Actions

Work Header

Heartbeat

Summary:

Tentang Sion, Riku, dan anklet yang sampai saat ini masih belum dilepas dari kakinya.

Notes:

Guyssss oh my god ini dibuat 2 jam dan aku post langsung tanpa edit (mungkin nanti bakal diedit) karena kalo edit sekarang nanti gak jadi terus upload fic-nya. Terus ini terinspirasi dari lagu cuma aku ubah biar mereka endingnya happy, soalnya di lagu aslinya mereka pisah ke jalan masing-masing, which is gak mau aja bikin kayak gitu. Itu aja hope you enjoy this!!!!!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Riku menyadari kehadiran Sion begitu pria itu melangkah masuk ke ruang reuni. Memang agak sulit untuk tak menyadari keberadaan Sion, dikarenakan sedari dulu pria itu selalu berhasil menarik perhatian di manapun dia berada. Seperti sekarang, walaupun penampilannya yang masih saja sederhana, kacamata yang bertengger di wajahnya, dan potongan rambut yang membuatnya terlihat sangat dewasa, Sion tetap saja nampak berkali lipat menawan dibandingkan temannya yang secara terang-terangan mendandani diri mereka. Meski memang yang jadi faktor utama adalah wajah pria itu yang bisa dibilang punya ketampanan di atas rata-rata.

Sion yang ada dalam ingatan Riku memang tak persis seperti yang dilihatnya sekarang. Sudah hampir sepuluh tahun sejak mereka lulus sekolah menengah atas, jadi Riku sadar betul pasti akan ada banyak perubahan yang terjadi. Meski begitu, ia tak bisa menahan perasaan campur aduk, lantaran melihat pria yang sejak lama mengisi hatinya itu tetap saja memiliki senyum yang sama. Senyum hangat yang selalu diberikan Sion kepadanya.

Sion tersenyum saat menyapa teman-teman sekelas. Meski hanya senyum kecil, namun dia selalu terlihat seperti tulus melakukannya. Lagi-lagi, Riku merasa aneh lantaran ia merasa betapa akrabnya senyum itu, seolah tak ada yang benar-benar berubah dari mereka. Yang mana sangat berbanding terbalik dengan yang terjadi pada kenyataannya. Karena jika itu masih sama seperti, maka Sion tak akan diam saja seolah tak menyadari kehadirannya. Sion tak akan memperlakukan Riku seolah pria itu hanya sebatas teman kelasnya.

Dan mereka berakhir tidak berbicara malam itu.

Riku yang merasa hatinya tercubit, menyembunyikan perasaan sakit iti dengan bertahan di tengah keramaian. Ikut tertawa pada cerita-cerita temannya, yang nyaris tak ada di ingatannya. Sion sendiri berada di sisi lain ruangan, lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Tatapan mereka sempat bertemu sekali, sebentar, lalu keduanya sama-sama memalingkan wajahnya. Tahun-tahun yang memisahkan mereka seolah menjadi pengingat, bahkan sekarang mereka berdua tak lebih dari orang asing yang dulunya punya cerita.

***

Pagi datang dengan cepat di penginapan tepi pantai itu. Meski hanya tidur sebentar, namun Riku turun lebih awal menuju tempat sarapan. Bukan karena lapar, namun didorong oleh kebiasaannya yang selalu bangun tak lebih dari jam delapan, meski ia tidur terlambat malam harinya. Meski sebenarnya Riku berniat untuk tak sarapan, tapi ia tahu berdiam di kamar hanya akan menyebabkannya sengsara lantaran larut dalam pikirannya sendiri. Dan Riku tak ingin depresi di liburan kali ini.

Rupanya pilihan Riku untuk membiarkan dirinya merasa sengsara di kamar terlihat lebih bagus saat ini. Lantaran di tempat makan itu, berdiri Sion di dekat meja, yang mana nampaknya juga tengah mencari sarapan untuknya. Seingat Riku, pria itu bukan tipe orang yang suka sarapan. Namun, lagi-lagi sudah sepuluh tahun berlalu, jadi Riku tak bisa mengatakan ia 'mengenal' sosok Sion yang ada di depannya.

“Oh,” Sion berkata ketika menyadari keberadaannya. Ia terdengar terkejut, namun tak menunjukkan kecanggungan dari wajahnya. “Selamat pagi.”

Ragu-ragu, Riku membalas, “Pagi.” Dan dia terdengar sangat canggung.

Riku tak tahu harus berbuat apa. Mungkin ia sebaiknya kembali dan tak usaha sarapan saja. Tapi, nanti semuanya jadi semakin canggung di antara mereka, dan Riku tak ingin hanya dia yang nampak terpengaruh oleh keberadaan Sion di sini. Hal itu juga membuat Riku jadi berpikir, kenapa Sion bisa bersikap biasa saja? Apa selama ini hanya dia yang masih terjebak dalam masa lalu, sedangkan Sion sudah melangkah maju?

Tak bisa. Riku harus memperlihatkan bahwa ia juga sudah melangkah maju. Riku tak boleh membiarkan semua itu kembali mempengaruhi hidupnya. Setidaknya untuk saat ini. Maka dari itu, Riku memutuskan untuk berjalan menghampiri Sion, berdiri di sampingnya untuk mengambil sarapan yang disediakan di sana.

Berdiri berdampingan dengan Sion, Riku menjaga jarak cukup dekat untuk memperlihatkan bahwa mereka akrab, namun cukup jauh juga untuk memberi tanda bahwa tak ada sesuatu di antara mereka. Mata Riku menyapu ke arah buffet yang tersedia, melihat pancake dan seketika Riku hampir tertawa. Ingatan itu seolah kembali lagi dan ia melirik ke piring yang Sion bawa. Rupanya benar, pria itu mengambil pancake dan mentega. Beberapa kebiasaan memang menolak untuk benar-benar tinggal di masa lalu dan kali ini Riku membiarkan itu sebagai ingatan manis yang bisa ia bawa.

Saat Sion meraih cangkir kopinya, Riku melihat cincin itu. Cincin itu tak terlihat istimewa. Tak ada batu permata atau hiasan lain di sekitarnya. Cincin itu nampak sederhana, terpasang di jari manis tangan kirinya. Dan seketika Riku seperti lupa bagaimana cara untuk mengendalikan dirinya.

"Mau kopi juga, Riku?"

Pertanyaan Sion itu membuat Riku tersentak dari krisis yang sedang menghantamnya. Sion seperti tak menyadari apa yang sedang Riku alami, jadi Riku tak mau membuat pria itu punya kesempatan untuk membaca apa yang sedang ia rasakan. Riku segera menggeleng membalas pertanyaan Sion tadi.

"Aku akan ambil teh," Riku berkata sembari mengambil secangkir teh untuk diminumnya. Tak ada pertanyaan lagi dari Sion, namun Riku tak mengerti kenapa sekarang pria itu malah mengikutinya untuk duduk di salah satu meja yang ada di sana. Sion mengambil duduk di sampingnya.

Saat Riku masih sibuk dalam pikirannya, Sion kembali bertanya, “Kamu masih kontak dengan siapa pun dari kelas kita?”

Apa sekarang pria itu sedang coba basa-basi dengannya? Kalau benar begitu, Riku akan meladeninya. “Tidak juga,” jawab Riku. “Aku cuma sering bicara dengan Yushi, itu juga karena satu kantor dengannya.”

Sion mengangguk. “Iya? Bagaimana kabar anak itu? Dia tak datang kali ini.”

"Dia sakit, dirawat sejak dua hari yang lalu. Padahal kami sudah beli tiket bersama untuk kemari." jelas Riku.

Sion nampak terkejut mendengar itu. "Malang sekali. Sekarang kondisinya bagaimana?"

Untuk menjawab Sion, Riku meraih ponsel yang ada di kantongnya. Dia mencari kontak nama Yushi dan memperlihatkan Sion pesan yang dikirimkan temannya itu padanya. Pesan itu berupa foto Yushi yang sedang bergaya dengan infus di tangannya.

"Dia sudah lebih baik. Meski memang kata dokter harus pemulihan di rumah sakit selama beberapa hari untuk memastikan kondisinya."

Sion kembali mengangguk mendengar penjelasan Riku. Setelahnya, percakapan mereka mengalir begitu saja. Mereka berbicara tentang pekerjaan, tentang cuaca, dan berakhir menyinggung topik tentang betapa anehnya bertemu lagi setelah sekian lama.

"Kamu masih saja sama seperti dulu, Riku."

Komentar dari Sion itu membuat Riku kembali merasa campur aduk dengan apa yang dirasakannya. Tangannya yang memegang garpu seketika mati rasa dan garpu itu terjatuh di atas lantai, menciptakan bunyi yang menyadarkan Riku agar bisa mengendalikan dirinya. Riku hendak menunduk untuk mengambil garpu itu, namun Sion mendahuluinya. Ia mengambil garpu milik Riku yang terjatuh dan mengatakan akan mengambilkan yang baru untuknya. Riku hanya diam melihat Sion berjalan pergi darinya.

Sion kembali dengan garpu dan segelas air berisi jus lemon di tangannya. Dia langsung meletakkan jus itu di depan Riku sembari berkata, "Tadi aku lihat mereka baru memerasnya. Jadi, sekalian aku ambil untuk kamu."

Riku tersenyum kecil. "Terima kasih, Sion."

Sion ikut membalas dengan tersenyum padanya. Keheningan menyelimuti mereka beberapa lama, sampai kemudian Sion kembali jadi yang pertama buka suara.

“Kamu masih memakainya," katanya pelan.

Riku mengernyit bingung. Apa yang sedang dibicarakan Sion? Dan ketika Riku mengikuti arah pandangan itu, ia tersadar Sion sedang membahas apa. “Sudah terbiasa, jadi aku lupa untuk melepasnya.”

Sion tidak bertanya kenapa. Ia hanya mengangguk, sesuatu yang sulit dibaca melintas di wajahnya, sebelum akhirnya berpaling dan kembali memakan sarapannya. Mereka makan dalam keheningan, yang kini tak ada seorang di antara keduanya ingin memecahnya. Meski Riku sebenarnya ingin balas bertanya, lantaran mendengar bagaimana Sion berani menyinggung topik yang ia kira tak akan disentuh oleh keduanya. Hanya saja, Riku tak seberani itu untuk memulai hal yang dirinya sendiri takut akan jawaban yang nanti akan didapatkannya.

"Aku bisa membelikan yang baru."

Perkataan dari Sion itu membuat Riku kembali tersadar dari lamunannya. Ia menatap ke arah pria itu, merasa salah dengar dengan apa yang disampaikan olehnya. "Kamu bilang apa?"

"Anklet itu," Sion menunjuk ke arah kaki Riku, kemudian melanjutkan, "Aku bisa membelikan yang baru."

Membelikan yang baru? Maksudnya bagaimana?

"Itu sudah terlihat usang," Sion kembali melanjutkan, "Dan sekarang, aku punya banyak uang untuk membelikan yang lebih bagus buat kamu."

Tahan dulu. Ini sebenarnya ada apa? Sion sedang mengimplikasikan apa? Riku sangat kebingungan dibuatnya.

"Jadi, bagaimana menurutmu?"

Riku menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku tak yakin dengan yang kamu maksud, Sion."

"Ini tentang anklet yang ada di kakimu. Itu yang dulu aku beri ke kamu 'kan?" Sion kini nampak ragu.

Melihat itu, Riku mengangguk mengiyakan ucapannya. "Iya, ini anklet yang itu." Ia kemudian melanjutkan lagi, "Tapi, untuk apa diganti? Kalau memang kamu mau aku melepas ini, aku bisa melepasnya sekarang."

"Jangan!" Sion menghentikan tangan Riku yang hendak meraih kakinya. "Aku belikan yang baru dulu, Riku. Baru setelah itu kamu bisa melepasnya."

Semua ini membuat kepala Riku harus bekerja ekstra. "Kenapa?" tanyanya masih tak mengerti dengan apa yang dimaksud Sion.

"Karena aku tak menyangka kamu ingat janji kita."

Entah apa yang Riku kembali rasakan begitu mendengar kalimat yang keluar dari mulut Sion. Yang pasti, ia tak bisa berkata apa-apa untuk membalasnya.

"Aku pikir setelah sepuluh tahun, kamu akan lupa dengan janji itu, Riku. Itu sebabnya, selama ini aku tak ingin berharap lebih." Sion berkata lagi.

Jadi, Sion ingat janji mereka? Bukan cuma Riku yang memegang janji itu seperti orang gila? Sion juga selama ini mengingatnya?

Namun, tiba-tiba ingatan Riku kembali ke benda yang terpasang di jari manis Sion. Benar, walaupun mereka sama-sama ingat, memangnya ada yang bisa berubah? Sion sudah melanjutkan hidupnya, sedangkan Riku yang masih terjebak sendiri di masa lalu mereka. "Tak perlu merasa kasihan, Sion. Aku–"

"Kasihan?" Sion terdengar kebingungan. "Kenapa aku harus kasihan?"

Riku menghela nafasnya berat. "Karena aku sendiri yang masih diam di masa lalu, sedangkan kamu sudah berjalan ke depan dengan hidupmu."

Raut wajah Sion semakin terlihat kebingungan. "Riku, kamu bahas apa?"

Tangan Riku menunjuk jari Sion, tempat cincin itu berada. Sion mengikuti arah tangan Riku dan wajahnya seolah sadar akan sesuatu sebelum akhirnya tertawa. Giliran Riku yang kembali dibuat bingung dengan situasi ini.

"Maaf," Sion berkata setelah mengendalikan tawanya, "Hanya saja, kamu tak benar-benar mengira kalau aku sudah menikah 'kan?"

Wajah Riku seketika memerah mendengar hal itu. Jika Sion belum menikah, lalu apa maksud dari cincin itu memangnya? "Kau belum?" tanyanya pelan.

Sion menggeleng. "Aku masih lajang."

Jadi, Sion belum menikah dan Riku hanya salah sangka?!

"Ini hanya cincin biasa, Riku. Aku memakainya di jari ini, karena aku lelah ditanya oleh seseorang tentang statusku." jelas Sion. "Dan juga, ini jadi penanda. Kalau dalam hati, aku memang sudah punya seseorang yang mengisinya."

"Siapa?" Riku kini berani untuk bertanya.

Sion tersenyum penuh arti. "Menurutmu siapa?"

Tamat

Notes:

Thanks for reading <3