Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-07-27
Words:
4,190
Chapters:
1/1
Kudos:
14
Hits:
158

Jerat Tiga Ciuman

Summary:

Wajah Winny seolah dibuat untuk menjerat dan tubuhnya dibuat seolah untuk memikat.

Namun, Satang tidak sedang ingin terjerat, dia ingin menjerat.

Satang mengajak Winny bermain pada permainan kejamnya, tiga ciuman penjerat yang akan berakhir pada mereka yang saling menyakiti.

Work Text:

Menyerah pada permainan konyol

Satang bertemu dengan Winny di gym. Matanya akan menatap tanpa malu pada tubuh atas Winny yang telanjang, tidak peduli meski terpergok. Satang menyadari Winny memahat tubuh itu dari kurus ke berotot, dari perut rata ke perut berkotak-kotak, dan dari lengan kurus ke lengan kekar. Berbeda dengan Satang yang memfokuskan tubuh bagian atasnya untuk terlihat lebih langsing, Winny semakin hari semakin besar.

Satang berlagak seolah tidak peduli saat tubuh berkeringat Winny menghampirinya yang sedang melakukan pull-up. Satang akan mengartikan jantungnya yang berpacu cepat sebagai hasil dari work-out dan bukannya karena Winny yang berdiri bersedekap dengan sexy menatapnya menilai.

“Kamu tertarik?” tanya Winny, suaranya dalam dibuat-buat, nada yang selalu digunakan orang saat ingin melabrak.

“Bukan.” Satang mengangkat tubuhnya di tiang pull-up, “Aku yang menarik.”

“Kamu pikir kamu lucu?”

Suara tawa Satang menggema di gym yang sepi. Tengah malam adalah waktu yang dipilih Winny untuk sendiri, dan sialnya Satang memilih waktu itu untuk cuci mata (dan berolahraga, sebuah opsional) tawa Satang terdengar kesepian karena tak terbalas, tetapi Satang tak pernah keberatan.

Satang melebarkan kakinya di kursi tiang pull-up, membuat celana pendeknya semakin naik kemudian meniru Winny yang bersedekap. Matanya masih dengan tidak tau malu menyalin wajah dan tubuh kekar berkeringat Winny. Wajah itu seolah tercipta untuk memikat, dan tubuh bertatto itu terbentuk untuk menjerat. Satang sedang tidak ingin terjerat, dia sedang ingin menjerat.

Dia menggunakan strategi, bermain permainan yang panjang. Dia menempatkan dirinya untuk digoda, untuk orang lain menghampirinya, mengikat diri mereka padanya. Sejujurnya Satang menyayangkan strateginya yang berhasil pada Winny. Dia setengah berharap Winny tidak sama dengan orang lain.

“Aku menarikmu,” katanya sok, “dan kamu tertarik.”

“Maaf mengecewakan,” Winny tersenyum mengejek, “Aku tidak tertarik, aku terganggu.”

“Membuatmu terganggu juga salah satu tujuanku,” lawan Satang tak mengalah.

Satang berdiri, memberi jarak sesapuan angin diantara mereka. Senyum Satang menguar lebar saat Winny tidak mundur. Lesung pipi Satang memamerkan senyuman manis untuk intensi berbuat jahat.

“Mau bermain?” ajak Satang, kepalanya meneleng menggoda.

“Tidak tertarik!”

“Permainan seru.” Satang menggigit bibir bawahnya, “menciumku.”

Satang membenci betapa dia menanti-nanti apa yang akan Winny lakukan selanjutnya setelah mata Winny memusatkan pandangan menelisik pada bibirnya. Satang tidak mengenali pandangan itu, biasanya mata para pria akan menunjukkan hasrat mereka dengan gamplang. Namun, mata Winny menunjukkan padanya bahwa tatapan lekat itu bukanlah suatu ketertarikan, tetapi sebuah penilaian layak atau tidak untuk dipertimbangkan. Satang tidak merasa terhina, dia justru tertantang.

“Berapa orang yang sudah mencicipnya?” tanya Winny, anehnya tidak terdengar merendahkan, dia hanya penasaran.

Satang memanyunkan bibirnya, berlagak berpikir, “hmm? Aku kesulitan untuk menghitungnya.”

“Tidak ada satupun yang bertahan denganmu?”

Satang tertawa, tawa geli yang membuat merinding. Satang tidak pernah berencana untuk bertahan, dia hanya ingin menjerat dan melepaskan. Membiarkan ciumannya menjadi cerita dongeng pematah hati. Dia cukup terkenal dengan julukan itu, dan dia amat menyukainya.

“Aku tidak berniat untuk membuat orang bertahan.”

“Kamu benar-benar hidup sesuai dengan reputasimu.”

“Tentu saja.”

“Lalu apa tujuan permainan ini?”

“Untuk mendapatkan patahan hatimu.”

“Bagaimana seandainya justru aku mendapatkan hatimu yang patah?”

“Kamu boleh mencoba,” tantang Satang dengan senang hati.

Tubuh Winny boleh saja memikat mata dan minatnya, tetapi dia tidak akan bisa memikat hatinya.

“Beri tau aku permainan macam apa?”

“Tiga kali ciuman,” jawab Satang dengan semangat yang terpancar dari senyuman berlesung pipinya, “Aku akan mematahkan hatimu sebelum ciuman ketiga.”

“Kekanakan sekali.”

“Tidak ada yang kekanakan dari ciumanku.”

“Begitu?”

“Jika sebegitunya ingin tau, mengapa tidak ikuti saja permainan ini?”

Satang mendapatkan seriangai mengejek dari Winny. Dua pasang lesung mengintip dari pipinya, membentuk seperti kumis kucing. Kucing yang sedang ingin berbuat kejam.

“Deal!”

Satang menerima uluran tangan Winny yang terlihat terlalu percaya diri. Dia bersikap seolah sudah menang atasnya. Genggaman tangan mereka menguat sesuai tekat, erat sekali.

“Deal!”

Winny berbalik, berjalan meninggalkannya yang berpuas diri sudah menalikan jeratan. Mereka saling menjerat pada sebuah akhir, akhir untuk saling menyakiti.

 

Ciuman pertama yang menyebalkan

 

Satang tidak tau apa lagi yang ditunggu Winny? Mengapa dia menunda-nunda permainan yang sedang panas-panasnya? Jika ini strategi Winny untuk membuatnya menunggu, Winny benar-benar tidak mengenalnya. Menunggu hanya akan membuatnya bosan.

Satang tidak gelisah karena menanti, tetapi dia gelisah karena takut tidak jadi mematahkan hati Winny. Dari sekian banyak korban dan calon korban tidak ada yang semenarik Winny, bagaimana pun caranya permainan ini harus tetap dijalankan.

Seminggu berlalu, yang terjadi hanya pengulangan aktifitas yang sama. Saling memberi tatapan menantang dari ujung ke ujung ruang gym. Satang tidak ingin menghampiri, dia akan selalu menempatkan dirinya untuk dihampiri.

Satang memutar bola matanya mendengar ketokan di kaca jendela mobilnya. Mata sipit dan kaku Winny menyembul dari celah kaca yang dibuka Satang.

“Kamu membuat permainan jadi membosankan!” Protes Satang dengan malas.

“Membuatmu menunggu rupanya bukanlah strategi yang bagus.” Winny mengendikkan bahunya.

Satang menanggapinya dengan menguap lebar.

“Antar aku pulang.”

Satang tidak perlu menjawab karena Winny sudah berlari memutari mobilnya untuk duduk di bangku penumpang.

“Berbahaya sekali tidak langsung mengunci mobilmu,” omel Winny sekedarnya, memasukkan alamat pada GPS mobil Satang.

“Kata orang yang dengan sembarangan memasukkan alamatnya ke mobil orang baru.”

Satang tidak mendapat tanggapan, dia melirik sinis pada Winny yang memakai sabuk penganan untuk bersiap tidur.

“Baiklah, buatlah dirimu nyaman.”

Kondo milik Winny sama sekali tidak mencerminkan dirinya. Benar, semuanya berwarna membosankan, kombinasi abu-abu dan hitam. Namun, tiga ekor anjing yang menyambut mereka dengan berisik sama sekali tidak disangka-sangka. Lebih lagi Winny berbicara dengan mereka menggunakan bahasa bayi. Berbahaya, benar-benar berbahaya.

“Mereka Gummy, Belly, dan Tiny.”

Satang tidak tau banyak tentang anjing, yang jelas dia menyukai Tiny yang menyapanya ramah, Gummy yang sepertinya jenis anjing Pompom yang manis, dan Satang tidak tau harus bagaimana dengan Belly yang menyalak padanya.

“Biasanya Belly hanya menyalak pada anjing,” kata Winny cuek.

“Memangnya aku terlihat seperti anjing?” gerutu Satang.

Winny menggendong Belly, mendekatkannya pada Satang. Satang mundur satu langkah saat Belly menyalak lagi. Satang mencibir mendengar tawa Winny yang tampak terlalu bahagia.

“Kamu kucing,” kata Winny sambil lalu.

Satang menyalin kondo Winny, tidak terlalu besar sehingga tidak terlihat terlalu pamer, tetapi tidak terlalu kecil untuk orang yang tinggal sendiri. Ada kamar mandi setelah pintu masuk, ada dua kamar yang pintunya terlihat dari ruang tamu, dan sebuah dapur kecil. Satang menimbang-nimbang tempat mana yang layak untuk berciuman? Ciuman yang akan menjerat hati Winny untuk dia patahkan.

“Membawaku ke ranah pribadimu agaknya cukup riskan,” kata Satang pada Winny yang menyerahkan segelas air dingin padanya, “Aku sangat pandai membuat orang jatuh cinta di kandang lawan.”

“Begitu? Menurutku tidak,” jawab Winny yang mendudukkan dirinya ke sofa kulit hitam tanpa mengalihkan pandangannya dari Satang yang meminum airnya dengan sensual.

Satang melepaskan jaket training-nya, menyisakan kaos adidas hitam yang basah oleh keringat. Dia mendudukkan dirinya di samping Winny yang senantiasa mengikuti pergerakannya, saking dekatnya Satang nyaris duduk di pangkuannya.

“Mengapa tidak?” tanyanya dengan suara penuh keintiman ahli yang paling dia kuasai.

“Kamu tipe orang yang tertarik dengan background orang yang kamu jadikan korban, membawamu kesini hanya akan menambah rasa penasaranmu padaku.”

Winny benar, dan Satang tidak akan mengakuinya.

“Pinjamkan aku bajumu dan biarkan aku mandi dengan sabun dan sampo mu.”

“Usaha yang bagus.” Winny berdiri, memberi kode untuk mengikutinya.

Satang melewati Belly yang lagi-lagi menggonggong, kemudian memberi Tiny dan Gummy elusan hanya untuk bersikap picik pada Belly.

Winny membawanya ke kamar berbau pewangi ruangan yang mengingatkannya pada pantai. Ranjangnya lumayan besar berbalut sprai, Satang memutar bola matanya, lagi-lagi abu-abu tua. Putaran bola matanya berubah menjadi kerlingan nakal setelah menyadari ranjang itu cocok untuk ‘bergulat’.

“Akan sangat klise, tapi ranjangmu terlihat nyaman.”

“Aku tidak akan menciummu di ranjangku.”

“Takut kenangannya akan sulit dihilangkan?”

Winny menyerahkan sepasang piyama polos putih, tampak licin dan tipis.

“Takut kamu akan ketagihan, kamu tidak akan bisa tidur lagi selain di sana.”

Satang mengambil sepasang piyama itu dengan kasar.

“Teruslah bermimpi!”

Di dalam kamar ada satu kamar mandi. Satang melongok sebentar sebelum menoleh pada Winny dengan kerlingan nakal lagi.

“Terlalu sempit, tidak akan leluasa untuk bergerak.”

“Aku juga tidak akan menciummu di kamar mandi ku!”

Satang mengabaikan Winny, dia masuk ke kamar mandi kecil yang berlantai catur dan dinding putih yang dingin. Ada warna merah mencolok berada diujung dinding kamar mandi. Satang mengambil sepasang sabun dan sampo itu dengan terbelalak.

“Hei, sabun mandi mu wangi strawberry?” teriak Satang, berharap Winny masih disana.

“Wanginya menenangkan,” jawab Winny yang memang masih di kamar, “Hey! Jangan tertawa!”

Tawa Satang semakin menggila.

Piyama Winny kebesaran di badannya. Satang memanfaatkan itu untuk memamerkan tulang selangkanya. Pria-pria sangat menggilai sepasang tulang itu.

Satang tidak mendapati Winny di kamarnya, dia menemukan Winny sedang menyesap jus yang terlihat mematikan di sofa ruang tamu. Televisi menyala menunjukkan sebuah film horor Thailand. Satang menikmati bagaimana cara Winny memandangnya. Pria selalu suka saat pakaiannya terlihat berbeda di badan orang lain.

“Suka dengan apa yang kamu lihat?” tanya Satang menghampiri Winny.

“Kamu ambil saja piyama itu, aku hampir membuangnya.”

“Cocok sekali kan?” goda Satang dengan sengaja melorotkan kerah piyamanya lebih jauh.

Satang suka sekali saat pria-pria terlihat seperti sedang bergulat dengan setan tak kasat mata yang menggoda mereka untuk langsung saja menerkam Satang. Dia agak terkejut saat Winny bahkan tidak bersusah payah untuk bergulat. Winny menariknya mendekat, menangkup kedua pipinya dengan telapak tangannya yang lebar.

“Sudah siap untuk terjerat?” tanya Winny.

Satang tidak menjawab. Dia mencium bibir Winny dengan tubrukan keras. Jangan berani-beraninya menantangnya. Yang harus bersiap untuk terjerat bukanlah dirinya.

Bibir Winny terasa seperti jus post workout. Sangat menjijikkan, tetapi kekenyalan dan keahlian Winny dalam menyesap bibirnya membayar dosa tak termaafkan itu. Satang tak keberatan merasakan dada ayam yang diblender bersama sawi jika lumatan teratur Winny adalah medianya.

Rasanya menyenangkan saat ciuman mereka bergerak selaras seolah sudah berlatih ratusan kali. Dan fakta bahwa ini ciuman pertama mereka membuat jantung Satang terasa dijungkir balikkan, menghadirkan kepakan sayap yang panik di perutnya.

Satang membiarkan Winny melumat bibir atasnya. Sebagai gantinya bibir bawah Winny dia lahap habis. Satang tidak tau apa yang dia harapkan dari ciuman Winny sejak matanya terfokus pada Winny yang berlari bertelanjang dada di treadmill, yang jelas bibirnya yang tak diberi kesempatan untuk lepas sudah melebihi ekspetasinya.

Satang sudah banyak mencium pria, Satang sudah merasakan berbagai macam ciuman. Yang tergesa, yang terlalu bernafsu, yang tidak bisa mengimbangi Satang, yang mengejar hasratnya sendiri tanpa memikirkan Satang, dan ciuman membosankan yang menimbulkan penyesalan. Ciuman Winny tidak termasuk dalam bagian itu semua.

Saat jemari Winny mengelus pipinya bersamaan dengan pergantian lumatan dari bibir atas dan bawahnya, Satang mengerjap lembut. Saat tangan Winny memberi telinganya sentuhan yang kehalusannya hanya bisa dikalahkan bulu angsa, Satang menarik napas panjang. Saat lidah Winny menyusup mengajaknya berdansa, Satang mendesahkan kenikmatan dengan rengekan. Saat ciuman mereka berakhir dengan jalinan saliva yang masih terhubung, Satang membuka matanya perlahan dan mendapati Winny sudah memandangnya.

“Inikah ciuman yang mematahkan hati banyak pria itu?”

Tidak adil betapa suara serak yang mengejek itu terdengar intim di telinganya. Satang tidak terima, dia juga ingin bermain. Dengan kasar Satang menarik Winny dalam ciuman yang lebih dalam lagi. Kali ini dia yang memimpin, yang mendengar desahan WInny, Yang membawa Winny keatas tubuhnya untuk dikungkung. Dalam ciuman mereka yang begitu intens Satang merasakan Winny berusaha menahan tubuhnya agar tidak sepenuhnya menindihnya. Satang menggunakan kedua kakinya yang melingkari pinggang Winny untuk merapatkan tubuh mereka. Tangannya yang mengalungi leher Winny turun ke dadanya, tepat di mana jantung Winny berdetak cepat seperti drum. Satang melepaskan ciuman mereka dengan congkak.

“Benar,” bisiknya dengan suara basah yang serak, “jantungmu tidak akan ada kesempatan untuk mengelak.”

“Itu hanya reaksi alami tubuh.” Winny menyeringai, “tidak ada hubungannya dengan jerat menjerat.”

“Begitu?”

Satang menyukainya saat pria keras kepala. Permainan jadi tidak membosankan lagi.

“Apa yang orang lakukan setelah ciuman brutal?”

“Masak ramen.”

 

Ciuman kedua yang dinantikan.

 

Mereka berdua mulai main kucing-kucingan. Saling mengirimkan pandangan yang mengundang dari seberang tanpa mau repot-repot untuk mendekat. Rutinitas ini nyaris seperti ritual. Setiap kali Winny memamerkan tubuhnya yang berhasil dia pahat, berkeringat membasahi tatto yang memenuhi ABS-nya, Satang hanya akan memandang. Dia tidak tergoda untuk melepas kaosnya juga, dia hanya memperbolehkan Winny menikmati baha dan bokongnya yang tertutup kaos panjang.

Satang sama sekali tidak memikirkan ciuman pertama mereka, sama sekali tidak. Hanya saja dia harus mengakui dengan berat hati bahwa ciuman mereka meninggalkan jejak yang adiktif. Bibirnya serasa kecut seolah bibir Winny mengandung nikotin. Keinginan besar untuk mengulang lagi menyusupi Satang, membuatnya agak marah karena dengan merasa begitu asap-asap kekalahan sudah menyelubunginya.

Satang menyadari bahwa perasaan itu rupanya juga menyelubungi Winny. Tatapan marah dari alis yang berkerut itu membuat sudut bibir Satang menyeringai. Jika dia kalah, Winny lebih kalah lagi. Dalam permainan satu lawan satu, Satang tidak akan mengijinkan semua ini berakhir seri. Jadi dia melangkah lebih dulu untuk melawan, tidak memberi celah bagi Winny untuk menyerang balik.

“Temui aku di sini,” bisik Satang di telinga Winny, dengan sengaja menggerakkan bibirnya pada daun telinganya.

Satang bisa merasakan tubuh Winny menegang seperti karet yang direntangkan kuat saat ujung jemarinya meninggalkan sentuhan lembut pada tato ‘manifest’ di pinggangnya. Satang berjalan mundur berpuas diri, mengirimkan kedipan genit sebelum berbalik. Satang membiarkan mata Winny mengikuti pergerakan bokongnya yang menjauh.

Satang menunggu Winny di ruang private karaoke yang dipesannya. Dia fokus bernyanyi berpura-pura tidak peduli saat Winny masuk ruangan dengan berisik, mengatakan kedatangannya dengan kesal. Satang berbalik dramatis saat Winny mematikan musiknya.

“Sudah tidak sabar?” tanya Satang dengan mic.

Lampu disco karaoke warna-warni menerpa wajah Winny yang mengkerut, memberinya bias cahaya hijau, merah, dan kuning. Membuat kemarahannya terlihat seperti pertunjukan sirkus yang konyol, dipermainkan oleh sebuah lampu. Satang tertawa mendengus pada mic yang dihadiahi tatapan murka Winny. Dia duduk bersedekap di sofa merah maroon, matanya galak dan mengundang sesuatu ke daerah utara Satang.

“Kan sudah kubilang kamu akan kalah hanya dengan satu ciumanku.” Suara Satang yang disalurkan oleh mic terdengar semakin menyebalkan.

“Jangan memproyeksikan kekalahan mu padaku.”

Tubuh Satang terhenyak saat Winny menarik pinggangnya. Satang mengulum senyum. Dia tau menyulut kemarahan bukanlah tindakan bijak, tetapi Satang tidak pernah peduli dengan kebijakan. Dia sengaja menyiram sulutan amarah Winny dengan menghindari ciumannya. Menelan kembali keinginannya sendiri untuk memagut bibir bawah Winny yang tebal.

“Aku tidak sedang melakukan itu,” bisik Satang manis, terlalu manis sampai-sampai terdengar tidak enak. Membuat ngilu gigi orang yang mendengarnya.

Bisikan dan belaian ujung jarinya pada belahan bibir Winny mengundang kernyitan yang semakin dalam pada dahi Winny. Satang mengaduh gaduh saat tangannya ditangkap dan digigit, keras dan cepat.

“Ada batas yang seharusnya tidak dilewati dalam permainan,” cela Winny galak, tidak peduli dengan umpatan Satang.

“Batasan macam apa?”

“Kecurangan.”

Satang meneleng nakal, “Apakah aku terlihat seperti sedang mencurangi mu, Winny?”

Bermain tarik ulur memanglah jahat, dan itulah mengapa Satang menyukainya. Dia selalu memancing dengan tujuan untuk mempermainkan. Setiap kejaran bibir Winny akan mendarat di manapun kecuali bibirnya.

“Kamu bersenang-senang?” tanya Winny hampir-hampir bosan.

Satang tau kapan waktunya untuk berhenti, jangan sampai bosan meredamkan api yang sudah dia kobarkan dengan susah payah.

“Sangat menantikannya bukan?” tanyanya sebelum dirinya mengecup bibir Winny.

Sambutan dari Winny sangat menggairahkan, seperti diberi standing applause setelah penampilan yang luar biasa. Satang tidak sempat mengatakan lebih, bibirnya habis dilahap. Basah, kelu, dan mengebaskan. Semua hal yang diharapkan Satang.

Tidak ada keanggunan, kesabaran, maupun kehalusan. Ciuman Winny terasa kasar, baik dari caranya mencium maupun karena bibirnya yang kering. Akhir yang sesuai keinginan Satang setelah mempermainkannya hingga ke ujung batas.

Satang masih bisa merasakan bibirnya berkedut-kedut saat akhirnya ciuman mereka terlepas. Napas dari engahan mereka terasa panas membara. Wajah bagai dipanggang hingga matang, merah merona. Leher, telinga, seluruh wajah, tidak ada yang berwarna lain selain merah.

“Sudah akui saja kekalahanmu.”

“Aku tidak akan melakukan itu,” bisik Winny pada detakan nadi di lehernya, gerakan bibir Winny seolah sebuah gelitikan penarik nafsu. “Masih ada ciuman ketiga.”

Satang menahan diri untuk tidak bergidik, biarkan bulu kuduknya saja yang berdiri, untuk yang lainnya tidak akan dia beri kesempatan. Karena jika itu terjadi Satang tau bukan reaksi alami tubuh yang membuatnya merasa begitu.

“Tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menciumku sekali lagi?”

Bibir Winny merambat dari titik nadi ke rahang, dan kemudian melumat bibir Satang. Satang menyambutnya dengan senang hati. Mereka sedang di dalam ruang karaoke dan sungguh lucu bahwa satu-satunya suara yang terdengar adalah kecipakan dari mulut mereka.

“Tidak ingin kehilangan kesempatan untuk memberimu sebuah akhir yang tidak kamu harapkan,” jawab Winny setelah sesi ciuman panjang.

“Dan akhir macam apa itu?”

“Jatuh cinta padaku.”

Tawa Satang ditelan mentah-mentah dengan lidah Winny yang sewenang-wenang menerobos masuk. Menyuruhnya menelan kembali tawa meremehkan tidak senonoh itu dengan perbuatan yang sama tidak senonohnya.

Malam itu berakhir dengan dua pasang bibir yang membengkak dan dua hati yang sudah tidak yakin akan akhir macam apa yang mereka inginkan.

 

Ciuman ketiga yang menjawab

 

Seharusnya tidak seperti ini, permainan tidak boleh melibatkan dirinya yang tertawa pada lelucon konyol tidak lucu Winny. Apalagi berjalan berdampingan dengan tangannya yang menggandeng lengan Winny sambil berbagi sosis goreng. Winny bahkan tidak seharusnya makan sosis goreng.

Ciuman ketiga tidak terjadi seminggu setelah ciuman kedua, tidak terjadi pula sebulan sejak ciuman kedua, tidak terjadi lagi bahkan saat Belly tidak menyalak lagi padanya. Dan sepertinya tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan sekarang?

Pertanyaan yang bercokol bandel dalam kepala Satang saat Winny membantu mengikat tali sepatunya yang cari perhatian dengan kerap sekali lepas. Wajah Winny masih memikat, lebih memikat dalam temaram lampu oranye jalan dan tubuhnya masih menjerat, semakin menjerat bahkan saat kaos sialan menutup pahatan ABS dan tattonya.

Dulu dia akan menikmati masa ini, saat lawannya perlahan-lahan mengendurkan pertahanan, melakukan satu hal luar biasa salah, terbuka padanya. Jika itu sudah terjadi artinya patah hati mereka akan sangat menyakitkan dan membuat kemenangannya terasa layak.

Namun, sekarang yang menghinggapinya seperti kotoran baju hanyalah kekhawatiran. Dia tidak mengkhawatirkan hatinya yang mungkin dari awal sudah terjerat, tetapi dia mengkhawatirkan jika jeratan Winny padanya sama dengan jeratannya pada pria lain. Hanya untuk diputuskan akhirnya. Tidak begitu menyenangkan saat dialah korbannya. Dia sudah lembek dan lemah.

Pemandangan Winny yang tampak puas setelah berhasil mengikat tali sepatunya membuatnya kesal. Dia ingin mengutuknya, dia ingin memakinya dengan kata-kata jahat, dan dia ingin sekali menyakiti dan menghapus senyuman berkumis kucing itu.

“Apakah ada artinya dari penundaan ciuman ketiga kita?”

Alih-alih makian, Satang justru bertanya akan sebuah kejelasan. Payah, sisi hatinya yang mendamba jawaban, benar-benar payah. Satang tidak menyukainya sebanyak Satang tidak menyukai seringai Winny yang terlihat bodoh.

“Bukankah sudah jelas?”

Tidak, bodoh! Sama sekali tidak jelas. Teriakan yang ini hanya berakhir di kepalanya.

“Coba jelaskan?” benar-benar payah hatinya yang meminta penjelasan ini.

“Aku hanya tidak ingin semuanya cepat berakhir.”

Jawaban yang tidak diduga-duga Satang.

“Masih belum siap patah hati?” tanya Satang merusak suasana, sebuah keahlian yang dia kuasai, “semakin kamu tunda, semakin menyakitkan nantinya.”

“Mungkin itu yang aku harapkan, bukan hatiku, tetapi hatimu.”

“Pria gila!”

“Bukankah pria gila adalah tipemu?”

“Benar, pria gila yang brengsek.”

“Aku tidak akan menjadi pria baik untukmu.”

Omongan laknat yang jahat itu mengapa terdengar romantis? Satang menyeringai, dia menendang betis Winny dengan sepatunya yang baru saja diikatkan keras, hanya karena dia ingin saja.

“Apakah yang begini juga tipemu?”

“Jangan pernah berubah!” geram Winny disela-sela giginya menahan sakit.

“Tidak berniat sama sekali,” cibir Satang, “aku ingin menendang sesuatu, sebuah bola.” Satang tanpa malu melirik selangkangan Winny.

“Aku punya bola lain, yang ini hanya boleh untuk mengisi mu, tidak untuk ditendang.”

“Brengsek.”

 

***

 

Sore, pada hari ke (entah ke berapa) sejak ciuman ketiga tidak terjadi, mereka bermain futsal. Serombongan orang bertaruh demi uang. Setelah kekalahan dari tim Winny dan umpatan dari si kalah serta seruan sombong dari si menang yang menjauhi lapangan, mereka tidur telentang di tengah lapangan.

Tubuh mereka berbaring ke arah yang berlawanan dengan kepala yang berdekatan. Tubuh yang dilapisi jersey navy basah oleh keringat, tersorot lampu atas lapangan seolah mereka pemain utama dalam sebuah drama teater. Cukup lama untuk mereka mengais-ais udara setelah permainan sengit.

“Kamu lihat kan? Aku tidak dilahirkan untuk kalah,” ejek Satang memamerkan uang yang tidak seberapa itu.

“Akan selalu ada pertama kali dalam segala hal,” ucap Winny santai dengan mata terpejam.

“Kurasa akan sangat legendaris jika kamu berhasil menjadi yang pertama mematahkan hatiku,” balas Satang geli, “Sayangnya itu tidak akan terjadi.”

Winny menolehkan kepalanya, tangannya memaksa kepala Satang untuk menoleh juga.

“Setelah kalah kamu akan berhenti atau mencari korban baru?”

“Aku tidak akan kalah!”

Satang mengumpat saat Winny mengabaikan kepercayaan dirinya layaknya serangga tak penting, sesuatu yang mengganggu, tetapi gampang diusir.

“Jadi apakah kamu masih haus mencari korban baru?” tanya Winny lagi.

“Aku tidak akan pernah berhenti.”

Keheningan menyusul setelahnya.

“Apa sebenarnya yang kamu cari?” suara Winny terdengar lirih.

“Kemenangan mutlak.”

Winny mendekatkan wajahnya padanya, bukan untuk menciumnya, tetapi untuk sekedar menempelkan kening dan hidung mereka. Satang menarik napas kuat yang tidak membuatnya lega.

“Pulanglah bersamaku, kita akhiri malam ini.”

Winny berdiri meninggalkan Satang setelah itu. Membiarkannya telentang sendirian di lapangan bersorot lampu terang. Dahi Satang mengkerut mewakilkan hatinya yang gundah. Detak jantungnya terpacu hebat, sama sekali tidak menanti akhir yang akan menjawab.

Satang khawatir akan jeratannya pada Winny yang semakin mengendur dan jeratan Winny padanya yang semakin mengikat. Kakinya membawanya bangkit, membawanya menuju akhir yang bukan untuknya.

Satang memasuki kondo Winny dengan kekosongan yang berat. Sebuah ironi bahwa dia diberatkan oleh sesuatu yang tak berisi. Belly tidak menyalak, anjing itu meliriknya dengan tatapan kosong. Tangannya memberi Belly acakan lembut, bersikap seakan-akan itu adalah lambaian perpisahan. Dia menyapa Tiny dan Gummy, tetapi mengabaikan yang punya kondo.

Winny langsung mandi, sementara Satang mengacak-acak kulkas Winny mencari sesuatu yang manis. Satang mengambil apel sebesar genggaman tangannya, memakannya sembari menunggu Winny selesai.

Kali ini Winny menyerahkan sebuah hoodie abu-abu dan celana pendek untuknya berganti. Sabun mandinya masih strawberry, samponya juga masih strawberry, kamar mandinya juga masih sempit untuk berbuat hal nikmat.

Winny menunggunya di kasur dengan kaos putih dan celana pendek hitamnya. Satang mendengus menanggapi permintaan Winny untuk menyusul berbaring di sampingnya.

“Kamu tidak akan bisa menghapus kenanganku di sana,” seru Satang, “Wajahku akan selalu muncul sebelum kamu tidur.”

“Kamu memakai pakaianku, sabun dan sampoku, tidak ada celah untuk mengingatkanku tentangmu.”

Satang mengobrak-abrik tasnya, setelah menemukan yang dia cari dia menyemprotkan seluruh isi parfumnya ke ranjang Winny.

“Rasakan! Rasakan! Kamu pikir aku akan diam saja?”

Satang menyemprot sambil berlarian lincah menghindari Winny yang menyuruhnya berhenti. Satang bersumpah serapah saat Winny menangkapnya. Parfumnya dilempar sembarangan ke ranjang, kemudian tubuhnya menyusul. Dia sempat memantul sekali sebelum tubuh Winny menindihnya. Kedua tangannya dicengkeram, diikat oleh telapak tangan lebar Winny diatas kepalanya.

“Kamu sedang mencoba membangun ketegangan?” bisik Satang.

Kungkungan Winny terasa panas, membakar jiwa yang menginginkannya menang, memadamkannya dengan penuh. Satang ingin menyerah dan kenyataan itu membuatnya ketakutan.

“Kamu ingin menang?” tanya Winny dengan mencerca, tidak dengan keingintahuan yang baik.

“Jelas!”

Winny menciumnya tanpa aba-aba. Terasa berbeda dari biasanya, kali ini terasa seperti sebuah ketakutan yang mencekam. Kulumannya pada bibir atas seolah sedang menyimpan memori rasa bibirnya untuk waktu yang lama. Gigitannya pada bibir bawahnya seolah sebuah permohonan agar semua ini tidak segera berakhir.

“Kamu menang,” lirih Winny tidak menjauhkan bibirnya dari bibir Satang, “Aku mengaku kalah, kamu sudah menjeratku dan sisanya kamu bisa mematahkannya.”

Satang mengerjap cepat seolah tidak mempercayai telinganya akan apa yang barusan dia dengar. Jantungnya berdetak bersemangat seolah bukannya satu dia memiliki lima jantung. Pengakuan selalu membuat Satang bahagia tiada ampun, tetapi kali ini berbeda. Pengakuan Winny membawanya ke awang-awang, tidak menapak.

“Apa maksudmu?”

“Setelah kamu mematahkan hatiku, jangan mencari korban lain. Aku melarangmu.”

Satang ingin bangkit, berkelit, mendorong tubuh Winny darinya, tetapi Winny tidak mengijinkannya. Pergi ke gym berbulan-bulan terbayar dan Satang lah yang harus menanggung akibatnya. Winny tak bergerak bagai patung marmer. Tangannya yang terikat diatas sudah terasa pegal.

“Jelaskan lebih jauh!” tuntut Satang.

“Jadikan aku korbanmu selamanya, tidak ada orang lain setelahku.” Winny memberi bibir Satang kecupan di setiap kata seolah sedang memberi stempel, “aku tidak keberatan patah hati karenamu.”

Satang megap-megap pasalnya Winny tidak berhenti menciumnya, dia bersusah-payah menggelengkan kepalanya menghindar.

“Biarkan aku bicara!” seru Satang setengah mati setelah berhasil menghindar. “Jadi aku pemenang?”

“Kamu selalu pemenang, Satang.”

“Kamu terjerat?”

“Sejak awal,” Winny memberinya tatapan menerawang, “hanya saja setelah ini aku tidak ingin ada korban lagi, aku harus jadi korban terakhirmu.”

Butuh beberapa detik untuk Satang memproses dan tubuhnya layaknya disusupi dengan perkataan Winny barusan menguarkan aura mendamba. Sesuatu yang lebih mirip kebutuhan daripada hasrat. Tidak, pandangan memuja yang Winny pusatkan padanya, terasa seperti kebutuhan hasrat yang tak terbendung.

Satang ingin meraihnya, membiarkannya melakukan apapun padanya. Dia pikir ekspresi wajahnya menunjukkan itu karena Winny membaca dengan gamplang bahwa iya, dirinya juga terjerat, dirinya juga terpikat.

Tatapan mereka membara menyala-nyala. Setiap sentuhan bibir Winny pada wajahnya terasa seperti sengatan. Winny seolah sedang menyapu setiap inci wajahnya, menunjukkan pemujaan. Satang seharusnya tidak merasa tersanjung. Dipuja-puja adalah sebuah keharusan untuknya, tidak ada alasan baginya untuk merasa senang. Namun, disinilah dia merasa diawang, terbang hanya karena sapuan bibir.

Berakhir jatuh cinta pada Satang di permainan kejamnya adalah akhir yang tidak mengejutkan, selumrah bernapas. Namun, saat permainan berakhir dengan Satang yang terjerat oleh pikatan juga adalah suatu hal yang hampir mustahil.

Dalam permainan ini Winny menang, tetapi Satang tidak akan membiarkannya tau. Winny terjerat oleh tiga ciumannya, tetapi Satang terinfeksi oleh cintanya yang mematikan.

Tangan Winny yang mengikat pergelangan tangannya perlahan mengendur, mengijinkan jemari Satang untuk menyambut bara dari tubuh Winny. Jemarinya memasuki kaos Winny, meraba tepat pada setiap jengkal tatonya. Satang tau, dia memperhatikan setiap lekukan tubuhnya seolah dia sedang memetakannya dipikiran.

Bibir Winny tidak berhenti pada bibirnya, dia bergerak merambat seperti tanaman sulur ke rahang dan leher jenjangnya. Kecupan Winny terasa seperti sebuah tanda bahwa kendalinya sudah diambil alih.

Seiring dengan kewarasan mereka yang mengikis, tubuh mereka saling membelenggu, mengejar pada akhir yang sesuai harapan.

Akhir dari permainan kali ini adalah mereka sudah sama-sama terjerat bahkan sebelum ciuman pertama.

END