Work Text:
Beberapa tahun yang lalu, sang penyihir hebat Oblivionis memungut seorang anak manusia yang terlantar di tengah hutan. Ia menyadari potensi sihir tersembunyi yang dimiliki anak malang itu, kemudian memutuskan untuk menjadikannya sebagai satu-satunya murid di bawah naungannya, serta memberinya sebuah julukan, “Doloris” si penyihir duka.
Berkat asuhan Oblivionis, Doloris tumbuh menjadi seorang penyihir muda yang berbakat. Ia berhasil membuka berbagai potensi yang tak pernah disadari siapapun kecuali oleh sang Oblivionis. Meski begitu, jalan yang dilalui Doloris tak selalu mulus. Oblivionis selalu menaruh ekspektasi yang tinggi kepada Doloris, sedikit saja terdapat ketidaksempurnaan pada mantra yang ia rapalkan, Oblivionis akan memberikan hukuman sepuluh kali lebih berat dibanding rapalan sihir yang tengah ia pelajari.
Dan tanpa Doloris sadari, ia sudah melakukan sebuah kesalahan fatal hari ini.
“Oblivionis-sama… Haahh… Oblivionis-sama… Hnggh!”
Sang penyihir hebat memasuki gubuk kecil mereka dengan disambut oleh rintihan berulang dari muridnya. Ia menaruh sekeranjang penuh berisi tanaman herbal yang baru saja dipetiknya ke sembarang rak, kemudian bergegas menuju ruangan tempat suara Doloris berasal. Oblivionis memicingkan matanya, mengamati keadaan si penyihir muda yang sudah kehilangan kendali atas pikirannya itu. Di hadapannya, Doloris tengah memejamkan matanya erat, sama sekali tidak menyadari akan keberadaannya. Meski demikian, bibirnya tak henti merapalkan nama sang penyihir yang telah mengajarinya berbagai macam hal.
“Oblivionis-sama… Oblivionis-sama… !”
Sebuah organ baru telah tumbuh di area selangkangan gadis yang sedang terkapar itu, organ tumpul yang berdiri dengan tinggi menjulang. Doloris terus mengocoknya dengan kencang, menyelimuti benda itu dengan cairan yang keluar dari ujungnya.
Penyihir berambut perak itu meneguk ludahnya kasar. Ia harus tetap fokus terhadap sebuah permasalahan di depan matanya. Dalam otak cerdasnya, ia sudah memiliki rencana untuk membuat sebuah ramuan penawar yang bisa menyembuhkan muridnya dari kegilaan yang diciptakannya. Oblivionis melangkahkan kakinya menuju meja tempat Doloris sebelumnya meramu, mengamati bahan-bahan serta ramuan akhir yang berhasil dibuat oleh si penyihir muda.
“Oblivionis-sama…”
“Huh??” Oblivionis merasakan tubuh Doloris memeluknya erat dari belakang.
“Obu-sama…” Obu-sama??
“Doloris, kuasai dirimu. Aku akan membuat ramuan penawar untukmu.”
“Obu-sama, Obu-sama… Aaahh, Obu-sama milikku sudah kembali…” Doloris semakin mengeratkan pelukannya. Ia menghirup dalam-dalam aroma Oblivionis, membenamkan kepalanya pada rambut lebat sang master.
“T-Tunggu — Apa yang kau — ”
“Ahhnn… Obu-sama…” Gadis itu menggesekkan tonjolan miliknya pada bagian belakang Oblivionis, membiarkan cairannya terpeper ke pakaian yang dikenakan sang penyihir hebat itu. Ia menempatkan organ barunya di antara kedua paha Oblivionis, membuatnya tanpa sengaja terus menyenggol bagian privat milik Oblivionis karena fisiknya yang sedikit lebih tinggi dari sang master.
“Nggh, Dolo…ris!!”
Doloris terus menggerakkan pinggulnya ke depan dan ke belakang. Dengan tubuh Oblivionis dalam dekapannya, yang ada di pikiran Doloris hanyalah sensasi nikmat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia bahkan tidak sadar kalau entah sejak kapan, Oblivionis ikut menggerakkan tubuhnya mengikuti irama yang ia ciptakan.
“Obu-sama…!!” Sebuah hentakan keras diikuti dengan semburan kuat di bawah sana mengakhiri gerakan pinggul Doloris. Nafasnya terengah kasar. Ia menjatuhkan kepalanya ke bahu Oblivionis.
Sebuah helaan nafas panjang keluar dari bibir Oblivionis. Sang penyihir hebat kembali menaruh bahan ramuan ke atas meja, kemudian mengalihkan fokusnya ke gadis di belakangnya. Ia menahan tubuh Doloris yang masih lemas atas aktivitas barusan, membawanya ke ranjang pribadinya.
Oblivionis menyerah dengan pikiran logisnya. Untuk pertama kalinya, otak cerdasnya kalah dengan egonya sendiri. Rasa gatal di area sensitifnya benar-benar mengaburkan logikanya. Oblivionis menanggalkan pakaiannya satu demi satu, memperlihatkan tubuhnya yang telanjang bulat di hadapan Doloris.
“Obu-sama…?” Pandangan Doloris masih tampak mengawang, kesulitan memisahkan kenyataan dan halusinasi.
Jemari lentik Oblivionis mengusap pipi Doloris dengan lembut. “Sshh… Kali ini saja, aku akan berpura-pura tidak mengetahui kelalaianmu, Doloris.”
Ia membungkam bibir penyihir muda itu dengan bibirnya, melesakkan lidahnya dan bergulat bersama Doloris. Saat Oblivionis berusaha mengeratkan pelukannya untuk memperdalam ciuman, ia menyadari bahwa organ baru Doloris kembali bangkit dengan gagah perkasa.
“Hmph!”
Oblivionis menyentuh organ itu layaknya sebuah tongkat sihir, lembut dan sangat berhati-hati. Ia masih awam dengan efek dari ramuan sang murid, dan tidak ingin membuat Doloris tersiksa karena keteledorannya. Oblivionis memijati Doloris dari pangkal hingga ke ujungnya, memainkan jemari lentiknya pada lubang yang mulai mengeluarkan cairan bening sambil mengamati reaksi yang ditampilkan gadis pirang itu.
Sang penyihir hebat sudah tidak tahan lagi. Rasa gatal di bagian privatnya sudah tak terbendung. Ia menempatkan tubuhnya di atas Doloris, membidikkan organ Doloris yang menjulang tinggi tepat ke liang senggamanya. Perlahan namun pasti, Oblivionis mulai menyatukan keduanya.
“Dolo…ris!!”
“Obu-sama…”
Perasaan Oblivionis melayang tinggi, terbang hingga langit ke tujuh. Doloris berhasil mengisi kekosongan di bawah sana, memenuhinya dengan organ panjang nan tebal miliknya. Selagi Oblivionis menikmati sensasi baru itu, Doloris sudah tak tahan ingin menggerakkan pinggulnya. Ia menahan tubuh Oblivionis dengan kedua tangannya, memasang kuda-kuda dengan kedua kakinya, bersiap untuk menghentak.
“NGH — DOLORIS?!”
Nafas sang Oblivionis tercekat. Doloris yang memiliki fisik lebih kuat darinya berhasil membuatnya kehilangan keseimbangan. Tangan kanannya jatuh menumpu pada ranjang, sementara tangan kirinya memegangi baru Doloris erat.
“Obu-sama, Obu-sama…” Doloris terus menghentakkan pinggulnya, menyodok bagian dalam Oblivionis layaknya sebuah piston.
“Ahhh, Doloris…! T-Tunggu… Pelan — ”
Oblivionis hanya bisa meracau asal selagi air liur menetes dari mulutnya, jatuh tepat ke wajah jelita sang Penyihir Duka. Seluruh perkataannya tidak mampu Doloris dengar. Doloris hanya bisa menyadari suara merdu Oblivionis melalui kedua telinganya tanpa bisa menangkap makna dari ucapan sang master.
Tangan Doloris bergerak meraih tengkuk Oblivionis, menariknya ke dalam sebuah ciuman liar. Ia melahap bibir penyihir hebat itu tanpa ampun.
“Fuahh… Oblivionis-sama… Maafkan aku…”
Dengan gerakan lihainya, Doloris berhasil mengubah posisi mereka. Ia menghempaskan tubuh Oblivionis ke sisi ranjang dan menempatkan diri di atasnya. Dengan begitu, Doloris dapat lebih leluasa menggerakkan tubuhnya sendiri, menghantam bagian bawah Oblivionis dengan batang panasnya. Oblivionis menjepitnya erat, sangat erat, hingga membuat Doloris kehilangan akal. Sang penyihir hebat itu mengalungkan kedua kakinya, menahan Doloris agar tak dapat menjauhkan diri darinya.
“Dolo — ris!”
Namanya terus didesahkan Oblivionis di antara berbagai kata-kata yang tak mampu dirangkai sang penyihir.
“Ahh, Obu-sama, Obu-sama! Obu-sama milikku yang cantik jelita! Obu-sama yang sangat menawan! Oblivionisku seorang! Aku… cinta~” Doloris yang biasanya sangat berhati-hati terhadap apa yang ia ucapkan kini berani mengucapkan hal-hal memalukan tanpa ia pikir terlebih dahulu.
Penyihir muda itu terus memeperkan ciumannya di sela-sela sanjungannya pada sang master, membubuhkan tanda yang menunjukkan besarnya cintanya pada Oblivionis. Doloris membungkan bibir manis Oblivionis, tangannya juga tidak tinggal diam untuk meraih buah dada sang master dan memainkan putingnya dengan jempol.
“Doloris, Doloris!” Oblivionis terus meracau, sentuhan-sentuhan yang diberikan Doloris semakin membuat bagian bawahnya tak mampu membendung cairan kewanitaannya.
“Berikan aku berkahmu, Oblivionis-sama…”
Bisikan serak Doloris membuat pertahanan terakhir Oblivionis hancur. Ia tak berdaya di bawah tubuh muridnya sendiri, merintihkan nama Doloris sembari memuncratkan orgasme hebatnya. Di saat yang sama, ia juga merasakan cairan panas mengisi rahimnya, cairan yang ia yakini adalah hasil orgasme dari Doloris.
Tubuh Doloris bergetar seiring dengan gelombang kenikmatan yang ia rasakan. Sang master memeluk Doloris erat, memberikan gadis itu rasa aman dengan mengelus punggungnya lembut. Doloris yang malang pun akhirnya kehilangan sisa-sisa kesadarannya, membiarkan tubuhnya menimpa sang master.
“Ya ampun, Doloris,” Oblivionis mendengus. Ia tersenyum tipis seraya membalikkan tubuh Doloris ke sampingnya, menempatkannya ke posisi tidur yang jauh lebih nyaman. Sang penyihir hebat menyadari kalau organ baru yang muncul di tubuh Doloris mulai menyusut secara perlahan, kemudian menghilang. “Tidurlah yang nyenyak, Doloris-ku tersayang.”
[End.]
