Work Text:
Malam itu Hanbin pulang sehabis acara yang telah direncanakan oleh agensi, ia sungguh lelah. Rasanya badannya agak remuk dan kakinya bisa saja copot jika dirinya tak segera duduk di Sofa ruang tengah. Hanbin pun membuka ponselnya lalu mengecek pesan-pesan yang belum sempat ia buka tadi, dan ada satu pesan dari kekasihnya yang tak sempat ia lihat.
"Humph, kak Hao pulang telat hari ini" Hanbin cemberut, akhir-akhir ini Hao selalu punya kegiatan yang cukup padat, ia berusaha mengerti dengan keadaannya sebagai idol. Tentu selalu sibuk, tapi Hanbin juga mau pulang disambut oleh kekasihnya dengan pelukan hangat. Hanbin menghela napasnya lalu beranjak kearah kamar mandi dan mengganti pakaiannya.
Setelah Hanbin mandi, ia memakai handuk lalu mengambil baju yang ia ingin pakai malam ini. Sebuah tank top dan celana pendek di atas lutut, begitu selesai ia lanjut menuju kamar miliknya dan Hao. Tak lama Hanbin memainkan ponselnya, ia pasrah dengan rasa kantuknya dan pergi tertidur.
"Aku pulang" Hao berucap sambil membereskan sepatu dan mantel yang dipakainya, ia pun melihat sekeliling dan mendapati ruang tengah sepi, tidak ada siapa-siapa. Setahu dia para member masih ada yang diluar negeri dan ada juga yang diluar kota jadi hanya dia dan Hanbin yang ada di dorm. Akhirnya Hao menuju kamar bersamanya dengan Hanbin, ia mendapati kekasihnya yang sedang tertidur dengan posisi memegang ponsel. Hao pun tersenyum, lalu mulai melangkah pelan dan mengambil ponsel Hanbin dan menaruhnya di atas nakas.
"Kakak pulang abin sayang" Hao berbisik pelan, lalu pelan-pelan ia melangkah mundur menuju pintu keluar agar tidak membangunkan cintanya. Ia ingin pergi tidur juga tetapi bajunya kotor karena ia bertemu orang banyak dan polusi udara di kota. Sesudah Hao mengganti bajunya dan membersihkan badannya, rasa haus menghampiri dirinya, maka Hao segera menuju dapur dan mengambil air putih dingin.
Hao lalu meneguk air putih itu lalu menaruh gelasnya di atas meja marmer, kemudian dirinya menyusul Hanbin. Akan tetapi, tiba-tiba saja saat ia memasuki kamar, entah mengapa di maniknya Hanbin terlihat seksi... lebih tepatnya kakinya yang panjang menarik perhatiannya. Kakinya.. pahanya... terlalu mulus, seperti ada yang harus ia lakukan, Hao pun mendekat lalu memegang paha Hanbin yang terlampau semok.
Ini sudah malam, lebih tepatnya pukul jam 11 malam. Hao tahu seharusnya ia pergi tidur, tapi sesuatu di bawah sana malah terbangun setelah melihat kaki panjang Hanbin yang mulus dan bersih itu, dia jadi pengen gigit. Hao pun meminta maaf dalam hati dan setelah itu ia bersiap dengan posisinya.
Muka tampannya ia taruh di tengah kedua paha Hanbin yang berisi, lalu is memajukan wajah di depan memek sang kekasih dan meniupnya. Ternyata hanya ditiup begitu saja, tubuh Hanbin bereaksi, pinggulnya terangkat sedikit, ekspresinya juga menandakan bahwa ia sedikit tidak nyaman. Tapi Hao melanjutkan kegiatannya dengan melepas celana pendek Hanbin dan celana dalam berwarna putih itu.
Hao terkekeh, bagaimana bisa Hanbin masih bisa tertidur nyenyak setelah Hao melepaskan celana pendek dan dalamannya. Ia jadi berpikir, bisa saja Jiwoong melakukan ini pada Hanbin, membayangkannya saja membuat darahnya mendidih. Tidak boleh, pokoknya hanya Hao saja yang boleh melakukan ini pada Hanbin, miliknya... Hanbin hanya miliknya seorang.
Ia lalu mulai memberi tanda pada pahanya, digigit kecil lalu dijilat. Lanjut ke bagian bawah diberi ciuman kecil lalu digigit lagi, Hao terus mengulang perbuatan tersebut untuk meninggalkan bekas. Ia tersenyum puas, hampir seluruh pahanya ia beri tanda, tapi tak cukup di situ.
Hao memang puas, tapi yang di bawah sana belum merasakan kepuasan, ngaceng parah. Akhirnya ia bawa jarinya dan mulai perlahan memasuki memek Hanbin, menggaruk dalamnya, membuat gunting, dan memainkan biji kecilnya. Dan tak lama kemudian memek Hanbin menjepit 3 jari Hao di dalam, menandakan ia segera keluar, maka Hao memainkannya lebih cepat dan Hanbin keluar dengan badan melengkung dan paha bergetar.
"Uhhk- kak Ha-o?" Sepertinya Hanbin sudah terbangun dari mimpinya, Hao sedikit merasa bersalah. Tapi setelah melihat memek Hanbin yang pink dan menggoda, rasa bersalahnya hilang begitu saja digantikan nafsu yang membara.
"Maaf sayangnya kakak, kalau kamu mau tidur lagi gak apa-apa kok" Hao lalu memberi kecupan kecil dibibir sang kekasih, namun Hanbin malah menarik tengkuk Hao dan mulai melumat bibir sang dominan dengan tempo yang cukup berantakan. Maka Hao lepaskan sejenak dan menatap Hanbin yang berada di bawah dirinya, Hanbinnya berantakan, air liurnya, rambutnya, dan bajunya.
Seksi, cantik, indah, imut, tampan, dan menggoda.
Hao gak kuat, ia pun bangun dari posisinya untuk melepaskan sweat pants dan boxer nya. Kontolnya sudah keras sekali dan berdiri dengan bangga. Hanbin pun mulai membuka matanya dan fokus untuk melihat kontol kesayangannya itu.
"Kakak.. gak mau dihisap aku dulu?" Tanya Hanbin dengan tangannya yang membentuk huruf O dan memasang ekspresi seperti anjing yang tertolak. Hao udah ngaceng parah, pengen langsung masuk aja, tapi kalau Hanbin yang nawarin duluan. Mana bisa sih Hao menolak, dia juga kangen kontolnya masuk mulut kecil Hanbin. Tidak perlu basa-basi, Hao pun mengangguk dan kekasihnya itu langsung membungkukkan badannya.
Menjilat kontolnya dengan lihai, mulai dari pucuknya lalu ke batangnya dan melakukan deep throat, keahlian Hanbin. Tapi deep throat juga hal yang sangat Hao sukai, ia menyukainya, melihat mulut Hanbin penuh dengan kontol besarnya, pengen cum.
"Cantiknya kakak, jago banget ngisepnya. Anak pintar nanti dapat hadiah"
Hanbin basah lagi setelah dipuji seperti itu, maka ia memakan kontol Hao dengan semangat. Muka Hao udah merah, menahan diri buat gak keluar di dalam mulut Hanbin, dia pengen keluar di memeknya aja. Hanbin masih gencar menghisap kontolnya, tapi Hao menjabaknya pelan dan menggeleng.
"Kakak mau keluar di dalam kamu, mau pake kondom atau enggak, Bin?" Tanya Hao, sambil mengocok kontolnya yang sudah sangat bersedia masuk ke dalam memek Hanbin.
"Mau... mau diisi sama kakak, gak usah pake kondom, obatnya masih bekerja" Maka Hao memegang kaki Hanbin dan menaruhnya di kedua pundak miliknya. Setelahnya ia mulai mendorong kontolnya masuk ke dalam memek Hanbin yang hangat.
"Penuh kak.. di sini" Tunjuk Hanbin yang menampilkan gundukan kontolnya di perut Hanbin, kekasihnya ini sungguh bahaya. Maka tanpa aba-aba Hao menambah kecepatan dan memasukannya lebih dalam, sesekali ia menyentuh dinding rahim Hanbin. Ia juga sambil menjilati dan menggigit kecil betis Hanbin, semua badannya, kakinya harus ditandai.
Hao lalu mendekat, dan menyatukan bibirnya dengan Hanbin, melumatnya pelan. Ia merasakan kontolnya membesar, tanda sebentar lagi Hao akan keluar, maka ia percepat hentakannya. Melepaskan ciuman panasnya dengan Hanbin, dan menghentakkannya lebih dalam, membuat Hanbin keluar untuk kedua kalinya.
"Ahhk- hiks"
Memek Hanbin pun meremas kontolnya dan tak lama kemudian ia keluarkan seluruh maninya di dalam rahim Hanbin, rasanya seperti surga dunia. Hao pun perlahan mengeluarkan kontolnya yang sudah melemas.
"Hhhngh, sensitif kak" Hanbin merengek, lalu Hao meminta izin untuk membersihkan dirinya, setelahnya ia mulai mengelap badan Hanbin, tak lupa memindahkan Hanbin pada kursi gamingnya. Hao pun mengganti dengan seprei baru dan seprei yang sudah basah oleh cairan cinta mereka Hao taruh sembarang arah, toh ini kamar mereka, jadi tidak apa apa.
Nafsunya sudah terpuaskan, sekarang rasa kantuk mulai menguasai dirinya, Hao ngantuk, begitu pun Hanbin yang terganggu tidurnya. Hao lalu mengangkat Hanbin seperti karung beras, lalu menaruhnya perlahan di kasur. Hanbin merebahkan dirinya dan Hao menyusul sembari melebarkan selimut untuk mereka berdua.
"Selamat malam kak, i love you"
"I love you too, mimpi indah sayangnya kakak" Hao pun mengecup dahi dan bibir Hanbin, setelahnya ia memeluk Hanbin dan ikut tertidur.
