Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 8 of T's Tiny Drabble
Stats:
Published:
2026-04-19
Words:
1,808
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
12
Hits:
389

Next to You

Summary:

From random prompt generator:

Patji & Ryujin go on a camping trip, Patji forgets to bring a sleeping bag, so Patji have to squeeze into Ryujin's sleeping bag with him.

Work Text:

Sebenarnya, keduanya nggak ada yang benar-benar suka camping.

 

 

Tapi Ryujin dan Patji, yang memutuskan akan mengikuti apapun yang random date idea generator munculkan dalam rangka tidak perlu sama-sama tidak enak apabila yang lain sebenarnya tidak terlalu menginginkan apa yang lainnya inginkan. Padahal Ryujin sudah bilang dia akan senang melakukan yang Patji inginkan; tapi Patji, yang tidak terlalu suka bagian ‘ngalahan’-nya Ryujin, bersikeras melakukan ini. Agak meribetkan, memang, tapi permainan ini sebelumnya sudah terjadi dua kali, dan ternyata semuanya lebih menyenangkan dari yang mereka awalnya bayangkan.

Pertama kali, adalah bouldering date, yang awalnya disambut kurang antusias dari Ryujin, karena bouldering adalah hobinya, dan walau dia sangat excited untuk mengenalkan dunia itu pada pacar kecilnya, dia takut dengan kemungkinan Patji tidak menyukai kegiatan tersebut. Walau pada akhirnya Patji hanya tinggal memanyunkan bibirnya—mengatakan bahwa, kalau dari awal tidak mau mengikuti komitmen random date idea generator itu, baiknya mereka nggak usah ada date night saja sekalian.

Menyerah, yang lebih tua akhirnya mengusap rambut Patji, dan perlahan mengajarkan bagian pemula untuk kekasihnya. Memperkenalkan beberapa istilah yang akan sering Patji dengar, kemudian memperkenalkan beberapa rute dengan pakem yang lebih mudah dipelajari. Dalam arahannya, Patji memperhatikan Ryujin yang terlihat begitu mahir, lalu nyengir. Satu hal untuk mengetahui kalau hobi Ryujin adalah memanjat; hal lain lagi untuk melihat Ryujin dengan serius mengajarinya hal yang dia suka.

(Pantas genggaman Ryujin seperti tidak pernah mudah terlepas.)

Mereka menghabiskan sekitar tiga jam, satu jam untuk membuat Patji membiasakan diri dengan banyaknya grip yang bisa dilakukan pada satu rute; kemudian satu jam berikutnya membiarkan Patji mencari sendiri rute yang paling nyaman dan paling aman—bouldering seringkali tidak memakai pengaman, dan Ryujin terlihat khawatir bukan main, walau Patji siap memukul lengannya karena ‘dia ngga selemah itu, ya’.

Kemudian satu jam terakhir dengan Patji yang memperhatikan Ryujin mencoba proyek terbarunya—rute yang belum berhasil dipecahkan—sambil memijat lengannya yang terasa pegal. Kemudian bertepuk tangan keras-keras ketika Ryujin berhasil sampai ke puncak rutenya. Patji senang melihat Ryujin, dengan pipinya yang memerah karena adrenalin, terlihat berseri-seri dengan suksesnya.

Beberapa teman Ryujin terdengar bersiul melihat mereka, tapi Patji (dan Ryujin!) mengabaikannya. Kan mereka, memang sedang berpacaran.

 

 

Kali kedua, adalah pottery class. Sebenarnya begini, Patji, menurut Ryujin, adalah seorang artis yang sangat baik. Kekasihnya pernah memberikan satu gambar bunga matahari cantik yang digambar Patji karena Ryujin terlihat lelah dan jarang tersenyum saat itu. Gambar itu masih dia simpan, terbingkai rapi di atas meja belajarnya.

Ryujin, sama sekali bukan seseorang yang pandai dengan seni. Menurutnya, seni adalah sesuatu yang akan dia nikmati dengan senang hati, namun dia sendiri tidak merasa diberkahi bakat untuk melakukannya. Tapi Ryujin tidak sempat benar-benar menolak, sih. Karena Patji terlihat berseri-seri untuk mencoba.

Pada akhirnya, mereka berdua sama-sama membuat cangkir. Yang sama-sama mereka tidak ketahui adalah, mereka membuat cangkir untuk digunakan oleh yang lainnya tanpa diskusi apapun sebelumnya. Ryujin membuat cangkir teh kecil yang pinggirannya sedikit tidak rata, dengan warna biru langit yang diberikan hiasan gambar alat musik walau agak sedikit tidak proporsional; sementara Patji membuat cangkir yang sedikit lebih besar, dengan warna putih-biru dan bunga matahari.

Ketika mereka menyerahkan karya yang tinggal dibakar itu, instruktur mereka tertawa dan menggoda keduanya. Begitu manis, kata instruktur mereka kala itu, bahwa mereka memikirkan satu sama lain dan menjadikannya sesuatu yang tidak bisa habis. Ryujin ingat merasakan pipinya kembali memerah, dan memperhatikan Patji pun begitu.

(Cangkir yang diberikan kepadanya tersimpan di dalam lemarinya, atas seizin Patji, tentunya. Karena dia tidak tega menggunakan cangkir tersebut. Sama halnya dengan Patji yang bahkan memasukannya ke dalam kotak transparan sebagai pajangan.)

 

 

Ketika akhirnya mereka melihat camping date pada random generatornya, mereka memutuskan untuk melakukannya sesimpel yang mereka bisa lakukan. Mencari camping ground yang tidak jauh dari pusat kota, merencanakan untuk meminjam saja peralatan dan tenda yang mereka butuhkan, dan hanya membawa hal-hal yang esensial.

Sehari sebelum pergi, mereka sudah bersiap-siap, meminjam dua sleeping bag, membeli beberapa makanan kering, dan memiliki check list pendek untuk perjalanan singkat mereka. Hanya hiking selama setengah jam dari tempat mereka memarkir mobil, mereka akan menginap satu malam. Mungkin membuat api unggun, atau berdua memandangi langit malam.

Beberapa waktu belakangan, Patji mulai senang menggenggam tangannya. Hal yang sebelumnya terlalu malu untuk mereka lakukan. Kadang agak aneh, menyadari kalau hubungan mereka sudah berevolusi dari sahabat dekat, menjadi sepasang kekasih. Sebelumnya Ryujin tidak menyangka bahwa dia akan menambahkan Patji menjadi salah satu kontak darurat setelah orangtuanya, walau kemudian tertegun ketika Patji, yang tertawa dengan telinga memerah, sudah menaruh Ryujin sebagai kontak darurat sejak lama.

 

Dalam perjalanan, Patji menggenggam tangan Ryujin lembut di dalam mobil—yay mobil otomatis!—kemudian menggamit lengannya ketika mereka turun di tempat istirahat untuk mengisi bahan bakar dan membeli beberapa botol air. Bahkan Patji sempat menyentuhkan telapak tangannya pada pipi Ryujin, dengan kedok membuat Ryujin merasakan betapa dingin tangannya.

 

Menggemaskan sekali.

 

Ketika akhirnya mereka sampai, dengan udara yang lumayan dingin dan pemandangan cantik yang membuat Ryujin memperhatikan senyuman Patji merekah seperti bunga matahari. Setelah melaporkan kedatangan, dan diberikan peta lokasi tempat mereka menginap, mereka berdua menurunkan barang. Sejak sebelumnya sudah sepakat untuk saling mengingat hal yang harus mereka masing-masing bawa. Entah barang mereka pribadi, atau hal yang kemudian akan dipakai keduanya.

Hari masih menuju waktu sore, ketika mereka sampai di tenda, dan menata barang-barang. Memutuskan untuk lebih dulu membereskan perlengkapan makan malam sambil membuat api unggun. Camping ground itu terhitung cukup ramai, tapi masih terasa adanya privasi diantara masing-masing tenda—mungkin juga mereka hanya terbiasa di dalam gelembung mereka berdua dimana tidak ada orang lain di dalamnya.

Memasak air panas, membuat minuman hangat. Kemudian memasak mie instan, sekaligus menghangatkan diri di depan api unggun. Bercerita tentang banyak hal, dari yang penting—seperti tugas kuliah mereka dan bagaimana mereka akan melakukan study date karena dua minggu lagi adalah ujian semester—hingga hal paling tidak penting—seperti preferensi kaos kaki Ryujin (no show socks), yang rawan membuat tumitnya lecet, tapi bersikeras tidak mau menggantinya menjadi, setidaknya, ankle socks.

Hal-hal yang membuat mereka menyadari, pergeseran peran dari sahabat menjadi kekasih ini, terasa lebih hangat dari jalaran minuman jahe yang mereka seduh.

 

 

Sebelum kemudian Ryujin menyadari kalau sleeping bag di dalam tenda mereka hanya ada satu. Dan dilihat dari warna yang ada, itu adalah miliknya.

“Patji?” Panggilnya, Patji masih di depan tenda, mematikan api unggun.

“Hm?” Jawab yang lebih muda, menyembulkan kepalanya, kemudian mentapa ke arah Ryujin, mengedipkan matanya pelan.

“Kamu lupa bawa sleeping bag dari mobil?” Tanya Ryujin, melihat raut wajah Patji yang terlihat bingung, kemudian memperhatikan daerah tidur mereka yang sudah dibereskan, dan hanya terlihat satu sleeping bag warna abu-abu milik Ryujin tanpa adanya sleeping bag warna biru miliknya. Kemudian mengerjapkan matanya.

“Ah, kayaknya iya, ketinggalan…” Jawab Patji, nadanya terdengar ragu, “aku ambil deh, mana kunci mobilnya Kak?”

“Aku aja, jalanannya gelap, udah jam segini juga, bahaya.”

“Ya sama bahayanya dong, kan aku yang kelupaan, aku yang ambil. Gak boleh gitu.” Ujar Patji, mulai merengut.

“…Yaudah nggak usah diambil,” ujar Ryujin, “kalau kamu keras kepala, kita tidur di satu sleeping bag aja.”

“Hah?”

“Ukurannya lumayan besar kok, walaupun mungkin kamu harus peluk aku supaya nyaman.” Ujar Ryujin lagi, nyengir.

Alih-alih menjawab, Patji malah menatapnya. Kemudian Ryujin, dalam tenda yang hanya disinari camping light standard berwarna kuning, melihat telinga dan pipi Patji yang berubah warna.

“See, sini aku ambilin aj—”

“Oke,” jawab Patji, memotong sanggahannya, “peluk aku ya. Awas kalau aku sakit pas UAS.” Lanjut Patji, kembali berbalik badan untuk menyelesaikan urusan api unggun dan menggosok giginya sebelum tidur. Meninggalkan Ryujin yang berkedip bingung.

(Dengan telinga yang terasa memanas)

Ketika akhirnya Patji kembali ke tenda, masuk, dan menutup zipper tenda mereka, Ryujin sudah berada dalam sleeping bag, yang dengan badan mereka yang terhitung kurus cukup untuk mereka berdua. Tadinya Ryujin memiliki ide untuk menggelar sleeping bagnya dan menjadikannya alas tidur, tapi, setelah dipikir lagi, kapan dia bisa memiliki alasan setengah asal bunyi untuk bisa memeluk Patji?

Mereka bertemu tatap sebentar, sebelum kemudian Patji mencopot jaketnya dan hanya memakai hoodie nyaman yang tidak terlalu tebal. Kemudian mulai masuk ke dalam sleeping bag. Kakinya menemukan kaki Ryujin, yang kemudian dia kaitkan dengan kakinya sendiri. Lalu tubuhnya dia posisikan hingga memeluk separuh bagian tubuh Ryujin.

“Kamu kayak koala.” Ujar Ryujin, terkekeh, menepuk rambut Patji. Yang berada dalam pelukannya. Agak terasa ingin teriak salting juga, ternyata.

“Biarin, kan yang penting nyaman.” Ujar Patji, “Kakak hangat.”

“Wangi nggak?” Goda Ryujin, iseng, sambil memastikan zipper sleeping bag mereka cukup nyaman.

“Hmm, wangi, selalu wangi kok. Aku suka.” Gumam Patji, “diem ah, ngantuk.”

Ryujin tertawa kecil, kemudian sebelum Patji benar-benar terlelap, dia berbisik.

“Aku boleh cium kening kamu?” Ujarnya perlahan.

Awalnya tidak ada jawaban. Ryujin tersenyum, mungkin Patji memang sudah terlalu lelah.

“Boleh,” sebuah bisikan lembut terdengar, gerakan mulut Patji yang menempel di bahunya, “kalau kening, selalu boleh. Nggak perlu minta ijin.” Bisikan itu berlanjut.

 

Ryujin kemudian menghidu daerah kepala Patji, lalu mengecup pelan kening kekasihnya yang luar biasa menggemaskan tersebut. Memutuskan untuk tidur, sebelum ada lagi bagian-bagian dari Patji yang tidak tahan untuk dia sentuh.

Posisinya membuat sebagian tubuhnya sedikit mati rasa, rasa dingin menjalar sedikit di tubuh karena sleeping bagnya tidak dia pasang sampai bagian lehernya. Tapi rasa nyaman dari sumber lain seperti membawanya lebih cepat mendarat pada mimpi-mimpi manis.

 

Keesokan paginya, dia terbangun dengan alunan nyanyian lembut persis di telinganya. Dengan telapak tangan seseorang yang mengetuk pipinya tidak kalah lembut. Matanya bertemu langsung dengan Patji, yang posisinya tidak bergeser banyak dari ketika mereka tertidur. Ada senyuman manis disana, dengan rahangnya yang otomatis membalas.

Ryujin membuka zipper sleeping bag mereka, kemudian memperhatikan ketika Patji melepaskan pelukannya dan merangkak keluar dari tempat mereka tidur tadi malam, memasang kacamatanya, dan mengambil peralatan mandinya.

“Pagi.” Sapa Ryujin, tersenyum.

“Pagi, Kak.” Jawab Patji, membalas senyum, “nyenyak banget, mimpi apa?”

“Mimpi dipeluk bidadari.” Ujar Ryujin, duduk di atas sleeping bag, “ternyata sampai bangunpun masih dipeluk bidadari.”

“Bodo amat ah.” Ujar Patji, keluar dari tenda dengan iringan tawa Ryujin yang mengikutinya.

 

Setelah bergantian beres-beres pagi hari mereka, pelan-pelan mereka membereskan semua barang yang mereka bawa. Dipisahkan dalam mana yang harus dibuang, mana yang akan mereka kembalikan, dan mana yang akan dibawa kembali dalam perjalanan pulang. Sebenarnya mereka tidak harus kembali sepagi ini, tapi mereka sudah ada keinginan untuk mengejar spot brunch yang agak jauh dari tempat mereka tidur, jadi mau tidak mau, mereka harus berangkat sekarang.

Ketika berjalan kembali, tangan Patji menggenggam tangan Ryujin ringan. Bersiul pelan sambil mengayunkan tangan mereka berdua seperti hal paling nyaman di dunia. Ryujin hanya mengamatinya, tangannya gatal ingin mengambil gambar dengan ponselnya; tapi kalau dia mengambil ponselnya, dia harus merelakan genggaman tangannya terlepas dari Patji, dan saat ini tidak ada yang lebih penting selain merasakan telapak tangan kekasihnya terkait di jari jemarinya.

 

 

 

(Pada date mereka yang ke lima—mini-golf, waktu itu—Patji kemudian mengaku kalau dia sengaja meninggalkan sleeping bagnya di mobil. Walau kemudian dia jujur melupakan kelakuannya sendiri. Tadinya dia pikir, mereka berdua bisa berbagi sleeping bag seperti alas, tapi tidak menyangka malah Ryujin menawarkan berbagi ruangan sleeping bagnya.

Alasannya hanya, dia ingin merasa physically lebih dekat dengan Ryujin.

Menggemaskan, kan?)

Series this work belongs to: