Work Text:
Shaka itu lahir dan besar di kota Bandung. Sebenernya Shaka asli Sumatera, tapi karena kedua orangtuanya yang memutuskan untuk merantau, jadilah pindah ke Bandung.
Selama 18 tahun hidupnya, Shaka selalu bersekolah di sekolah swasta yang uang sekolahnya gabisa dikatakan murah. Hanya keluarga berada yang mampu menyekolahkan anaknya di sekolah swasta elite tersebut. Sudah total dua kali Shaka ingin pindah sekolah. Pertama, saat lulus SD mau daftar SMP. Kedua, saat lulus SMP mau daftar SMA. Sayangnya, dua-duanya gagal dan dengan berat hati Shaka harus tetap bersekolah di tempat elite itu.
Efek bersekolah di swasta elite tengah kota Bandung, Shaka jadi kurang fasih berbahasa sunda. Ia hanya paham sedikit kosa kata bahasa sunda, entah itu untuk dia pahami dari percakapan orang lain atau dia yang harus berucap bahasa sunda. Menurut Shaka, dia ga perlu-perlu banget belajar bahasa sunda di lingkungan dia yang elite ini.
Tapi, opini dia tentang belajar bahasa sunda itu akhirnya berubah sejak ia bertemu dengan seseorang di tongkrongannya.
Hal itu bisa terjadi sejak Shaka keterima SNBT di kampus negeri idamannya di Bandung. Shaka jadi dibebasin orangtuanya buat nikmatin masa-masa liburan sebelum akhirnya harus berkutat dengan kesibukan sebagai mahasiswa baru. Hampir setiap hari Shaka main keluar rumah, tapi ke tempat yang wajar sih, ga aneh-aneh. Shaka juga agak takut kalau diajak ke tempat yang ga lazim sama temennya. Dia harus sebisa mungkin terjaga dari pergaulan yang jelek. Biasalah, anak kesayangan orang ada si Shaka tuh.
Walau demikian, bukan berarti Shaka tidak merokok. Ia rasanya udah coba semua jenis rokok yang dipunyai temennya. Mulai dari yang kretek, sampai ke vape yang bisa bunyi traktaktak. Yang Shaka gamau coba itu cuman minum minuman berakohol yang berpeluang tinggi bikin dia mabuk dan bertingkah yang gabisa dia kendalikan sama sekali.
Suatu hari Shaka diajak sama temennya buat nongkrong biasa aja di salah satu cafe di Braga. Shaka manut aja, karena memang biasanya mereka nongkrong tanpa tujuan yang jelas gitu. Ketemu, makan, ngobrol, foto-foto, terus balik kalau udah inget rumah.
Waktu Shaka udah sampai di cafe tersebut, dia melihat ada seorang laki-laki tampan yang baru pertama ia lihat di tongkrongannya. Tanpa basa basi, ia langsung menghampiri meja tempat temannya udah berkumpul dan duduk di kursi kosong sebelah anak baru itu.
"Eh iya Shak, kenalin ya ini Kaisar." Ucap Jeremy yang paham kalau Shaka merasa sangat asing dengan orang di sebelahnya.
Orang di sebelah Shaka mengulurkan tangannya, berniat untuk berkenalan dengan Shaka secara langsung.
"Urang Kaisar. Maneh saha ngarannya? Shak naon? Shaka?" (gua kaisar. lu siapa namanya?) Tanya Kaisar kepada Shaka.
Shaka agak kaget, dia mau bales ucapan Kaisar pake sunda juga tapi jadi kagok. Ah tapi kalau Shaka ga bales pake bahasa sunda mau ditaro di mana harga diri Shaka nanti?
"Heeum, gua- urang Shaka. Maneh anak baru nya? Asa teu apal." Kaisar yang mendengar itu sedikit terkekeh, ia merasa sedikit geli dengan bahasa sunda Shaka yang terkesan sangat dipaksakan itu.
"HAHAHA, aman aja Shak, gua bisa kok berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Iya gua baru pindah dari Aceh, ayah pindah tugas soalnya. Sekalian ke sini soalnya keterima PTN sini juga."
Hahh?? Anjing. Kira kia kaya gini suara di dalam hati Shaka, masa pendatang baru lebih unggul berbahasa sunda daripada Shaka yang kelahiran asli Bandung? Gak gak, Shaka yang kompetitif harus bisa ngalahin Kaisar.
Kaisar sadar sama wajah Shaka yang keliatan sangat terkejut, "Gua pas SD sampai SMP sempet kok pindah ke Bandung. Dari kelas 4 sampai 8, yaa kira kira empat tahun lah."
Ohh, pantes aja.
Akhirnya percakapan mereka terus mengalir layaknya anak tongkrongan biasa. Baru kali ini teman Shaka benar-benar menunjukkan skill mereka dalam berbahasa sunda, apa iya karena ada Kaisar? Mau ga mau Shaka harus berusaha berbaur menggunakan bahasa yang sama walaupun kesusahan.
Tak terasa Shaka dan Kaisar sudah berteman kurang lebih satu bulan, mereka pun menjadi sangat akrab dibandingkan dengan teman yang lainnya. Seperti saat ini, mereka berdua lagi main PS di rumah Kaisar.
"Cenah arurang rek lumpat ka dago limaan. Iraha sih?" (katanya kita mau pergi ke dago berlima. kapan sih?) Celetuk Kaisar secara tiba-tiba sambil tetap fokus dengan stick PS di genggamannya.
"Teuing tah da si Jeremy ge teu bisa dipegang janjina." (gatau tuh, si Jeremy juga janjinya gabisa dipegang.) Dan tentunya dibalas dengan sunda blepotan oleh Shaka.
Lalu hening sesaat, hanya ada suara dari game yang ditampilkan di televisi, stick PS, dan suara kunyahan snack ringan.
Tidak lama, layar televisi dimatikan, pertanda jika waktu bermain PS mereka telah selesai. Kaisar mengajak Shaka untuk duduk di atas kasur sambil mengobrol santai. Sudah lelah melihat layar, ucap Kaisar.
Kaisar melihat wajah Shaka tanpa berkedip. Rasanya ada yang berbeda dengan Shaka dari orang lain di luar sana. Shaka itu cantik, cantik sekali. Peak teteh-teteh bandung berambut bondol bergaya skena yang biasanya nongkrong di Dipatiukur dengan sebungkus LA purple. Bedanya, kalau Shaka beneran laki-laki Dan memiliki kontol-- kayanya sih?
Kaisar sedikit mendekat ke arah Shaka, lalu pergerakan Kaisar terkunci saat merasakan lutut mereka sama sama bertemu. Shaka sedikit panik, embusan nafas Kaisar bisa dia rasakan.
"Naon sih Kai..?"
"Geulis. Geulis pisan maneh teh."
"Maneh ngalantur nyak? Urang lain awewe, ma nya geulis." (lu ngelantur ya? Gua bukan cewe, masa cantik.)
"Sumpah urang teu ngawadul, Shak. Jangan-jangan maneh bogana memek lain kontol? HAHAHAHA" (sumpah gua ga boong shak. jangan-jangan lu punya memek bukan kontol.) Kaisar tertawa karena candaannya sendiri. Dia gatau aja kalau nafas Shaka tercekat sejenak.
Bangsat. Kok tau sih? Gumam Shaka dalam hatinya.
"Ga lucu Kai, males gua sama lu ah awas!" Shaka masuk mode pake bahasa Indonesia, menandakan kalau dia udah gamau bercanda lagi. Tapi Kaisar ga peduli, dia lagi pengen ngejailin Shaka kalau bisa sampai nangis.
Akhirnya Kaisar deketin tangannya ke selangkangan Shaka dan ngelus area privasi Shaka dengan jarinya.
"Eh?" Berapa terkejutnya Kaisar waktu ngelus tapi ngerasa kalau gaada gundukan di tengah selangkangan Shaka. Shaka bingung harus bereaksi gimana. Di satu sisi dia merasa kalau Kaisar kurang ajar, tapi di sisi lain dia ngerasa enak sama jari Kaisar yang mulai ngelus-ngelus memeknya dari balik kain.
"Iya gua punya memek! Kenapa? Maneh hayangeun?" (kamu mau?)
Kaisar kecil langsung berdiri denger itu. Tanpa basa basi langsung dorong Shaka biar posisinya jadi terlentang. Sekarang tangan Kaisar bukan cuman ngelus, tapi neken-neken kasar memek Shaka dari luar celana.
"Hnghh." Desahan Shaka mulai terdengar oleh Kaisar, membuat libido Kaisar sekarang beneran fulltank gabisa ditahan lagi.
"Ohh pantes kadang kelakuan lu kaya lonte nempelin gua mulu. Ternyata selama ini memeknya gatel ya?" Kaisar ngomong itu tanpa mikir dua kali, dia gatau kalau efek dia ngomong itu adalah Shaka yang nangis.
Bukan nangis karena merasa takut dilecehkan. Justru nangis karena Shaka mau dilecehkan lebih jauh sama Kaisar.
"Enggak- aahh! Enakkhh." Shaka mulai ngelebarin kedua kakinya di depan Kaisar. Dengan posisi mengangkang begini, Kaisar bisa dengan jelas melihat paha mulus Shaka yang cuman terbalut sama celana pendek tipis.
Kaisar udah gatahan, dia langsung narik celana pendek itu dan dilempar ke pojokan kasur. Bangsaaatt. Betapa makin sangenya Kaisar ngeliat cetakan yang lebih gelap di tengah celana dalam Shaka.
Shaka sekarang betulan banjir, memeknya terus menerus ngeluarin air dan lendir layaknya air terjun. Kaisar yang melihat itu tersenyum miring lalu mengesampingkan sedikit kain kecil itu ke samping sehingga terpampang jelaslah memek Shaka yang bocor.
"Ohh apa sebenernya maneh mah ikut arurang nongkrong teh nyari kesempatan buat digilir? Hm?" Kaisar toel dikit kelentit Shaka yang udah mencuat meminta digosok dan dipuaskan.
Satu jari Kaisar menggesek kelentit itu dengan sedikit penekanan. Selain digesek, Kaisar juga mengocok kencang kelentit milik Shaka.
"Heungg, aahh ahhh! Kaisarrhh!!"
Sekarang Shaka rasanya udah beneran gaada harga dirinya. Setelah mendesah seperti itu, Kaisar menarik paksa celana dalam Shaka sampai robek dan membuka kaos yang dikenakan Shaka sehingga anak laki-laki cantik itu sepenuhnya telanjang di depan Kaisar yang masih berpakaian rapih.
Kaisar memegang kedua paha Shaka yang mulai lemas akibat stimulus tidak henti yang diberikan oleh Kaisar. Dengan lapar, Kaisar menundukkan tubuhnya dan mulai melahap memek pink lacur Shaka yang udah mengap-mengap minta diisi yang lebih.
"Sluurrpp sccmhkk, mmhh enak pisan Shak, maneh beneran lonte ya? Geus ngowoh pisan yeuh memek maneh."
"Ahhh!! Jangan digigit itil guaa nghh!!"
Selain gigit kelentit Shaka, Kaisar sekarang bawa dua jarinya buat nusuk nusuk lubang memek Shaka yang berlendir parah itu. Sambil terus melahap memek pink itu, akhirnya Kaisar melesakkan kedua jarinya masuk ke dalam lubang surgawi milik Shaka.
"AAHHHH~ Kaisarrhh!! Enakkhh bangsatthh, cepetinnhh!!" Shaka yang digituin mulai kelojotan sendiri. Kepalanya geleng kanan kiri, tangannya remat rambut Kaisar dengan kuat, jangan lupa kedua pahanya yang ga tahan ngapit kepala Kaisar yang lagi melahap memeknya dengan sangat rakus.
Kaisar yang diperlakukan seperti itu semakin pusing. Kepala atas dan bawahnya udah cenat cenut ngerasain jarinya yang diapit sama emek licin sempit temen tongkrongan di depannya.
Kaisar menjauhkan kepalanya, masih dengan tangan kanannya yang mengubek-ubek memek Shaka dengan tempo yang ga beraturan. Kaisar menambahkan lagi satu jarinya ke dalam memek Shaka dengan paksa, ditambahnya juga tempo genjotan jarinya pada memek Shaka yang sebentar lagi akan mengeluarkan putihnya.
Pentil mencuat Shaka tentunya ga dibiarkan lolos begitu aja sama Kaisar, laki-laki gagah beralis tebal itu mendekat ke arah dada Shaka dan menyusu layaknya bayi yang harus akan asi dari ibunya. Tangan kirnya pun tak tinggal diam, Kaisar mencubit-cubit gemas pentil Shaka yang satunya.
Shaka sangat pusing sekarang, rasanya dia melayang tidak menapak lagi.
Memeknya digenjot jari-jari panjang, pentil kanannya menyusul, pentil kirnya dicubit cubit gemas. Gila, ini semua terlalu gila.
"Anghhh pipisshhh!! Ahhh Kai-ahhh, mau pipisshh!! Awasshh nghh aahh enakhh, lagiihhh nghhh~~ pipisshh ahh ahhh."
"Pipisin aja Shak, pipisin urang."
"Nghh nhh aaahh mau pipisshh nghh-- Ah!"
Shaka pipis. Kaisar menarik tiga jarinya dan menggantikannya dengan mulutnya. Shaka total pipis di wajah tampan Kaisar. Tanpa merasa jijik, Kaisar menelan cairan Shaka yang tidak sengaja menyembur masuk ke dalam mulutnya. Kaisar kembali menempelkan bibirnya pada bibir memek Shaka dan menyedot sisa cairan tersebut agar tidak ada yang tersisa.
Tanpa perlu waktu lama lagi, Kaisar menarik tubuhnya dan langsung menelanjangkan diri di hadapan Shaka. Kontolnya yang daritadi sesak harus ngaceng dibalik celana dalam kini dibebaskan.
Shaka yang melihat ukuran kontol Kaisar reflek menjulurkan lidahnya. Otak Shaka sekarang rasanya tidak berfungsi sama sekali, ia mau dimasuki oleh kontol itu.
"Lonte udah siapa banget dikontolin? Iyaa? Coba ngangkang yang bener dong Shaka lonte."
Shaka langsung melebarkan lagi pahanya, tangan kanannya meraba selangkangannya lalu kedua jarinya sekarang melebarkan pula memek yang baru saja melakukan pelepasan yang dahsyat.
Air liur Shaka menetes netes hingga ke leher, membuat Kaisar semakin sange dan tidak tahan untuk segera bersetubuh dengan Shaka.
Di bawanya kedua tangan Shaka untuk meremat rambut Kaisar, Kaisar pun bersiap di tengah-tengah kaki Shaka untuk memasukkan kontol kebanggaannya ke dalam sarang yang sudah sangat siapa tersebut.
"Hnghh, pelaannhh" Ucap Shaka yang sudah setengah teler.
"Ck, lonte mah mau urang kasarin ge terima aja."
Jleb!
Kaisar tidak main-main dengan ucapannya. Dia menghentakkan pinggulnya dalam sekali hentakan dan berhasil menyentuh titik terdalam dari lubang Shaka.
Shaka menangis, ia merasa bahwa tubuhnya terbelah dua akibat penyatuan yang jauh dari kata pelan ini. Shaka mendesah terus menerus di telinga Kaisar tanpa henti. Memeknya yang sudah sangat banjir ternyata masih sempit walaupun sudah disiapkan sebelumnya untuk menampung ukuran Kaisar yang sangat besa itu.
"AAHHH ENAAKKHH!! Ahhh Kaisarrhh!! Kencenginn- please- AAHHhh~ Kaisar enakkhh pisanhh ahh, kontolnya besarrhh ahh~~~!"
"Mnhhh, memek maneh ge legit pisan, Shak- aanhh. Kontol urang kejepithh anhhhggg."
"Kaiii, ahhh, mau crotthh nghhh aahhhhh."
"Ahh, bentarhh- mau bucat jugaa~ aahh."
Kaisar menambah temponya menjadi sangat kasar. Sesekali ia menarik kontolnya hingga hampir keluar, lalu memasukkanya lagi dengan paksa sepenuhnya masuk ke dalam lubang kawin Shaka yang terus menjepit serta memijit kontol Kaisar.
"NGHHH aahh nhh enakkhh, gilaa- aahh ahhh, Kaisarrhh gatahannn AAHHH ahh nghh heungg mmnhhhh~~."
Plak!
Plak!
Plak!
Tiga tumbukan terakhir hingga akhirnya mereka berdua mencapai pelepasannya. Kaisar menumpahkan semua spermanya ke dalam memek Shaka, membiarkan Shaka menampung semua cairan itu.
Sayangnya, terlalu banyak cairan yang ada di dalam tubuh Shaka, sehingga banyak juga yang menetes keluar dari memek tembab itu. Kaisar melepaskan kontolnya sesaat kemudian. Lalu ia berlutut di depan memek Shaka, Kaisar menggunakan jari-jarinya untuk memasukkan kembali semua cairan yang tidak sengaja menetes dari memek Shaka.
Shaka yang diperlakukan seperti itu hanya bisa menerima dengan pasrah sambil meraup oksigen sebanya-banyaknya.
"Lanjut ya lonte murahan, maneh kan nginep di rumah urang?"
Tamatlah riwayat Shaka.
