Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-10-28
Words:
1,004
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
38
Bookmarks:
1
Hits:
472

Afterglow

Summary:

"Kamu nggak ada niatan buat ketemu perempuan lain kan?"

"Hah? Mana mungkin aku kepikiran begitu. Jangan mengada-ada." Ia mengernyitkan keningnya, tak percaya dugaan yang keluar dari mulut istrinya.

Notes:

Akhir-akhir ini lagi suka lagu dengerin Afterglow by Taylor Swift jadi pengen coba nulis Gojohime inspired by it. It's my first fiction, hope y'all enjoy it! :D

Work Text:

Tiupan angin di luar cukup untuk menyebabkan hawa dingin di dalam rumah. Jarum pada jam dinding sudah menunjuk pada angka sebelas, tetapi Utahime masih duduk berpangku tangan di sofa ruang tamu. Ia masih menunggu eksistensi Satoru yang sedari siang berpamitan untuk menyelesaikan pekerjaan dan berlanjut bertemu teman-temannya.

Tak lama setelahnya, Utahime refleks berdiri saat ia mendengar suara mobil terparkir di halaman depan. Buru-buru ia membuka pintu yang terkunci itu. Terpampang jelas sosok Satoru dengan kemeja yang bagian lengannya tergulung setengah, dan senyum ia berikan kepada Utahime. Tetapi Utahime merespon dengan ekspresi yang berbeda, ia tunjukkan ekspresi yang sedikit terkejut, heran, dan ketakutan. Setelahnya, embusan napas kelegaan Utahime keluarkan.

"Astaga, lama banget. Kamu dari mana dan ngapain aja?"

"Pas kerjaan udah selesai, Suguru, Kento, sama Yuu ngajak meet up. Tadi billiard lumayan lama."

"Sekarang jam berapa, Satoru?" Utahime mengerling.

Satoru menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tangannya yang ingin meraih pipi Utahime ditepis seketika.

"Maaf ya, Hime, aku jadi lupa waktu."

"Kamu nggak ada niatan buat ketemu perempuan lain kan?"

"Hah? Mana mungkin aku kepikiran begitu. Jangan mengada-ada." Ia mengernyitkan keningnya, tak percaya dugaan yang keluar dari mulut istrinya.

Utahime hanya menatapnya sebentar kemudian berlalu ke dalam rumah terlebih dahulu. Setelah mengunci pintu, Satoru membuntutinya masuk ke dalam kamar.

Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Satoru menuju ke ranjang mereka. Terdapat Utahime yang menutup mata dan memposisikan diri memunggunginya. Satoru sadar kesalahan yang telah ia lakukan, oleh karena itu ia tidak bisa berkutik. Selanjutnya, mereka berdua benar-benar terlelap.

Pagi yang tidak seperti biasanya. Tidak ada pelukan dan ciuman yang menyambutnya. Setelah membuka mata, Satoru sadar bahwa tidak ada Utahime di sebelahnya. Mungkin perempuan itu sudah berada di ruangan lain yang ada di rumah ini.

Benar saja, mata Satoru mendapati keberadaan Utahime yang sedang menata makanan di atas meja makan. Lebih pagi daripada akhir pekan biasanya. Utahime menatapnya setelah merasakan keberadaan Satoru.

"Sebelum makan cuci muka, mandi, sikat gigi dulu." Utahime berkata lalu melanjutkan kegiatannya tanpa berekspresi.

"Hmm, iya." Satoru menjawab sambil menguap lalu ia berjalan santai ke arah kamar mandi.

Setelah melakukan ritual bersih-bersihnya, Satoru mendudukkan dirinya di atas kursi meja makan. Utahime menunggunya untuk sarapan bersama, tetapi tetap saja keheningan yang tidak biasa mengelilingi ruangan tersebut. Yang terdengar hanya suara alat makan yang ditimbulkan Satoru. Tidak ada suara obrolan yang saling mereka lontarkan pada waktu makan. Satoru hanya beberapa kali menatap Utahime dengan perasaan ragu. Kemudian ia berdeham ketika tatapannya tertangkap oleh Utahime.

Utahime menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu, setalah meletakkan piring di wastafel ia berjalan menuju ruang tengah tanpa mengatakan sepatah katapun.

Tidak lama kemudian, Satoru menyusulnya yang sedang menikmati pertandingan baseball kesukaannya di layar televisi. Satoru sengaja memberikan jarak yang lumayan di antara tempat mereka duduk.

Dengan sedikit keraguan, Utahime mulai bergeser untuk mendekati Satoru yang sedang asik bermain game di handphone nya. Sadar akan keberadaan Utahime yang ada di sampingnya, ia pun menoleh dan refleks meletakkan handphone tersebut di atas meja. Ia menatap Utahime yang sedang menunduk sambil menggigit bibirnya.

"Hime? Kenapa? Kamu butuh bantuan?" Satoru sedikit menelangkan kepalanya.

Kemudian yang ditanya mengangkat kepalanya. Ia mulai berbicara dengan mata yang berkaca-kaca,

"I'm sorry for last night, I hurt you. I didn't mean that. Aku minta maaf, kemarin gara-gara khawatir berlebihan aku jadi panik terus marah-marah ke kamu. Aku takut kamu kecelakaan. Nggak tau kenapa aku punya pikiran kalau kamu bakal ketemu perempuan lain, I don't know why I just felt insecure." Utahime menghela napasnya.

Setelah Utahime menyelesaikan kalimat yang sejak semalam membelenggu hatinya, Satoru langsung memeluk tubuhnya. Tangan kanan Satoru mengusap lembut kepalanya, dan tangan kiri berada di pinggangnya.

"Hushh, no, no. You don't need to sorry. It's okay. I know what you felt last night. Semalam aku salah, aku lupa waktu sampai lupa kabarin kamu. Seharusnya aku bilang dari awal kalau mau di luar lebih lama. Maaf ya, aku selalu bikin kamu khawatir. It's okay, it wasn't your fault at all, Sayang. We should communicate more with each other."

Utahime terisak karena perkataannya. Tubuhnya bergetar. Satoru semakin mengeratkan pelukannya. Utahime bersyukur ia bisa selalu merasakan kehangatan dari Satoru, pria yang tak pernah lelah untuk memahaminya. Ia pun makin mempererat pelukannya.

"Huhuhu Sat...Why are you always such a gentleman? I love you, maaf selalu ngerepotin kamu, Sayang." Utahime mendongak untuk melihat dua biru lautnya.

"I love you more, Sayangku." Satoru mengecup bibir dan keningnya. Satoru melanjutkan kalimatnya sambil mengangkat jari kelingkingnya, "Janji, kita lebih banyak komunikasi ya selanjutnya? Kabarin satu sama lain, biar nggak ada yang khawatir."

Utahime menangkap kelingking Satoru menggunakan kelingking tangannya, "Pinky promise."

Senyuman merekah di kedua wajah mereka. Utahime meraih leher Satoru dengan kedua lengannya. Satoru membawa Utahime ke pangkuannya, ia memposisikan diri mereka agar lebih nyaman. Satoru merebahkan kepalanya di atas lengan sofa, Utahime pun berbaring di atas tubuh Satoru. Setelah beberapa saat dalam keheningan dan hanya terdengar napas satu sama lain, mereka melanjutkan obrolan acak yang selalu menjadi kegiatan mereka. Satoru menceritakan keseruan semalam bersama teman-temannya.

"Kemarin kan si Yuu udah dikalahin dua kali kan ya sama si Kento, tapi dia sebel terus akhirnya maksa tanding lagi sama Kento. Akhirnya dia tiga kali kalah." Ia menggeleng di akhir kalimat.

"Terus gimana? Masih lanjut itu mereka berdua?" Utahime menanggapi dengan antusias.

"Ya enggak dong, akhirnya si Yuu malah ngasih stick dia ke Suguru. Akhirnya jadi Kento lawan Suguru."

Utahime tertawa menanggapi ucapannya. Setelah itu ia bertanya sambil menatap biru lautnya, "Makan siang nanti kamu mau makan apa?"

"Apa ya? Terserah deh apa aja, masakan Hime selalu the best" ia mengangkat ibu jarinya dan tersenyum.

"Ih, Sat serius..." Utahime memukul pelan lengannya.

"Loh, iya serius banget ini nggak bohong. Tapi nanti malam dinner nya di luar aja yuk, mau nggak? Sekalian jalan-jalan kita."

"Serius? Mau, mau, ayo nanti pergi." Ucap Utahime dengan penuh semangat.

Satoru mengusap lembut kepalanya, ia selalu merasa gemas dengan ekspresi senang yang Utahime tunjukkan. Mereka melanjutkan menontonnya pertandingan yang belum selesai dan kembali berpelukan. Rengkuhan satu sama lain menjadi tempat yang paling aman dan nyaman untuk mereka. Satoru dan Utahime selalu berdoa, semoga selama-lamanya kebahagiaan menjadi milik mereka berdua. Selalu.

.
.
.

Terima kasih sudah membaca!