam lalu telah kehilangan seluruh kepulan uapnya. Permukaan cairan pekat itu kini tampak berkilau, memantulkan pendaran putih dari layar monitor yang menyala di hadapan Reo. Rasa pahit yang tertinggal di sana sudah mendingin, berubah menjadi rasa sepat yang tidak nyaman ketika menyentuh lidah, namun Reo sepenuhnya abai. Baginya, satu jam terakhir adalah kekacauan melawan waktu karena sebuah ide datang seperti kilatan petir yang harus segera dipenjarakan dalam kata-kata sebelum menghilang bersama cahaya.

Jarinya bergerak menekan tanpa jeda, menciptakan melodi monoton yang mengisi kekosongan rumah. Lembar halaman terisi penuh oleh kalimat-kalimat, bersama dengan otot bahu yang menegang keras dan punggung kaku karena posisi duduk yang terlalu lama. Fokusnya mengunci seluruh indra dari dunia luar, menyamakan ritme jantungnya dengan kecepatan kursor yang berkedip-kedip di ujung paragraf. Sinar matahari bulan Agustus menyelinap dari celah tirai tipis membentuk garis-garis keemasan di atas meja kopi, menyoroti butiran debu yang menari tenang di udara.

Kopi di dalam cangkir itu benar-benar dilupakan, membiarkan suhunya merosot turun hingga menyamai suhu ruang yang sedikit gerah akibat musim panas.

Ketika tombol terakhir ditekan dengan ketukan yang sedikit lebih berat, sebuah helaan napas panjang lolos dari belahan bibir Reo. Ide itu telah berakhir, menyisakan kekosongan yang familier di kepala. Seketika rasa lelah mendadakan meruntuhkan pertahanan Reo. Ia mengerang, tertahan di tenggorokan. Suaranya yang rendah langsung menghilang ditelan sunyinya kekosongan.

Tubuh yang awalnya mempertahankan posisi tegap lalu terkulai seperti boneka kain pada sofa di belakang punggung. Tangan kanan terangkat untuk melepaskan kacamata berbingkai tipis yang bertumpu di batang hidung, meninggalkan bekas kemerahan di sana. Jarinya terasa kaku saat digerakkan, seolah persendiannya telah membeku bersama dinginnya kopi yang diabaikan.

Ia melakukan peregangan kecil, memutar lehernya hingga terdengar bunyi klik yang halus dan melegakan. Kemudian mengulurkan tangan untuk meraih gagang cangkir kopi di hadapannya, Reo berpikir untuk membasahi tenggorokan dengan sedikit kafein dan mengusir lelah. Ketika cairan hitam itu menyentuh bibirnya, kening pemuda itu berkerut dalam seiring dengan decakan tidak puas. Suhu yang dingin membuat rasa kopi itu hambar. Aroma dan ketajaman yang biasa meletup, kini hanya menyisakan asam yang menempel di dinding mulut secara tidak nyaman.

Sembari meletakkan kembali cangkir itu dengan denting pelan yang beradu dengan permukaan meja, Reo mulai menimbang-nimbang untuk bangkit berdiri menuju dapur. Ia berpikir untuk menyeduh ulang cangkir baru, sebuah ritual kecil yang ia butuhkan sebagai suntikan energi agar matanya tidak terpejam di atas meja. Sementara untuk sisa kopi dingin telah diabaikan, pikirannya melayang pada ide menyimpannya di dalam lemari es, mungkin mencampurkannya dengan beberapa sendok susu kental manis dan es batu jika ia ingat nanti sore — atau jika ia tidak terlanjur malas dan membuangnya ke wastafel.

“Sudah selesai, Re?”

Sebuah suara malas dan sarat akan kantuk memecah keheningan dari arah koridor yang menghubungkan ruang tengah dengan dapur. Pandangan Reo yang semula terpaku pada cangkir kopi seketika meninggi, mendapati sesosok pemuda bertubuh tinggi dengan rambut putih acak-acakan tengah berdiri di sana.

Nagi Seishiro melangkah tanpa sandal rumah, membuat kehadirannya nyaris tak terdengar di atas lantai kayu yang halus. Kedua tangan pemuda itu membawa sebuah nampan kayu berpelitur cokelat tua, ada mangkuk berisi potongan buah semangka dan melon yang berembun dingin di sana. Mata Reo berbinar menatapnya. Begitu pula dengan dua gelas tinggi minuman yang permukaannya dipenuhi bulir air bersuhu rendah. Terasa lebih cocok untuk meredakan rasa lelah dibandingkan dengan kopi dingin itu.

“Sei, aku tidak mendengarmu membuka pintu,” bisik Reo, suaranya sedikit serak karena sudah berjam-jam tidak digunakan untuk berbicara.

Reo benar-benar kehilangan perhatian terhadap waktu di sekitarnya. Ia tidak bisa mengingat kapan terakhir kali ia bangkit untuk membukakan pintu depan, atau apakah ia memang lupa menguncinya sejak pagi tadi. Pikirannya terlalu penuh dengan tenggat waktu dan ide yang terus menghilang, mengabaikan pesan Nagi yang hendak berkunjung sejak semalam.

Nagi tidak langsung menjawab, ia hanya mengangkat kedua bahunya sedikit dalam gerakan malas yang khas, membiarkan helai rambut putihnya bergoyang halus. Dengan langkah-langkah panjang yang diseret, ia mendekati meja rendah tempat Reo merenung, lalu menurunkan nampan kayu itu di satu sisi yang masih kosong, menciptakan bunyi ketukan kayu yang lembut.

Aroma segar dari buah yang baru dipotong langsung menyeruak, memotong bau apek dari kertas dan kopi lama yang sempat mendominasi ruangan. Reo secara otomatis menggeser posisi duduknya, melipat kaki lebih rapat ke samping demi memberikan ruang bagi tubuh Nagi yang besar untuk mengambil tempat di atas karpet bulu yang sama.

Namun, alih-alih duduk di sisi kosong yang telah disediakan, Nagi justru melangkah lebih dekat hingga bayangannya sepenuhnya mengurung tubuh Reo. Tangan Nagi yang panjang dan memiliki jemari besar terulur ke depan, meraih lingkar pinggang Reo dengan kepastian yang tidak bisa dibantah.

Dalam satu gerakan lambat, Nagi menarik tubuh Reo untuk berpindah tempat, menaikkan kekasihnya ke atas pangkuan. Reo tidak memberontak, ia membiarkan dirinya pasrah saat mendapati tubuhnya kini bersandar sepenuhnya pada dada Nagi yang berbalut kaus katun longgar berwarna putih.

Kedua lengan panjang Nagi segera melingkar erat di sekeliling pinggang Reo, mengunci pemuda itu dalam sebuah dekapan posesif yang hangat. Kepala Nagi yang terasa berat dengan rambut putihnya yang halus segera dijatuhkan ke ceruk leher Reo, mencari posisi paling nyaman di sana.

Napas Nagi yang teratur dan hangat berembus perlahan di kulit leher Reo, menciptakan sensasi menggelitik yang membuat Reo sedikit menarik bahunya ke atas. Dari sela-sela ceruk leher itu, sebuah gumaman tidak jelas yang sarat akan protes manja terdengar seperti denguran kucing besar yang menuntut perhatian.

“Aku sudah datang sejak setengah jam yang lalu dan Reo tidak menyadarinya, bahkan setelah aku membuat keributan di dapurmu?”

Kalimat itu keluar dengan nada yang lambat, setiap katanya diseret penuh kemalasan, namun memiliki penekanan yang jelas pada rasa cemburu yang kekanak-kanakan.

Mendengar pengakuan yang keluar dari balik ceruk lehernya, sebuah tawa kecil yang renyah lolos dari tenggorokan Reo, getarannya terasa langsung oleh dada Nagi yang menempel pada punggungnya.

Reo menggeliat pelan, mencoba menggeser bobot tubuhnya dalam pelukan pemuda besar itu sebagai usaha setengah hati untuk melepaskan diri dari kungkungan yang terlalu erat.

Namun, Nagi jelas enggan memberikan kelonggaran sedikit pun. Lengannya justru semakin mempererat kuncian pada perut Reo, menunjukkan penolakan terhadap jarak yang ingin diciptakan oleh kekasihnya. Nagi tampaknya benar-benar merasa tersisih oleh tumpukan kertas dan papan ketik yang telah merebut seluruh perhatian Reo selama berjam-jam.

“Baiklah, maafkan aku ya, Sei?”

Reo berbicara lagi. Kali ini nadanya melembut, dipenuhi oleh nada menenangkan yang biasa ia gunakan untuk memenangkan suasana hati Nagi yang merajuk.

Senyum yang terukir di wajah Reo kini terlihat agak kikuk, ada rasa bersalah yang menyelip ketika ia menyadari betapa buruknya ia dalam membagi fokus jika sudah berhadapan dengan pekerjaan.

Nagi menggelengkan kepalanya pelan, membuat helai-helai rambut putihnya bergesekan dengan kulit leher Reo sebelum ia akhirnya mengangkat wajah. Sepasang manik kelabu milik Nagi yang biasanya redup dan malas kini menatap lurus, mempertemukan pandangan mereka dalam jarak yang begitu dekat hingga Reo bisa melihat pantulan dirinya di sana.

Tangan kanan Nagi perlahan melepas lilitannya dari pinggang Reo, bergerak naik dengan gerakan santai yang terukur. Tanpa peringatan, jari tengah Nagi menyentil kening Reo dengan ketukan yang sangat pelan — hanya sebuah ketukan kecil yang tidak menyakitkan, namun cukup untuk mengejutkan pemuda berambut ungu itu.

Nagi sangat tahu betapa cerobohnya seorang Mikage Reo jika pikirannya sudah tersedot ke dalam satu titik fokus. Kekasihnya itu bisa menjadi makhluk paling rentan yang melupakan keselamatan dasarnya sendiri.

Beruntung bagi Reo karena yang datang siang ini adalah Nagi, yang mendapati pintu depan rumah menganga kecil, tidak tertutup dengan sempurna karena Reo terlalu terburu-buru masuk ke ruang tengah setelah menerima kiriman ide cerita.

Nagi tidak bisa membayangkan jika yang melangkah masuk melintasi batas pintu itu adalah orang asing dengan niat buruk atau bahaya yang mengancam Reo. Sebuah lipatan tipis muncul di antara alis Nagi saat ia bergidik pelan, dengan cepat menepis bayangan mengerikan itu dari benaknya sebelum merusak kedamaian yang ada.

Reo masih mengaduh pelan, sebuah suara drama yang sengaja dibuat-buat, sambil tangan kirinya mengusap kening yang sebenarnya sama sekali tidak terasa sakit. Wajah pemuda berambut ungu itu kini menggembung bulat penuh kesal yang jenaka, dengan bibir yang mengerucut lurus ke arah Nagi sebagai bentuk protes atas tindakan fisik yang baru diterimanya.

Kekesalan itu tidak bertahan lama ketika iris ungu-nya yang senada dengan warna rambutnya mendadak menangkap kilatan cahaya dari gelas tinggi di atas meja. Di dalam gelas kaca yang mulai berembun tebal itu, genangan cairan berwarna cokelat muda keemasan tampak begitu menggoda, teh susu dingin dengan bongkahan es batu yang mulai mengecil.

Rasa manis dari gula dan kelembutan susu murni seketika terdengar jauh lebih menggiurkan di telinga Reo daripada sisa kopi hitamnya yang pahit dan mendingin di sudut lain meja.

Nagi yang mengamati setiap gerak-gerik terkecil dari kekasihnya segera menyadari arah pandangan lapar Reo yang terkunci pada gelas teh susu di atas nampan. Dengan gerakan tangan yang lambat, Nagi menangkup rahang Reo, mencoba mengarahkan kembali kepala pemuda itu agar menatapnya secara langsung. Nagi ingin Reo menatap matanya, bukan menatap minuman dingin itu, namun kepala Reo tampaknya memiliki porosnya sendiri. Lehernya tetap kaku, bersikeras menatap gelas yang menggiurkan itu dengan binar anak kecil yang menginginkan permen.

“Apakah naskahmu sudah selesai?”

Nagi bertanya lagi, memecah keheningan dengan suara yang merendah, mencoba menarik perhatian Reo kembali ke dalam ruang dialog mereka. Pemuda berambut putih itu mencium pelipis Reo dan menggesekkan rambut mereka. Ia selalu menjadi orang yang manja dalam hubungan, seperti seekor anak kucing.

Reo menggelengkan kepalanya perlahan sembari mengeluarkan suara senandung kecil yang bergetar di tenggorokannya, tanda bahwa tugas besarnya telah selesai, walaupun terdapat sisa-sisa revisi kecil.

Dari jarak sedekat ini, hidungnya kembali menangkap aroma susu yang manis dan legit dari arah gelas, sebuah wewangian yang entah mengapa sanggup membuyarkan sisa-sisa ketegangan saraf di kepalanya setelah berjam-jam berkutat dengan alur cerita yang rumit.

Sebagai seseorang yang terbiasa hidup dalam analisis yang rumit, Reo selalu menyukai hal-hal sederhana seperti ini untuk membantunya mengembalikan kejernihan berpikir dan membuat tubuhnya kembali segar. Semua hal sederhana itu kini tersaji lengkap di hadapannya.

Segelas minuman manis, buah segar yang dingin, dan tentu saja, pelukan hangat dari tubuh Nagi yang menjaganya dari belakang. Nagi tidak memprotes ketika Reo akhirnya menyerah pada rasa lelahnya, membiarkan bahu lebarnya menjadi bantalan sempurna bagi kepala Reo yang perlahan mendekat dan bersandar di sana.

Kedua kelopak mata Reo mulai terpejam perlahan, menikmati bagaimana berat tubuhnya disangga sepenuhnya oleh Nagi tanpa perlu mengkhawatirkan apa pun lagi. Sesekali, napas Reo berembus dengan irama yang teratur dan tenang, menghangatkan kain pakaian Nagi, sementara tangannya sesekali bergerak meraih buah potong segar yang telah disiapkan oleh Nagi di dapur

Suasana di dalam ruang tengah siang itu berangsur-angsur terasa sedikit lebih panas dan gerah daripada hari-hari biasa, penanda bahwa mereka sedang bergerak mendekati puncak musim panas yang datang jauh lebih cepat pada tahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Sebuah kekehan rendah bernada konstan keluar dari dada Nagi, getarannya menjalar lembut ke punggung Reo yang menempel padanya. Nagi baru saja menyadari, bahwa kekasihnya ini memiliki satu selera aneh yang sangat mirip dengan cara hidup orang-orang tua.

Di tengah udara siang Agustus yang mulai membakar kulit dan membuat siapa pun mendambakan es batu, Reo justru memilih untuk menyesap sesuatu yang hangat ke dalam lambungnya dalam segala situasi demi alasan menyegarkan diri.

Bagi Nagi yang praktis dan mencintai segala hal yang mendinginkan tubuh, kebiasaan Reo ini selalu menjadi misteri yang menggelikan sekaligus manis untuk disaksikan.

“Apa ada yang lucu?”

Reo bergumam tanpa membuka mata, namun keningnya berkerut tipis dan ia melemparkan satu tatapan menyelidik ke arah Nagi dari sudut matanya yang setengah terbuka.

Nagi hanya menggelengkan kepalanya perlahan sebagai jawaban bagi Reo yang kini menuntut penjelasan melalui kerutan di dahinya. Tangan Nagi yang berukuran lebih besar dari tangan Reo bergerak naik ke atas, dengan kelembutan yang kontras dengan ukuran tubuhnya, jemari itu menyelipkan beberapa helai anak rambut yang lolos dari kunciran rendah milik Reo ke belakang telinga.

Nagi memilih untuk menyimpan sendiri pikiran menggelikan mengenai selera minum Reo yang kolot itu di dalam kepalanya. Tentu bersikap dewasa dengan tidak ingin memicu perdebatan kecil yang bisa membuat kekasihnya merajuk dan merusak momen kedekatan mereka yang langka ini.

Mereka berdua kembali tenggelam ke dalam keheningan yang panjang untuk beberapa waktu, membiarkan waktu bergulir tanpa ada gangguan untuk melakukan apa pun di sisa siang itu.

Udara hangat di bulan Agustus bertiup pelan membawa semilir angin yang masuk melalui daun jendela yang sengaja dibuka lebar-lebar di sisi kiri ruang tengah. Angin itu menggerakkan tirai tipis dengan lambaian yang malas, membawa serta aroma tanah kering dan vegetasi hijau yang terpanggang matahari.

“Aku suka aroma daun di musim panas,” ucap Reo seraya kembali menutup matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya semakin ambles ke dalam pelukan Nagi.

Pemuda berambut ungu itu mulai bersenandung kecil, menyenandungkan potongan melodi dari lagu acak yang nadanya naik turun tidak beraturan, namun terdengar sangat damai di telinga yang mendengarkan.

Di luar sana, suara gesekan dedaunan dari pohon pelindung di tepi jalan yang saling bertabrakan karena angin, bunyi denting lonceng kuningan yang khas dari sepeda penjual es krim yang sedang melewati jalan setapak di depan kompleks, serta sayup-sayup tawa ringan dari anak-anak tetangga yang sedang bermain kejar-kejaran di bawah terik matahari.

Reo menyukai setiap detail kecil yang menyusun atmosfer musim panas. Perpaduan suara, bau, dan suhu yang terasa begitu sempurna, terlebih dengan adanya sosok Nagi Seishiro yang duduk diam di sini.

Musim panas yang biasanya terasa menyengat dan melelahkan kini menjadi musim favoritnya, sebuah kanvas waktu di mana ia bisa melarikan diri dari kesibukan dunia bersama satu orang yang paling berarti.

“Bagaimana jika kita pergi ke taman nanti sore?”

Nagi ikut bersuara, mengusulkan sebuah rencana dengan nada suara yang sama lambatnya, sambil ia ikut menyandarkan kepalanya di atas puncak kepala Reo. Sesekali, telapak tangan Nagi bergerak teratur, menepuk-nepuk bahu Reo yang lebih kecil dalam gerakan menenangkan.

Dari posisi ini, dengan hidung yang terbenam di antara rambut ungu kekasihnya, Nagi bisa mencium aroma anggur dan kombinasi buah beri yang menyegarkan — bau khas dari sampo yang selalu digunakan Reo yang selalu berhasil menenangkan saraf-saraf Nagi yang tegang.

Kepala yang berada di bawah dagu Nagi itu memberikan respons berupa anggukan singkat yang mantap, menyetujui ide spontan untuk keluar menikmati udara sore yang biasanya lebih bersahabat. Mereka berdua terus menikmati sisa siang yang tenang itu dalam posisi yang tidak berubah.

Tangan mereka yang saling bertautan di atas paha sesekali saling meremas lembut, diselingi oleh candaan ringan bersuara rendah yang dilemparkan satu sama lain tanpa ada niat untuk mencari siapa yang menang atau kalah dalam argumen verbal tersebut.

Perlahan obrolan mereka mereda seiring dengan kelopak mata Reo yang terasa memberat. Ia seolah ditarik oleh kehangatan dari dada Nagi di punggungnya. Suara Nagi berangsur berubah menjadi dengungan samar yang menenangkan, berbaur dengan desiran angin ketika bertabrakan dengan dedaunan. Reo menghela napas panjang dan lambat, kepalanya tenggelam lebih dalam pada ceruk leher Nagi. Aroma sabun mandi yang familier mulai menenangkan sarafnya.

Jari-jari Reo perlahan mengendur, menyisakan tautan yang lemas di atas pangkuan pahanya. Kesadaran pemuda itu juga dalam kegelapan yang nyaman, di mana satu-satunya hal yang jelas adalah detak jantung Nagi yang teratur.

Keheningan menyelimuti ruangan beberapa waktu dan menyisakan deru napas teratur dari keduanya. Nagi adalah orang yang tersisa dalam tidur ketika ketenangan itu bergeser ketika langit di balik jendela kehilangan cahayanya. Gumpalan awan kelabu berarak rendah dan menghalangi matahari. Udara berembus lembap dan lebih dingin, membawa aroma khas tanah kering yang akan dibasahi oleh air.

Ruangan itu berubah menjadi remang, tirai bayangan membungkus mereka dan terikat dengan samar. Reo merasakan perubahan dan mulai berkerut tidak nyaman. Ia bergerak perlahan dalam pelukan Nagi sebelum membuka mata.

“Hujan?”

Reo terbangun dengan sentakan kecil, sepasang matanya langsung terbuka lebar saat indra pendengarannya menangkap suara rintik air yang mulai menghantam permukaan genting dan dedaunan di luar dengan volume yang kian meningkat.

Saat mencoba menegakkan tubuhnya, sebuah rasa kebas dan kaku yang menusuk langsung menjalar di sepanjang otot leher dan bahu kirinya. Efek samping yang tidak terhindarkan karena ia tertidur dalam posisi duduk miring selama tertidur di pangkuan Nagi.

Pergerakan tiba-tiba dari Reo yang mendadak itu seketika ikut mengusik tidur nyenyak Nagi. Pemuda berambut putih itu mendesah rendah sebelum perlahan membuka matanya yang bengkak karena kantuk, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya yang berantakan.

Mereka berdua ternyata benar-benar terbuai oleh udara hangat siang hari dan ritme goyangan tubuh yang nyaman, hingga tertidur lelap tepat setelah menyelesaikan candaan ringan terakhir yang selalu mereka ulang-ulang di setiap waktu luang mereka.

Reo melirik ke arah jam dinding yang tergantung di sisi kanan ruangan, di mana jarum pendeknya kini telah bertengger dengan pasti di angka lima sore, menandakan bahwa durasi tidur siang mereka benar-benar luar biasa lelap dan lama.

Padahal, tujuan awal Nagi bersusah payah datang ke rumah Reo siang tadi adalah untuk menyeret kekasihnya keluar rumah, membawanya berjalan-jalan ke taman kota demi menghirup udara segar dan menjernihkan pikiran Reo yang sempat memusingkan diri akibat tumpukan naskah yang tidak ada habisnya.

Jelas terlihat ekspresi kecewa yang perlahan terbit di wajah datar Nagi saat ia menatap ke arah luar jendela. Langit sore yang seharusnya berwarna jingga hangat kini telah berubah menjadi hamparan kelabu gelap yang mendukung cuaca buruk, menghancurkan seluruh rencana kencan sore yang sudah mereka susun dengan manis sebelum tertidur.

“Tidak apa-apa, Sei, aku sedang ingin menghabiskan waktu denganmu,” ucap Reo dengan nada yang lembut, seolah ia bisa membaca dengan tepat gumpalan kekecewaan yang sedang berputar di dalam kepala Nagi akibat rencana taman sore mereka yang gagal total karena faktor alam.

Sebagai bentuk penghiburan, Reo memilih untuk mengusap punggung tangan Nagi yang besar menggunakan jemarinya, memberikan remasan-remasan kecil sebelum ia kembali merangkul bahu kekasihnya itu dengan erat.

Ia kemudian menggeser posisi duduknya sepenuhnya, memutar tubuhnya hingga kini menghadap langsung ke arah dada Nagi, lalu melingkarkan kedua lengannya di sekeliling leher Nagi, memaksa tubuh mereka untuk kembali menempel tanpa ada celah udara di antaranya.

Dalam posisi pelukan yang baru ini, Reo bisa merasakan dengan sangat jelas setiap deru napas Nagi yang hangat dan teratur berembus di kulit bagian belakang tengkuknya, menciptakan sebuah benteng perlindungan yang membuat dunia luar terasa begitu jauh.

Mereka kembali tenggelam dalam diam di dalam ruangan yang perlahan-lahan mulai digerogoti oleh kegelapan sore, membiarkan suara bising dari rintik hujan yang kian menderu di luar sana memenuhi seluruh indra pendengaran mereka, menjelma menjadi lagu latar alami.

Di tengah kegelapan yang merayap itu, Nagi menemukan kembali rasa hangat yang akrab menjalar di hatinya saat menyadari kedua telapak tangannya kini berada dalam genggaman erat Reo.

Tangan yang lebih kecil itu sesekali menepuk-nepuk punggung tangannya dengan ritme yang lambat. Sungguh, cara Reo dalam merawat dan memperbaiki suasana hati Nagi yang sedang jatuh adalah yang biasanya dilakukan oleh orang-orang tua kepada anak kecil yang sedang bersedih — sebuah kebiasaan yang di mata Nagi terasa sangat lucu.

“Kamu tertawa lagi!”

Reo berseru pelan dengan nada gemas yang tertahan sambil membalikkan sedikit badannya untuk menuntut penjelasan. Sepasang mata bulat milik pemuda berambut ungu itu menatap lurus-lurus pada wajah Nagi yang masih berusaha keras menyembunyikan sisa tawa tipis di balik ekspresinya yang sengaja dibuat datar dan tak acuh.

“Katakan apa yang lucu, Sei!”

Reo sedikit meninggikan volume suaranya, sebuah nada manja yang sama sekali tidak terdengar mengancam, sebelum kedua tangannya bergerak mengguncang-guncang pelan bahu lebar Nagi yang masih menopangnya.

Kini, Reo semakin mendekatkan seluruh tubuhnya hingga tidak ada jarak tersisa, mendesak Nagi yang masih menahan tawa agar suara gelinya tidak meledak keluar dan merusak wibawanya.

“Tidak ada Reo, hanya… rambutmu mengenai leherku, geli,” Nagi mencoba berkilah dengan suara malasnya yang khas, melemparkan alasan acak demi menyelamatkan diri dari interogasi kekasihnya.

Namun, usaha kebohongan kecil itu justru mendapatkan balasan berupa ekspresi wajah sengit yang dibuat-buat oleh Reo. Sepasang alis ungunya bertaut rapat, menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak memercayai alasan tersebut.

“Kamu tidak sesensitif itu terhadap rambut,” balas Reo ketus, namun ada binar jenaka di matanya.

Nagi akhirnya mengangkat kedua tangan tanda menyerah kalah, ia mulai membuka mulutnya untuk memberitahu dengan jujur bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil Reo dalam memanjakannya entah mengapa selalu mengingatkannya pada cara-cara orang tua zaman kuno yang sangat lucu — sebuah pertentangan yang luar biasa berbanding terbalik jika melihat penampilan Reo yang selalu terlihat modis, modern, dan begitu muda di bawah lampu kota.

Tentu saja, pengakuan jujur itu langsung dihadiahi oleh Nagi beberapa pukulan ringan di atas dadanya dari Reo yang seluruh wajah dan daun telinganya kini sudah memerah sempurna.

Pemuda berambut ungu itu merasa luar biasa malu dan salah tingkah akibat perumpamaan orang tua yang dilemparkan oleh kekasihnya. Reo kemudian memiringkan kepalanya ke samping dengan ekspresi wajah yang sangat menggemaskan, sebuah usaha keras yang gagal untuk menyembunyikan senyuman tulus yang terus memancar dari bibirnya yang merona.

Sementara itu, Nagi bisa merasakan gelombang kehangatan mengalir di dalam dadanya saat ia membalas pelukan Reo dengan tidak kalah erat. Sebuah perasaan damai yang seketika membuat dirinya melupakan semua rasa kecewa akibat rencana taman yang batal maupun segala bentuk ketidakpastian dunia di luar sana.

“Sekarang, bagaimana kalau kita tetap di sini dan tidak pergi?”

Reo berbisik dengan suara yang teramat lembut; sepasang matanya bersinar penuh dengan limpahan kasih sayang yang tak bersyarat di dalam keremangan kamar.

Nagi memberikan anggukan setuju tanpa ragu sedikit pun, ia menggeser tubuh besarnya untuk bergerak jauh lebih dekat. Pemuda itu merapatkan setiap jengkal kulitnya ke tubuh Reo, mereguk seluruh kehangatan yang memancar dari sana.

Mereka berdua akhirnya memilih untuk menghabiskan sisa sore yang basah itu dalam keheningan yang paling nyaman. Sepenuhnya terisolasi dan terpisah dari hiruk-pikuk kehidupan di luar sana yang selalu bergerak terlalu sibuk, terlalu bising, dan terlalu melelahkan. Di dalam ruangan itu, hanya ada mereka berdua, melodi hujan, dan waktu yang dengan senang hati melambat untuk menjaga mereka tetap hangat.