Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-07
Words:
1,563
Chapters:
1/1
Kudos:
3
Hits:
28

Tea

Summary:

Karma mencoba minum teh buatan Isogai.

[selamat atas tayangnya Assassination Classsroom The Movie: Our Time! fanfiksi ini ditulis tahun 2017 dan dipublikasikan tahun 2026 tanpa revisi.]

Work Text:

Sejujurnya, bukan hal yang lazim jika mendapati seorang Akabane Karma mampir dulu ke suatu tempat setelah pulang sekolah. Biasanya, ia akan segera kembali ke rumah untuk bermain game, atau justru membuka buku pelajaran yang selalu ia lakukan diam-diam demi merebut singgasana peringkat satu dari Asano Gakushuu.

Akan tetapi, eksistensi si surai merah di depan sebuah kafe itu kini nyata adanya. Dengan sekotak susu stroberi di tangan yang isinya sudah nyaris habis, Karma memandang sebuah papan kecil bertulis ‘Kunugi Cafe’ melalui sepasang manik tembaganya. Seulas senyum tersungging di bibir si setan merah, dan dengan santai ia melempar kemasan minuman favoritnya yang telah kosong ke tempat sampah, sebelum akhirnya melangkah memasuki kafe.

Lonceng berdenting, dan sebuah suara yang sangat familiar langsung menyerbu gendang telinga Karma.

“Selamat datang!”


 

TEA

[Akabane Karma - Isogai Yuuma]

written by  maestermind

Assassination Classroom © Matsui Yuusei


Mata Karma menangkap iris cokelat keemasan Isogai Yuuma yang melebar karena terkejut, sebelum akhirnya senyum manis terpatri di wajah sang ikemen.

“Karma!” Ia menyebut nama si surai merah dalam seruan kecil. Didekatinya sang pemuda bermarga Akabane setelah mencatat pesanan salah satu pelanggannya, masih dengan senyum yang terlukis di bibir. “Tumben sekali kau datang ke sini.”

“Tidak ada alasan khusus, sebetulnya,” balas Karma tenang, kelihatannya menerjemahkan kalimat Isogai barusan menjadi ‘kenapa-kau-ada-di-sini’. “Aku hanya ingin melihat ketua kelas kebanggaan kita yang sedang bekerja, melayani para pengunjung dengan sikap khas seorang ikemen.”

Isogai tertawa, tawa yang berhasil membuat Karma menarik kedua ujung bibirnya ke atas. Sang ikemen yang memiliki dua pucuk di kepalanya itu selalu mampu membuat orang lain merasa nyaman, bahkan hanya melalui senyum atau tawanya yang tulus, tidak dibuat-buat.

“Kau mau memesan apa, Karma?” tanya Isogai seraya bersiap mencatat. “Ah, dilihat dari apa minuman kesukaanmu, bagaimana kalau kusarankan cupcake stroberi saja? Itu juga menu paling laris hari ini.”

“Terserah padamu, Ketua Kelas,” Karma terkekeh. “Apapun itu, asal rasanya pas di lidahku.”

“Oke. Cupcake stroberi dan teh hangat.” Isogai tersenyum, menuliskan dua menu barusan ke notes. Kemudian, ia mengedipkan sebelah matanya pada Karma seraya berbisik, “Tenang saja, nanti kutambahi satu cangkir teh lagi sebagai bonus. Gratis.”

“Baik sekali, eh?” Seringai terbentuk di wajah Karma, sementara teman sekelasnya tertawa sambil melambaikan tangan, menyuruhnya diam. “Tidak heran kau dijuluki ikemen, Isogai.”

Seraya menunggu pesanan, Karma melempar pandangan keluar jendela. Ingatannya melayang ke kejadian tempo hari, di mana murid lelaki kelas 3-E berhasil mengalahkan kelas A dalam pertandingan boutaoshi. Berkat kemenangan itulah Isogai bisa kembali bekerja sambilan tanpa gangguan, dan posisinya sebagai murid di SMP Kunugigaoka tetap terlindungi.

Kalau boleh jujur, sebetulnya Karma memang sempat memendam sedikit rasa iri pada Isogai. Melihat bagaimana teman sekelasnya dan Koro-sensei selalu menyebut-nyebut pemuda bersurai jelaga itu sebagai ikemen, mau tak mau menerbitkan rasa cemburu di hati Karma. Yah, kesannya kekanak-kanakan memang, tapi---bukankah Karma juga memiliki paras yang tak kalah menarik dari Isogai? Kecerdasannya juga tidak usah dipertanyakan lagi, jadi seharusnya Karma juga mendapat atensi yang sama.

Akan tetapi, melihat bagaimana Isogai berjuang selama ini, Karma mulai bisa menerima bahwa Isogai memang pantas mendapat semua itu. Berbeda dengan Karma yang kerap membolos pelajaran, Isogai selalu belajar dengan tekun untuk mengejar ilmu. Si surai jelaga juga tidak pernah mengenal kata menyerah untuk terus bekerja dan membantu ekonomi keluarganya. Kebaikan hati yang selalu ia bangun membuatnya disenangi semua orang, belum lagi senyum manisnya yang tak pernah gagal menentramkan hati orang lain.

Diam-diam, rasa malu sekaligus bersalah menguasai hati Karma. Bukan salah Isogai kalau dia disebut sebagai ikemen kebanggaan kelas 3-E, toh ketua kelas itu memang pantas mendapatkannya. Melihat dari sikap Isogai sebagai murid teladan yang rendah hati, seharusnya Karma cukup tahu diri untuk tidak memendam rasa iri.

“Karma?” Suara menenangkan milik Isogai menusuk lembut telinga si setan merah, menariknya kembali ke realita. “Ini pesananmu, silakan dinikmati.”

Barulah Karma sadar kalau di depannya sudah tersaji cupcake stroberi yang ditemani secangkir teh hangat. Tak ingin ketahuan baru saja melamunkan Isogai, Karma pun menyunggingkan senyum khasnya seraya mengucap, “Terima kasih, Isogai.”

Sang pemilik antena kembar mengangguk sambil tersenyum, kemudian memposisikan dirinya hingga duduk berhadapan dengan murid pemegang nomor absen satu. Isogai mengamati bagaimana Karma memasukkan potongan kue ke dalam mulutnya, lalu bertanya, “Enak?”

Karma mendecakkan lidah, menyeringai. “Tidak buruk.”

Setelah cupcake stroberi di piring habis tak bersisa, Karma melirik ke arah cangkir putih berisi cairan cokelat bening yang ada di dekatnya. Diangkatlah cangkir itu hingga mendekat ke wajahnya, lalu dimiringkannya sedikit. Karma menghirup aroma hangat teh yang menenangkan---sama seperti pembuatnya yang kini tersenyum-senyum di seberang meja---lalu menyesapnya perlahan.

Begitu minuman itu menjejak lidah dan mengaliri tenggorokannya, Karma terdiam.

Rasanya …. aneh. Ada yang berbeda.

Isogai sepertinya menyadari ada yang tidak beres, karena Karma mendengar pemuda manis itu bertanya, “Ada apa?”

Karma meletakkan cangkir tehnya, menatap Isogai lurus melalui sepasang matanya yang sewarna tembaga. Mengabaikan pertanyaan sang ketua kelas, Karma justru bertanya balik. “Ini apa, Isogai?”

Isogai mengedip polos. “Itu teh, Karma.”

Karma mengumpat dalam hati. Jelas ia salah memilih pertanyaan.

Seraya berdeham, Karma pun membetulkan posisi duduknya. “Bukan itu. Maksudku---apa kau memasukkan sesuatu ke dalamnya?”

Isogai terdiam sejenak. “Kalau yang kau maksud itu gula, maka jawabannya iya.” Si surai jelaga menatap teman sekelasnya, kedua pucuk di kepalanya bergerak-gerak gelisah. “Memangnya kenapa, Karma?”

Setan merah yang ditanya hanya diam, memandang cangkir teh di depannya seolah apa saja bisa terjadi jika ia kembali meneguk cairan cokelat bening itu.

“Kau tidak menuduhku mencampurkan racun atau obat-obatan apapun ke dalamnya, kan?” Isogai bertanya mendesak, kelihatan khawatir sekali. “Aku tidak mungkin melakukannya, Karma. Aku tidak punya alasan untuk membencimu.”

Sejujurnya, ingin rasanya Karma tertawa dengan pikiran Isogai yang terlalu berlebihan, tetapi kalimat terakhir dari pemuda bersurai hitam itu berhasil menyumpal mulutnya. Tidak memiliki alasan untuk membenci Karma---benarkah? Setelah semua tingkah Karma selama ini yang sering membolos dan melanggar peraturan, belum lagi sifat jailnya yang bahkan mampu membuat Koro-sensei jengkel setengah hidup, Isogai bilang tidak punya alasan untuk membencinya? Semulia apa hati ikemen manis itu?

Namun, Karma tahu bahwa Isogai berkata jujur---sepasang manik keemasan itu membuktikan segala kesungguhan yang ada. Andai saja Isogai tahu kalau Karma sempat merasa iri padanya, akankah kalimat ‘tidak-punya-alasan-untuk-membenci’ itu terucap dari bibir sang ikemen?

Mendadak, Karma berpikir betapa beruntungnya Maehara Hiroto memiliki sahabat sebaik Isogai Yuuma.

Sadar bahwa Isogai tengah memandanginya dengan cemas, Karma pun melukiskan senyum di wajah menawannya. “Tentu saja aku tidak akan menuduhmu begitu, Ketua Kelas. Tidak perlu memasang tampang panik seperti itu.”

Bahu Isogai langsung melemas, dan ia menyandarkan punggung ke kursi seraya tertawa lega. Setelah itu, ditatapnya lagi manik tembaga Karma sambil bertanya, “Lalu? Ada apa dengan teh buatanku?”

Si setan merah tidak langsung menjawab, melainkan meminum kembali teh itu untuk memastikan ulang rasanya. Kemudian, ia mendecakkan lidah dan bergumam, “Rasanya aneh.”

Jawaban itu sukses membuat Isogai mengerutkan alis. “Aneh?” ulangnya bingung. “Maksudmu tidak enak?”

“Tidak, bukan begitu,” Karma buru-buru menggeleng, tidak ingin pemuda di depannya salah paham. “Rasanya enak sekali, Isogai. Aromanya menenangkan, takaran gulanya tepat, dan racikan tehnya pas di lidahku. Hanya saja ….” Ia menunduk, memandangi cairan cokelat bening yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri. “Ada rasa lain di teh buatanmu. Rasa yang sulit kudeskripsikan.”

Bukannya paham, Isogai justru makin kebingungan. “Rasa lain? Rasa apa?” tanya sang ikemen. Seingat Isogai, dia tidak menambahkan perisa apapun ke dalam teh racikannya selain gula.

“Aku menemukan rasa yang berbeda saat meminum tehmu. Rasa yang tidak pernah kutemukan dalam teh lain yang kuminum selama ini.” Karma berusaha sebisa mungkin  menjelaskan apa yang membuat teh buatan Isogai terasa ganjil. “Saat aku meminum tehmu, rasanya langsung cocok sekali dengan lidahku. Rasa manis bercampur kehangatan khas yang membuatku teringat akan sesuatu.”

Isogai diam mendengarkan, dan Karma bisa menangkap rasa ingin tahu yang besar dari sepasang kelereng cokelat keemasan itu.

“Itu bukan rasa yang timbul hanya karena gula atau perisa apapun, Isogai,” lanjut Karma, berjuang keras mengendalikan sesuatu di dalam dadanya yang terasa berdentam-dentam. “Tetapi rasa yang begitu aku mencecapnya, langsung membuatku teringat padamu.”

Hening sejenak.

“Singkatnya,” Karma meneruskan, dan suaranya memelan saat ia mengucap kalimat terakhir, “rasa yang ada di dalam tehmu adalah rasa khas yang sama, yang kutemukan setiap kali aku melihatmu.”

Isogai mengedip. Sementara itu, Karma yakin wajahnya sudah berubah warna menyerupai rambutnya sendiri. Rasa panas di pipinya semakin bertambah saat melihat Isogai tampak menahan senyum, sebelum akhirnya tertawa.

Mendadak Karma merasa dirinya bisa meleleh kapan saja hanya dengan berada di dekat Isogai.

“Aku hanya berusaha menjelaskan apa yang membuat tehmu terasa aneh, Ketua Kelas,” ucap Karma sembari meneguk isi cangkir putih di hadapannya. Diam-diam, ia berharap dalam hati semoga omongan panjang lebarnya barusan tidak membuatnya tampak konyol.

Isogai menghentikan tawa, lalu melempar senyum ke arah teman sekelasnya. “Aku mengerti, Karma. Kau mau bilang kalau rasa tehku berbeda dan ada sesuatu yang khas di sana, benar, kan?”

Karma mengangguk sebagai jawaban.

“Ibuku selalu berkata, hal-hal yang dibuat dengan sepenuh hati selalu meninggalkan jejak yang tak akan bisa terhapus,” kata Isogai, masih mempertahankan senyum manis di bibirnya. “Sama seperti teh buatanku. Aku meraciknya setulus mungkin, sambil memikirkan bagaimana reaksi teman-teman dan pelangganku saat meminumnya. Aku berharap bisa memberikan sesuatu yang membuat mereka nyaman, bahkan walau itu hanya dari secangkir teh.”

Karma terdiam, kembali menatap cairan cokelat bening yang masih tersisa di dalam cangkir. Apa yang membuat teh Isogai terasa berbeda adalah karena kesungguhan hatinya dalam membuat teh yang lezat bagi peminumnya. Rasa itulah yang mengingatkan siapapun akan sosok Isogai Yuuma yang manis, hangat, dan menenangkan---sama seperti yang terasa di dalam tehnya.

Perlahan, bibir Karma melengkung membentuk senyum. Hari itu, ia menemukan minuman favorit lain selain susu stroberi kesukaannya; teh buatan seorang Isogai Yuuma.