Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Crazy People
Stats:
Published:
2026-05-27
Words:
3,961
Chapters:
1/1
Kudos:
2
Hits:
37

When Crazy Meets Crazy

Summary:

Hanya dua orang gila yang saling mengobrol dan melakukan sesuatu yang tak terduga.

Work Text:

Hinata mengeratkan pegangan pada setir, hingga buku tangannya memutih. Berkali-kali menempelkan dahinya ke depan, menghela napas lelah. Menjatuhkan punggung pada kursi dengan kasar, terus mengumpati dirinya. Ia melakukan itu secara berulang-ulang selama perjalanan panjang ini. Menyesali perbuatan yang ia lakukan beberapa jam yang lalu. Suara yang ia dengar beberapa menit yang lalu sungguh mengganggunya. Ponsel yang terus bergetar, menampilkan pesan yang tak ingin ia baca. Untung ponsel itu telah mati, kehabisan daya. Fuck.

Melajukan mobil dengan pelan di jalanan yang sepi. Matahari hampir terbenam, ketika ia melihat seorang pria─mengacungkan jempol sebagai isyarat─meminta tumpangan. Hinata mendecih, mengabaikan. Sekarang, ia dalam posisi tak bisa membiarkan orang masuk ke mobilnya. Namun, ia berubah pikiran saat melewatinya dan melihat wajah pria itu. Menghentikan mobil agak jauh dari pria itu berdiri dan menekan klakson sekali. Membuka kaca bagian penumpang, melihat─pria itu berlari dengan terburu-buru sambil tertawa kecil─dari kaca spion.

“Wow, kukira bidadari naik kereta kuda,” ucap pria bernama Sasuke, setelah sampai di samping mobil. Menunduk dengan satu tangan di pintu mobil.

Terdiam sejenak, Hinata mengamati wajah pria itu sekali lagi. Alis tebal dan ramping, mata sehitam jelaga, hidung mancung yang membuat jari ingin berseluncur di sana, bibir sexy dan terlihat lembut untuk dikecup, garis rahang yang tajam. Sempurna, wajah yang terlihat bodoh. Apalagi berdiri di jalan perbukitan, bukan tempat pemberhentian, tidak ada mobil mogok di sekitar, pasti terjadi sesuatu padanya. Sesuatu yang bisa Hinata manfaatkan. Mengabaikan ucapan bodoh dari pria itu, ia bertanya, “Kau akan pergi ke mana?” Akan sangat mencurigakan, jika ia langsung memasukkan pria itu ke mobil tanpa bertanya sedikit pun.

“Yokohama dear, kau bisa menurunkanku di pom bensin terdekat.”

Menaikkan satu alis, Hinata mengecek GPS di mobil. Yokohama, satu jam dari sini. Ia tak sadar telah berkendara sejauh ini. Jelas, empat jam berkendara tanpa arah dengan pikiran kacau memang terasa pendek. Membuka kunci mobil dan berkata, “Masuklah.” Dalam satu jam, Hinata harus menemukan cara untuk keluar dari masalahnya.

Menghela napas lega, Sasuke membuka pintu, melepaskan tas di punggung, duduk dengan senyum menawan dan meletakkan tas di pangkuannya. “Kau tipeku sekali, darling,” godanya sambil menutup pintu dan segera memakai sabuk pengaman.

“Aku sering mendengar itu dari para buaya.” Hinata mulai menjalankan mobil dan menaikkan kembali kaca bagian penumpang. Tak membiarkan orang mengintip, mengunci rahasia untuk mereka berdua.

“Untung aku bukan buaya, aku seekor angsa.” Sasuke memberikan senyum andalannya. Ternyata begini rasanya duduk di dalam Range Rover. Saat melihat mobil mewah, ia berpikir untuk mencoba peruntungan. Ia tak punya banyak waktu dan hampir putus asa. Ketika tahu mobil berhenti, ia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Pengemudi yang cantik hanya bonus baginya.

“Untuk informasi, aku pemegang sabuk hitam karate.” Artinya jangan macam-macam pada Hinata. Memutar bola malas. Hinata butuh konsentrasi. Ada hal yang harus ia singkirkan. Ia memberi tumpangan, bukan untuk mendengar rayuan murahan yang pasti akan terus pria ini lontarkan. Hinata tak ada waktu untuk itu.

“Aku suka perempuan kuat, sangat menggairahkan. Namaku Sasuke dan siapa namamu nona kuat?” Sasuke menyisir poni ke belakang, bermaksud menebar pesona. Oh, tidak akan mempan untuk Hinata.

“Aku tak berbagi nama dengan orang asing.”

“Lalu langkah apa yang harus aku ambil agar kita tak jadi asing.” Sasuke menyentuh lengan Hinata dengan jari tengah dan telunjuk, bergerak seperti berjalan.

Hinata melempar jari itu dengan kasar. “Jangan menyentuhku atau aku akan menurunkanmu!”

Sasuke langsung memasang wajah memelas, “Kasihanilah diriku, babe─”

“Singkirkan panggilan menjijikkan itu!” Hinata sudah emosi.

“Ini kebiasaanku saat berbicara dengan perempuan cantik.” Hinata melotot tajam. Sasuke mengangkat kedua tangan, tanda menyerah dan berkata, “Okay, okay … aku tak mau diturunkan lagi.”

Sasuke memandang langit yang sudah gelap. Mengingat mobilnya yang ia tinggalkan begitu saja. Memikirkan cara untuk mendapatkan mobil itu kembali, satu-satunya hartanya yang tersisa. Dan, kakaknya sedari tadi tak bisa dihubungi. Selalu seperti ini, setiap ia butuh bantuan. Setidaknya, sekarang ia aman dan duduk dengan nyaman di dalam mobil mewah yang dikemudikan oleh perempuan cantik. Ia tersenyum misterius. Melihat pantulan wajah si pengemudi dari kaca mobil yang terlihat serius. Sebuah misi cepat ia buat, yaitu membuat wajah itu menjadi ceria dalam satu jam.

“Kau ada masalah?” Sasuke memulai aksinya.

Hinata melirik sejenak dan kembali fokus ke depan. “Bukan urusanmu.”

“Kau sudah membantuku, jadi aku ingin membantumu juga.”

“Benarkah?” Hinata menyipitkan mata, seolah ragu.

Perempuan ini jelas butuh bantuan. Itulah yang Sasuke suka, membantu perempuan tak berdaya. Ia tersenyum menang. “Ya, nona punya masalah, katakan padaku.”

Berpikir dengan keras, Hinata harus mencari dulu kelemahan dari pria di sampingnya ini. “Ceritakan dulu tentangmu.”

Mengarang cerita adalah keahlian Sasuke. Pernah mengatakan, kalau ia yatim-piatu sejak umur tujuh tahun. Pernah juga mengatakan, kalau harus membayarkan hutang ayahnya yang suka berjudi, sampai putus sekolah untuk bekerja. Yang paling ia sukai adalah cerita tentang kakaknya yang membunuh kedua orang tuanya, hingga membuatnya depresi sampai susah bersosialisasi, lalu ia akan berkata, “Karena dirimu, aku bisa menghadapi dunia ini.” Membuat para perempuan merasa punya peranan penting dalam hidupnya. Maka, ia akan mendapatkan kepercayaan penuh.

Menilai lawan bicaranya saat ini, cerita sedih rasanya tidak cocok. Mungkin tak masalah, untuk memberikan sedikit cerita nyata, ia hanya perlu memilah mana yang perlu dirahasiakan. “Aku pergi ke Yokohama untuk menemui saudara, dia satu-satunya keluarga yang kumiliki sekarang. Ada hal yang terjadi, yang membuatku meninggalkan mobilku. Kebetulan uang tunai yang kupunya tidak mencukupi dan kartuku tak bisa digunakan. Jadi, aku pergi dengan menumpang.”

“Sudah berapa orang?” Benar dugaan Hinata ada hal yang terjadi. Apa yang membuat seseorang sampai meninggalkan mobilnya? Mungkinkah ia sedang menghindari seseorang. Karena ayahnya selalu memakai mobil yang berbeda tiap bertemu kekasihnya.

“Tiga dengan dirimu. Yang pertama karena sudah beda arah dan yang kedua ….” Sasuke mendengus tidak melanjutkan kalimatnya.

“Apa?” Hinata cukup penasaran.

Sasuke tersenyum menggoda. “Aku hampir bercumbu dengan anaknya.”

Hinata memandang jijik. Sasuke benar-benar pria gila. “Jika aku orang tuanya, aku akan menusuk perutmu sebelum membuangmu.” Ia tertawa kecil.

Damn! Kau sadis sekali.”

“Kau mesum.”

“Bagaimana jika aku bukan hanya mesum?” Sasuke menyeringai yang malah terlihat menggoda.

“Bagaimana jika aku benar sadis?” Hinata ikut menyeringai tak mau kalah.

“Apa? Kau seorang serial killer dan sekarang sedang menyembunyikan tubuh manusia di bagasimu.” Sasuke tertawa.

Tanpa sadar Hinata meneguk ludah. Berusaha bersikap tenang dan ikut bercanda. “Bagaimana jika itu dirimu, kau pura-pura menumpang, membunuh dan mengambil harta mereka.”

Ganti Sasuke yang meneguk ludah, ada bagian yang benar dari pernyataan Hinata. Perkataan yang awalnya bercanda ini, membuat mereka saling menyadari sesuatu. Suasana menjadi tegang, kedua manusia yang curiga satu sama lain. Perlahan Sasuke memasukkan tangannya ke dalam tas. Hinata yang melihat itu mulai merogoh sakunya, mengeluarkan pisau lipat yang ia lupa bagaimana bisa ada di situ. Terlalu beresiko, jika ia menyerang dengan tangan kosong, bisa saja Sasuke membawa golok. Walau tetap kalah, setidaknya ia bisa menusuk dengan cepat.

Mereka saling melirik dan mulai menghitung mundur dari tiga, otak mereka secara ajaib menghitung secara bersamaan. Hitungan selesai, Hinata menginjak rem begitu dalam, membuat mereka terantuk ke depan dengan keras. Mengeratkan pegangan pada pisau agar tidak jatuh. Suara benturan keras juga terdengar dari belakang. Hinata menggigit bibirnya gugup. Ia lega, melihat Sasuke yang sedang mengusap dahinya, seperti tak menyadari apa pun.

“Hei, ada apa denganmu?!” Masih mengusap dahi, Sasuke mulai mengeluarkan tangannya dari tas dan menarik sesuatu dari dalam. Dengan cepat, Hinata melesatkan pisau itu pada Sasuke hingga tinggal lima centimeter dari perut bagian samping. Membuat Sasuke reflek mundur sampai menekan pintu mobil.

Damn, kau serius?!” Sasuke menjatuhkan kembali sesuatu itu ke dalam tasnya. Ia mengangkat kedua tangan di depan dada.

“Kau yang mulai dulu.” Suara Hinata sedikit bergetar sama dengan tangannya yang memegang pisau. Hinata menunjuk tas Sasuke.

“Apa maksudmu? Aku hanya ingin memberikan bunga mawar.” Sasuke dengan cepat mengeluarkan bunga itu dari tasnya. Melihat Hinata yang masih tak percaya. Sasuke membuka lebar tasnya dan mengarahkan pada Hinata.

Tidak ada golok, seperti yang Hinata pikirkan. Hinata menurunkan pisau, menutupnya kembali dan melemparkan pada kursi belakang. Menempelkan punggung pada kursi, menghela napas kasar. “Fuck!” ucapnya tanpa sadar.

“Maaf, aku hanya ingin mencairkan suasana. Yah, kau mengertikan, perempuan suka bunga.” Sasuke tertawa. Ia ingin bercanda dan menambahkan, “Hanya masalah waktu pisaumu benar-benar menusuk orang.”

“Hei! Jika itu terjadi, itu karena aku membela diri,” protes Hinata.

“Jadi kau tak menyangkal bisa menusuk orang.”

“Orang bisa melakukan apapun, jika sudah terpojok,” kesal Hinata. Segera menjalankan lagi mobilnya. Untung saja jalanan sepi. Lebih rumit lagi, jika bertemu polisi.

Sasuke mengangguk paham. “Hn.” Meletakkan setangkai mawar di atas dashboard, tangannya tak sengaja menyentuh sebuah kartu dan mengambilnya. Kartu anggota klub cerita misteri atas nama Hinata Hyuga. “Nona Hinata, nama yang bagus, tapi kenapa wajahmu tidak secerah namamu. Kau masih belum cerita padaku.”

Mendelik tidak suka, Hinata menyambar kartu dari tangan Sasuke, melemparkannya ke kursi belakang. “Aku lapar.” Hinata tidak berbohong. Ia juga baru menyadarinya setelah mengatakannya. Pas sekali, sekitar 100 meter, ada swalayan 24 jam di samping kanan jalan. Hinata segera menepi. Sengaja tidak parkir di depan swalayan, menghindari banyak saksi mata. Mengambil topi di kursi belakang dan memakainya.

“Aku di sini saja, bisakah aku titip onigiri dan air mineral.”

Hinata pergi tanpa menjawab. Sejujurnya, ia takut membiarkan Sasuke sendiri di mobil. Ia belum menemukan kelemahan pria itu. Mengambil empat onigiri, satu kue coklat dan dua air mineral. Hinata jadi memikirkan sesuatu, apa manusia akan mati, jika tidak makan selama lima jam. Tentu tidak, dirinya pernah diet dan hanya makan sehari sekali. Mendengus kesal. Karena semua yang telah terjadi, membuat otaknya menjadi tumpul. Saat mau membayar, telinganya tidak sengaja mendengar percakapan yang menarik. Dua orang pria berusia sekitar 30 ke atas, berperawakan tinggi dan kekar saling berbincang di dekat jendela.

“Aku dengar, dia punya saudara di Yokohama, makanya dia ke sana.”

“Jika kita tau rumah saudaranya, akan mudah untuk menangkapnya. Siapa yang memberi tahu, kalau kita memasang pelacak di mobilnya.”

“Tentu saja, adik bungsu kita. Dia sudah kecintaan sama seperti ibu.”

Otak Hinata yang tumpul tiba-tiba kembali tajam. Yokohama, mobil, saudara, membuat pikirannya mau tak mau mengarah ke sana, layaknya mencari peluang. Ia mulai mendekati dua pria itu dengan penuh harapan.

“Permisi … Sepertinya anda sedang mencari seseorang. Apakah ada fotonya? Siapa tahu saya pernah lihat,” ucapnya dengan hati-hati. Bagaimanapun juga, ia baru saja menguping. Bisa saja mereka merasa tersinggung.

Mereka menatap Hinata dengan biasa saja, tidak terganggu. Satu orang di antara mereka, mengeluarkan ponsel dan menunjukkan sebuah foto. Wajah dari seseorang yang sekarang duduk di kursi penumpang mobil miliknya. Hinata tersenyum tanpa sadar. Dirinya dan Sasuke sama-sama kacau. Ia ingin berbagi dosa dengan pria sialan ini.

“Saya melihatnya di jalan dekat bukit, sekitar dua jam yang lalu,” ucap Hinata sedikit berbohong.

“Kalau begitu, mungkin dia sudah sampai di Yokohama.” Wajah pria itu mengeras.

“Kalau boleh tahu, apa yang dia lakukan?” Dengan ini, Hinata akan tahu kelemahan Sasuke.

“Dia menggoda ibu kami dan membunuhnya.” Pria itu berkata dengan emosi.

Hinata ingin berteriak. Sasuke seorang pembunuh? Merayu korban sebelum membunuh dan mengambil harta mereka. Itulah yang sejak tadi Sasuke lakukan padanya. Sasuke sangat pandai bersandiwara. Tiba-tiba Hinata merinding, ia sedang menyembunyikan kriminal di mobilnya. Tapi kalau benar, masalahnya juga bisa teratasi. Seorang pembunuh yang mempunyai masalah keuangan. Jika Sasuke bicara jujur, soal uang tunai dan kartunya. Ia bisa memanfaatkan itu. Hanya perlu hati-hati jangan sampai terbunuh lebih dulu. Lagi pula Sasuke tidak membawa perlengkapan membunuhnya. Pikirannya melayang pada pisau lipat yang ia lempar pada kursi belakang. Wajahnya memucat seketika.

“Nona, kau baik-baik saja?” tanya salah satu pria.

“Ya … Um, bolehkah meminta nomor anda, saya akan menghubungi, bila melihatnya lagi.” Hinata mencoba bersikap tenang.

Salah satu pria memberikan Hinata sebuah kartu nama. Shit. Lintah darat. Pasti, bisnis ini hanya tampilan luar saja. Mereka berani mencari seorang pembunuh, pasti mereka juga sama seramnya. Dan, Hinata ikut terseret ke dalamnya.

“Jika kau bertemu dengannya, sebaiknya langsung menghindar, mulutnya semanis madu.” Pasti, bila waktu bisa diulang.

“Wanita sepertimu adalah target baginya.” Mungkin sebentar lagi, ia bisa membayangkan tubuhnya terpotong-potong dan terbungkus kresek hitam.

“Terima kasih, semoga kalian segera menangkapnya.” Sebelum itu, Hinata ingin memanfaatkan pembunuh ini.

Hinata berjalan ke arah mobil dengan ragu. Ia harus berpura-pura tak tahu apa-apa dulu. Lebih baik, jika bisa bersikap ceria. Latihan untuk tersenyum, melihat pantulan wajahnya di ponsel. Sudah cukup, ia akan mulai bersandiwara.

“Jika kau tersenyum seperti itu, kau dan namamu jadi cocok,” kata Sasuke bersamaan dengan Hinata masuk mobil.

“Terima kasih.” Hinata mengusap pipi Sasuke dengan lembut sambil melirik ke arah pisau lipat yang─syukurnya─masih ada di sana. Batinnya bergolak untuk mengambilnya lagi atau tidak. Pada akhirnya tidak ia lakukan. Sasuke senang saja mendapat perlakuan seperti ini. Tapi tidak dengan tangan yang bergetar, ia bisa merasakan ada yang tidak beres.

Setelah memberikan titipan Sasuke dan menyimpan miliknya, Hinata menjalankan mobil. Ia jadi tak lapar lagi. Sasuke sudah menawarkan untuk menyuapi Hinata. Tentu ia tolak mentah-mentah, makan dari tangan penuh darah. Membayangkan saja sudah membuatnya mual sendiri.

Mereka sudah berkendara hampir 30 menit. Sasuke terus saja berceloteh sendiri. Pikiran Hinata sama berisiknya dengan suara Sasuke. Haruskah ia mengatakannya sekarang atau berhenti dulu. Kalau berhenti lebih baik di tempat ramai atau sepi. Tapi hal ini, tak bisa didiskusikan di tempat ramai. Maka dengan berat hati dan penuh keberanian, ia menepikan mobilnya di jalanan yang sepi. Sasuke memberi tatapan, seolah berkata, “Kenapa berhenti lagi?”

Menengok keluar sebentar, hanya ada pohon-pohon tinggi mengelilingi jalan dan satu lampu jalan tak jauh dari tempatnya berhenti. “Aku butuh bantuanmu.” Hinata berkata dengan tegas. Menyembunyikan ketakutannya.

“Akan aku lakukan apapun untukmu, babe.”

Terlalu kalut, ia sampai tak protes dengan panggilan menjijikkan itu. “Aku tahu siapa dirimu, jadi aku yakin kau bisa menyelesaikan ini.”

“Tentu kau tahu,” Sasuke mengerling. Ia tak sepenuhnya mengerti.

“Ada seseorang yang harus kita singkirkan.” Hinata menatap mata Sasuke dalam.

“Baik─Apa maksudmu?!” Sasuke benar-benar tak mengerti. Seseorang. Siapa?

“Jangan bersandiwara lagi.” Hinata menatap ke belakang sebentar lalu ke jalan depan. “Hanya kau yang bisa melakukan ini.”

Sasuke mengikuti arah pandang Hinata, bulu kuduknya seketika merinding. Jangan bilang, bercandaan tadi ternyata nyata. “Jangan bilang─” Hinata mengangguk kecil tanpa menatap Sasuke. “Oh my gosh! You son of a bitch! Kau benar pembunuh.

“Jangan mengumpatiku!” Hinata menunjuk dada Sasuke dengan telunjuknya. “Dan katakan itu pada dirimu sendiri.”

“Apa! Aku bukan pembunuh sepertimu.” Sasuke tak terima, menepis telunjuk Hinata dengan kasar.

“Kubilang berhenti bersandiwara dan aku juga bukan pembunuh!” teriak Hinata penuh amarah.

“Lalu, kau bisa jelaskan apa itu maksudnya?” Sasuke menunjuk ke belakang.

Mengatur napas sebentar. “Dia masih hidup.” Terakhir Hinata mendengar suara orang menggeram adalah sebelum bertemu Sasuke dan sampai sekarang belum ada lagi. “Semoga,” tambahnya.

“Kau gila! Dan dari mana kau mengatakan aku pembunuh, jelas-jelas itu dirimu … setidaknya hampir.” Sasuke mengusak rambutnya frustrasi. Ia hanya ingin pulang dan sekarang harus berhadapan dengan─hampir menjadi─pembunuh.

Hinata mengeluarkan kartu nama dari saku, yang langsung dikenali oleh Sasuke. “Kau tak bisa mengelak.”

Tiba-tiba Sasuke tertawa keras. Ia mengerti, mengapa Hinata menuduhnya sebagai pembunuh. Dua bersaudara itu, selalu mengatakannya sejak awal ibu mereka meninggal. Walau kenyataan mengatakan bahwa Sasuke tidak membunuhnya. Yah, setidaknya tidak secara langsung. Padahal mereka hanya mau uang saja dan berpikir Sasuke memiliki. Awalnya iya, tapi terjadi suatu hal. Jika bisa mengulang, ia akan membagi uangnya dan ia tak akan berakhir seperti ini. “Kau salah paham, dua orang itu mengatakannya karena tak dapat uang dari ibu mereka.”

“Kau mengambil uang dari ibu mereka?”

“Ibu mereka yang memberikannya secara cuma-cuma dan aku tidak membunuhnya.” Sasuke menekankan sekali lagi. Yah, sebenarnya ada jasa yang harus dibayar, tapi Sasuke memilih tak mengatakannya.

Menyatukan semua informasi. Seorang pria tampan dengan mulut yang lihai dan seorang wanita tua dengan banyak uang. Jadi kesimpulannya adalah, “Kau seorang gold digger.” Tembakan Hinata tepat sasaran.

Sang target mengerang kesakitan. “Hei, aku lebih senang menyebutnya ….” Sasuke tahu akan mengatakan apa, tapi ini adalah kode rahasia dengan rekannya. “Terserah! Ini sesuatu yang tak bisa dipahami oleh orang yang mengendarai Range Rover dan berpakaian Prada,” ucapnya pada akhirnya.

Hinata merasa tertohok. Mobil kesayangannya harus jadi saksi dari aksi tercela yang ia lakukan. Ia harus menyelesaikan ini dengan cepat. “Kenapa kau tak memberi mereka uang, dengan itu mereka tak akan mengejarmu, bukan?”

“Jika uangnya ada, aku tak akan terjebak bersama orang gila sepertimu.”

“Kau juga gila! Aku tahu kau butuh uang, tapi menggoda wanita tua. Dasar tak tahu malu!”

“Wanita tua yang sexy, kau akan mengerti jika melihatnya.”

“Sebentar, kau bilang, kau akan memberi mereka uang, jika kau punya uang.”

Bersedekap, menggelengkan kepala dengan cepat, Sasuke mengerti apa maksud perempuan gila ini. “Aku tak mau membersihkan sampahmu.”

“Jangan berkata seperti itu padaku!” Dengan gerakan cepat, Hinata mencengkram kerah baju Sasuke dan menatap matanya tajam. “Dengar, kau membantuku dan aku membantumu. Masalah selesai. Kau bisa meminta berapapun yang kau mau, lagi pula bukankah kau berniat menjadikanku target selanjutnya?” Melepaskan kembali tangannya, kemudian menyilangkannya di depan dada.

Merapikan kembali kerah bajunya, Sasuke mulai berpikir. Tiba-tiba kesal, mengingat kakaknya yang tak bisa diandalkan di saat seperti ini. Jika setuju, ia harus meminta banyak imbalan dari Hinata. “Aku tak bisa membunuh.”

“Aku tak memintamu untuk membunuh.”

“Kau bilang untuk menyingkirkannya.”

“Bukan berarti artinya membunuh. Pikirkan cara bagaimana menurunkannya tanpa diketahui orang.” Menghela napas lelah.

“Tinggal turunkan saja, di sini sepi.” Tiba-tiba terbit kebanggaan dalam diri Sasuke.

“Tidak bisa, aku tidak tega.” Hinata menutup muka dengan kedua telapak tangan, dengan siku yang ia tumpukan pada paha.

“Memang dia siapa?” tanya Sasuke penasaran. Memiringkan tubuhnya, menghadap Hinata dengan siku menekuk, menumpu pada kursi dengan telapak tangan diletakkan di kepala. Siap mendengar cerita gila yang akan keluar dari mulut sexy Hinata.

Hinata memulai cerita dengan adegan seminggu yang lalu. Ia bertemu dengan pria itu di toko buku. Itu adalah cinta pada pandangan pertama. Kemudian, ia bertemu lagi dengannya hari ini dan berencana untuk dekat dengannya. Menggigit bibirnya, ia melanjutkan, “Aku berencana membuatnya seolah diculik, lalu aku datang menyelamatkannya, setelah itu kita pasti jadi dekat. Kemudian aku sadar ini konyol, aku berencana mengembalikannya, lalu pacarnya mengirim pesan dan aku panik, aku terus mengemudi tanpa arah sampai bertemu denganmu.”

“Kau harus keluar dari klub cerita misteri.” Sasuke manggut-manggut.

Mendelik tidak suka, Hinata memukul setir. “Pikirkan caranya!”

“Kau psikopat.” Masih menatap Hinata.

Menatap Sasuke bosan. “Aku bukan psikopat. Mari luruskan, kita mungkin sama-sama gila, tapi kita tidak membunuh orang. Jadi, ayo bersatu sebentar, kita sama-sama untung. Damn, dia sudah ada di sana lima jam.” Hinata frustrasi.

“Belum tentu kau tidak membunuh, kita belum melihatnya.” Sasuke menengok ke belakang. “Lagi pula dengan uangmu, kau bisa memanggil orang yang lebih profesional.” Ia masih belum yakin untuk menerima tawaran gila ini.

Itulah yang paling Hinata hindari. Orang yang ia kenal mampu, jugalah orang ayahnya. Hal paling terakhir yang ia inginkan adalah ayahnya tahu ia berulah kembali. Ini bukan pertama kalinya, tapi ini yang paling ekstrim. Hinata kemudian mengingat sesuatu, ia tersenyum misterius. “Aku akan menelepon orang yang mengejarmu, kurasa mereka bisa membantuku.”

“Baik aku akan membantumu, dengan catatan dia belum mati.” Sasuke mencekal lengan Hinata yang sudah mengetik nomor di ponsel. Hinata tersenyum menang. Mendecak kesal, Sasuke berkata, “Aku mau sepuluh juta yen.”

“Aku akan memberimu sepuluh juta yen dan memberi mereka uang secara terpisah, katakan berapa yang harus aku berikan pada mereka.”

“Kau sangat bermurah hati.” Itu hanya sarkasme. “Berikan mereka lima juta yen. Itu uang yang ibu mereka berikan padaku.”

“Berapa lama kau berhubungan dengannya?”

“Hampir satu bulan.”

“Pekerjaan yang sangat menguntungkan. Jadi, apa rencana kita?”

Sasuke menyeringai sebelum mengatakan rencananya.

Mereka sudah memasuki Yokohama. Hinata melajukan mobil melewati kota hingga sampai di tempat yang terpencil. Sasuke bilang ini adalah jalan menuju rumahnya dulu. Jam segini akan jarang yang lewat, tapi tidak berbahaya untuk meninggalkan orang di sini. Yang lebih penting, tidak ada kamera pengawas.

“Kau mengejek diriku, di saat seleramu saja tidak lebih baik dariku.” Sasuke memandang pria bersurai pirang yang masih tak sadarkan diri, meringkuk di bagasi.

“Jika standar baik adalah dirimu. Maka banyak pria yang akan disebut dewa.” Hinata menjawab sambil berjalan menghampiri Sasuke. Ditangannya, ia membawa onigiri dan air mineral.

“Bagaimana kau mengangkatnya?” komentar Sasuke. Memandang tubuh mungil Hinata yang sudah berada di sebelahnya.

“Adrenalin,” jawabnya singkat. Hinata tak mau repot menjelaskan, bagaimana susahnya ia menyeret, menariknya naik ke mobil. Semoga tidak ada tulang yang patah maupun terkilir.

Sasuke mengerutkan dahi. Melihat sarung tangan yang sudah terbalut rapi di tangan Hinata. Ia tak percaya, jika Hinata baru bertemu lagi─dengan pria yang terikat di tangan dan kaki, serta mulut yang tertutup kain itu─hari ini. Hinata pasti sudah mempersiapkan ini selama seminggu. “Berikan juga padaku.”

Mengerti maksudnya, Hinata menjawab, “Hanya ada satu. Tolong lepaskan penutup di mulutnya dan ganti tutup matanya, aku ingin memberinya makan.”

Memberikan tatapan tidak mau. “Kau yang memakai sarung tangan, jadi kau yang lakukan dan sebaiknya cepat, sebelum dia sadar.”

Hinata dengan ragu melakukannya. Sejatinya, ia tak mau menyentuh pria ini lagi. Setelah selesai, ia menepuk pelan pipi pria itu. Gerakan kecil dari pria itu membuat Hinata berjengit mundur.

“Kau tidak takut ketika menculiknya dan sekarang kau bersikap seperti orang polos sedunia,” ejek Sasuke.

“Tolong.” Adalah kata pertama dari pria itu. Hinata dan Sasuke saling berpandangan. Saling memberi isyarat untuk diam.

“Siapa kamu? Tolong lepaskan aku!” Pria itu mulai berteriak.

Hinata mulai panik dan bicara dengan merubah suaranya. “Aku ingin menyelamatkanmu. Makanlah dulu.” Hinata menyodorkan onigiri ke depan mulut pria itu.

“Bisakah lepaskan ikatanku? Berikan aku air dulu.” Hinata segera membuka tutup botol dan membantu pria itu minum. Sebelum itu, ia sudah membantu pria itu untuk duduk.

Melihat itu, rasa-rasanya ingin tertawa. Sasuke ikut-ikutan Hinata merubah suara. “Aku akan mengantarmu pulang, setelah ini.” Sebuah harapan kosong.

Dengan telaten Hinata menyuapkan onigiri padanya. Sasuke yang melihat itu, berdecak kagum. Seperti melihat domba yang dimanja sebelum disembelih. Setelah acara suap-menyuap selesai, pria itu mulai bergerak-gerak, mencoba melepaskan ikatan. Sasuke membuat isyarat pada Hinata untuk melumpuhkannya lagi. Menghela napas panjang. Entah sudah berapa kali Hinata melakukannya hari ini. Hinata memukul tengkuk kepala pria itu dengan keras. Bukan patah tulang yang mungkin pria itu dapat, melainkan gegar otak. Setidaknya Hinata sudah memberi makan, jadi rasa bersalahnya tidak teramat besar.

“Ayo segera pindahkan!”

“Bisa kau saja. Aku sudah membayarmu.”

Sasuke memandang Hinata tak percaya. “Lakukan berdua agar cepat selesai, sebelum ada yang melihat.”

Benar kata Sasuke. Sia-sia saja ia mengeluarkan banyak uang, jika ujung-ujungnya ketahuan. Mereka mendudukkan pria itu di pinggir jalan, menyandar pada pagar pembatas. Kemudian melepaskan semua ikatan.

“Ayo pergi!” perintah Sasuke. Ia tak mau berlama-lama lagi.

“Sebentar, ponselnya.” Untung ia ingat. Hinata mengambil ponsel milik pria itu yang ia simpan di tasnya. Memasukkan ponsel itu pada saku, ia juga menyelipkan beberapa lembar uang, karena pria itu tak membawa dompet. Dengan harapan, jika pria itu sadar, ia bisa menggunakan uang itu untuk pulang. Arti lainnya adalah bentuk kompensasi yang Hinata berikan.

Secara bersamaan, mereka duduk dan menghela napas lega. Hinata segera menghidupkan mobil dan pergi dari sana. Sasuke melihat Hinata yang wajahnya kembali cerah, misinya berhasil, ia juga dapat uang, tanpa harus berpura-pura menjalin hubungan. Walau perasaan janggal masih ada di dalam hati. Orang normal mana, yang biasa saja setelah melakukan tindakan kriminal. Hinata menyalakan musik, mencoba menenangkan diri.

Suara musik memenuhi keheningan. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Hingga, suara benturan keras, mengambil atensi mereka. Hinata langsung menghentikan mobilnya. Mereka berdua sama-sama meneguk ludah, dahi mulai berkeringat. Dengan perasaan tak karuan, perlahan menengok ke belakang. Sebuah mobil box menabrak pagar pembatas, tepat di tempat mereka meninggalkan pria itu.

“Oh. Fuck,” ucap mereka secara bersamaan dengan lemas. Perlahan mereka menghadap depan lagi.

“Apa dia mati?” tanya Hinata hati-hati. Hinata mencengkram rambutnya dengan erat, sampai beberapa helai putus.

“Sebaiknya jangan berhenti, cepat jalan lagi.” Wajah Sasuke sudah sangat kusut.

Hinata memegang setir dengan tangan bergetar, kakinya yang lemas perlahan menginjak pedal gas. Membawa pergi perasaan bersalah yang akan terus menghantui mereka.

“Seharusnya kau bersyukur, jika dia mati.”

“Sudah kubilang aku bukan psikopat. Untunglah kita melepaskan talinya.”

“Setelah ini, kita jangan bertemu lagi.”

“Jika bertemu, kita harus pura-pura tak saling mengenal.”

“Tapi kita memang tak saling kenal.”

“Kau benar, tapi … jika kau tetap menjadi gold digger, mungkin kita akan bertemu lagi.”

“Jangan mulai lagi!”

Hanya dalam satu jam, sebuah pengalaman yang tak akan mereka lupakan seumur hidup. Mobil terus melaju tanpa tujuan. Berharap, angin malam dapat menerbangkan kabut dalam kepala mereka.

Apa mereka akan bertemu lagi?

Series this work belongs to: