Actions

Work Header

Kita Ini Sapi, Bukan Seorang Insan

Summary:

Setiap rut, seekor hybrid banteng pemimpin harus menyetubuhi hybrid sapi pilihannya di depan koloni. Rut Mycroft tiba pekan depan, dan ia akan mengajak Albert untuk latihan sekarang.

"Lihat ke cermin, Albert."

Notes:

Tulisan ini dipublikasikan untuk merayakan Halloween 2025 (setelah berminggu-minggu dibiarin ngendep di draft). Saya menerima kritik dan masukan, bukan hujatan. Mohon baca seluruh warning tags dengan teliti sebelum membaca teks jorok ini please‼️ Harap maklum kalau kurang pedes karena nulisnya setengah ngantuk 😔😔

Terima kasih dan selamat membaca 🫶📚

Work Text:

Sepasang hybrid pemamah mendesah selaras ranjang yang bergerak gundah. Di sela-selanya, tepuk demi tepuk antar kulit terdengar begitu nyalang. Panas. Setiap ciuman penuh gairah dari Mycroft telah Albert balas, tapi dirinya belum juga puas. Nafsunya berkata ia ingin digagahi sampai sekujur tubuhnya lemas. Celah rahimnya terus dihantam, tanpa ampun digilas oleh penis Mycroft yang panjang, tebal, dan keras. Albert semakin sukar mengais napas ketika gerak pinggul Mycroft mengganas. Sisi waras sosok di belakangnya terkikis habis oleh insting buas. Mycroft menahan pinggang Albert agar tetap menungging dengan bokong terangkat ke atas. 

“Ah, ah~ berhenti d-dulu, mas!” pinta Albert, dengan susah payah meremas kain putih yang sudah kusut di bawahnya. 

Rangkaian hentak yang Mycroft lancarkan berhenti detik itu juga. Kemaluannya masih menancap di vagina Albert. Ia merendah hingga dada bidangnya yang licin karena peluh bertemu dengan punggung si brunet. 

“Sakit? Aku terlalu kasar, ya?” tanya pria yang lebih tua itu, khawatir. 

Dikecupnya pipi Albert dari samping sebagai bentuk afeksi. Bibir Mycroft bergerak turun menuju leher jenjang si brunet. Pelan-pelan, rambut cokelat panjang Albert yang terurai berantakan ia sampirkan ke sisi pundak lain supaya tidak mengganggu. 

Albert menggeleng lemah, kemudian membantah pertanyaan Mycroft. “Bukan… hngh.”

“Capek? Mau kita berhenti sekarang?” 

“J-jangan!” tukas Albert, panik. Satu tangannya memegang tangan Mycroft yang bertumpu di sebelah. “Jangan ke mana-mana…” 

“Terus kenapa, hmm? Sini bilang aja." balas Mycroft seraya menghela napas. Jempolnya mengelus pelan pipi Albert. 

Bukannya langsung menjawab, Albert malah membimbing tangan Mycroft untuk menyentuh perutnya agak sedikit ke bawah—tak jauh dari pusar. 

So deep… ah, kontol kamu masuk sampai ke sini,” lirihnya, disertai desah samar. Albert tersenyum lemah, kemudian dituntunnya tangan Mycroft supaya mengelus bagian yang memang terasa sedikit menonjol di sana.

“Penuh banget, aku suka.”

Pengakuan itu membuat Mycroft mematung di tempat. Birahinya seketika meningkat. Zakarnya membesar, dua buah yang mengapitnya kian berat. Albert mendesah samar, dinding vaginanya refleks mengetat. Pahanya ditahan oleh cengkraman kuat, lalu dalam sekejap tubuhnya sudah terangkat. 

“Enggak…” Albert merengek ketika Mycroft mengubah posisi bercinta mereka. Sang hybrid banteng duduk di tepi kasur. Kaki menapak lantai, paha memangku Albert. Kedua kaki si brunet dibiarkan terbuka lebar sementara kedua lengan pria itu menguncinya. “Oh, enggak. Jangan posisi ini, mas.” 

Tepat di hadapan mereka, hanya beberapa meter jauhnya dari kasur, terdapat sebuah cermin antik besar yang menggantung di dinding. Bingkainya terbuat dari kayu jati dan dipenuhi ukiran bunga mawar. Sepasang zamrud Albert menatap kilau mata yang sama persis di dalam cermin. Wajahnya lantas berpaling, tak sudi menatap bayangan dirinya sendiri. 

“Lihat ke depan,” bujuk Mycroft. Ada perintah tegas yang terselip di dalam suara lembutnya. Jarinya menyentuh dagu Albert, lalu diarahkannya hybrid sapi itu untuk kembali melirik ke arah cermin. 

"Sayang, ayo lihat ke depan."

“Gak mau,” tolak Albert. Wajahnya masih merah, secantik mawar yang baru merekah. “Don’t do this to me, please.”

“Kamu ingat kalau aku bakal rut minggu depan, kan?”

Albert bisa melihat wajahnya yang tersipu di cermin. Ia tahu tradisi turun-temurun di kawanan mereka: setiap rut, seekor hybrid banteng pemimpin harus menyetubuhi satu hybrid sapi pilihannya di depan koloni. Desahan samar keluar dari mulut Albert tanpa sadar. Membayangkan dirinya bersenggama dengan Mycroft di depan publik sungguh sangat memalukan. Terlalu liar, terlalu kurang ajar—tapi membuat gairahnya terbakar. 

“Anggap aja ini latihan.”

“Tapi aku gak mau nontonin diriku sendiri di—hngh?!” 

Kalimat protes Albert terpotong oleh Mycroft yang mulai menggerakkan pinggulnya secara tiba-tiba. 

“Watch the mirror, Albert.”

“A-ah, mmm… Mas Mycroft.” 

Albert menyandarkan punggungnya ke dada bidang Mycroft tatkala hybrid banteng itu mulai menggenjot lubangnya dari bawah. Ia bergerak lambat dan penuh tekanan di awal. Pinggulnya bergerak naik-turun, berputar, lalu bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tempo hentakannya kian meliar kemudian. Setiap desah yang Albert lepaskan terdengar bak alunan biola di telinga Mycroft. Si brunet semakin nyaring usai spot nikmatnya ditumbuk-tumbuk kepala penis Mycroft tanpa henti. Rangkaian ah, ah, ah merdu Albert berharmonisasi dengan decitan alas senggama dan dua kulit yang bertukar sapa. Geraman rendah Mycroft turut meramaikan simfoni cabul yang tercipta dari percintaan mereka.

"Sempitnya sayangku," puji Mycroft, menikmati sensasi hangat dan empuk dari dinding vagina Albert yang menjepit genit penisnya—bagai mulut bayi yang mengemut ujung karet botol susu. “Mas mentokin lagi, ya?"

“Ngh, hah, y-yesh! Mentokin—ungh!” 

Manik safir Mycroft terpaku pada iris zamrud berhias kristal bening milik Albert di cermin. Si brunet melenguh sebagai respon. Tubuhnya menggeliat dalam getar tak terhindar. Tatapan hybrid banteng itu mendatangkan nikmat serupa dengan penis yang kini menembus rahimnya. 

“Mmh, ah, hah, lagi… lagi~”

Albert mulai ketagihan melihat penampilannya sendiri. Ia tampak kacau-balau: netra sayu berlinang air mata, bibir bengkak terbuka membulat, lidah terjulur keluar, surai cokelat tergerai tak karuan, rona merah menjalar dari pipi hingga ke dada, tubuh berkilauan oleh liur dan keringat. Desahannya keluar saat Mycroft mengecup dan menandai lehernya dengan bekas gigit yang sulit pudar. Banteng jantan itu memindahkan satu tangannya dari paha ke dada Albert, lalu meremas sambil memilin putingnya sampai keluar susu. 

“Ah, jangan! Sensitif… ungh~”

“Bocor nih susunya,” ejek Mycroft, masih memainkan bukit padat nan kenyal Albert yang terus memantul seiring penyatuan mereka. Ia memilin, menekan, dan menjepit tonjolan mungil di pucuk dada Albert sebelum menyentilnya keras-keras. 

“Jangan dimainin—ah, hnn!” keluh Albert. Perkataan tak sejalan dengan badan. Albert tak ingin terang-terangan mengakui bahwa jauh di dalam hati, ia suka melihat semburan susu yang mengalir turun hingga tubuhnya basah total.

“Ngocor sebanyak ini,” ucap Mycroft, tak mendengarkan. "Kayaknya kamu bisa nyusuin semua banteng di koloni kita."

“Ah! ♡”

“Oh? Kamu mau nyusuin mereka? Memekmu jadi makin sempit, nih.” 

“Itu buat anak aku—fuh! Ngh, ahn.”

“Anak kita,” koreksi Mycroft, tegas. 

“Mmn, iyaah~ mau hamil anakmu. Yang banyak… kita bikin anak yang banyak—hik!”

Mycroft menyeringai usai mendengar suara cegukan Albert. Laju lingganya tak melambat barang sedetik pun. “Enak?” 

“Iyah! Enak, enyaaakh… genjot terus. Pejuhin memekku—mmn, cpkh~”

Sang pemimpin kawanan membungkam bibir Albert dengan ciuman posesif. Mycroft mencium kekasihnya dari samping. Ia melumat dan menghisap bibir Albert sampai hampir menyaingi irama cabul di selangkangan mereka. Albert meleleh dalam pagutan itu. Pelan-pelan ia menjulurkan lidah, ingin agar Mycroft menyedotnya sekeras celah rahimnya menghisap penis hybrid banteng itu. 

“Hnn, mmm—oh, oh~ sodok terus! Mas, aku mau crot.” 

“Muncratin aja. Muncratin yang banyak,” bisik Mycroft, sambil menampar dan meremas bukit kembar kenyal berisi susu milik Albert. 

“Ah, angh, cumc-cyumminghh!

Albert mencengkram lengan Mycroft tepat saat klimaksnya tiba. Badan moleknya menggelinjang di pangkuan Mycroft. Jari kaki menekuk, dua mata tertutup. Tubuhnya hampir lompat, tetapi Mycroft lebih dulu menahan pahanya untuk tetap diam di tempat. Cairan lengket menyemprot deras dari vagina Albert. Hybrid sapi itu berulang kali memanggil Mycroft dalam lenguhannya seperti mantra. Pejantan gagah di belakangnya belum selesai, namun Albert tahu bahwa orgasmenya akan datang tidak lama lagi. 

“Hng, ah, ah… di dalam. Nanti crot di dalam, mas~”

Tak disangka, Mycroft bangkit seraya mengangkat Albert. Penisnya setia timbul-tenggelam di liang kelamin si brunet. Ia berdiri, lalu berjalan mendekati cermin sambil tetap menggenjot Albert yang masih lemas karena nikmatnya klimaks. 

“Lihat, nih. Memekmu gak mau ngelepas kontolku.” 

“Mmh! mmn! Terus, mentokin terus, ahh.”

“Albert.” Mycroft memanggil nama kekasihnya sambil mendesah berat. “I’m so close to—Al, ah, sayang…” 

“Ahh?!~ ♡”

Mycroft menancapkan zakarnya dalam-dalam, kemudian menembakkan seluruh benihnya tanpa sisa. Cairan putih kental nan hangat seketika mengisi lorong vagina sampai ke rahim Albert. Keduanya mendesah bersama, menikmati nirwana yang hanya bertahan sebentar dengan tubuh gemetar. Si brunet meracau tak jelas sebelum akhirnya pecah syahwat. Lenguhan merdu Albert keluar putus-putus seiring Mycroft menghentak pelan lubang penuh maninya. 

“Take it all, petal. Jangan sampai ada yang keluar."

“Hngh… moo~ moo~

Mycroft terkekeh, gemas melihat Albert yang kehilangan akal setelah bersenggama. Ia mengelus tanduk kecil milik hybrid sapi itu sebagai balasan. “My beautiful, beautiful cow.” 

Kedua hybrid itu berciuman mesra. Tangan Albert menahan tengkuk Mycroft, merayu si hybrid banteng untuk tetap tinggal dan mencicipi manis tubuhnya sedikit lebih lama. Ia mendesah dalam tautan panas itu sewaktu penis Mycroft tergelincir keluar dari tempik beceknya. 

“Cpkh—ah, moo~

“Pintar. Muncratin terus, cantik,” ucap Mycroft, tak berkedip kala menatap jus lengket Albert bercampur air maninya yang mendadak muncrat dan menodai permukaan cermin. Kedua jempolnya menjepit vagina Albert, memeras habis getah birahi yang tak mampu ditampung rahim si brunet. Sesekali tangannya akan menggosok dan menepuk klitoris sensitif Albert sampai banjir di liang senggamanya reda.

“Ngh, huu~ moo… ♡”

“Masih kurang?” Mycroft menggendong Albert kembali ke kasur mereka. Ia menindihnya, menciumnya, lalu melesakkan ereksinya ke vagina si hybrid sapi dalam sekali hentak. “Keep moo-ing and be a good cow for me.” 

 

 

 

 

FIN