Actions

Work Header

Full Night Destruction

Summary:

Malam itu, tiga mahasiswa akhir yaitu Joong, Pond, dan Phuwin berada di ujung keputusasaan karena tekanan skripsi. Stres, kurang tidur, dan revisi berulang membuat mereka nekat menyewa Dunk, escort premium terkenal sebagai "pain slut terbaik".

Dari ranjang ke sofa, lantai, hingga kamar mandi, Dunk dijadikan pelampiasan total ketiga pria itu. Menjelang pagi, setelah berjam-jam dihancurkan dan dibanjiri cairan, Dunk pulang dengan senyum puas.

Tapi nafsu ketiganya belum padam. Malam itu berlanjut dengan sesi panas
lainnya.

Notes:

MAAF INI JOROK BANGET😃

‼️INI FIKSI‼️

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Malam itu apartemen lantai 7 di kawasan kampus terasa pengap dan berat. AC menyala maksimal tapi tetap tidak mampu menyejukkan udara yang penuh aroma kopi dingin, asap rokok, mie instan, dan stres yang sudah menumpuk berbulan-bulan. Joong duduk membungkuk di depan laptopnya sejak jam tujuh malam. Kacamata tebalnya hampir melorot, matanya merah seperti darah, jari-jarinya gemetar di atas keyboard. Bab 4 skripsinya masih kosong melompong, hanya ada 12 halaman draft yang dosen pembimbingnya sebut “tidak koheren, tidak ilmiah, dan membingungkan”. Setiap kali dia mengetik satu kalimat, otaknya langsung blank. Rasa lelah, marah, dan putus asa bercampur jadi satu.

Di sebelahnya, Pond Naravit, cowok bertubuh paling besar di antara mereka bertiga, dada bidang hasil rutinitas gym, tapi saat ini otaknya seperti mati total merebahkan kepalanya di meja belajar dengan geraman pelan yang dalam. “Gue mau nyerah aja. Skripsi ini lebih susah dari mantan gue yang paling drama. Tiap bab dibaca dosen, selalu revisi total. Gue capek banget, bro.”

Phuwin, yang paling muda dan biasanya jadi otak kelompok, berdiri di balkon apartemen sambil menghisap rokok ketiganya dalam waktu satu jam. Asap mengepul pelan ke langit malam yang gelap gulita. Wajahnya lelah, mata cekung karena kurang tidur kronis, bahunya turun karena beban. Dia masuk kembali ke ruangan, suaranya parau dan putus asa, “Dosen gue bilang skripsi ini kayak sampah. Revisi total lagi dari bab satu. Gue udah nggak bisa mikir jernih. Otak gue kayak disumbat semen beton keras. Kalau begini terus, gue bisa gila.”

Joong melepas kacamatanya, mengusap wajah dengan kedua tangan kasar. “Kita bertiga udah tiga bulan nggak tidur bener. Makan cuma mie instan, tidur maksimal tiga jam sehari. Tubuh gue pegal semua, kepala pusing, dan yang paling parah, gue nggak bisa konsentrasi sama sekali. Gue butuh pelepasan yang bener-bener brutal, yang bikin gue lupa nama sendiri, lupa skripsi, lupa dosen, lupa segalanya.”

Pond mengangkat kepalanya perlahan. Matanya menyipit nakal meski tubuhnya lelah. Ide gila muncul di benaknya seperti kilat. “Gue punya ide. Tapi ini mungkin satu-satunya yang bisa nge-reset kita. Kita sewa pelacur malam ini juga. Satu malam full. Bayar berapa pun, nggak peduli. Yang bisa dijadiin pelampias total. Cosplay sesuai request kita, BDSM, gangbang, kasar, jorok, semuanya. Gue serius. Kita butuh ini banget.”

Hening sebentar. Ketiganya saling pandang. Joong dan Phuwin tertawa gugup, tapi mata mereka sudah berkilat nafsu yang tertahan lama. Stres skripsi sudah di ubun-ubun, kebutuhan seksual mereka terpendam terlalu lama. Mereka butuh sesuatu yang liar, kotor, menyakitkan, dan memuaskan. Joong langsung membuka situs booking eksklusif yang hanya beredar di grup chat cowok kampus rahasia. Profil yang langsung mereka pilih adalah “Dunk”, rating 4.9 dari ratusan review, deskripsi “pain slut terbaik”, “bisa dihancurkan total tanpa batas”, “open all fantasy termasuk extreme dan watersports”.

Mereka pesan paket “Full Night Destruction Premium” dengan request super detail dan eksplisit:

• Cosplay maid-nurse mix yang seksi
• Wig panjang hitam lurus sampai pinggang
• High heels merah 12 cm
• Makeup centil tebal maksimal
• Siap kasar total dan no limit sama sekali.

Bayaran langsung ditransfer dua kali lipat dari tarif normal plus deposit besar. Joong menulis catatan request dengan jujur

“Kami bertiga stres skripsi berat sekali. Mau yang brutal, jorok, dan tanpa ampun. Hancurkan dia sampai teler dan banjir.”

Dua setengah jam kemudian, bel apartemen berbunyi lembut.

Dunk masuk ke apartemen dengan membawa tas besar hitam. Mantel panjang putih menutupi tubuhnya sepenuhnya. Begitu pintu tertutup rapat dan dikunci, dia tersenyum genit lebar, lalu membuka mantel itu dengan gerakan lambat yang sangat sensual, memperlihatkan penampilan yang persis sesuai request mereka.

“Selamat malam, Master Joong, Master Pond, dan Master Phuwin~” suaranya manja, tinggi, penuh godaan profesional yang sudah terlatih. “Dunk sudah datang dan siap total malam ini. Dunk di sini khusus untuk bikin kalian lupa skripsi, lupa dosen galak, lupa revisi membosankan, lupa segala masalah dunia. Malam ini Dunk adalah pelacur murahan kalian bertiga sepenuhnya. Pakai Dunk sesuka hati, hancurkan Dunk sesuka hati, buat Dunk kotor dan jorok sepuasnya.”

Penampilannya sempurna dan menggoda. Wig panjang hitam lurus mengalir indah sampai pinggang, bando maid kecil dengan pita putih menggemaskan di kepala. Baju maid hitam-putih super pendek, roknya nyaris tidak menutupi pantat bulat kencangnya yang putih mulus. Bra push-up hitam transparan membuat putingnya hampir terlihat jelas. Stocking fishnet hitam ketat membungkus paha mulusnya dengan sempurna, dan high heels merah mengkilap 12 cm membuat kakinya terlihat jenjang, seksi, dan rapuh. Makeupnya tebal dan centil: eyeliner hitam tebal, eyeshadow smoky gelap, blush pink di pipi, bibir merah mengkilap tebal yang terlihat sangat menggoda untuk dicium kasar atau disumpal.

Phuwin langsung mendekat dengan langkah cepat, tangan besarnya meraba pinggang ramping Dunk dengan kasar. “Wah, lo emang pelacur paling hot dan paling siap yang pernah kita lihat.”

Joong berdiri, memegang dagu Dunk dengan kasar, mengangkat wajahnya paksa agar menatap matanya. “Ingat baik-baik ya, pelacur. Malam ini nggak ada kata pelan. Nggak ada safeword kecuali lo bener-bener nggak tahan lagi. Kita stres berat banget, jadi lo yang jadi tempat pelampiasan total. Siap dihancurkan?”

Dunk tersenyum lebar, matanya sudah berkabut nafsu berat. “Dunk siap total, Masters. Semakin kasar, semakin sakit, semakin jorok, semakin Dunk basah dan semakin seneng. Dunk pelacur kotor yang suka dihancurkan, diisi sperma, dibikin banjir pipis, dan dibikin teler. Silakan mulai kapan saja, Masters.”

Pond langsung meremas pantat Dunk dari belakang dengan sangat keras, jari telunjuknya menyelip ke celah pantat dan merasakan lubang yang sudah licin pelumas. “Bagus sekali. Ke kamar sekarang, little slut.”

Mereka bertiga membawa Dunk masuk ke kamar utama apartemen dengan langkah penuh nafsu yang sudah tidak tertahankan. Lampu kamar sengaja dibiarkan redup, hanya lampu tidur kuning keemasan yang membuat suasana semakin panas dan intim. Ranjang king size dengan sprei hitam licin sudah disiapkan seperti altar pengorbanan. Tali bondage hitam tebal menggantung di empat tiang ranjang, siap mengikat. Di meja samping ranjang, sex toys berjajar rapi dan mengkilap: vibrator rabbit besar dengan telinga kelinci yang bergetar kuat, dildo double ended sepanjang 40 cm yang tebal berurat nadi, buttplug ekor rubah panjang menggoda, klip puting besi berantai, cambuk kulit kecil yang fleksibel, ball gag merah besar, blindfold kulit hitam, tiga botol pelumas extra thick, dan beberapa botol air mineral besar yang sudah dingin untuk persiapan sesi watersports nanti.

Dunk berdiri di tengah kamar, tubuhnya masih sempurna dalam cosplay maid-nurse. Wig panjang hitam lurusnya mengalir sampai pinggang, bando kecil dengan pita putih bergoyang pelan saat dia bergerak. Rok maid super pendek itu nyaris tak mampu menutupi pantat bulatnya yang kencang dan putih mulus. Setiap gerakan kecil membuat rok naik, memperlihatkan celah pantat yang sudah licin pelumas bening. Bra push-up hitam transparan membuat puting kecilnya yang pink kecokelatan hampir terlihat jelas, stocking fishnet hitam ketat membungkus paha mulusnya sampai ke high heels merah 12 cm yang membuat posturnya semakin jenjang dan menggoda.

Dunk berputar pelan di depan mereka bertiga, gerakannya centil dan profesional. Dia menggoyang pinggulnya pelan sambil tersenyum genit, suaranya manja dan penuh godaan, “Master Joong, Master Pond, Master Phuwin… suka penampilan Dunk malam ini? Wignya panjang kan, high heelsnya tinggi, baju maidnya pendek banget sampai pantat Dunk hampir kelihatan semua. Dunk sudah siap total. Lubang Dunk sudah dilumasi tebal-tebal, mulut Dunk sudah basah menunggu. Mau mulai dari mana dulu? Mulut? Pantat? Atau Master mau mainin tubuh Dunk sambil ngikat dulu?”

Joong, yang paling sabar tapi nafsunya paling dalam, melangkah maju dan mendorong Dunk ke ranjang dengan kasar hingga tubuh ramping itu terjatuh telentang di tengah sprei hitam. “Ikat dia erat-erat. Kita mau liat dia nggak bisa gerak sama sekali malam ini. Dia cuma lubang dan mainan kita.”

Phuwin dan Pond langsung membantu. Tangan Dunk diangkat ke atas kepala, pergelangan tangannya diikat kuat dengan tali bondage hitam tebal ke tiang ranjang atas. Kakinya direntangkan lebar maksimal ke dua tiang bawah, lututnya sedikit ditekuk agar high heels merah tetap terpasang dan kakinya terlihat semakin rentan. Tali diikat begitu kuat sehingga Dunk hampir tidak bisa menggerakkan pinggulnya sama sekali. Wig panjang hitamnya tersebar indah di bantal seperti kipas hitam mengkilap, kontras dengan kulit putihnya.

Dunk menggigit bibir bawahnya, matanya sudah berkabut nafsu. “Ahh… Master ikatnya kuat banget… Dunk ngerasa kayak boneka seks sekarang… suka banget.”

Phuwin naik ke atas dada Dunk, lututnya menekan kedua sisi tubuh Dunk. Kontolnya yang sudah keras maksimal, panjang, dan tebal dengan urat-urat menonjol digesekkan pelan ke bibir Dunk yang merah tebal dan mengkilap. “Buka mulut lo lebar-lebar, pelacur. Tunjukkin seberapa dalam lo bisa nerima.”

Dunk membuka mulutnya lebar, lidahnya menjulur keluar genit, air liur sudah mulai menetes. Phuwin mendorong kepala kontolnya masuk perlahan, merasakan kehangatan mulut Dunk yang basah dan lembut. Dunk langsung menyedot kuat, lidahnya berputar di sekeliling kepala kontol sambil mengeluarkan suara basah “gluck… gluck… mmmphhh!” Phuwin mulai menggoyang pinggulnya pelan dulu, lalu semakin dalam dan cepat. Bola-bolanya yang berat menampar-nampar dagu Dunk yang halus, air liur Dunk meleleh deras dari sudut bibir yang teregang maksimal, mengalir ke leher, dada, dan mulai membasahi wig panjangnya.

Sementara itu, Joong berlutut di antara kaki Dunk yang direntangkan. Dia mengangkat rok maid pendek itu sepenuhnya sampai pinggang, memperlihatkan lubang pantat Dunk yang sudah berkilau pelumas bening dan agak terbuka karena persiapan sebelumnya. Joong menunduk, lidahnya menjilat pelan di sekitar lubang itu dulu, mengecap rasa pelumas yang manis asin, lalu lidahnya menembus masuk dalam-dalam dengan rakus. Dia menjilat dinding dalam yang panas, berdenyut, dan licin sambil mengeluarkan suara menjilat yang vulgar.

“Enak banget rasanya… ini lubang udah siap banget,” gumam Joong di antara jilatan.

Pond tidak tinggal diam. Dia memasang klip puting besi dingin ke kedua puting Dunk yang sudah mengeras karena rangsangan. Klip itu digigit kuat, membuat Dunk menggeliat hebat dan menjerit tertahan di balik kontol Phuwin. Pond menarik-narik rantai klip itu keras-keras, bergantian kiri dan kanan, membuat puting Dunk memerah dan bengkak. Di saat yang sama, Pond menyalakan vibrator rabbit besar di speed tertinggi dan menempelkannya tepat ke kontol kecil Dunk yang sudah keras dan bocor precum terus-menerus.

“AAHHH!!! Mmmphhh! Mmmppphhh!!! Ngghhh!!” Tubuh Dunk melengkung maksimal seperti busur yang ditarik penuh. Pinggulnya mencoba naik turun tapi tali bondage membuat gerakannya terbatas, hanya bisa gemetar hebat. High heels merah 12 cmnya goyang-goyang liar di udara, tumitnya sesekali menggores sprei. Sensasi di mulut yang disumpal kontol, puting yang ditarik sakit, kontol yang divibrasi kuat, dan lidah Joong yang menjilat dalam lubang pantatnya membuat Dunk hampir gila kenikmatan.

Phuwin ngentotin mulut Dunk tanpa ampun selama hampir 15 menit penuh. Sesekali dia nekan kepala Dunk kuat sampai hidung Dunk menempel di perutnya, deepthroat total, membuat Dunk tersedak dan air mata mengalir deras. Maskara hitam tebal luntur, membasahi pipi Dunk yang merah. Air liur bercampur precum Phuwin meleleh seperti air terjun ke leher, dada, dan wig yang semakin basah.

Joong menambah dua jari lagi ke lubang pantat Dunk sambil terus menjilat dan mengisap. Tiga jarinya keluar masuk dengan ritme cepat, merentangkan dinding dalam yang panas itu perlahan tapi pasti. Pond terus menarik klip puting dan menampar paha dalam Dunk yang terbuka lebar dengan telapak tangan besarnya — PLAK! PLAK! PLAK! — sampai kulit paha fishnet itu memerah terang.

Setelah Phuwin puas dengan mulut Dunk, dia keluar dengan suara basah “plop” yang vulgar. Air liur Dunk menetes panjang dari mulutnya yang masih terbuka. Gantian Joong yang naik ke atas, memasukkan kontolnya yang lebih tebal dan berurat kuat ke mulut Dunk yang sudah basah kuyup. Dunk langsung menyedot rakus, matanya melotot menatap Joong dengan pandangan centil meski air mata mengalir.

Di bawah, Pond bersiap. Dia mengoleskan pelumas tambahan ke kontolnya yang paling besar dan paling panjang di antara mereka bertiga. Kepala kontolnya yang besar menekan lubang Dunk yang sudah basah. Tanpa banyak kata, Pond mendorong masuk dalam satu hantaman keras dan dalam.

“AAARRRGHHH!!! NGHHH!!! Terlalu besar… Master Pond… aaahhh!!! Lubang Dunk mau robek!!!” jerit Dunk tertahan di balik kontol Joong yang memenuhi mulutnya. Air mata mengalir semakin deras, seluruh tubuhnya menegang hebat. Sensasi terbakar dan penuh yang ekstrem membuat Dunk menggeliat tidak terkendali di dalam ikatan.

Pond mulai menggoyang pinggulnya dengan ritme brutal. Setiap hantaman dalam membuat tubuh Dunk bergoyang naik turun meski terikat, high heelsnya goyang-goyang liar, suara plok-plok-plok-plok keras, basah, dan berirama memenuhi seluruh kamar. Setiap kali Pond masuk penuh, bola-bolanya menampar pantat Dunk keras.

“Enak banget… lubang pelacur ini ngejepit kuat tapi longgar pas,” geram Pond sambil menampar pantat Dunk berkali-kali dengan telapak tangan besarnya — PLAK! PLAK! PLAK! PLAK! — sampai pantat putih itu memerah terang dan panas.

Joong menarik wig Dunk keras seperti tali kekang, memaksa kepalanya maju mundur di kontol tebalnya. Phuwin mengambil cambuk kulit kecil dan mulai memukul paha dalam Dunk, perut rata, dan sisi pinggulnya bertubi-tubi. Setiap cambukan membuat Dunk menjerit tertahan dan lubangnya ngepit lebih kuat di kontol Pond.

“Minta lebih keras, pelacur! Bilang keras!” perintah Phuwin sambil cambuk lagi.

Dunk melepas kontol Joong sebentar, suaranya serak, menangis, tapi penuh nafsu centil, “Fuck me harder, Masters!! Hancurkan lubang pelacur murahan ini!! Isi Dunk penuh sperma panas!! Sakit… enak… lebih keras lagi!! Tampar lagi… jambak rambut Dunk… AAHHH!!!”

Ronde pertama ini berlangsung hampir 50 menit tanpa henti. Mereka bergantian posisi. Phuwin menggantikan Pond di lubang pantat dengan hantaman yang sama brutalnya, Joong tetap di mulut, Pond memainkan vibrator rabbit di kontol Dunk sampai Dunk orgasme pertama kali yang hebat, kontol kecilnya menyembur cairan bening berkali-kali, tubuhnya kejang hebat di dalam ikatan, mata melotot, air liur meleleh deras.

Lalu mereka mulai main berantai. Phuwin cum di dalam lubang Dunk dengan erangan panjang dan dalam, sperma kentalnya menyembur kuat memenuhi lubang kemerahan Dunk. Begitu Phuwin keluar, sperma putih kental mengalir keluar dari lubang yang menganga. Joong langsung menyusup masuk ke lubang yang penuh sperma panas itu, mendorong sperma Phuwin semakin dalam dengan hantaman kasar. Kemudian Pond. Lubang Dunk semakin longgar, merah, berdenyut, dan setiap kali kontol keluar masuk, sperma putih kental keluar banyak, menetes ke sprei hitam, paha stocking, dan high heels merah.

Dunk sudah mulai teler di akhir ronde pertama. Matanya setengah terpejam, wig basah kuyup keringat dan air liur, makeup hancur total, tubuh mandi keringat, pantat dan paha penuh bekas tampar dan cambuk, lubang pantatnya menganga lebar dengan sperma mengalir terus.

Tapi malam masih panjang.

Setelah ronde pertama yang brutal dan panjang hampir 50 menit, mereka akhirnya melepas semua tali bondage dari tubuh Dunk. Tubuh ramping Dunk langsung ambruk lemas di tengah ranjang king size yang sudah basah kuyup oleh keringat, air liur, pelumas, dan sperma. Napasnya tersengal-sengal cepat, dada naik turun cepat. Wig panjang hitamnya acak-acakan dan basah menempel di wajah, leher, serta dada. Makeup centilnya hancur total, maskara hitam luntur membentuk garis-garis panjang di pipi, lipstik merahnya luntur dan belepotan di sekitar mulut yang bengkak. Baju maid hitam-putihnya koyak di beberapa bagian, bra push-up transparan sudah bergeser, putingnya merah bengkak karena klip yang baru dilepas. Stocking fishnet robek di paha, high heels merah 12 cm masih terpasang meski sudah miring.

Pantat Dunk terangkat sedikit, lubangnya menganga lebar, merah menyala, dan terus mengeluarkan campuran sperma putih kental milik ketiga Masters-nya yang baru saja cum di dalam. Cairan itu menetes perlahan ke sprei hitam, membentuk genangan kecil. Dunk masih gemetar kecil, orgasme pertamanya tadi membuat kontol kecilnya masih menetes cairan bening.

Meski tubuhnya hancur, Dunk masih tersenyum centil lemah. Bibirnya bergetar saat berbisik serak, “Masters… Dunk… masih mau… lubang Dunk masih lapar… jangan kasih istirahat terlalu lama… Dunk mau diisi lagi…”

Joong tersenyum puas sambil mengusap wig Dunk yang basah. “Bagus. Ronde kedua kita naik level. Angkat dia ke sofa.”

Pond dan Phuwin mengangkat tubuh Dunk yang lemas seperti boneka seks. Mereka membawanya ke sofa besar di sudut kamar yang menghadap ranjang. Sofa itu lebar dan kokoh, pas untuk posisi gila yang mereka rencanakan. Joong duduk lebih dulu di tengah sofa, kontolnya yang tebal masih keras berdiri tegak, berkilau oleh sisa sperma dan pelumas.

“Naik ke pangkuan Joong,” perintah Pond sambil menampar pantat Dunk pelan.

Dunk merangkak naik dengan gemetar. Kakinya yang masih memakai high heels ditempatkan di kedua sisi paha Joong. Dia memegang bahu Joong untuk penyangga, lalu perlahan menurunkan pinggulnya. Kepala kontol Joong yang besar menyentuh lubangnya yang sudah longgar dan licin. Dengan desahan panjang, Dunk menurunkan tubuhnya sendiri.

“Ngghhh… ahhhh… kontol Master Joong masuk lagi… masih penuh banget di dalam…” erang Dunk. Lubangnya yang sudah diregang ronde pertama menelan kontol Joong dengan mudah, tapi tetap terasa penuh. Dunk turun sampai pangkal, pantatnya menempel sempurna di pangkuan Joong. Dia mulai menggoyang pinggulnya pelan ke depan-belakang, merasakan kontol itu menggesek dinding dalamnya yang sensitif.

Phuwin mendekat dari belakang. Dia berdiri di belakang Dunk, kontolnya yang panjang dan keras diolesi pelumas tambahan. Tangan Phuwin meremas pinggang Dunk kuat, lalu menekan kepala kontolnya ke lubang yang sama di samping kontol Joong yang sudah terisi penuh.

“Siap-siap, pelacur. Dua sekaligus,” bisik Phuwin di telinga Dunk sambil menggigit cuping telinganya.

Dunk menggigil hebat. Matanya melebar ketakutan bercampur nafsu. “Dua… sekaligus…? Lubang Dunk… bakal robek… ahhh… pelan dulu Master Phuwin… ngghhh!!!”

Phuwin tetap mendorong. Kepala kontolnya masuk perlahan tapi pasti, merenggangkan lubang Dunk yang sudah penuh. Dua kontol tebal bergesekan langsung di dalam lubang yang sama, meregang dinding dalam Dunk sampai batas maksimal. Sensasi terbakar, penuh, dan sakit yang ekstrem membuat Dunk menjerit keras, kepalanya mendongak, wig panjangnya terayun ke belakang.

“AAARRRGHHH!!! TERLALU BESAR!!! DUA KONTOL NGISI DUNK SEKALIGUS!!! NGHHH!!! SAKIT… ENAAAKKK!!! Lubang Dunk… penuh banget… mau pecah… aaahhh!!!”

Tubuh Dunk gemetar tidak terkendali. Keringat baru keluar deras dari pori-porinya, membasahi wig, punggung, dan dada. High heelsnya menekan sofa kuat, kakinya kejang. Joong di bawah memegang pinggul Dunk dan mulai menggoyang pelan ke atas, sementara Phuwin dari belakang mendorong ke dalam dengan ritme yang selaras. Dua kontol itu bergesekan di dalam lubang Dunk, saling tekan, menggosok prostat dan setiap lipatan sensitif di dalam.

Pond berdiri di depan sofa, memegang kepala Dunk dengan kedua tangan. Dia memasukkan kontolnya yang paling besar ke mulut Dunk yang masih terbuka karena jeritan. “Isap sambil digangbang, slut. Dua lubang penuh sekarang.”

Dunk benar-benar tersumpal total. Mulut dan lubang pantat semuanya penuh kontol. Tubuhnya digoyang-goyang liar oleh tiga cowok sekaligus. Setiap dorongan Phuwin dan Joong membuat tubuh Dunk naik turun, high heelsnya bergoyang-goyang, rok maid yang koyak naik turun memperlihatkan pemandangan dua penetrasi yang vulgar.

Phuwin menjambak wig Dunk dari belakang sambil mendorong lebih dalam. “Rasain, pelacur. Dua kontol gede ngebor lubang lo. Enak nggak?”

“MMMMPHHH!!! GLUCK… GLUCK… NGHHH!!!” Dunk hanya bisa mengerang di balik kontol Pond. Air liurnya meleleh deras lagi, menetes ke dada Joong di bawah.

Joong mencengkeram leher Dunk dari depan dan mencekik pelan tapi kuat, membatasi napasnya sebentar. “Lo cuma lubang murahan buat kita. Skripsi kami stres, lo yang bayar malam ini. Ngepit lebih kuat, pelacur!”

Sensasi cekikan membuat Dunk semakin teler. Matanya melotot, air mata mengalir deras. Lubangnya ngepit kuat di dua kontol, membuat Joong dan Phuwin mendesah nikmat. Mereka mempercepat ritme. Plok-plok-plok-plok-plok! Suara hantaman basah dan daging yang saling bertemu memenuhi kamar. Kadang mereka dorong bersamaan, kadang bergantian satu masuk saat yang lain mundur sehingga gesekan di dalam lubang Dunk semakin intens.

Dunk orgasme untuk kesekian kalinya. Tubuhnya kejang hebat, kontol kecilnya menyembur cairan bening ke perut Joong tanpa disentuh. Lubangnya berkontraksi kuat di dua kontol, membuat Phuwin dan Joong hampir ikut mengeluarkan spermanya.

Mereka belum puas. Phuwin menarik kontolnya keluar sebentar, lalu memasukkan lagi dengan satu hantaman keras. Dunk menjerit panjang. Mereka mengganti posisinya. Dunk dibalik menghadap belakang Joong, sehingga Phuwin bisa lebih leluasa menampar pantatnya.

PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!

Pantat Dunk sudah merah total, bekas tamparan dari mereka bertiga pada ronde pertama ditambah dengan tamparan pada ronde saat ini. Setiap tamparan membuat lubangnya ngenjepit lebih kuat. Pond masih bergantian menyetubuhi mulut Dunk, kadang deepthroat sampai Dunk tersedak dan batuk, kadang hanya gesek di bibir sambil Dunk menjulurkan lidahnya yang lelah.

“Bilang lo suka digangbang dua kontol,” perintah Joong sambil tarik klip puting yang dipasang lagi.

“Dunk… suka… digangbang dua kontol sekaligus… Masters… hancurkan Dunk… isi lubang ini penuh… Dunk pelacur kotor… aaahhh!!” suara Dunk serak dan putus-putus.

Ronde double penetration ini berlangsung hampir 35 menit penuh. Keringat mereka bercampur, bau seks semakin menyengat. Dunk sudah hampir pingsan karena orgasme berulang. Matanya setengah terpejam, lidahnya terjulur lemah, wig basah kuyup menempel di kulit.

Akhirnya Joong dan Phuwin cum hampir bersamaan di dalam lubang Dunk. Sperma panas menyembur kuat, memenuhi ruang yang sudah penuh, mendorong sperma ronde sebelumnya keluar. Saat mereka keluar bersamaan, lubang Dunk menganga sangat lebar, sperma putih kental mengalir deras seperti air terjun kecil ke sofa dan lantai.Dunk ambruk ke dada Joong, tubuhnya gemetar hebat, napasnya pendek. Tapi Pond belum cum. Dia angkat kepala Dunk dan cum di wajahnya, sperma kental menyembur ke pipi, bibir, hidung, dan wig panjangnya.

Dunk hanya bisa mendesah lemah, “Terima kasih… Masters… lubang Dunk… sudah rusak… tapi masih mau lagi…”

Setelah sesi double penetration yang panjang dan liar di sofa, ketiganya masih haus nafsu. Mereka mengangkat tubuh Dunk yang sudah lemas dan membaringkannya telentang di tengah ranjang king size.

Joong memerintahkan dengan suara berat, “Kali ini posisi stacked. Phuwin missionary di Dunk, Pond doggy nge-fuck Phuwin, gue nge-fuck Pond dari belakang.”

Phuwin langsung naik ke atas Dunk dalam posisi missionary. Dia mengangkat kedua kaki Dunk yang masih memakai high heels merah tinggi, meletakkannya di bahunya, lalu mendorong kontolnya yang panjang dan keras masuk ke lubang Dunk yang sudah sangat longgar.

Shllluuuup…!

“AAHHH… Phuwin… masuk lagi… ngghhh!!” erang Dunk panjang.

Phuwin mulai menggoyang pinggulnya dalam-dalam.

Plok… plok… plok… suara basah terdengar setiap kali kontolnya menghantam dalam.

Pond naik ke belakang Phuwin, memposisikan diri doggy style di atas Phuwin. Dia mengoles pelumas banyak-banyak ke kontolnya yang paling tebal, lalu menekan kepala kontolnya ke lubang pantat Phuwin.

“Terima ini,” geram Pond sambil mendorong kuat.

Shlllop!!

“Ughhh!! Besar banget… haaah… haaah…” Phuwin mendesah kasar, tubuhnya maju ke depan sehingga kontolnya terdorong lebih dalam ke Dunk.

Joong yang terakhir naik ke belakang Pond. Dia memegang pinggang Pond kuat dan memasukkan kontolnya yang tebal ke lubang Pond dengan satu hantaman dalam.

Sekarang mereka membentuk rantai vertikal yang sangat kotor. Joong mulai bergerak. Setiap hantaman keras dari Joong mendorong seluruh rantai ke depan.

PLAK! PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!

Suara hantaman pinggul Joong ke pantat Pond sangat keras dan basah. Karena dorongan itu, Pond menghantam Phuwin, dan Phuwin menghantam Dunk dengan kekuatan berlipat.

“Plok-plok-plok-plok-plok-plok!!!”

Suara daging basah becek memenuhi seluruh kamar. Cairan sperma, pelumas, dan precum berbusa keluar setiap kali ada hantaman.

Napas mereka semua berat dan tidak beraturan

“Haaah… haaah… haaah… lebih dalam!!” Joong

“Fuck… kontol lo gede banget… ughh… haaah… haaah…” Pond

“Ngghhh!!! Terlalu kuat… haaaah… haaaah… Dunk dihantam terlalu dalam!!” Phuwin

“AAARRRGHHH!!! Dunk diremas… Phuwin ngebor perut Dunk… haaaah… haaaah!!!” Dunk

Phuwin yang di tengah merasakan sensasi paling gila, kontolnya sedang menghajar lubang Dunk yang panas sambil lubangnya sendiri diregang lebar oleh Pond. Tubuhnya terjepit di antara dua sensasi ekstrem.

Pond mendengus seperti binatang, “Lubang lo enak Phuwin… ketat… plak! plak! plak!” sambil tangannya menjambak rambut Phuwin.

Joong di paling belakang menggoyang pinggulnya dengan kuat dan cepat.

PLAKKK! PLAKKK! PLAKKK!

Setiap hantaman membuat seluruh rantai bergoyang hebat. High heels Dunk bergoyang liar di bahu Phuwin.

Dunk yang paling bawah sudah hampir gila. Perutnya terlihat sedikit naik turun setiap kali Phuwin di dorong keras dari belakang. Wig panjangnya tersebar acak-acakan di bantal, air liurnya meleleh ke samping, matanya melotot penuh air mata.

“Dunk… mau pecah… terlalu dalam… haaaah… haaaah… AAHHH!!! Dunk keluar lagi!!!”

Tubuh Dunk kejang hebat di bawah Phuwin. Lubangnya berkontraksi kuat sekali, kontol kecilnya menyembur cairan bening ke perutnya sendiri. Kontraksi hebat itu memicu Phuwin cum di dalam Dunk dengan jeritan tertahan.

“Fuuuck!!!” Phuwin menyembur sperma panas dalam-dalam.

Dorongan Pond yang terus berlanjut membuat sperma Phuwin terdorong semakin dalam ke perut Dunk. Tak lama kemudian Pond juga cum di dalam Phuwin dengan erangan kasar, “Ughhh… haaah… haaah!!”

Joong yang terakhir menyemburkan sperma tebalnya di dalam lubang Pond sambil menampar pantat Pond keras berkali-kali.

Mereka tetap saling terhubung selama beberapa saat, tubuh mereka berkeringat deras, napas tersengal-sengal berat, sperma mengalir keluar dari lubang masing-masing dan menetes ke tubuh Dunk yang berada di paling bawah.

Akhirnya mereka perlahan melepaskan diri. Dunk terbaring telentang dengan lubang pantat yang menganga sangat lebar, sperma segar mengalir deras seperti sungai putih dari dalam tubuhnya, menggenangi sprei di bawah pantatnya.

Dunk hanya bisa terbaring lemas, napasnya pendek-pendek, tubuh gemetar, sambil berbisik serak “Haah… haah… Masters… Dunk… sudah penuh sperma berantai… lubang Dunk… rusak parah…”

Ronde kedua selesai dengan Dunk yang semakin hancur dan teler. Tubuhnya mandi keringat, sperma, air liur, dan bekas tamparan. High heelsnya hampir lepas, stocking semakin robek parah.

Setelah ronde kedua yang brutal, Dunk sudah tidak sanggup berdiri sendiri. Tubuhnya ambruk di sofa, lubang pantatnya menganga lebar sekali, merah membara, dan terus mengeluarkan semen kental putih yang sudah bercampur dari Joong dan Phuwin. Cairan kotor itu mengalir deras ke celah pantat, menetes ke sofa, dan membasahi paha stocking fishnet yang sudah robek parah. Wajah Dunk penuh sperma Pond yang baru saja menyembur, bibirnya belepotan, wig panjang hitamnya lengket basah oleh campuran keringat, air liur, dan sperma. High heels merahnya satu sudah hampir lepas, tubuhnya gemetar seperti orang kedinginan padahal kamar panas sekali.

Meski begitu, Dunk masih tersenyum centil lemah. Lidahnya menjulur sedikit, menjilat sisa sperma di sudut bibirnya sendiri sambil berbisik serak, “Masters… Dunk… sudah sangat kotor… lubang Dunk rusak parah… tapi… Dunk masih mau dihancurkan lagi… buat Dunk lebih jorok… Dunk pelacur sampah yang suka diacak-acak…”

Pond tertawa kasar sambil menarik wig Dunk keras. “Bagus. Ronde ketiga kita main di lantai. Doggy style full brutal. Toys semua kita pakai. Lo bakal banjir sperma, pelumas, keringat, dan air liur sampai nggak bisa mikir lagi.”

Mereka bertiga mengangkat Dunk dan meletakkannya di lantai karpet kamar yang sudah agak kasar. Posisi doggy style rendah, dada Dunk ditekan ke lantai, pantatnya diangkat tinggi, wajahnya menyamping dengan pipi menempel karpet. Tangan Dunk direntangkan ke depan dan diikat longgar ke kaki sofa agar tidak bisa merangkak lari. Kakinya direntangkan lebar, high heels merah yang masih tersisa satu ditahan agar pantatnya tetap terangkat maksimal.

Lubang pantat Dunk yang sudah rusak menganga sempurna, merah, bengkak, dan penuh sisa sperma kental yang perlahan keluar seperti krim. Pond jongkok di belakang, memandangi lubang itu dengan tatapan lapar. “Lihat nih… lubang pelacur udah kayak mulut yang lagi nganga minta kontol. Jorok banget.”

Phuwin mengambil dildo double ended 40 cm yang tebal berurat. Ujungnya yang besar diolesi pelumas ekstra tebal sampai menetes. Tanpa aba-aba, dia masukkan satu ujung ke lubang Dunk yang sudah longgar.

“NGGHHH!!! Dildo gede… aaahhh!! Masuk lagi… lubang Dunk penuh mainan!!” jerit Dunk. Dildo masuk dalam-dalam, mendorong sisa sperma ronde sebelumnya semakin ke dalam. Phuwin mendorong keluar-masuk dengan ritme cepat dan kasar, suara plok-plok-plok basah dan kotor terdengar jelas. Setiap kali dildo keluar, lubang Dunk menganga lebih lebar, sperma dan pelumas campur menetes ke lantai karpet.

Joong mengambil buttplug ekor rubah panjang. Dia masukkan buttplug itu di samping dildo, merenggangkan lubang Dunk bahkan lebih lebar. “Dua sekaligus lagi, tapi pakai mainan. Rasain, slut.”

“AAARRRGHHH!!! Terlalu penuh… pantat Dunk mau robek… ngghhh!!! Ekornya… kelihatan dari belakang… Dunk kayak anjing pelacur sekarang…” Dunk menangis kenikmatan, air matanya meleleh ke karpet. Phuwin menarik dildo keluar, lalu Joong mendorong buttplug lebih dalam sampai ekor rubah bergoyang-goyang di pantat Dunk setiap kali tubuhnya bergetar.

Pond tidak sabar. Dia tarik buttplug keluar kasar, lalu langsung memasukkan kontolnya yang paling besar dan tebal ke lubang Dunk yang sudah sangat longgar. Satu hantaman penuh sampai pangkal.

“PLAKKK!!! AAAHHH!!! Kontol Master Pond gede banget… ngebor dalam… hancurkan usus Dunk!!” jerit Dunk. Pond langsung menghajar Dunk dengan ritme ganas, pinggulnya menampar pantat Dunk yang sudah merah PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK tanpa henti. Setiap hantaman membuat sperma lama terdorong keluar, menetes ke bola-bola Pond dan lantai.

Sambil Pond menggoyang, Joong memasang lagi klip puting besi ke puting Dunk yang sudah bengkak. Dia menarik rantai klip itu ke bawah seperti tali kekang, membuat dada Dunk tertarik ke lantai. Phuwin mengambil cambuk kulit kecil dan mulai memukul punggung, pinggul, dan paha dalam Dunk bertubi-tubi.

SWIIING! PLAK! SWIIING! PLAK!

“Bilang lo suka dicambuk sambil di fuck, pelacur kotor!” perintah Phuwin.

“Dunk suka… Dunk suka dicambuk… Dunk pelacur masokis… cambuk lagi… tampar pantat Dunk lebih keras… aaahhh!!” Dunk menjerit, tubuhnya bergoyang maju mundur mengikuti hantaman Pond.

Joong mengambil vibrator rabbit besar, menyalakannya di speed maksimal, lalu menekannya ke kontol kecil Dunk yang sudah lemas tapi masih bocor. Getaran kuat itu membuat Dunk orgasme kering lagi, tubuhnya kejang hebat, lubangnya menjepit sangat kuat di kontol Pond, membuat Pond mendesah kasar.

Pond keluar, lalu Phuwin langsung menyusup masuk. Phuwin lebih suka teknik grind dalam-dalam, memutar pinggulnya agar kontolnya menggosok setiap dinding lubang Dunk. Sementara itu, Joong memasukkan dua jari di samping kontol Phuwin, merenggangkan lubang Dunk lebih lebar lagi.

“Dua jari dan kontol… lubang Dunk diregang maksimal… jorok… kotor… Dunk suka… Masters… masukin tiga kontol sekaligus nanti…” erang Dunk seperti orang kesetanan.

Mereka bergantian menhajar Dunk dengan doggy style selama hampir 25 menit. Kadang mereka masukkan dildo dan kontol bersamaan. Kadang vibrator dimasukkan ke lubang yang sama, dinyalakan, lalu digoyang-goyang sambil kontol lain fuck di sampingnya. Cairan putih, bening, dan pelumas bercampur berbusa di sekitar lubang Dunk. Bau seks sangat menyengat campuran sperma, keringat, pelumas, dan sedikit urine yang mulai keluar karena Dunk sudah tidak tahan.

Phuwin menarik wig Dunk keras sampai kepalanya mendongak. “Buka mulut lo.”

Dunk membuka mulut lebar. Phuwin meludah langsung ke dalam mulutnya dua kali, lalu Joong dan Pond ikut meludah. Dunk menelan semuanya dengan senyum centil, lidahnya menjulur minta lebih.“Lebih jorok lagi, Masters… Dunk mau yang kotor banget…”

Pond tertawa. Dia ambil botol pelumas dan memerasnya banyak-banyak langsung ke lubang Dunk yang menganga. Pelumas mengalir masuk seperti air, membuat suara glorrrk glorrrk saat kontol keluar masuk. Lubang Dunk sekarang benar-benar basah berbusa, sperma lama dan baru keluar bercampur pelumas, menetes ke lantai membentuk genangan kotor.

Mereka main triple threat di posisi doggy, satu menghajar lubang, satu di mulut, satu mainin vibrator dan cambuk bergantian. Dunk sudah teler berat. Matanya melotot kosong, lidah terjulur, air liur menetes panjang ke lantai seperti anjing. Tubuhnya hanya bereaksi otomatis setiap kali disentuh.

Puncak ronde ketiga dimana mereka memasang ball gag merah besar ke mulut Dunk, blindfold hitam ke matanya. Dunk sekarang hanya bisa mengerang “mmmphhh mmmphhh” tanpa bisa lihat atau bicara. Mereka menyetubuhi Dunk secara bergantian semakin kasar. Joong cum di dalam, lalu Pond cum di dalam, lalu Phuwin cum di atas pantat Dunk sehingga sperma mengalir ke punggung dan wig.

Sebelum ronde ketiga selesai, mereka tarik blindfold dan ball gag. Dunk sudah tidak bisa bicara jelas, hanya desahan serak, “Lebih… kotor… lagi… Dunk… pelacur… Masters…”

Phuwin pegang kontolnya di atas punggung Dunk dan mulai pipis hangat. Joong dan Pond ikut. Air seni hangat menyiram punggung, pantat, wig, dan lubang Dunk yang masih menganga. Dunk menggigil hebat, orgasme terakhirnya datang saat disiram pipis, tubuhnya kejang panjang sambil menangis kenikmatan.

“Terima kasih… Masters… Dunk… sangat kotor… banjir sperma… banjir pipis… Dunk bahagia…”

Tubuh Dunk terbaring lemas di lantai, mandi keringat, sperma, pelumas, air liur, dan pipis. Baju maid sudah hancur, wig lengket, high heels lepas satu, lubang pantat menganga lebar dan berdenyut, wajah penuh cairan kotor. Dia tersenyum puas meski sudah hampir pingsan.

Setelah ronde ketiga di lantai kamar yang sudah sangat brutal dan penuh mainan, tubuh Dunk benar-benar hancur. Dia terbaring lemas, napasnya tersengal pendek-pendek, tubuhnya gemetar kecil tak berhenti. Lubang pantatnya menganga sangat lebar, merah membara, bengkak, dan terus mengeluarkan campuran sperma kental, pelumas berbusa, dan cairan tubuhnya sendiri. Genangan kotor sudah terbentuk di bawah pantatnya. Wig panjang hitamnya lengket total oleh keringat, sperma, air liur, dan bekas cambukan. Baju maidnya hampir tidak bisa dikenali lagi, robek di mana-mana, basah kuyup. High heels merahnya sudah lepas satu, stocking fishnet robek parah sampai ke pinggang.

Wajah Dunk penuh noda putih kering dan basah. Bibirnya bengkak, lidahnya sesekali menjulur lemah menjilat sisa sperma di sekitar mulutnya sendiri.Joong menarik rambut wig Dunk pelan, mengangkat wajahnya. “Masih sanggup, pelacur? Kita lanjut ke kamar mandi. Ronde watersports full.”

Dunk mengangguk lemah, suaranya serak hampir hilang, tapi matanya masih centil. “Iya Master… Dunk mau… Dunk mau dibikin lebih kotor lagi… siram Dunk… pipisin Dunk… Dunk pelacur sampah yang suka diminumin pipis Masters…”

Mereka bertiga mengangkat tubuh Dunk yang sudah tidak bertenaga dan membawanya ke kamar mandi apartemen yang cukup luas. Lantai keramik dingin, dinding ubin putih, shower rain di atas, dan bathtub kecil di sudut. Lampu kamar mandi dinyalakan terang agar mereka bisa melihat setiap detail kekotoran di tubuh Dunk.

Mereka meletakkan Dunk berlutut di tengah lantai keramik. Lututnya terasa dingin dan keras. Tangan Dunk diikat longgar ke belakang punggung menggunakan tali handuk. Phuwin memasang blindfold hitam ke matanya, tapi tidak terlalu ketat agar Dunk masih bisa merasakan semuanya.

“Mulut buka lebar, lidah julur keluar maksimal,” perintah Pond dengan suara berat.

Dunk patuh. Mulutnya terbuka lebar, lidahnya menjulur keluar sebanyak mungkin, air liur langsung menetes ke lantai. Wajahnya mendongak, wig basah menempel di punggung dan bahu.

Joong berdiri paling depan, kontolnya yang sudah setengah keras dipegang. “Kita mulai pelan, pelacur.”

Dia mengarahkan kontolnya ke wajah Dunk dan mulai mengeluarkan pipis hangat pertama. Pancaran kuning keemasan yang kuat menyiram langsung ke dahi Dunk, mengalir ke mata yang tertutup blindfold, hidung, pipi, lalu masuk ke mulut terbuka. Dunk langsung menelan sebanyak yang masuk, suaranya “gluk… gluk…” terdengar jelas.

“Ahhh… air kencing Master Joong hangat… asin… Dunk minum… minum kencing Master…” gumam Dunk di sela-sela tegukan.

Joong memindahkan arah pancaran ke wig panjang Dunk, membasahi seluruh rambut palsu itu sampai menetes deras. Lalu turun ke dada, merendam sisa baju maid yang koyak, membasahi puting bengkak Dunk yang masih memakai klip kecil.

Phuwin ikut berdiri di samping. Kontolnya lebih panjang, pipisnya keluar dengan tekanan kuat. Dia menyiram wajah Dunk dari sisi kiri, lalu ke leher, dada, dan perut. Bau urine yang kuat dan hangat langsung memenuhi seluruh kamar mandi.

Pond yang paling suka yang kotor berdiri di belakang Dunk. Dia menyiram punggung Dunk, lalu membidik langsung ke lubang pantat yang masih menganga. Urine hangatnya masuk ke dalam lubang Dunk yang longgar, bercampur dengan sisa sperma dan pelumas di dalamnya. Setiap kali pancaran masuk, lubang Dunk berkedut, mengeluarkan busa kotor campuran.

“NGHHH!!! air kencing masuk ke dalam lubang Dunk… panas… penuh… Dunk kotor banget sekarang… Masters kencingin lubang pelacur ini!!” jerit Dunk sambil tubuhnya gemetar hebat.

Ketiganya bergantian dan kadang bersamaan menyiram tubuh Dunk dari kepala sampai lutut. Wajah Dunk banjir total, wig sudah seperti spons yang menyerap urine. Dada, perut, paha, dan pantatnya basah mengkilap. Lantai keramik di bawahnya sudah penuh genangan campuran urine, sperma, dan pelumas yang mengalir dari lubangnya.

Phuwin membuka blindfold Dunk agar dia bisa melihat. “Lihat diri lo sendiri di cermin nanti, slut.”

Mereka angkat Dunk berdiri sebentar di depan cermin besar. Dunk melihat dirinya sendiri. Wajah belepotan urine dan sperma, wig basah kuyup menempel di kulit, tubuh penuh cairan kuning, lubang pantat masih menganga dan menetes campuran kotor. Dunk tersenyum lemah, lidahnya menjulur menjilat bibirnya sendiri yang asin.

“Masters… Dunk sangat jorok… Dunk suka…”

Mereka suruh Dunk berlutut lagi di genangan pipis itu. Kali ini mereka mau scene minum langsung.

Joong berdiri di depan Dunk. “Buka mulut lebar-lebar. Minum langsung dari kontol Master.”

Dunk membuka mulutnya selebar mungkin, lidah menjulur. Joong memasukkan kepala kontolnya ke mulut Dunk dan mulai pipis pelan. Dunk menelan dengan rakus, “Gluk… gluk… gluk…” Matanya melotot, air mata keluar karena asin dan volume yang banyak, tapi dia terus menelan. Beberapa tetes meluber keluar dari sudut bibirnya, menetes ke dada.

“Bagus… minum semua pipis Master Joong,” puji Joong sambil mengusap kepala Dunk.

Setelah Joong selesai, gantian Pond. Kontol Pond paling besar, jadi mulut Dunk terasa penuh sekali. Pond pipis agak banyak dan kuat. Dunk tersedak beberapa kali, pipis meluber ke dagu, leher, dan lantai, tapi dia berusaha menelan sebanyak mungkin. “Enak… air kencing Master Pond… Dunk minum semua… Dunk udah kayak toilet Masters…”

Phuwin yang terakhir. Dia memegang kepala Dunk dengan kedua tangan, memasukkan kontolnya agak dalam, lalu ia keluarkan air kencingnya secara perlahan. Dunk menelan sambil menatap mata Phuwin dengan pandangan teler dan puas. Beberapa kali dia batuk kecil, tapi tetap minum.

Setelah ketiganya selesai, Dunk terbatuk-batuk kecil, mulutnya penuh rasa asin, bibirnya basah urine. Tubuhnya sekarang benar-benar mandi keringat, sperma kering dan basah, pelumas, dan air kencing hangat dari tiga Masters-nya.

Mereka nyalakan shower air hangat. Tapi bahkan saat mandi, mereka tidak berhenti main. Dunk disandarkan ke dinding ubin, satu kakinya diangkat tinggi. Phuwin menghajar lubangnya yang licin karena air kencing dan sperma di bawah guyuran air. Joong memasukkan tiga jari ke lubang yang sama, merenggangkannya sambil Phuwin menyetubuhi lubang Dunk. Pond berdiri di depan, memasukkan kontolnya ke mulut Dunk yang masih berbau kencing.

Mereka cum sekali lagi di dalam dan di atas tubuh Dunk di bawah shower. Sperma baru bercampur dengan air hangat, mengalir ke lantai bersama sisa air kencing mereka.

Sebelum keluar dari kamar mandi, Dunk berlutut sekali lagi di depan ketiganya yang sudah kering.

“Terima kasih… Masters Joong, Pond, Phuwin… sudah bikin Dunk sangat kotor malam ini… Dunk minum kencing kalian… dibanjiri air kencing… diisi sperma… dihancurkan… Dunk bahagia sekali…”

Dia mencium ujung kontol masing-masing Masters dengan lembut dan penuh hormat sebagai pelacur.

Jam sudah menunjukkan pukul 04.15 dini hari. Langit di luar apartemen mulai sedikit terang, tapi di dalam kamar masih gelap dan pengap penuh bau seks, keringat, sperma, pelumas, dan urine. Dunk sudah tidak lagi seperti manusia. Tubuh rampingnya terbaring lemas di ranjang king size yang sprei hitamnya sudah basah kuyup dan kotor berat. Lubang pantatnya menganga lebar sekali, merah tua, bengkak parah, dan masih menetes campuran sperma, pelumas, serta sisa urine dari ronde kamar mandi. Wig panjang hitamnya acak-acakan dan lengket seperti terkena lem, makeupnya sudah tidak ada lagi, hanya noda hitam dan putih di wajah. Baju maidnya tinggal sobekan-sobekan kain yang menempel di kulit basahnya.

Dunk bernapas pendek-pendek, tubuhnya sesekali kejang kecil karena orgasme berulang sepanjang malam. Tapi saat Joong, Pond, dan Phuwin mendekat lagi, bibirnya masih melengkung senyum centil lemah.

“Masters… masih mau main lagi? Dunk… sudah hancur… tapi kalau Masters mau… Dunk siap… hancurkan lagi sampai pagi…”Joong tersenyum gelap. “Ini ronde terakhir sebelum matahari terbit. Kita mau habisin pelacur kita sampai benar-benar teler.”

Mereka mengikat Dunk lagi dalam posisi spread eagle, tangan dan kaki direntangkan ke empat tiang ranjang, high heels merah yang sudah kotor dipasang kembali di kakinya. Mata Dunk ditutup blindfold tipis agar dia tetap bisa merasakan segalanya tapi tidak melihat. Mulutnya belum disumpal.

Phuwin naik ke ranjang, duduk di dada Dunk, lalu memegang kepalanya. “Ronde akhir ini kita mau double blowjob dulu.”

Joong dan Pond naik ke atas, berlutut di kedua sisi wajah Dunk. Dua kontol tebal yang masih setengah keras digesekkan ke pipi, bibir, dan hidung Dunk yang sudah bengkak. Bau kontol, sperma kering, dan sisa pipis masih sangat kuat.

“Buka mulut lo lebar-lebar,” perintah Pond.Dunk membuka mulutnya selebar mungkin, lidahnya menjulur keluar. Joong dan Pond mendorong kedua kepala kontol mereka bersamaan ke dalam mulut Dunk. Mulut Dunk teregang maksimal, pipinya menggembung, sudut bibirnya robek kecil karena diregang paksa. Dua kontol besar bergesekan di lidah dan langit-langit mulutnya.

“Gluck… gluck… mmmphhh!!! Terlalu besar… dua kontol di mulut Dunk… ngghhh!!” Dunk tersedak hebat, air liurnya langsung meleleh deras seperti air terjun ke dagu, leher, dan wig.

Joong dan Pond mulai menggoyang pinggul secara bergantian. Kadang masuk bersamaan, kadang satu mundur satu masuk. Kontol mereka bergesekan di dalam mulut Dunk yang panas dan basah. Air liur Dunk berbusa di sekitar dua kontol itu, menetes ke mana-mana. Phuwin dari atas menekan kepala Dunk agar lebih dalam, membuat Dunk tersedak parah sampai matanya basah air mata di balik blindfold.

Setelah hampir 10 menit double blowjob yang kasar, Joong memegang kepala Dunk kuat.

“Sekarang kita kencing di mulut lo. Telan semua, pelacur.”

Joong mulai duluan. Pipis hangatnya keluar pelan ke dalam mulut Dunk yang penuh dua kontol. Rasa asin yang kuat memenuhi mulut Dunk. Dia tersedak, tapi berusaha menelan sebanyak mungkin. “Gluk… gluk… gluk…” Beberapa tetes meluber keluar dari sudut bibirnya yang teregang.

Pond ikut pipis di mulut yang sama. Dua pancaran pipis hangat bercampur di dalam mulut Dunk. Volume terlalu banyak. Dunk menelan dengan susah payah, batuk kecil, pipis keluar dari hidungnya sedikit, tapi dia tetap menelan sebanyak yang bisa. Air matanya mengalir deras di balik blindfold.

“Minum kencing asters… Dunk minum semua… asin… hangat… Dunk pelacur toilet… telan… telan semuanya…” gumam Dunk serak di sela-sela tegukan.

Joong dan Pond mengosongkan kandung kemih mereka sepenuhnya ke dalam mulut Dunk. Dunk menelan hampir setengahnya, sisanya meluber ke wajah, wig, dan dada. Bau urine segar sangat kuat.Phuwin yang belum ikut turun ke bagian bawah. Dia mengangkat pinggul Dunk sedikit meski terikat, lalu mengarahkan kontolnya ke lubang pantat Dunk yang sudah menganga lebar.

“Giliran lubang lo yang gue pipisin.”

Phuwin mengeluarkan pipis hangatnya langsung ke dalam lubang Dunk yang longgar. Pancaran kuat masuk dalam-dalam, membasuh dinding dalam yang penuh sperma lama. Suara glorrrk glorrrk basah terdengar jelas saat pipis memenuhi rongga lubang Dunk.

“AAHHH!!! Pipis Master Phuwin masuk ke dalam perut Dunk… panas… penuh… lubang Dunk jadi toilet Masters… aaahhh!!! Keluar lagi… banjir!!” Dunk menjerit keras, tubuhnya kejang hebat di dalam ikatan. Pipis Phuwin memenuhi lubangnya sampai penuh, lalu meluber keluar bercampur sperma lama, membasahi sprei dan pantatnya.

Phuwin mengocok kontolnya agar tetes terakhir masuk ke dalam lubang Dunk, lalu menampar pantatnya keras.Setelah watersports ronde akhir selesai, mereka melepas blindfold Dunk. Wajah Dunk sudah tidak karuan banjir urine, sperma, air liur. Matanya melotot teler, tapi senyum centil masih ada.

Mereka melepas ikatan dan membalik Dunk ke posisi doggy rendah untuk penutup.

Phuwin sedang menggoyang pinggulnya dengan ritme dalam dan lambat di lubang pantat Dunk yang sudah rusak parah. Lubang itu menganga lebar, basah berbusa oleh sperma, pelumas, dan sisa pipis ronde kamar mandi. Setiap hantaman Phuwin menghasilkan suara plok-plok-plok yang basah dan kotor.

Joong dan Pond berlutut di kedua sisi wajah Dunk, bergantian memasukkan kontol mereka ke mulut Dunk yang sudah bengkak. Sesekali mereka melakukan double blowjob lagi, dua kontol tebal memenuhi mulut Dunk hingga pipinya menggembung dan air liurnya meleleh deras.

Dunk sudah tidak bisa bicara jelas, hanya mengerang panjang dan serak, “Mmmphhh… lebih… hancurkan… Dunk…”

Phuwin tiba-tiba mempercepat ritme dan mengubah sudut hantaman. Kontolnya menggosok tepat di prostat Dunk berulang-ulang dengan keras. Joong memasukkan dua jari ke lubang Dunk di samping kontol Phuwin, merenggangkannya lebih lebar. Pond menarik klip puting Dunk keras-keras sambil menampar pipinya.

Sensasi itu langsung memuncak.

Tubuh Dunk menegang hebat. Otot-ototnya berkedut keras. Napasnya berhenti sejenak.

“AAARRRGGHHHH!!! MASTERS!!! NGHHH!!! AKU… AKU MAU… AAAHHHH!!!”

Orgasme Dunk datang dengan sangat hebat. Tubuhnya kejang keras seperti disetrum listrik tinggi. Pinggulnya naik turun secara tidak terkendali meski terikat, kakinya menendang-nendang di udara, high heelsnya goyang liar. Lubang pantatnya berkontraksi kuat sekali di sekitar kontol Phuwin dan jari Joong, seperti ingin mematahkan apa pun yang ada di dalamnya.

“NGGGHHH!!! KELUAR!!! DUNK KELUAR!!! AAAHHH!!!”

Kontol kecil Dunk yang sudah lemas menyembur cairan bening berkali-kali. Tapi yang lebih kuat adalah saat otot perut dan kandung kemihnya ikut kejang. Dunk tidak bisa menahan lagi.

Air seni hangatnya menyembur keluar dengan deras dan tidak terkendali. Air seni Dunk menyembur tinggi seperti air mancur, membasahi perutnya sendiri, dada, wig, bahkan menyiram Phuwin yang sedang menyutubuhinya dan Joong yang ada di samping. Pancaran air kencing itu kuat dan banyak, terus keluar selama kejang orgasmenya berlangsung hampir 20 detik penuh.

“AAHHH!!! Dunk pipis… nggak bisa tahan… maaf Masters… Dunk pipis sambil orgasme… aaaahhh!!!” jerit Dunk dengan suara pecah, tubuhnya masih kejang hebat. Pipisnya terus menyembur lemah setelah pancaran kuat pertama, mengalir ke sprei yang sudah basah kuyup, membentuk genangan besar di bawah tubuhnya.

Phuwin merasakan kontraksi hebat di lubang Dunk dan langsung cum di dalamnya dengan erangan kasar. Sperma panasnya bercampur dengan pipis Dunk yang baru saja keluar dari dalam tubuhnya sendiri.

Joong dan Pond juga terangsang melihat pemandangan itu. Mereka masturbasi cepat di atas wajah Dunk dan menyemburkan sperma kental mereka bersamaan satu ke mulut terbuka Dunk, satu ke wig dan dada yang sudah banjir pipis Dunk sendiri.

Dunk masih kejang kecil setelah orgasme super hebat itu. Tubuhnya gemetar tidak berhenti, air mata mengalir dari balik blindfold, mulutnya terbuka lebar sambil menelan sperma dan sisa pipisnya sendiri yang tadi meluber.

“Maaf… Masters… Dunk… pipis di ranjang… Dunk orgasme terlalu kuat… sampai pipis… Dunk benar-benar pelacur kotor… hancur total…” bisiknya serak dengan suara hampir hilang.

Pond tertawa puas sambil menampar pipi Dunk pelan. “Bagus. Itu tandanya lo benar-benar teler. Kita suka liat lo orgasme sampai pipis sendiri.”

Dunk terbaring lemas total di tengah genangan keringat, sperma, pelumas, dan pipisnya sendiri. Tubuhnya mandi cairan dari kepala sampai kaki. Wignya lengket, wajahnya belepotan, lubang pantatnya masih menganga dan menetes campuran sperma Phuwin dengan pipisnya sendiri.Mereka membersihkan Dunk dengan shower air hangat untuk terakhir kalinya. Bahkan saat dibersihkan, jari Joong masih iseng masuk ke lubang Dunk yang rusak, memainkan sisa cairan di dalamnya, membuat Dunk mendesah lemah.

Setelah dibersihkan dan diberi minum, Dunk masih sempat berbisik centil di depan pintu sebelum pulang, meski jalannya pincang berat dan tubuhnya penuh memar

“Kapan skripsi revisi lagi… atau kalian butuh pelepasan stress… panggil Dunk ya, Masters… Dunk siap dihancurkan lagi… sampai orgasme kejang dan pipis di ranjang seperti tadi… Dunk pelacur kalian selamanya…”

Pintu apartemen tertutup.

Setelah Dunk pulang, apartemen kembali sepi. Joong, Pond, dan Phuwin masih dalam keadaan bertelanjang dada, hanya memakai celana pendek longgar yang longgar di pinggang. Tubuh mereka berkilau oleh keringat kering dan sisa cairan dari aktivitas semalaman. Bau seks masih sangat kuat menempel di kulit mereka.

Mereka bertiga duduk santai di sofa ruang tamu yang lebar. Cahaya matahari pagi mulai masuk lewat jendela, menerangi dada bidang dan perut sixpack mereka yang masih tegang.

Joong menyandarkan punggungnya, menghela napas panjang sambil tersenyum lebar.
“Gue masih nggak bisa berhenti mikirin semalam. Dunk… bener-bener hancur total. Dari awal sampe akhir.”

Pond tertawa pelan, tangannya tanpa sadar mengusap perutnya yang basah keringat. Otot sixpacknya terlihat jelas.
“Yang paling gue ingat itu pas chain sex-nya. Gue di tengah. Kontol gue ngehajar lubang Phuwin yang ketat, sambil Phuwin ngebor dalam lubang Dunk. Tiap lo dorong keras dari belakang, Joong, badan gue maju otomatis, kontol gue nyodok Phuwin sampe Phuwin ngehajar Dunk lebih dalam lagi. Suaranya plok-plok-plok-plok-plok basah becek banget. Lubang Dunk sampe bunyi chorch… chorch… chorch setiap kali kita gerak bareng.”

Phuwin mengangguk sambil nyengir, matanya menerawang. Dia tiba-tiba mendekat ke Pond, menunduk, dan menjulurkan lidahnya menjilat pelan perut sixpack Pond yang masih berkeringat.

“Enak banget rasanya waktu itu…” gumam Phuwin sambil terus menjilat naik-turun di antara garis otot perut Pond. “Gue di tengah… lubang gue diregang lebar sama kontol Pond yang gede banget, sakit tapi nikmat. Sambil kontol gue dijejelin ke lubang Dunk yang udah rusak parah. Tiap Joong ngehajar lo, Pond, dorongannya nular ke gue, terus ke Dunk. Gue ngerasa perut Dunk naik-turun di bawah gue.”

Joong ikut mendekat. Dia menunduk dan mulai menjilat perut Pond yang rata dan berotot, lidahnya menelusuri setiap garis sixpack dengan lambat dan basah.

“Gue dari belakang paling puas. Bisa liat semuanya. Kontol gue masuk ke lubang Pond yang ketat, Pond ngehajar Phuwin, Phuwin ngehajar Dunk. Kayak mesin hidup. Tiap gue PLAKKK keras ke pantat Pond, efeknya langsung ke Dunk. Dunk jerit-jerit ‘Terlalu dalam… Dunk mau pecah… haaah… haaah…’ sambil air matanya ngalir deras. High heelsnya goyang liar di bahu Phuwin. Pas Dunk orgasme, lubangnya ngejepit Phuwin kuat banget sampe Phuwin ikut cum.”

Pond mendesah pelan merasakan lidah Joong dan Phuwin bergantian menjilat perutnya. Dia balas menjilat dada Joong, lidahnya menelusuri otot dada dan turun ke perut sixpacknya. Suasana semakin panas dan intim.

“Gue suka pas sperma kita jadi satu di dalam tubuh Dunk,” lanjut Pond sambil menjilat. “Gue cum di Phuwin, Phuwin cum di Dunk, lo cum di gue. Pas kita lepas, lubang Dunk menganga lebar banget, sperma putih kental ngalir deras kayak air terjun. Jorok parah… tapi bikin gue ngaceng lagi tiap ingat.”

Phuwin menjilat lebih rendah, hampir ke pinggang celana Pond.

“Gue masih ngerasa kontol Pond berdenyut di dalam gue tadi. Panas banget pas lo cum, Joong. Sperma lo nge-push sperma gue yang ada di Dunk. Kayak pompa hidup.”

Obrolan dan aksi saling jilat semakin intens. Mereka bertiga saling menjilat perut dan dada satu sama lain dengan rakus, lidah basah bergerak di atas kulit yang masih asin oleh keringat. Kontol mereka bertiga sudah berdiri tegak keras di balik celana pendek.

Pond akhirnya berkata dengan suara parau,

“Gue masih horny banget… Gimana kalau kita coba chain blowjob sekarang?”

Joong dan Phuwin langsung setuju.

Mereka pindah ke sofa. Joong duduk di tengah dengan kaki terbuka lebar. Phuwin berlutut di depannya, Pond berlutut di belakang Phuwin.

Joong memegang kepala Phuwin dan mendorong kontolnya yang tebal masuk ke mulut Phuwin sampai tenggorokan.

“Gluck… gluck… gluck… mmmphhh!!” Phuwin langsung tersedak, air liurnya meleleh deras.

Pond dari belakang langsung memasukkan kontol besarnya ke mulut Phuwin yang sudah penuh. Mulut Phuwin teregang ekstrem, pipinya menggembung parah, sudut bibirnya memutih.

“Gluckkk!!! Mmmmpphhh!!! Gluck… gluck… gluck!!!”
Air liur Phuwin berbusa dan menetes deras seperti air terjun ke lantai.

Joong mendesah panjang sambil menggoyang pinggul pelan, “Haaah… enak banget mulut lo, Phuwin. Gue ngerasa kontol Pond dorong kepala lo dari belakang… lebih dalam.”

Pond mulai menggoyang pinggulnya lebih cepat. Plok… plok… plok… plok… Suara kontolnya masuk keluar mulut Phuwin yang penuh terdengar basah dan kotor. Air liur Phuwin mengalir deras ke dagu, leher, dada, dan kontol Joong.

Phuwin menangis air mata karena sensasi deepthroat ganda, tapi dia tetap berusaha menelan dan mengisap. Lidahnya bergerak di antara dua kontol yang bergesekan di dalam mulutnya.Joong memegang kepala Phuwin kuat, “Gue suka liat lo jadi lubang tengah kita, Phuwin. Mulut lo penuh kontol gue, tapi masih dipaksa nerima kontol Pond juga. Air liur lo banjir banget… jorok.”

Pond mendengus kasar, tangannya menjambak rambut Phuwin, “Mulut lo jadi super ketat pas penuh kontol Joong… enak banget… gue mau cum di sini…”

Gerakan mereka semakin cepat dan brutal. Phuwin hanya bisa mengerang tersedak terus-menerus, “Gluck-gluck-gluck-mmmphhh!!!”Joong yang pertama tidak tahan.
“Haaah… haaah… gue keluar!!”

Dia menyemburkan sperma tebal panasnya langsung ke tenggorokan Phuwin. Hampir bersamaan, Pond juga cum dengan erangan dalam, menyemburkan sperma kentalnya ke dalam mulut yang sudah penuh.

“Gluk… gluk… glukkkk!!! Mmmmpphhh!!!”

Phuwin tersedak hebat. Sperma Joong dan Pond bercampur di mulutnya, terlalu banyak hingga meluber deras dari sudut bibirnya, menetes tebal dan panjang ke dagu, leher, dada, dan perutnya.

Phuwin terbatuk-batuk sambil menjilat bibirnya yang banjir sperma putih kental. Wajahnya merah, air mata mengalir, tapi ekspresinya puas sekali.

“Enak… sperma kalian… kental… asin… banyak banget… gue suka…”

Setelah chain blowjob yang brutal, Phuwin masih berlutut di lantai dengan wajah, dagu, leher, dan dada banjir sperma kental yang lengket. Bau sperma yang asin, kental, dan sedikit amis langsung memenuhi ruangan.

Joong dan Pond saling pandang dengan tatapan lapar. Joong tersenyum mesum sambil mengusap sperma di dada Phuwin lalu memaksa jarinya masuk ke mulut Phuwin.

“Sekarang giliran lo yang dihancurkan, Phuwin.”

Mereka menarik Phuwin kasar dan membaringkannya telentang di sofa panjang. Bau tubuh mereka bertiga, campuran keringat asam, sperma basi, pelumas, dan sisa urine dari malam sebelumnya sangat menyengat di udara pagi yang pengap.

Joong naik ke atas Phuwin dalam posisi missionary, mengangkat kedua kaki Phuwin tinggi hingga ke bahunya. Bau keringat dari selangkangan Phuwin yang sudah basah tercium kuat. Joong mengoles pelumas ke kontolnya yang keras, lalu mendorong masuk dengan satu hantaman kasar.

SHLLLUUUUPPP!!

“AAARRRGHHH!!! Joong… terlalu kasar… ngghhh!!” jerit Phuwin.

Joong langsung menggoyang pinggulnya dengan ritme brutal.

PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!

Suara daging basah bertemu memenuhi ruangan. Bau pelumas bercampur bau seks panas langsung tercium semakin kuat.

Pond naik di samping mereka, mengoles pelumas banyak-banyak ke kontolnya yang paling besar dan tebal. Bau pelumas yang manis-bahan kimia bercampur dengan bau kontol Pond yang masih berbau sperma kering.

“Gue ikut. Double penetration buat lo.”

Phuwin melebar matanya ketakutan. “Tunggu… Pond… kontol lo terlalu gede— AAAHHH!!! FUUUUCKKK!!!”

Pond mendorong kepala kontolnya yang besar di samping kontol Joong. Suara SHHHLLLOOOOPPP…! yang basah dan kasar terdengar jelas saat dua kontol tebal meregang lubang Phuwin secara ekstrem.

“NGGGHHH!!! Robek!!! Lubang gue mau koyak!!! Dua kontol… terlalu penuh… AAARRGHHH!!!” Phuwin menjerit keras, air matanya mengalir deras. Bau keringatnya semakin menyengat karena rasa sakit dan kenikmatan yang bercampur.

Joong dan Pond mulai bergerak. Awalnya bergantian, lalu bersamaan. Suara yang keluar semakin kotor dan keras.

PLAK! PLAK! PLAK! PLAK! CHORCH… CHORCH… CHORCH… PLOK-PLOK-PLOK-PLOK-PLOK!!

Suara daging basah becek dan cairan yang berbusa memenuhi ruangan. Setiap kali dua kontol keluar masuk, pelumas bercampur sperma lama keluar berbusa dengan suara glorrrk… glorrrk…Bau yang menyengat semakin kuat. Bau sperma amis, bau keringat asam dari tubuh ketiganya, bau pelumas manis, dan bau lubang Phuwin yang sudah rusak dan basah.

“Haaah… haaah… haaah!!! Dua kontol ngebor perut gue… sakit… enak… haaaah… haaaah!!!” Phuwin menangis sambil erang.

Joong menjambak rambut Phuwin sambil cekik lehernya pelan, “Lubang lo ngepit kuat banget… enak banget, Phuwin. Bau kontol lo lagi basah gini bikin gue semakin horny.”

Pond menampar pantat Phuwin keras berkali-kali PLAAAKKK! PLAAAKKK! sambil mendorong lebih dalam.

“Gue ngerasa kontol Joong gesek-gesek sama kontol gue di dalam lubang lo. Licin… panas… becek banget. Bau sperma kita udah campur di dalam perut lo.”

Phuwin sudah tidak waras. Lidahnya terjulur, air liurnya meleleh, matanya melotot. Bau tubuhnya sendiri yang kotor semakin kuat setiap kali tubuhnya digoyang kasar.

Mereka mempercepat gerakan hingga suara hantaman menjadi sangat cepat dan kacau.

PLAK-PLAK-PLAK-PLAK-PLAK-PLAK-PLAK-PLAK!!!

Cairan berbusa putih keluar terus dari lubang Phuwin yang teregang maksimal, menetes ke sofa dengan suara plip… plip… plip…Phuwin orgasme tanpa disentuh. Tubuhnya kejang hebat, kontolnya menyembur cairan bening ke perut dan dada sendiri.

“AAARRRGHHHH!!! Keluar!!! Gue keluar lagi!!! Haaaah… haaaah… haaaah!!! Lubang gue… ngepit…!!!”

Kontraksi hebat lubang Phuwin membuat Joong dan Pond mendengus kasar. Bau sperma semakin menyengat di udara.

Joong cum duluan dengan erangan dalam, “Fuuuuck… gue keluar!!”

Dia menyemburkan sperma panas tebalnya dalam-dalam ke lubang Phuwin.

Pond menyusul beberapa detik kemudian, “Ughhh… haaaah!!” Kontolnya berdenyut kuat, menyemburkan sperma kental dalam jumlah banyak hingga lubang Phuwin penuh sesak.

Saat keduanya menarik kontol mereka keluar bersamaan, terdengar suara SHLLLOOOPPP…! yang basah. Lubang Phuwin menganga sangat lebar, sperma putih kental mengalir deras seperti air terjun dari dalam lubangnya, menetes ke sofa dengan suara plop… plop… plop…Bau sperma segar yang sangat kuat langsung menyebar di seluruh ruangan.

Phuwin terbaring lemas total, tubuhnya gemetar hebat, napasnya pendek-pendek “Haaah… haaah… haaah…”, lubangnya masih menganga dan menetes sperma tanpa henti. Matanya setengah terpejam, lidah terjulur lemah.

“Haah… haah… enak banget… lubang gue… rusak parah… penuh sperma… bau sperma… kotor banget…”

Joong dan Pond tersenyum puas sambil mengusap dada Phuwin yang basah keringat dan sperma.

“Lo sekarang resmi jadi pelacur kita juga,” kata Pond sambil menampar pelan pipi Phuwin.

Malam hingga pagi hari itu benar-benar menjadi pengalaman pelepasan stress paling liar, paling kotor, dan paling tak terlupakan bagi Joong, Pond, dan Phuwin.

Notes:

JADI GIMANA? MY FIRST NSFW. DON'T FORGET TO LEAVE SOME COMMENTS GUYS😄