Work Text:
Semenjak hamil San jadi lebih sensitif, moodnya gampang berubah, dan jadi lebih needy. Pengen diperhatiin sama suaminya 24 jam. Sayang banget suaminya bukan satpam komplek yang melek siang malem, Yunho yang kerja 9 to 5 ini kadang kewalahan buat menyanggupi permintaan istri cantiknya yang lagi mengandung anak pertama mereka.
Memang ya, kehamilan pertama tuh disaster banget, San tiap pagi morning sick, makanan yang biasanya dia suka malah jadi nggak suka semenjak hamil. Pregnancy cravings? Wah, Yunho aja yang punya appetites aneh suka mix makanan nggak pernah tuh ngebayangin kalau San minta claypot popo blok m telur setengah mateng dicampur sama cromboloni stroberi. Tapi tetap diturutin sama Yunho.
Terhitung udah 28 minggu umur kehamilannya San, iya, udah trimester akhir. Sebentar lagi mereka bakalan menyambut putra atau putri kecil mereka. Yunho sama San udah beberapa kali belanja buat baby nya, sengaja cari barang yang essential dulu. Kayak peralatan makan, stroller, car seat, dan beberapa mainan yang support tumbuh kembang anak.
Kerja korporat gini nih kadang nggak nentu banget, sebenarnya Yunho sering lembur, demi dapet bonus juga. Tapi, semenjak nikah sama San dia jadi lebih sering bawa kerjaannya pulang ke rumah. Yah, setidaknya masih bisa kerja sambil merhatiin istrinya di rumah. Beda sama jaman dulu waktu Yunho masih single. Kalau nggak disuruh pulang sama OB, dia nggak bakalan pulang tuh kayaknya.
Kayak sekarang ini, Yunho dengan kaos putih tipis sedikit longgar khas bapak-bapak, dan bawahan piyama warna biru muda kotak-kotak, nggak lupa kacamata rimless yang bergantung apik di hidung mancungnya—yang kadang bikin San salah tingkah sendiri. Yunho lagi sibuk berkutat sama excel, ntah apa yang dia kerjain. Mungkin rekapan? Laporan?
Oh! Yunho kan pake celana piyama warna biru muda kotak-kotak, terus kalau mau tau atasannya dimana, sekarang baju piyamanya lagi dipake sama San. Kebiasaan mereka semenjak San hamil, San suka banget pake piyama Yunho yang kebesaran, tapi karena perutnya besar, jadi ngepas. Tapi, celananya nggak muat. Jadi Yunho deh yang pake. Terus San bawahannya pake apa dong? Nggak pake apa-apa. Cuma pake panties. Karena biasanya juga dia selimutan di sofa atau di kasur. Itupun harus berkali-kali diganti karena selalu becek.
Yunho yang lagi fokus mandang lurus ke layar laptop itu tiba-tiba kedistract sama suara langkah yang agak berat dan pelan, dia langsung buru-buru bangkit dari kursi karena siapa lagi itu kalau bukan istrinya?
“Sayang, kamu kenapa? Kok mau jalan nggak panggil aku dulu?” Tanya Yunho penuh kekhawatiran soalnya perut istrinya kelihatan berat banget. Tangan San yang kanan nggak pernah lepas megangin pinggangnya.
“Gapapa, Mas.. aku bosen nonton netflix. Aku mau lihat kamu kerja aja, boleh?” Jawaban San barusan bikin Yunho gemas sekaligus sedih. Dia pengen banget selesaiin kerjaannya secepat mungkin biar bisa kasih perhatian full ke istri manisnya.
“Mhm? Beneran cuma itu sayang? Kamu nggak kepengen apa-apa?”
“Iya..” San mengangguk pelan.
“Kalau kamu kepengen sesuatu langsung bilang ya, istriku yang cantik. Kalau nggak diturutin nanti dedeknya ileran loh.” San sama Yunho ketawa kecil karena perkataan Yunho barusan.
“Beneran! Aku cuma mau sama Mas Yunho aja.. boleh?”
“Boleh dong sayang,” setelah itu Yunho gendong San ala bridal style ke ruangan kerjanya. Kamar kecil berukuran nggak lebih dari 3x4 itu dulunya gudang, cuma dirombak sama Yunho buat jadi tempat kerja, sekaligus majang koleksi action figure, tamiya, dan manga one piece miliknya.
San sekarang lagi duduk di pangkuan Yunho, terus Yunho lanjut kerja lagi kayak biasa. Kurang lebih sekitar 10 menit lagi kelar kerjaannya. Habis itu Yunho bisa ngelonin istrinya sampai bobo deh.
Cuma ada suara ketikan keyboard dan humming dari mulut San, waktu tiba-tiba San ngedongak buat ngeliat suaminya dan ngelus dagu Yunho yang ada bekas cukuran tipis itu sambil bilang, “Mamas ganteng banget kalau pake kacamata..”
“Padahal Mas tiap hari pakai kacamata loh, sayang," Yunho mencubit pelan hidung istrinya, gemas.
“Tapi Mamas hari ini extra deh gantengnya..” tanpa Yunho sadari, jari jemari San udah menyusuri wajah Yunho, dari hidungnya yang jadi tempat bertengger kacamata, sampai pipinya yang memang sedikit gembul.
“Emang iya? Kamu pasti ada maunya ya? Nggak boleh es krim ya, sayang. Kan minggu ini sudah habis jatah es krimnya,” Yunho udah hafal, tiap istrinya mendadak manja dan flirty gini pasti mau sesuatu. Dia udah siap-siap kaget aja buat dengar permintaan istrinya ini.
Tapi, San malah geleng-geleng kuat sambil masih usap-usap lembut wajah suaminya.
“Aku nggak mau es krim.. aku udah kenyang, Mas.”
“Terus adek mau apa, sayang?”
“Mhm.. ini..” San ragu-ragu mau ngomong, tiba-tiba aja dia ubah posisi duduknya yang awalnya nempel manja jadi lebih tegak ngebelakangin suaminya.
Yunho tentu aja takut istrinya cantiknya ini kenapa-napa.
“Kenapa, sayang? Bilang aja sama Mas gapapa lho.”
“Anu.. puting aku sakit, Mas. Gatel.. kayak ada clotnya?”
Hah. Yunho ngaceng. Kalian boleh pukul Yunho sekarang juga, serius. Istrinya lagi kesakitan malah ngaceng.
Ya habis gimana, ya.. Yunho masih nggak nyangka hari yang dia nantikan tiba-tiba terwujud hari ini. Yunho pengen cubit diri sendiri buat mastiin dia mimpi basah atau nggak. Tapi nggak jadi, karena San duluan balik ngehadap suaminya sambil ngebuka kancing piyama miliknya. Tangannya naik buat mijit-mijit pelan area sekitar aerolanya, memang keliatan bengkak dan merah dari biasanya.
“Ini Mas.. gatel banget.. tolongin aku..” Kata San memelas.
Yunho menelan ludah. Semoga San nggak ngerasain kalau kontolnya Yunho baru aja ikutan membengkak tadi.
“I-iya.. kayaknya susunya udah mau keluar ya, Sayang? Mas bantu pijitin ya..”
Bahan cotton lembut dari piyama San bikin sensasi tersendiri waktu Yunho gesekin ibu jarinya tepat di puting San yang mulai ngacung. Keliatan ada bercak basah disana.
Karena posisinya kurang nyaman, Yunho gendong lagi istrinya buat dibaringin di kasur. Piyamanya jatuh dengan dramatis dan erotis ke bahu San. Seksi banget. Batin Yunho.
“Kayak gini udah nyaman, Sayang?” Kata Yunho sambil nyusun bantal guling dan boneka di atas kasur biar San ngerasa lebih nyaman.
“Mhm.. udah, makasih Mamas.” San mengangguk pelan.
“Mas mulai pijitin, ya? Bilang kalau sakit, sayang.”
Setelah dapat balasan anggukan malu-malu dari istrinya, Yunho langsung genggam buah dada sekel milik San yang semenjak hamil makin gede. Yunho remas-remas dengan kekuatan pelan, takut istrinya kesakitan, tapi semoga cukup buat bantu stimulasi supaya susunya bisa keluar.
“Nghhnn..”
“Maaf, sayang.. Mas kekencengan ya pijitnya?”
Muka San udah mulai merah.
“Nggak kok.. enak, Mas. Coba kencengan lagi deh.. masih gatel..”
Kali ini Yunho menuruti perintah istrinya. Yang awalnya cuma pijat di sekitar dadanya sekarang Yunho remes nenennya San lebih kenceng lagi. Udah gitu, putingnya sesekali dipilin sama Yunho pake jari telunjuk dan jempolnya.
“AH! Mas Yuno..” lenguhan dari bibir San kedengeran lebih jelas dan manja.
“Suaranya jangan ditahan, sayang. Mas mau denger.”
“Mhnmm.. Mamas.. masih gatel.. coba Mas Yuno sedot aja puting aku.. biar susunya cepet keluar..”
Mampus lu Jeong Yunho.
Sumpah rasanya Yunho udah pengen ngentotin istrinya yang kelewat nakal ini. Tapi karena ada dedek bayi jadi dia tahan sekuat tenaga dan iman.
“Bilang kalau sakit ya, sayang.” Yunho walaupun udah kepalang sange tapi ini bisa dibilang masih waras. Dia pengen kenyamanan dan kenikmatan istrinya nomor satu. Jadi, dia berusaha se-gentle mungkin dan nggak lepas kendali.
Yunho bawa mulutnya untuk jilat dan nyedot puting San yang sebelah kanan, yang sebelah kiri masih ia pijat-pijat sambil dipilin juga putingnya.
Sesekali juga Yunho gigit puting istrinya, soalnya waktu digigit desahannya San malah makin kenceng dan melengking.
Si cantik sekarang lagi ngeremet rambut suaminya yang asik nyusu, oh, jangan lupa kalau Yunho masih pake kacamata. Pemandangan di bawahnya sekarang bikin memek San basah dan pengen muncratin pipisnya.
Karena lagi hamil tuh, San jadi sering banget pipis, kayak kantung kemihnya kehimpit sama dedek bayi. Nggak sekali dua kali dia bangunin Yunho tengah malem buat temenin dia pipis. At least, 8 kali ada.
Kayak sekarang, dia makin sensitif karena dikenyotin suaminya, ditambah pemandangan Yunho pake kacamata jadi bikin San tambah sange.
Enak banget dikenyotin suami sampe pahanya geter ikut gerak-gerak, biar memeknya kegesek.
“Mamas.. hnghh.. yang sebelah kiri juga mau dikenyotin..”
Yunho terkekeh, ada bunyi plop! waktu dia lepasin putingnya San dari mulut.
“Sabar ya cantiknya Mas, yang ini aja belum keluar susunya lho.”
Yunho balik lagi mainin kedua puting San secara bersamaan pake telunjuk dan ibu jari. Dia pencet-pencet layaknya tombol console.
“Nghh.. Mamas, please.. mau dikenyotin lagi—AH!”
Belum sempat San selesai ngomong, buah dadanya San digenggam kenceng sama Yunho, nenen kanan kirinya didempetin biar Yunho bisa ngelahap puting kanan kirinya sekaligus.
San kaget banget tapi ini jauh lebih enak daripada sebelumnya. Dia seneng banget nenennya dapet perhatian dari suaminya sekaligus kayak gini. Saking keenakannya, punggung San udah melengkung kayak kucing birahi.
Yunho juga bukan tipe suami yang diem aja kalau masalah ginian, alias dia juga vokal banget. Erangan dari Yunho dan lengkingan dari San bersatu padu kayak suara sopran dan barito paduan suara.
Yunho semakin semangat nyusu soalnya San udah mulai naikin pinggulnya buat gesek-gesek ke kontol suaminya.
“Nghh.. Mas.. ahh.. please..”
Spurt! Spurt!
Tiba-tiba aja ada cairan manis yang nyembur di mulut Yunho. Bikin sang suami berhenti sejenak untuk liat kondisi istrinya yang udah berantakan banget.
“Sayang.. adek.. kamu hebat sayang, susunya udah keluar!” Sambut Yunho dengan semangat.
“Hiks.. Mamas..” San terharu sedikit karena asinya bisa keluar dengan nikmat dan nggak sakit.
“Mas boleh lanjut nyusunya?”
Yunho elus-elus perut besar istrinya sambil nunduk dan bisik-bisik,“ dedek, susunya papa minta sedikit ya?”
“Ihh Mamas—hngg!”
Yunho balik lagi ngenyotin puting istrinya yang sekarang udah keluar susu. Sumpah, rasanya lebih enak dari susu apapun yang udah pernah dia minum. Rasanya kalau mesen kopi besok pagi dia pengen ganti susunya pake susu istrinya, kira-kira bakal ditabok sama baristanya nggak ya?
“͏M-Mas.. jangan banyak-banyak nyusunya, nanti dedek nggak kebagian..”
Yunho berhenti sebentar, susu istrinya ngalir dari ujung bibirnya, kalau San berantakan, Yunho lebih berantakan lagi. Wajahnya penuh susu. Bau susu di mana-mana.
“Maafin Mas, adek sayang.. habisnya susu kamu enak banget.”
“Masss..”
“Iya, adek? Kenapa? Masih gatel ya putingnya?”
“B-bukan.. sekarang memek adek yang gatel..” San ngomong gitu sambil lebarin kakinya. Apa nggak semakin ngacengmaxxing kawan kita yang bernama Jeong Yunho ini.
“Sayang.. inget kata dokter nggak?” untung beliau ini masih waras.
“Huhu tapi.. gatel banget.. mau dijilatin Mamas. Mau jarinya Mamas penuhin memek aku.. boleh ya.. please..” siapa lah Jeong Yunho yang bisa nolak permintaan istrinya.
“Boleh tapi jangan lama-lama ya? Bilang kalau sakit. Pukul Mamas aja ya.”
San ngangguk ngangguk cepet. Udah kepalang sange mau dilamotin sama suaminya yang super ganteng itu.
“Mamas.. kacamatanya jangan dilepas please..”
Yunho ketawa kecil sambil ngebuka kaki San dengan lebar, “Iya, sayang,” terus dia ciumin paha bagian dalam San, sesekali digigit kecil buat ninggalin bekas disana, semoga dokter nggak marah.
Yunho tenggelamin wajahnya tepat di antara paha San. Ia hirup dalam-dalam aroma istrinya. Bikin sange banget.
Yunho jilat belahan memek San yang masih berbalut kain itu, meskipun udah basah dan becek dari sananya karena lendir punya San.
“Adek nggak sabar banget ya, hmm? Udah becek gini sayang. Padahal baru Mas kenyotin nenennya.”
“Huhu Mas Yuno.. mau, please..”
San nggak tahan lagi. Pinggangnya melengkung bikin pinggulnya maju ke bibir suaminya, Yunho sengaja biarin San pake mukanya buat digesek-gesek sama memeknya gini. Gemas. Yunho suka liat istrinya desperate mau dilamotin sama dia kayak gini.
“Mas Yunho.. it’s weird.. aku nggak bisa lihat kamu karena baby bumpnya.. “
“Pegang tangan Mas sayang, so you know that i’m here.”
Yunho genggam tangan istrinya pake tangan yang nganggur, Yunho ngedongak sebentar untuk lihat istrinya dan mastiin kalau San udah cukup nyaman apa belum, Yunho langsung ngejilat belahan memek tembem milik San yang cairannya sampai jatuh ke kasur, klitorisnya dihisap-hisap sama Yunho bikin San kelojotan saking keenakannya.
“HNGG! M-Mas.. adek mau pipis..”
Fuck. Baru dijilatin itilnya aja udah pengen pipis gini.
“Pipis aja adek sayang, pipisin muka Mas,” kata Yunho sembari masukin jari telunjuknya di lubang memek San yang usah kedutan minta diisi.
“Ahh–! Mas.. a-awas dulu, adek mau pipis huhu..”
“No, pipis aja di muka Mas, sayang.”
San geleng-geleng kuat, dia berusaha berdiri mau ke kamar mandi buat pipis karena gak tahan lagi, tapi Yunho malah nambahin jarinya di dalem memek San. Jadi totalnya ada 2 jari panjang Yunho yang lagi ngobelin memek San. Nggak lupa, lidahnya masih asik ngejilatin klitorisnya yang bengkak itu.
“Mamas.. hng! Adek beneran m-mau—”
Tanpa sempet beresin kalimatnya, cairan putih bening menyembur dari memek San dan ngebasahin seluruh wajah Yunho yang masih stimulasi istrinya dengan gesekin jarinya di memek San kanan-kiri dengan cepat, bikin gelombang kedua dari squirtnya San lolos gitu aja. Nggak cuma basah dan bau karena susu, sekarang bercampur sama cairannya San.
“Fuck, that was so hot, sayang..”
“Huhu.. Mamas maaf.. jadi kotor karena pipisnya adek..”
“Siapa bilang kotor, hm? Mas suka kok.”
Yunho beranjak dari posisinya di antara kedua paha San untuk baring di samping istrinya dan cium bibri San lembut tapi juga dalam, San ngerengek, dia bisa ngerasain cairannya sendiri lewat ciuman itu.
“Sayang.. Mas boleh masukin? Cuma ujungnya aja kok.”
San cuma ngangguk pelan.
“Mas mau denger kamu, use your words baby.”
San setengah whimpering dengan wajah berlinang air mata ngeliat suaminya dan bilang, “Hiks.. m-mau.. adek mau dihamilin Mas Yunho lagi.. please masukin kontolnya Mas ke memek adek..”
ANJINGGGGG. Eh maaf berisik banget. Yang barusan itu suara batinnya Yunho ya bukan admin.
Habis San ngomong gitu Yunho diem sejenak. Kalau nggak karena lagi hamil mungkin sekarang Yunho bakal ngewein istrinya 24 jam nonstop.
“M-mas.. kontolnya keras banget..”
“Masukin aja ke memek aku..”
Akhirnya suara San yang bikin Yunho sadar. San ngebelakangin suaminya, posisi mereka kayak big spoon dan little spoon. San bisa ngerasain sesuatu yang keras dari belakang sana ngegesek-gesekin belahan pantatnya.
“M-mas masukin ya.. sayang?”
“Please Mamas..” San dengan sengaja goyang-goyangin pantatnya buat ngegoda Yunho. Karena permainan lidah tadi, San masih becek banget dan nggak perlu lubricant lagi. Yunho bisa masuk dengan mudah. Sebelum ujung kontolnya dimasukin ke dalam memek anget milik San, Yunho gesek-gesekin dulu kontolnya, ngebasahin kontolnya pake cairan alami milik San. Supaya lebih gampang masuk.
“Shh, kamu masih sempit banget sayang..” Yunho ngedorong pinggulnya, ngedorong hingga kontolnya masuk ke dalam liam kawin milik San. Inget. Just the tip.
Memeknya San ngejepit kontol Yunho kenceng banget, istri cantiknya yang lagi hamil itu ikut gerakin pinggulnya dengan lemah, cari stimulasi sendiri untuk kesenangannya.
“Fuck, jangan diketatin sayang..”
Tangan Yunho nggak diem aja, tapi juga elus-elus seluruh inci dari tubuh San, termasuk putingnya yang keliatan basah karena air susunya masih keluar satu sampai dua tetes.
“Mhm.. hngg.. penuh.. memek aku penuh banget padahal cuma kepalanya yang masuk!”
Yunho pengen bucat. Nakal banget ucapan istrinya barusan.
Dia gerakin pinggulnya pelan-pelan, kontolnya keluar dan masuk perlahan tapi cukup bikin pusing karena memek San sempit banget.
“Cantik banget istriku kalau disumpel kontol kayak gini.”
“Adek Mas hamilin lagi, ya? Mau?”
Pujian dan omongan kotor nggak lepas dari mulut Yunho sembari dia genjotin istrinya. Temponya nggak dicepetin, dia nggak mau bikin istrinya kesakitan. Kacamata yang masih bertengger di hidungnya hampir jatuh tapi dia benerin lagi.
“HNGG.. Mamas.. adek mau pipis lagi..”
“Barengan ya, sayang?”
“Di dalem aku, please! Mau hamil anak Mas lagi..”
Tiba-tiba San ngerasa perutnya hangat dan penuh. Dengan satu hentakan terakhir yang cukup kenceng, Yunho ejakulasi di dalem memeknya San. Nyemburin bakal anaknya di sana.
“Hngg, Mamas!” Pinggul San melengkung karena memeknya penuh peju sampai luber luber.
“Fuck.. enak banget, sayangnya Mas pinter banget nelen pejunya Mas.”
Mereka berdua udah berantakan banget, keringat bercampur susu, peju, dan air mata San yang ntah kapan ngalir karena keenakan.
“Mas Yunho.. mau nenen lagi nggak?”
