Actions

Work Header

wherever i go, you bring me home

Summary:

Dinamika keluarga Mingyu dan Wonwoo serta anak-anak mereka Hansol dan Chan.

Notes:

This story is a 'what if' from my social media AU titled Sweet Creature on my Twitter @minwonthu. Tapi (kayaknya) bisa dibaca terpisah :p

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Chan mau garlic parmesan chicken buatan Papanu kayak kemarin." 

Meja makan yang tadinya sunyi dan hanya ada suara ketukan pisau dengan talenan mendadak ramai karena kedatangan dua remaja tujuh belas tahun. Lebih tepatnya, hanya satu yang berisik - menarik kursi dengan kasar hingga menimbulkan deritan, menaruh ransel sekolahnya asal di meja, serta melayangkan protes pada papanya yang sedang menghadap kompor.

"Papamin lagi masak gulai ikan ini, Chan nggak mau gulai ikan?" Mingyu melirik sejenak pada kedua putranya sebelum menuangkan minyak pada wajan satunya, hendak menumis kacang panjang sembari menunggu gulai masak.

Chan menyisir rambutnya yang berantakan dengan ruas jarinya. "Tapi ayam yang kemarin tuh enak banget tau, Pa. Chan sampai ngiler kebayang-bayang terus selama pelajaran di kelas."

"Lo udah nyomot punya gue masih aja nggak puas." Hansol menimpali dengan fokusnya masih pada komik di tangannya.

"Lah lo kan nggak suka ayam, dari pada mubazir ya buat gue aja lah."

"Kata siapa gue nggak suka?"

"Ya lo kayak nggak suka tiap buka kotak bekal menunya ayam."

"Gue bukan nggak suka, cuman bosen aja tiap hari ayam mulu. Gara-gara nurutin lo tuh yang cuman mau makan ayam."

Tidak ada intonasi ketus dalam perkataan Hansol, si penutur pun masih anteng dengan komiknya tanpa mau repot-repot menoleh ke Chan yang duduk di sebelahnya. Tapi amarah Chan sukses tersulut, menurutnya kakak tirinya ini berlagak sok dewasa dan itu berhasil membuatnya seolah seperti remaja baru puber. Padahal kan, usia mereka hanya beda dua bulan, kenapa Hansol memperlakukannya seperti bocah ingusan yang masih dipakaikan orang tuanya minyak telon dan bedak bayi semuka-muka sehabis mandi? Menyebalkan sekali.

Ada tanduk tak kasat mata di kepala Chan, dia menatap tajam Hansol yang tampak tak terganggu sedikitpun dengan keributan ini. “Kalau bosen kenapa nggak bilang? Kok jadi seolah nyalahin gue gini, sih?”

Akhirnya Hansol mengangkat wajahnya, melirik pada Chan lalu papanya. “Gue udah bilang ke Papamin, tapi tetep dibekelinnya ayam. Karena lo cuman mau makan ayam, sedangkan gue nggak bakal protes dikasih apa aja. Ini karena Papanu yang bilang aja ke Papamin buat sesekali masak yang lain makanya diturutin.”

Rentetan kalimat datar yang berhasil menghentikan pergerakan Mingyu yang tengah menumis sayurnya. Dadanya seperti dihantam batu besar tanpa aba-aba. Begitupun dengan Chan yang sontak terdiam, terlalu terkejut dengan pengakuan Hansol hingga bingung harus merespon bagaimana.

Di ambang pintu ruang makan, sedari tadi Wonwoo berdiri menyimak pembicaraan keluarganya itu. Ia berdeham, mengusir kecanggungan yang tiba-tiba mampir di meja makan yang selalu hangat oleh cengkerama dan canda tawa mereka. 

“Hari ini makan yang udah dimasakin Papamin ya, boys. Besok-besok kalau mau request makanan lain, bilang aja ke Papa.” Wonwoo mengambil posisi duduk di seberang Hansol, melempar senyum tipis, berusaha mencairkan ketegangan di meja makan. “Hansol juga boleh request makanan yang Hansol suka. Maaf ya, karena Papanu dan Papamin kurang memperhatikan Hansol selama ini. Kami pikir Hansol suka-suka aja dengan makanannya, makanya kami masakin makanan kesukaan Chan aja.”

Menyadari omongannya membuat mereka canggung, Hansol menyesal. Dia tidak marah dengan orang tuanya tentu saja, hanya saja ada goresan sedikit yang timbul pada saat-saat tertentu. Selain perihal makanan, pada beberapa momen dia merasa sedikit diabaikan orang tuanya. Mungkin karena dirinya bukan tipe anak yang akan protes atau sekadar mengatakan “tidak suka” untuk hal-hal yang tidak sesuai ekspektasinya. Lain halnya dengan Chan yang cenderung lebih vokal, saudaranya itu tidak akan segan berkata “tidak” jika memang ada hal yang tidak disukainya.

Hansol tahu benar, tapi bertahun-tahun mempertahankan sifatnya itu membuatnya lama-lama terbiasa untuk terus bungkam dan membiarkan Chan yang menang.

Seperti saat ini. “Nggak apa-apa, aku nggak masalah kok emang makan apa aja.”

Mingyu yang sudah selesai dengan masakannya menghampiri meja makan. Sepiring gulai ikan dan sepiring tumis kacang panjang yang masih mengepulkan uap panas dihidangkan di atas meja. Harum, sudah pasti enak, karena Mingyu memang pakarnya memasak makanan bersantan seperti ini.

"Wah.. wah.. enak banget keliatannya ya.” Wonwoo tersenyum lebar, terdengar bersemangat. Saling melempar tatapan dengan suaminya yang masih berdiri di sisi meja, memasukkan nasi dan lauk pada dua kotak bekal. “Ayo boys sarapan dulu, Chan nggak papa ‘kan makan ikan? Kalau nggak mau Papa gorengin nugget.”

Chan mendengus, Hansol melirik adiknya itu tajam.

“Nggak usahlah, aku nggak laper, mau berangkat duluan aja.” Anak itu berdiri, mengulurkan tangan hendak menyalimi kedua papanya.

Mingyu dan Wonwoo lagi-lagi saling melempar tatap, seolah saling bertanya hal apa yang seharusnya mereka katakan atau lakukan saat ini. Lain dengan Hansol yang tak ambil pusing dengan kelakuan Chan, dia khidmat menyuap makanan hangat itu ke mulutnya, murni mengabaikan drama yang sedang terjadi.

“Chan yakin nggak sarapan dulu? Hari ini full sampai sore loh.” Mingyu meraih piring bersih di meja, bersiap mengisinya dengan nasi.

“Nggak. Nanti aku makan di kantin aja.”

“Seenggaknya bekalnya bawa buat nanti makan siang.”

“Nggak mau, Papamin.” Intonasi bicaranya meninggi dan lagi-lagi seisi meja dibuat kaget. Meskipun Chan lumayan bandel, sangat jarang anak itu meninggikan anda bicaranya. Wonwoo tentu tersinggung suaminya diperlakukan begitu, mulutnya terbuka siaga memberikan teguran, tapi dicegah Mingyu lewat matanya.

“Ya sudah kalau nggak mau. Sebentar Papa cuci tangan dulu terus anterin kamu ke sekolah, ya.”

Chan tak menjawab. Dia berdiri menunggu Mingyu mencuci tangan secepat mungkin. Wonwoo sudah memberikan tatapan mautnya sedari tadi dan Chan tidak mungkin tidak menyadari itu. Hanya saja, sekarang amarahnya sudah di ubun-ubun, bahkan kegentaran pun tidak mampu menutupinya. Satu-satunya hal yang ingin dia lakukan sekarang sebenarnya adalah memasukkan kepala Hansol ke kuah gulai ikan yang masih mengepul itu, namun satu-satunya alasan yang mencegahnya adalah dia tidak mau membuat orang tuanya khawatir.

Maka Chan hanya diam, menyalami Wonwoo sebelum melenggang keluar rumah disusul Mingyu di belakangnya.

Tersisa Wonwoo dan Hansol di meja makan dengan Hansol yang masih fokus menikmati makanannya dan Wonwoo yang duduk memperhatikannya. Meskipun sudah hidup bersama dalam satu atap selama sepuluh tahun, tak dapat dipungkiri baik Wonwoo maupun Hansol masih merasakan kecanggungan di antara keduanya. Mungkin karena Wonwoo tipe orang tua yang tidak sensitif dengan anak-anaknya dan Hansol adalah anak yang tidak ekspresif. Suatu kombinasi mematikan.

Pada saat inilah Wonwoo merasa bahwa tanpa bersama Mingyu, dia sulit mendekati Hansol. Selama ini, mereka berkolaborasi dalam proses stumbuh kembang anak-anak. Tidak ada keputusan yang diambil Mingyu tanpa diketahui Wonwoo dan juga sebaliknya.

Wonwoo berdeham dan itu bagaikan alarm pengingat bagi Hansol untuk memperhatikan Papanya yang akan bicara. 

“Papa minta maaf soal Chan.”

“Kenapa? emang Chan ngapain?” Piring Hansol sudah bersih, dia meraih segelas air putih, menegaknya hingga tandas.

“Yang dilakukan Chan tadi mungkin menyinggung kamu. Padahal nggak papa kalau sesekali kita makan makanan yang kamu suka. Chan nggak seharusnya ngambek ke kamu dan pergi gitu aja.”

Hansol menatap Papanya dalam. “Meskipun Chan ngeselin, aku paham perasaan dia kok, Pa. It’s not about food actually, dia marah karena ngiranya aku selama ini ngalah buat dia..” Hansol mengedikkan bahunya, meraih ransel yang tergeletak di lantai. “Chan itu sok merasa keren banget anaknya, kayaknya tadi dia ngiranya selama ini aku anggap dia masih kecil makanya aku ngalah. Padahal aku ngalah karena males ngomongnya aja ke kalian.” 

Hansol berdiri dari duduknya, memperhatikan Wonwoo yang masih terpaku memproses ucapannya.

“Pa, tolong anterin aku ya, pakai motor aja soalnya jam segini pasti udah macet.”

 


 

Ritme deritan ranjang semakin cepat dibersamai desahan-desahan kedua manusia di atasnya. Cahaya remang-remang dari lampu tidur di atas nakas menampilkan samar tubuh telanjang sepasang suami-suami yang menyatu dalam pusar gairah. Tubuh mereka tak berjarak, Mingyu di atas memompa dengan ritme yang tak cepat, namun kuat. Sedangkan Wonwoo di bawahnya terguncang dengan kaki yang melebar dan tangan yang memeluk tubuh besar suaminya. Saat ini pukul dua belas malam, setelah sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing sehingga mereka tidak kunjung menjemput kantuk, mereka memutuskan untuk berhubungan seks.

“Min — ahhh.”

“Kamu mikirin apa, sih? Anak-anak?” Mingyu mencium pelipis suaminya lembut. 

Mhmm. I talked to Hansol tadi pagi.”

Ciuman Mingyu beralih pada leher Wonwoo, mengecup, menjilat, hingga memberikan gigitan kecil di sana. “Dia bilang apa?” Suaranya rendah membuat Wonwoo kehilangan fokus antara kenikmatan yang sedang dirasakannya atau menjawab pertanyaan suaminya.

“Bisa nggak aku jawab nanti?” Wonwoo meraih bibir suaminya, menciumnya berantakan. Air liur entah punya siapa menetes keluar, tapi tak ada yang peduli. Wonwoo bisa merasakan Mingyu terkekeh di tengah ciumannya. 

“Udah nggak bisa mikir ya kamu?”

Wonwoo mengeluarkan lenguhan yang semakin keras ketika genjotan Mingyu terasa semakin kuat. Mengejar nikmat untuk keduanya. Seks dengan Mingyu selalu terasa menyenangkan, bukan hanya karena punya Mingyu besar dan berurat, atau karena genjotannya yang walaupun tidak cepat namun menghentak kuat. Melainkan karena Mingyu melakukannya dengan sangat lembut. Bibir laki-laki itu tidak pernah menganggur untuk memeperi seluruh sudut wajah Wonwoo dengan kecupan dan lumatannya. Belum lagi kata-kata manis yang keluar dari mulut suaminya itu. Wonwoo merasa sangat-sangat dicintai dan itu terasa sangat menyenangkan bagi hatinya.

“Cantik banget kamu sayangku, makasih udah mau jadi suamiku, ya. Makasih udah mau sama-sama besarin anak-anak kita.” Kedua tangan Mingyu mengusap pelipis Wonwoo yang berkeringat sebelum kembali meraup bibir lembut suaminya ke dalam ciuman mesra. Panas napas serta patah-patah desahan mereka menyelinap dalam sempitnya jarak keduanya.

Wonwoo tertawa namun tetes air keluar dari sudut matanya. “Payah ya aku? Tujuh belas tahun jadi bapak tetep aja gak becus — nggh.” Mingyu menghentak keras, memotong perkataan suaminya.

No, sweetheart. Don’t ever say that again. Kamu. Papa. Yang. Baik.” kata Mingyu dengan penekanan pada setiap katanya. Dikecupnya pucuk hidung Wonwoo beberapa kali. “Keluar sayang.”

“Iya.” Wonwoo mengangguk, merasakan gejolak tak asing pada perut bagian bawahnya. “Keluar, Min.”

Kali ini aktivitas seks mereka hanya dilakukan satu ronde. Satu ronde yang nikmat seperti biasa, namun ternyata tidak cukup menjemput kantuk yang diidamkan. Setelah bebersih seadanya, pasangan suami itu kini duduk berdua di balkon yang terhubung dengan kamar mereka. Saling bersender mengisap nikotin masing-masing. 

“Aku bukan papa yang baik ya, Min?” 

Mingyu menarik suaminya ke dalam pelukannya. Disingkirkannya rambut Wonwoo yang mulai panjang dan menusuk-nusuk matanya. “Tadi aku ngomong apa, sih? Don’t ever say that again, Wonwoo,” ulang Mingyu, suaranya lembut. “Kamu papa terbaik buat Chan dan Hansol, sayang. Selama ini, kamu udah usahain semua yang terbaik buat mereka. Kamu mikir gini karena kejadian tadi pagi, ya?”

Wonwoo mengangguk.

“Wajar aja lah, yang, remaja rebel dikit mah. Kamu juga dulu gitu, kan?”

Wonwoo mengangguk lagi.

“Makanya, nggak usah terlalu dipikirin. Nanti kita omongin sama anak-anak, ya.”

Dirasakan lembut halus usapan tangan Mingyu di kepalanya seakan meluruskan benang kusut yang berserakan di sana. Mingyu dan sifat lemah lembutnya selalu berhasil membuat Wonwoo merasa menjadi manusia paling dicintai di alam semesta. 

I talked to Hansol.” 

“Oh, ya? Ngomongin apa aja?”

“Aku ngerasa selama ini kita terlalu fokus ke Chan sampai sedikit cuekin Hansol. Aku tau, baik aku atau kamu nggak sengaja kayak gitu, cuman tetep aja kita udah nyakitin perasaan Hansol.” 

Masalah ini, tanpa Wonwoo ketahui lebih memenuhi kepala Mingyu dibanding kepalanya. Meskipun dia merasa selama ini sudah membagi cinta dan perhatiannya kepada dua anaknya seadil mungkin, tetap saja kadang kala Mingyu terpikirkan, apakah Hansol juga merasa demikian?

Hidup sedari lahir hingga berusia tujuh tahun hanya berdua bersama ayahnya, lalu ayahnya memutuskan untuk menikah lagi dengan duda satu anak sehingga Hansol tidak lagi menjadi satu-satunya putra yang harus Mingyu perhatikan tentu saja sedikit banyak berpengaruh padanya.

Again, meskipun Mingyu merasa sudah memperlakukan kedua anaknya seadil mungkin, belum tentu si anak juga merasakan hal yang serupa. Apalagi, Hansol itu terlalu pendiam, dia tidak akan dengan gamblang mengungkapkan apa yang dia pikir atau rasakan. Bawaan sejak kecil karena dia tidak tega dengan Mingyu yang membesarkannya tanpa pendamping.

Wonwoo menceritakan pembicaraan singkatnya dengan Hansol di meja makan dengan Mingyu yang mendengarkan dengan saksama.

“Besok kita ngobrol bareng-bareng, ya. Ngobrol aja tanpa mojokin salah satu anak kita, apalagi nyalahin diri sendiri.”

Udara dingin kian menusuk tulang. Mingyu mengeratkan pelukannya, membiarkan Wonwoo meringkuk nyaman seperti anak kucing yang kedinginan. Diusapnya punggung suaminya lembut, berusaha menyalurkan hangat tubuhnya.

“Tidur yuk.”

Wonwoo mengangguk. “Gendong.”

Mingyu tertawa. Dengan nyaman, Wonwoo melingkarkan kakinya pada kedua sisi tubuh Mingyu dengan lengan kurusnya melingkari lehernya. Mingyu membawanya berdiri dan berjalan ke kasur mereka dengan mudah seakan tubuh suaminya itu seringan kapas, padahal sebenarnya tidak jauh beda dengan beratnya.

 


 

Akhir pekan berjalan seperti biasa. Mingyu dan Wonwoo masih rutin melakukan kebiasaan mereka jauh sebelum mereka menikah dulu, yaitu menghabiskan waktu bersama anak-anak. Sore ini, mereka hendak ke pantai, camping di sana. Klise, tapi tidak ada yang menolak ide dari Mingyu ini, karena mengobrol di pantai malam hari bersama keluarga kecil mereka selalu seru dan hangat.

Terakhir kali mereka camping di pantai sekitar satu tahun yang lalu, saat itu tidak ada yang pulang dengan wajah kesal. Semuanya senang, semuanya damai. Mungkin kali ini agak berbeda karena masih terasa sisa ketegangan kemarin di antara Hansol dan Chan.

Bahkan saat Wonwoo mendirikan tenda dan Mingyu menyalakan api unggun, tidak ada yang mendekat membantu. Hansol duduk di batu besar, memandangi semburat jingga di langit yang sore ini tak berawan. Sedangkan Chan berenang di tepi laut sendirian, aneh karena dia hampir tidak pernah melakukan apapun sendirian, selalu ada Hansol di sisinya. 

Matahari semakin merosot ketika Mingyu memanggil anak-anak untuk mendekat pada api unggun yang menyala kecil. Empat gelas coklat panas tersaji dan baik Hansol dan Chan tahu betul orang tua mereka akan membicarakan hal yang serius. 

“Betah ya kalian saling diam begitu?” Mingyu yang membuka pembicaraan. Dia melempar selimut pada ketiganya, angin laut semakin terasa menusuk tulang, dia tidak mau pulang-pulang ada yang jatuh sakit.

“Aku biasa aja, sih.” Hansol menjawab.

Ya tentu saja dia biasa saja. Biasanya memang begitu. Yang membedakan adalah sikap Chan yang tidak menempel dengan Hansol, jangankan menempel, melirik pun tidak sudi.

“Chan, Hansol, bisa jujur ke Papamin dan Papanu tentang apa yang mengganjal di hati dan pikiran kalian? Papa mungkin bisa nebak-nebak, tapi kami mau denger pernyataan kalian langsung.”

Dan begitulah Mingyu menginstruksikan anak-anaknya untuk mengungkapkan apapun yang ingin dan harus mereka ungkapkan. Baginya dan Wonwoo, tidak ada masalah kecil yang berhak diabaikan dalam keluarga kecil mereka. Semua masalah, seremeh apapun, harus dibicarakan, harus diselesaikan, harus didamaikan agar tidak menjadi bom waktu kelak.

Begitulah yang selalu mereka terapkan pada keluarga kecil mereka. 

Dengan saksama mereka saling mendengar, menaruh perhatian seutuhnya pada anak-anak yang bergantian berbicara. Chan lebih dulu berbicara, intonasinya meninggi, kadang seperti bentakan. Dia tidak marah kepada orang tuanya, dia hanya marah kepada Hansol dan pada sore menjelang malam itu ditumpahkannya rentetan kalimat yang beberapa lama ini menghuni kepalanya. Tidak ada yang menginterupsi omongannya yang kadang terdengar terlalu kasar, semua hanya mendengarkan.

Hansol yang sok dewasa.

Hansol yang cuek.

Hansol yang menganggapnya seperti bocah ingusan.

Hansol yang tidak pernah melibatkan Chan dalam hidupnya ketika Hansol adalah satu-satunya orang yang tahu kapan pertama kali Chan mendapatkan mimpi basahnya.

Hansol diam mendengarkan. Air wajahnya tidak bisa ditebak.

Bulan temaram kini menggantikan tugas mentari di langit sana. Terlalu redup di sekitar karena kini penerangan hanya bersumber pada api unggun yang terlihat ringkih bertahan melawan arus angin. 

Hansol menyesap coklat yang terasa mendingin. Kini, untuk pertama kalinya, dia akan menumpahkan semua yang dirasakannya selama ini. Tentang dia yang merasa diabaikan. Tentang perasaannya yang selalu dikerdilkan. Rentetan kalimat panjang ia utarakan selayak sungai yang mengalir tenang, tanpa bentakan, tanpa tangis, juga tanpa interupsi. 

“Aku tahu Papamin dan Papanu nggak sengaja kayak gitu. Cuman sesekali aku pengin keinginanku juga diturutin. Kayak sesimpel di weekend kita nonton di bioskop bareng dibanding ke dufan, sesekali aja.”

Kalimat pamungkas dari Hansol membuatnya dihadiahi pukulan kecil di lengannya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Chan yang duduk di sampingnya itu?

Mata Chan berembun, disenggol sedikit saja Hansol yakin air di sana akan mengucur deras menuruni pipinya.

“Kok lo nggak bilang, sih?”

“Iya ini gue bilang.”

“Harusnya dari dulu lo bilang. Gue jadi berasa saudara yang jahat tau, nggak?”

“Lo nggak jahat, Chan.”

Terisak Chan dibuatnya. Anak itu menggeser mendekat, Hansol was was menanti pukulan atau cubitan yang akan diterima dari saudaranya itu, tapi kemudian dia merasakan tubuh Chan yang lebih kecil menghambur ke pelukannya.

Sontak Wonwoo dan Mingyu saling memeluk juga, tersenyum lega menonton kedua putra kesayangannya akur. 

Seriously, Sol. Lo emang kakak gue, tapi bukan berarti lo harus sok dewasa kayak gitu. We’re both seventeen, so act like it! Bilang nggak mau kalau lo nggak mau, bilang nggak suka kalau lo nggak suka. Segampang itu padahal.”

Tangan Hansol terulur membalas pelukan Chan dengan canggung. Seumur hidup tidak pernah mereka berpelukan seperti ini.

Okay, okay, entar gue coba.”

Sorry selama ini lo ngerasain perasaan kayak gitu karena gue.”

“Nggak karena lo.. bukan salah lo, udah, gue nggak papa.”

“Salah gue nggak ngertiin lo, Sol.”

You don’t have to understand me, emang, Chan. Harusnya gue yang langsung ngomong aja.”

“Tetep aja gue minta maaf.”

“Iya, gue juga minta maaf.”

Chan menarik diri dari pelukan kakaknya, dihapusnya jejak air mata di pipinya buru-buru. “Pasti abis ini lo makin anggap gue kayak bocah, ya.”

Hansol tersenyum tipis. “Enggak, kok. Gue nggak pernah anggap lo kayak bocah, Chan. Sorry selama ini gue bikin lo ngerasa gitu.”

“Sini sini, peluk.” Wonwoo dan Mingyu mengambil posisi duduk di samping anak-anaknya. Tangan mereka saling memeluk, menyalurkan hangat di antara angin malam yang semakin dingin. Deburan ombak menjadi satu-satunya irama pengisi kesunyian selama beberapa saat sebelum kemudian Hansol bersuara lagi. 

“Papamin, Papanu, Chan, aku mungkin nggak pernah bilang secara langsung tentang ini ke kalian. Kehadiran, tawa, candaan kalian, walaupun kadang brisik, tapi aku sama sekali nggak pernah terganggu. Malah, aku ngerasa nyaman banget ada di keluarga brisik yang hangat ini. Sorry kalau selama ini aku nggak pernah nunjukin itu. Aku sayang kalian.”


Sebenarnya udara malam masih terasa dingin, malah semakin turun seiring dengan malam yang kian larut. Hanya saja hawa panas yang dihasilkan dari aktivitas panas antara Wonwoo dan Mingyu di tendanya berhasil menaikkan suhu di dalam tenda kecil itu.

Setelah coklat mereka yang tak lagi panas tandas, Wonwoo mengisyaratkan anak-anak untuk segera masuk ke tendanya. Malam ini rasanya lebih dingin dari malam-malam biasanya, maka lebih baik bagi mereka untuk menghindari jatuh sakit karena lusa anak-anak harus masuk ke sekolah. Tak banyak melawan, keduanya mengiyakan untuk masuk ke tenda. 

Tenda Chan dan Hansol terang oleh lampu kemuning yang dibawa Wonwoo tadi. Hansol mungkin sedang membaca komiknya dengan Chan yang berceloteh menceritakan tentang kakak kelas yang dia taksir, yang pasti mereka jelas belum jatuh tidur.

Berkebalikan dengan tenda Mingyu dan Wonwoo yang gelap total. Sengaja, agar aktivitas bercinta mereka tidak terlihat oleh anak-anak atau orang yang lewat.

Sangat sulit bercinta dengan kondisi gelap total seperti itu. Mingyu beberapa kali salah menyasar bibir suaminya, mengundang gelak tawa keduanya. 

“Udahlah, Min, tidur aja, nggak enak gelap-gelap gini.” Wonwoo melenguh merasakan basah yang hangat di telinganya. 

“Kamu udah sange gini kok minta udahan?” Dengkul Mingyu ia tekuk, merasakan tegangnya kepunyaan Wonwoo di dalam celana tidurnya. 

“Tapi susah..”

“Bisa.”

Mingyu berlutut, melepas celananya sendiri sehingga terpampang penisnya yang membesar. Cahaya remang dari api unggun di luar tenda membuat mata Wonwoo menangkap suaminya itu yang mengocok penisnya beberapa kali sebelum kembali membawa bibirnya ke ciuman yang mesra.

“Aku tau kamu udah prepare sebelum ke sini.” Mingyu melebarkan kaki Wonwoo, meraih celana suaminya untuk dia tarik ke bawah. Wonwoo tidak menolak sentuhan Mingyu pada tubuhnya, juga tidak menyangkal yang Mingyu ucapkan. Memang benar dia sudah mempersiapkan lubangnya di kamar mandi tadi, karena dia tahu Mingyu bisa suatu saat menerkamnya tak tahu tempat seperti sekarang ini.

“Mau main bareng anak-anak pun yang diinget kontol aku ya, Nu.” 

Wonwoo melenguh mendengar rendahnya suara Mingyu di telinganya. Kalimatnya yang terdengar merendahkan itu membangunkan sesuatu pada dirinya. Mingyu selalu bermain lembut, baik sentuhan maupun kata-kata yang diucapkan selama seks, setidaknya selama lima tahun belakangan. Namun, entah pengaruh dinginnya malam ini atau memang Mingyu sedang ingin, diperlakukannya Wonwoo sedikit lebih kasar dari biasanya.

“Coba ngangkang.”

Wonwoo menurut dan Mingyu tidak mampu menyembunyikan senyumnya.

Tak lama Wonwoo merasakan basah yang dingin menyergap permukaan lubangnya, itu jari Mingyu yang sudah dilumuri pelumas. Dielusnya lembut dari luar sebelum diselipkan dua jarinya ke dalam sana. Sempit. Mingyu dan Wonwoo mendesis bebarengan.

Shit, Nu. Udah sepuluh tahun dan masih sesempit ini. Gimana aku nggak tergila-gila ngentotin kamu?” Mingyu meraup bibir bengkak dan basah suaminya, melumatnya kasar, merasakan rongga mulut Wonwoo yang sudah ia hapal betul rasanya itu.

Language, Min,” peringat Wonwoo. Kembali lolos patah-patah desahannya yang segera ditelan Mingyu.

“Jangan sok nggak suka kalau lubang kamu kedutan gini gara-gara omongan aku.” Dia mengencangkan gerakan jarinya di dalam sana. Menggaruk, menekan, hingga mencium titik prostat Wonwoo berkali-kali. Wonwoo dibuat gelagapan. Tangannya meraih rambut Mingyu di atas sana, menjambaknya kasar.

“Sumpah, kamu selalu enak, Mingyu. Aku gila sumpah. Gila — ahh.”

Tidak butuh waktu lama bagi Wonwoo menjemput putihnya. Spermanya berceceran ke mana-mana, tak terlihat dan mereka hanya bisa menebak-nebak: mungkin menempel pada tenda, atau kasur tempat mereka bersenggama, atau pada tubuh keduanya yang kini tak tertutup sehelai kainpun selain kaus kaki putih yang masih setia melingkupi dua pasang kaki dingin itu.

Bahkan saat Mingyu mendorong penisnya masuk, ke bagian paling dalam tubuh Wonwoo yang bisa dijangkau, dia melakukannya dengan hati-hati seolah Wonwoo adalah kaca tipis yang rentan retak. Mingyu selalu begitu dan Wonwoo selalu dibuat jatuh cinta ke sekian kalinya.

“Kirain kamu bakal main kasar.”

Mingyu tertawa, pinggulnya mulai bergerak. “Nggak tega aku, yang.”

“Huh. Payah.”

“Emang payah aku kalau soal kamu.”

Napas keduanya mulai tersengal-sengal, merespon pada kenikmatan yang ada pada titik terperasa tubuh masing-masing, yang dengan cepat menjalar ke seluruh anggota tubuh.

“Gombal terus. Inget umur, Min.”

“Emangnya kenapa umurku? Masih muda ini.”

Dibawanya kembali bibir tipis Wonwoo ke dalam ciuman yang mesra. Mingyu tidak tahu kalau dia bisa mencintai seseorang sedalam ini hingga pada titik dia meragukan kalau dia tidak sekadar cinta, melainkan terobsesi dengan Wonwoo.

Mingyu terobsesi pada kenyataan bahwa Wonwoo adalah pemandangan pertama yang dia lihat setiap harinya begitu membuka mata.

Mingyu terobsesi pada kecupan dan lumatan bibir Wonwoo sesaat setelah diucapkannya kata selamat pagi.

Mingyu terobsesi pada pribadi Wonwoo yang hangat, yang selalu membersamainya dalam membina rumah tangga satu dekade ini.

Mingyu terobsesi pada suaminya, seseorang yang saat ini terengah-engah di bawahnya, kewalahan dihujani cinta dalam bentuk seks hebat darinya. Masalahnya, Mingyu rasa sebesar apapun cinta yang dia berikan, dia akan selalu ingin memberikan yang lebih-lebih-dan lebih melampaui jumlah terbesar yang dapat dikasih.

“Makasih Wonwoo udah jadi suami aku. Makasih sayang.” Dikecupnya lembut pelipis Wonwoo yang banjir keringat. Pada satu hentakan yang dalam, tumpah meruah sudah cairan cinta kepunyaannya di dalam Wonwoo. Bersamaan dengan milik Wonwoo yang lagi-lagi menyembur tak tentu arah.

Keduanya terengah-engah, saling berebut oksigen yang sebenarnya terlalu tipis untuk keduanya. 

Mingyu memperhatikan rupa cantik suaminya yang sangat samar terlihat. Cantik dan basah karena keringat dan air mata yang baru Mingyu sadari keberadaannya.

“Kamu nangis?”

Air mata itu mengalir lagi membasahi pipinya. Mingyu dibuat panik setengah mati.

“Kenapa, Nu? Ada yang sakit? Aku terlalu kasar tadi mainnya?”

Wonwoo menggeleng cepat. “No no no, enggak.” Ditangkupnya wajah cintanya, mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja. “Aku cuma overwhelmed sama cinta dari kamu.. kamu tau aku nggak punya siapa-siapa lagi selain kalian, aku ngerasa nggak pantes aja dicintai segini besarnya.”

“Wonwoo, sayang, jangan ngomong gitu ah. Justru aku yang makasih kamu selalu ada di samping aku.” Dikecupnya jejak-jejak air mata pada pipi Wonwoo lembut.

“Tuh kan.. kamu tuh kenapa lembut banget ke aku gini? Aku mau nangis lagi nih.”

Mingyu tertawa. “Kalau kamu nangis lagi aku cium lagi air mata kamu sampai kamu berhenti nangis.”

“Mingyu.. i love you.” Lirihnya ucapan Wonwoo dibalas kecupan-kecupan kecil pada seluruh sudut wajahnya.

I love you more, Nu.”

Merasakan hawa dingin mulai kembali menerpa tubuh polos mereka, Mingyu bangkit membersihkan kekacauan yang mereka timbulkan dalam tenda sempit ini juga pada tubuh cantik suaminya yang kotor di mana-mana. 

“Agak bau pandan ya, Min,” ucap Wonwoo sesaat setelah merebahkan kepalanya pada lengan kekar suaminya.

“Mau pindah ke tenda anak-anak, nggak?”

“Ya kali sempit-sempitan, udah di sini aja nggak papa.”

“Nggak papa biar anget.”

“Nggak usah, di sini aja.”

Mingyu tidak mendengarkan. Dari pada tidur suami tersayangnya itu tidak nyenyak karena indra penciumannya terusik, dia menggendong Wonwoo berjalan ke tenda anak-anak. Wonwoo yang tenaganya nyaris habis itu hanya bisa pasrah mengikuti kemauan suaminya.

“Chan, Sol, Papa mau tidur bareng kalian ya,” ucap Mingyu sesaat setelah Chan membuka tirai tenda. Ternyata kedua anaknya itu belum tidur, kebetulan sekali. “Dingin kalau cuma berdua, enakan juga berempat bisa saling peluk.” Mingyu meringis senang, tidak merasa perlu menunggu persetujuan penghuni tenda, dua laki-laki itu masuk dan seketika tenda kecil itu terasa semakin sempit.

“Ih, papa jadi sempit banget.” Chan mengeluh. Tubuhnya kini dihimpit tubuh besar Wonwoo di sisi kirinya dan Hansol di sisi kanannya.

“Kan jadi anget, Chan,” jawab Wonwoo menempelkan badannya ke badan besar Mingyu.

“Ya papa mah anget pelukan gitu.”

“Kamu pelukan juga sama Hansol dong.”

Chan melirik ke arah Hansol yang sudah memejamkan matanya, entah memang secepat itu dia terlelap atau murni menghindar agar tidak dipeluk Chan.

“Ogah.”

Mingyu terkekeh geli sebelum memejamkan matanya dengan tangannya mengusap-usap tubuh Wonwoo dalam pelukannya. 

Tidak ada yang mengatakannya secara gamblang, tapi malam ini adalah malam paling berkesan bagi Wonwoo, Mingyu, Hansol, dan Chan. Malam yang mereka diam-diam harapkan terjadi tak hanya sekali, tapi berkali kali. Tak hanya sementara, tapi seumur hidup mereka. 

 

Notes:

Semoga Mingyu dan Wonwoo asli juga menjalani malam-malam yang hangat bersama. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali. Tak hanya sementara, tapi seumur hidup mereka.