Chapter Text
Memang, rasanya sangat hangat pulang di rumah, makan masakan buatan Ibu yang rasanya seribu kali lebih enak daripada makanan warteg depan kantor yang biasa dia makan untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Atau enaknya tiduran di kamar tanpa harus mikirin kerjaan setidaknya untuk jangka waktu selama liburan, Jaehyun sangat senang akan segala hal tentang rumah.
Atau sekedar menghabiskan waktu bersama orangtuanya. Kadang ada beberapa hal kecil yang Jaehyun gemari, seperti melupakan masa dewasa dan kembali ke masa kecil.
“Abang, tolong beliin garem di warung sebelah!”
“Bang, pegangin senternya! Papa mau benerin mobil!”
“Bang, galonnya habis!”
Sebagai anak tunggal di rumah, Jaehyun selalu diandalkan, dan salah satunya ya gini. Lagian gapapa kok, Jaehyun juga selalu nurut kalau di suruh-suruh.
Selain mengingatkannya pada masa kecil, ada kesenangan sendiri kok Jaehyun bisa ke warung, atau tempat tertentu sekitaran rumah yang mengingatkannya pada memori saat ia masih sekolah.
“Bangg, tolong beliin makanan Mongi ke Pet Shop depan komplek!” Panggil Sang Ibu dari dapur.
Nah, apalagi kalau kayak gini. Jaehyun paling senang.
Sebuah Pet Shop yang baru pindah cabang di depan kompleknya itu memang tidak membuatnya bernostalgia, tapi ada perasaan yang jauh lebih dari itu.
Pet Shop itu tidak hanya menyediakan segala macam keperluan hewan peliharaan, tapi juga perwujudan malaikat yang mengundang nafsu.
Seorang karyawan bernama Leehan merupakan alasan Jaehyun senang mendatangi Pet Shop itu. Leehan orangnya ramah, yang membuatnya dapat mengenal Jaehyun dengan baik. Toh, Leehan sendiri yang mengundang Jaehyun untuk sering mampir buat menemaninya bekerja selama shift nya, karena karyawan yang satu shift, Woonhak hanya bekerja paruh waktu, jadi Leehan lebih sering kerja sendiri.
Bahkan ada seminggu dimana ia membeli dari snack sampai mainan yang sebenernya gak perlu-perlu banget buat Mongi, anjingnya. Cuma biar dia ada alasan ke pet shop di jam shift Leehan.
Ya, mau gimana lagi? Lagian seru kok ke Pet shop itu, ngeliatin Leehan, ngobrol sama Leehan, merhatiin Leehan, bikin Leehan ketawa, oh atau favorit Jaehyun.. Minta tolong ambilin barang atau makanan di bagian rak bawah, tapi bukan paling bawah. Jadi Leehan ngambilnya harus membungkuk, kalau bisa mintanya barang paling belakang, biar sampe nungging, yang mantap dijadiin bayangannya buat masturbasi malam nanti.
Iya, Jaehyun bukan sekedar suka sama kepribadiannya Leehan yang mudah bergaul dan manis, tapi juga tubuhnya yang selalu bikin dia neguk ludah tiap ngeliatnya.
Leehan itu laki-laki tulen, Jaehyun bisa tahu dari dadanya yang rata, suaranya yang berat, atau jakun di lehernya yang ikut naik-turun kalau Leehan tertawa. Tapi tubuhnya tinggi, kurus, pinggangnya juga kecil, rambutnya dibiarkan memanjang sampai bahu, feminim banget, sebelas duabelas sama model porno favoritnya.
Dan tentu saja, favorit Jaehyun, bagian belakang Leehan.yang menggoda. Gak terlalu besar, gak terlalu kecil, selera Jaehyun banget.
Makanya saat sampai, Jaehyun mengernyit heran saat ia hanya menemukan Woonhak di meja kasir, dan bukan pujaan hatinya.
Tahu intensi Jaehyun, Woonhak langsung berkata “Kak Leehan di atas.” bahkan tanpa melihat ke arah Jaehyun.
Jaehyun langsung tertawa sambil menepuk bahu Woonhak yang masih sibuk dengan game di ponselnya, “ Thanks, semangat kerjanya ya dek.”
“Lu suka sama Kak Leehan ya, bang?”
“Emang kenapa, dek?” Jaehyun mencubit pipi Woonhak gemas, dipikir bocah SMA itu cuma ingin menggodanya.
“Kak Leehan udah punya cowok, tau.” Senyum Jaehyun langsung hilang seketika, yang bener aja?
“Lucu lu, dek.”
“Lah beneran, Kak Leehan ada janji date sama pacarnya, makanya aku disuruh cover shift dia lebih lama. Orangnya aja udah gak pake apron, liat sendiri ke atas.”
Menaiki tangga, ada rasa panas di dada Jaehyun.
Leehan udah punya cowok? Yang bener aja! Selama ini sifat manisnya ke Jaehyun buat apa?
Emang sih kecantikan kayak Leehan itu cuma lahir seribu tahun sekali, Jaehyun pasti tahu yang suka Leehan pasti banyak, tapi kan cuma Jaehyun yang boleh punya!
Tangga itu membawa Jaehyun pada ruangan kaca berisi puluhan aquarium yang ditinggali ikan-ikan hias. Pet Shop ini juga menjual ikan hias, tapi memang jarang yang beli. Tapi Jaehyun sudah mengenal Leehan dengan baik sehingga tahu ini tempat favoritnya.
Leehan suka banget sama ikan. Ada kebiasaan lucu tapi aneh Leehan kalo dia lagi kosong dan gak ada pelanggan, dia bakal ke lantai dua buat ngeliatin ikan-ikan itu berenang.
Tuh kan, Jaehyun tahu banyak tentang Leehan. Pacarnya bisa gak kayak gini?
Woonhak gak salah, karena begitu Jaehyun masuk ke ruangan itu, Leehan yang biasa memakai apron dengan logo pet shop di depannya kini hanya memakai kemeja putih yang bahkan dua kancingnya dibuka, celananya pakai skinny jeans hitam yang ngetat banget nyetak pantatnya.
Bahkan Jaehyun bisa lihat Leehan sudah merias wajahnya, rambutnya yang biasa digerai kini diikat setengah rapih dengan menyisakan beberapa helai di wajahnya.
Leehan cantik, benar-benar cantik.
Tapi pemikiran bahwa ia terlihat secantik ini untuk menemui lelaki lain membuat Jaehyun kesal.
Jaehyun menutup pintu kaca ruangan itu, menguncinya dengan kunci yang masih tergantung di pintu.
Leehan yang menyadari presensi Jaehyun masih tersenyum penuh sapa seperti biasanya, ia membuka mulutnya, namun suaranya samar didengar.
Karena ruangan itu tertutup dan dipenuhi aquarium dengan mesin filter yang banyak, jadi seolah kedap suara, dan Jaehyun harus berdiri di sebelah Leehan untuk mendengar sisa kalimat yang diucapkannya.
“--Sayang deh, aku hari ini ada janji jadi izin pulang duluan, Mas.”
Oh iya.
Leehan itu setahun lebih muda dari Jaehyun, jadi ia selalu memanggilnya ‘Mas Jaehyun’. Jaehyun biasanya kurang suka dipanggil dengan honorifik daerah yang bukan asalnya, ia lebih memilih dipanggil dengan panggilan biasa seperti Woonhak memanggilnya ‘Abang’.
Tapi ya, kalo Leehan yang manggil gak apa-apa. Jaehyun malah jadi sange ngedengernya.
Nyatanya meski sudah bersebelahan, Jaehyun hanya diam melihat wajah Leehan dari dekat. Ia juga sadar kok, Leehan mulai ngerasa gak nyaman karena emang biasanya Jaehyun terus ngomong, bukan diem aja kayak sekarang.
“Kenapa Mas–”
“Kamu udah punya pacar, Leehan?”
Leehan sedikit tersentak mendengarnya, ada sedikit keraguan karena nada bicara Jaehyun tidak seperti biasanya, tapi mungkin sedang bercanda, jadi Leehan terkekeh mendengarnya.
Anjing.
Jaehyun bisa lihat pipi lelaki cantik itu merona dengan pertanyaannya, tawa kecil dan pandangannya beralih ke bawah.
Gak usah dijawab juga udah tau, kalo Leehan emang beneran punya pacar.
“Tahu dari Woonhak ya, Mas?” Leehan masih salah tingkah, tidak langsung menjawab pertanyaannya. Jaehyun hanya semakin geram menyadarinya.
Jaehyun menggenggam lengan Leehan, yang membuat lebih muda terkejut dan langsung memandangnya. Pasalnya, tangannya tidak hanya sekedar memegang lengannya, tapi mencengkramnya dengan kuat.
“Kenapa sih, Han?” Insting Leehan mulai mengatakan ada yang tidak beres saat pandangannya bertemu netra Jaehyun yang tajam.
“..Maksudnya, Mas?”
“Kenapa gak sama aku aja?”
Bener-bener gak beres.
Kepala Leehan udah yakin ini ada yang salah! Lari sekarang! Tapi raganya membeku. Yang bisa ia kerahkan adalah mencoba kembali menarik lengannya. Tentu saja sia-sia, karena tenaga Jaehyun lebih kuat dibanding dirinya.
Menyadari mangsanya yang pengen kabur, Jaehyun kembali menarik Leehan ke pojok ruangan. Mau melawan sekeras apapun, Leehan ujungnya tetap terbawa.
“Mas.. Sakit, lepasin..” Rintih lelaki cantik itu tidak digubris oleh Jaehyun. Ada satu meja yang tidak diisi aquarium namun hanya keperluan ikan. Jaehyun menarik tubuh Leehan, menyandarkannya pada ujung meja.
Leehan yang awalnya mau kembali merintih kesakitan akibat pinggangnya yang menabrak ujung meja, langsung didiamkan dengan bibir Jaehyun.
Jaehyun mencium bibir Leehan yang sudah di poles dengan lip tint.
Yang awalnya cuma menempel, tidak sabar lidahnya juga menjilat, menggigit bibir Leehan hingga membuka mulutnya.
Anjing, Jaehyun sumpahin siapapun cowok Leehan buat mati, karena bisa nikmatin mulut yang semanis ini.
Dengan sisa tenaganya, Leehan berhasil mendorong tubuh Jaehyun. Dengan mata membelalak, ia menghapus liur yang ada di mulutnya.
Penuh deru nafas ia berkata, “Mas, jangan.. Ini salah..”
Tentu saja, gak ada efeknya bagi Jaehyun. Yang lebih tua kembali mengikis jarak diantara mereka sambil menahan tubuhnya.
Leehan masih tetap berusaha untuk memberontak, bibirnya ia tutup rapat, dan tangannya mencoba mendorong, memukul Jaehyun.
Jaehyun makin sebal, ujung matanya menangkap sebuah gunting tajam di atas meja. Tanpa pikir panjang, ia langsung menjambak rambut Leehan, membuatnya mendongak menyodorkan gunting itu ke leher Leehan.
“Lu mau nurut atau gue tusuk lehernya?”
Mendengar itu, Leehan kembali membeku. Raut wajahnya pucat penuh ketakutan.
Jaehyun mau ngakak ngeliatnya, lucu banget.
“Diem.” Perintahnya lagi, sebelum merobek kemeja Leehan asal.
Ah, begini ternyata isi apron sialan itu.
Tubuh Leehan tanpa kain nyatanya jauh lebih indah. Benar-benar mulus, putih, dan langsing. Melihatnya secara langsung mengalahkan kualitas video porno manapun yang Jaehyun tonton.
Ia langsung menghisap tonjolan di dada Leehan, yang langsung terdengar teriakan
“ AAHH! Sakit! Mas! Jangan!” Air mata mulai mengucur dari netra Leehan. Rasanya aneh, ia belum pernah merasakan friksi seperti ini di dadanya, dan dengan mulut Jaehyun yang menyedotnya kasar, rasanya sakit.
Hisap, Jaehyun terus hisap pentil Leehan, meski tahu gak bakal ada susu yang keluar, tapi tubuhnya Leehan emang enak banget. Ditambah tangisan Leehan yang semakin menjadi bagai musik di telinganya.
Gak cuma pentil yang ia hisap, tapi tulang selangka Leehan yang bikin dia ngaceng dari awal Jaehyun jilat dan gigit sampai kemerahan.
“Mas! Sakit! Jangan! Tolong!” Leehan masih mencoba mendorong Jaehyun. Merasa terganggu, sebuah tamparan jatuh di pipinya. “Diem, anjing!” Perih langsung terasa di wajah Leehan, tanpa suara, ia kembali menangis.
“Leehan, sumpah ya.. Sebenernya gue gak mau lukain muka secantik ini..” Leehan bergidik ngeri melihat Jaehyun masih tersenyum mengatakan itu. Ia merasakan sebuah kecupan di pipinya yang merah sebelah.
“ Aku gak segan buat ngelukain kamu, Leehan. Nurut atau aku bunuh kamu.” Bisik Jaehyun lalu menggigit daun telinga Leehan.
Jaehyun melepas sabuk yang mengikat celananya, dengan ingatan yang ia pelajari dari film-film porno yang ditonton setiap malam, Jaehyun mengikat kedua tangan Leehan dengan sabuknya.
Cium udah, nyicipin tetenya udah, sekarang tentu saja yang di tunggu-tunggu.
Meski tahu udah gak bisa ngelawan, Leehan masih nangis minta tolong Jaehyun yang mulai ngebuka celananya buat berhenti, dengan harapan Jaehyun bakal menaruh simpati padanya— tentu saja, gak digubris.
Jaehyun terdiam saat yang ia temukan bukan celana dalam pria, tapi celana dalam perempuan berwarna biru terang yang tengahnya menjadi gelap karena basah.
Jangan jangan…
“Anjing, Leehan. Lu punya memek?”
Leehan hanya terdiam, mukanya menatap ke samping penuh malu.
Jaehyun semakin terbahak saat ia membuka dalaman itu, benar aja! Vagina Leehan yang mulus tanpa bulu, mengeluarkan sedikit cairan yang mengotori dalamannya. Jaehyun kira bentukan kayak gini cuma ada di video bokep doang!
“Gue kira titit lu emang kecil soalnya gak pernah keliatan nonjol, taunya lu punya memek, udah basah lagi.”
Leehan semakin menangis mendengar ejekan Jaehyun seolah penuh hina.
Kalo mulutnya Leehan aja udah enak, apalagi memeknya! Jaehyun langsung berjongkok demi bisa melihat pemandangannya secara langsung.
Ia mencoba membuka lipatan daging merah muda itu, Leehan beneran basah banget.
“Dari tadi minta berhenti nyatanya basah juga, lonte.” Yang disebut cuma bisa terisak sambil menggeleng.
Saat dimasukin satu jari, terdengar suara tertahan dari Leehan, dan gila! Jari Jaehyun berasa dijepit, sempit banget.
Bingo! Leehan masih perawan!
“Leehan, Leehan.. Buat apa punya cowok kalo gak bisa ngenakin?” Ujar Jaehyun sambil mainin itil Leehan dengan jarinya,
“Mas.. Jaehyun..
Ngh.. Jangan..
”
“Yah, dibikin enak sama gue aja ya?”
Detik selanjutnya, Leehan semakin menjerit dengan Jaehyun yang nusuk-nusuk lubangnya, sesekali mengucek labianya, makin basah dibuatnya.
Suara Leehan yang biasanya berat, ternyata bisa menjerit tinggi kayak suara perempuan, nangis-nangis nyebut nama Jaehyun sambil mohon-mohon.
Kaki Leehan mulai gemetar disaat mulut Jaehyun juga ikut memberikan friksi kepada kelaminnya, dijilat, sambil jarinya terus mengucek.
Sampai tiba-tiba, ada sensasi aneh di perut bawahnya, seperti mau buang air kecil. Ia kembali memberontak, dengan tangannya yang terikat, ia menjambak rambut Jaehyun, mencoba menariknya.
“M-Mas Jaehyun.. ngh..hiks … Udah.. Aku mau pipis…”
Bukannya berhenti, Jaehyun malah semakin mempercepat gerakannya, ngelamotin Leehan sampai kelojotan.
“M-mas.. AHH!”
Punggung Leehan membusung, kakinya bergetar, dan akhirnya, sebuah cairan bening muncrat dengan deras, bagai keran bocor, membasahi wajah dan baju Jaehyun. Jaehyun tersenyum dengan bangga, apalagi pas ngeliat muka Leehan yang baru sekali squirt langsung teler.
Jaehyun berdiri, menyingkirkan segala macam barang yang ada di atas meja, membalikkan tubuh Leehan yang masih lemes dan tremor pasca orgasme biar bisa nungging. Baru aja Jaehyun mau buka celananya sebelum mendengar nada dering ponsel di tengah ruangan.
Meninggalkan Leehan yang setengah sadar, ia menghampiri sumber suara dan menemukan ponsel Leehan yang tergeletak di lantai depan aquarium mereka bertemu sebelumnya.
Taesan 🤍 is calling…
“Pacar kamu namanya Taesan?” Jaehyun mengambil ponselnya. Mendengar nama itu, Leehan langsung kembali menegang, “M-Mas–”
Saat Jaehyun kembali ada di belakangnya, ia melempar ponsel Leehan di atas meja. Ia menarik ikatan rambut Leehan yang sudah mulai berantakan hingga ia kembali mendongak,
“Jawab teleponnya. Batalin janjinya.” Leehan hanya terdiam sebelum kembali melenguh karena pipinya kembali ditampar. “Ngerti, gak?!” Teriak Jaehyun, yang dibawah kuasanya hanya bisa menggangguk pasrah.
Dipencet tombol hijau dan dinyalakan speaker. Yang langsung dijawab oleh suara yang bikin Leehan makin pengen nangis.
“Halo, sayang? Aku lagi di jalan mau jemput kamu, tapi ban aku kena paku sumpah.. Bengkelnya rame, kayaknya bakal agak lama deh, kamu nunggu gapapa?”
“Taes– Ahh! ” Leehan reflek menutup mulutnya. Gimana enggak? Masa tiba-tiba Jaehyun kembali masukin jari ke vaginanya yang masih sensitif.
“Sayang? Halo?”
Jaehyun menempelkan tubuhnya pada Leehan, berbisik di telinganya sambil jarinya terus mengocok dibawah sana. “Jawab.”
“ Hngh.. Taesan.. A-aku kayaknya. . Ahh.. Gak.. bisa ikut…” Leehan mencoba menahan tubuhnya yang masih gemetar.
Terdengar nada terkejut di panggilan itu,
“Kenapa? Kok tiba-tiba banget? Bukannya kamu yang pengen jalan?”
Leehan memejamkan matanya sambil menangis, rasanya ia lebih baik dikubur hidup-hidup daripada seperti ini. Sebuah gigitan yang terasa di punggungnya seolah kembali menyadarkan Leehan kalau ini bukan sekedar mimpi buruk, namun sesuatu yang sangat nyata.
“A-aku… Sakit.. mmh ..”
Terdengar Jaehyun yang tersenyum remeh di belakangnya, Jaehyun gak menduga Leehan ternyata nurut juga.
“Are you okay? Gapapa deh kalo begitu, nanti abis aku ganti ban aku ke kosan kamu ya? Biar ditemenin.”
“Janga-M-mas ! — Hmphh!” Teriakan Leehan tertahan oleh tangan Jaehyun yang menutup mulutnya, jarinya bergerak semakin kencang dibawah sana.
“Kamu suaranya emang serak banget.. Get well soon yaa, I love you.”
Leehan kembali menangis sebelum panggilan itu dimatikan oleh pihak satunya. Jaehyun melepaskan tangannya dari mulut Leehan, membiarkannya terisak sementara ia kembali mengambil ponsel Leehan.
Dibukanya menu kamera, lalu ia pencet tombol merah dengan kamera depan. Leehan melihat pantulannya dalam ponselnya yang jelas merekam itu semua. “ Say hi , cantik.” Yang disebut membuang mukanya,
Merasa sebal, Jaehyun menampar memek Leehan, yang langsung membuatnya menjerit dan kakinya tersentak.
“Ayo liat sini, nanti videonya dikirim ke Taesan buat ngabarin kalo pacar cantiknya lagi jadi lonte.” Leehan lagi-lagi menggeleng keras sambil terisak.
“ Hiks.. Udah Mas.. Udah… Ampun.. Sakit…” Aduh dengernya malah bikin Jaehyun makin sange.
Gak butuh waktu lama sebelum Leehan kembali menjerit lemah, badannya kelojotan dan cairan bening deras mengotori ubin lantai dan pakaian Leehan yang sudah tergeletak.
Jaehyun langsung menangkap tubuh lemas Leehan yang mau jatuh. Tangan satunya masih memegang ponsel Leehan. “Aduh, gimana nih, Taesan? Cowok lu keenakan sampe teler nih sama gue. Sekalian gue entotin aja ya?”
Pada titik ini, Leehan hanya pasrah saat tubuhnya dibawa bersandar ke aquarium sebelahnya. Jaehyun membuka celana dan dalamannya dengan tidak sabar, membebaskan kontolnya yang udah tegang dari awal. Cukup dengan ludah, ia langsung memasukkannya ke lubang Leehan yang udah banjir.
Leehan melenguh, sementara Jaehyun mendesah keenakan.
“Gila, anjing.. Ahh enak banget…” Memang betul Jaehyun gak perlu pake pelumas, memek Leehan yang udah bucat dua kali udah bener-bener banjir dan bikin pergerakannya mulus. Leehan beneran masih perawan, pasalnya penis Jaehyun rasanya dijepit, beneran sempit banget.
Jaehyun mengarahkan ponsel yang masih merekam itu untuk membalikan kameranya, ia merekam kelamin mereka yang menyatu, dan punggung Leehan yang nungging bersandar pada aquarium.
“Kim Leehan, perek murahan, ngentot diliatin ikan-ikan.” Ucap Jaehyun pada kamera, Leehan mengangkat kepalanya, ia baru menyadarinya. Ia benar-benar telanjang, disetubuhi di depan ikan-ikan kecil yang menatapnya.
Cairan bening kembali mengucur dari vaginanya, “Tuh kan, dibilang gitu malah makin basah, emang dasar lonte.” Jaehyun menampar pantatnya.
Akhirnya, Jaehyun mencoba menggerakan miliknya, awalnya perlahan, menikmati tiap sensasi yang ada. Pantat yang biasanya cuma ada di imajinasi mesumnya kini beneran ada di depan matanya.
Hingga Jaehyun mulai bergerak kencang tanpa ampun, mengejar kenikmatannya sendiri. Suara parau Leehan masih saja berteriak, mendesah, tapi bedanya, ia cuma bisa menyebut nama Jaehyun.
“ Ah! Ahhnggh! Ah! Mas Jaehyunhh!”
“Anjinggh! Enak banget, Leehan..”
Kayaknya Jaehyun kelamaan ngerekam bagian belakang, ia pengen ngeliat raut wajah apa yang dibuat si cantik. Jadi kembali ditekannya icon kamera depan, dan muka yang dibuat Leehan bener-bener bikin Jaehyun pengen langsung muncrat.
Leehan matanya sayu, air matanya masih mengalir, mulutnya menganga untuk mendesah, sampe ngiler!
“Tuh, keenakan sampe bloon. Iya gak, lonte?”
Leehan hanya mengangguk lemas sambil mendesah. Jaehyun lalu semakin mempercepat gerakannya, membuat helaian rambut gondrong Leehan yang berantakan berayun, kontolnya ia masukan semakin dalam, hingga..
“Ahh! Mas Jaehyun!” Leehan kembali menjerit.
Bingo! Jaehyun nemu titik enaknya Leehan.
“Sesuai janji, gue bikin enak ya? Jauh lebih enak daripada pacar lo.” Jaehyun berkata di telinga Leehan, Leehan lagi-lagi hanya mengangguk lemas.
Disitu, Jaehyun terus merojok titik dalam lubang itu terus-terusan, dengan cepat, bikin Leehan semakin geter. “ Ah! Ahhh! Ennhak.. Mas Jaehyun… ”
Sampai badan Leehan lagi-lagi menegang, dan bucat untuk ketiga kalinya! Bahkan gak cuma cairan putih yang keluar, tapi juga cairan kekuningan dengan bau pesing.
Jaehyun kembali tertawa mengejek, “Goblok, Taesan liat nih, pacar lo saking keenakannya sampe pipis beneran.” Ia mengarahkan kameranya semakin dekat pada muka Leehan yang beneran udah kacau, matanya bahkan udah juling keenakan.
Jaehyun kembali menyodok kelamin yang lebih muda, mengabaikan tubuh Leehan yang masih saja bergetar.
“Kalo gitu kerja jadi lonte aja ya? Mau? Jadi lonte gua?” Leehan mengangguk lagi, “L-lonte Mas Jaehyunhhghh…”
Seketika, sperma Jaehyun mengisi lubang kawin Leehan, meluber saking banyaknya.
Jaehyun mengarahkan kameranya kembali menjadi kamera belakang, mengabadikan vagina Leehan yang terisi penuh.
“Karyawan Pet Shop perek, udah dihamilin, nih.” Ucap Jaehyun sebelum mematikan kameranya.
Tubuh Leehan bersandar lemas pada aquarium di atas kotorannya sendiri, ia memandang Jaehyun yang kembali memakai celananya. Lalu ia memegang tangan Leehan untuk membuka ponselnya lewat fingerprint.
Leehan cuma bisa pasrah, entah apa yang dilakukan Jaehyun, ia benar-benar tidak berdaya.
Jaehyun mengembalikan ponselnya pada Leehan sambil tersenyum, “Udah dikirim ke nomor gue, ya. Makasih oleh-olehnyaa, cantik.” Ia mengecup pipi Leehan sebelum kembali berbisik, “ Kalo ada yang tahu, videonya gue sebar, gak cuma ke Taesan.”
Saat Jaehyun turun dari lantai dua, ia baru ingat akan kehadiran Woonhak. Aduh mati deh.
Tapi ketegangan itu langsung hilang saat ia melihat Woonhak terlelap di meja kasir dengan ponselnya yang masih menyala, menampilkan video youtube yang sudah tidak ditonton lagi.
Memang hari ini mungkin hari keberuntungan Jaehyun.
