Actions

Work Header

Interupsi

Summary:

Shinobu dan suaminya, si Tapioka, numpang di rumah Sanemi gara-gara plafon rumah mereka bocor. Masalahnya, Sanemi udah biasa cium-cium istrinya di seluruh ruangan rumah.

Notes:

porsi narasi dari ff sanekana di twt:

https://x.com/lenackerr/status/1828434675779674517?t=Cknfn3E9sXRdlOlJ9I_11w&s=19

Chapter Text

Menurut Kanae, salah satu alasan kenapa dirinya dan Sanemi sangat cocok adalah karena Sanemi suka mendominasi, dan Kanae suka didominasi. Bukan hanya di ranjang, selama berteman dengan Sanemi sejak SMA, Dia suka berada dekat Sanemi karena dia tidak perlu mikir lagi, semua pasti sudah diurus dan beres.

Mungkin karena Kanae anak pertama, jadinya capek juga harus mengurus segala hal. Bahkan gestur-gestur seperti Sanemi yang meletakkan tangannya yang besar dan hangat di punggung Kanae untuk mengarahkan ketika berjalan, mengatakan “Sini,” sambil menunjuk tempat di sebelahnya, memegang tangan ketika naik-turun tempat yang agak tinggi, check in pesawat atau hotel, pesan makanan dan bayar di restoran, memastikan semua orang sudah makan, dan hal-hal lain yang biasa Kanae lakukan untuk adik-adiknya.

Kanae ingat, pertama kali menyadari perasaannya kepada Sanemi karena suatu hari dia mengancing ujung lengan Kanae sambil sedikit menggerutu. Lubang kancingnya belum tergunting sempurna, jadi agak susah untuk memasukkan kancing. Mereka berdiri berhadapan dengan sangat dekat, kalau Kanae memajukan kepala sedikit akan menyentuh dagu Sanemi yang sedang melihat ke bawah. Rasanya cukup intim, dan berhasil membuat Kanae salting brutal (Sanemi biasa saja).

Setiap pagi, ketika Kanae menyiapkan sarapan dan bekal untuk makan siang mereka, suaminya pasti akan memeluknya dari belakang. Mengendus belakang lehernya, memberikan kecupan-kecupan kecil dari pundak, ke leher, lalu pipi. Sementara itu tangannya menelusuri pinggang, perlahan menyelipkan jari di antara celana dan kaos, lalu bergerak ke atas untuk menggerayangi seluruh badannya.

Makanya Kanae selalu mulai memasak agak awal dan memasak dengan api kecil, karena kalau apinya besar takut gosong. Agak sulit untuk fokus ketika tangan suaminya yang agak kasar sedang menelusuri lekuk tubuhnya. Biasanya, karena waktu mereka terbatas dan harus segera bersiap kerja, mereka berhenti sampai situ saja.

Tapi pagi ini, Sanemi menarik istrinya yang sedang menata kotak bekal, lalu memagut bibirnya sambil mendesak Kanae di dinding dapur. Tangannya menangkup kepala Kanae, jarinya bertaut dengan akar rambut istrinya menariknya perlahan dan mengirimkan sensasi ke sekujur tubuh Kanae. Mulutnya menyesap lembut bibir bawah wanita itu, lalu bergerak menghisap ujung lidahnya. Mulut Sanemi rasa mint dari odol. Hangat, enak. Bukan ciuman panas penuh nafsu, bukan juga ciuman lembut buru-buru. Kanae merasakan Sanemi menarik pinggulnya mendekat, membuat dia merasakan keras badan sang suami. Wanita itu mengeratkan pelukannya pada leher sanemi, merasakan ujung rambutnya yang basah setelah mandi, dengan wangi shampoo yang khas.

Lalu—

Currrr

Suara…air?

Sanemi menarik kepalanya menjauh, menoleh begitu cepat sampai Kanae takut lehernya akan patah atau kecetit. Di ujung lain dapur, Giyu dengan menghadap ke arah dispenser, mengambil air minum. Entah sejak kapan dia disana.

“WOI,” Sanemi melepas pelukannya, berteriak kesal. “NGAPA LU DISINI?”

“Ambil minum,” ujar Giyu datar, “ga liat apa apa kok”

Yah, mereka juga kalau ciuman santai tidak berisik kok. Jadi tidak begitu memalukan.

“NUNGGU BENTAR APA SALAHNYA?? GA TAU MALU—“

Sanemi terus marah-marah dan mengabsen berbagai anggota kingdom animalia, sedangkan Kanae berusaha menahan tawa melihat wajah Giyu yang plonga-plongo. Entah kenapa dia selalu kelihatan bingung kalau bicara dengan Sanemi.

Kanae menyusuri pundak sang suami, memijat pelan. Merasakan pundaknya yang awalnya tegang sedikit rileks.

“Udah sayang, kan ga liat katanya. Namanya juga orang haus.” Giyu mantuk mantuk. “Udah Giyu, kamu kalo mau pergi gapapa.” Dia dari tadi kelihatan pengin ngacir.

Mencium pundak Sanemi, Kanae berbisik, “Sana siap-siap, Sayang. Hari ini apel, kan?”

Sanemi memutar badan, masih cemberut. “Apa kita santet aja tukang di rumah Shinobu biar mereka kerasukan jin dan kerjanya cepet selesai?” Kanae terbahak-bahak.