Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-26
Updated:
2026-05-26
Words:
507
Chapters:
1/2
Kudos:
6
Hits:
228

Home is Where the Heart Is

Summary:

Kumpulan wansyut drabble berisi perjalanan Taesan dan Leehan si remaja dewasa yang baru kenal pacaran serta lika-likunya.

Notes:

Enjoy gfz berantem, guys!

Chapter Text

"Gak bisa, masa aku nggak mikirin perasaan kamu?"

Hubungan itu dua arah, setidaknya itu yang aku percaya selama aku berpacaran dengan mantan-mantanku sebelum Leehan. Leehan.. berbeda.
Kalau dibilang sedikit berbeda seperti-nya aku terkesan menyepelekan. Leehan SANGAT berbeda.

"Perasaan aku bukan tanggungjawab kamu."
Aku tahu tidak ada maksud jahat di perkataan kekasih yang baru aku pacari 2 minggu itu, tapi air mata tetap menetes di pelupuk mata-ku. Sementara ia sedang sibuk menatap layar Lenovo thinkpad-nya yang entah sudah berapa dekade, aku malah sibuk mengusap wajahku yang memerah.

Jelek.

"Mulai sekarang aku akan turutin semua maunya kamu, kamu nggak perlu mikir aku nyaman apa nggak, San,"
"Aku bahkan belum cukup ngisi tangki cinta kamu, kan?"
Tidak ada satu kata-pun yang keluar dari mulutku setelah percakapan itu berakhir.

==
"Selamat satu bulan, sayang!"
"Selamat satu bulan ya, sayang.."
Hari ini kami berdua rayakan satu bulan kami bersama. Layaknya pasangan pada umumnya, aku berharap kami melakukan satu hal yang spesial di hari yang spesial — tunggu, apakah perayaan ini harusnya dilakukan saat satu tahunan? Ah, masa bodoh, lah! —

"Anu.. aku punya sedikit hadiah buat kamu. Cek chatroom kita ya!"
Itu hadiah yang aku pikirkan dua minggu ini, sebuah powerpoint presentasi yang aku isi sepenuh hati dengan afirmasi untuk menemani hari-hari.

Akhirnya keahlian di PDD terpakai juga, pikirku.

"Makasih, Taesan, nanti aku baca dan balas pas kita pulang ya.."
"Iya, santai aja!"
"Aku.. buatkan kamu playlist—"

Aku mengangguk, senyuman sumringah masih bertengger di wajahku sambil menunggu Leehan melanjutkannya.

"— tadi aku buat sambil bekerja part-time."

Sambil bekerja.
Dadakan.
Dadakan berarti kurang persiapan.
Berarti.. Leehan tidak memikirkan hadiah itu dengan serius, kan?
Aku mulai berpikir apakah aku terlalu serius dalam hubungan ini.

==
"Tiap hari aku nangis karena kamu, tahu?"
".. Kalau tiap hari kehadiranku cuma buat kamu sedih, mungkin bukan aku ya orangnya, San?"

Bukan itu jawaban yang aku cari, dasar lelaki bloon!

"Itu kamu sadar bikin aku nangis terus, makanya jadi pacar yang bener dikit!"
"Maaf ya, bulan depan aku akan usaha lebih baik lagi."

Ada jeda sepersekian menit dan diisi dengan suaraku yang sibuk mengisap ingus, sebelum dilanjutkan oleh Leehan.

"Kalau kamu nggak mau nunggu lama ya nggak papa sih—"
"Cukup. Tarik omongan jahat kamu itu."

Beruntungnya suara serak-ku ditenggelamkan oleh gema knalpot motor beat karbu mahasiswa yang hendak keluar parkiran spiral, serta mesin AC yang bising itu.

"Maaf." Leehan lanjutkan. Sepertinya tulus, dilihat dari alisnya yang berkerut.
"Hm."

==
"Maafin aku."

Karena sudah sore dan suasana tidak mendukung untuk adu mulut, kami pindah spot dari parkiran ke kos-san sederhana milik Leehan.

"Maafin omongan aku yang tadi bikin kamu tersinggung. Maaf aku nggak nerima kamu apa adanya, maaf nuntut terus."

Aku mulai berpikir untuk bolos kelas karena aku yakin besok mata-ku akan sangat bengkak dilihat dari berapa galon air mata yang aku keluarkan hari ini.

"Hm." Leehan hanya mengangguk, sepertinya masih marah pada perkataan tanpa pikiran tadi.
"Leehan.. ayo pelukan.."

Dengan mengerahkan semua tenaga, aku mengeluarkan teknik memelas yang bisa membuat Leehan mentraktir-ku satu cup momoyo matcha setiap hari Senin—dan yah, terbukti efektif dari helaan napas pasrah yang keluar beberapa detik kemudian.

"Yaudah sini peluk.. "