Actions

Work Header

Kultusan

Summary:

“Bau rokok.” Lisan Mingyu tidak lagi menjadi sebuah tanya, kini mengeras menjadi tudingan kaku—yakin menahu dan tidak mungkin salah sangka. “Kamu kira aku nggak nyium? Ketemu siapa kamu?”

Tengkar itu tidak hanya terulang, namun tidak tertahankan lagi.

Notes:

trying to write something while still on writer's block. the quality prolly isn't the best. i apologize.

segala yang tertuang hanya bagian dari fiksi.

inspired by Kultusan — Sal Priadi :)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Kelak terulang lagi
Kau minta kuruntuhkan bumi
Di atas kepalamu
Dan kupercaya lagi.

 

“Habis dari mana?”

Langkah Seungcheol mendahului pertanyaan sang pemilik kamar yang sedetik lalu membuka pintu—membiarkannya masuk, lagi, ke sini. Petak sempit indekos yang pekat dengan aroma seorang Mingyu, kumpulan pakaian kotor yang menumpuk belum dicuci pada satu sudut dan sisa ruang yang lain terisi penuh kasur tipis murahan serta cecer bungkus bekas makanan.

Cintanya yang poranda kemarin malam mungkin juga masih tersisa, menyatu di celah-celah retak tembok yang tidak sedikitpun berhasil menyembunyikan perdebatan mendidih mereka dari telinga para tetangga.

Memalukan. Menjijikan. Seungcheol tidak pernah berpikir akan sanggup hidup dalam kehinaan yang lebih rendah dari kemelaratan finansialnya setelah melarikan diri dari rumah—kasar tutur Mingyu padanya sehari-hari.

“Bau rokok.” Lisan Mingyu tidak lagi menjadi sebuah tanya, kini mengeras menjadi tudingan kaku—yakin menahu dan tidak mungkin salah sangka. “Kamu kira aku nggak nyium? Ketemu siapa kamu?”

Sebelah bahu Seungcheol ditarik kasar dan memaksa kepalanya menoleh, menghadap pada penghakiman seseorang yang pernah menjadi pusat hidupnya. “Bukan urusan lo,” jawabnya congkak.

Rahang Mingyu mengeras, hela nafasnya berpacu tersulut amarah. Tangan yang ditepis Seungcheol kini kilat menyambar leher kemeja yang ada dalam jangkauannya, ditarik keras sampai dua butir kancing teratas koyak dari benang jahitan dan satu diantaranya jatuh bergulir menyentuh lantai di bawah kaki mereka.

Copot pengait dua sisi kain pakaian Seungcheol membuka sebuah jawaban—bukti tanpa bantahan, api tanpa pemantik, dan gemelatuk baris gigi Mingyu menahan porak-parik kemurkaan.

Di bawah tulang selangka dan kulit dada Seungcheol dijejaki bercak-bercak merah. Wujud kuntum-kuntum bunga yang tidak mekar dari sesap bibir Mingyu, justru ditahta oleh bibir-bibir yang entah milik bajingan siapa, dari mana, sejak kapan Seungcheol mengizinkan bedebah itu mengotori dirinya.

Pertengkaran mereka tempo hari mengirim sang kekasih kabur dari masalah, melalang entah ke sudut kota yang mana. Hidup sebagai binatang liar dan mengemis kasih dari yang bukan tuannya. Kepala Mingyu mendidih ingin meledak dari batok tengkoraknya membayangkan demikian celaka perbuatan mereka.

Anjing laknat.

Keparat mana yang berani menjajahi tubuh kekasihnya?

Ataukah sang kekasih yang telah mengimani diri dalam lacur lakunya ini? Hanya karena perdebatan yang tidak lebih besar dari soal siapa ingin meninggalkan siapa?

“Anjing!” Serapah Mingyu murka, menarik kerah kemeja Seungcheol menjadi satu dalam genggam kedua belah tangannya, mengepal di bawah dagu lelaki itu sekaligus menariknya kasar membentur tubuh Mingyu. “Ngejual diri di mana kamu? Nyokap nggak ngirim duit lagi? Se-enggak betah itu hidup miskin bareng aku? Ini bahkan belum satu minggu!”

Seungcheol mendorong Mingyu, alisnya bertaut menyatu tak kalah pongah. “Elo yang anjing! Bukan urusan lo gue ke mana, gue balik cuma mau ngambil baju!”

Cepat-cepat kaki Seungcheol menekuk berjongkok, merebut potong-potong pakaian di atas lantai yang kemarin malam dilemparkan Mingyu keluar dari kopernya. Kabur dari kemegahan rumah sang ayah tidak pernah kedengaran baik semenjak Mingyu mulai meninggikan nada bicara dalam indekos busuk ini.

Harusnya Seungcheol tidak pernah memilih Mingyu ketimbang ibunya, ayahnya, kenyamanan hidup selama dua puluh dua tahun dalam sangkar emasnya. Mengapa Seungcheol meninggalkan nikmat hidupnya untuk sengsara bersama cinta yang kini terlihat mengerikan lewat suara keras dan makian kasar penuh kehinaan?

“Kita udah berakhir, lo nggak perlu ngatur-ngatur gue harus ke mana.”

Kalimat Seungcheol bertemu dengusan frustrasi Mingyu. “Marah sampe segitunya, Yang? Cuma gara-gara aku ngangkat telpon Mami kamu?”

Gemuruh amarah Seungcheol terkumpul di ubun-ubun. Kakinya dibawa kembali menegak tinggi, berdiri dengan dagu terangkat menantang balik sorot meremehkan Mingyu. “Cuma? Kata lo, itu cuma?! Lo maki-maki nyokap gue, brengsek! Gue cuma kabur biar bokap gue stop pressing gue buat ini dan itu, bukan jadi anak durhaka!”

“Yang,” panggil Mingyu setengah terkekeh hambar. “Kamu jadi gay juga udah durhaka di mata mereka—!”

Bogem mentah terlempar kencang memukul mundur Mingyu, membuat kakinya tertatih menahan untuk tak limbung. Matanya membelalak sambil kepayahan memegangi sudut bibir yang pecah bercucuran darah. Sementara Seungcheol menggeleng-geleng, bibirnya terbuka dan mengatup tanpa bisa melisan kata.

Habis. Habis sudah. Seluruhnya, semua cintanya.

“Jadi, j-jadi bukan cuma orang lain…” Kata-kata Seungcheol terbata, kepalanya masih menggeleng keras berulang-ulang. “Bukan cuma orang lain atau Papi atau Kakak atau anak kampus yang ngeliat gue kayak gitu. Lo—tapi lo juga! Lo j-juga…”

Mengutip sebelah kaus kaki yang tersisa, Seungcheol menarik kopernya menutup dengan tergesah. Diseretnya peti plastik itu, tersengal-sengal menahan tangis—roboh seluruh pertahanannya. Hancur, sehancur-hancurnya rasa percaya Seungcheol dan harga dirinya.

Cinta sialan.

“Yang! Sayang!” Mingyu mengejar, menggapai-gapai lelaki yang bertolak kilat menuju pintu. “Denger dulu Sayang!”

Pergi dari rumah dan membela Mingyu dari tudingan sang ayah kalau lelaki itu telah meracuni akal sehat Seungcheol, melontarkan perpisahan menyakitkan kepada ibunya, dan kini dikoyak-koyak kenyataan kalau perkataan kakaknya adalah kenyataan.

Terserah kamu pacaran sama siapa, tapi jangan sama dia, Dek!

Bajingan ini yang menjebaknya dalam cinta dan meninggalkannya begitu cinta tidak lagi cukup menutupi keterlukaan Seungcheol menanggung penghakiman semua orang. Dirinya tidak pernah menyesal atau menepis seksualitasnya sendiri, namun kalau untuk jatuh cinta sama artinya Seungcheol menjual harga diri pada seseorang seperti Mingyu—hinaan yang keluar dari bibirnya jauh lebih menyakitkan dari cemooh ratusan mulut di luar sana—maka nihil artinya untuk bertahan di sini.

Ringan untuk menuding kalau Seungcheol menjual diri tanpa sudi mendengar apa yang telah terjadi. Kotor tangan-tangan yang menjamahnya di kelab murahan, upayanya melarikan diri sementara masih setengah pening oleh alkohol racikan dari bedebah  yang ingin menidurinya dengan paksaan.

Apakah Mingyu mendengar panggilan Seungcheol sewaktu tua bangka itu melucuti kancing kemejanya? Dimana perlindungan dan kasih yang Mingyu janjikan di malam Seungcheol diajak kabur dari rumah?

Kaki Seungcheol melangkah lebih cepat, kini mengangkat roda kopernya tidak lagi bergelinding menyentuh aspal. Bergegas dan seperti dikejar setan—ya, mungkin memang ada setan yang mengekorinya sambil terus memanggil Yang! Sayang! Seungcheol! di belakang punggungnya sana.

Seungcheol melambai pada taksi yang baru menurunkan penumpang pada sisi badan jalan, terseok-seok memanjat ke dalam sambil memaksa kopernya turut masuk tanpa perlu menunggu sang supir membukakan bagasi. Mingyu mengejar lebih kencang, namun usahanya berakhir nihil begitu Seungcheol lebih dulu menutup pintu.

Menutup akses lelaki itu untuk meminta maaf, lagi, seperti yang sudah-sudah.

Jari Seungcheol tremor mengetik pesan baru untuk sang kakak, mengabaikan teriakan dan bantingan tangan Mingyu pada kaca jendela. 

 

Kak aku takut

Aku mau pulang

(4:42PM)

 

Notes:

find me on x dot com just in case.