Actions

Work Header

Is It Better To Speak Or To Die?

Summary:

Di musim panas ini mana yang lebih baik antara berterus terang dan mati tertabrak mobil?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Jika kalian ditanya mana yg lebih baik antara mati dan bicara, kalian pasti akan memilih untuk bicara, bukan? Katakan apa yang kau rasakan, beritahu sejujur-jujurnya dan biarkan dirimu merasa lega. Sayangnya Thomas tidak akan memilih yang sama.

"Kau dengar apa yang kukatakan bukan, Tommie?"

Suara Zaman memecah lamunannya, pria itu kini menatapnya sambil melipat kedua tangannya. Disampingnya Padma juga ikut menatapnya heran, suara kerumunan kafe mulai kembali terdengar sekarang.

Ketiga sahabat itu saling menatap dalam diam. Kopi dihadapan mereka kini menggagur menunggu pemiliknya menyesap mereka. 

"Maaf, aku melamun tadi." Jawab Thomas diselingi sengiran kecil, jujur memang saat Zaman bicara tadi pikirannya melayang entah kemana. Ke paris mungkin?

"Tapi darimana kau mengetahui soal pertunangan itu, Zam. Apa kau menguntit mereka?" Padma balik bertanya penasaran. Masih melanjutkan topik sebelumnya. 

Thomas baru ingat apa topik pembicaraan mereka kali ini. Soal Pertunangan model modis yang ramai dibicarakan media. Siapa lagi kalau bukan Maria otets. Wanita cantik itu dirumorkan bertunangan dengan non selebriti yang sangat dikenal baik oleh Thomas ataupun kedua temannya itu.

"Tentu saja tidak, brengsek. Kau lupa jika Agam bekerja satu agensi denganku?" Ucap Zaman dengan nada tak terima. Mana sudi ia menjadi penguntit bajingan. Lagipula lebih baik memikirkan rupiah yang hampir menyetuh delapan belas ribu itu daripada mengurus hidup orang lain.

Ya, kalian benar.

Tunangan Maria tak lain tak bukan adaah Agam Samad atau yang lebih dikenal dengan Bujang, Teman sekampus mereka bertiga dulu. Cukup mengejutkan sebenarnya mendengar kawan lama mereka tbtb bertunangan dengan seorang model. Tapi kalau mendengar dari cerita Zaman sebelumnya, keduanya dijodohkan oleh orang tua mereka tanpa paksaan dan kini keduanya mencoba menerima perlahan. 

Padma yang baru mendengar gosip hangat ini mengangguk ngagguk, ia semakin penasaran dengan hubungan perjodohan ini, berbeda dengan Thomas. Reaksinya seperti sudah mendengar kabar ini dua kali dalam sebulan. Karna faktanya memng ia sudah mendengar kabar ini.

Bukan Zaman yang sudah menceritakan ini dua kali. Melainkan Thomas yang memang sudah mendengar cerita ini dari orang lain. Lebih tepatnya, dari orang yang sedang dibicarakan itu sendiri.

Thomas sudah tahu kabar itu lebih dulu karena Bujang yang menceritakannya langsung kepadanya.

Kalian bertanya bagaimana bisa?

Ya, sederhananya mereka memang sudah berteman terlebih dahulu sejak SMA sebelum akhirnya berakhir di kampus yang sama. Cukup menjelaskan kenapa dulu Thomas lah yang paling dekat dengan Bujang dibanding kedua temannya yang lain. Padma dan Zaman mengenal Bujang, tapi Thomas mengenalnya jauh lebih baik dari ia mengenal dirinya sendiri—setidaknya begitu yang  ia yakini.

Makanya sekarang ia duduk di sini, berpura-pura seolah baru mendengar kabar itu, padahal ia sudah mengetahuinya sejak sebulan yang lalu.

Saat itu, di kedai mie nyemek langganan mereka berdua.

"Kau sungguh menerima perjodohan itu?" Thomas bertanya tak percaya, suaranya tanpa sadar naik setengah oktaf hingga orang di meja sebelah sempat menoleh sebentar ke arah mereka.

"Hei, kecilkan suaramu, Tommie."

Bujang mencubit pelan hidung Thomas. Pria ini memang tidak pernah bisa mengontrol volume bicaranya sendiri, bagaimana kalau orang lain ikut mendengar?

"Maaf, tapi itu mengejutkan kau tau?" cicit Thomas pelan sambil mengusap hidung nya yg dicubit tadi.

"Apalagi aku yang tbtb dijodohkan? Aku heran jaman begini masih saja ada perjodohan seperti itu" Bujang menghela napas pelan sambil mengaduk malas es tehnya. pandangannya turun ke permukaan meja. Di luar kedai, motor berlalu lalang tapi di dalam sini rasanya waktu berjalan lebih lambat.

"Tidak bisakah kau tolak secara baik baik? Iya aku tau Bapak mu memang tidak suka ditentang. Tapi ayolah kau sudah cukup dewasa untuk memilih jodohnya sendiri, umurmu bahkan sudah hampir menginjak kepala tiga kalau kau lupa"  

"Kau mengejek ku atau bagaimana, hah? Sialan" Bujang menatapnya, antara kesal dan geli. "Kalau bisapun aku sudah menolak perjodohan itu dari lama" 

Thomas Hanya membalas dengan cengengesan. Ucapannya tidak salah kan?

Sejujurnya bercerita dengan Thomas memang begitu, tidak pernah terasa berat. Terlepas dari kebiasaan ceplas-ceplosnya yang kadang membuatnya resah bahkan orang disekitar sampai ikut menoleh—Thomas itu selalu bisa dijadikan tempat untuk bicara saat hidup terasa terlalu penuh untuk ditanggung sendiri.

Percakapan mereka mengalir begitu lancar sampai sendokan terakhir mie nyemek Thomas. Entah itu soal perjodohan Bujang, pekerjaan mereka masing-masing, sampai kabar nasib kucing hitam di kampus mereka dulu yang entah sekarang ada di mana. Topik melompat-lompat tanpa arah, tapi tidak ada yang keberatan.

Tapi tetap saja, soal perjodohan itu yang paling banyak memakan malam ini.

"Walau begitu, aku masih bersyukur Maria mau belajar mencintai satu sama lain perlahan." Bujang memandang keluar kedai, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Mungkin dia percaya kalau cinta bisa tumbuh, asal diberi waktu."

Matahari sudah sepenuhnya tenggelam sekarang. Langit di luar tinggal gelap yang menggantung. Sudah hampir sejam mereka di sini, tapi tidak ada yang berencana bergerak untuk pulang.

"Ya, aku harap kalian bisa secepatnya saling mencintai. agar kau tidak perlu lagi mengajakku makan di sini sambil berkeluh kesah soal kehidupanmu itu." Thomas mengaduk sisa kuah mie nya tanpa tujuan. "Aku bisa usus buntu kalau begini terus." Lanjutnya lengkap dengan tawa kecil diakhir.

Tentu saja Thomas hanya bercanda. Tidak akan pernah ia akui kalau sebenarnya cukup menyenangkan ngobrol hanya berdua disini, malah momen seperti ini yang paling ia tunggu-tunggu. Lengkap dengan mie nyemek level tiga di depannya, dan Bujang yang bicara tentang apa saja. Sesederhana itu, tapi itu sudah lebih dari cukup.

Bujang terkekeh pelan mendengarnya. Yang lebih tua itu juga berharap untuk hal yang sama, tentu saja. "Aku tadi mengajakmu ke warung soto dekat apartmu, tapi kau sendiri yang menolak."

"Tidak, terima kasih." Thomas mengangkat tangan, menolak bahkan sebelum tawaran itu selesai diucapkan. "Cukup sekali saja aku hampir keracunan di sana." Bujang hanya menggeleng mendengar itu. Tidak ada gunanya berdebat dengan Thomas soal makanan

Jauh dilubuk hati Thomas, entahlah ia tidak punya kata yang tepat untuk menjelaskannya, bahkan kepada dirinya sendiri. Menghabiskan waktu bersama Bujang  berbeda dari menghabiskan waktu bersama orang lain. Tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan, ia bisa berekspresi sesukanya tanpa takut dihakimi.

Bujang tidak pernah membuatnya merasa harus menjadi versi lain dari dirinya sendiri. Dan itu, sudah lama menjadi hal yang paling ia syukuri dari pertemanan mereka. Terlalu nyaman, mungkin. Sampai kadang Thomas lupa di mana batas antara nyaman dan sesuatu yang lain.

Atau ya secara singkatnya Thomas memang menyukai Bujang sejak SMA. 

Yup kalian tidak salah baca.

Sudah cukup lama mungkin ia menyukai pria itu sampai ia sendiri sudah lupa kapan persisnya perasaan itu muncul.

Cukup mengejutkan ternyata Thomas sangat pandai menyimpan dengan baik soal perasaannya itu. Bahkan Padma yang cerewet dan Zaman yang selalu curiga pun tidak pernah menyadari apapun, mereka bisa membuat satu dunia heboh jika mengetahuinya.

Sayangnya jiwa pengecutnya itu membuatnya hanya bisa sampai di situ, bahkan setelah hampir tujuh tahun berteman. Perasaan itu tampaknya betah sekali mengendap di hatinya.

Sebetulnya Thomas bisa saja mengatakannya secara blak-blakan seperti ciri khasnya selama ini. Dengan lantang, kalau perlu. Tapi hal itu tak pernah terucap, rasanya begitu sulit seolah ada sesuatu yang menghentikannya. Jadi ia memilih untuk tidak mengatakannya, mungkin tidak akan pernah. Akan lebih mudah begitu, pikirnya.

Tapi yang lebih konyol adalah mereka yang sudh menganggap satu sama lain saudara. Astaga, seperti saudara katanya, tentu saja itu hanya usaha Thomas untuk membohongi perasaannya sendiri.

Kurang lebih seperti itulah percakapan mereka sebulan yang lalu, dan sampai hari ini dia masih belum mendaoat kabar dari Bujang.

"Apa kau sariawan, Thom? kau diam saja hei."

Lagi-lagi suara Zaman memecah lamunannya. Thomas berkedip, kembali ke kafe ini, ke meja ini. Cangkir kopinya sudah dingin, bahkan ia lupa kapan terakhir menyesapnya. Sementara milik Padma dan Zaman sudah habis tak tersisa, bukti bahwa percakapan ini sudah berjalan cukup lama tanpa kehadiran komentar darinya.

"Di saat aku diam saja kalian sudah curiga. Aku seperti serba salah di mata kalian." Kedua kawannya itu hanya tertawa pelan mendengar omelannya.

"Lagipula kau diam saja dari tadi, siapa yang tidak curiga." Padma menyandarkan dagu ke tangannya, masih tersenyum. "Biasanya kau yang paling berisik di sini."

Thomas tidak menjawab. Tidak ada yang perlu dibantah dari kalimat itu.

"Kau bicara sampai mana tadi, Zam. Pernikahan mereka akan diadakan lebih cepat?" Hanya itu yang berhasil Thomas tangkap dari pembicaraan Zaman Padma saat pikirannya sedang tidak disini. Ia sendiri tidak paham kenapa belakangan ini ia semakin sering melamun. Mungkin kelelahan, batinnya.

Dan soal pernikahan yang dipercepat itu, jujur Thomas baru mengetahuinya sekarang. Bujang belum memberitahunya. Wajar saja, mengingat sudah cukup lama mereka tidak berkabar. Sebenarnya ia bisa saja mengirimi pria itu pesan sekarang dan bertanya langsung.

Tapi lebih baik tidak, belum saatnya.

Karena jujur saja, hatinya sudah sedikit tergores sekarang.

Tidak, tidak sedikit. Sangat tergores, sebenarnya. Saat pertama kali mendengar langsung dari mulut Bujang bahwa ia sudah bertunangan dengan model itu. Thomas mendukungnya, tentu saja. Ia turut bahagia mendengar pertunangan itu.

Walau ya, Thomas sekarang merasa seperti remaja puber yang patah hati saat mengetahui  orang yang ia taksir sudah punya pacar. Seperti itulah rasanya. Mau bagaimana lagi, mengingat perasaan itu sudah ia simpan sejak lama. Menyedihkan memang.

"Hmm, ya itu yang kudengar dari gosip-gosip kantor. Aku akhirnya paham kenapa dia bekerja jauh lebih keras akhir-akhir ini. Agar bos menyetujui cutinya, tentu saja, terlepas dari jabatannya yang sebenarnya tinggi." Zaman kembali menyender ke kursinya.

Sekarang jadi jelas kenapa Bujang sama sekali tidak menghubunginya akhir-akhir ini.

Thomas hanya mengangguk-angguk mendengar itu, sembari menyesap tegukan terakhir kopinya yang sudah lama dingin. Seharusnya ia turut senang, bukan? Kalau pernikahan mereka dipercepat, itu artinya mereka sudah saling mencintai. Seperti apa yang Bujang harapkan. Bahkan pria itu sampai rela membanting tulang demi melancarkan pernikahannya sendiri. Tapi tetap saja ada yang terasa janggal.

Perasaannya jelas. Apalagi?

Ia sudah tahu jawabannya dan karena itu rasanya semakin menyebalkan. Jadi sekarang mau tidak mau ia harus merelakan semuanya begitu saja? Tanpa pernah mengatakan apapun. 

Sialan, ini sia sia saja. Lebih baik ia mati tertabrak mobil sekalian daripada harus berdiri tersenyum menerima kenyataan pahit itu. Rasa-rasanya itu jauh lebih masuk akal sekarang.

"Kurasa aku akan pulang sekarang, kepalaku pusing. Kalian tidak keberatan kan?" Thomas menyeletuk sembari memijat keningnya. Memang sejak tadi rasa pusing terus-menerus menghantam kepalanya, terlepas dari banyaknya pikiran yang juga ikut berdesakan di sana. Jadi ia tidak sepenuhnya berbohong dihadapan zaman juga padma.

"Ya, itu cukup menjelaskan kenapa kau pendiam sekali hari ini." Padma menatapnya, raut mukanya menyiratkan kekhawatiran kecil yang tidak ia sembunyikan. "Apa kau membawa mobil?"

"Tidak, tapi aku sudah memesan taksi barusan." Thomas berdiri, mengemasi barang bawaannya. "Aku pamit dulu kalau begitu. Terima kasih, kalian berdua." Ia melambaikan tangan ke arah mereka, lalu keluar sebelum ada yang sempat menambahkan apapun.

 

 

 


 

 

 

Jarak kafe ke apartemennya sebetulnya tidak terlalu jauh, tapi Jakarta tetaplah Jakarta. Tiga puluh lima menit kemudian ia baru turun dari taksi, macet memakan sebagian besar perjalanan seperti biasa. Karena taksi tidak boleh berhenti tepat di depan gedung, Thomas turun di seberang jalan. Tinggal menyeberangi jalan raya saja.

Langit jam enam sore warnanya tanggung. Panas siang belum juga benar-benar pergi, menggantung di udara seperti sesuatu yang lupa cara pamit. Di zebra cross depan gedung, lampu merah menyala. Thomas berhenti.

Rasa pusing itu datang lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Ia memejamkan mata sebentar, memijat pelipisnya. Mulai berpikir apa yang ia makan hari ini sampai kepalanya bisa separah ini. Ia sudah makan kok seharusnya, kalau tidak salah. Sebaiknya ia segera mengecek ke dokter.

Hening sejenak.

Jadi, lebih baik bicara atau mati?

Pertanyaan itu tiba-tiba muncul begitu saja, menyelip di antara rasa pusing dan kebisingan jalanan. Thomas tidak tahu dari mana asalnya. Kalaupun tau, ia tidak mau mengakui itu. Rasanya seperti perasaannya sedang menagih sesuatu yang sudah terlalu lama ia tunda.

Tidak ada yang akan pernah tahu kalau ia terus begini, tapi jika ia disuruh untuk berbicara jujur, seratus persen ia tak akan melakukannya. Ini semakin tidak waras, ia bahkan tidak sanggup membayangkannya. Thomas mulai mempertimbangkan kembali soal mati tertabrak mobil tadi, itu terdengar jauh lebih mudah.

Lampu hijau menyala di tengah lamunan berantakannya. Semua orang beramai-ramai menyeberang, tapi Thomas masih terdiam di tempat. Ada ibu-ibu yang tak sengaja menabraknya kemudian menggerutu kenapa ia tak kunjung bergerak. Badannya seperti membeku. Pikirannya terlalu kacau sekarang untuk sekadar melangkah.

Thomas berkedip, mungkin ini efek dri rasa pusing yang melandanya atau memang ia mulai berhalusinasi sekarang? Karena sosok yang berdiri di ujung zebra cross itu terlihat sangat familiar. Terlihat seperti Bujang yang baru saja keluar dari gedung apartemennya.

Atau mungkin itu memang Bujang. Tapi kalau iya, apa yang pria itu lakukan di sini. Mengunjunginya? Bisa jadi. Sepertinya Bujang juga sudah menyadari kehadirannya, karena pria itu melambai ke arahnya. Thomas tidak berpikir panjang. Kakinya bergerak sendiri, berlari menyeberangi zebra cross.

"Nak, apa yang kau lakukan! Ini masih lampu merah!"

Teriakan seorang perempuan tua tiba tiba terdengar. Thomas hampir menoleh, hendak bertanya siapa yang dimaksud. Lampu sudah hijau sedari tadi, bukan? Atau mungkin sudah tidak. 

kesadarannya kembali terlambat. Dari arah kanan, suara klakson memekakkan telinga, begitu dekat sampai ia bisa merasakan anginnya. Satu detik sebelum tubuhnya tersadar Mobil itu sudah melaju. Ia bahkan belum sepenuhnya memahami apa pun selain benturan yang datang begitu cepat hingga tubuhnya bahkan tak sempat bereaksi.

Ada sesuatu yang hangat mengalir dari pelipisnya, merembes perlahan ke sisi wajah. Suara-suara di sekeliling terdengar jauh, seperti datang dari dasar tanah. Kepalanya berdenyut semakin keras, menelan satu per satu pikirannya sampai ia bahkan kesulitan membedakan mana suara-suara diluar dan mana detak jantungnya sendiri. Mungkin akan lebih baik jika ia menutup matanya sebentar, siapa tau rasa sakit itu akan hilang.

Hal terakhir yang Thomas lihat sebelum semuanya menjadi putih adalah seseorang yang berlari ke arahnya dengan tergesa-gesa.Ternyata benar pria itu adalah Bujang. 

"Sialan, kenapa baru sekarang?"

Thomas ingin tertawa. Tujuh tahun ia simpan semuanya dan akhirnya alam semesta memilih  cara seperti ini untuk mempertemukan mereka kembali.

Untuk sekilas Thomas berharap ini hanyalah lelucon belaka yang akan ia tertawakan kelak. Namun Bujang benar-benar ada di sana, berlari ke arahnya dengan wajah pucat ketakutan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Pria itu memanggil namanya berkali-kali, tapi Thomas sudah tidak bisa menangkap suaranya dengan jelas. Dunia di sekelilingnya perlahan menjauh.

Thomas, Thomas, Thomas, Thomas, Thomas.

Akan lebih baik jika ia sadar sedikit lebih cepat dan tidak membiarkan lamunannya menahan terlalu lama. Kalau saja ia pernah mengatakan sesuatu.

Mungkin ini akhirnya jawaban dri pertanyaan yang sejak tadi mengganggu kepalanya.

Is it better to speak or to die?

Dan ternyata jawabannya begitu sederhana.

To die

 

Notes:

so when they'll get kiss in the novel?

 

— looking for friends that love them with whole heart (the friends is me)