Actions

Work Header

i can do both

Summary:

“Ayo, katanya you can do both at the same time, right?”

Carlos pun menyesali ucapannya pada saat post-sprint race interview tadi.

Notes:

THE PAST FEW WEEKS ARE ROUGH FOR TEAM55. Wallahi I can't do this anymore please be nice Sao Paulo GP aamiin.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Ayo, katanya you can do both at the same time, right?” 

Carlos pun menyesali ucapannya pada saat post-sprint race interview tadi. Dengan ragu-ragu, kedua tangannya meraih ke arah penis milik Max dan George yang sudah disuguhkan ke wajahnya. Pelan-pelan jarinya membalut corpus yang sudah basah, naik turun menghasilkan melodi lenguhan dari kedua pria yang ada di atasnya. Rambutnya mulai dijambak kasar oleh George di kala Max mengelus-elus pelan helai surai hitamnya yang cantik.

“Sayang aja kemarin tim gue gak kontrak dia,” ucap George dengan decakan kesal.

“Williams so lucky to have him,” sahut Max dengan penuh kasih.

Carlos pun mempercepat gerakan, jari di tangan kiri meraba-raba ostium urethra luar penis George sedangkan tangan kanannya menekan keras sampai ke glans penis Max. “Fuck, he's so good at it,” desah George di atas kasur, berusaha menahan desahan dengan menggigit bibirnya. Max pun meraih dagunya Carlos kemudian memaksa dirinya membuka rahang bawah, dan penisnya diarahkan ke dalam mulutnya. George pun mengikuti lakunya Max, sampai Carlos mengatup lagi mulutnya, ragu-ragu apakah mulutnya sanggup memasukan dua penis langsung.

Tapi tanpa aba-aba, Max membuka rahang Carlos lagi, dan memasukkan langsung batang kemaluannya ke dalam, diikuti George yang membaca isyaratnya. Tiba-tiba mulutnya diinterupsi dengan dua kontol yang menyodok paksa langsung ke laringnya, sedangkan Max mendesah nikmat sambil menarik akar rambutnya.

“Pantes lu langgeng sama dia dari jaman Toro Rosso-fuck-anjing, enak banget mulutnya.” 

“Kan gue udah bilang apa,” jawab Max, “Just wait until you taste his pussy tho.”

Tiba-tiba pipinya ditampar keras oleh George, Carlos pun mendesah, celana boxernya bertambah basah akibat kucuran deras lipatan vaginanya. George pun memutar bola matanya, “Yaelah, baru juga ditampar gitu udah becek aja. Max, cowok lu nih perek banget dah anjing.”

Carlos cemberut di bawah dengan bibirnya mengerucut, tapi Max menarik dagunya lagi, memaksa dirinya untuk mulai kembali mengulum. Sampai akhirnya, mulut Carlos menyambut kembali, mencicipi rasa asin dari kepala penis mereka. Kedutan pun terasa dalam liang mulut datang dari kedua batang penis yang ada di dalam, kemudian Carlos menarik diri sampai Ia disambut dengan cairan sperma milik Max yang disusul oleh milik George, tepatnya ke wajah sayunya. Sperma mereka pun bercampur hingga menetes, menelusuri jejak wajahnya di pipi dan berakhir di bibirnya, Carlos pun mencolek sisa cairan lengket yang hangat itu dari wajah menggunakan jarinya dan dicicipinya. 

George pun kebelakang, dadanya menghadap ke punggung Carlos yang mulai berkeringat, tangannya pelan-pelan menyusuri lingkar pinggang celana dan cekatan menarik kain biru pendek itu. Carlos pun tersentak sedikit kala udara dingin mengenai lipatan vaginanya yang basah dan lengket. Jari-jarinya George pun mencolek sedikit cairan lengket yang sudah membasahi sampai ke paha Carlos, lalu dibawa ke dalam mulut sembari dijilat. 

Slick manis tersebut melebur ke dalam lidahnya. Sweet. Pikir George. Baru kali ini dia merasakan slick semanis milik Carlos yang mungkin memiliki efek memabukkan dan adiktif. Kedua tangan George pun mencengkram sini kanan-kiri paha Carlos, kemudian kepalanya mendekat ke arah selangkangan omega bongsor itu. Lidahnya pun menjulur, bersinggungan dengan vagina sensitif Carlos. Satu jilatan panjang dibuat olehnya dari klitoris lalu menyusuri vulva, sampai ke bagian belakang. 

Carlos terkejut, kembali mendesah dengan kencang, air matanya mulai keluar, tak tahan dengan stimulasi George. Kepalanya otomatis melihat ke arah George yang sedang menyantap bagian bawahnya bak makanan prasmanan di hotel bintang lima. Saat Ia kira semuanya sudah berlebihan, dirinya dibuat terperanjat seketika, bergidik hebat sampai kakinya lemas luar binasa. George tiba-tiba mencubit klitorisnya saat lidahnya mulai masuk ke dalam lubang sempitnya. “G-george! Wait! Fuuuck, lu jangan-mhnnn-asal masuk gitu dong!” 

Kata-kata Carlos menjadi terbata-bata, diselak dengan desah manisnya setiap George mencabuli vaginanya. Pahanya mulai letih, tak sanggup tegak, untung sedang ditopang oleh tangan pembalap Mercedes itu. Sedangkan Max di depannya sedang mengelus rambutnya, berusaha menenangkan Carlos dari stimulasi brutal rivalnya. “Anjing Max, memek pacar lu tembem banget bangsat. Tapi sensitif banget, gue jadi sungkan”

Max hanya terkekeh kecil mendengar perkataan George, “Lanjut aja, emang dia suka gitu. Nangis doang bisanya.” George pun mengangguk dan kembali menggauli Carlos dari belakang. Kini dua jari masuk, meraba-raba letak titik lemah Carlos, dan akhirnya, “Ahh!”. Bingo. Baru pertama kali coba sudah ketemu, bahkan Max dulu susah payah mencarinya sampai akhirnya tutup mata juga bakal ketemu. 

Jarinya keluar masuk dengan gerakan maju mundur dengan menekan-nekan bagian g-spotnya, sedangkan Carlos hanya bisa menangis keenakan di atas paha Max. Nafasnya mulai terengah-engah, “G-george …. Please, I'm so close.”

“Belum sekarang,” gumamnya sambil masih menjilati klitoris Carlos yang membuat dirinya semakin mabuk kepayang, pahanya menegang sambil terdorong ke depan, air matanya membasahi pipinya dengan mulutnya yang mendesah semakin kencang. Kepala George pun ditarik ke belakang, dirasa memeknya sudah longgar, tangannya justru menampar kencang lipatan basah itu sampai Carlos terkejut. 

“Oke dia udah siap,” ucapnya sambil mengambil dua bungkus kondom, disusul Max yang ikutan menurunkan boxernya sampai jatuh ke lantai. Tubuh Carlos pun diposisikan di atas paha Max dan terhimpit akibat George yang berada di belakang. George pun melempar satu bungkus kondom ke arah Max yang langsung dirobek dengan giginya dan langsung dipasang ke penisnya. Carlos pun mengantisipasi yang akan terjadi sampai akhirnya dirinya mendesah diikuti isakan tangis ketika penis Max mulai masuk ke dalam vaginanya yang mulai tambah basah. Di saat perutnya dikira sudah penuh dengan penis pacarnya yang diam di dalam vaginanya, George pun mendorong miliknya sampai mentok ke dalam hingga menyentuh cervixnya. “Fuck, sempit banget anjing memeknya,” erang George sambil berusaha mengakomodasi penisnya yang lumayan besar, bergesekan dengan milik Max.

Di depan wajahnya, Max masih mengecupi wajahnya sambil mulai bergerak keluar masuk dengan pelan dan berhati-hati, sedangkan George di belakang mulai mencengkram kasar lehernya dan bergerak dengan tergesa-gesa. Dua dinamik dari dua orang yang sedang menjamah tubuhnya seolah-olah dapat didefinisikan dengan frasa yang berbeda. 

Dengan Max yang sedang membuat cinta pada tubuhnya, penuh dengan kasih dan sayang, diiringi dengan puji-pujian manis sambil dengan cium manis di sekujur wajah dan leher, Max penuh cinta di matanya mengucap dengan lembut, “Ayok sayang, pinter banget kamu. You did so good. Tahan yaaa, nanti abis ini kamu boleh keluar kok.” Penisnya di dalam vagina Carlos beradu dengan milik George, secara hati-hati, Max mengambil tempo yang sedikit cepat dengan presisi yang tepat dalam menyentuh dindingnya hingga menyentuh rahimnya.

Sedangkan George, sebaliknya sedang menyetubuhi Carlos dengan binal dan penuh nafsu. Tangannya kirinya mencekik tepat di bagian tulang krikoidnya, hampir memotong 50 persen pasokannya nafasnya. Giginya menggeretak sebentar di kala pinggulnya bergerak dengan cepat dan kasar, menyundul serviksnya kasar, menghasilkan desah yang mirip dengan rengekan kecil, “Bangsat, lu cocok banget deh jadi lonte. Fuck, ini kalau gak pake kondom, udah gue hamilin lo.”

Mendengar kata itu, Max pun mendecak tak suka, “Lu gak usah macem-macem. Udah untung lu gue bolehin ngewe.” Peringatan tersebut hanya dibalas dengan tawa jahat, “Yaelah santai aja, tegang amat lu kayak kontol.” Tapi mendengar kata dihamili, membuat Carlos justru mengerang nikmat. “Tuh, istri lu aja pengen dihamilin, buruan gih keburu keduluan sama yang lain,” ucap George lagi.

Max pun tetap fokus dalam membuat cinta, “Sabar ya sayang, kamu beneran pengen dihamilin?”

Dengan bibir manyun, Carlos pun mengangguk malu. Max pun memberikan isyarat kepada George untuk keluar dari vagina pacarnya dan George pun mengerti. Dirinya pun menarik diri duluan dan melanjutkan dengan tangannya. Sedangkan Max menyusul sebentar dan melepas kondomnya. Yang tadinya pelan dan hati-hati, Max pun langsung menggerayangi tubuh sensitifnya, didorong dengan keras di atas kasur kemudian memasukkan kembali penisnya yang tak dilapisi apapun. 

George pun menonton aksi porno aksi mereka sampai dirinya ejakulasi di dalam kondom, sedangkan Max membuat kaki Carlos di taruh di atas bahunya agar bisa memiliki manuver yang lebih baik. Mata Carlos sayu menatap Max, dan bibir mereka beradu lagi sampai lidah bertaut satu, gerakan Max mulai tak karuan dengan kecepatan yang mungkin kelewat batas. Carlos hanya bisa tersenyum sambil mendesah, tak peduli jika tubuhnya sedang ditonton oleh yang lain. Yang dia pikirkan hanya Max, Max, dan Max. 

“You ready? Fuck.” Max di dalam masih bergerak, dan penisnya sudah mengeluarkan sedikit demi sedikit cairan pre-ejakulasi. Carlos pun mengangguk lagi, “Aku s-siap. Please, sayang. Hamilin aku,” ucapnya dengan manis, penuh dengan harap. Matanya berbinar tapi terdapat sentuhan godaan nakal dibalik suara manisnya itu.

Max pun hampir gila mendengar suara cinta kasihnya, dan mulai bergerak lebih cepat. Sampai kemudian, Max berulang kali mengerang dan menghentakkan pinggulnya, “Fuck-fuck, hamil please, hamil…!” Dan spermanya pun tumpah ke dalam vaginanya, diikuti Carlos yang orgasme sambil menjepit penis pacarnya. Sesaat, Max mendekap tubuh Carlos dengan erat. Dan sejenak Carlos memejamkan matanya, dan dikala dirinya membuka mata, hanya ada Max di sampingnya dan mereka berdua sudah memakai kembali piyama bersih di atas seprai kasur yang baru. Tak ada tanda-tanda George ketika dia melihat sekitar, Max pun yang di sampingnya, “Dia udah pergi tadi. Katanya makasih, dia juga tadi bantuin bersih-bersih pas aku mandiin kamu.”

Carlos pun ber-oh ria. Tapi tiba-tiba dirinya menjadi manja ke arah Max, “Sayang … Kalau misalnya aku hamil beneran gimana…? Kita kan belum nikah ….”

Max pun terkejut sedikit, tak menyangka pacarnya yang cantik itu akan bertanya, “Sayangku cintaku, gak usah takut. Urusan nikah itu aku udah urus sama papa kamu kok.”

Sebentar otaknya berusaha mencerna kata-kata Max, “HAH?”

Max terkekeh sedikit, “Iya. Kamu mau kan jadi istri aku?” Dengan tangannya membuka kotak cincin dan mengecup pelan buku-buku jarinya.

Carlos pun terdiam wajahnya merah, dengan tanpa pikir panjang, “Iya. Aku mau jadi istri kamu, Max.”

Notes:

yay hamil. waktunya pushrank mole