Chapter Text
Malam itu, Incheon tidak sedang tidur. Langitnya yang biasanya hitam pekat kini berubah menjadi oranye menyala, memantulkan api yang melahap habis rumah mewah milik Jenderal Kang di atas tebing. Suara sirine polisi meraung-raung dari kejauhan, kalah oleh deru angin laut dan suara retakan kayu yang terbakar.
Di dalam koridor lantai dua yang sudah dipenuhi asap tebal, seorang pria bergerak dengan presisi yang mengerikan. Wajahnya tertutup masker hitam, hanya menyisakan sepasang mata tajam yang dingin. Gerakannya efisien, tanpa suara, seolah-olah dia adalah bagian dari bayang-bayang itu sendiri. Tangannya yang terbungkus sarung tangan taktis memegang senjata laras pendek dengan posisi siap tembak.
Namun, langkah pria itu terhenti di depan sebuah pintu kayu ek yang mulai menghitam. Dari balik pintu, terdengar suara tangisan yang tipis. Suara seorang anak kecil.
"Papa...."
Pria itu mematung. Untuk sesaat, laras senjatanya turun. Di dalam kepalanya, sebuah memori yang terkunci rapat tiba-tiba berdenyut menyakitkan. Bayangan tentang ruang bawah tanah yang gelap, bau alkohol, dan rasa sakit dari cambukan ikat pinggang ayahnya muncul seperti kilat.
"Lokasi mulai dikepung. Pasang peledak sekarang!" Suara kasar dari earpiece-nya memecah lamunan itu. Rekan setimnya, muncul dari balik kepulan asap.
"Ada anak di dalam," suara pria itu serak, hampir seperti bisikan.
"Siapa yang peduli? Lenyapkan semuanya!"
Sebelum si pria itu bisa bereaksi, rekannya melemparkan sebuah granat termit ke dalam ruangan tersebut. Getaran hebat mengguncang seluruh bangunan. Jeritan di dalam sana hilang, digantikan oleh suara dentum ledakan yang memekakkan telinga.
Dunia seolah berhenti berputar bagi si pria. Fokusnya hancur. Dia berdiri diam di tengah hujan abu, mengabaikan seruan rekannya untuk mundur. Saat tim SWAT berhasil menjebol barikade depan, pria itu baru tersadar. Dia berlari menuju balkon yang menghadap ke laut lepas.
DOR!
Satu peluru kaliber 308 menembus udara malam, merobek rompi antipeluru dan bersarang di dada kirinya. Darah segar merembes, panas dan kental. Tubuh pria itu terhuyung, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh bebas dari ketinggian tiga puluh meter ke dalam laut yang dingin dan gelap.
Seminggu telah berlalu sejak malam berdarah itu. Di sebuah ruang rapat bawah tanah yang kedap suara di Markas Besar Kepolisian Nasional, atmosfer terasa berat oleh asap rokok dan ketegangan.
Choi Youngjae, sang Unit Leader OPS, melemparkan seberkas map tebal ke atas meja. Di depan mereka, layar proyektor menampilkan foto satelit jalur narkoba yang membentang dari Segitiga Emas hingga ke Seoul.
"Kita kehilangan jejak Jackson lagi," suara Youngjae penuh tekanan. "Dia membersihkan semua jejak setelah insiden kediaman Jenderal Kang. Satu-satunya aset yang kita miliki sekarang adalah dia."
Layar berganti. Menampilkan profil pria dengan tatapan mata yang tajam.
"Kim Dohoon. Usianya 22 tahun. Dia biasanya dikenal dengan nama Fenrir," Youngjae membacakan data itu dengan nada datar. "Dia kaki tangan paling mematikan milik Jackson. Dalam lima tahun terakhir, dia terlibat dalam 120 kasus pembunuhan terorganisir, termasuk eksekusi tiga agen rahasia kita. Dia teliti, cekatan, dan ahli senjata api. Dia pemegang kunci utama rute distribusi dan struktur internal kartel Jackson."
Youngjae mengganti slide ke dokumen lama yang buram. "Latar belakangnya kelam. Ayah kandungnya, Kim Sang-chul, adalah anak buah Jackson yang berkhianat. Sang-chul tercatat punya banyak kasus kriminal dan kekerasan. Dohoon kemungkinan disiksa setiap hari oleh ayah kandungnya sebelum akhirnya Jackson membunuh ayahnya dan mengambil Dohoon untuk dilatih menjadi mesin pembunuh."
"Dan sekarang kau bilang kita tidak bisa menginterogasinya?"
Youngjae mengangguk, ia mengganti slide, menunjukkan grafik aktivitas otak. "Benturan di laut dan trauma psikologis dari ledakan malam itu memicu mekanisme pertahanan diri yang ekstrem. Dohoon mengalami Complex PTSD dan Dissociative Amnesia. Secara mental, dia melakukan regresi, dia kembali ke masa di mana dia merasa paling butuh perlindungan. Yakni diperkirakan usia mentalnya saat ini di usia sekitar 8-9 tahun.“
"Lalu bagaimana kita menginterogasinya?!" bentak sang Komisaris di ujung meja.
"Kita tidak bisa," Youngjae menyela tegas.
"Jika Jika kita melakukan interogasi paksa, otaknya akan mengalami psychotic break. Dia akan benar-benar melupakan segalanya secara permanen. Kita butuh informasi darinya secepat mungkin, dia adalah IPO paling penting saat ini."
Seorang perwira lain menyela sinis, "Bagaimana kalau dia cuma akting? Bisa saja itu trik agar kita lengah."
"Secara medis, itu tidak mungkin," balas Youngjae lugas. "Dia sudah diperiksa berkali-kali oleh tim dokter kepolisian dan ahli saraf. Aktivitas otaknya menunjukkan regresi murni."
"Lalu apa solusinya?" tanya yang lain.
“Operasi khusus yang bersifat rahasia. Kita akan menggunakan metode non-interogatif melalui attachment figure. Pemulihan memori bertahap," jelas Youngjae. "Karena tersangka kembali ke usia 8-9 tahun, dia butuh sosok ayah. Kita akan merekayasa figur ayah dan menciptakan dunia yang 'aman' untuk memancing kembali memorinya. Projek ini berjalan satu bulan. Dia akan ditempatkan di sebuah rumah yang sudah dilengkapi CCTV di setiap sudut dan pengamanan ketat."
Youngjae menekan tombol remote. Foto seorang pria muda dengan senyum hangat dan latar belakang gedung FBI di Quantico muncul di layar.
"Tugas ini akan diserahkan pada Shin Junghwan, atau dikenal dengan nama Agen Shin. 27 Tahun. Lulusan terbaik Kriminologi. Agen FBI yang pernah menangani kasus besar human trafficking di Hong Kong tahun lalu. Dia ahli negosiasi dan profiler yang paling cocok untuk misi ini."
“Tapi risikonya terlalu besar," sela salah satu perwira lain. "Bagaimana kalau memori tersangka tiba-tiba muncul dan dia membunuh agen kita? Dia sudah menghabisi banyak orang dari kepolisian."
"Shin Junghwan adalah lulusan kriminologi yang tahu betul risiko ini," Youngjae meyakinkan. "Seluruh area akan diawasi CCTV 24 jam. Setiap malam, Agen Shin wajib memberikan laporan detail soal perkembangan subjek. Saya sendiri yang akan mengawasi mereka secara ketat."
Komisaris mengetuk meja. "Kalau dalam sebulan tidak ada progres?"
Wajah Youngjae mengeras. "Satu-satunya jalan terakhir, dia akan dibawa ke laboratorium militer. Di sana dia akan dipaksa menggunakan obat-obatan untuk memulihkan ingatannya. Walaupun risikonya... tersangka bisa tewas atau otaknya rusak total sebelum kita dapat informasi apa pun."
Setelah hening sejenak, sang komisaris akhirnya setuju.
Deru baling-baling helikopter memecah langit Seoul pagi itu. Helikopter berlogo Kepolisian Nasional mendarat di helipad atas gedung markas. Seorang pria dengan jaket bomber dan tas selempang hitam turun dengan santai.
Shin Junghwan melepas kacamata hitamnya, mengusap wajahnya yang tampak lelah setelah penerbangan panjang dari Hong Kong.
Di pinggir landasan, Youngjae sudah menunggu dengan tangan di saku celana. Begitu Junghwan mendekat, Youngjae langsung merangkul bahunya.
"Wajahmu makin terlihat seperti pengangguran daripada agen FBI, Shin," canda Youngjae sambil menepuk bahu temannya itu.
Junghwan terkekeh tipis. "Sialan kau, Choi. Kau memaksaku terbang ke sini bahkan sebelum aku sempat tidur di kasurku sendiri. Jadi, siapa targetnya? Kau bilang di telepon ini kasus khusus?”
Youngjae terkekeh, mendekat dan langsung merangkul bahu Junghwan.
"Kasus menarik. Ayo, kita bicara di ruanganku," jawab Youngjae, ekspresinya berubah serius.
Ruang kerja Youngjae penuh tumpukan kertas. Junghwan duduk disana sambil membolak-balik map tebal berisi profil Kim Dohoon. Dia melihat catatan dam berita-berita mengerikan tentang pembantaian yang dilakukan kartel narkoba, dimana Dohoon jadi salah satu eksekutornya.
Lalu, dia sampai pada bagian paling bawah. Foto masa kecil Dohoon. Foto seorang anak laki-laki berusia 8 tahun, dengan bekas luka memar di lengannya. Ada catatan medis lama tentang kekerasan yang dilakukan ayah kandungnya. Junghwan mengusap foto anak kecil itu. Dia bisa merasakan kesedihan yang terpendam di sana.
Rumah Sakit Jiwa Kepolisian Nasional terasa sunyi. Hanya suara langkah sepatu Junghwan yang bergema di koridor steril itu. Dia meninggalkan pistolnya di mobil. Dia hanya membawa sebuah boneka anjing kecil yang baru dia beli sebelum kesini.
Di dalam kamar berukuran 4x4, dia melihat Dohoon. Pemuda itu tidak terlihat seperti kriminal yang ditakuti. Dia meringkuk di pojok, membelakangi pintu, sambil menggambar sesuatu di lantai menggunakan jari-jarinya yang gemetar.
Junghwan membuka pintu perlahan. Bunyi engsel pintu membuat Dohoon tersentak. Dia berbalik dengan sangat cepat, wajahnya penuh ketakutan.
"Jangan... jangan pukul..." bisik Dohoon, menutupi kepalanya dengan kedua tangan. Suaranya kecil dan pecah.
Junghwan langsung berlutut, menjaga jarak sekitar dua meter agar Dohoon tidak panik.
"Hai," kata Junghwan dengan suara yang sangat empuk, suara yang biasa dia gunakan untuk menenangkan korban penculikan.
“Aku tidak akan memukulmu. Lihat, aku bawa teman untukmu."
Junghwan meletakkan boneka anjing itu di tengah lantai. Dohoon menurunkan tangannya sedikit, menatap boneka itu dengan ragu.
"Namanya Icarus," kata Junghwan lagi. "Dia juga sering ketakutan kalau sendirian. Jadi dia butuh teman sepertimu."
Dohoon menatap Junghwan dengan mata yang basah oleh air mata. Dia memperhatikan wajah Junghwan lama sekali, seolah sedang mencari sesuatu di dalam ingatannya yang acak-acakan.
"Ayah..?”
Junghwan tersenyum tipis, "Iya, Nak. Ayah datang. Kita pulang sekarang, ya?"
Dohoon ragu sejenak, lalu perlahan dia merangkak mendekat. Saat tangannya menyentuh tangan Junghwan, dia langsung menggenggamnya kuat-kuat. Junghwan lantas menarik Dohoon ke dalam pelukannya. Dohoon menangis tersedu-sedu di bahu Junghwan. Dari balik pintu, Youngjae menatap mereka, lalu memberikan isyarat pada timnya untuk menyiapkan mobil.
