Actions

Work Header

Christmas Eve

Summary:

“Hire pacar pura-pura aja, sehari doang,” usul sepupunya, Minghao, saat ia menceritakan rencana kabur dari makan malam keluarganya di Natal tahun ini.

“No strings attached. Nggak perlu kenalan dari awal, nggak perlu pembahasan terlalu dalam sampai lo nggak nyaman, yang penting bibi-bibi percaya, besoknya lo bisa kembali bebas seperti semula.” Minghao menatapnya puas, seperti sales yang tahu betul kalau orang di depannya ini tertarik pada tawarannya. “Gimana?”

Hanya dengan satu pertanyaan terakhir, Jeonghan was sold.

So here he is, sitting inside his car on his way to his grandfather's house with a doe-eyed guy, who's smiling softly at him.

Hey, I’m Joshua, I’m the one who’s going to be your boyfriend for the night.


Commissioned by — Hila

Notes:

OMG, it's my first time writing yoonhong! ◝(ᵔᗜᵔ)◜ Hopefully I give them justice di cerita ini soalnya aku cinta soft boyfriends yang very soft to each other (つ╥﹏╥)つ I'm pretty content with how it turned out :D hopefully you love them as much as I do!!

Terima kasih banyaak kepada Hila karena sudah mempercayakan prompt manis dan hangat ini ke aku, semoga hasilnya tidak mengecewakan ⸜(。˃ ᵕ ˂ )⸝♡

Enjoy the ride!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Hey, I’m Joshua, I’m the one who’s going to be your boyfriend for the night.”

Laki-laki di depannya ini tersenyum manis, kedua matanya melengkung senang. Penampilannya yang rapi, tetapi juga santai membuatnya terkesan hangat. Hanya dari penampilan, Jeonghan yakin kalau keluarganya akan jatuh cinta. Pesonanya seperti … kakak. Bukan abang, bukan mas, tapi kakak. 

Kakak yang ramah dan sopan jika bicara dengan orang yang lebih tua, tetapi juga seru jika bicara dengan yang lebih muda. Joshua tipe kakak yang lembut dan baik hati. Dalam sekali lihat, orang-orang pasti bisa tahu kalau Joshua ini ramah dan menyenangkan, ia bisa membayangkan kalau nanti banyak orang yang lebih tertarik untuk mengajaknya bicara daripada Jeonghan. 

Oh no … It’s going to be a problem …

Jadi, singkatnya, laki-laki manis di samping ini pacar pura-puranya. Hanya untuk malam ini, malam Natal yang selalu dirayakan meriah oleh keluarga besarnya. 

Awalnya Jeonghan merasa ini ide gila, tidak seharusnya ia berbohong pada keluarganya sendiri. Lagi pula pacar bohongan ini hanya ada di film-film, tidak mungkin ia melibatkan orang asing dalam drama keluarga besarnya. Belum lagi kalau sampai ada perasaan asli yang terlibat, semua akan menjadi rumit dan ia tidak bisa bercerita pada siapa-siapa karena itu berarti membongkar kebohongannya sendiri. 

Bukannya Jeonghan berekspektasi ia akan jatuh cinta pada siapapun pacar pura-puranya, hanya saja ia sangat menghindari drama. Namun, lama-lama ia takut menghadapi acara keluarganya karena ekspektasi tak masuk akal dari banyak orang di dalamnya, jadi ia memberanikan diri. Ia meyakinkan diri kalau ia lebih mencintai kesendiriannya daripada drama yang akan terjadi nanti. 

Kembali ke masalah yang tadi, alasan Jeonghan mengajak Joshua menjadi pacar pura-puranya justru untuk menjauhkan semua perhatian darinya, bukan malah mengarahkan semua pertanyaan ke arahnya. Meskipun nanti yang akan banyak ditanya adalah Joshua, tapi tetap saja, semakin banyak pertanyaan akan semakin sulit untuk mengingat jejak kebohongan mereka. 

“Hey, kamu nggak papa?” 

Sentuhan lembut di lengannya itu menyentak fokusnya kembali ke bumi. Jeonghan menolehkan kepala dan mendapati Joshua menatapnya hati-hati. 

“Kepikiran nanti ya?” tanyanya lagi, kali ini ia menghadapkan badannya ke Jeonghan, memberi seluruh atensinya. “Kasih tahu aku, what’s bothering your mind?”

Jeonghan menggelengkan kepala kemudian terkekeh kaku, ia mengusap wajahnya sebelum bicara, “Nggak papa, I tend to overthink like this.” 

Laki-laki bermata lebar itu menggeleng, senyum hangatnya kembali disematkan di wajah. “Kalau kamu nggak keberatan, cerita aja. Aku juga pengin tahu apa yang kamu takutkan soal nanti, kali aja aku bisa mencegah itu kejadian.” 

Jeonghan membuka mulutnya, kemudian pikirannya kembali mencegah. Ia tak seharusnya banyak cerita pada orang yang baru dikenalnya, ia tak seharusnya langsung percaya. Bagaimana kalau pikirannya nanti mengganggu Joshua? Bagaimana kalau pikirannya nanti terlalu aneh sampai-sampai Joshua tertawa? Bagaimana kalau pikirannya ternyata tak penting untuk Joshua? 

“Jeonghan …” Laki-laki di sampingnya mengusap lembut tangannya yang mencengkeram kemudi kuat-kuat. Ia tersenyum lembut dengan sinar mata yang sangat hangat. “Hari ini aku pacar kamu. Not some weird guy, not some stranger—pacar kamu.”

“You have every right to overthink and I’m not the one to judge. Memang sudah seharusnya aku dengerin cerita kamu, biar pun nanti nggak lebih gampang, setidaknya kita pikirin berdua, ya?” 

🎄

Hari ini tanggal 24 Desember, nanti malam akan ada makan malam di kediaman keluarga Yoon. Sama dengan Natal-Natal sebelumnya, makan malam yang diadakan di rumah kakeknya itu akan menjadi tempat berkumpul seluruh keluarga besarnya. Sama dengan Natal-Natal sebelumnya, semua keluarga yang tinggal berjauhan juga akan datang, semua sepupu sekaligus keluarga kecilnya yang hanya bertemu setahun sekali itu juga hadir. Tak terkecuali, his very lovely aunts. 

Bibi-bibi yang selalu bertanya soal kehidupan pribadinya karena mereka peduli. Ada yang bertanya bagaimana kabar pekerjaannya di finance, apakah ada tanda-tanda kenaikan gaji? Karena anak bungsu mereka yang baru saja lulus kuliah itu sudah mendapat gaji puluhan juta—mungkin karena bekerja di perusahaan ayah sendiri. Ada yang masih saja menyuruhnya masuk kedokteran saja saat kuliah dulu, padahal ia juga sudah 30 tahun, bukankah sudah terlambat untuk memaksanya pindah jurusan? Ada juga yang bertanya kabar percintaanya, selalu diselipkan dalam pertanyaan bernada manis ‘Jeonghan kapan nikah? Ibu kamu selalu cerita ke Bibi kalau pengen lihat anaknya menikah, bahagia.’ dan Jeonghan berani bersumpah pada apapun yang berada di atasnya, ibunya tak pernah banyak berkomentar soal kehidupan percintaannya. 

Mungkin memang itu cara mereka peduli, mungkin juga itu cara mereka berbasa-basi. Seharusnya Jeonghan sebagai yang lebih muda bisa menghargai. Namun, ia sudah bosan. Dari awal ia menjawab semua pertanyaan bernada meremehkan itu dengan penjelasan logis, sampai akhirnya ia hanya tertawa bisnis. Sudah berkali-kali ia protes ke ibunya soal bibi-bibi yang suka meremehkannya, mengancam untuk tak datang makan malam Natal di rumah kakeknya, namun lagi-lagi Jeonghan harus mengalah. 

“Kamu kan tahu bibimu orangnya gimana, nggak usah didengerin omongannya,” jawab ibunya, seperti biasa. 

Oleh karena itu, tahun ini ia akan tampil beda. Ia akan membawa pasangan dan membuat semua bibinya bungkam. Pasangannya ini akan menjadi orang yang paling keren di seluruh keluarganya, sampai bibinya tak lagi percaya diri untuk membandingkan. 

Masalahnya, ia sudah lama sendirian. Jeonghan tak begitu tertarik dengan proses membangun hubungan, berkenalan, bercerita pengalaman, bahkan sekadar membalas pesan. Ia sudah terlalu nyaman melakukan semua sendirian, ia tak ingin terikat dengan harus memberi kabar setiap waktu hanya karena tak mau pasangannya kepikiran. 

“Hire pacar pura-pura aja, sehari doang,” usul sepupunya, Minghao, saat ia bercerita soal rencana bolos makan malam keluarga mereka beberapa bulan yang lalu. Sepupunya ini juga bernasib sama dengannya, selalu menjadi target pertanyaan menyedihkan bibi-bibi mereka. 

Baru saja akan membalas, Minghao sudah kembali bicara, “Gue selalu ngelakuin itu. Makanya tiap tahun pacar gue ganti.” 

Jeonghan membulatkan matanya, dari semua orang yang ia ekspektasikan berbohong soal kisah cintanya, Minghao adalah orang terkahir. Laki-laki itu selalu tampak bahagia dengan pacarnya di setiap Natal, meski memang pacarnya berganti setiap tahun, tapi mereka selalu tampak natural. 

“Gue kira emang lo apes aja, hubungan lo nggak ada yang tahan lama,” jawab Jeonghan asal yang membuat Minghao melempar tisu bekas ingus ke arahnya. 

“Enak aja, gue mah setia, bahkan dari Romeo sekalipun.” Mingaho geleng-geleng kepala kemudian menunjukkan ponselnya, ada banyak foto orang-orang menarik di Instagram di akun yang entah apa. “Coba DM ke sini, dia kayak agensi pacar palsu gitu. Lo tinggal bilang pengen orang yang karakternya kayak gimana, entar lo dikasih nomer mereka. Easy.” 

“Terus nanti kalau udahan gimana? Masa langsung bayar dan pergi, anjir, kayak ojek aja?”

Minghao memutar bola matanya. “Ya kan mereka sama-sama kerja di bidang jasa. Kalau emang lo udah sampai ke tujuan, in this case nggak ditagih nikah mulu, ya berarti mission accomplished and their job is done. Kewajiban lo cuma bayar dia dan kewajiban dia cuma jadi pacar pura-pura lo, simple.”

“Sungkan, anjir, Hao. Masa detik satu kita mesra-mesraan, detik selanjutnya gue transfer uang dan hubungan kita selesai gitu aja?”

“Gini, kan lo DP di awal tuh, nah kalau lo pengin mengakhiri ya tinggal bayar sisanya ke agent-nya. Nanti pacar lo ini dikasih tahu agent-nya and he’s all set to go. Nggak ada pamitan, nggak ada closure. Hubungan kalian berakhir dan sudah nggak ada tanggung jawab satu sama lain.Minghao mengangkat bahunya tak acuh. “Sounds harsh, tapi sangat meminimalisir drama nggak mau pisah atau sungkan di akhir begini.”

Saat melihat Jeonghan seperti menimbang-nimbang tawarannya, Minghao kembali bicara, “No strings attached. Nggak perlu kenalan dari awal, nggak perlu pembahasan terlalu dalam sampai lo nggak nyaman, yang penting bibi-bibi percaya, besoknya lo bisa kembali bebas seperti semula.” 

Minghao menatapnya puas, seperti sales yang tahu betul kalau orang di depannya ini tertarik pada tawarannya. “Gimana?” Hanya dengan satu pertanyaan terakhir, Jeonghan was sold. 

So here he is, duduk di mobil sedan yang sudah terparkir rapi di halaman luas depan rumah kakeknya, bersama orang asing yang berpura-pura menjadi pacarnya di depan keluarga besarnya. 

Jeonghan is a great liar, he’s the greatest. 

Namun, kalau dituntut untuk berbohong di hadapan keluarga besar yang ada puluhan dan berisiko dimarahi mati-matian jika ketahuan, ia sedikit-banyak ketakutan. Apalagi harus berbohong di depan keluarga intinya yang tahu betul ia sudah lama sendiri. Jadi kalau tiba-tiba ia membawa pasangan ke acara keluarga besar tanpa pernah memberi tahu keluarga inti sebelumnya, pasti akan mencurigakan. Apalagi adiknya, Seungkwan, ia sedikit-banyak memiliki trust issue akibat kerap dibohongi Jeonghan. Ia bahkan sudah tahu Jeonghan berbohong dari caranya bergerak, jadi kali ini ia harus jauh lebih berhati-hati. 

But well, sepertinya ia tak perlu terlalu pusing memikirkan nasibnya nanti, karena selain ia pasti bisa mengandalkan skill berbohongnya, ia juga bisa mengandalkan skill akting Joshua. Setelah menceritakan semua kecemasannya yang didengarkan sepenuhnya oleh pacar pura-puranya, mereka akhirnya menyusun tiga rencana untuk menghadapi dunia. 

  1. Joshua tidak akan meninggalkan sisinya. Mereka akan menghadapi semua pertanyaan memancing dari keluarganya berdua. 
  2. Menyusun jawaban dari setiap pertanyaan yang mungkin dikeluarkan. Salah satu pertanyaan yang sudah disiapkan jawabannya adalah pertanyaan tentang pertemuan mereka. Joshua dan Jeonghan bertemu saat kuliah di Australia dan Jeonghan membalas story-nya  saat tahu Joshua suka Goo Goo Dolls. Mereka kembali berkomunikasi, kemudian ini adalah pertemuan pertama mereka setelah satu bulan menjalani long distance relationship. 
  3. Mereka harus memenangkan first impression dari bibi-bibinya yang paling judging sedunia. Sekali mereka terlihat aneh atau tidak bahagia, maka kalimat cemoohan itu tidak akan berhenti meskipun ia sudah membawa pacarnya. Oleh karena itu, mereka membawa satu kotak tiramisu dari toko kue andalan Joshua. Dessert never fails to win people’s hearts.

Kedua laki-laki itu bertukar tatap, matanya berbinar senang dari adrenalin juga rasa takut. Senyum lebar yang perlahan merangkak ke wajah masing-masing itu sudah tak bisa disembunyikan, rasa optimis yang menggebu di dada juga tak bisa diredam. 

Ini akan berhasil.

🎄

“Jadi kalian ketemu di mana?” 

Seperti ekspektasi Jeonghan, bibinya akan bertanya bahkan belum sampai 15 menit setelah kedatangan. Semua pasang mata menatapnya bingung dan penasaran, kerlingan mata dari Minghao tersampaikan dari ujung ruangan. 

Sudah banyak pertanyaan yang ditujukan, semua juga dijawabnya dengan senyuman. Selama mereka tidak perlu menjawab berbarengan, keduanya pasti bisa saling mengimbangi mengisi lubang-lubang fakta buatan.

Joshua mengusap lengan atasnya bahkan saat mereka sudah saling mengaitkan lengan. Ia tersenyum hangat saat tatapan penasaran itu tak malu-malu ditujukan padanya, menilai penampilannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Joshua mengangguk-angguk sambil mendengarkan penjelasan Jeonghan, seperti kekasih yang sabar dan tak egois mengambil semua perhatian hanya untuknya. 

Entah sudah pertanyaan ke berapa yang ditujukan, namun daripada pertanyaan yang tulus karena peduli, ini lebih terasa seperti interogasi. 

Banyak bibi mengerubungi pasangan baru itu sekarang, mereka tak pusing mendengar suami atau anak-anak yang sudah protes kelaparan. Semuanya mendengarkan cerita Jeonghan dengan saksama, seakan kisah cintanya lebih penting dari apapun yang ada di dunia. Seakan mereka sudah bertaruh kalau tahun ini, Jeonghan akan sendirian lagi. 

“Oooh, temen lama.” Semua bibi yang berkerumun untuk mendengarkan ceritanya itu mengangguk-angguk. 

“Kalau Joshua ini kerja di mana?”

“Saya punya galeri pottery gitu, Bibi. Bikin vas bunga, mangkuk, piring. Semuanya handmade, bukan mass production kayak di pabrik-pabrik.”

“Oooh, seniman.” 

Nada itu terdengar sangat meremehkan dan Jeonghan benci menyadarinya. Baru akan membuka mulut untuk membela, laki-laki di sampingnya kembali membalas dengan senyum manis terpatri di wajah. 

“Betul, seniman,” balasnya. “Karya-karya galeri saya juga sudah banyak diekspor ke luar negeri. Berdasarkan data penjualan tahun ini, sih, paling banyak diekspor ke Paris dan Milan. Mereka menghargai autentisitasnya.”

It’s like a slap right on their face. Kalau sudah mendengar Milan dan Paris, kota mode paling glamour seantero bumi, tak bisa dipungkiri kalau apapun yang dijual Joshua berarti memiliki kualitas tinggi. Jeonghan menatap Joshua yang tersenyum bangga, tak menyadari kalau senyum itu juga ada di wajahnya. 

Tak lama kemudian, bibi-bibinya sudah kehilangan rasa tertarik pada pacar baru Jeonghan. Semua omelan berkedok rasa peduli yang kerap diputar berkali-kali di setiap malam Natal yang membuatnya bosan itu tak lagi berlaku malam ini. Semua bibinya kembali sibuk bergosip sendiri, entah apa yang dibahas mereka lagi. 

Jeonghan menarik tangan Joshua untuk duduk di sofa, membiarkan laki-laki itu bersantai sebelum serangan pertanyaan beruntun kembali membuat mereka menjadi sasaran. 

“Jadi itu pertanyaan yang bikin kamu males kumpul keluarga pas Natal sampe bertahun-tahun?” tanya Joshua, melirik Jeonghan yang menyandarkan tangan di sandaran sofa tepat di belakangnya. “Gitu doang?”

Jeonghan memutar bola matanya malas. “Kan pertanyaannya beda, Joshua,” balas Jeonghan kesal. “Biasanya aku ditanya kapan nikaaaah mulu, sekarang gegara ada kamu jadi mereka nggak nanya lagi.”

“Yaudah, ajak aku aja tiap tahun.”

Jeonghan membeku di tempatnya sampai tawa Joshua pecah. “Bercanda!”

Ia kemudian geleng-geleng kepala dan berdiri, menghampiri Cookie, anjing keluarga mereka yang tampak senang banyak orang datang. Joshua kemudian bergabung dengan keponakan-keponakannya yang sibuk duduk melingkari Cookie sambil bercerita heboh, entah membicarakan apa. Saat melihat Joshua bergabung, semuanya tampak senang ada orang dewasa tertarik dengan kegiatan mereka. Mereka langsung mengganti audiens cerita dari Cookie ke Joshua dengan sangat cepat. Semuanya bicara bersamaan, suaranya melengking bersahut-sahutan, beberapa dari mereka bahkan berdiri dan melompat-lompat meminta perhatian. 

Joshua, dengan sangat effortless berhasil membuat mereka duduk tenang, bercerita secara bergantian, dan menatap mereka tepat di mata dengan penuh perhatian. Ia menatap anak-anak kecil itu seperti cerita mereka menarik dan tak boleh dilewatkan.

Jeonghan memperhatikan bagaimana Joshua dengan sangat mudah dan luwes menyesuaikan dirinya di rumah ini, seperti ia bukan orang baru, seperti ia orang yang sudah lama tidak bertemu dan kembali pulang. 

🎄

Saat matahari kembali tenggelam, dan langit jingga berubah gelap, semua anggota keluarga sudah berkumpul mengelilingi meja makan, gelas-gelas berisi minuman itu diangkat tinggi-tinggi untuk bersulang. 

Makanan yang dibawa dari masing-masing anggota keluarga membuat makan malam terasa lebih istimewa. Cara semua orang membawa makanan yang mereka pikir akan disukai oleh anggota keluarganya terkesan penuh dengan perhatian dan kasih sayang. 

Semua orang menyantap makanan dengan suka cita, berbagi cerita di sela-sela suapan penuh kasihnya. Ruang makan rumah kakeknya yang selalu sepi sebelumnya, sekarang dipenuhi oleh hangatnya canda tawa. Semua orang berebut bercerita dan semua orang menimpalinya. Jeonghan sudah lama tak pernah menikmati waktu berkumpul bersama keluarganya, namun kali ini semua terasa berbeda. 

Mungkin karena kali ini ia tak dihantui pertanyaan kapan menikah. Mungkin karena kali ini ia tak terus disindir semua bibinya untuk segera mencari separuh jiwanya. Mungkin karena kali ini ada Joshua yang menemaninya. 

Jeonghan tak begitu mengerti jawaban yang pasti, namun ia sangat menikmati makan malam ini. 

Ia memperhatikan semua anggota keluarganya yang saling bertukar cerita, banyak di antaranya membuat candaan yang langsung dibalas dengan pecahnya tawa. Malam Natal yang biasanya selalu melelahkan untuknya karena tidak pandai berbasa-basi dengan anggota keluarga, hari ini terasa hangat, menyenangkan. 

Biasanya ia tak tertarik dengan obrolan semua orang, biasanya ia menghabiskan makan malamnya cepat-cepat kemudian masuk kamar untuk mengobrol panjang bersama Minghao dan Seungkwan. Biasanya ia hanya keluar kamar kalau ibunya mengomel panjang soal tak menghargai saudaranya yang sudah jauh-jauh datang. 

Namun, kali ini semuanya menjadi menarik untuk diperhatikan. Ia mendengarkan cerita sepupunya yang sempat menonton F1 di Los Angeles beberapa bulan yang lalu, ia mendengarkan cerita keponakannya yang memamerkan koleksi dinosaurus yang tampak serupa, tetapi berbeda nama. Ia juga memperhatikan tips merajut sweater manis berbagai warna yang disampaikan bibinya. Semua percakapan terasa dekat dan hangat, ia tak lagi takut untuk terlibat. 

Finally, it feels like he belongs to this family.

“Kak Josh, tiramisunya enak banget sumpah?!” Seungkwan yang duduk di seberang Joshua itu mengacungkan kedua jempolnya, setitik krim di ujung bibirnya menunjukkan betapa ia menikmati tiramisu yang disebutkan barusan. “Beli di mana?”

Joshua mengerlingkan matanya jahil. “Rahasia!” katanya dengan senyum bangga, senang saat Seungkwan menatapnya tak terima. 

“Dih? Nggak boleh gate keep gitu tauu. Nanti kalau aku kepengen lagi gimana?”

“Bilang aja, nanti aku beliin buat kamu.” 

Seungkwan tersenyum lebar, pipinya merona merah, sedangkan Joshua kembali mengerlingkan mata dan mengangkat-angkat alisnya. Mereka kembali banyak bicara, kali ini membahas dessert paling enak di kota. Ternyata Seungkwan masih saja mencoba membuat Joshua tak sengaja menyebutkan toko tiramisu yang dibawanya. Laki-laki di sampingnya ini masih bersikukuh untuk tidak memberi tahu Seungkwan, ia bahkan memaksa Jeonghan untuk bersumpah tak akan memberi tahu siapa-siapa. 

Jeonghan?

He wonders, will they ever meet again?

🎄

“Kak Jeonghan KALAH?!” seru salah satu sepupunya. 

Kalau suara memiliki kekuatan merobohkan bangunan, sepertinya teriakan seluruh keluarganya itu akan meruntuhkan rumah kakeknya. 

Mereka baru selesai bermain berbagai macam board game, salah satu kegiatan wajib setiap malam Natal. Ini juga satu-satunya kegiatan yang dengan senang hati diikuti Jeonghan karena ia tahu ia akan menang dan ia tahu hadiahnya menggiurkan. Di setiap tahun, Jeonghan tak terkalahkan. 

Jeonghan terkenal cerdik dan beruntung bukan main kalau perkara permainan. Sudah menjadi tradisi bertahun-tahun kalau setiap permainan selalu ia menangkan. Pernah di suatu ketika seluruh keluarganya bekerja sama untuk mengalahkannya, tetapi tak ada yang berhasil, sampai mereka harus menyetujui petisi untuk menghapus kegiatan bermain bersama pada malam Natal. Waktu itu tak bertahan lama karena malam Natal tanpa ambisi permainan terasa membosankan. 

Lama-lama keluarganya bisa menerima, apa pun permainannya, Jeonghanlah pemenangnya.

Lalu malam ini, berbeda dengan puluhan malam Natal sebelumnya, Jeonghan kalah. 

Seluruh keluarga bersuka cita, entah merayakan kemenangan Joshua atau merayakan kekalahannya. 

Joshua yang awalnya mengangkat dagu jemawa saat berhasil mengalahkan Jeonghan itu langsung diserang pelukan dari berbagai sisi, membuat tawanya pecah dan ekspresinya berubah bahagia. Beberapa anggota keluarga mengusap puncak kepalanya bangga, menepuk pundaknya, sampai ada yang mendeklarasikan kewajiban Joshua untuk terus mengalahkan Jeonghan di malam-malam Natal selanjutnya. 

Joshua menerima hadiah besar yang terbungkus kertas kado merah itu dengan senyum lebar di wajah. Ia memeluk hadiahnya erat, pura-pura mengibaskan rambutnya di depan Jeonghan. 

“Kak Joshua jago banget, asli!” seru salah satu sepupunya, masih bertepuk tangan dan melongo tak percaya. 

“You know what, Kak Josh? Kak Jeonghan tuh selain jago, bejo juga soalnya. Udah bertahun-tahun dia selalu menang, mana sombong banget!” adu keponakannya.  “Entah kenapa Tuhan nggak mau hukum dia dan bikin dia malu karena sombongnya nggak ketolong, tapi hari ini Tuhan jawab doa kita semua! Kak Jeonghan kalah!” 

Seluruh keluarga ikut berseru senang, membuat Jeonghan menggelengkan kepala dan mengangkat tangan menyerah. 

Permainan dilanjutkan setelah semua orang turun dari euforia merayakan kekalahan Jeonghan. Laki-laki yang baru saja dirundung ramai-ramai oleh keluarganya itu terduduk lemas di sofa, diam-diam memperhatikan semua orang sambil memproses kekalahannya.

“Kenapa wajahnya ditekuk gitu, sih? Nggak terima ya kalau kalah?” Joshua menyenggol bahunya dan tertawa kecil saat Jeonghan memutar bola matanya. “Nanti hadiahnya dibagi dua, deh.”

Jeonghan menggeleng pelan, pura-pura sebal sambil pura-pura bijak. “No, I’m an adult dan aku bisa nerima kekalahan.”

“No, you’re not.”

“I am an adult???”

“Kamu nggak bisa menerima kekalahan.”

Jeonghan baru akan membuka mulutnya untuk protes saat mendapati tatapan Joshua seakan berbunyi, “Bener kan?” 

Ia kemudian menggeleng dan mengulum senyumnya, tak mau memberi respon Joshua yang berhasil menebaknya. 

Kedua laki-laki itu kini memperhatikan permainan yang terjadi di depannya. Entah sudah ke berapa kali keluarganya bermain mafia, menuduh satu sama lain, dan berteriak marah saat tebakannya salah. Meskipun tak jarang Jeonghan malas setiap berkumpul keluarga, saat-saat seru seperti inilah yang selalu ia rindukan diam-diam. 

Jeonghan mengubah perhatiannya ke laki-laki yang tertawa kecil di sebelahnya. Dari awal memang Joshua sudah terlihat tenang, tetapi kali ini ia juga terlihat senang. 

Ia bersandar pada Jeonghan, membiarkan laki-laki itu menyusuri rambutnya dengan jari-jarinya tanpa bicara. Joshua sesekali menepuk paha Jeonghan saat tertawa, menunjuk Seungkwan yang terlihat sekali cara berbohongnya. Caranya tertawa yang selalu melemparkan kepala ke belakang itu membuatnya selalu membenturkan kepala ke bahu Jeonghan, mengaduh saat terkadang terlalu keras dan membuat Jeonghan mengusapnya pelan.

This is dangerous. 

How they feel at ease together and all the fake lines blur from the affection.

It feels natural. 

Cara Joshua mengusap paha Jeonghan saat ia berpikir tak ada yang memperhatikan, cara Joshua mengusap punggung tangannya saat ia terlihat tegang, saat Joshua bermain dengan rambutnya saat ia pikir Jeonghan tak merasakan. 

Jeonghan can’t help but wonder, is Joshua always this affectionate with all of his fake boyfriends? Is Joshua always this cute with his client? Is Joshua always this professional that he really looks at ease even in an environment that he knew not even 5 hours ago?

“Mikir apa, sih? Kan kita janji buat ngasih tau satu sama lain kalau lagi kepikiran.”

Jeonghan menatap lamat-lamat wajah Joshua, memperhatikan setiap detail dan garis senyum yang terbentuk di sana. Wajah mereka teramat dekat sekarang, fakta bahwa ia bersandar di dadanya juga tak banyak membantu.

Mungkin ini karena ia sudah terlalu lama sendiri, jadi saat menerima afeksi sedikit saja dari orang, ia langsung jatuh berkali-kali. Mungkin juga karena ini semua palsu, jadi ia tak takut untuk jatuh. 

Namun, untuk kali ini, setelah disangkalnya berkali-kali, Jeonghan membolehkan diri untuk mengakui, ia ingin ini semua menjadi asli. 

“Jeonghan?” 

Ia kembali memusatkan perhatiannya pada laki-laki yang melihatnya dengan penuh kekhawatiran, menyematkan senyum untuk menyiratkan ia tak sedang memikirkan apa-apa. 

“Kalau lagi … gini tuh kalian bohongnya sampe tahap apa?” 

Joshua mengerutkan kening saat mendengar pertanyaan Jeonghan. “Kalau lagi on duty, gitu …” lanjut Jeonghan sambil berbisik.

Laki-laki itu tertawa dan mengangguk-angguk. “Sampe tahap semuanya,” jawabnya lalu mengangkat bahu. “I mean, selain wajahku ya, aku nggak yang tiba-tiba pake topeng silikon nempel muka kayak di film mata-mata.”

Jeonghan tertawa kecil mendengar kalimat Joshua lalu kembali mendengarkan penjelasannya.

“Kita customized our personality to the customer’s preferences. Kadang ada yang merasa nama kita nggak sesuai dengan traits yang diperanin, jadi kita ubah.” 

“So your name isn't actually Joshua?"

“It is.”

“Jadi  toko kue tadi nggak bener-bener toko kue kesukaan kamu?”  

“It is.” Joshua tersenyum tipis, seakan mempersiapkan diri untuk semua pertanyaan Jeonghan.

“Terus sekarang kamu bohongnya tentang apa?”

Joshua menatapnya lama, hanya berkedip tanpa mengucapkan apa-apa. Ada sedikit kesan sedih di matanya yang cepat ditutupi dengan senyum jahilnya. “Rahasia.”

Jeonghan menatap Joshua lamat-lamat kemudian mengembuskan napas berat. Ia juga tak bisa memaksa Joshua untuk memberi tahu privasinya. 

“Keluarga klien kamu kalau Natal selalu berisik gini nggak, Josh?” tanya Jeonghan kemudian memperhatikan keluarganya yang bersorak senang saat tim warga menang.

Joshua mengikuti arah pandang Jeonghan kemudian menggeleng pelan. “Aku selalu sengaja ngosongin jadwal di Natal. Biasanya untuk nonton semua episode Natal Friends atau Modern Family.” 

“Ooh, hopefully sekarang nggak mengganggu tradisi nonton kamu? Semoga hari ini worth sacrificing those good times laying on bed?”

Joshua tertawa kemudian mengangguk. “Biasanya aku menghindari ambil job waktu Natal.” 

It stings, that Joshua still considers this as ‘ambil job’ meskipun memang itu faktanya. 

“Aku selalu iri sama orang yang punya tempat pulang waktu Natal, jadi aku nggak pengin terlibat. Takut malah sensi waktu harusnya lovey dovey.” Joshua terkekeh pelan, memainkan benang yang mencuat kecil di ujung bajunya. 

“Oh, I'm sorry …”

“Don’t be.” Joshua mendongakkan kepalanya, mempertemukan pandangannya dengan mata Jeonghan. “Aku seneng di sini, aku dianggap ada. Aku suka banget rasanya,  dirayakan.” Laki-laki itu kembali menyematkan senyum manisnya di wajah. “Thanks to you aku jadi punya tempat sementara.”

Keduanya bertukar pandang lama, membiarkan sorakan riuh di sekitarnya tak mengganggu dunia mereka. Suara-suara di kepalanya menyuruhnya untuk maju, mencuri satu kecup lembut dari bibir manis di hadapannya. Suara-suara di kepalanya menyuruhnya untuk mengaku, perasaannya pada Joshua sepertinya benar-benar ada. Suara-suara di kepalanya menyuruhnya meminta Joshua untuk tinggal selamanya. 

Kedipan lampu terang yang diarahkan pada dua orang itu membuat mereka kaget, menoleh cepat dan mendapati keponakan Jeonghan tersenyum lebar sambil mengarahkan kamera ke arah mereka. Lembaran putih dengan suara berderit lantang itu keluar dari atasnya, bukti bahwa sasarannya barusan sukses kena. 

“Cieee, mesra amat kayak di film-film!” godanya sambil mengipaskan hasil fotonya di depan wajah, menunggu warna untuk keluar di lembar putihnya. 

“Lihat dong, Dek!” balas Jeonghan di samping pipi panasnya. 

“Bayar dulu, lima puluh ribu.” 

Jeonghan dan Joshua membulatkan mata, kaget tiba-tiba harus dikenai harga saat foto yang diambil itu jelas-jelas mencuri momen mereka. 

“Kamu tuh nggak boleh diem-diem foto orang begitu, nanti dikenai pasal, masuk penjara, baru tahu rasa kamu,” omel Jeonghan sambil mencondongkan badannya, berusaha meraih foto yang terus dikipaskan bocah itu untuk menggoda. 

“Jangan mahal-mahal, dong, Dek!” tawarnya karena menakut-nakuti bocah itu akan masuk penjara tidak mempan juga ternyata.

“Ini wide, Om. Emang mahal gitu.”

“Om lihat di internet harganya lima belas ribu.”

“Yaudah kalau nggak mau, aku jual ke Oma aja.”

Baru akan melangkah, Jeonghan mendapati dirinya sudah melingkarkan tangannya ke lengan keponakannya, menghambatnya berjalan jauh. “Nih,” katanya sambil mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu pada bocah yang langsung menyengir lebar saat menerimanya. 

“Asyikkk, makasi Om Jeonghan!” Ia menyerahkan hasil fotonya kemudian menepuk kameranya bangga. “Untung gede kita malam ini!” 

Jeonghan berbalik badan dan mendapati Joshua tertawa lepas. “Bahaya, keponakanmu kecil-kecil udah kapitalis.” 

Ia ikut tertawa dan kembali melingkarkan tangannya di sandaran sofa belakang Joshua, memperhatikan foto cetak instan yang baru dibelinya dengan harga tiga kali lipat aslinya. 

Di foto itu mereka terlihat … asli. Asli menikmati kehadiran satu sama lain, asli memperhatikan seluruh fitur di wajah satu sama lain, asli saling menyukai. Tak hanya Jeonghan yang menatapnya meski kepalanya penuh dengan suara, ternyata Joshua juga. 

“Fotonya boleh aku yang bawa?”

Jeonghan mendongakkan kepala, melihat Joshua yang masih memusatkan perhatiannya pada foto yang ada di tangan Jeonghan. Keduanya kemudian kembali bertatapan, merasakan ada sedikit perubahan sesuatu di antara mereka, namun tak ada yang mengindahkan.

Jeonghan mengangguk dan menyerahkan foto mereka. “Buat kamu.” 

🎄

“Di antara semua mantan pura-pura lo, mereka selalu baik nggak sama lo?” tanya Jeonghan saat Minghao duduk di sampingnya. Joshua ditarik untuk bergabung bermain Uno, sedangkan Jeonghan dilarang andil dalam permainan sepanjang malam itu karena kerap bermain curang. 

“Maksudnya?”

“Ya kalau nggak lagi di depan orang-orang, waktu lagi nggak ada yang memperhatikan. Was he nice to you?”

Minghao berdecih pahit saat menggelengkan kepala. “Nope, lima dari lima mantan gue, semuanya selalu main HP sendiri kalau lagi berdua doang. Sialan.” Ia mengunyah kacang yang sudah dari tadi di genggamnya. “Ya gue nggak mengharuskan mereka mau ngobrol berdua juga, sih, kan kami emang palsu.” 

Jeonghan mengangguk-angguk saat Minghao mengerutkan keningnya bingung. Dalam 5 detik, ia sudah bisa melihat semua pergantian ekspresi Minghao dari bingung, mencoba paham, dan akhirnya mengerti. Laki-laki itu menjentikkan jarinya di depan wajah Jeonghan dengan ekspresi kaget setengah mati. 

“LO NAKSIR?!”  

Jujur saja Jeonghan sudah tak ada tenaga untuk membungkam Minghao. Ia terlalu sibuk dengan perasaan tak menentu untuk orang asing yang baru dikenalnya beberapa jam itu. 

“—understandable sih, dia emang manis banget ya orangnya? Mana ini hubungan palsu pertama lo, wajar banget kalau naksir beneran.” 

Jeonghan menatap Minghao sedih. Saat perasaannya divalidasi, ia semakin merasa wajar dan tak bersalah, membuat ilusi di kepala kalau semua ini nyata. 

“Dulu gue juga gitu, naksir sama pacar palsu pertama gue, tapi perasaannya nggak tahan lama karena ternyata dia punya pacar di kehidupan asli. Bajingaan memang.” Minghao menggelengkan kepalanya kemudian mengikuti pandangan Jeonghan yang menatap jauh ke laki-laki dambaannya di seberang ruangan, sedang asyik bermain kartu bersama seluruh anggota keluarga si pacar palsunya. 

“Ya, technically bukan salah dia punya pacar, sih … cuma gue ngarep aja,” lanjut Minghao santai, menyesap wine yang sejak tadi hanya digoyang-goyangkan saja di gelas. Jeonghan menatapnya sedih, ia paham sekali yang dirasakan Minghao. Ia merasakannya sekarang. 

“Kalau Joshua ini lo request dia bohong di bagian mana aja?” 

“Pertemuan kami. Gue bohong soal kami ketemu di Australia.”

“Selain itu? Personality dia?”

“Nggak ada.”

“Nama?”

“Kata dia asli.”

“Terus dia cerita nggak bohongnya bagian mana aja?”

“Katanya rahasia.”

Untuk ke sekian kalinya, Minghao menatapnya prihatin. “Iya sih … namanya juga pura-pura ya …” lirihnya sampai hampir berbisik. “Tapi kalo gue liat cara dia bersikap, bergerak, ber—semuanya ke lo, kayaknya cuma ada dua kemungkinan.” Sepupunya itu menatapnya serius, seperti apa yang akan dikatakannya ini sangat mencengangkan. 

“Pertama, dia jago banget akting, atau kedua … dia juga naksir lo.”

Napas Jeonghan tertahan, ia menggeleng tak percaya dan tertawa pahit. “Lo sakit jiwa.”

“Lo juga.”

Benar juga.

Mereka saling menatap tak tertarik, menunggu salah satu di antaranya tertawa dan memaki atas kegilaan mereka, tetapi tak ada yang bersuara. 

Jeonghan mengusap wajahnya gusar. “Don’t put ideas into my head.” 

“It’s already in your head. Gue cuma menyuarakan keberadaannya.” 

Bajingan. Dia benar lagi.

🎄

Malam semakin larut dan semua orang seperti sudah kehabisan energinya meski baru saja diisi penuh beberapa jam yang lalu. Kalau tak terlibat permainan begini, Jeonghan baru menyadari kalau semua anggota keluarganya sangat ambisius. Padahal biasanya mereka tak begitu semangat dalam bermain gim. Apa karena kali ini mereka menemukan cara ampuh untuk membuat gim lebih masuk akal untuk dimenangkan yaitu dengan melarang Jeonghan bergabung? Apa karena kali ini mereka sudah muak dengan Jeonghan dan cara curangnya untuk menang? Apa karena kali ini mereka sudah lelah melihat Jeonghan selalu beruntung? 

Joshua membanting badan di sebelahnya, ia terlihat sangat kelelahan, tetapi senyum lebar di wajahnya mengatakan hal lain. 

“Gimana? Capek?” Jeonghan memperhatikan laki-laki di sampingnya yang masih menyandarkan kepalanya ke sofa, menatap langit-langit rumah kakeknya sambil terengah-engah. 

“Banget.” 

“Tapi seneng?”

“Banget.” 

Joshua menolehkan kepalanya dan membuat Jeonghan menangkap senyum lebar itu lebih jelas. Matanya berkilat senang, seperti anak kecil yang baru menang bermain sepak bola melawan kompleks sebelah. Laki-laki itu kemudian bergeser dan menyandarkan kepala ke bahu Jeonghan, mencari posisi yang nyaman sebelum berkata, “Gini dulu bentar, ya?”

Jeonghan hanya diam, tak menerima, namun tak menolak. Ia biarkan hangat pipi Joshua terasa di bahunya, berat kepalanya di sana menunjukkan kalau ia benar-benar ada. 

Jeonghan sudah berusaha meyakinkan dirinya kalau ini hanya sementara, kalau Joshua tak benar-benar suka padanya. Kalau besok pagi, atau mungkin nanti dini hari, Joshua akan pergi. Jeonghan? Lagi-lagi ia akan menjadi orang yang membereskan hati, kembali belajar untuk menikmati menjadi sendiri.

Ruang tengah keluarganya itu sekarang sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Dengung lirih obrolan dari berbagai sudut ruangan masih terdengar, namun tak ada yang meninggalkan tempat. 

Di keluarga ini, acara di malam natal selalu ditutup dengan menonton nyanyian anak-anak atau paling tidak bernyanyi bersama. Besok pagi mereka akan berangkat ke gereja ramai-ramai dan mungkin saat itu Jeonghan harus menjelaskan kenapa Joshua tiba-tiba tidak ada. Mungkin ia bisa memakai alasan keluarga Joshua sakit jadi ia harus pulang segera, mungkin juga ia bisa berbohong dengan sangat bodoh kalau mereka bertengkar hebat dan hubungan harus selesai saat itu juga. 

Jeonghan mengusap wajahnya dan memaksa pikirannya untuk tak terlalu memusingkan masa depan. Laki-laki yang ada di pikirannya sekarang sedang bersantai menyandarkan kepala di bahunya. Lebih baik ia menikmati momen yang sedang terjadi saat ini daripada pusing memikirkan yang tidak pasti. 

“Biasanya kalau udah gini ngapain, Jeonghan?” tanya Joshua, mengangkat kepalanya dan memperhatikan sekitar. 

“Paling Seungkwan habis ini nyanyi.” Jeonghan tersenyum kecil. “Kalau udah ngilang, pasti sibuk dandan heboh.” 

Joshua kemudian menatapnya ragu-ragu. “Boleh nggak kalau aku main piano itu?” 

Jeonghan mengikuti arah tunjuk Joshua dan mendapati piano kakeknya di sudut ruangan dekat jendela. Piano yang dulu sering kali ia mainkan setiap jenuh belajar Matematika. Jeonghan mengangguk semangat, menariknya untuk percaya diri menghampiri piano yang sudah lama tak dimainkan siapa pun. 

“Everyone, gather around please, Joshua mau unjuk kebolehan!” teriak Jeonghan yang langsung mendapatkan pukulan kecil di bahu dari Joshua. Laki-laki yang sudah siap duduk di depan piano itu bersemu merah, salah tingkah saat semua orang bersorak semangat dan mengerubunginya. 

Anak-anak kecil duduk menghadapnya, sedangkan yang lebih tua berdiri di dekatnya. Mengerubungi tetapi juga masih memberi ruang nyaman untuk Joshua. 

“Emm, hari ini aku seneng banget karena bisa ngobrol, main—ketemu sama Om, Bibi, Kakek, dan adik-adik sekalian. Aku akan berterima kasih selamanya karena sudah disambut hangat, aku merasa diterima.” Joshua tersenyum lebar, menatap setiap pasang mata yang ada untuk menyampaikan rasa terima kasihnya. 

“Dibandingkan malam-malam Natalku sebelumnya, Natal tahun ini sangat menyenangkan dan akhirnya aku bisa merayakan. Bukan merayakan padahal sendirian, tapi yang benar-benar ramai dan terlibat banyak orang.” Ia menatap piano di hadapannya kemudian mengembuskan napas perlahan. “Jadi seperti kata Jeonghan, aku mau unjuk kebolehan biar semuanya semakin ramai dan senang.” 

Kekeh kecil terdengar bersamaan dan Joshua ikut tersenyum tipis. Ia mengusap tangannya di paha, sepertinya menghapus keringat dinginnya. “I’m going to play a song, but it’s not christmas themed though, I hope you don’t mind?” 

Seluruh keluarganya menggeleng cepat, terlalu tak sabar mendengar permainan piano dari anggota baru yang langsung menjadi favorit semua orang ini. 

Bunyi tuts ditekan menggema ke seluruh ruangan, jari-jemari Joshua melompat lihai ke sana-ke mari. Nada yang menyenangkan dan familier itu menyapa hangat semua orang, membuat semua yang mendengar bergoyang ke kanan dan ke kiri senang. 

Jeonghan tahu lagu ini. 

I know, I know
You belong to somebody new
But tonight, you belong to me

Joshua tersenyum lebar saat semua anggota keluarganya ikut bernyanyi, tangannya masih lincah melompat menekan setiap tutsnya tanpa cela. Ia terlihat senang, menikmati semua perhatian yang diarahkan padanya dan bernyanyi bersama. 

Although we're apart, you're a part of my heart
And tonight, you belong to me

Ada sedikit bagian dari Jeonghan yang berharap ia tak senang. Berharap lagu ini tak dinyanyikannya dengan senyum suka cita seperti perpisahan mereka yang akan terjadi tak berat sama sekali untuknya. 

Way down by the stream
How sweet it will seem
Once more just to dream
In the moonlight—

And then their eyes meet, the whole world seems to slow down. 

Senyum lebar Joshua hampir meninggalkan tempatnya saat mata mereka bertemu. Sinar bahagia di matanya tak lagi cerah, ia meredup dan redam seperti ada sesuatu yang padam di dalam. 

My honey, I know, with the dawn
That you will be gone
But tonight, you belong to me 

Pandangan itu tak pernah dilepaskan Joshua dari Jeonghan, ia seakan menolak melepaskan sampai ia harus dipaksa keadaan. Sisa lagu dimainkan Joshua dengan pandangannya tak lagi meninggalkan Jeonghan. Semua nyanyian keluarganya seakan tahu akan perpisahan mereka dan tak pusing-pusing untuk membantu menghentikan. 

Way down, way down, along the stream
How very, very, sweet it will seem

Jeonghan teringat akan syarat perpisahan yang disampaikan Minghao kapan hari. Soal kewajiban mereka dianggap tuntas jika client sudah melunasi semua pembayaran dan hubungan pura-pura mereka akan selesai.

Hubungan pura-pura mereka akan selesai.

Once more just to dream
In the silvery moonlight

Joshua mengalihkan pandangannya pada ponselnya saat ada notifikasi masuk. Matanya membulat kaget, menyadari apa arti pesan yang baru didapatkannya. 

Hubungan pura-pura mereka sudah selesai. 

Tatapannya tersentak kembali ke arah laki-laki yang sudah menatapnya lekat. Sumpah, Joshua tak berhalusinasi, Jeonghan menatapnya penuh cinta. 

Ia menatap laki-laki yang berhasil memberinya harapan panjang hanya dalam beberapa jam bersama, memberinya kesempatan mencicipi rasanya diterima, memberinya kehormatan dirayakan ramai-ramai sekeluarga. 

My honey, I know with the dawn
That you will be gone

Ia berusaha menelan ludahnya, menghilangkan gumpalan yang menghimpit jalan masuk udaranya. Ia memberanikan diri untuk kembali menatap Jeonghan, membiarkan dirinya mengingat setiap garis tegas di wajahnya.

“Please don’t leave.”

But tonight
You belong to me

Joshua mengerjapkan mata berulang kali, takut ia baru saja berhalusinasi. 

Namun, semuanya masih sama. 

Seperti adegan yang berkelanjutan, saat permainan piano Joshua sudah berakhir, sorak-sorai semua orang pecah meriah di udara, tepuk tangan bersahut-sahutan dengan gembira. Merayakan mereka, merayakan momen bersama. 

Seperti adegan yang berkelanjutan, Jeonghan masih berdiri di depannya, menatap penuh harap seperti yang terus dimimpikan di kepalanya. 

Seperti adegan yang berkelanjutan, Joshua membolehkan dirinya percaya hal indah ini nyata. 

Akhirnya ia mengangguk. Tersenyum manis seperti biasa, seperti saat mereka pertama kali bertemu beberapa jam yang lalu. 

Ia menatap Jeonghan lembut, lengkap dengan senyum lebar andalannya. Ia berbisik pelan, berbagi momen rahasia di tengah keramaian, “I’ll stay.”

Notes:

what do you think of this fic? please drop a comment and leave a kudos, hihi ♡(˃͈ ˂͈ )

Since aku belum 'officially' buka commis, kalau kalian pengin tanya-tanya tentang commis atau hal yang lain, boleh langsung dm yaa atau baca-baca di padletku juga boleeh ! Here's my twitter and tellonym if you want to reach out!

Thank you so much for reading, have a good day!

Series this work belongs to: