Actions

Work Header

a tremendous play

Summary:

dari dalam bangunan tua yang terbengkalai dan tidak pernah didatangi siapa pun, soobin menikmati sebuah pertunjukan maha dahsyat di setiap akhir pekan. berminggu-minggu ia menjadi penonton setia, hingga suatu hari, saat kesempatan menyapanya, mampukah ia mengambil peran dan menjadi pelakon utama?

Notes:

DISCLAIMER: soobin, yeonjun, dan beomgyu adalah anggota dari grup kpop tomorrow x together di bawah naungan bighit music. cerita ini hanyalah fiksi dan penulis sama sekali tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apapun selain ketenangan batin penulis. also, this is my first successful attempt writing a threesome. i don't really call this as a poly relationship, but i do believe you can feel their feelings (as i tag: porn with feelings).

 

i wrote these sexual scenes EXPLICITLY. please, please, please be mindful. if you're an underage, just click the page away. you won't be missing out just because you didnt read this.

 

happy reading, all!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“For us, everything was a performance.” A small, private smile catches me off guard and I glance down, hoping he won't see it. “Everything poetic.”

— M.L. Rio, If We Were Villains

 

a tremendous play

ⓒ moiraine

 

Pertama kali langkah kaki Soobin menginjak sekolah barunya, matanya langsung tertuju pada sebuah bangunan tua yang terletak di area paling belakang. Dari gerbang depan, bangunan itu memang tidak begitu kentara karena tertutup oleh bangunan lainnya. Namun, ketika sudah menaiki tangga dan bisa melihat seluruh area sekolah dengan lebih lapang, ia bisa melihat bangunan kecil yang menjorok itu. Struktur bangunannya kuno dengan tembok yang dibangun dari material serupa batu bata, tampak janggal jika dibandingkan dengan bangunan lain yang dibuat lebih modern. Ia tidak tahu banyak mengenai sejarah sekolah barunya—ia bahkan tidak tahu kalau harus pindah sekolah sebelum pamannya mengabarkan itu tiga hari setelah acara pemakaman. Setelah ayahnya juga meninggal, Soobin diasuh penuh oleh satu-satunya keluarga yang tersisa, yaitu paman dari pihak ibunya. Seorang laki-laki kaku berusia sekitar empat puluh tahun yang tidak suka banyak bicara. 

Soobin tidak mempermasalahkan hal tersebut karena ia juga bukan tipikal anak yang senang berbicara. Ia suka berbicara dengan ibunya dulu, tapi wanita itu tiba-tiba saja meninggal. Serangan jantung? Sampai sekarang Soobin tidak pernah tahu kebenarannya. Setelah kepergian ibunya, ayahnya berubah menjadi pasif dan mungkin lupa jika masih memiliki darah daging yang tinggal di rumahnya. Kerjanya tiap hari hanya mabuk dan mengurung diri di kamar. Soobin dituntut belajar bertahan hidup sendirian semenjak usia muda.

Kembali lagi ke bangunan tua dan kuno yang menarik perhatiannya itu, Soobin tak bisa lepaskan pandangan. Matanya berkali-kali melirik ke jendela saat pamannya sedang berbicara dengan guru yang akan menjadi wali kelasnya. Ia amati lebih cermat. Dari lantai tiga tempatnya berada, bangunan itu terlihat semakin mencolok. Kumuh, dengan tumpukan daun dari pohon besar dan rindang di sisi belakang. Soobin melihat ada sebaris jendela panjang dengan beberapa sekat di sisi kanan. Jendela itu tampak lebar dan mungkin bisa mencakup keseluruhan area di dalam. Kalau nanti ada waktu, Soobin ingin pergi melihat-lihat.

Sayangnya, ia tidak bisa menuntaskan rasa penasarannya secepat itu. Pindah pada semester genap di kelas sebelas membuatnya harus membuktikan ia layak mengejar ketinggalan. Apalagi wali kelasnya adalah seorang yang begitu peduli dengan kesejahteraan anak didiknya. Ia begitu aktif memberikan pelajaran serta konseling tambahan agar Soobin bisa lebih cepat beradaptasi.

Beberapa minggu ia bersekolah, tak sekali pun Soobin dengar teman-teman sekelasnya membicarakan bangunan tersebut. Pun demikian dengan kegiatan belajar-mengajar. Bangunan tua itu berdiri kokoh meski tidak digunakan. Sekali waktu, ia pernah bertanya pada Taehyun—murid yang duduk di meja depan.

“Oh. Gedung itu udah lama ada di area sekolah ini. Gak ada yang tahu pasti kapan berdirinya. Gosipnya bilang gedung itu dulu semacam tempat pembantaian waktu perang berlangsung.”

Alis Soobin mengernyit. “Gak pernah dihancurin?”

Taehyun menggeleng. “Kayaknya karena masih bisa dimanfaatin. Waktu sekolah ini pertama dibangun beberapa puluh tahun lalu, ada rekam jejaknya gedung itu dipake buat jadi semacam aula pertunjukan untuk tiap pentas seni yang diadakan. Pernah juga dipake jadi sarana olahraga. Sepuluh tahun lalu, area sekolah ini dipugar total. Sejak itu, gedungnya gak pernah dipakai lagi. Gue juga bingung kenapa gak ikut dihancurin,” Taehyun diam sejenak, seperti sedang menimbang perkataannya. “Kalo sekarang emang udah gak pernah dipake lagi dan dijadiin gudang.” 

Soobin mengangguk kecil. Taehyun kembali melanjutkan dengan topik lain seputar trivia lain mengenai sekolah barunya itu. Dalam hati, Soobin sebenarnya berterima kasih. Lelaki itu tak pernah bosan mengajak Soobin bicara dan juga tidak akan tersinggung jika Soobin tidak membalas obrolannya dengan antusias. Mereka bisa lakukan pembicaraan satu arah tanpa ada yang merasa terluka. 

Saat istirahat kedua, Soobin menyempatkan diri melihat-lihat gedung itu. Mulanya, Soobin hanya ingin melihat-lihat seperti tujuan awal. Ia pikir rasa tertariknya akan hilang kalau sudah melihat dari jarak dekat. Namun, ia malah semakin penasaran.

Dari depan, bangunan ini tampak sungguh dianaktirikan, semak dan rumput liar tumbuh menjulang. Lumut dan jamur juga memenuhi sisi yang tak cukup terkena cahaya. Mungkin karena letaknya yang sungguh di pojok, pihak sekolah tidak lagi peduli mengurus kebersihan tempat ini. Soobin dorong pagar karatan yang sudah ringkih akibat terlalu sering menahan tiup angin. Dirinya melongok ke dalam, tentu saja tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Soobin susuri area yang penuh dengan semak belukar hingga tiba di pintu utama. Tentu saja ia tak bisa buka. Terpasang rantai dan juga gembok besi pada grendelnya. Masih tidak puas, Soobin coba mengitar. Di sanalah terletak jendela panjang bersekat yang ia lihat di hari pertamanya bersekolah.

Soobin coba mengintip. Dan benar saja, ia bisa melihat keseluruhan dari bangunan persegi panjang tersebut kalau saja penerangan di dalam cukup memadai. Karena letak jendela tepat menghadap sinar matahari, ia jadi masih bisa melihat bagian ini dengan jelas. Di dalamnya, terdapat beberapa tumpukan kursi, meja, dan berbagai macam barang lainnya. Samar-samar, ia bisa melihat tumpukan matras dan bola bekas. Juga tumpukan kain warna-warni dengan berbagai bentuk, mungkin peralatan kesenian yang sudah lama.

Do you think it was haunted?” tanyanya pada Taehyun keesokan hari. Taehyun yang sedang mengeluh betapa membosankannya jam pelajaran mandiri menatap heran.

“Bangunan tua itu?”

Soobin mengangguk. Ia memainkan pulpen di tangannya. “Lo pernah mikir gak sih, gedung itu bisa banget dijadiin tempat persembunyian yang tepat kalau lo lagi pengen bolos. Udah beberapa kali gue ke sana dan tempat itu gak pernah dikelilingin sama security. Yang paling penting, di sana gak ada kamera CCTV kayak di kantin atau atap sekolah.”

Taehyun mengangguk. “Gedung itu emang tempat favorit buat anak-anak bolos jam pelajaran. Seenggaknya dulu sebelum ada rumor beredar.”

“Rumor apa?” kali ini Soobin menanggapi dengan antusias.

“Yang kayak lo bilang tadi,” bisik Taehyun sambil mendekat. “Rumor hantu.”

 

***

 

Berdasarkan cerita Taehyun, rumor tersebut bermula sekitar setahun yang lalu. Dua orang siswi kelas dua belas yang ingin bolos pelajaran olahraga berbohong bahwa mereka sedang menstruasi. Alih-alih beristirahat di UKS, ia dan temannya pergi ke gedung tua tersebut. Mereka membawa rokok dan juga makanan ringan yang berhasil mereka selundupkan, bermaksud untuk membolos hingga jam pelajaran olahraga selesai. Karena jam selanjutnya adalah jam pelajaran mandiri, mereka memutuskan untuk kembali ke kelas jika sudah waktunya pulang. 

Saat itulah mereka melihatnya; dua makhluk seram, hitam, dan berbayang dengan tawa menggema di penjuru ruangan. Mereka segera kabur tanpa sempat membereskan bekas rokok dan bungkus makanan. Keduanya mendapat hukuman skors selama dua hari. Tidak ada yang percaya cerita mereka. Beberapa minggu berikutnya, kejadian kembali terulang. Kali ini, anak kelas sepuluh yang mengalami. Ia adalah penyuka genre horor dan kejadian mistis. Ketika cerita murid kelas dua belas kemarin ramai dibicarakan seantero sekolah, ia ingin buktikan kebenarannya. Berbekal kamera film dan juga tripod, ia siap menghadapi hantu tersebut. Setelah hari itu, ia tidak masuk sampai dua minggu lamanya. Rumor mengatakan ia kesurupan hingga tak mau kembali ke sekolah. 

Menurut cerita Taehyun, pihak sekolah akhirnya mengunci pintu gedung tua itu setelah tiga orang siswa menjadi korban selanjutnya. Rumor semakin merebak. Ada yang bilang itu adalah hantu para tahanan perang yang mati di sana. Ada juga yang mengatakan itu adalah hantu para siswa yang mati karena tersambar petir beberapa puluh tahun lalu saat pertunjukan seni berlangsung. Taehyun bilang, rumor yang beredar jadi semakin aneh hingga ia tak lagi peduli. Puncaknya, tak ada seorang pun yang berani menginjakkan kaki di sana, bahkan para penjaga dan petugas kebersihan juga menghindar karena takut kena karma.

Ketika Taehyun mendapati Soobin masih sering diam-diam pergi ke bangunan tua, ia menggeleng-geleng heran.

“Emang bener ya. Peraturan itu ada sejatinya untuk dilanggar.”

Soobin tersenyum simpul. “Bukan peraturan tertulis, ‘kan?” komentarnya asal. Taehyun kembali menggeleng dan akhirnya pergi bersama Hueningkai, anak kelas sebelah yang juga adalah sahabat masa kecilnya. Mereka awalnya mengajak Soobin untuk pergi makan siang di kantin, tapi Soobin menolak. 

Alasannya sudah pasti, ia memilih habiskan istirahat pertama dan keduanya di area gedung kosong itu. 

Tidak ada alasan khusus. Ia hanya lebih senang menghabiskan sekotak susu dan roti yang sudah dibelinya tadi saat istirahat pertama. Suasana di gedung tua itu sangat tenang. Meski berantakan dengan semak belukar, Soobin cukup nyaman duduk di bawah pohon yang rindang. Tidak pernah ada maksud untuk mengganggu dan menantang kehadiran mistis yang melingkupi bangunan tua ini. Mungkin karena itu juga, waktu tenang yang ia habiskan di sini tidak pernah mengundang kejadian janggal. 

Hingga suatu hari ketika cuaca sedikit buruk dan angin bertiup sangat kencang, matanya menangkap sesuatu yang tak biasa. Di sebelah jendela yang berbaris panjang, ia melihat sebuah pintu yang belum pernah dilihatnya terbuka sebagian. Penasaran, Soobin lantas menghampiri. Pintu tersebut hanya berukuran setengah dari tinggi badannya. Di hadapannya terdapat tumpukan kursi dan meja yang sepertinya berfungsi untuk menutupi keberadaan pintu tersebut. Soobin paham, pintu yang sudah pasti berusia puluhan atau bahkan mungkin ratusan tahun ini sudah tua sehingga tidak lagi berfungsi dengan baik. Ia butuh pemberat untuk menutup. Namun tampaknya, hari ini tumpukan meja serta kursi tidak diletakkan dengan tepat sehingga tersisa sedikit ruang di antara keduanya. Pintu tersebut jadi semakin terbuka ditambah deru angin yang kencang. 

Ia coba masuk ke dalam. Sambil merangkak, Soobin sedikit tahan napas untuk hindari debu dan bau apek yang tiba-tiba menyergap. Namun anehnya, suasana di dalam tidak selembap yang ia kira. Ia masih bisa bernapas dengan baik dan celana di bagian lututnya juga tidak terlalu kotor. Soobin amati sekitar.

Bagian ini adalah sisi yang tidak terkena cahaya dari jendela. Memang sedikit lebih gelap, tapi bukan berarti tidak bisa melihat sama sekali. Area ini seperti bagian tengah yang lapang di antara empat sudut yang terisi dengan penuh barang. Ada meja kecil dan beberapa tumpuk bantal di sebelahnya. Ketika Soobin coba menghampiri, kakinya seperti tersandung sesuatu dan hampir saja jatuh terjengkang. Begitu ia amati lebih cermat, ternyata ia tadi keserimpet ujung karpet.

Karpet, meja kecil, tumpuk bantal yang sudah pasti bebas dari debu dan lembap jamur, serta lampu kecil yang kabelnya terhubung dengan stop kontak di salah satu ujung tembok. Soobin yakin ini adalah tempat persembunyian.

Yang disembunyikan dari banyak orang, pikirnya.

Berhari-hari Soobin menunggu tiap jam istirahat pertama dan kedua untuk menangkap basah pelakunya, tapi hasilnya nihil. Gedung tua itu tetap kosong dan tak berpenghuni. Hingga pada akhirnya, Soobin bosan sendiri. Ia tak lagi mencari pelaku yang menggunakan gedung tua ini sebagai tempat persembunyian dan fokus menikmatinya sendiri. Soobin memilih sisi yang menghadap jendela dan terkena sinar matahari. Setelah menyapunya bersih, Soobin ambil matras olahraga dari tumpukan paling atas dan menaruhnya di sana. Ia tak lagi berteduh di bawah pohon rindang. Lagipula, hujan sudah mulai sering datang. Kini ia tak perlu khawatir dirinya kebasahan.

“Menurut lo pelakunya masih ada di sekolah ini?” tanya Taehyun ketika Soobin ceritakan hasil temuannya. “Siapa tahu itu kerjaan para senior kelas dua belas, bikin rumor, nakut-nakutin semua yang pergi ke sana. Sekarang ‘kan mereka udah lulus, mungkin itu yang bikin lo gak pernah ketemu sama siapa-siapa di sana.”

Di sebuah akhir pekan, Soobin tak sengaja ketiduran. Hujan yang mengguyur sejak istirahat kedua membuatnya lelah dan tak lagi bisa menahan kantuk. Sebelumnya, Soobin sempat mengabari Taehyun bahwa ia tak bisa ikut kelas berikutnya karena malas menerjang hujan.

Lo neduh di sana aja dulu sampe ujan reda. Hari ini kelas kosong sampe jam pulang.  

Soobin kira ia sedang bermimpi tatkala suara tawa itu menggema penuhi ruangan. That’s beautiful, the laugh. Ia berusaha mengingat di mana ia pernah mendengar suara tawa tersebut. Ibunya pernah mengatakan, mimpi adalah kumpulan berbagai reaksi dalam otak yang muncul di saat kesadaran kita mencapai batas tertentu. Dan karena berasal dari dalam otak kita sendiri, sudah sewajarnya kita mengetahui apa dan siapa yang muncul ketika reaksi otak itu tercipta. Monster asing dan mengerikan yang muncul dalam mimpinya sewaktu kecil adalah manifestasi dari film kartun dan buku komik yang ia baca. 

Ketika tawa itu kembali terdengar, Soobin membuka mata, seketika sadar bahwa dirinya tak sedang bermimpi. Beberapa detik kemudian, terdengar tawa lain yang lebih renyah. Semakin awas, Soobin mendengarkan saksama. Ia bisa memastikan keduanya merupakan suara laki-laki. Didengarnya sekali lagi, barangkali mereka merupakan para petugas kebersihan. Barangkali, gedung tua terbengkalai ini akhirnya akan dibersihkan dan kembali aktif dijadikan sebagai bagian dari sekolah. Kalau sudah begitu ia harus segera keluar dari tempat persembunyian ini, ‘kan?

Saat hampir beranjak, di situlah Soobin teringat akan tempat persembunyian dan misinya menangkap basah pelaku pembuat rumor itu. Ketika Taehyun menduga bahwa mereka telah meninggalkan area sekolah, sejujurnya, Soobin tidak setuju. Mungkin ia harus mendengar dari jarak lebih dekat agar bisa menangkap obrolan mereka.

Kembali fokus mendengarkan, Soobin menangkap beberapa keganjilan. Pertama, suara-suara yang ia dengar sudah jelas bukan bertujuan untuk membersihkan tempat ini. Mereka sedang mengobrol santai. Obrolan mereka berputar pada hal-hal kecil, seperti mau makan malam apa nanti, haruskah salah satunya kembali bolos datang ke tempat les—yang mengundang tawa lembut itu muncul lagi seraya berkata emangnya kapan lo pernah datang?

Obrolan mereka terdengar seperti murid sekolah biasa. Dari cara mereka berbicara, Soobin menebak mereka adalah teman akrab. Tidak, lebih tepatnya sangat akrab. Bahkan kalau boleh jujur, Soobin tidak yakin akrab bisa menggambarkan kedekatan mereka lewat obrolan tersebut. Mereka sesekali bergurau karena perbedaan pendapat, saling melempar rajuk ketika perdebatan memuncak sengit, dan selebihnya, mereka tertawa. Lanjut mengobrol seperti biasa. Soobin tidak bisa berhenti mendengar keduanya.

Mereka terdengar lebih dari akrab. Mereka terasa intim.

Lalu yang kedua, hal paling ganjil yang membuatnya semakin penasaran dan memutuskan untuk bergerak mendekati asal suara, adalah suara aneh yang menyelingi obrolan mereka. Beberapa kali mereka terdiam. Soobin kira itu masih wajar. Namun, yang membuat bulu kuduknya meremang adalah timing acak dari hening dan kemunculan suara aneh tersebut. Mereka sedang berdebat mengenai lebih enak mana puding karamel di kantin sekolah atau di kafe yang baru kemarin didatangi ketika salah satunya—yang sedang sibuk menjabarkan beberapa alasan untuk buktikan pendapatnya—tiba-tiba saja berhenti bicara.

Bukan, bukan berhenti bicara. Lebih tepatnya, seperti dipaksa berhenti bicara. Soobin bisa dengar pekik kaget sebelum suara aneh tersebut muncul, disusul dengan pekik geram, lalu berakhir dengan pecah kedua tawa. Mereka lanjut berdiam diri tanpa menyelesaikan debat, dengan suara aneh yang kembali bermunculan. Kali ini lebih keras, disertai dengan sesuatu yang tiba-tiba menghantam kesadaran Soobin.

Ia bersembunyi di balik tumpukan kursi dan meja yang tersusun acak. Mengendap-endap, dirinya awas menatap dari salah satu celah yang menitik langsung pada sumber suara; pada tempat persembunyian dengan karpet yang tergelar rapi dan bantal tersusun di sana. Kali ini, lampu yang terhubung pada stop kontak di ujung sana menyala.

Soobin bisa melihat dua orang bersinggungan dan saling mendekap. Satu tangan di pinggang dan tangan lain di lekuk wajah. Mereka sedang berciuman, tampaknya melanjutkan debat yang tertunda tadi dengan cara berlomba-lomba saling mengeruk keuntungan. Soobin melihat lelaki di atas menyentak keras wajah yang sedang diciumi untuk kemudian ambil celah menghisap lidah lawannya tanpa ampun. Lelaki di bawahnya tentu saja mengerang protes, tapi tangannya malah semakin menarik pinggang yang ia dekap. Menihilkan jarak . Seragam putih yang tadinya rapi sudah berantakan sama seperti miliknya. Satu tangannya bergerilya di balik seragam tersebut, membuat lelaki yang masih bermain dengan bibirnya itu melenguh keras.

Mereka terengah-engah sementara Soobin mati-matian menahan napas di tempat persembunyian.

Ia tidak bisa bangkit dan lari kabur dikarenakan satu-satunya pintu menuju keluar berada tepat di dekat mereka. Ia harus melewati keduanya dan sudah pasti mereka akan menyadari Soobin sepelan apa pun ia melangkah. Soobin tidak ingin mengambil risiko. Namun, Soobin juga tidak bisa berhenti menonton apa yang mereka lakukan. Seperti ada magnet raksasa yang menarik kedua matanya untuk terbuka dan melihat dua lelaki itu berpagut mesra. Ia terduduk diam seperti sedang menonton sebuah pertunjukkan.

Dibantu penerangan yang sedikit remang, Soobin mengenali kedua pelakon tersebut. Dalam tiga bulan pertama di sekolah barunya, selain Taehyun dan Hueningkai, Soobin meminimalisir berbagai interaksi dengan teman-teman di sekolahnya. Namun, dua orang ini di luar pengecualian. Siapa yang tidak kenal dengan Choi Yeonjun, peringkat unggulan kebanggaan sekolah yang nama dan fotonya terpampang di depan pintu masuk, membuat Soobin mau tidak mau hapal dengan senyum jumawa miliknya. Choi Yeonjun adalah primadona di sekolah ini, setidaknya itu yang sering Taehyun katakan di sela-sela ceritanya.

“Yeonjun itu kayak punya sekte sendiri di sekolah ini. Dibanding orang-orang berebut untuk jadiin dia pacar, anak-anak di sekolah lebih seneng bergerombol memuji betapa ganteng, pinter, dan baik hatinya.”

Sementara yang satu lagi adalah Choi Beomgyu. Ia tidak terkenal lewat jalur prestasi apa pun. Alih-alih karena sesuatu yang membanggakan, Choi Beomgyu dikenal banyak orang karena sering berlaku onar. Siapa yang kerap kali dipanggil ke ruang guru karena tertangkap tidur di tengah ujian, mengakibatkan nilainya nol dan harus melakukan tes ulang. Siapa yang diisukan sering bertengkar dengan anak-anak sekolah lain hingga para guru pun menyerah menghukumnya. 

“Lo harus tahu,” cerita Taehyun suatu ketika. “Ada seorang murid yang gak bisa disentuh sama semua orang di sekolah ini. Mau dia ketangkep basah lagi mukulin anak orang atau ngerokok dan mabuk di kelas pun, dia gak bakal dikeluarin dari sekolah.”

“Choi Beomgyu,” Taehyun menunjuk dengan ujung dagunya ketika laki-laki itu lewat di hadapan mereka. “Anak bungsu dari pemilik yayasan. Lo mending hati-hati deh, jangan sampe berurusan sama dia,” nasihat Taehyun.

Kini, Soobin sedang menjerumuskan diri ke jurang dengan mengintip kedua murid paling terkenal di sekolah yang sedang berciuman.

Beomgyu menarik pinggang Yeonjun dan menghentaknya keras. Mengakibatkan posisi mereka berubah dan kini Beomgyu yang berada di atas. Mereka bertatapan cukup lama. Senyum Yeonjun masih sama menyebalkannya, alisnya naik menantang Beomgyu. 

“Berhenti mancing gue. Lo bilang hari ini les bahasa inggris lo jadi dimajuin setengah jam lebih awal.”

“Terus?” jawab Yeonjun setengah tertawa.

“Lo mau telat dateng ke sana?” Beomgyu bertanya dengan pelan dan serius. Yeonjun tidak menjawab, tapi Soobin pikir ia melihat tatap di mata Yeonjun melembut. 

“Lo jauh, jauh lebih fun dibandingkan apa pun,” jawabnya singkat sebelum mengecup Beomgyu lembut. Kembali merengkuh lekuk wajahnya. “I wouldn’t trade you with anything.

Beomgyu tertawa di sela kecup. “Bullshit. Lo kemaren ninggalin gue sendirian begitu tau tutor kesayangan lo yang ngajar.”

Yeonjun hanya bisa mengedikkan bahu, “Dalam sebulan, jadwal ngajar dia cuma dua kali. Dan lo tahu cara ngajar dia yang paling gue suka.”

“Kalo gue yang ngajarin lo gak suka?”

“Emang lo bisa ngajarin gue apa?” cibir Yeonjun membuat Beomgyu terdiam. Perlahan, tangannya bergerak ke arah seragam Yeonjun yang masih terkancing rapi. Ia buka dua kancing teratasnya, seringai membayang ketika Yeonjun menghela napas. Dasi yang masih tersimpul pun tak ia lupakan. Ditariknya simpul tersebut dengan keras. Beomgyu terlihat begitu menikmati Yeonjun yang tergagap kaget. Tubuhnya kelimpungan di bawah kuasanya.

I can teach you the meaning of …, pleasure?” Beomgyu merunduk, mengecup leher Yeonjun hingga ke tulang selangka. Ia berhenti cukup lama di sana. Soobin bisa melihat tangan Yeonjun yang berpindah di surai Beomgyu, sesekali membelai, sesekali menjambak, sesekali diam tak bergerak layaknya boneka kecil yang sedang dimainkan. 

Beomgyu buka lagi dua kancing kemeja milik Yeonjun. Melebarkan kemeja yang hampir terlucuti itu kalau saja satu kancing terakhir tidak berfungsi dengan baik. Soobin bisa melihat kedua puting Yeonjun sudah tegak berdiri, dan terus menegang seraya jemari Beomgyu yang memuntirnya tanpa ampun.

Yeonjun memekik keras, tapi Beomgyu tidak berhenti memuntir hingga pekikan itu berubah menjadi desah dan erang penuh nikmat. Mata Yeonjun terpejam. Kedua tangannya lunglai di sisi. Ia menggelinjang sebentar ketika Beomgyu ganti jemari tersebut dengan mulutnya sendiri. Napas Yeonjun kembali terengah. Sebentar-sebentar ia merintih sebut nama Beomgyu sementara lelaki tersebut masih menjajal miliknya. 

That’s it. That’s my Yeonjun. Lo harusnya gak ninggalin gue kemarin.” Beomgyu cium bibir Yeonjun mesra. “Nyesel gak ninggalin gue kemarin?”

You should tell me you’re gonna teach me this. Gue gak akan ninggalin lo demi tutor itu.”

“Oh gitu? Emang lo tuh harus dikasih tau dulu, ya? Gak bisa mikir sendiri? Di mana otak cemerlang yang lo bangga-banggain itu?”

“Emang gue tuh jadi bego kalo udah sama lo,” sahut Yeonjun asal, menerbitkan tawa mereka. Soobin terhanyut tiap kali mendengar tawa tersebut. Entah dorongan dari mana yang membuatnya ingin mengabadikan suara tawa tersebut. 

Junie, lo tau gak apalagi yang bisa gue ajarin ke lo?”

Yeonjun samar-samar tersenyum. Ia tampak mengantisipasi sesuatu. Soobin di tempat persembunyian mengatur napas dengan tidak nyaman. Batinnya percaya akan ada sesuatu yang lebih berbahaya dan tak seharusnya ia tonton diam-diam. 

“Apa?”

Beomgyu menggerayang pelan ujung selangkangan Yeonjun yang mulai menggunduk. Soobin lihat mata Beomgyu yang tak beralih sedikit pun. Keduanya seperti saling berlomba untuk tidak melepas tatapan. Hingga ketika Beomgyu mencengkram milik Yeonjun dari balik celana, barulah lelaki itu mengaku kalah. Dikatupkan matanya rapat-rapat sembari menikmati sensasi yang menjalar di seluruh tubuhnya. Kedua lututnya menutup cegah Beomgyu bertindak lebih jauh.

“Gue bisa ngajarin lo betapa hebatnya kerja pita suara.” Beomgyu buka kedua lutut itu lembut, mengelus kembali milik Yeonjun. “Gimana pita suara itu bergetar dan hasilkan ragam suara yang bisa berbeda kalau dirangsang. Gimana suara itu adalah sesuatu yang elemental, gak kalah pentingnya dari otak lo. Sesuatu yang bisa digunakan untuk menyuarakan isi hati ….”

“Gue juga bisa ngajarin gimana perasaan ketika suara lo dihambat keluar. Rasa putus asa ketika lo ingin teriak tapi lo cuma bisa diem dan menghela napas.” Seraya berkata, Beomgyu lucuti dasi milik Yeonjun yang sudah terlampau longgar. Ia gulung kain panjang tersebut dari ujung ke ujung.

“Lo percaya sama gue, ‘kan?”

Yeonjun mengelus sisi wajah Beomgyu dengan lembut. “You know I always do.”

Tanpa diperintah, Yeonjun membuka mulutnya lebar. Gulungan dasi yang telah dibentuk Beomgyu sedemikian kecil tadi kini memasuki rongga mulutnya. 

“Gue sengaja cuma masukin sebagian,” ujar Beomgyu ketika Yeonjun mengerang protes. “I don’t want to choke you, Jun. I just want to teach you how to keep quiet. Lo bisa lepeh dasinya kalo lo udah gak kuat.” 

Yeonjun mengerutkan alis, tampak bersungguh-sungguh menahan gulungan dasi itu di mulutnya. Beomgyu terkekeh. 

“There you are, my ambitious little freak. Gue bisa percaya lo untuk berhasil selesein misi ini, ‘kan?”

Yeonjun mengangguk antusias. Soobin dibuat terpana melihat senyum Beomgyu yang merekah. Dari matanya, keduanya sama-sama indah. Ekspektasinya pun melambung tinggi ingin melihat pertunjukan mereka sampai akhir; mana yang berakhir menang dan mana yang berakhir kalah. 

Beomgyu mulai menyerang dengan kembali menggerayangi milik Yeonjun yang tadi sempat terlupakan. Lelaki di bawahnya menghela napas pelan. Pelan, pelan, pelan, seiring tangan Beomgyu membuka kancing celana panjang dan menurunkannya sampai paha. Ia menciumi kulit paha yang putih itu dengan lembut. Sesekali tampak menghisap di beberapa titik, membentuk pola acak kemerahan.

Yeonjun masih tampak menikmati semua perlakuan Beomgyu. Matanya terpejam rapat. Gulungan dasi itu masih bertengger aman dalam mulutnya. Jakunnya naik-turun mengindikasikan ia kerap menelan saliva. Soobin bertanya-tanya sudah sebasah apa ujung dasi itu sekarang?

Bibir Beomgyu perlahan naik. Ia mengecup ujung penis Yeonjun yang masih terkungkung di balik celana dalam. Napas Yeonjun kini mulai terdengar tak beraturan. Sesekali tangannya mengepal dengan keras. Namun, ia masih patuh menahan suaranya. 

Beomgyu bebaskan milik Yeonjun yang semakin tegak. Dielusnya dari pangkal sampai ujung, balik lagi dari ujung hingga pangkal. Semua gerak itu ia lakukan dengan begitu lembut. Soobin tidak begitu yakin, tapi ia seperti melihat kedua mata Beomgyu menatap Yeonjun seperti anak kecil yang meminta izin untuk melahap jajanan yang bukan miliknya. Polos dan penuh harap. Yeonjun mengangguk dengan mulut yang masih disumpal dasi, membuat Beomgyu terkekeh senang sebelum ciumi wajahnya. 

Selanjutnya, seperti ada sesuatu yang mengambil kepolosan tersebut, Beomgyu jilati milik Yeonjun dengan penuh semangat. Pangkal ke ujung, ujung ke pangkal, sisi kanan maupun sisi kiri. Soobin yakin cairan pra-ejakulasi milik Yeonjun sudah berpindah semua di mulutnya, melihat lelaki itu tidak lepas melahap sedetik pun. Rintihan Yeonjun mulai beberapa kali terdengar tak bisa ditahan. Beomgyu melirik Yeonjun, tampaknya memberi sebuah peringatan. 

Terlihat mereka berdua berusaha keras memenangkan permainan. Namun, rintih Yeonjun kembali terdengar. Tampaknya lelaki itu lemah akan pujian. Soobin perhatikan rintih Yeonjun semakin panjang tiap kali Beomgyu ucapkan kata-kata manis.

“Maafin gue,” ujar Beomgyu ketika bahunya dipukul Yeonjun keras. “Mana mungkin gue gak muji lo? Punya lo emang paling enak buat dijilatin. I bet today is your peak. Rasanya manis. Kalo gue bisa cium lo udah gue transfer semua rasa manis ini.”

Yeonjun mengerang protes. Matanya terpejam rapat-rapat. Soobin penasaran semanis apa rasa Yeonjun hingga membuat Beomgyu tersenyum selebar itu? 

Be quiet. Liat, saliva lo udah meleber ke mana-mana, sayang.” Gantian wajah Yeonjun yang kini ia serang. Tiap kecup menimbulkan bunyi keras. 

Feels nice every time I smooched your face and you can’t stop me like this.” 

Beomgyu kembali lanjutkan serangannya di bawah. Sudah bosan dengan lidah, kini ia gunakan rongga mulutnya untuk menggantikan.

Ketika Beomgyu merunduk berusaha telan milik Yeonjun bulat-bulat, lelaki itu tak bisa lagi menahan erangnya. Dadanya naik-turun dengan cepat. Tangannya dengan segera mencengkram surai-surai Beomgyu di antara pahanya. Ia mengaku kalah. Namun Soobin tidak kecewa, begitu pula Beomgyu yang makin sengaja memainkan lidahnya dan membuat Yeonjun merintih penuh nikmat. 

Soobin ubah posisinya sedikit. Ia tak lagi sibuk mengintip di sela-sela meja dan kursi. Meski begitu wajahnya masih terpaut lurus ke arah panggung di depan. Sedikit pun Soobin tak berniat ketinggalan pertunjukan. Ia hanya ingin lebih fokus memanjakan kedua telinga dibanding matanya.

Dikeluarkan miliknya yang juga sudah menegang keras.

Ketika Beomgyu tampak ingin bangkit, tangan Yeonjun menahannya. Mereka hanya bertukar tatap karena Yeonjun masih patuh melumat dasi sialan itu. Ia merintih pelan, sebelah tangannya yang tadi menahan Yeonjun membelai Beomgyu dengan lembut. Gestur itu malah mengakibatkan seringai Beomgyu muncul. Ia bebaskan gumpalan dasi dari mulut Yeonjun. 

“Kapan?” tanya Beomgyu singkat. Soobin bagaikan penonton yang tak dibekali subtitle. Ia menerka-nerka apa yang terjadi dan membuat atmosfer di antara keduanya berubah semakin pekat. 

“Sebelum bel pelajaran terakhir bunyi,” jawab Yeonjun pelan.

“Lo bolos pelajaran terakhir?”

“Nggak mungkin, gila!” sergah Yeonjun. “Pelajaran terakhir tadi cuma diisi sama belajar mandiri dan gue udah pelajarin semua soal-soal yang ada di buku itu.”

Beomgyu tersenyum tipis. “So you fucked yourself in the meantime.” Beomgyu usap bibir bawah Yeonjun. “Nakal,” bisiknya sambil tersenyum senang. “udah kepengen banget emangnya?”

Two weeks ago, we couldn’t do it karena lo kelamaan mainin gue sampe akhirnya gue keburu dijemput pulang. Last week kita cuma sempet make out karena gue buru-buru mau pergi les. I wouldn’t let you ruin today,” ancam Yeonjun.

“Tinggal bilang lo emang kepengen banget ngentot sama gue apa susahnya, ‘sih?” cibir Beomgyu pura-pura kesal. Soobin bisa lihat sudut bibirnya terangkat senang.

“Terserah. Lo bebas mikir apa aja. Toh ngentot sama lo emang terbukti bantu stimulate gue supaya jadi lebih konsentrasi belajar, ‘kok.”

Beomgyu terbahak mendengar penjelasan Yeonjun. Diciuminya lelaki itu tepat di mulut. Basah. Lidahnya serampangan keluar-masuk hingga Yeonjun sedikit kelabakan. 

“Gak nyangka kalo gue selama ini cuma dijadiin alat stimulasi. Apa bedanya gue sama koleksi vibrator yang lo punya?” 

Yeonjun membuka kancing celana panjang Beomgyu dan melepaskannya hingga paha. Ia mengusap milik Beomgyu yang sudah sama kerasnya.

This is huge.” Soobin lihat tangan Yeonjun meremas dengan keras hingga Beomgyu terperanjat. “Lo bikin gue teriak lebih keras. Gue butuh itu tiap kepala gue rasanya mau pecah.”

And you’re definitely more enjoyable.” Yeonjun menyibak rambut Beomgyu yang mulai berkeringat. “Vibrator gak bisa ngomong sama gue. Gak bisa bantah. Gak bisa muji-muji bilang gue ganteng, cantik, rasanya enak dan manis, apalagi muji gue pinter. Terus gak bisa peluk gue juga kalo udah selesai. Gak bisa cium gue, gak bisa pukpuk gue, gak bisa bantu bersihin sperma gue yang keluar,” jelas Yeonjun panjang lebar.

“Kalo lo bisa. Lo bisa bikin gue gila, Choi Beomgyu. Gue butuh lo. So can you stop talking right now and just fuck me while I’m being nice?

Oh, shit . Penis Soobin berkedut keras. Ia mati-matian mengatur napas. Kalimat itu memang bukan ditujukan padanya, tapi siapa pun yang mendengar sudah pasti merasakan hal yang sama. Sekujur tubuhnya tiba-tiba menggigil hebat. Kalau Beomgyu tak segera melakukannya, rasanya ia ingin keluar dari persembunyian dan beralih gantikan lelaki itu untuk menyembah Choi Yeonjun.

Pandangannya makin buram seiring hasratnya yang kian susah dibendung. Kembali ia mengandalkan kedua telinga. Di depan sana, tampaknya Beomgyu kembali mulai permainan. Bunyi kulit bertemu dengan kulit bukanlah suara yang asing bagi Soobin. Ia menikmati suara tersebut seperti desah Yeonjun yang makin lama melengking tinggi. Desah napas putus-putus ketika tanpa ampun dihajar Beomgyu, yang lambat laun berganti menjadi rintih meminta belas kasih. Namun Beomgyu masih bertahan dengan ritmenya, seperti Soobin dengan gerak tangan yang tak henti mengocok miliknya sendiri. 

Mereka bertiga bernapas seperti diburu waktu. Dan ketika semua berakhir, ada setitik penyesalan di hati Soobin. Seharusnya ia buru-buru keluar lari tadi. Seharusnya ia bersembunyi dan tidak peduli. Tidak mendengar, tidak melihat, tidak menikmati sedikit pun pertunjukan mereka. Karena setelah cairan hangat keluar membasahi tangannya, Soobin tak bisa pikirkan hal lain selain permainan kedua pelakon tersebut. 

 

***

 

Setelah pertunjukan di akhir pekan itu, Soobin bertingkah layaknya junkie. Ia tidak bisa melewatkan akhir pekan tanpa menonton pertunjukan. Beberapa minggu awal Soobin masih coba menahan dirinya. Tidak sekali pun jam istirahat ia habiskan di gedung tua. Taehyun dan Hueningkai sampai keheranan ketika Soobin tidak pernah absen mengintil ke kantin. Di akhir pekan setelah jam pelajaran usai, ia segera pulang ke rumah dan berusaha keras hapus bayangan kedua pelakon pertunjukan. 

Malam demi malam ia lewati dengan tak bisa tidur pulas. Badannya berkeringat dan gelisah. Suatu ketika, saat malam makin larut dan rumah telah sepi, ia himpit penisnya di antara bantal yang telah disusun rapi, menciptakan gesekan dibantu gerak monoton yang berulang. Ia bayangkan anal Yeonjun yang menghimpitnya; merah, sempit, dan juga panas. Namun, Soobin tetap tidak puas. Ia coba berbaring lalu masukkan beberapa jari miliknya, kini membayangkan wajah Beomgyu yang tengah merapal pujian sambil tersenyum merusak kewarasannya. Ujung jari panjangnya berhasil menemukan titik yang ia cari, dan meski itu berhasil membuat ia keluar banyak, hatinya belum juga puas. 

Ia yakin dirinya sudah gila. Berulang kali otaknya memutar kejadian di akhir pekan itu. Hal-hal mengenai Yeonjun dan Beomgyu tak berhenti menguasai akal sehat; senyum angkuh, mata mengerling nakal, wajah memohon, mulut yang tak henti keluarkan puja dan puji, tangan yang mendekap hingga akhir, ujung jemari yang meniti lembut, pagut bibir yang begitu serampangan, tatapan mesra, semuanya membuat Soobin gila. Dirinya ingin menonton lagi, ingin merekam kejadian tersebut berulang kali, ingin mendekap, ingin dicium ….

Ketika Soobin sadar tidak ada gunanya menghindar, ia akhirnya memutuskan untuk kembali mengisi waktunya di sana. Lagipula, tak akan ada yang berubah. Baik di rumah ataupun di gedung tua, Yeonjun dan Beomgyu hanya ada di bayangan Soobin, dan ia gunakan bayangan itu dengan sebai-baiknya. Ia bayangkan dirinya menarik lengan Yeonjun dan gantian mencium lelaki itu. Lekuk tipis yang selalu terpoles pelembap bibir—harum dan manis , yang sering kali merajuk marah jika Beomgyu kerap menggodanya. Ia akan jilat juga. Akan Soobin bandingkan dengan roti manis dan empuk kesukaannya. 

Lalu ia akan bayangkan Beomgyu membalikkan badannya, mencium bibirnya seraya berkata Junie, look at us, i’m tasting you through his lips. Menyentuhnya. Memijat miliknya yang berkedut. Menjilat, melumat, melahap. Soobin tak mengira mulut Beomgyu selalu bekerja. Lidahnya seolah tak pernah henti bergerak. Ia bayangkan lidah itu menelisik area lubangnya; hangat bertemu hangat. Napas Soobin habis tatkala membayangkan itu semua.

Lucunya, Soobin tidak pernah melihat Beomgyu dan Yeonjun tampak mesra di sekolah. Semakin menisbahkan bahwa akhir pekan hanyalah pertunjukan sementara, dan semua akan berakhir laksana tirai yang perlahan menutup panggung. Ia bahkan tak pernah lihat mereka bertukar pandang, apalagi sapa. Seolah mereka tidak kenal satu sama lain. Seolah dua insan yang Soobin saksikan di akhir pekan tersebut hanyalah perwujudan Cinderella dan Pangeran sebelum jam dua belas malam. Hari berikutnya, mereka kembali menjadi Choi Yeonjun dan Choi Beomgyu yang bertolak belakang.

“Lo udah gila? Sebaik-baik hatinya Yeonjun,  mana mungkin dia mau temenan sama tukang cari gara-gara kayak Choi Beomgyu!” tukas Hueningkai berapi-api.

Soobin berhati-hati mengatur jadwal kedatangannya ke area terbengkalai itu. Ia selalu memastikan untuk meninggalkan kelas persis dengan waktu kedatangannya dulu, agar ia bisa bersembunyi di tempat biasa dan menunggu para pelakon terbaiknya datang. Namun hari ini, Soobin telat datang karena harus mengisi formulir yang diminta wali kelas untuk keikutsertaan acara di akhir semester. Ia terburu-buru mengejar waktu. Sesampainya di gedung tua, ia mengintip dulu dari pintu yang terbuka sebagian. Sial, Yeonjun dan Beomgyu sudah mulai bermain peran. Mereka tengah memagut dengan panas. Keringatnya mengalir deras. Bagaimana ini?

Ia sempat berpikir untuk melewatkan pertunjukan pekan ini dan kembali lagi pekan depan. Namun, hatinya gelisah. Pertunjukan itu sudah siap di depan mata dan ia tinggal melangkah masuk saja. Setelah pergumulan batin yang cukup lama, kewarasannya kembali mengalah. Hati-hati Soobin mengatur langkahnya agar tak bersuara. Jantungnya berdegup keras di tengah saat-saat paling genting dalam hidupnya.

Ia berhasil masuk dengan mudah. Berkali-kali habiskan waktu di sini membuatnya hapal seluk-beluk ruangan meski dengan cahaya temaram sekali pun. Mudah baginya untuk menghindari tempat-tempat dalam jarak pandang mereka berdua. Toh mata mereka juga tertutup rapat, hanya bibir dan tangan saja yang masih aktif bergerak. Meski begitu, ia tidak bisa bersembunyi di tempat biasa. Dengan berat hati ia bersembunyi di balik matras yang ditumpuk tinggi, tidak jauh dari keberadaan dua pelakon kesayangannya tersebut. 

Meski tak ada celah untuk melihat seperti di tempat yang biasa, telinganya sudah jauh lebih mahir menangkap suara dan menghubungkannya ke otak di mana imajinasi akan sambungkan keberadaan mereka bertiga. Ia bisa bedakan mana desah Yeonjun dan juga Beomgyu hanya dengan membedakan ujung lenguh tersebut. Soobin bukan profesional, tapi vibrasi dari pita suara keduanya bisa dengan mudah ia temukan.

Darahnya berdesir ketika pertunjukan memasuki babak selanjutnya. Ia tak bisa melihat, maka ia bayangkan saja semua yang didengarnya. Saat jerit Yeonjun tertahan, ia bayangkan tubuh lelaki itu sedang ditarik kasar agar bisa duduk di pangkuan Beomgyu. Diciumi leher Yeonjun sambil mereka atur posisi dengan tepat. Ia kembali dengar komentar Beomgyu yang memuji pinggul Yeonjun. Soobin bayangkan tangan Beomgyu meremas bagian itu dengan kencang, menyusuri garis hingga sampai di lekuk belakang, lalu menepuk dengan keras. Soobin bayangkan Yeonjun mendesis kuat, bibir bawahnya ia gigit supaya tak kelepasan meminta lebih. Kontras kemerahan pada kulit Yeonjun memenuhi benaknya. Pasti amat cantik.

Pretty.” Seperti bisa membaca pikirannya, Beomgyu bergumam pelan. “Kadang gue masih gak percaya murid paling teladan di sekolah bisa-bisanya jadi nakal dan urakan kayak gini di depan gue.”

Desah Yeonjun terdengar. Soobin sudah hapal, pada ritme awal permainan, Yeonjun masih punya banyak tenaga untuk membalas perkataan Beomgyu. 

“Di depan lo?” Soobin bayangkan senyum angkuh itu. “Emang apa yang membuat lo berpikir gue bisa tampil kayak gini cuma di depan lo?”

Wajah Beomgyu mungkin mengerut, meski alisnya sudah pasti terpampang naik. 

“Siapa lagi emang yang bisa ngeliat lo kayak gini kalo bukan gue? Yang bisa bikin lo teriak keenakan? Yang jago bikin lo kehabisan napas sampe mau mati? Yang doyan ngulum peju lo? Jilatin satu-satu sampe tiap inci punya lo bersih?”

Gue, batin soobin ingin menjawab. Namun, tentu saja suaranya tak mau keluar. Dijilat dua jari tangan kirinya sambil bayangkan mereka berdua sedang berciuman. Soobin mulai memasuki permainan, dibayangkan Beomgyu yang tersenyum lembut itu memaksanya berbaring. Tangannya yang tampak kurus ternyata cukup kuat menopang tubuh besarnya. Soobin terkesima. Sambil kepalanya dibelai, Beomgyu lantas mengecup bibirnya. Awal mulanya begitu lembut. Namun, Soobin inginkan lebih. Ia ingin lelaki itu gunakan lidahnya. Ingin saliva mereka saling basahi sudut bibir. Dibuka mulutnya hingga Beomgyu kabulkan permohonan. Lidah mereka beradu mencari pemenang.

Soobin juga ingin Yeonjun menciumi sisi kepalanya, bisikkan namanya lembut sambil membelai surai halusnya. Mungkin Beomgyu dan Yeonjun akan saling berebut melahap bibirnya. Bertengkar seperti anak kecil di hadapan permen manis yang hanya tinggal satu di kasir. Mereka beradu tanpa tahu permen manis itu tinggal mereka bagi dua. Ya, dirinya bisa dibagi dua jika untuk mereka. Soobin rela jika ia harus dibelah dari ujung kepala hingga kaki sama besarnya untuk mereka cumbui seperti ini.  

Soobin sudah begitu jauh menghayati perannya. Ia sandarkan belakang kepalanya di matras, sembari tak henti jilat jemarinya yang kadung basah oleh saliva. Dua jari, tiga jari, empat jari, lima jari pun ingin ia raup kalau bisa. Ia abaikan miliknya yang menegang keras meminta perhatian. Dalam bayangannya, Yeonjun tengah bermain-main dengan benda keras itu. Helai rambut depan akan jatuh menutupi wajah, dan Soobin akan menyibak rambut itu sambil beri komando agar mulutnya terbuka lebih lebar. Yeonjun tampak patuh meski sedikit gelagapan. Hilang sudah senyum angkuhnya, yang ada hanya mulut Yeonjun yang terpaksa menganga lebar. Milik Soobin hanya hanya berhasil masuk separuh padahal ujung tenggoroknya sudah terasa penuh. 

Cantik, Soobin memuji Yeonjun. Lelaki itu pasti akan tersenyum malu sambil terus menatap Soobin. Matanya yang mirip kucing tak lagi memicing. Setengah matanya terbuka penuh keinginan untuk minta dikabulkan. Ia mengerti sekarang mengapa Beomgyu selalu menyebut Yeonjun sebagai paradoks. Bagaimana dua hal yang sifatnya saling bertolak belakang semuanya ada pada diri lelaki itu. Yeonjun di luar sana adalah murid yang begitu pintar, panutan utama semua murid di sekolah. Ia sekali pun tidak pernah berbuat onar. Tutur katanya yang lembut selalu membuat lawan bicaranya tersenyum senang. Semua wali murid ingin anaknya tumbuh seperti Yeonjun. Namun, semua berubah begitu ia mengambil peran. Siapa sangka ia juga bisa menjadi bodoh dan lacur hanya untuk memuaskan dirinya seperti ini? Merunduk mengulum dan memejam rapat ketika Soobin paksa kepalanya diam sementara ia bungkam mulut kecil tersebut dengan miliknya.

Yeonjun cantiknya. Lihat betapa sempurna mulut kecil itu memulur menyesuaikan gerak Soobin yang mulai tak beraturan.

Perhatiannya teralih ketika wajahnya direngkuh. Beomgyu, yang kini memeluknya dari belakang, mengecup bibirnya.

“Lo lupain gue.” Dalam bayangannya, Beomgyu akan merajuk. Bibirnya akan mengerucut dan kedua alisnya berkerut. Soobin menggeleng, balik mengecup lelaki itu. Ia sandarkan dahinya di wajah Beomgyu, bertukar napas sementara pinggulnya tak henti puaskan lelaki di bawah sana. 

Seiring waktu berjalan, Soobin sadar Beomgyu selalu ingin diperhatikan. Terkadang, permainannya terlalu intens hingga respons Yeonjun hanya berupa gerak dada yang tak beraturan. Tidak ada rintih pelan atau bahkan erang kecil dari mulutnya. Ia diam saja seperti boneka kehabisan baterai. Jika sudah begitu, Beomgyu akan berhenti sejenak. Ia akan ciumi pelipis Yeonjun sambil memohon agar lelaki itu jangan meninggalkannya. Junie, please don’t leave me, ucap Beomgyu dengan suara pelan seperti mengiba. Liat gue, Jun. Sakit, ya? Gue mainnya terlalu kasar, ya? Maaf, maaf, maaf, janji gak nyakitin lagi. Jangan tinggalin gue sendiri. Lo tau gue paling takut sendirian. 

Soobin pikir, lelaki itu juga sama seperti Yeonjun; sebuah paradoks.

Genap sepuluh pekan ia mengamati gerak-gerik mereka. Soobin percaya diri jika ia harus gambarkan persona kedua pelakon tersebut. Di balik sifat Beomgyu yang selalu berbuat onar, bolos di tengah jam pelajaran, tidak peduli jika ia harus mengulang ujian atau bahkan tidak lulus dari sekolah ini, lelaki itu tampak amat rapuh. Beomgyu seperti burung di dalam sangkar; tak peduli apapun yang ia lakukan, ia tak pernah bebas. Di kelas, ia lebih sering tertidur atau melihat ke jendela. Sinar matanya seringkali datar meski sedang berkumpul bersama cecunguk bawahannya. Ketidakacuhannya pada hampir semua hal hanya dapat diubah oleh Yeonjun seorang. Dirinya bangkit menjadi gelombang tiap kali mereka beradu peran, pertunjukan yang sangat sempurna di mata Soobin. 

Bibir Beomgyu yang gampang sekali bengkak, memerah hanya dengan beberapa hisapan kecil. Soobin elus pipinya yang merona, begitu kontras dengan pekat obsidian di kedua matanya. I won’t leave you, ujar Soobin dalam hati. If you want me to.

“Lo sibuk mikir apa?” Ah, lelaki itu masih saja merajuk rupanya. Ia sama menuntutnya dengan Yeonjun. Mereka benar-benar menyita habis seluruh perhatian Soobin. 

Lo. Yeonjun. Kalian berdua, para pelakon gila dalam pertunjukan paling hebat ini.

“Gak boleh mikirin hal lain.” Ia bayangkan Beomgyu kembali lanjutkan peran. Jemarinya memijat sekitar perineum, sesekali gerayangi lubang anal Soobin yang mulai berkedut mengharapkan friksi lebih jauh. Sementara di bawah sana, Yeonjun masih memanjakan penisnya dengan kuluman hangat. Soobin mendesah penuh nikmat.

“Mikirin kapan lo mau masukin jarinya ke gue, boleh?” ia balik tanya dengan susah payah. Paru-parunya sudah kontraksi maksimal, jumlah dua gas yang seharusnya setara tak lagi sama.

“Boleh.” Soobin bayangkan senyum menggoda milik Beomgyu. “Ini baru gue mau masukin. Lo mau berapa? Dua dulu, apa langsung tiga sekaligus?”

Keringatnya mengucur bayangkan tiga jari Beomgyu masuk sekaligus. Mustahil, pikirnya, tapi semuanya bisa menjadi mungkin dalam khayalnya, ‘kan? 

Ia mengangguk, kelewat semangat hingga Beomgyu tertawa kecil. 

“Gak sabaran banget.” Beomgyu akan protes. Tangan lelaki itu lantas meraih kepala Yeonjun. Soobin sedikit menyayangkan kepergian mulut hangat Yeonjun walau dibayar lebih dengan melihat keduanya saling memagut bertukar cairan miliknya. 

Oh, betapa ia ingin momen seperti ini tidak terjadi hanya dalam pikirannya.

Ketika Soobin membuka mata, ia tidak sadar sejak kapan Yeonjun dan Beomgyu menatapnya intens. Tatap mereka campur aduk, sedikit heran, sedikit terhibur, tapi tetap penuh gairah. Kalau boleh ia menukar hidup yang tak ada artinya itu dengan sekali saja menikmati ditatap oleh mereka berdua seperti ini, ia pasti rela.

Look at him. He’s achingly hard, Beoms. Oh, poor boy. Kayaknya dia beneran butuh kita.”

“Menurut lo gitu?”

Soobin lantas mengangguk. Seperti déjà vu, ia lihat Beomgyu tertawa kecil atas antusiasnya. Kali ini terlihat lebih nyata.

Need you ,” tidak sadar ia menjawab lemah. “Butuh kalian …, kalian berdua …, sekaligus.”

Soobin merasakan miliknya kembali disentuh oleh Yeonjun. Lelaki itu tercengang kaget melihat Soobin yang langsung melenguh panjang.

He’s already sensitive ….” Yeonjun berkata pada Beomgyu, tapi kedua matanya bertahan pada manik Soobin.   

Soobin sedikit terperangah ketika ia benar-benar merasakan tangan lentik Yeonjun naik ke atas dada. Tentu saja ujung jari itu dengan sengaja menyentuh puting miliknya, buat ia kembali mengerang.

You are such a mess,” Yeonjun tersenyum sambil membuka semua kancing kemejanya. Soobin mengangguk untuk ketiga kalinya. I am, a mess, your mess

Begitu terlepas semua, Yeonjun singkap kemeja putih itu hingga lengan, hingga kedua bahu Soobin terpampang. Sekali lagi, Soobin benar-benar merasakan tangan lentik Yeonjun mengusap otot-otot bisepsnya secara bergantian.

Apakah ini semua nyata?

“Ototnya lumayan kebentuk. I wonder if this muscle choke me tight , bisa asfiksia beneran gak ya gue?”

I wouldn’t if you tap my hand twice,” jawab Soobin tanpa diminta. Ia tahu kode tersebut. Beberapa kali ia lihat Yeonjun lakukan jika Beomgyu sedikit berlebihan, biasanya jika mereka bermain beberapa kali sehingga Yeonjun sudah tak sanggup menerima stimulasi lebih.

“Tau dari mana lo?” mata Yeonjun berkilat. Soobin kelu. Ia bingung harus menjawab apa. Tidak, ia lebih bingung apakah ini semua nyata atau masih bagian dalam pertunjukan di kepalanya. 

He’s seeing us,” sela Beomgyu. “Fuck, gue rasa ini bukan pertama kali dia liat kita di sini.” 

Soobin tak membantah. Ia sudah kepalang basah. Tak ada lagi ruang untuk memutar balik fakta dan berdusta. Herannya, ia semakin bergairah. Tubuhnya antusias menanti apa yang akan dilakukan oleh kedua pelakon tersebut.

Beomgyu jambak rambut Soobin dengan kasar. Sakit luar biasa, tapi yang keluar dari mulut Soobin hanyalah desah panjang tanpa bisa ia tahan. Tangannya berusaha menggapai miliknya yang kembali berkedut. Rasanya ia bisa keluar detik itu juga.

Namun, Beomgyu menghalau tangannya. Dengan cepat, ia lepaskan dasi yang masih melilit di leher Soobin. Tanpa disuruh, mulutnya terbuka. Dirinya ingat pertunjukan pertama yang masih membekas itu, pertunjukan di mana Beomgyu sumpal mulut Yeonjun dengan gumpalan dasi. Namun, semua melenceng dari bayangannya. Dasi itu malah melilit di kedua pergelangan tangannya.

Oh. Oh, oh, oh

Beomgyu mengikat dasi itu dengan sempurna, menyisakan sedikit ruang untuk tangannya bergerak. Keduanya tersenyum melihat Soobin yang hampir telanjang bulat dengan kedua tangan terikat. Celana panjangnya sudah turun hingga paha sebelum akhirnya Yeonjun lepaskan semua.

“Dia gak bakal bertahan lama.” Beomgyu mengamatinya sementara Yeonjun mengangguk setuju. Berdua mereka terlihat seperti pemangsa dan Soobin adalah korbannya. 

Eat me, devour me. Soobin membatin pasrah.

“Lo mau apa, eager boy? Gue takut kalo gue isep kontol lo sekarang, baru semenit lo langsung muncrat,” tanya Yeonjun santai, seolah situasi ini adalah situasi biasa baginya.

Beomgyu tertawa puas. Tangannya menyentuh ujung dagu Soobin. Memiringkannya ke kiri dan ke kanan seperti sedang menginspeksi. 

What do you really want?

Anything.” kali ini, Soobin benar-benar susah-payah menjawabnya. 

“Anything?Yeonjun tertawa meremehkan. “Berani banget lo bilangnya. Emang sanggup?” tantang lelaki itu. Soobin sudah sering mendengar Yeonjun berbicara dalam pertunjukan hingga langsung tahu bahwa itu hanya kelakar biasa. 

Ia kembali mengangguk cepat. Beomgyu tampak terhibur dengan responsnya. Wajahnya mendekat.

Hampir saja Soobin mengira bibirnya akan dicium, tapi Beomgyu memang senang menggoda. Dimiringkan wajahnya ketika hanya tinggal sejengkal lagi Soobin dapat menikmati bibir itu dengan nyata. Namun, sesenang apapun Beomgyu menggoda, ia juga senang berbagi kasih. Beomgyu kecup pinggir bibirnya lembut hingga Soobin tanpa sadar tersenyum. Lesung pipinya terbentuk di kedua pipi.

“Jun, liat deh. He has a very nice dimple. You would like to kiss him.

Yeonjun lantas ikut mendekatinya. Sekali lagi, mereka kembali menjadi pemangsa. Mereka sibuk menekuri bagian tubuh Soobin yang menarik perhatian.

“Beoms, hidungnya mancung banget. Lo berdua harus ciuman deh. Gue berani taruhan hidung dia bakal lo tabrak terus. Lo kalo nyium ‘kan suka gak liat-liat!”

“Bibirnya tempting banget, sih. Dia jago ciuman gak ya?”

“Coba lo duluan yang cium. Kalo enak kasih tau gue.”

Mereka sahut-menyahut seolah Soobin tidak punya hak bicara di sini.

“Lo tuh selalu gitu, gak pernah mau coba duluan! Apa-apa selalu nyuruh gue. Begitu lo suka langsung dikuasain serasa milik sendiri.”

Beomgyu merajuk. “Jangan nyindir gue kayak gitu, dong. Gue tau lo maksudnya lagi ngomongin jaket kulit hitam yang masih gue pinjem sampe sekarang.”

“Ya, ‘kan? Masih suka lo pake ‘kan? Kenapa, sih? Padahal tinggal beli, loh. Banyakan juga duit jajan lo daripada gue.”

“Tapi nanti jaket kulitnya gak wangi kayak punya lo.”

Yeonjun tertegun sebentar, seperti tidak menyangka jawaban itu yang keluar dari mulut Beomgyu. 

“Jadi lo minjem jaket gue cuma karena ada wangi gue?”

Beomgyu menggeleng malu. “Gue minjem karena pas dipake lo bagus. Lo jadi keliatan keren dan ganteng banget. Terus gue juga mau coba. Pas udah dicoba ternyata wangi banget. Wangi kayak lo. Jadi gue belom balikin sampe sekarang …,” Soobin melihat pipi Beomgyu kembali merona. Ia seperti anak kecil yang sedang membuat pengakuan dosa. Begitu polos tanpa tipu daya. 

“Nanti misal gue udah balikin jaketnya, gue boleh pinjem lagi gak? Wangi lo nenangin banget kayak aroma terapi, it helps me to sleep.”

Yeonjun menarik rahang Beomgyu lembut dan menciumnya. Lama-lama ciuman sederhana itu berubah menjadi bara. Soobin lah si penonton pertunjukan paling depan yang pertama terkena imbasnya.

Ia susah-payah menjulurkan tangannya ke bawah. Miliknya sudah begitu keras dan sedikit nyeri ketika dipegang. Namun, ia berusaha kembali menjalankan peran; menikmati pertunjukan hingga maksimal. Tiba-tiba saja, tangannya kembali dihentak.

“Yang suruh tangan lo bergerak lagi siapa?” Yeonjun memindahkan kedua tangannya ke atas kepala. 

He’s getting harder looking at us.” Beomgyu kembali mendekat. “Is this what you want? Liatin gue sama Yeonjun ciuman terus lo seenaknya keluar?”

“Mau lebih dari itu, kalau bisa.” Soobin tidak akan pernah tahu keberaniannya muncul dari mana. Belum pernah sekali pun ia berbicara langsung dengan keduanya. Namun, ia sudah merasa begitu mengenal mereka berdua. Percakapan ini adalah manifestasi nyata dari apa yang selama ini ia khayalkan; pertunjukan di mana Soobin juga menjadi salah satu pelakon, bukan penonton.

“Menarik,” gumam Yeonjun. 

Tanpa bicara, kedua lelaki itu kembali bercumbu. Ia memekik tertahan ketika bibirnya tiba-tiba diikutsertakan secara bergilir layaknya tongkat estafet yang harus dibawa hingga garis selesai. Soobin sempat menangkap manik Yeonjun dengan senyumnya sebelum kembali memainkan peran. Bibir mereka berselisih cepat, seolah ingin membuktikan siapa yang paling hebat. 

He looks like a good kisser.” Soobin dengar Beomgyu berujar, membuat dirinya semakin bersemangat. “He got you, Jun. Hebat juga dia bisa bikin lo keabisan napas.”

Totally a good kisser. You gotta be careful, Beoms. Mulai sekarang, lo harus perlakukan gue lebih baik.”

 Soobin tersenyum senang sementara bibir Beomgyu kembali mengerucut. Gantian Beomgyu yang menjamu bibirnya. Dirinya kelimpungan ketika belum apa-apa sudah dicumbu panas.

“Lo jangan kesenengan,” ujar Beomgyu. “I’m still the very best, here.

Soobin beranikan diri menjemput bibir itu. You are the best, ia pasrahkan bibirnya kembali digunakan sesuka hati Beomgyu. Soobin dapat lihat mata lelaki itu berkilat, tapi tak dipenuhi kemarahan. Kalau ia dapat berkaca, mungkin kilat itu sama seperti miliknya sekarang.

Mereka sama-sama gila sepertinya. Di sini, mereka bebas melakukan apa saja. Peran telah dibagi dan mereka harus menyelesaikan pertunjukan. Bersama-sama

Let’s satisfy this impatient boy, Junie.”

Setelah itu, semua hampir sama dengan yang ia bayangkan selama ini. Bahkan mungkin lebih baik. Yeonjun mengecup bibir dan lesung pipinya lembut sebelum berpindah ke selangkangan. Tanpa berikan aba-aba, ia masukkan penis Soobin dalam lubang analnya. Soobin berteriak keras.

Fuck,” makinya kencang. Entah untuk siapa.

Oh, I would want to do that, actually. Tapi mungkin gak sekarang. Yeonjun udah telat ke tempat lesnya hampir setengah jam. Kita gak punya banyak waktu.”

Setelah berkata begitu, waktu benar-benar tak ada artinya bagi Soobin. Ia tak sempat menghitung berapa lama Beomgyu menjamah bibirnya sementara Yeonjun mendesah kencang tiap kali Soobin menekan prostatnya. Kedua tangannya masih diikat, tak berdaya sebab keduanya melakukan semua hal yang tak bisa ia lakukan. Yeonjun mengusap pipinya yang basah, entah karena air mata atau keringat, ia sudah tak tahu lagi. Beomgyu mengecup telinganya seraya berbisik, bagus, gerakkin pinggul lo itu, fuck him good, show me your dirty little game, bisa gak?

Soobin buktikan bahwa ia adalah pelakon yang mampu menjiwai perannya. Ketika pertunjukan berakhir, senyum menghiasi wajah mereka bertiga.

 

***

 

“Itu semua cuma akal-akalan lo, ‘kan? Rumor di gedung tua ini.”

Kembali lagi di atas panggung pertunjukan, Soobin menanyakan hal tersebut pada Beomgyu yang tengah mempersiapkannya. Di samping, Yeonjun yang letih pasca dihantam babak pertama, tertawa kecil.

We just need a safe space,” jawab Yeonjun pelan. Bibirnya menyusuri garis rahang Soobin untuk bertemu dengannya. Sebelum matanya kembali terpejam, ia sempat melihat tangan Yeonjun menepuk kecil kepala Beomgyu.

Tempat yang aman; apakah itu berarti dirinya juga termasuk dalam kategori aman bagi mereka berdua? Soobin menyukai ide tersebut.

Semakin sering mereka pentas di pertunjukan, semakin dalam Soobin terhanyut pada perannya sendiri. Ia menghargai setiap detik yang mereka habiskan bersama di akhir pekan. Tak ada yang berubah, mereka tetap persona masing-masing dalam eksistensi yang berbeda. Yeonjun tetap bersinar di tahun ketiganya, Beomgyu tetap tak acuh dengan hidupnya, dan Soobin tetap mengamati mereka berdua dari lingkarannya sendiri. 

“Kalian berdua pacaran?” tanya Soobin lagi ketika salju turun begitu deras dan tak ada tenaga selain untuk saling mendekap hangatkan badan masing-masing.

Are we, Beoms?” tanya Yeonjun pada Beomgyu dalam pelukan Soobin. Lelaki itu tak menjawab dan memeluk Soobin makin erat. Tangannya hangat.

“Menurut lo gitu?” tanya Beomgyu entah kepada siapa. 

“Menurut lo, kita bertiga apa?” tanya Beomgyu lagi.

A safe player, in a safe play, at a safe place.

Mereka bertiga kembali berpelukan erat.

 

***

 

“Selamat! Skenario pertunjukan hari ini bebas ditentukan sama lo.”

Beomgyu menyuapi sesendok kue ke dalam mulut Yeonjun. Stroberi segar di atas kuenya merona merah seperti Yeonjun yang berulang tahun hari ini. Lelaki itu mengunyah sambil tersenyum senang.

“Beneran gue bebas nentuin apa aja?”

Anything for the birthday boy.

Yeonjun memicingkan mata. Ia pasti sedang memikirkan ide terbaik yang ingin ia wujudkan. Bukan sekali dua kali sebenarnya ia yang menentukan peran. Dalam dinamik mereka bertiga, Yeonjun seringkali bertindak sebagai penulis skenario. Beomgyu lebih senang menjadi sutradara, menentukan kapan mereka beraksi, kapan mereka melakukan transisi, dan kapan mereka harus bertahan dalam ritme atau bebas berbuat seenaknya hingga pertunjukan berakhir. Sementara Soobin adalah pelakon yang patuh. Kemampuannya menyesuaikan diri menjadi apa yang Beomgyu dan Yeonjun butuhkan sangatlah hebat. Kerap kali ia mendapat perlakuan khusus di tengah pertunjukan, sebagai imbalan atas performanya yang tidak pernah mengecewakan.

“Hari ini gue gak mau ngapa-ngapain. Gue mau liatin kalian main aja.” Yeonjun kembali menyuap kuenya, meninggalkan krim vanila di sudut bibir yang kemudian disesap oleh Beomgyu. 

“Lo mau apa, Binnie?” tanya Yeonjun lembut. “Take it as a reward for eating me out so good last week.” Soobin memikirkan pertanyaan itu dengan sungguh-sungguh.

Can I …, fuck Beomgyu as my reward?” tanyanya pada Yeonjun yang kembali meninggalkan jejak krim di sudut bibir untuk Beomgyu. Lelaki itu menoleh dengan cepat. Matanya berkilat tajam.

You do want to fuck me?

“Kalau lo mau.” Soobin sedikit gelagapan. Mungkin keinginannya itu sedikit kelewatan, apalagi mengingat selama ini Beomgyu tak pernah mengambil peran demikian. Namun di luar prediksinya, Beomgyu tersenyum girang seperti anak kecil.

Oh, he’s definitely gonna love that, Binnie.” Yeonjun menangkap kegelisahannya. “He’s a natural switch. Once we had tried, tapi gue gak begitu nyaman …, dan dia hebat banget untuk bisa hargai keputusan gue sampe sekarang.” 

“Dia cuma gak pernah ngungkapin aja,” tambah Yeonjun sambil mengacak-acak rambut Beomgyu. “He’s a shy puppy, don’t you realize?

Beomgyu mendengus, tapi siapa pun tahu ia sedang merajuk. “Mana gue tahu selama ini dia mau ngentotin gue.” Ia mencibir ke arah Soobin. “lo juga baru bilang sekarang.”

Soobin menyimpan rasa gembiranya dalam senyum simpul. Ia rengkuh dagu Beomgyu dan menatapnya lekat. 

“Gue mau,” ujarnya yakin. Soobin melirik Yeonjun yang juga sedang menatapnya intens, sama seperti Beomgyu.

Both of you. I want to be a devoted player in every play you could give me a chance.

Ketika pertunjukan dimulai, Beomgyu menyerahkan segala kuasa yang biasanya ia pegang untuk Soobin kendalikan. Yeonjun menatap haru, menciumi keduanya dengan penuh kasih. Kali ini, tuturnya yang berbicara sementara Beomgyu kehabisan kata. 

Yeah, just like that. That was how you were supposed to do it, Beoms. Let it out, darling. Let your feelings gone. 

Let us take care of you.

Oh, betapa Soobin sungguh-sungguh mencintai para pelakon dan pertunjukan ini.   

 

***

 

Nanti, ketika semakin banyak yang mereka lalui, ketika tabir persona semakin terlucuti, Soobin sadar akan satu hal.

Baginya, ini lebih dari sekadar pertunjukan. 

Baginya, ini adalah jiwa yang ia pertaruhkan.

Notes:

thank you for reading a piece of my mind. let me know what you think!!!!!!!!!!!!!! (hehe)

twitter | retrospring!