Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-07-30
Words:
1,417
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
70
Bookmarks:
3
Hits:
1,917

Jealousy

Summary:

Ada yang berbeda. Dorongan pinggul Yeonjun terasa lebih lembut. Tidak mengenai bokongnya dengan keras.

“Lemes banget, capek lu?” Yeonjun tidak habis pikir kekasihnya masih bisa mencibirnya seperti ini.

“Kaya tadi, dong. Apa harus gue buat marah lagi lu?”

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“Lo kan sukanya nempel sana-sini.”

Oh, yang itu cukup menyakitkan.

Soobin menggeleng saat Yeonjun menarik rambutnya satu genggam penuh. Tidak terlalu kasar namun berhasil menghasilkan satu erangan lolos dari dua belah bibirnya. Soobin sudah cukup tersudut saat ini. Tubuh bagian depannya menempel di permukaan meja yang cukup berantakan. Barang-barang yang tadi ada diatasnya digeser begitu saja, terjatuh berhamburan di lantai saat Yeonjun mendorong Soobin untuk membungkuk diatasnya. Walaupun postur dan tinggi tubuh Soobin lebih tinggi dan lebih bidang dari Yeonjun, kekasihnya itu masih dapat terlihat menakutkan untuknya pada waktu-waktu tertentu.

“Harus pakai cara kaya gini ya,” Soobin merasakan kedua tangan Yeonjun meremas pinggangnya. Menarik miliknya keluar sebelum mendorongnya kembali masuk memenuhi lubang analnya cukup kasar. “Biar lo ngerti?”

Soobin tidak bisa bisa menceritakan dengan rinci karena semuanya terjadi terlalu cepat, yang jelas Yeonjun tiba-tiba saja datang ke rumahnya yang cukup sepi (kedua orang tuanya sedang bertugas keluar kota), bertanya apakah benar bahwa Soobin pulang diantar oleh salah satu kawan satu organisasi yang sama dan sedang gencar mendekatinya. Soobin menjawab iya namun belum sempat Soobin menjelaskan, badannya sudah disudutkan begitu saja, tidak bisa bergerak lebih karena terhimpit meja dan tubuh kekasihnya yang menjulang. Yeonjun tampak tidak senang. Kemudian Yeonjun menciumnya. Tiba-tiba. Soobin memang memperbolehkan Yeonjun untuk menciumnya setelah keduanya resmi berpacaran, begitu juga dengan Yeonjun yang memperbolehkan Soobin untuk mencium sesukanya.

“Gue nggak suka lo deket-deket sama tuh orang,” ucap Yeonjun tepat di sisi telinga Soobin yang memerah. Menggerakan pinggulnya dengan ritme konstan. Menyukai bagaimana penisnya tenggelam di anal Soobin. Kekasihnya itu hanya melenguh. Ruangan itu hanya terisi suara dua kulit yang saling bertubrukan, deru nafas yang saling bersahutan, serta erangan Yeonjun tiap kali Soobin mengetatkan lubangnya. Memijat penisnya dengan nikmat.

Soobin mendesah keras saat ujung penis Yeonjun mengenai prostatnya. Diam-diam menyukai bagaimana Yeonjun yang memperlakukannya dengan sedikit kasar akibat rasa cemburunya. Tiap-tiap hentakan kasar pinggul Yeonjun mengirim ledakan kembang api yang menyenangkan di otaknya. Penisnya yang sedari tadi tidak diperhatikan semakin menegang diantara kedua kakinya. Sesekali bergesekan dengan permukaan meja tiap kali Yeonjun menghentakkan pinggulnya, membuat tubuhnya ikut terdorong kedepan. Precum meleleh di ujung penisnya. Mengenai permukaan meja juga mengenai kaos yang dipakainya.

Yeonjun mengerti dan paham bagaimana watak kekasihnya. Walaupun jika dilihat dari luar, Soobin tampak enggan berinteraksi dengan orang lain, sebenarnya laki-laki itu supel dan cukup mudah berbaur jika dirinya ingin. Soobin adalah orang yang menyenangkan ketika kamu mengenalnya lebih dekat. Mudah sekali tertawa. Gemar memberikan pertolongan pada siapapun yang membutuhkan. Ramah—Yeonjun merasa bahwa kekasihnya bahkan terlalu ramah. Sifat-sifat yang baru tampak setelah berteman dengan Soobin menjadi daya tarik lebih untuk Soobin. Banyak yang menyukainya. Tidak terkecuali dengan teman-teman organisasi kampusnya.

Walaupun Yeonjun tidak tergabung dalam organisasi yang sama (Soobin bergabung dengan Himpunan Mahasiswa, sedangkan Yeonjun lebih tertarik untuk berpartisipasi dalam UKM Mahasiswa Pecinta Alam), Yeonjun kerap kali mengunjungi sekretariat himpunan mahasiswa. Menunggu Soobin selesai dengan urusannya. Bahkan Yeonjun akrab dengan beberapa anggota organisasi lainnya. Kerap ikut menghabiskan satu batang rokok dengan anggota lain yang berjaga di luar saat Soobin belum selesai dengan proses mewawancarai calon anggota baru. Mustahil jika teman-teman satu organisasi Soobin tidak mengenalnya. Mustahil juga tidak mengetahui hubungan keduanya.

Namun tidak dengan satu anggota himpunan mahasiswa ini.. Ponsel Yeonjun mati total kehabisan baterai saat dirinya sibuk rapat untuk membahas rencana untuk pendakian ke Gunung Rinjani. Soobin juga ada agenda rapat untuk membahas acara pelantikan anggota baru. Hari sudah cukup sore. Nyaris gelap, bahkan. Kampus tidak menghendaki kegiatan organisasi lebih dari pukul enam sore. Langit sudah memuntahkan airnya dengan deras. Hujan mengguyur disertai angin sebagian wilayah kota. Yeonjun tidak bisa dihubungi dan sekretariat mulai sepi karena rapat sudah dibubarkan. Mahasiswa ini keukeuh untuk mengantar Soobin pulang. Tidak ingin Soobin luntang-lantung di sekretariat sendirian. Ditambah fakta bahwa Soobin berangkat ke kampus dengan Yeonjun menggunakan motor. Pasti akan kehujanan.

Ditawarkan (dengan ditambah sedikit paksaan) untuk diantarkan pulang menggunakan mobil, Soobin sulit menolaknya. Ini adalah salah satu sifat yang ingin Yeonjun hilangkan dari kekasihnya. People pleaser. Kak Adit, orang yang masih setia di sekretariat saat itu mengiyakan. Berjanji bahwa akan memberi tahu Yeonjun apabila ia datang ke sekretariat untuk menjemput Soobin bahwa kekasihnya sudah pulang terlebih dahulu.

Namun Soobin lupa bagaimana teman yang mengantarkannya ke rumah ini memperlihatkan perasaannya secara terang-terangan padanya dan bagaimana Yeonjun sangat tidak menyukainya. Soobin berusaha meraih penisnya yang tidak tersentuh olehnya maupun Yeonjun. Tapi tentu saja Yeonjun mencegahnya. Digenggamnya kedua pergelangan Soobin dengan satu tangan. Menahannya di punggung Soobin yang makin menempel di permukaan meja. Dengan pinggul yang masih terus bergerak mengeluar masukkan penisnya kedalam anal Soobin sesekali mempercepat geraknya kemudian mengubah ritme menjadi sangat pelan, Yeonjun mengerti bahwa kekasihnya frustasi.

“Angh—” Hentakan pinggul Yeonjun semakin cepat dan kasar. Nafas Soobin putus-putus. “Yeonjun—Yeonjun!”

Satu hentakan tepat mengenai prostatnya, Soobin pasti keluar. Namun tidak. “No,” Yeonjun malah menarik penisnya. Hingga ujungnya yang menempel di permukaan lubang anal Soobin yang tampak kosong. Tampak kehilangan. “Bilang dulu kalau lo nggak bakal deket-deket sama temen organisasi yang tadi nganter lo pulang,” titah Yeonjun. “Then I'll let you cum.”

Soobin mengangguk susah payah. Sebenarnya tidak menyukai Yeonjun menunda ejakulasinya seperti ini. Namun Soobin mengerti bahwa ia salah. Ia tahu bahwa kekasihnya tidak menyukai teman yang dikabarkan memiliki perasaan lebih padanya. Jika dengan menuruti Yeonjun dapat memaafkan kesalahannya, Soobin akan menurut. “Enggak,” Soobin mendongak sedikit, ditolehkannya kepala untuk menatap Yeonjun yang menatap lurus ke arahnya. “Gak deket-deket lagi.”

Lalu Yeonjun mendekat dengan senyum di wajahnya. Mengecup ujung bibirnya. "That's it." Satu tangannya yang sedari tadi mengunci pergelangan tangannya terlepas. Mengusap rambut gelap kekasihnya yang bagian bawahnya basah oleh keringat. Mengelusnya dengan sayang. "Good boy."

Soobin mengerang. Penisnya berkedut menyakitkan. Kekasihnya itu malah memujinya. Tidak sabar, Soobin menggerakkan pinggulnya. Mencoba kembali memasukkan penis kekasihnya kedalam analnya dan bergerak untuk sama-sama mencapai puncaknya. “Cepetan, anjing!” Yeonjun tertawa melihat kekasihnya yang tidak sabar. Maka, dielusnya puncak kepala sang kekasih sekali lagi sebelum kedua tangannya kembali melingkupi pinggang kekasihnya. Kembali mendorong penisnya masuk memenuhi anal Soobin. Keduanya mendesah panjang.

Ada yang berbeda. Dorongan pinggul Yeonjun terasa lebih lembut. Tidak mengenai bokongnya dengan keras. “Lemes banget, capek lu?” Yeonjun tidak habis pikir kekasihnya masih bisa mencibirnya seperti ini. “Kaya tadi, dong. Apa harus gue buat marah lagi lu?”

Maka Yeonjun memenuhi permintaan tersirat kekasihnya itu. Kembali menaikan tempo gerak pinggulnya. Menggenjot Soobin dengan lebih cepat dan kasar. Soobin mendesah kencang. Repetitif. Tidak tinggal diam, tangan Yeonjun menggapai penis Soobin yang semakin tegak dan memerah. Carian pre-ejakulasi sudah meleleh di ujung penis besarnya itu. Hentakan-demi hentakan membawa Soobin menjemput pelepasan pertamanya yang sempat tertunda. Spermanya keluar banyak. Mengotori meja, beju, serta jemari Yeonjun yang bantu mengocok penis kekasihnya, mengeluarkan cairan ejakulasi hingga selesai.

Soobin masih merasa seperti diatas awan, namun ia teringat sesuatu. “Lo belum?"

Yeonjun menggeleng. “Ini mau.”

“Bu—” belum Soobin menyelesaikan ucapannya, Yeonjun sudah kembali bergerak. Memompa penisnya didalam lubang anal Soobin yang sesekali mengencang, memijat penisnya. Menghasilkan satu erangan lolos dari belah bibir Yeonjun.

“S-soobin—” Yeonjun mendesah. Gerak pinggulnya menjadi tidak teratur dan semakin cepat. Mengejar pelepasannya yang sudah dekat. “Soobin—ah!”

Soobin merasakan hangat di dalam tubuhnya, juga Yeonjun yang langsung limbung di atas punggungnya. Bajunya lengket. Menempel pada tubuhnya yang berkeringat. Selama beberapa saat, keduanya diam dalam posisi yang sama. Hingga Yeonjun sudah dapat kembali menguasai dirinya, menarik penisnya keluar. Membuat sperma meleleh keluar dari lubang anal kekasihnya. Turun mengotori paha.

Soobin merasakan sakit di badannya saat menegakkan tubuh. Terutama pada bagian pinggang ke bawah karena pegal. He bent his back on top of his desk for a while because his boyfriend fucked him out of jealousy. Soobin merunduk, menatap Yeonjun yang sudah kembali mengenakan celananya, kini berlutut di hadapannya dengan beberapa lembar tissue ditangan. Soobin tidak tahu darimana kekasihnya mendapatkan tissue tersebut. Laki-laki yang lebih muda membiarkan Yeonjun membersihkan lelehan sperma yang mengotori pahanya sebelum kembali menaikkan celana Soobin dengan benar.

Masih belum beranjak dari posisi berlututnya, Yeonjun mendongak untuk menatap kekasihnya dengan sayang. “Gue bersihin, yuk.” Soobin melihat kekasihnya yang kini memutar badan. Tidak lagi menghadapnya. “Sini, naik. Piggyback ride.”

Soobin tertawa. Mulai melingkarkan tangannya di sekitar leher sang kekasih. Kedua tangan Yeonjun menyelip di sisi tubuh dengan kakinya. Mengunci Soobin agar lebih dekat dan tidak terjatuh ke belakang. Yeonjun mulai berdiri dan melangkah menuju kamar mandi yang letaknya diluar kamar tidur Soobin. Soobin meletakkan dagunya di pundak kekasih. Berbisik pelan dengan suara yang serak. “Jadi lo kalau cemburu kaya gini.”

Yeonjun tertawa. “Tapi lo suka, kan?”

Soobin menaikkan kedua bahunya bersamaan. Tidak mau secara gamblang menyatakan bahwa ia menyukainya. Ada senyum malu yang terlukis di wajah kemerahannya. Membuat Yeonjun menolehkan sedikit kepalanya karena kekasihnya tidak memberi respon secara verbal. 

Soobin mengangguk. "Suka."

Notes:

ummm hiiii [shy] i need to hide somewhere. this is my first yeonbin work here.