Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-04-17
Words:
850
Chapters:
1/1
Comments:
6
Kudos:
29
Hits:
288

din sor pong

Summary:

hari ini spesial. sedikit banyak basah, tapi tidak sial. songkran dan din sor pong, Sungchan merasa sentimental.

Notes:

din sor pong (ดินสอพอง);
a traditional Thai limestone-based white clay paste used during the Songkran festival, and symbolises protection, good luck, and blessing for the new year.

heavily based on this moment [x thread]

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

mata itu lagi. pandangannya teduh seperti saat terbaring di bawah pohon rindang sehabis asyik mengejar layangan, juga sejuk sebagaimana momen lawas menatap bintang dari atas atap rumah dengan angin yang menyapu sopan.

 

hari ini spesial. sedikit banyak basah, tapi tidak sial. masih terputar jelas di kepala Sungchan, waktu din sor pong itu berhasil dioleskannya ke wajah si manis. dan mata itu lagi. kadang perutnya merasa geli, sempat dia berpikir bahwa NASA itu konyol. memangnya seberapa perlu tim artemis ii untuk pergi jauh-jauh ke bulan kalau indahnya nggak akan lebih dari netra lelaki pisces dengan tinggi kurang enam sentimeter dari dirinya itu?  tapi mungkin itu memang pertanyaan yang nggak mau Sungchan beritahukan jawabannya, meski si manis sekarang berbaring nyaman di lengannya dan Sungchan bisa jabarkan kenapa dalam satu tarikan napas, ia memilih menjadi satu-satunya orang yang tau.

 

“tadi kamu kaget nggak?” Sungchan buka suara, layar telepon genggam yang mereka gunakan berdua untuk doom scrolling sedang menunjukan video tiktok kompilasi kucing tak acuh saat pemiliknya menangis.

 

Eunseok, lelaki pisces itu, mencibir kecil. tau kemana maksud obrolan Sungchan. “aku ada perasaan nggak enak sih,” mulainya. “but I can’t complain much about it.

 

“kenapa? because you’re secretly enjoying it?” wajah Sungchan maju sedikit, senyum terlukis kecil disana, asyik menggoda si manis yang berusaha untuk tidak bertemu dengan tatap matanya.

 

“apaan sih!” dada Sungchan dipukul pelan. namun semburat merah jelas merekah di pipi atasnya itu nggak bisa bohong. sepersekian detik kemudian kekehan memenuhi ruangan.

 

telepon genggam itu dimatikan dan ditaruh pada nakas, sebelum kemudian Eunseok berbalik badan dan memeluk kekasihnya. dagunya di atas dada Sungchan, miring sedikit kepalanya, dan mata itu lagi, menatap Sungchan dengan segala kemanisannya.

 

“kayaknya hari ini makin banyak deh, pasien RSKJSC.” wajahnya datar menatap lelaki di bawahnya. sulit untuk tidak peduli saat dirinya menjadi orang terpilih atas pemandangan ini. tangan Sungchan secara terpanggil, sadar, menangkup wajah si manis. 

 

“apa tuh, RSKJSC?”

 

“Rumah Sakit Korban Jung Sungchan!” jawab Eunseok lalu tergelak, puas dengan gurauannya sendiri.

 

Sungchan terkekeh pelan. tangannya sibuk berikan elusan halus pada wajah si manis. pipi ini kalau kepanasan cepat merah, batinnya. “kamu ada disana nggak?” tanyanya kemudian.

 

“hmm,” Eunseok bergumam. “dulu aku pasien disana agak lama sih, tapi sekarang aku udah sembuh.” matanya menatap atas, bibirnya dilipat tipis kedalam membuat ekspresi layaknya orang sedang berpikir.

 

“kok udah sembuh? am I not charming anymore?” bibir bawah Sungchan maju sedikit. cemberut. tangan Eunseok yang ada di atas dadanya dia bawa mengelus perut kotaknya yang menjadi perbincangan hangat di Thailand malam itu. “does this not move you anymore?”

 

Eunseok tertawa, perut Sungchan dicubit pelan. “aku udah sering lho liat ini. every night in my room.”

 

“inget nggak dulu muka kamu merah banget lho, pas aku pertama kali buka baju di depan kamu.” 

 

“dulu itu kamu kurang ajar dan sengaja! udah tau akunya naksir! malah buka baju di depanku!” cubitan itu mengeras, kemudian digantikan dengan tinjuan lemah. “apa tuh alasannya waktu itu? mau ngetes aku beneran suka apa nggak? kurang ajar emang.”

 

“tapi berhasil kan? kamu emang suka kan?”

 

“ya,” Eunseok mendecih. “suka lah!”

 

Sungchan tergelak puas. perutnya terasa geli lagi. pekerjaan ini emang nggak mudah, tapi banyak hal kecil yang eksistensinya cukup buat jadi kuat. seperti momen sekarang ini, Eunseok yang menatapnya penuh sayang dengan pipi yang dijatuhkan di atas dadanya. kalau manusia benar punya tujuh kembaran, Sungchan berdoa semoga Eunseok bukan manusia. tidak boleh ada orang lain yang seberuntung dirinya di hidup ini.

 

maka wajah manis itu ditarik mendekat. susah buat menahan diri kalau sepasang mata bulat lucu dengan entah intensi apa itu menatapnya dengan lantang. pipinya merah, rambutnya sedikit basah. yang kayak gini minimal dicium 24 jam di setiap pori-pori mukanya, kira kira begitu isi kepala Sungchan.

 

detik kemudian mendaratlah kecupan-kecupan itu lembut. pertama tepat pada kedua pipi merahnya. mata Eunseok refleks menutup lucu saat sadar dia akan mendapatkan serangan. lalu di hidung bangirnya, yang kemudian digesekkan pelan dengan milik si virgo. lalu naik ke kening, kali ini lama dan sedikit basah. Eunseok cubit pinggang Sungchan jengkel. 

 

Sungchan menarik mukanya, senyumnya merekah berbeda dengan Eunseok yang memasang wajah masam. jelas ada kekecewaan disana saat serangan itu durasinya lebih sedikit dari yang dia bayangkan.

 

“kok gitu mukanya? nggak suka?”

 

diam.

 

“nggak mau jawab?”

 

masih diam.

 

“ciumnya kurang?”

 

mengangguk kepalang antusias.

 

“di sebelah mana yang kurang?”

 

Eunseok memajukan dagunya acuh, berharap Sungchan paham maksudnya.

 

jelas Sungchan paham maksudnya. kadang yang dibutuhkan di hari yang panjang dan melelahkan itu bukan cuman istirahat, melainkan melihat kekasihmu yang jarang meminta dan punya aksi yang payah sedang berusaha sebisanya. mukanya datar tapi telinganya merah, benar-benar payah. ah gemas sekali.

 

Sungchan terkekeh untuk kesekian kalinya. dengan segala kerendahan hati,  dihapusnya jarak antara mereka. dua belah bibir itu bertemu atas dasar kerinduan yang cukup lama ditahan. ini bukan hiperbola, Sungchan rasa tidak mencium Eunseok selama satu jam saja rasanya seperti satu abad! dan Eunseok pikir Sungchan kurang ajar kalau tidak mencium dirinya minimal seperibu sekon sekali. manis, ah, menyenangkan.

 

pekerjaan ini emang nggak mudah, tapi kalau selepas penat dia dicumbu penuh kemanjaan dengan wajah yang dipegang tak diizinkan lalai, serta oksigen yang rasanya seperti tamu dilarang masuk, Sungchan pikir ini sepadan. 10 tahun? 100 tahun juga dia sanggupkan.

 

Notes:

hasil nontonin syongseok colek-colekan powder non stop dari berbagai sisi.
udah lama nggak nulis, sorry that it's less than 1000 words.
let me know what you think!
hit me up on x!