Work Text:
Tiga musim sudah dilalui Lando dan Oscar sebagai rekan satu tim di Formula 1, dan kini mereka menjalani musim keempatnya. Sudah sepertiga dari musim tahun ini berjalan, cukup banyak hal yang terjadi di kehidupan keduanya. Baik itu ups and downs di racing, atau… dinamika di pertemanan mereka yang “berubah”.
Well, orang-orang terdekat mereka ataupun fans menyadari mereka saat ini sudah cukup upgrade status dari rekan satu tim menjadi teman. Friends. Yang mereka tidak tahu adalah ada tambahan benefit di belakangnya. You could say Lando and Oscar are friends… with benefits now.
Mungkin Oscar yang terlalu naif. Dia pikir dengan Lando yang bersedia melakukan semua kegiatan yang tidak semestinya seorang teman lakukan itu memiliki arti bahwa Lando sudah berada dalam genggamannya. Ternyata tidak. Lihatlah bagaimana kagetnya Oscar saat Lando membeberkan cerita di Fanzone Barcelona.
“Sebenarnya kemarin gue sempat ngobrol terkait hal ini sama Carlos,” ujar Lando di panggung, menyapa fans-fans Spanyol. Mendengar nama Carlos tentu langsung menarik perhatian banyak orang, apalagi Carlos adalah pembalap negara mereka.
"...kita bilang, bakal seru kalau suatu hari nanti bisa jadi rekan setim lagi di F1. Mungkin lima atau enam tahun dari sekarang," lanjut Lando tertawa kecil. Dalam sekejap, suara penonton membahana lebih keras. Reaksi yang kontras jika dibandingkan dengan Oscar, yang berada tepat di sebelah Lando.
Oscar membeku. Sesaat. Untungnya akal sehat mengambil kontrol atas tubuhnya lagi, hanya memberikan reaksi senyum karir yang aman untuk dirinya dan juga semua orang. Meskipun sebagaimanapun ia coba, bayangan akan Lando dan Carlos berada dalam satu tim lagi terus terngiang di kepalanya.
Aneh. Biasanya kalau Lando mulai bahas-bahas Carlos, Oscar hanya merasa tidak nyaman, kali ini ia merasa amarah mengumpul di dadanya. Panas. Setiap kali Lando mulai bercerita tentang Carlos, Oscar memilih untuk gak terlalu ia pikirin. Cepat atau lambat topiknya akan berganti, dan perasaan tidak nyaman itu akan hilang dengan sendirinya. Oscar juga sadar diri, pertemanan antara Carlos dan Lando tidak bisa digantikan dengan dirinya dan Lando. Siapalah dia untuk menghalangi Lando untuk berteman bukan?
Metode Oscar yang avoidant itu selalu berhasil. Selalu.
Setidaknya sampai sebelum hubungan Oscar dan Lando eskalasi lebih jauh seperti sekarang.
***
Tidak lama setelah agenda mereka hari itu akhirnya selesai, Oscar menyempatkan diri untuk “menyapa” Lando di kamar hotelnya.
Bodohnya Lando, dari tadi ia tidak menyadari Oscar berjalan mengikuti di belakang, sehingga saat Lando membuka pintu kamar, Oscar dengan mudah menyelinap sebelum pintu tertutup rapat.
“Fuck Oscar, Lo bikin gue kaget anjir! Lo ngapain di sini?!” ujar Lando meninggikan suara.
Hening. Oscar tidak bersuara, tapi Lando yakin dari tatapan Oscar sekarang saja Lando merasa sedikit lagi ia bisa dimakan. Lando saat ini mulai paham idiom Bahasa Inggris if looks could kill, maka Lando sudah menjadi korban sekarang.
Mata Oscar menatap Lando dari atas ke bawah lamat-lamat. Menatap bagaimana tubuh Lando masih terbalut dengan teamkit McLaren. Tidak ada yang terlalu seksi dan terbuka, but Oscar would love to ruin Lando now.
Lando memberanikan diri mengumpulkan suaranya.
“...lo mau apa Osc?” tanya Lando.
Tidak menjawab, Oscar mulai berjalan mendekati Lando.
Insting Lando berkata menjauh. Lari. Bahaya. Kakinya perlahan bergerak mundur, namun ia hanya bisa usaha karena pada akhirnya tubuh Lando menempel berhenti di pinggir kasur. Shit. Nowhere to go.
Di saat-saat seperti ini Lando sebal kenapa dirinya lebih pendek dari Oscar, karena walaupun hanya berbeda beberapa senti, tubuh Oscar yang menghadang dirinya serta tatapan tajam itu tidak bohong—membuatnya merinding. Apalagi dari tadi Oscar belum membuka suara.
Lando menahan napas di kala tangan Oscar tiba-tiba terangkat dan mulai membelai wajah Lando. Lembut. Kemudian turun ke leher hingga dada Lando.
Sekarang, dengan kasar, Oscar mendorong Lando hingga terjungkal ke belakang. Topi Lando sampai terlepas dari kepalanya. Kontras sekali dengan apa yang Oscar lakukan semenit lalu. Posisi Lando tiduran di kasur, dan kini Oscar mengukungnya dari atas. Semua terjadi begitu cepat sampai Lando tidak bisa memproses.
“Lando,” panggil Oscar pelan.
Untuk pertama kalinya ia bersuara. Wajahnya kini mendekat ke Lando. Samar-samar Lando bisa merasakan napas hangat Oscar di lehernya. Membuat Lando merasa geli.
Lando mengigit bibirnya pelan sebelum menjawab, “...ya Osc?”
“Kalo emang lo masih mau sama Carlos bilang aja sini. Gue tahu kok gimana cara lo liat dia. Atau mungkin berkenan ngasih tau gue apa yang lo bayangin soal Carlos, hm?” ujar Oscar. Tangan kanan Oscar mulai bergerak lincah, kini meraba pinggang ramping Lando dari balik bajunya.
“Hah? T-tunggu dulu Osc,” ucap Lando berusaha menghentikan aksi Oscar. Dirinya berusaha untuk bangun dan mendorong Oscar mundur jauh. Naas, paha Oscar malah semakin mengapit tubuh Lando, membuat Lando tidak bisa bergerak.
Oscar semakin berani mendekatkan wajahnya dan kini mulai membubuhkan kecupan menggoda di leher Lando. Bibirnya menggigit pelan leher Lando, turut mengabsen moles yang menghiasi kulit.
“Mmh! G-geli Oscaaar,” desah Lando pelan. Meskipun tubuhnya tidak bisa bergerak banyak, tangannya mencoba menepis kepala Oscar dari lehernya. Tangan Lando aktif menarik surai coklat Oscar halus, mencoba membuat si empunya menatap wajah Lando. Hal tersebut malah disambut dengan tatapan tajam Oscar. Duh. Is it because of earlier today? Pikir Lando.
Lando menghela napas, “Lo… kenapa dateng-dateng nyebut nama Carlos? Is it because of what I said earlier?”
Oscar tidak menjawab, kepalanya abai dari tangan Lando, sekarang justru semakin memperdalam ke ceruk leher Lando. Menggigitnya semakin kencang, berharap membuahkan tanda bekas agar semua orang tahu Lando Norris cuma punya Oscar Piastri seorang.
“A-akh! Sakit Osc! Lo kenapa sih? I-I’m sorry if I offended you today but stop biting me!” lawan Lando. Tidak bohong, sakit. Tangan Lando mencengkram bahu Oscar kencang, berusaha mendorong pria Australia itu dari hadapannya.
“Gak. I will not stop biting you. I need to mark what’s mine. Rupanya lo harus gue ingetin kayak gini biar paham huh? That’s very low of you, Lando Norris. Bilang mau teammate sama Carlos padahal gue berdiri di samping lo,” jawab Oscar marah. Tubuh Oscar yang sedaritadi mengukung Lando, kini semakin menekan tubuh mereka bersama. Kini, Lando dapat merasakan punya Oscar yang mulai mengeras di balik celana pendeknya itu.
Dengan napas terengah-engah, Lando menjawab, “Oscar… no you misunderstand, itu cuma guyon fanservice aja, you know? Kita di Spanyol, of course, fans pada suka kalau driver negaranya disebut. And it also happens that I am bestfriend with him as well.. Untuk teammate, I’m still yours, okay?”
“Oh? So now you’re claiming to be mine? Tapi kayaknya lo lupa tuh pas di panggung. Pengen banget sama Carlos ya? Ngemis-ngemis nyebut nama Carlos padahal gak ada orangnya juga,” kekeh Oscar.
Tawanya terasa pedas di telinga Lando. Lando tahu ini bukan pertanda yang baik.
Lando terlalu fokus menyusun kata-kata dan menenangkan Oscar dalam pikirannya sampai ia tidak sadar tangan Oscar yang tadi membelai pinggangnya, sudah bergerak membuka kancing dan resleting celana Lando. Sangat sigap, karena kini celana Lando sudah dilempar Oscar ke lantai.
Mata Lando terbelalak, lidahnya kelu tidak bisa mengeluarkan kata-kata, karena saat ini rekan kerjanya sendiri melebarkan kedua paha Lando. Dengan cepat, tangan Oscar melepas celana Lando sampai kini Lando bisa merasakan deru AC kamar hotel beradu dingin ke kulitnya.
Oscar mendekatkan wajahnya ke memek Lando. Iya, memek, karena apparently the so called World Champion ini punyanya memek dan bukan kontol. Tapi tentu dunia Formula 1 tidak perlu tahu akan hal itu. Lando dapat merasakan napas panas Oscar pada bibir bawahnya. Geli. Basah.
“Haha liat sini. Buat yang ngaku gak mau sama gua, memek lo sekarang kok malah becek,” ejek Oscar sarkas. Ia menjilat bibirnya. Lapar, melihat santapan enak di depannya. Halus, merekah pink, tidak berbulu. Gila. Gila. Batin Oscar.
Tangan kanan Oscar mengelus bibir memek Lando, meraba-raba mulai dari bawah, ke atas, menggoda klitoris Lando sebentar, lalu ke bawah lagi. Sengaja, sedikit edging biar Lando tahu rasanya digantung.
“Let me remind you. Siapa yang selama ini puasin lo, siapa yang buat lo mohon-mohon ampun, hm? Know your place ya, princess?” perintah Oscar.
Lando hanya bisa menggangguk dengan mata yang kini berair. Anggaplah ini semua bentuk permohonan maafnya.
***
Plak!
“A–ahh! Oscaaar..” rintih Lando. Ia cukup terkejut saat tangan Oscar menampar memeknya. Reflek, paha Lando terangkat ke atas tersentak. Kakinya tidak bisa terkontrol karena sensasi panas yang menjalar di tubuhnya. Bukan main efeknya, karena cairan Lando perlahan makin banjir membasahi jari-jari Oscar.
Posisi Lando terbaring lunglai dan telanjang bulat. Seluruh pakaiannya telah raib entah kemana. Oscar tersenyum jahat. Yah, pengakuan deh, melihat princess-nya ini kesakitan wakes something up in him.
Oscar tidak tahan, dirinya ingin dipuaskan juga. Ia segera membawa dirinya ke kasur, melepaskan celana pendeknya. Dengan tidak sabar, ia mengisyaratkan Lando untuk bangun dari posisi tidurnya. Begitu Lando sudah terduduk, Oscar menarik leher dan kepala Lando agar berhadapan dengan kontolnya yang masih terbungkus boxer.
Tanpa perlu Oscar menyuarakan perintahnya, Lando tahu maksud dari Oscar. Lando mengangguk. Oscar jika sudah masuk mode seperti ini susah untuk dilawan maunya. Dalam posisi menungging, Lando perlahan membuka boxer Oscar, memperlihatkan kontol Oscar yang kini sudah tegang sepenuhnya. Besar. Berurat. Bikin Lando ngiler. Lando suka fakta bahwa Oscar adalah tipikal cowok yang tidak terlalu bisa tumbuh kumis panjang but damn, he’s bushy down here. Tapi siapa yang kaget sih, karena Oscar juga tipe yang berbulu. Membuat kesan manly dan jantannya semakin bertambah.
Pada mulanya Lando mengenggam kontol itu di tangannya. Heck, bahkan telapak tangan Lando yang cukup besar ini masih belum bisa sepenuhnya menggenggam Oscar.
Cuih!
Lando meludah. Ludah Lando cukup membantu membuat basah sebelum akhirnya pre-cum Oscar keluar. Setelah dirasa Oscar sudah cukup tegang, Lando mulai mengulum kontol Oscar. Pertama-tama menjilat-jilat lubang kencing, sebelum akhirnya membuka mulutnya lebar untuk mengulum kontol Oscar naik dan turun hingga setengahnya.
Oscar memejamkan mata keenakan, “Fuck yeah Lando. Pinter, isep terus sayang,”
Lando yang dipuji begitu semakin semangat melakukan aksinya. Dikulumnya dalam-dalam, ia dapat merasakan bagaimana dinding mulutnya beradu dengan urat-urat kontol Oscar.
Oscar kini mendorong kepala Lando dalam-dalam, agar mulutnya semakin dalam menghisap kontol yang besar dan tegang. Deep throat. Tentunya hal ini membuat Lando tersedak. Gimana enggak? Girth kontol Oscar yang tebal penuh di tenggorokan Lando.
Pinggul Oscar juga bergerak sendiri, mencari kenikmatkan sendiri di tengah penderitaan Lando. Fucking his mouth like some toy. Bahkan kini hidung Lando agaknya geli sedikit karena bergesekan dengan bulu pubis dari Oscar. Sebelum Oscar klimaks, ia menarik kontolnya dari mulut Lando.
“Mmpphh–uhukk, aaahh,” desah Lando sambil ambil napas banyak. Dirinya terkulai lemas sambil terbatuk-batuk. Matanya berair pedih karena rasa mulutnya yang disodok.
Selagi Lando mengumpulkan kembali napasnya, Oscar bergegas membuka pakaian yang ia kenakan. Ia bergerak menanggalkan baju yang dipakai, menampilkan punggungnya yang lebar dan bidang. Meskipun Oscar bukanlah tipikal gym freak, tapi ia cukup kekar menurut preferensi Lando. He is Lando’s big dog after all.
Posisi Lando kini tiduran dengan mengangkang lebar, kedua tangannya menahan kedua pahanya agar tetap terbuka, mempersembahkan memek basahnya yang kini tinggal disantap. Oscar sudah kembali. Ia kini memukul-mukul pelan kepala penisnya terlebih dahulu, sebelum membenamkannya pada lubang rahim Lando.
“Fuck, anget banget kamu Lan. So tight. Perfect pussy for me,” racau Oscar dengan suaranya serak. Pertama-tama kepala kontolnya yang masuk, sebelum akhirnya kontol Oscar masuk sepenuhnya ke dalam memek Lando.
Oscar memulai pergerakan dengan memajumundurkan perlahan, sengaja memberikan waktu bagi Lando untuk menyesuaikan. Namun teringat dengan perkataan Lando tempo hari membuat amarah di hati Oscar mengumpul.
Fuck ngapain gua main gentle? Pikir Oscar. Lando butuh tahu siapa yang punya kuasa di sini.
Oscar mulai menghentak pahanya keras ke dalam rahim Lando, membuat kontolnya mentok menumbuk titik sensitif. Kepala Lando terhuyung ke belakang, kaget dengan power yang dibawa Oscar.
“Anngh! Os-Oscar, s-sakit! Mmhh,” desah Lando. Jari-jemarinya mencengkram pundak Oscar kencang. Walaupun Lando sudah becek, tetap saja hentakan tanpa aba-aba itu membuat Lando kaget kelabakan.
Oscar tersenyum. Ia dapat melihat bagaimana princess-nya ini menggeliat, kewalahan akan perpaduan rasa sakit dan nikmat. It really turns Oscar’s on ketika melihat Lando kesakitan, apalagi setelah Oscar tahu ulah kontol besarnyalah yang membuat Lando seperti itu. Oscar mempercepat temponya, mulai menghantam semakin keras.
“Liat, memek kamu lahap banget sama kontol aku. What a nice cunt,” puji Oscar.
Kedua tangan Oscar memegang kuat kedua paha Lando, memaksanya untuk terbuka mengangkang lebar agar mempermudah dirinya untuk menghujam masuk. Beberapa kali dengan sengaja, Oscar mengeluarkan kontolnya sesaat dari memek Lando sebelum menghujamnya kasar kembali. Sengaja membangun ritme dari penuh, kosong, penuh lagi.
Oscar dapat melihat bagaimana mata hijau Lando kini mulai basah air mata. Bukannya kasihan, Oscar malah makin sange. Pengen kasarin Lando terus-terus rasanya. Tidak kuat, Lando memejamkan matanya. Berharap dengan menutup mata, rasa sakit campur nikmat ini bisa hilang.
Melihat Lando yang justru menghindar, Oscar tidak tahan diam. Salah satu tangannya berpindah dari paha, kini di wajah Lando, tepatnya mencengkram dagu.
“Ngghh!”
“Mikir gak Lan, gimana perasaan gue di samping lo pas denger pernyataan lo tadi? Gimana rasanya gue udah bertahun-tahun mencoba kerja yang bener tapi lo masih aja nyebut orang lain? Oh right, sekarang lo gak bisa mikir, soalnya udah dientot bego sama teammate lo sendiri,” lanjut Oscar tajam.
Lando mencoba membuka suara, “O-Osc–” Apa daya dirinya tidak bisa menjawab. Kini Lando tidak bisa berbuat apa-apa selain mendesah. Rasanya otak dia tidak bisa dipakai untuk berpikir, yang ada hanyalah bagaimana kontol Oscar penuh sempurna layaknya lacur tolol.
“Jawab gua Lando, ini memek lonte sempit milik siapa?” tanya Oscar tegas. Cengkramannya yang kasar membuat Lando terpaksa membuka mata, kembali bertatapan.
Bahkan untuk mengucap nama Oscar lengkap saja susah bagi Lando. Otaknya kini cuma penuh dengan kontol, kontol, dan kontol.
Oscar gemas rasanya dengan teammate-nya satu ini, gemas karena Lando saat ini mabok kontol. Tangan Oscar menampar wajah Lando, tidak terlalu keras namun cukup terasa. Tujuannya adalah agar Lando tetap tersadar.
Plak!
“Akh!”
“Kalo ditanya tuh jawab!” ulang Oscar. Sumpah, inikah sosok Oscar yang di balik personanya anak baiknya? Kasar.
Tapi Lando suka.
Seks dengan Oscar sebelumnya sangat memuaskan bagi Lando, tapi ternyata kalau Oscar main kasar seperti ini… Lando sih makin suka. Sue him for being a little masochist, and yet his teammate is the sadist one. Saling melengkapi bukan?
Walaupun Lando tidak bisa memikir dengan baik, namun sebisa mungkin ia berusaha menjawab. “Mmmh, p-punya O-Oscar.. memek Lando cuma punya Oscar,” ucap Lando di tengah-tengah desahannya.
“Haha, that’s right. Memek kamu cuma punya aku seorang. Remember that princess.”
Oscar mencabut kontol tegangnya sebentar, saatnya berganti posisi. Ia maju dan duduk menyender pada headboard kasur, kemudian menggendong tubuh Lando ke atas, mendudukkannya tepat di pangkuannya. Melihat usaha Oscar, Lando menurut, turut membenarkan posisinya hingga kini posisi mereka berubah menjadi Lando riding Oscar’ dick.
Awalnya Lando sempat kesusahan untuk memasukkan kontol Oscar ke dalam dirinya di posisi seperti ini, namun dengan tega Oscar menarik tubuh Lando paksa ke bawah, benar-benar memaksa masuk kontol tersebut ke dalam.
“Aaahh!” teriak Lando. Shit, posisi on top seperti ini membuat kontol Oscar lebih dalam menusuk rahim Lando.
Dalam hati Oscar pun mengerang nikmat karena di posisi ini benar-benar kontolnya dipijat oleh memek Lando. Pinggang Lando pun diremat keras oleh Oscar, yang pastinya nanti meninggalkan bekas. Sumpah, pemandangan Lando di atas Oscar ini tidak ada duanya. Bagaimana si cantik duduk manis dipenuhi kontol, bahkan sampai nyeplak keluar.
“Gerak Lan. Kalo lo gak bisa jadi teammate yang baik, at least show me how a good cock sleeve you are,” lanjut Oscar memerintah.
Lando hanya bisa mendesah, lalu mulai menggerakkan pinggulnya. Awalnya mengulek kontol Oscar maju mundur hingga akhirnya perlahan ia menggenjot naik turun. Bunyi nakal paha Oscar bertemu dengan pantat Lando turut memenuhi kamar. Tidak membiarkan Lando bergerak sendirian, Oscar juga mendorong dari bawah hingga ritme mereka mulai sama. Tangan Oscar tidak diam, lama-lama ia tidak tahan juga untuk tidak meremas pantat sintal seniornya di McLaren ini. Tangan Oscar membantu Lando untuk bergerak naik turun, memberikan kepuasan untuk keduanya.
“Aahhh! L-Lando mau keluar Osc, please..” desah Lando sedikit lagi mencapai klimaks. All those pain and pleasure mix so well together. Di sisi lain, Oscar juga sebentar lagi ingin keluar.
“Keluar bareng ya, princess? Rasain aku di dalem kamu ya, hm?” ujar Oscar.
Lando cuma bisa mengangguk. Posisi Lando sekarang mendekap tubuh Oscar, sedangkan kedua tangan Oscar menaikturunkan badan Lando. Oscar pun juga semakin semangat menggenjot Lando dari bawah, mengejar pelepasannya.
Crot..crot
“Akhh, fuck!”
Sperma hangat Oscar muncrat penuh di dalam memek Lando. Shit, enak banget keluar di dalem. Pikir Oscar. Rasanya keluar tanpa adanya kondom yang membatasi, bagaimana muntahan hangat cairan putih itu langsung memenuhi rahim Lando. Tubuh Lando ambruk di pelukan Oscar.
Cukup lama mereka berpelukan sampai Oscar melepas pelukannya dan menatap mata Lando. Mata mereka kembali bertemu, nafsu membara di antara mereka tidak tertahankan, seperti tidak ada habisnya dan selalu ingin lagi, lagi, dan lagi. Melihat Lando yang mabuk akan orgasme yang dialaminya membuat Oscar tidak tahan dan akhirnya mencium bibir Lando. Menciumnya ganas, sedikit membuat kewalahan namun juga menjilatnya lembut. Tangan Lando mengusap rambut Oscar halus, sedangkan tangan Oscar membelai halus punggung bawah Lando. Keduanya sama-sama menikmati ciuman tersebut, seakan-akan memaafkan satu sama lain untuk kejadian hari ini.
Padahal…. kesepakatan awal friends with benefit mereka sih tidak ada kissing.
Atur saja, Landoscar.
