Work Text:
LH as Elijah (Bebe)
TS as Madea (Sayang)
Madea kurang ingat tepatnya, tapi yang pasti semenjak dirinya tinggal di kosan, hubungannya dengan Elijah terasa lebih… dewasa. Setelah setahun lalu Madea memutuskan untuk tinggal di kosan yang berjarak lebih dekat dengan kampusnya – dan rumah Elijah – rasanya tak ada sehari pun Elijah tidak menginjakkan kaki di kosan Madea, sampai-sampai pemilik kosan Madea hafal dengan plat nomor mobil Elijah. Beberapa bulan pertama Madea tinggal di kosan, sih, semuanya masih aman. Setiap kali Elijah main ke kosan pasti yang laki-laki itu lakukan hanya meminjam kasur Madea untuk berbaring santai sambil bermain handphone atau memperhatikan Madea yang duduk mengerjakan tugas di meja belajarnya.
Semua berjalan aman sampai tak terasa sudah hampir enam bulan Madea tinggal di kosnya. Setelah enam bulan pun Elijah masih tak pernah absen untuk bertamu di kos pacarnya itu. Namun, ada satu hari di mana Elijah berbeda dari hari-hari sebelumnya. Elijah yang biasanya akan diam berbaring di kasur Madea, hari itu memilih untuk berdiri di belakang kursi yang Madea sedang duduki. Wajahnya ia bawa ke ceruk leher Madea lalu ditinggalkannya kecupan-kecupan kecil. Aksi Elijah tentu mengganggu Madea yang saat itu sedang mengerjakan tugas kuliahnya.
Beberapa protes Madea layangkan guna memberhentikan aksi lelaki di belakangnya. Bahkan beberapa kali Madea menyikut pelan dada Elijah, menyuruh pacarnya itu duduk diam saja di kasurnya dan tidak lagi mengganggu dirinya yang masih dipusing tugas. Bukannya mengiyakan perintah Madea, Elijah malah semakin gencar mengerjai pacar cantiknya. Yang semula hanya kecupan-kecupan kecil, tiba-tiba berubah menjadi gigitan disertai jilatan di leher Madea. Tangan Elijah juga bergerak untuk memiringkan kepala Madea, memberikan ruang tambahan baginya untuk menjalankan aksinya.
“Bebe? Ngapain sih kamu, Be?” Madea langsung bersuara ketika Elijah semakin semangat menggerayangi lehernya. Madea yakin lehernya pasti sudah mengkilap hasil jilatan dan kecupan dari Elijah.
Elijah tak menjawab tetapi Madea bisa merasakan wajah pacarnya yang bergerak naik ke atas dan berhenti di depan daun telinganya. Deru nafas Elijah menyapu pipinya, lalu suara bisikan Elijah menyapa pendengaran Madea.
“Kamu cantik, cantik banget. Boleh ga?” Elijah mengajukan pertanyaannya sambil kembali mengecup daun telinga Madea. Tangan kanan Elijah bahkan sudah bersiap untuk menyingkap baju putih Madea. “Kamu cantik banget, aku ga bisa tahan, Sayang. Boleh ya?”
Madea tak tau bahwa ternyata anggukan setujunya pada pertanyaan Elijah hari itu menjadi permulaan yang baru bagi hubungan keduanya. Madea tak tau bahwa ternyata anggukan setujunya waktu itu akan membawanya merasakan sentuhan Elijah lebih lagi seperti saat ini.
"Be..? Be– Ahn! Jangan digituin– AH! Bebe!"
Elijah berani bersumpah kalau sedari tiga puluh menit yang lalu, suara Madea terus-terusan mengisi telinganya. Dari suara rintihan, lirihan, sampai desahan, semua Madea keluarkan secara vokal. Dan Elijah akan mengakui bahwa suara Madea adalah suara yang ga akan gagal bikin dirinya melewati batas.
Kalau dipikir lagi, wajar saja bagi Madea untuk mengeluarkan suara-suara tersebut. Bagaimana tidak? Dirinya dibaringkan di atas kasur, kaos hitam bertuliskan Metallica sudah tersingkap sampai di atas dada, kakinya dibuat terbuka lebar, celana pendek dan dalamannya sudah entah ada di mana, dan lubang vaginanya kini sedang diisi dua jari Elijah. Intinya, Madea sedang dikerjai habis-habisan sama pacarnya.
“Jangan digituin gimana, Sayang? Bilangnya jangan digituin tapi kok bocor terus?” Jarinya semakin cepat menggaruk klitoris Madea sampai pacar cantiknya itu menekuk jari-jari kakinya.
Sialan, Elijah dan mulut sialannya itu. Madea gimana tidak bocor? Dua jari Elijah bergerak cepat di dalam vaginanya, tak jarang jarinya dengan sengaja menyenggol dan menggaruk klitoris Madea disertai dengan ucapan-ucapan kotor yang semakin meningkatkan hawa nafsu di sekitar keduanya.
Kepala Madea menggeleng heboh, jari-jari kakinya kembali menekuk, pinggulnya kini ikut bergerak. Tangan kirinya juga sudah berada di atas putingnya sendiri, memutar dan mencubit. Madea sudah hampir sampai.
“Bebe! Hng… Be, enak! Enak, aduh! Aku mau– Bebe, Ahn– Pipis! Bebe, pipis! Memeknya aku– Ah! Digaruk! Bebe, enak digaruk, pipis! Aku pipis! Enak jarinya, Bebe…” Madea keluar. Banyak sekali sampai jari Elijah hampir terdorong keluar dari lubang vaginanya. Madea berhasil membasahi kasurnya hanya dengan dua jari Elijah.
Melihat hasil perbuatannya, Elijah tersenyum lebar sambil mengeluarkan kekehan kecil. Wajahnya ia bawa ke hadapan wajah Madea yang masih terlihat kacau. Mata Madea masih terpejam, bibirnya masih terbuka, nafasnya masih berantakan. Astaga rasanya Elijah ingin mengabadikan wajah setelah orgasme milik Madea dalam handphonenya, foto yang akan ia gunakan setiap kali Elijah ingin masturbasi.
Elijah cium bibir Madea, tangannya ia letakan di pinggang ramping si cantik. Madea mau protes rasanya. Elijah ga memberikan dia waktu untuk istirahat barang semenit saja! Memangnya dia ga lihat ya sekacau apa kondisi Madea sekarang? Elijah malah kembali mencuri nafasnya dengan ciuman yang semakin lama semakin terburu-buru. Kedua tangan Madea bahkan sudah meremat pundak Elijah namun tampaknya lelaki berambut gondrong itu tak peduli dengan rematan erat di pundaknya.
“Be.. Sebentar..”
Mendengar lirihan pelan Madea, Elijah dengan baik hati melepaskan cumbuan di bibir bengkak Madea. Elijah kini hanya diam sambil memperhatikan wajah Madea dari samping, tangannya mengelus pipi merah padam di hadapannya. Madea cantik, selalu cantik.
“Sayang, muka kamu bikin sange banget. Kalo kamu hamil pasti makin cantik. Mau ga hamil?”
Mata Madea yang semula terpejam dengan sekejap langsung terbuka setelah mendengar ucapan yang terlewat kotor keluar dari mulut Elijah. Laki-laki gila, Elijah laki-laki gila. Kan, Madea sedang istirahat sebentar! Kenapa malah dibuat kembali basah dan becek di bawah?
Tangan Elijah terulur untuk membawa tangan kanan Madea mendekat ke tubuhnya. Panas nafas Elijah langsung terasa saat tangan Madea kini berada di selangkangannya. “Sayang.. Udah boleh? Aku udah ngaceng banget.”
Ucapan Elijah terdengar seperti lirihan di telinga Madea. Duh, Madea jadi kasihan, kan! Dipikir-pikir memang kurang adil, sih. Madea sudah dibuat keluar sedangkan Elijah masih menahan kerasnya sampai saat ini. Maka dengan cepat Madea mengangguk mengiyakan.
Melihat anggukan Madea, Elijah langsung kembali mencumbu bibir bengkak di hadapannya. Bibir Madea dilumat, dijilat, digigit oleh Elijah. Bersamaan dengan lidahnya yang masuk ke dalam mulut Madea, tangan kiri Elijah yang menganggur ia bawa ke dada Madea. Puting Madea sudah mengacung tegak karena stimulasi dari ciuman Elijah.
Jari telunjuk dan jempol Elijah bermain di areola Madea. Putingnya dicubit, digaruk, dipilin sampai si empunya membusungkan dadanya. Kaki Madea juga bergerak merapat, pahanya ia satukan guna menahan sesuatu yang tak henti-henti keluar dari vaginanya.
Kepala Madea pusing sekali. Elijah sudah tidak mencumbunya sekarang, laki-laki itu sedang asik bermain dengan puting Madea. Jarinya masih bermain di puting kiri, sedangkan mulutnya menjamah puting kanan Madea.
Puting kanan Madea dijilat, diemut, dan diisap kencang seakan-akan ada cairan yang bisa saja keluar dari sana. “Hng.. Bebe.. Jangan kenceng-kenceng, ga akan keluar susu nenennya.”
Elijah menggeleng. “Keluar, Sayang. Hari ini aku hamilin dulu, nanti pasti keluar. Mau kan nenennya keluar susu? Pas kamu hamil pasti bisa keluar susunya yang banyak. Enak, Sayang, dikenyot begini? Enak dimainin gini nenennya?”
Mata Madea kembali terpejam, kepalanya mengangguk. “Hah! Enak.. Enak banget, Bebe. Bebe suka nenen, ya? Enak ya nenen? Nanti.. Ahn– Nanti kalo aku udah hamil, Bebe.. Hng– Bebe boleh nenen setiap hari, minum susu setiap ha– AH! Jangan digigit!” Madea sontak menjerit ketika dirasakan gigi Elijah menggigit putingnya. Tangannya langsung menjambak pelan rambut Elijah.
Puas bermain di dada Madea, Elijah jauhkan wajahnya dari kedua titik bengkak itu. Mata Elijah langsung menangkap Madea yang memperlihatkan raut kecewa. Ia kecup sekali bibir Madea lalu tersenyum. “Udahan nenennya. Aku mau kontolin kamu. Memeknya mau ga dikontolin?”
Madea langsung mengangguk, kakinya kembali ia buka lebar ketika melihat Elijah bergerak ke antara kakinya. Lenguhan kembali lolos ketika Elijah dengan sengaja mengusap vagina Madea dengan jempolnya.
“Wah, bocor banget ini. Udah cengap-cengap mau diisi kontol, ya? Memangnya tadi pake jari aku masih kurang, Sayang? Memeknya suka murahan ya kalo ditawarin kontol?” Jari telunjuk dan tengah Elijah melebarkan labia Madea sampai sang empunya hanya bisa melenguh keenakan. Madea mengeluarkan suara teriakan tertahan saat Elijah menjilat lubang kawinnya. Astaga, Elijah belajar dari mana sampai bisa sejago ini?
“Be.. Ya ampun.. Be, jangan dijilat terus, nanti aku bisa pipis! Be! Bebe, masukin aja langsung, Be. Please.. Gatel banget!” Madea terus meracau sampai tanpa sadar kedua pahanya kini menjepit kepala Elijah di bawah sana.
Elijah tepuk paha Madea dua kali lalu kembali dilebarkan. “Ga mau dijilmekin tapi pahanya ngerapet, omongannya suka ga sinkron sama kelakuannya ya kalo udah tolol gini? Belom juga dimasukin, udah tolol aja.”
Madea terus-terusan melenguh, dia udah ga peduli dengan ucapan kasar yang dilontarkan Elijah. Madea cuman mau Elijah buru-buru mengisi lubang kawinnya, penuhin rahimnya, dan bikin dia semakin ga berdaya. Maka setelah dia sadar kalau Elijah sudah mengangkat wajahnya, Madea dengan buru-buru mendekatkan dirinya ke selangkangan Elijah lalu menggerakan pinggulnya sendiri. Persetan dengan Elijah yang masih memakai celana, Madea sudah ga tahan!
“Enak! Memek digaruk celana jeans, enak! Ah.. Aduh.. Gatel! Bebe… Mau… Masukin, gatel…” Tangan Madea sekarang ngeraih zipper jeans Elijah, berusaha diturunkan karena isi celana jeans Elijah juga kelihatan penuh banget.
Kedua tangan Elijah dipake laki-laki itu untuk nopang tubuhnya di atas tubuh Madea, dibiarkan ada di sisi kanan dan kiri tubuh Madea sembari matanya ngelihatin Madea yang masih sibuk tarik turun zipper celananya.
“Bebe, tolongin.. Buka celananya, Bebe, katanya udah ga tahan?” Suara Madea mulai serak karena dirinya mulai menangis. Tangannya yang sedari tadi sibuk mencoba untuk menurunkan zipper celana Elijah ternyata tidak membuahkan hasil. Entah karena pergerakannya yang terlalu terburu-buru atau karena posisi Elijah yang menyulitkan Madea untuk membuka celana laki-laki itu, intinya Madea frustasi berat. Madea sudah ga bisa tahan lagi, Madea pusing.
Bersamaan dengan suara kekehan pelan yang lolos dari bibir Elijah, laki-laki itu kemudian menegakkan punggungnya lalu menurunkan zipper celananya, membuat Madea langsung menyeka air mata yang sempat turun ke pipinya. Dilihat celana jeans serta dalaman milik Elijah sudah berada di lantai kamar kosnya, Madea dengan seketika menarik tubuh Elijah mendekat.
“Ini udah dibuka celananya, terus aku harus ngapain, Sayang?”
Aduh, Elijah ini. Katanya sudah sagapung? Tapi kok masih bisa-bisanya ngegodain Madea dulu? Kan jadinya Madea yang kelihatan kegatelan dan murahan sekali.
Telapak tangan Madea langsung melingkar di kemaluan Elijah yang sudah tegak sempurna dan basah dengan pre-cum di ujungnya. Telapak tangan itu kemudian mengocok pelan milik Elijah sampai sang empunya melenguh dan mendongakan kepalanya.
“Sayang.. Pinter, Sayang..”
Tak lama setelahnya, tangan Madea yang masih mengocok ditahan oleh Elijah. Rasanya laki-laki itu akan keluar sebentar lagi kalau Madea terus-terusan mengocok miliknya. “Coba kasih liat aku mana memek cengap-cengapnya? Mana memek yang mau dimasukin kontol? Mana yang mau dihamilin?”
Ga pake lama, Madea langsung makin melebarkan kakinya. Benar-benar ia perlihatkan lubang kawinnya yang sudah berkedut siap diisi.
Jari telunjuk Madea mencolek isi lubang kawinnya lalu jari telunjuknya yang basah itu ia bawa ke hadapan dua belah bibir Elijah, Madea usapkan basah telunjuknya di atas bibir Elijah sampai bibir bawah laki-laki itu terlihat jejak basah. Jari Madea yang tak lagi melukis di atas bibirnya membuat Elijah mengulum bibir bawahnya, seperti sedang merasakan cairan cinta milik Madea.
“Enak, Sayang. You always taste so good, tau kan?”
Sedetik kemudian Elijah langsung menarik kedua paha Madea sampai ujung kemaluannya menabrak lipatan vagina Madea. Belum masuk memang, tapi cukup membuat Madea meloloskan lenguhan akibat gesekan itu.
“Masukin ya? Kayaknya bakal sakit, Sayang. Memeknya masih rapet kan? Padahal udah sering dijebol.” Elijah goda lagi lubang Madea dengan ujung kemaluannya. “Masih rapet ga memeknya, Madea?”
Anggukan heboh pun dihadiahkan pada Elijah. Sumpah demi apapun, Elijah selalu lebih banyak bicara di saat-saat yang tidak tepat. Saat ini contohnya.
“Dipake mulutnya, Madea. Jangan desah-desah doang bisanya. Bisa ga jawab?”
“Hah… Rapet, Bebe. Masih rapet memeknya.. Jangan panggil– Ahn.. Jangan panggil Madea, panggil Sayang…” Madea menatap wajah Elijah dengan kedua mata berkaca-kacanya.
“Boleh masukin, ya? Janji enakin Bebe, aku janji. Masukin ya, Be?”
Cantik sekali lirihan Madea. Selalu cantik.
Pinta Madea langsung Elijah aminkan. Tanpa membalas lirihan Madea, Elijah langsung melesakkan miliknya ke dalam lubang kawin Madea. Elijah menggeram tertahan, Madea menggigit kencang bibir bawahnya.
Rasanya Madea ingin teriak sekencang mungkin karena perlakuan Elijah. Entah lelaki itu tidak sadar diri atau karena sudah kepalang nafsu tetapi milik Elijah yang besar itu seperti akan merobek dinding vagina Madea dan Madea tak bisa melakukan apa-apa lagi selain menggigit bibir dan menahan sakit pada bagian bawahnya. Mata Madea terpejam seiring dengan berjatuhnya tetesan air mata pada pipinya, Madea menangis lagi.
Melihat kekasihnya menahan sakit sampai menangis, Elijah langsung membungkukkan punggungnya untuk menghapus jejak air mata Madea dengan kecupan di pipinya. Jarinya juga ia arahkan ke bibir bawah Madea, menyuruh si cantik melepaskan gigitan pada bibirnya sendiri.
“Maaf, maaf, Sayang. Jangan digigit ya bibirnya, nanti berdarah, Sayang. Maaf, sakit sebentar, ya, Cantik.” Lalu Elijah tinggalkan lagi beberapa kecupan di bibir dan pipi Madea.
Madea mengangguk, matanya pelan-pelan terbuka. “Gerak, Bebe. Udah enggak sakit lagi sekarang. Gerak pelan-pelan dulu, Bebe.”
Dituruti lagi pinta Madea. Dengan perlahan Elijah menggerakan pinggulnya. Tangan kirinya ia tempatkan di pinggang Madea, sedangkan yang kanan menjadi tumpuan tubuhnya. Tak lama kemudian, Elijah sudah mulai merasakan dinding vagina Madea yang jauh lebih rileks, terbukti juga dengan suara desahan Madea yang mulai terdengar. Matanya menangkap Madea yang kini sudah kembali memejamkan matanya, bibirnya terbuka untuk meloloskan desahan, dan tangan kanannya yang mencengkram lengan Elijah.
“Udah enak, Sayang? Enak dikontolin?”
Madea mengangguk. Jari kakinya sudah menekuk, dadanya sudah Madea busungkan. “Hng.. Enak.. Enak banget, Bebe! Kontolnya enak banget, aku suka. Memek aku suka. Enak.. A–aah! Mentokin! Mentokin aja, Bebeeee. Enak! Ah, anjiiiing!” Jeritan Madea diakibatkan oleh serangan tiba-tiba Elijah pada dadanya.
Mulut Elijah melahap habis puting Madea. Ia kulum lalu ia jilat kasar. Ujung lidahnya juga Elijah tabrakan pada pucuk puting Madea. Tangannya yang menganggur Elijah bawa pada puting satu lagi. Ujung kukunya menggaruk puting Madea kasar lalu dipilin, dicubit, disentil. Astaga, rusak sudah kedua puting Madea.
“Oh my God, Bebe! Bebeee, kenyotin– Nenen! Nenen aku dikenyot… Fuck! Aduuuuuh.”
Racauan Madea buat Elijah lebih semangat menggenjot lubang kawin di bawahnya. Rasanya mau Elijah mento–
“Mentok! Aku– Aah.. Aku mentokin kamu, Sayang.. Ngentot! Ngentotin memek kamu selalu enak. Ini mentok!”
Pinggul Elijah dengan cepat menghentak-hentak tubuh Madea. Elijah sudah dibawa terbang ke langit karena rasa nikmat. Kepalanya kini sudah mendongak, bibirnya sudah terbuka lebar, urat-urat di lehernya semakin terlihat. Elijah udah sange berat.
Dirasa dinding vagina Madea mulai ketat, Elijah tambahkan kecepatan genjotannya. Tubuh kecil Madea sudah terhentak-hentak kencang, kaki kanannya sudah Elijah tahan agar tetap terbuka lebar. Madea sudah hampir sampai, Elijah tau itu karena dirinya pun sudah hampir mendapatkan putihnya.
“Be! Bebe, ah! Ah! Be, bol– Ah.. Boleh pipis? Enak, mau pipiiiss! Duh, aduh, mentokin! Mentokin! Rahim.. Rahim aku, kenain!”
“Iya, Sayang.. Ini mentok! Kena rahimnya, kena– Ah! Ah, ngentot enak banget, bangsaaat! Hamil ya kamu? Hamil ya, Sayang. Fuck! Goblok, memek lonte seenak ini! Fuck!”
Elijah tahan sebentar orgasmenya demi bagian kesukaannya. Mengucek klitoris Madea dengan jempolnya.
Mata Madea juling ke atas, lidahnya terjulur sampai salivanya berantakan di dagu, dadanya membusung. Jempol Elijah sedang mengerjai klitorisnya.
“Itil! Ah– Itil aku! Nnh, itilnya dikuceeek. Bebe! Bebe! Itu itil aku.. Ah! Nghh.. Itilnya dimainin jempol.. Enak! Enak En– Pipis! Pipis! Jempolnyaaa minggir, Bebe! Aku pipis enak! Ah!”
“Suka, Sayang? Hah… Enak itilnya dimainin? Enak, ya? Sampe juling. Boleh, Sayang, pipisin aku. Ah! Bangsat! Pipisin aku yang banyak, Cantik. Keluarin pipis enaknya. AH! Kontol aku mau meledak, enak! Enak!” Genjotan Elijah masih sama kencangnya. Beberapa kali juga ia hentak putus-putus pinggulnya sampai terasa mentok dengan rahim Madea.
Madea hanya bisa mengangguk sambil menangis. “Ga kuat! Pipisnya.. Keluar.. Ahn! Huhuhuhu enaaakkk!” Tepat di akhir desahannya, tubuh Madea bergetar hebat. Perutnya mengejan, matanya tertutup.
“Pinter.. Pinternya, Sayang! Aku crot! Crot di dalem, Sayang, ya? Biar hamil, biar nenennya keluar susu ya? Enak! Hamil ya kamu, hamil! Anjiiing!” Elijah ikut menjemput putihnya dengan pinggul yang masih terhentak-hentak kecil pasca orgasme. Elijah bucat di dalam vagina Madea.
Elijah tarik keluar miliknya sampai berada di ujung lipatan vagina Madea, melihat bagaimana pejunya dan cairan cinta milik Madea keluar lubang kawin si cantik. Madea kira Elijah akan benar-benar mengeluarkan kemaluannya dari vagina miliknya, namun siapa yang sangka Elijah dengan tiba-tiba malah kembali memasukkan penisnya ke dalam lubang kawin Madea sampai ujung kemaluan lelaki itu bertabrak dengan rahim Madea.
“Hhn! Beeee! Ngapainnn? Ahn!”
“Biar beneran hamil, aku simpenin pejunya di rahim kamu. Udah pasti jadi habis ini.”
Ya ampun, Madea sudah teler parah. Kepalanya sudah pusing, tenggorokannya sudah sakit, dan bisa-bisanya Elijah masih memikirkan hal jorok seperti itu.
Tak lama kemudian, Elijah tarik miliknya keluar dari lubang kawin Madea lalu Elijah hadiahkan beberapa kecupan di wajah dan bibir Madea.
“Tidur aja, Sayang. Ini aku yang bersihin, ya?”
At least, Elijah adalah laki-laki yang bertanggung jawab.
