Actions

Work Header

Enigma

Summary:

Demi menyembunyikan identitas Pure Alpha-nya, Jeremy terpaksa bekerja sebagai pelayan rahasia untuk merawat putra konglomerat yang dirumorkan cacat.

Notes:

+
Daniel, ayah Nio.
Rebecca, ibu Nio.
Shelyn, kakak perempuan Nio.
+

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Enigma

Chapter Text


“Ibu, Nio mau ini. Apa boleh?”

Suara bariton yang berat dan rendah itu memecah lamunan seorang wanita yang masih tampak cantik di usianya yang menginjak setengah abad. Rebecca, sang ibu, hanya bisa mengangguk pelan. Jemarinya bergerak lembut, menyisir rambut anak laki-lakinya yang saat ini sedang asyik menikmati sebungkus cokelat kecil di pangkuannya.

Ada binar sendu yang meredup di mata Rebecca. Ia menatap sosok di depannya dengan perasaan campur aduk. Sejak kecil, Antonio—atau Nio—memiliki little space dalam dirinya. Secara mental, ia sering kali kembali menjadi bocah kecil yang butuh dilindungi.

Dalam silsilah keluarga mereka yang merupakan golongan Pure Alpha, keberadaan Nio terasa seperti sebuah perbedaan yang pahit. Rebecca terkadang menyalahkan keadaan; mungkinkah ini konsekuensi dari penyatuan dua garis keturunan murni? Seharusnya, hubungan antar Pure Alpha melahirkan ksatria yang tak tertandingi, namun Nio justru terperangkap dalam kepolosan yang kontras.

Dahulu, Rebecca sempat mengira Nio adalah seorang Omega karena sifat manja dan kekanak-kanakannya. Namun, alam semesta seolah sedang mempermainkan mereka. Seiring berjalannya waktu, tubuh Nio justru tumbuh luar biasa; tegap, kekar secara natural, dengan suara yang sanggup menggetarkan ruangan. Bahkan feromon yang menguar dari kulitnya tidak menunjukkan tanda-tanda Omega sama sekali.

Daniel, suaminya, sempat bersikeras meyakini bahwa anak laki-laki mereka tetaplah seorang Pure Alpha yang hanya memiliki keterbelakangan mental. Kehadiran putri pertama mereka, Shelyn, yang tumbuh menjadi Pure Alpha sempurna tanpa cacat seolah menguatkan ego Daniel bahwa tidak ada yang salah dengan garis keturunan mereka.

Namun, bagi Daniel, kondisi Nio tetaplah rahasia yang harus dikubur dalam-dalam. Bukan semata-mata karena malu, tapi karena kondisi Nio terlalu berbahaya untuk dunia luar. Daniel sadar betul bahwa putranya adalah ancaman yang tidak bisa diprediksi.

Puncaknya terjadi saat Nio menginjak umur 14 tahun.

Hari itu, kendali Daniel sebagai kepala keluarga runtuh total. Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa mengontrol Nio yang sedang murka. Daniel merasakan kekuatannya sendiri melemah, seolah-olah seluruh otoritasnya sebagai Pure Alpha dicabut paksa. Feromon yang dikeluarkan seperti aroma udara yang seolah terbakar, panas dan kering, beradu dengan bau anyir besi yang tajam seolah-olah ada pedang yang baru saja ditempa di tengah kobaran api. Bau itu bukan bau gosong yang busuk, melainkan bau kekuatan murni yang menghanguskan keberanian siapa pun saat itu bukan lagi sesuatu yang sanggup Daniel lawan, apalagi ia jinakkan. Tekanannya begitu purba dan menghancurkan, hingga akhirnya sang ayah jatuh pingsan di hadapan putranya sendiri.

Setelah kejadian itu, Daniel tersadar akan satu kenyataan yang mengerikan. Nio sudah berada jauh di luar kapasitas kemampuannya.

Setahun penuh Daniel menghabiskan waktu demi menggali jawaban atas apa yang sebenarnya menimpa putranya. Ia terus mengejar kejelasan, apakah ini sebuah penyakit langka atau justru kekuatan asing yang belum pernah ia temui sebelumnya. Para ahli yang menangani Nio pun mulai mencium keganjilan. Berdasarkan hasil pengamatan yang mendalam, mereka sampai pada satu kesimpulan yang sempat sulit dipercaya.

Nio bukan sekadar pure alpha seperti yang mengalir dalam garis keturunan keluarganya. Sosok di hadapan mereka mewakili sebuah mitos yang kehadirannya hampir tidak pernah tercatat dalam sejarah modern; Nio terlahir sebagai seorang Enigma.

Kasta ini menempati puncak tertinggi sekaligus menjadi yang paling langka dalam hierarki sosial. Sebagai sosok yang berdiri di atas segala golongan, seorang Enigma memiliki kemampuan untuk memanipulasi hingga mengubah identitas sekunder orang lain, asalkan dialah yang memegang dominasi terkuat di lingkungan tersebut. Kekuatan mereka terletak pada feromon yang menguar dari tubuh—sebuah tekanan yang begitu pekat, liar, dan mutlak, hingga tidak ada satu pun golongan Alpha yang sanggup melawan apalagi menundukkannya.

Daniel kini tersadar bahwa selama ini ia tidak sedang membesarkan seorang putra yang cacat, melainkan sedang mengurung seekor predator puncak yang sanggup meruntuhkan tatanan dunianya hanya dengan satu hembusan napas. Sementara itu, di tengah kemelut identitas yang mengerikan ini, Nio tetaplah sosok yang sama; bertubuh dewasa namun bersamaan bertingkah layaknya anak yang merengek minta dibelikan es krim karena cokelatnya telah habis tertelan.


“Kita harus segera mencarikan pendamping untuk Nio.”

Kalimat itu terus berputar dalam kepala Daniel, menjadi beban pikiran yang tak kunjung menemui solusi. Ia sadar betul bahwa waktu mereka tidak banyak. Saat Nio menginjak usia tujuh belas tahun nanti, fase peralihan dari remaja menuju dewasa akan membawa tantangan biologis yang jauh lebih berbahaya. Masa rut bagi seorang Alpha biasa saja sudah cukup untuk melenyapkan akal sehat jika tidak ditangani dengan tepat, apalagi bagi sosok Enigma yang memiliki kekuatan berkali-kali lipat lebih besar.

Meski terjebak dalam little space, perkembangan fisik Nio tetap berjalan mengikuti usia. Di umurnya yang sekarang, ia sudah berdiri tegap setinggi 186 cm dengan tubuh kekar dan bahu lebar yang nampak mengintimidasi. Daniel sudah sampai pada titik di mana ia menyerah untuk menyembuhkan sisi kekanak-kanakan putranya. Baginya, menyembuhkan little space itu bukan lagi prioritas utama; yang ia butuhkan sekarang adalah sebuah rencana matang agar Nio tidak menghancurkan dirinya sendiri atau orang lain saat insting aslinya bangkit.

Nio tidak memiliki kendali atas kekuatannya. Ia hidup di dunia anak-anak yang penuh warna, tanpa menyadari bahwa di dalam dirinya bersemayam sosok predator yang bisa meledak kapan saja.

Ada ketakutan yang merayap di benak sang ayah; ia khawatir tindakannya secara tidak sengaja memicu kemarahan sosok Enigma dalam diri Nio—sosok asli yang kekuatannya sudah terbukti sanggup menumbangkan seorang pure alpha hingga tak sadarkan diri selama ia mau.

Rumah megah itu kini terasa seperti penjara kaca yang retak. Daniel tahu, jika ia gagal menemukan seseorang yang mampu menangani Nio sebelum masa rut tiba, seluruh upaya yang ia simpan rapat-rapat akan meledak menjadi bencana yang tak sanggup lagi ia bendung. Kesunyian di ruang kerjanya seolah menjadi saksi bisu betapa putus asanya ia menghadapi putra kandungnya sendiri, sang pemangsa puncak yang saat ini mungkin sedang tertawa polos sambil bermain mobil mainan di kamarnya.


Hampir dua tahun berlalu, namun semua upaya Daniel berakhir buntu. Harapan untuk menemukan pendamping yang tepat bagi putranya seolah menguap begitu saja. Berkali-kali ia mendatangkan Omega yang bersedia menjadi pasangan Nio, namun kehadiran mereka justru memicu reaksi fisik yang menyakitkan; Nio sering kali berakhir muntah atau menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Baginya, keberadaan Omega mana pun terasa seperti gangguan yang tidak menyenangkan, sebuah bau asing yang justru memicu insting defensifnya.

Rebecca sering kali harus berjuang keras menenangkan putranya yang mulai hilang kendali. Tak ada pilihan lain, ia terpaksa memberikan obat tidur dengan dosis tinggi yang sebenarnya berbahaya bagi kesehatan Nio. Isak tangis Rebecca pecah setiap kali ia melihat putranya harus dipaksa tertidur dengan cara seperti itu demi meredam kemurkaan yang tak terbendung.

Daniel mulai menarik diri dari pencarian pasangan untuk Nio. Ia beralih ke solusi kedua; mencari orang-orang yang setidaknya mampu membantu menangani Nio saat masa sulit itu tiba. Namun, rencana ini pun belum membuahkan hasil. Setiap Alpha yang dianggap cukup tangguh oleh Daniel justru berakhir mengenaskan. Mereka jatuh pingsan di koridor rumah, bahkan sebelum sempat bertatap muka langsung dengan Nio. Aroma api dan besi yang tertinggal di udara sudah cukup untuk meruntuhkan kesadaran para Alpha tersebut, membuktikan bahwa dominasi Enigma semakin bertambahnya usia dalam diri Nio memang tidak menyisakan ruang bagi siapa pun untuk berdiri tegak di dekatnya.


Sementara di sudut lain kota yang sama, di sebuah flat sempit yang letaknya jauh dari gemerlap gedung pencakar langit, Jeremy sedang menghitung sisa tabungannya. Udara di dalam kamarnya terasa pengap, sengaja dibuat mati rasa oleh bau penetral feromon yang baunya mirip karbol pinus murahan. Aroma kimiawi yang menusuk hidung itu menjadi tameng utamanya setiap hari untuk mengubur identitas asli yang mengalir dalam darahnya.

Aroma asli Jeremy sebenarnya adalah perwujudan dari kenyamanan yang absolut—sebuah kombinasi antara Clean Linen dan Mint Leaf. Jika ia melepaskan feromon Pure Alpha-nya tanpa ditahan, ruangan di sekitarnya akan mendadak terasa sejuk, seperti wangi kain katun atau handuk bersih yang baru selesai dijemur, beradu dengan remasan daun mint yang dingin dan menyegarkan. Aroma pelindung yang kokoh tanpa berniat menindas.

Namun, demi bertahan hidup sebagai Beta palsu, Jeremy harus membunuh wangi mahal itu dan menggantinya dengan semprotan pinus murahan agar tubuhnya tercium hambar dan biasa saja di mata publik.

Menyamar menjadi Beta ternyata tidak pernah mudah. Kesulitannya nyata dan menguras fisik serta mentalnya setiap hari.

Bukan cuma soal bau, menyembunyikan penampilannya pun adalah perjuangan tersendiri. Secara visual, looks Jeremy sebenarnya terlalu dominan untuk ukuran seorang Beta biasa dan sangat sulit ditutupi. Wajahnya tegas dengan fitur agak blasteran, memiliki hidung mancung yang lurus, rambut cepak yang rapi, serta rahang kokoh yang tercetak jelas. Jika ia sedang diam, garis-garis wajahnya itu membuat Jeremy terlihat garang dan mengintimidasi. Namun, untungnya ia memiliki pembawaan yang kontras; begitu ia membuka suara atau berbincang dengan orang lain, senyum dan tutur katanya sangat ramah, sebuah topeng sempurna untuk meruntuhkan kecurigaan orang bahwa dia adalah seorang penguasa.

Siksaan terbesar Jeremy tetaplah obat penekan feromon (suppressants) dosis tinggi yang wajib dikonsumsinya secara berkala. Obat-obatan itu bekerja paksa meredam insting Pure Alpha-nya yang secara natural ingin memimpin. Efek sampingnya menyiksa; Jeremy sering kali terbangun dengan kepala yang pening luar biasa, mual di pagi hari, dan rasa lelah yang konstan karena tubuhnya dipaksa bekerja melawan hukum alam. Setiap kali ia tidak sengaja terlambat minum obat, keringat dingin akan membanjiri tubuhnya karena feromon aslinya mendesak ingin keluar.

Sebagai Beta di dunia kerja, Jeremy juga harus menelan harga dirinya dalam-dalam. Di kantor-kantor modern, posisi strategis hampir selalu diisi oleh para Alpha. Jeremy berkali-kali melihat pekerjaannya diambil alih, opininya diabaikan dalam rapat, atau bahkan dibentak oleh Alpha biasa yang kemampuannya jauh di bawah dirinya. Insting di dalam dadanya sering kali berteriak untuk balik menyerang dan membuat Alpha-Alpha sombong itu berlutut di bawah kakinya. Namun, Jeremy harus mati-matian mengepalkan tangan di bawah meja, memaksa wajah tegasnya melunak, menundukkan kepala, dan berpura-pura ramah sekaligus tak berdaya.

Menjadi Beta berarti dia juga kehilangan hak untuk membela diri secara biologis. Jika ada Alpha dominan yang melepaskan feromon intimidasi di kereta bawah tanah atau di jalanan, seorang Beta asli akan merasa pusing atau sesak. Jeremy harus melakukan akting yang melelahkan; ia harus ikut berpegangan pada tiang, berpura-pura lemas, dan memasang wajah pucat agar tidak memancing kecurigaan. Padahal, jika ia mau, ia bisa saja melepaskan feromon aslinya sendiri untuk menghancurkan tekanan tersebut dalam sekejap.

Jeremy memilih membuang segalanya karena ia tumbuh bersama trauma melihat bagaimana keluarganya memperlakukan manusia lain. Bagi mereka, kasta teratas adalah kasta yang harus disembah, di mana kekuatan mutlak digunakan untuk menindas, bukan untuk melindungi. Muak dengan hierarki yang tidak memanusiakan manusia itu, Jeremy memilih mati secara sosial.

Berakhir hari ini, batas sabar yang Jeremy bangun selama tiga bulan terakhir runtuh tanpa sisa.

Di ruang pantri kantor yang sempit, suasana mendadak mencekam. William seorang Alpha muda—manajer baru yang diangkat hanya karena koneksi keluarga—sedang berdiri dengan angkuh. Wajahnya merah padam, sisa kopi panas tampak menetes dari ujung meja, membasahi lantai dan seragam usang milik Bu Sum, seorang Omega tua yang sudah bekerja sebagai staf kebersihan di sana jauh sebelum si manajer itu tahu cara memakai dasi.

"Kerja pakai mata! Punya hidung sensitif tapi bersihin lantai aja gak becus! Bau amis tahu gak?!" bentak William, suaranya sengaja dikeraskan sembari sengaja melepaskan feromon intimidasi yang berbau tajam seperti karat besi yang membusuk.

Bu Sum sudah berlutut di lantai yang basah, tubuh rentanya bergetar hebat. Di bawah tekanan feromon Alpha tersebut, napas sang Omega tua mulai memburu, dadanya sesak, dan air mata ketakutan mulai mengalir di pipinya yang keriput. Alih-alih mereda, William justru semakin sengaja menekan, menikmati kuasanya atas makhluk yang dianggapnya berada di kasta terendah.

Jeremy yang awalnya sedang merapikan berkas di pojok ruangan, berhenti bergerak. Matanya yang biasa dibuat layu kini perlahan menajam. Pemandangan di depannya memicu memori kelam tentang keluarganya sendiri—tentang bagaimana kekuatan mutlak digunakan untuk menindas, bukan untuk melindungi.

Tiga bulan Jeremy menahan diri dibentak, tiga bulan ia diam saat pekerjaannya dicuri, tapi melihat seorang Omega tua disiksa secara biologis hingga kesulitan bernapas adalah batas akhir kedok Beta-nya.

"Tuan, tolong hentikan feromon Anda. Beliau bisa terkena serangan jantung," ucap Jeremy. Suaranya terdengar datar, namun ada nada dingin yang belum pernah didengar siapa pun di kantor itu.

William menoleh, mendengus remeh melihat Jeremy yang mendekat. "Oh, Beta pajangan mau jadi pahlawan? Tau diri sialan. Berlutut gih, bersihin sepatu gua kalau mau wanita tua ini gua lepasin!"

Jeremy tidak berlutut. Ia justru melangkah maju, memotong jarak di antara mereka. Wajah ramah yang biasa ia pasang lenyap seketika, digantikan oleh garis rahang yang mengeras ekstrem dan tatapan mata yang mendadak begitu dominan hingga membuat William tersedak kata-katanya sendiri.

"Saya bilang... hentikan," bisik Jeremy tepat di depan wajah si manajer.

Pada detik itu juga, Jeremy berhenti menahan diri. Ia sengaja menghentikan kerja obat penekannya, melonggarkan kunci pada insting aslinya. Dari tubuh tegap dengan kaos oblong longgar itu, meledak sebuah aroma murni yang langsung membakar habis bau pinus murahan di kulitnya.

Clean Linen & Mint Leaf. Itu bukan sekadar wangi, melainkan sebuah atmosfer yang kokoh. Udara di dalam pantri yang tadinya pengap dan panas menyengat oleh bau karat busuk milik William, mendadak drop menjadi sedingin es. Baunya persis seperti saat seseorang memeluk seprei atau handuk tebal yang baru saja kering dijemur di bawah terik matahari—bersih, kering, dan sangat nyaman—namun di saat yang sama, ada remasan daun mint yang sangat pekat, dingin, dan menusuk hidung. Aroma mint ini tidak manis, melainkan tajam menyegarkan seperti angin musim dingin yang langsung menampar wajah. Sebuah perwujudan dari kekuatan murni yang higienis, tidak berniat mengotori atau menginjak, melainkan menyapu bersih segala bau busuk di sekitarnya.

William langsung membelalak. Di hadapan kepekatan wangi katun bersih dan tajamnya mint yang menjalar di udara, insting predatornya langsung lumpuh. Lutut Alpha sombong itu gemetar hebat. Ia merasa seolah-olah seluruh pasokan oksigen di paru-parunya ditarik paksa oleh keberadaan Jeremy yang berdiri menjulang bak tembok raksasa.

"H-hah... Alpha—" Kalimat William terputus saat Jeremy menunduk sedikit, mengunci pergerakannya hanya lewat tatapan mata yang luar biasa galak.

"Satu kata lagi keluar dari mulut brengsekmu, dan saya pastikan kamu keluar dari gedung ini tanpa sisa harga diri," desis Jeremy, suaranya begitu dalam hingga getarannya terasa di lantai marmer.

Di bawah perlindungan aroma handuk bersih yang mengurung ruangan, sesak di dada Bu Sum perlahan menghilang. Wangi sejuk itu seolah menyaring racun dari feromon si manajer, membuat sang Omega tua bisa kembali meraup udara dengan rakus. William yang sudah pucat pasi akhirnya jatuh terduduk di lantai, tepat di sebelah tumpahan kopi, kehilangan seluruh taringnya dalam sekejap.

Begitu situasi terkendali, Jeremy menarik kembali feromonnya, menguncinya rapat-rapat hingga ruangan itu kembali berbau hambar. Wajah tegasnya melunak dalam hitungan detik. Ia langsung berjongkok di depan Bu Sum, mengabaikan si manajer yang masih syok di lantai.

"Bu Sum, nggak apa-apa? Ada yang sakit?" tanya Jeremy, suaranya kembali ramah dan lembut, sangat kontras dengan sosok mengerikan beberapa detik lalu.

Bu Sum menatap Jeremy dengan mata berkaca-kaca, napasnya mulai teratur. "Nak Jeremy... kamu... kamu bukan Beta?" bisiknya gemetar, menyadari kekuatan besar yang baru saja melindunginya.

Jeremy tersenyum tipis, membantu memegangi lengan renta Bu Sum untuk berdiri. "Saya cuma pekerja biasa di sini, Bu. Yuk, saya bantu duduk di luar. Gak usah dipikirin lantai ini, biar nanti saya yang beresin."

"Tapi Nak Jeremy, manajer itu... dia pasti gak akan tinggal diam," ucap Bu Sum cemas, menggenggam balik tangan Jeremy.

"Gak apa-apa, Bu. Yang penting Ibu aman dulu," jawab Jeremy menenangkan, sembari menuntun wanita tua itu keluar dari ruang pantri yang masih menyisakan hawa dingin mint yang samar.

Tentu saja, dugaan Bu Sum benar. Surat pemecatan Jeremy keluar tiga puluh menit setelah kejadian. Ia didepak tanpa pesangon dengan alasan membangkang pada atasan dan memalsukan identitas sekunder. Namun, yang tidak Jeremy ketahui, manajer brengsek yang baru saja ia buat berlutut itu adalah anak dari salah satu petinggi perusahaan partner kerja milik keluarga Daniel.

Dan kebetulan yang luar biasa sial, Daniel sedang berada di gedung yang sama hari itu untuk urusan bisnis.

Jeremy berjalan keluar dari lobi gedung dengan sebuah kotak kardus berisi barang-barang pribadinya di pelukan. Langkah kakinya baru saja melewati pintu kaca otomatis dan menginjak pelataran semen yang mulai basah oleh gerimis, ketika tiga orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam legang mendadak melangkah maju, memotong jalurnya secara presisi.

Gerakan mereka begitu terlatih, mengunci ruang gerak Jeremy hingga ia terpaksa menghentikan langkah.

"Tuan Jeremy. Seseorang ingin berbicara dengan Anda," ucap pria yang berdiri paling depan. Suaranya datar, tanpa emosi, namun sarat akan perintah yang tidak menerima penolakan.

Jeremy tidak langsung menjawab. Ia berdiri diam di tengah rintik hujan, mendekap kotak kardusnya lebih erat. Insting Pure Alpha yang selama ini ia pasung di dalam dada mendadak bergejolak hebat, mengirimkan sinyal bahaya yang membuat bulu kuduknya berdiri. Perasaan biologis itu tidak mungkin meleset. Di dekatnya—sangat dekat—ada kehadiran sesama Pure Alpha lain yang kekuatannya berada di level yang sepenuhnya berbeda dari manajer kacangan di dalam pantri tadi. Ini adalah jenis dominasi dari seseorang yang terbiasa berada di puncak dunia.

Mata tajam Jeremy melirik ke arah tepi jalan, di mana sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam dengan kaca yang sangat gelap tengah terparkir dengan mesin yang mendesau halus.

Melawan di tempat umum seperti ini jelas bukan pilihan bijak. Jika ia nekat melepaskan feromonnya lagi untuk menerobos ketiga pengawal ini, penyamarannya sebagai Beta akan hancur total secara permanen di bawah sorotan kamera pengawas gedung. Ditambah lagi, Jeremy tahu betul watak golongan kasta atas seperti mereka; menolak ajakan secara halus pun tidak akan pernah membuahkan hasil.

Sambil menghela napas panjang, Jeremy melunakkan kembali ketegangan di bahunya, memaksa wajah galaknya kembali memasang topeng ramah yang biasa ia gunakan.

"Baik. Mari kita mengobrol," jawab Jeremy tenang.

Salah satu pengawal membukakan pintu penumpang bagian belakang mobil mewah tersebut. Jeremy melangkah masuk, membawa serta kotak kardusnya, dan langsung disambut oleh aroma interior kulit mahal yang berpadu dengan sisa-sisa feromon dominan yang sangat pekat di dalam sana.

Di kursi belakang yang luas itu, duduk seorang pria paruh baya dengan gurat wajah tegas dan rambut yang mulai memutih di beberapa bagian, namun auranya masih begitu mengintimidasi. Daniel.

Pintu mobil tertutup rapat, seketika memutus suara bising jalanan dan rintik gerimis di luar, menyisakan keheningan yang sarat akan tekanan di antara dua pria yang sama-sama menyembunyikan taring mereka.

Daniel melirik kotak kardus di pangkuan Jeremy, lalu mengalihkan tatapannya langsung ke bola mata pria muda di sampingnya. "Aksi yang impresif di pantri tadi, Jeremy. Atau... saya harus panggil kamu dengan nama asli keluarga besar kamu?"

Mendengar kalimat itu, napas Jeremy tercekat. Seluruh otot di tubuhnya mendadak menegang sempurna. Topeng ramah yang baru saja ia pasang retak dalam sekejap.

"Saya nggak menyangka kalau putra kedua dari keluarga terpandang memilih untuk kabur, memalsukan identitas menjadi Beta, dan kerja serabutan hanya untuk menjadi budak di lantai kantor orang lain," lanjut Daniel dengan nada santai, seolah sedang membicarakan cuaca.

Kalimat itu menjadi pemantik yang instan. Rasa muak, trauma, dan kemarahan Jeremy terhadap kasta atas yang selalu mencampuri hidup orang lain langsung meluap ke ubun-ubun. Darahnya terasa mendidih. Tanpa memedulikan sopan santun lagi, Jeremy mencengkeram kotak kardusnya, memutar tubuh, dan langsung meraih tuas pintu mobil.

"Saya rasa nggak ada yang perlu kita bicarakan lagi," desis Jeremy, suaranya naik satu oktav karena emosi yang tertahan.

Klik. Pintu mobil sedikit terbuka, membiarkan suara rintik hujan dan udara dingin dari luar menerobos masuk. Jeremy sudah siap melangkah keluar, bersiap menghadapi para pengawal di luar jika mereka berani menyentuhnya lagi.

"Kamu bisa melangkah keluar dari mobil ini, Jeremy," ucap Daniel, suaranya tetap tenang tanpa ada nada panik sama sekali. "Tapi saya pastikan, sebelum kaki kamu menyentuh aspal, saya punya kuasa buat bikin bisnis keluarga besar yang kamu benci itu bangkrut total dalam waktu satu malam. Dan kamu tahu betul saya tidak mungkin main-main sama ucapan saya."

Tangan Jeremy yang memegang pinggiran pintu mobil membeku. Rahangnya mengatup begitu rapat hingga persendiannya memutih. Sialan. Jeremy memang membenci keluarganya, ia muak dengan segala kesombongan mereka. Tapi bagaimanapun juga, di sana masih ada orang-orang yang tidak bersalah, para pekerja, dan nama yang mengikat darahnya. Jeremy tahu kapasitas seorang Daniel sebagai Pure Alpha juga di dunia bisnis; pria paruh baya ini punya jaringan yang sanggup meruntuhkan sebuah dinasti usaha jika dia mau.

Dengan perasaan kalah yang amat sangat, Jeremy menarik kembali pintu mobil tersebut dan menutupnya dengan bantingan keras. Brak!

Ia kembali bersandar di kursi kulit, napasnya memburu, matanya menatap Daniel dengan pandangan yang luar biasa galak dan penuh permusuhan. "Maumu apa?"

Melihat reaksi itu, aura intimidasi Daniel mendadak surut. Pria paruh baya itu menghela napas panjang, gurat kelelahan dan keputusasaan yang mendalam mendadak muncul di wajah tegasnya. Daniel memutar tubuhnya menghadap Jeremy, lalu menundukkan kepalanya sedikit—sebuah gestur yang sangat tidak biasa dilakukan oleh seorang Pure Alpha pemimpin korporasi besar.

"Saya minta maaf karena harus mengancam kamu dengan cara sekotor ini," ucap Daniel, suaranya melunak, terdengar tulus dan sarat akan beban yang berat. "Saya tidak berniat menghancurkan siapa pun. Saya cuma... sudah kehabisan waktu, Jeremy. Saya butuh bantuan kamu. Tolong saya."

Jeremy mengernyitkan dahi. Ia bingung melihat perubahan sikap Daniel yang tiba-tiba menjadi begitu rapuh. "Bantuan apa?"

"Menjadi caregiver untuk anak laki-laki saya, Antonio," jawab Daniel pelan.

Begitu nama Antonio diucapkan, ingatan Jeremy langsung berputar ke beberapa rumor yang sempat berembus samar di kalangan kasta atas sebelum ia kabur dulu. Kabar burung yang menyebutkan bahwa keluarga Pure Alpha Daniel yang terhormat memiliki sesosok aib besar —seorang anak laki-laki yang menderita kelainan fisik atau keterbelakangan mental yang disembunyikan dari publik.

Melihat bagaimana seorang Daniel sampai harus mengadang seorang Beta palsu di pinggir jalan dan memelas meminta bantuan, Jeremy langsung menyadari satu hal.

Rumor itu ternyata benar adanya. Anak laki-laki Daniel memang cacat dan situasinya pasti sudah sangat mendesak hingga membuat beliau kehilangan harga dirinya demi meminta pertolongan.


“Halo Jagoan, Ayah punya teman baru untuk Nio.”

Lamunan Jeremy tersentak seketika. Kesadarannya ditarik kembali ke dunia nyata, menyadari bahwa ia sudah melangkah melewati gerbang tinggi mansion megah milik keluarga Daniel sejak sepuluh menit yang lalu. Setelah menyusuri lorong-lorong panjang berlantai marmer yang sunyi, kini ia berdiri di ambang pintu sebuah kamar yang luar biasa luas.

Interior di dalamnya sebenarnya terlihat normal untuk ukuran kamar anak muda, namun tata letaknya agak ganjil karena dipenuhi kontras yang mencolok. Di satu sisi, ada televisi layar datar berukuran besar yang tersambung dengan konsol PS5 berspesifikasi tinggi. Namun di sisi lain, lantai kamar itu justru dipenuhi serakan mainan yang jauh dari kesan dewasa—mulai dari balok-balok Lego yang tersusun setengah jadi, lintasan mobil remote control, hingga beberapa boneka empuk di sudut tempat tidur.

“Ayah pernah janji, kan, kalau Ayah bakal cari teman baru buat Nio? Jadi, kalau nanti Ayah harus bekerja atau Ibu lagi ada keperluan di luar, Nio tetap ada yang menemani bermain di rumah.”

Sosok yang dipanggil Jagoan itu perlahan membalikkan tubuhnya. Begitu mata mereka bertemu, Jeremy refleks menahan napas.

Pria muda di depannya ini memiliki perawakan yang luar biasa intimidatif jika hanya dilihat dari fisik. Tubuhnya besar, tegap, dengan otot-otot natural yang tercetak jelas di balik kaus rumahan yang ia kenakan. Jeremy yang selama ini selalu percaya diri dengan tinggi badannya sendiri, langsung sadar bahwa anak laki-laki Daniel ini berdiri jauh lebih menjulang—mendekati angka 190 sentimeter bahkan lebih. Garis rahangnya tegas, tipe visual yang seharusnya sanggup membuat Alpha lain mundur teratur hanya dengan sekali tatap.

Namun, kejutan sesungguhnya justru ada pada binar matanya.

Saat mendengar suara Daniel, mata tajam itu mendadak mengerjap polos. Ada binar jenaka yang begitu murni dan menggemaskan terpancar dari sana, sebuah ekspresi yang sangat tidak selaras dengan proporsi tubuh raksasanya. Nio menatap Jeremy dengan rasa ingin tahu yang kekanak-kanakan, mengulum senyum tipis sambil mengeratkan pelukannya pada sepotong cokelat kecil yang sudah meleleh di tangannya.

Melihat pemandangan itu, dahi Jeremy mengernyit dalam. Pikirannya mendadak diliputi kebingungan yang teramat sangat. Di mana letak cacatnya? Fisik anak ini sempurna tanpa cela, bahkan jauh lebih unggul dari standar Alpha pada umumnya. Namun, yang jauh lebih membuat Jeremy heran adalah bagaimana cara Daniel berinteraksi. Sang pemangsa puncak yang beberapa menit lalu sanggup mengancam akan menghancurkan sebuah dinasti bisnis, kini bicara dengan nada yang sangat pelan, lembut, dan penuh kehati-hatian. Seolah-olah, satu bentakan kecil saja dari mulutnya bisa menghancurkan kaca-kaca di kamar ini.

Jeremy mendengus getir di dalam hati. Ayah kandungnya sendiri yang sesama Pure Alpha tidak pernah sekali pun berbicara selembut itu kepadanya seumur hidup. Di dunia kasta atas, kelembutan adalah tanda kelemahan. Tapi di sini, Daniel—pria yang memegang otoritas tertinggi atas kastanya—justru menurunkan ego dan taringnya serendah mungkin di hadapan putra kandungnya sendiri.

Jeremy terus mengamati, mencoba mengurai misteri apa yang sebenarnya disembunyikan di balik tatapan polos si raksasa tampan ini, tanpa menyadari bahwa udara tawar di dalam kamar itu sewaktu-waktu bisa berubah menjadi neraka yang membara.

Melihat Jeremy tetap berdiri tegak tanpa menunjukkan gejala pusing atau mual, Daniel diam-diam mengembuskan napas panjang. Dadanya yang semula terasa sesak oleh kecemasan mendadak terasa lega, bahkan ia hampir saja bersorak kegirangan di dalam hati.

Eksperimen nekatnya kali ini membuahkan hasil. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan belasan kandidat yang ia bawa sebelumnya—yang langsung tumbang dan muntah-muntah bahkan sebelum sempat menembus koridor—Jeremy justru mampu menatap Nio secara langsung dengan ekspresi yang sangat tenang. Daniel semakin yakin bahwa keputusannya menjaring pemuda ini tidak salah. Darah Pure Alpha asli yang mengalir di tubuh Jeremy memiliki ketahanan biologis yang kokoh, sama seperti dirinya. Setidaknya untuk sementara waktu, Jeremy punya benteng pertahanan yang cukup kuat untuk menghadapi atmosfer tak kasat mata di sekitar putranya.

Lebih dari itu, Daniel menyadari ada perubahan atmosfer yang tidak biasa di dalam kamar. Sejak Jeremy melangkah masuk, aura ruangan terasa jauh lebih tenang. Mood Nio yang sejak kemarin berantakan dan dipenuhi letupan emosi kecil, berangsur-angsur melunak, kembali ke titik normal yang damai.

Daniel segera memanfaatkan momen langka ini. Ia menepuk bahu lebar putranya dengan gerakan yang sangat hati-hati.

“Nio, ayo coba kenalan. Ini Jeremy,” ucap Daniel, suaranya sengaja dibuat sehangat mungkin, lalu beralih menatap pemuda di sampingnya. “Dan Jeremy, ini anak saya, Antonio.”

Daniel memperkenalkan mereka dengan sangat apik, mencoba mencairkan kecanggungan yang sempat menggantung di udara.

Jeremy berdeham kecil. Berada di tengah-tengah interaksi ayah dan anak yang begitu tidak biasa ini membuatnya merasa sedikit kikuk. Penyamarannya sebagai Beta menuntutnya untuk tidak terlalu menonjol, namun tatapan polos dari sepasang mata bulat milik raksasa di depannya mau tidak mau mengetuk sisi ramah yang ia miliki.

Jeremy mengulas senyum tipis, memaksa gurat wajah tegasnya melunak sealami mungkin. Ia mengulurkan tangannya ke depan, menyapa si pemuda raksasa dengan gaya kasual yang santai.

”Hai, gua Jeremy. Salam kenal, ya.”

”Cantik. Jeremy cantik seperti Ibu.”

Jeremy mencelos. Pujian itu rasanya persis seperti goresan tajam yang langsung melukai harga diri Pure Alpha-nya. Sisi maskulin dan insting predator di dalam dadanya mendadak berontak tidak terima, membuat telapak tangan yang semula ia ulurkan untuk menjabat tangan Nio seketika lemas di udara. Dipuji 'cantik' oleh sesama pria bertubuh raksasa jelas bukan hal yang pernah ia bayangkan seumur hidup.

Namun, sebelum Jeremy sempat memproses keterkejutannya, Antonio sudah membalas sapaan itu dengan riang. Ia menyambut uluran tangan Jeremy yang sempat melempem, menggenggamnya erat dengan sepasang tangan yang jauh lebih besar dan hangat. Nio mengulas senyum lebar yang begitu tulus dan murni layaknya anak-anak, mengabaikan fakta bahwa tubuhnya sendiri sanggup meruntuhkan tembok.

Bersamaan dengan senyum itu, sebuah aroma manis nan menyenangkan mendadak menyapa indra penciuman Jeremy. Itu adalah wangi yang sangat sulit dideskripsikan dengan kata-kata—bukan bau Omega yang memicu gairah, bukan pula bau tajam Alpha yang menantang. Wanginya begitu magis, memberikan sensasi damai yang instan dan langsung menjalar ke kepala Jeremy, menidurkan seluruh emosi dan insting defensif yang sempat tegang beberapa detik lalu.

Daniel yang menyadari perubahan raut wajah Jeremy langsung tertawa canggung. Ia buru-buru menepuk pelan lengan putranya, mencoba menasihati dengan nada sehalus mungkin.

”Nio, Jeremy ini Beta, berbeda dengan Ibu yang Pure Alpha, ya. Ayo, minta maaf sama Jeremy.”

Nio menggeleng rusuh, menolak mentah-mentah ucapan ayahnya. Alih-alih melepaskan, ia justru semakin erat menggenggam tangan Jeremy yang sudah kehilangan tenaga tadi, lalu menatap Daniel dan Jeremy bergantian dengan tatapan menuntut yang polos.

”Tidak Ayah! Ayah harus belajar lagi,” protes Nio, nadanya merajuk namun terdengar begitu yakin. ”Jeremy seperti Ibu. Dia Alpha, kan?”

Detik itu juga, napas Jeremy tertahan. Keringat dingin mulai tampak di pelipisnya. Bagaimana mungkin seorang remaja yang dikabarkan 'cacat' dan sedang berada dalam mode little space bisa membongkar rahasia terbesarnya hanya dalam sekali tatap?

Padahal jika dibilang Nio itu bodoh karena kelakuannya yang seperti bocah, kenyataannya justru berbanding terbalik. Secara intelektual, Antonio adalah pemuda yang sangat pintar. Jika semua materi ilmu pengetahuan, teori serumit apa pun, hingga pelatihan fisik disodorkan padanya, Nio bisa melahap semuanya dengan mudah. Kalau saja dia disekolahkan secara normal di luar sana, Antonio pasti sudah menjadi siswa berprestasi dengan rentetan piala yang tak terhitung jumlahnya.

Otak dan analisis biologis Nio tidak pernah salah. Ia tidak melihat Jeremy dari bau pinus murahan atau topeng Beta yang dipakainya, melainkan langsung membaca inti darah Pure Alpha yang mengalir di dalam tubuh Jeremy.

“Memangnya kenapa kalau Jeremy Alpha, Nak? Nio jadi tidak mau berteman dengan Jeremy?” Daniel buru-buru menyambar obrolan, mengalihkan topik sebisa mungkin agar rahasia kasta Jeremy tidak dibahas lebih jauh di depan putranya yang terlalu peka itu.

Dengan lantang dan penuh semangat, Antonio langsung berseru, “MAU!!”

Grep.

Jeremy lagi-lagi dibuat tersentak kaget, sampai-sampai tubuh tegapnya hampir kehilangan keseimbangan. Bagaimana tidak? Detik itu juga, sepasang lengan kokoh milik Nio tiba-tiba melingkari pinggangnya dengan sangat erat. Antonio—yang saat ini posisinya sedang duduk di sofa—merapatkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya yang besar tepat di perut Jeremy yang masih berdiri kaku di sebelahnya. Tubuh Nio yang raksasa membuat pelukan duduk itu terasa begitu pas, mengunci pergerakan Jeremy sepenuhnya dalam rengkuhan yang posesif namun manja.

“Jeremy mirip Ibu, Nio mau berteman! Jeremy mau kan berteman sama Nio?” seru Nio bersemangat, mendongak menatap Jeremy dari posisinya yang sedang memeluk pinggang.

Cara bicaranya benar-benar murni seperti anak kecil usia lima tahun yang baru saja mendapatkan mainan favoritnya. Untuk sebuah pertemuan awal dengan orang asing, Antonio terhitung sangat ramah dan terbuka. Namun, Jeremy tidak bisa langsung menjawab. Seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas, seolah semua kekuatannya menguap ke udara. Ia terlena.

Aroma menyenangkan tak kasat mata yang dikeluarkan Nio perlahan merayap naik, mengunci indra penciuman Jeremy, dan tidak dapat di deskripsikan tapi menyebarkan rasa damai yang begitu pekat ke dalam sistem sarafnya. Jiwa Pure Alpha Jeremy yang biasanya selalu siaga dan penuh kewaspadaan, entah bagaimana, dibuat bertekuk lutut begitu saja oleh kehangatan yang ditawarkan si raksasa ini.

Melihat posisi intim yang begitu tiba-tiba di pertemuan pertama mereka, Daniel di dekat mereka pun mulai merasa was-was. Jantungnya berdegup kencang, takut kalau insting teritorial Jeremy sebagai Alpha akan terpicu karena ruang pribadinya diinvasi secara paksa, atau lebih buruk lagi—takut kalau Jeremy akan mendorong Nio menjauh karena merasa tidak nyaman. Daniel sudah bersiap untuk melangkah maju guna memisahkan mereka.

Namun, kecemasan Daniel seketika hilang berganti rasa takjub yang luar biasa.

Jeremy ternyata tidak menjauh. Alih-alih memberontak atau memasang gelagat defensif, pemuda itu justru bertindak di luar kendali logikanya sendiri. Di bawah pengaruh feromon menenangkan milik Nio, tangan Jeremy yang tadi lemas perlahan bergerak naik. Secara tidak sadar, digerakkan oleh insting murni untuk melindungi, jemari kokoh Jeremy mendarat di atas kepala Nio, lalu mengusap lembut rambut tebal putranya dengan penuh rasa sayang.

Jeremy sama sekali tidak keberatan dengan posisi seintim ini, bahkan wajah galaknya perlahan melunak, membiarkan Antonio terus mendekap pinggangnya dengan nyaman. Detik itu juga, Daniel tahu, ia telah menemukan orang yang tepat untuk menjaga jagoannya.