Work Text:
Mahen menghela nafas berat ketika tahu rombongan ini menuju ke mana. Rombongan yang berisikan beberapa kepala pengusaha juga pejabat daerah setempat – yang dipimpin oleh si Bupati – dibawanya menuju tempat hiburan karaoke terbesar yang berada di kota tersebut. Mau menolak pun tidak bisa. Sebagai seseorang yang sudah lama berkecimpung dalam dunia bisnis, Mahen tahu benar salah satu cara jitu untuk memuluskan perizinan adalah dengan mengikuti apa saja mau si tuan rumah.
Setelah rombongan mereka yang berisi delapan orang duduk di lounge karaoke, Si Bupati yang perutnya buncit itu berkata dengan senyum yang memamerkan gigi kuningnya. “Ini tempat biasa saya jajan sama rekan-rekan saya, semoga bapak-bapak sekalian senang, ya. Karena kita sudah deal dan uang yang bapak-bapak semua gelontorkan lebih dari cukup, saya mau traktir semuanya hepi hepi sebagai tanda terima kasih.”
“Wah, mantap sekali Pak Waluyo. Jadi makin semangat kerjasamanya kalau kayak gini.” Tiro, pria berumur sekitar lima puluhan yang Mahen ketahui sebagai pemilik usaha air mineral menanggapi. Tentu membuat Pak Waluyo semakin merasa di atas awan.
“Sama-sama, Pak Tiro. Silahkan-silahkan, pilih-pilih saja LC yang diminati. Saya jamin serpis mereka mantap-mantap!” Dengan gerakan tangannya, Pak Waluyo memerintahkan manajer tempat karaoke untuk memanggil para LC ke hadapan para tamu yang sudah pasti bau duit.
Tidak perlu menunggu lama, sepuluh wanita dengan pakaian minim yang tentu tujuannya untuk menggoda datang dan berbaris rapi di hadapan mereka. Semua pengusaha juga pejabat daerah yang duduk di samping kanan dan kiri Mahen langsung saja memasang wajah penuh minat. Mahen menertawakan dalam hati, ketebak , para pria tua di sini pasti tidak akan melewatkan malam penuh gairah dengan daun muda.
Memang Mahen satu-satunya pengusaha yang hadir dan umurnya belum mencapai angka empat puluh. Berumur tiga puluh empat, dirinya sudah harus menjalankan bisnis perhotelan yang diwariskan dari orang tuanya. Meski begitu, main perempuan bukan hal aneh bagi Mahen. Namun jelas, kelasnya berbeda. Ia tidak akan sembarangan jajan atau memakai. Dulu, jika dirinya ingin dipuaskan, Mahen akan memilih wanita dari mucikari kelas tinggi dimana kesehatan kelamin para wanita itu dijamin. Mahen tidak mau tertular penyakit karena sembarangan jajan . Iya, dulu. Lima bulan ke belakang, dirinya sudah tidak bisa lagi jajan di luaran.
Sebab Mahen sudah menikah.
Para tua bangka yang berada bersamanya juga sudah menikah, tapi toh mereka tidak mau melewatkan kesempatan dipuaskan dengan orang yang bukan istrinya.
Hal tersebut tidak berlaku bagi Mahen. Dirinya sudah berprinsip, ketika janji diucapkan di hadapan Tuhan, pendeta, saksi dan keluarga besarnya juga keluarga besar Candrima, Mahen akan berhenti untuk bermain-main. Meskipun hubungan keduanya adalah hasil perjodohan, dan meskipun sampai saat ini Mahen belum menyetubuhi Candrima, Mahen tidak akan melanggar sumpahnya di hadapan Tuhan.
Candrima selalu sigap melayani dan mengerjakan tugasnya sebagai istri. Memasak dan membuatkan bekal untuk Mahen, menyiapkan pakaian kerja, sampai menyiapkan air hangat untuknya mandi. Namun yang menjadi pertanyaan bagi Mahen adalah, mengapa Candrima selalu menghindar tiap Mahen akan menyentuhnya?
Tugas dan kewajiban istri sudah Candrima penuhi, kecuali satu— melayaninya di atas ranjang.
Larut dalam lamunan, Mahen sampai tidak sadar jika satu persatu tua bangka yang duduk di sampingnya sudah menghilang. Menyisakan Pak Waluyo juga beberapa orang LC yang belum terpilih.
“Pak Mahen, kok bengong saja. Apa LC yang saya tawarkan kurang cantik?”
Dalam hati Mahen menyetujui. LC yang berada di hadapannya ataupun yang sudah pergi masih kurang cantik jika dibandingkan dengan istrinya, Candrima.
Mahen tersenyum simpul. “Ah, bukan gitu, Pak Waluyo.”
“Terus kenapa nih, Pak? Saya yang traktir, mau main di kamar yang disediakan di atas atau di hotel juga bebas. Tenang saja, Pak Mahen nggak usah mikirin ongkos.”
Andai Pak Waluyo tahu, jika bukan ongkos yang Mahen pikirkan. Mahen bisa membeli tempat karaoke ini jika dirinya mau.
Kepala Mahen berpikir keras, bagaimana jalan keluar agar dirinya tidak perlu menyewa LC yang sekarang sedang menatap penuh minat ke arahnya dan tanpa menyinggung perasaan Pak Waluyo?!
Lalu sebuah ide muncul begitu saja ketika otaknya terus menerus menampilkan wajah cantik Candrima.
“Saya sudah punya LC langganan di kota ini. Kalau Pak Waluyo nggak keberatan, boleh saya telpon LC langganan saya saja untuk menemani malam saya?”
“Oh, tentu! Boleh Pak Mahen, boleh sekali. Ditelpon saja, suruh ke sini. Nanti saya bayarin sewanya sekalian kamar hotel.”
"Saya permisi sebentar." Ujar Mahen, melipir ke ujung ruangan untuk menghubungi sang istri.
Ponsel miliknya Mahen keluarkan, membuka aplikasi whatsapp, ia buka ruang obrolan bersama istrinya. Kering. Begitu pikir Mahen ketika membaca beberapa obrolan yang berada di layar. Candrima cenderung pasif, jarang membuka obrolan dan hanya menjawab Mahen sekenanya. Mahen masih berpikir jika sikap Candrima yang masih tertutup hanya karena belum terbiasa akan kehadiran dirinya yang tiba-tiba. Mahen selalu berharap, akan datang hari di mana Candrima membuka hati untuknya.
Mahen menekan tombol memanggil, ia berharap istrinya itu dapat bekerjasama untuk menolong dirinya dari jerat wanita penghibur. Cukup lama menunggu panggilannya diangkat, sempat Mahen berpikir jika Candrima enggan untuk menjawab telepon darinya. Tapi kemudian, asumsi Mahen terpatahkan ketika suara Candrima terdengar di telinga.
"Halo?" Sapaan Candrima terdengar sedikit serak, seperti orang yang baru dibangunkan dari tidurnya. Ia melirik jam yang ia kenakan di tangan kiri, sudah pukul sepuluh malam. Memunculkan perasaan sedikit tidak enak di hati kepada sang istri sebab sudah mengganggu waktu tidurnya. Namun mau bagaimana, ini jalan terbaik untuk keluar dari tawaran Waluyo.
"Ca, kamu udah tidur?"
"Hmm. Kayaknya ketiduran pas baca buku."
"Maaf jadi kebangun."
"Nggak papa, Mas. Kenapa nelfon? Belum kelar urusan kamu?"
"Belum. Suntuk ya, nunggu Mas seharian di hotel?" Candrima bukan tipe istri yang suka mengekang. Ia tidak banyak tanya jika Mahen mempunyai urusan di luar kota, tidak pula ribut ingin ikut suaminya kemana-mana. Tapi kemudian, Mahen sendiri yang meminta Candrima untuk ikut kemanapun ketika dirinya ada dinas luar. Mahen khawatir meninggalkan Candrima sendirian di rumah besar yang hanya dihuni oleh mereka berdua bersama beberapa ART.
" Nggak, kok. Tadi habis nyari kopi juga sama Dafa ."
"Oh, syukurlah." Mahen menghela nafas, jujur dalam hati merasa sedikit kecewa, seharusnya ia yang menemani Candrima membeli kopi. "Ca… sebenernya Mas mau minta tolong."
" Minta tolong apa? File kamu ada yang ketinggian di kamar hotel?"
"Ah, nggak. Mas butuh kamu nyusul ke sini."
Ada hening yang menyita obrolan. Sampai kemudian Candrima kembali bertanya. "Ke mana?"
"Nanti dianter sama Dafa. Bisa ya, Mas minta tolong."
" Iya… "
"Ca, satu lagi."
" Kenapa, Mas ?"
"Pakai pakaian yang Dafa bawa. Jangan tanya apa-apa, ya. Nanti aku jelaskan."
" Oke ."
Selesai telpon berakhir, Mahen langsung menghubungi sekretaris pribadinya yang juga ikut perjalanan dinas luar kota. Mahen mengajak aspri nya itu selain untuk membantu pekerjaan, juga untuk menjaga Candrima.
"Daf, tolong beliin baju dengan potongan bahu terbuka dan di atas paha. Terus kasih ke Candrima. Aku kirim lokasi, kamu antar dia ke sini. Satu jam dan semuanya beres, bisa?"
"Siap, Pak."
[]
Pertama, Candrima dibuat kaget saat Mahen menelpon. Ia sedang berada di alam mimpi saat gawainya berdering nyaring dan bergetar di atas kasur, menampilkan nama Mahendra pada layarnya.
Ternyata sang suami menyuruhnya untuk menyusul. Entah kemana. Tapi Candrima memilih untuk belajar percaya pada Mahendra dan mengiyakan permintaan tolong darinya.
Namun kemudian, Candrima kembali dibuat kaget saat Dafa sudah kembali setelah mengabari akan pergi terlebih dahulu untuk membeli pakaian pesanan Mahen. Begitu ia menjembreng baju yang Dafa bawa, mulutnya menganga lebar.
Apa-apaan….
Apa yang ada di pikiran Mahen ketika membelikannya dress berbahan satin dengan pita tipis di bagian bahu. Bahkan Candrima yakin, panjang dress ini tidak akan menutupi bagian bokongnya ketika ia menunduk.
Segera Candrima memanggil sang suami melalui telfon.
"Sudah di mana?"
"Masih di kamar."
"Masih lama, Ca?"
"Aku mau tanya dulu. Kamu ngga salah belikan aku baju?"
"Oh… oke aku paham. Tapi nggak apa-apa, dipakai aja ya, Ca. Mas minta tolong. Just for tonight. "
"Mas, tapi ini pendek banget. Aku nggak biasa pakai pakaian kayak gini."
Mahen jelas tahu perempuan itu tidak terbiasa mengenakan pakaian mini. Candrima berasal dari keluarga terhormat yang berasal dari daerah dan masih menjunjung norma kesopanan. Berbeda dengan kultur perkotaan dimana Mahen berasal, berpakaian terbuka seperti itu masih jadi hal tabu untuk Candrima.
"Mas tahu, Ca. Dan Mas minta maaf. Tapi ini mendesak."
Candrima rasanya mau menangis. "Jelasin, please ?"
Di ujung telpon sana, terdengar Mahen menarik nafas dalam sebelum menjawab, "Pak Bupati maksa Mas untuk pakai jasa LC sebagai hadiah deal kami. Mas nggak mau. Jadi Mas pura-pura udah punya LC langganan dan itu kamu. Maaf. Bukan maksud mau merendahkan, tapi Mas lagi terdesak."
"Kenapa Mas nggak mau… pakai LC?"
Candrima bisa mendengar tawa Mahen, seolah pertanyaan darinya begitu lucu. "Jelas karena Mas sudah punya istri. Mas sudah punya kamu."
Mendengar jawab Mahen, entah mengapa malah menghadirkan sesak di dada Candrima. Perempuan itu langsung teringat ketika malam di mana mereka baru saja menyelesaikan resepsi pernikahan.
Di halaman belakang, di antara gelap juga rimbun pohon yang menyembunyikan, Mahen sedang berciuman dengan perempuan lain.
Jadi ketika mendengar alasan Mahen tidak ingin menyewa LC untuk bersenang-senang dengan alasan ia sudah menikah, hal itu terdengar bagai ironi di telinga Candrima.
Lalu kenapa kamu berciuman pada malam dimana baru saja kamu berjanji kepada Tuhan untuk setia?
Tidak mendapat jawaban apa-apa dari sang istri, Mahen kembali bersuara. "Ca? Kamu marah? Yaudah nggak apa-apa, Mas bisa —"
"Iya, tunggu sebentar. Aku ke sana."
"Makasih banyak, Ca. Makasih banyak!"
Anehnya, girang seorang Mahen dapat Candrima rasa hanya dari mendengar suaranya. Seolah-olah lelaki itu begitu berharap jika ia akan datang dan menyelamatkan.
[]
Pemandangan di depannya sungguhan membuat Mahen muak. Bertahan selama hampir satu jam dengan menonton Pak Waluyo menjamah tubuh dua wanita molek, rasanya Mahen mau menyerah. Ia sudah berusaha menyibukkan diri dengan membuka social media dan menggulir laman beranda. Namun tetap saja suara desah juga ciuman basah sesekali terdengar dari arah depannya.
"Pak Mahen, kok lama sekali LC langganan Pak Mahen datang? Nggak mau icip-icip yang ada di sini dulu?" Pak Waluyo bertanya ditengah kesibukannya menerima kesenangan.
Mahen menggeleng. "Ah, nggak perlu, Pak Waluyo. Tadi katanya sedang ada pelanggan, jadi memang agak lama."
"Serius Pak Mahen? Nggak bosen nih —"
Belum juga perkataan Waluyo usai, Mahen menyela dengan bangkit berdiri ketika dua matanya menangkap sosok Dafa juga istrinya yang terlihat berjalan ragu di belakang pemuda itu.
" She's here ." Mahen berucap, mengabari Pak Waluyo jika sosok yang dinanti sedari tadi sudah datang. " She's here ." Ucapnya lagi, kini lebih pelan. Yang ini, Mahen ucapkan untuk diri sendiri, meyakinkan jika Candrima benar-benar ada di sini.
Candrima begitu cantik meski perempuan itu terlihat begitu kikuk. Mahen yakin benar Candrima merasa sangat tidak nyaman berkeliaran dengan baju terbuka.
Tapi sial. Belahan dada itu benar-benar berhasil membuat Mahen segar kembali setelah seharian suntuk beraktifitas.
Segera Mahen menghampiri Candrima, ingin membuat istrinya merasa aman dengan berdiri di sampingnya. Dirangkulnya tubuh yang lebih kecil, kemudian ia usap bahu Candrima yang terbuka sebab Mahen bisa merasakan dingin di sana.
Halus banget.
Demi Tuhan, hanya memegang bahu telanjangnya saja sudah membuat Mahen merasakan getaran.
Dan nyatanya, Mahen tidak sendirian. Candrima juga merasakan getaran itu saat Mahen mengusap-usap bahunya pelan. Sentuhan itu menyalurkan hangat yang begitu mujarab menghilangkan dingin dari ganasnya malam.
Ini pertama kalinya Candrima membiarkan Mahen menyentuh tubuhnya dalam waktu yang cukup lama. Biasanya ia akan segera menepis sentuhan dari sang suami, dan Mahen akan pasrah begitu saja menerima penolakan darinya. Tapi untuk saat ini, berada dalam rengkuhan Mahen membuat Candrima merasa begitu aman. Sebab sedari dirinya keluar dari mobil dan memasuki tempat karaoke, mata para lelaki begitu buas menatapnya. Tidak terkecuali dengan Pak Waluyo, Candrima merasa risih ditatap penuh nafsu oleh lelaki tua itu.
Terdengar siulan dari bibir hitam pak Waluyo. Matanya yang jelalatan terus memperhatikan Candrima dari atas sampai bawah. Mahen ingin sekali mencolok dua mata tersebut. "Cakep betul, pantes nih Pak Mahen menolak cewek-cewek dari saya."
Candrima dapat merasakan rengkuhan Mahen mengerat. " Right. She's so pretty ."
"Hmm… boleh dong saya juga kapan-kapan pake jasa kamu? Yang megang kamu siapa? Dari ahensi mana? Mau aku hubungi juga nih he he he."
Dalam rengkuhan Mahen, Candrima mengkerut. Dirinya begitu risih dan merasa dilecehkan. Tidak sadar, Candrima balas memeluk Mahen seolah mencari perlindungan.
"Aduh, kok malu-malu begitu. Cantik-cantik begini tapi seperti masih amatiran ya, Pak Mahen." Kembali lelaki tua itu berkoar yang membuat Candrima makin merasa tidak nyaman.
"Kalau gitu saya pergi, Pak Waluyo." Mahen berpamitan tanpa berniat menjawab pertanyaan dan omongan dari si Bupati. Rasanya hanya ingin segera mengajak Candrima pergi dari tempat ini.
"Eh tunggu-tunggu. Ini, bawa kartu nama saya. Bilang saja ke resepsionis hotelnya kalau nanti segala biaya saya yang bayarin. Semua perhotelan di kota ini sudah paham, Pak Mahen. Selamat hepi-hepi , bos!"
Mahen tersenyum sopan meski hatinya sudah dilanda geram. Ia terima kartu nama milik Pak Waluyo, lalu mengucapkan terima kasih dan lekas membawa pergi tubuh Candrima yang bisa Mahen rasa sedikit gemetar.
Sepanjang jalan menuju parkiran, Mahen tidak berhenti membisikkan permintaan maaf kepada istrinya. "Maaf, Ca. Maafin Mas."
Candrima tidak membalas apa-apa.
[]
Begitu sampai di dalam mobil, sepasang suami istri itu duduk di kursi belakang dan membiarkan Dafa untuk berada di balik kemudi.
"Kita mau kemana, Pak?" Dafa bertanya sambil memandang Mahen lewat pantulan kaca depan.
Tidak langsung menjawab tanya dari sang aspri, Mahen memilih bertanya dulu kepada sang istri. "Mau mampir kemana dulu nggak, Ca?"
Yang ditanya malah membuang pandang menuju luar jendela, tidak berani dirinya menatap Mahen yang sekarang masih betah memeluknya. Tangan pria itu kini bertengger nyaman di perut langsingnya. "Balik ke hotel aja."
"Nggak mau jalan dulu? Besok kita udah balik ke Jakarta. Kamu nggak bosen di hotel seharian?"
"Aku nggak nyaman pake baju ini." Candrima berkata lirih.
"Oke, balik hotel aja." Mahen kini tidak lagi memperdulikan apakah nanti Pak Waluyo akan bertanya mengenai dimana ia menghabiskan malam untuk bersenang-senang. Mahen tidak lagi memperdulikan jika saja kemudian Pak Waluyo merasa kurang dihargai sebab hadiah darinya tidak terpakai. Yang terpenting bagi Mahen sekarang adalah kenyamanan untuk sang istri.
"Daf, ke hotel." Perintah Mahen kemudian kepada asprinya.
Begitu mobil melaju meninggalkan tempat hiburan yang makin malam makin ramai, Candrima berkata pelan. "Udah, kamu bisa lepasin pelukannya."
Padahal Mahen masih ingin dekat-dekat dengan memeluk Candrima, tapi Mahen harus menelan kecewa sebab Candrima kembali menolaknya.
Ia turuti apa mau sang istri. Pelukannya terlepas, duduk yang kini berjarak berjarak dan keduanya sibuk menatap pijar lampu kota dari balik kaca jendela masing-masing.
[]
Berjalan di belakang sang istri nyatanya membuat Mahen banyak menelan ludah. Candrima memang cantik, fakta itu sudah Mahen ketahui dari awal keduanya berjumpa. Namun melihat bagaimana Candrima di hadapannya berjalan dengan dress mini yang membentuk lekuk tubuh, Mahen baru menyadari jika perempuan itu begitu seksi. Sebab Mahen terbiasa melihat Candrima dengan kaos kebesaran dan celana rumahan yang panjang, ditambah fakta jika Mahen belum melihat tubuh polosnya. Tubuh Candrima memang bagai harta karun yang masih tertutup peti.
Oh God . Malam ini Candrima terlihat begitu menggoda.
Di tempat karaoke tadi Mahen keburu dilanda panik dan perasaan resah jika istrinya merasa tidak nyaman karena terganggu dengan bagaimana cara banyak lelaki di sana memandangnya. Tidak ada pemikiran yang mengarah kepada sesuatu yang berbau seksualitas — kecuali bagaimana belahan payudara milik Candrima yang sempat membuat Mahen sedikit tidak fokus. Sekarang, mereka hanya berduaan menyusuri lorong hotel yang sepi. Dan dalam pikiran Mahen, mungkin sebaiknya Candrima merasa waspada akan bagaimana cara dirinya memandang ia.
Dalam diam Mahen terus mengikuti langkah Candrima. Paha milik Candrima yang mulus tidak lepas dari tatapnya. Rambut sebahu perempuan itu disanggul asal, menampilkan pundak dan leher yang bagi Mahen kini terlihat begitu menggiurkan.
Sisi buas dalam diri Mahen memilih keluar malam ini. Dirinya ingin Candrima, dan itu harus terlaksana. Lagi pula mereka sudah menikah, lantas apa yang salah dari meminta hak nya sebagai suami untuk dipenuhi kebutuhan batin yang sedari dulu ia ingin. Sudah cukup agenda mengalah dan pasrah atas penolakan dari Candrima tanpa tahu sebabnya apa.
Sepasang suami-istri itu memasuki kamar dengan tensi yang bisa keduanya rasa. Bagi Candrima sendiri, ia bisa merasakan tatapan Mahen yang menusuk punggung sedari mereka memasuki kawasan hotel. Mahen yang berjalan di belakangnya entah mengapa sedikit membuat Candrima merinding.
Setelah melepas flat shoes , maunya Candrima segera mengganti baju dengan yang lebih tertutup. Maka dari itu segera Candrima mengambil piyama tidur yang tadi sempat ia tanggalkan dan simpan di atas kasur. Kemudian Candrima melangkahkan kaki ke kamar mandi, berniat berganti baju di sana. Namun langkahnya terhenti saat Mahen tiba-tiba memeluknya dari belakang saat Candrima melewati lelaki itu.
“Mas… kenapa?” Jelas Candrima kaget dengan gerakan Mahen yang tiba-tiba memeluknya.
Mahen tidak menjawab, tapi dua lengannya sudah melingkar pada perut milik sang istri.
“Aku mau ganti baju, boleh lepas nggak…?” Ada nada memohon di sana. Tubuh milik Candrima juga menggeliat berusaha lepas dari pelukan Mahen.
Dagu milik Mahen kini dengan nyama bertengger pada bahu telanjang Candrima. Dengan suaranya yang sudah memberat, lelaki itu berkata, “Ca… kamu cantik banget. Jangan ganti baju dulu, sayang.”
Merinding. Demi Tuhan. Candrima merinding. Bulu-bulu di tubuhnya berdiri mendengar nada bicara Mahen. Ditambah perempuan itu bisa merasakan nafas Mahen yang memberat. Apalagi panggilan sayang itu. Gila. Candrima rasa dirinya akan ikutan bertindak tidak waras jika tidak segera melepaskan diri dari pelukan sang suami.
“Aku nggak nyaman— Mas!” Candrima kembali kaget bukan main saat dirinya merasakan basah dari bibir Mahen menyusuri pundak hingga leher. Sekuat tenaga Candrima memberontak, namun tubuh tegap Mahen mampu membuat Candrima mematung di tempat.
Di belakang sana, Mahen rasa dirinya sudah tidak bisa lagi membendung hasrat. Lelaki itu sudah mencicipi halus kulit sang istri. Wangi bunga yang menenangkan membuat Mahen begitu ketagihan. Bibirnya tidak bisa berhenti mencium dan menghisap pundak dan leher milik Candrima, hingga ruam keunguan mulai muncul pada kulitnya.
Tangan Mahen yang menjaga agar tubuh Candrima tidak bergerak, sekarang juga mulai melancarkan aksi. Tangan itu mencari benda kenyal yang jujur saja, sudah menarik perhatian di tengah kepanikannya tadi. Dengan pasti satu tangan milik Mahen meremas pelan payudara milik Candrima.
Anjing. Kenyel banget. Mahen membatin. Makin saja membuat monster dalam dirinya berontak untuk keluar.
“Mas– Mas please stop !” Sementara Candrima langsung berusaha melepaskan tangan Mahen dari payudaranya. Membuat piyama yang sedari tadi ia genggam jatuh begitu saja. Ada gelenyar panas yang Candrima rasa, dan Candrima yakin dirinya akan sangat menikmati sentuhan sang suami jika saja bayangan Mahen sedang berciuman dengan perempuan lain bisa berhenti berputar di kepalanya.
Namun Mahen tidak mendengarkan. Ia menulikan diri, tidak mempedulikan rengekan dari Candrima yang menginginkannya untuk berhenti.
Ciuman Mahen semakin panas. Beberapa ruam ungu mulai muncul di leher milik Candrima. Kuping sang istri juga tidak lupa menjadi incaran. Mahen jilat dan gigiti kuping itu sampai basah dengan tangan yang tidak berhenti meraba tubuh Candrima.
Candrima bisa merasakan sesuatu seperti menusuk pantat miliknya. Oh, tidak … suaminya sudah terangsang. Candrima menggigit bibir menahan desah yang ingin keluar saat tubuhnya tidak berhenti mendapat stimulus dari sang suami. Sekarang bahkan lelaki itu menggesekkan bagian depan tubuhnya pada pantat milik Candrima. Demi apapun, Candrima akan sangat menikmati hal ini, jika saja Mahen tidak pernah menghianati janji untuk setia pada malam pernikahan keduanya.
Bercerai bukan solusi bagi Candrima. Nama besar kedua orangtuanya jadi taruhan. Ia hanya harus bertahan dengan tidak akan mau melayani sang suami jika lelaki itu masih suka memuaskan nafsu dengan perempuan di luaran sana.
Hingga akhirnya, Mahen tidak bisa lagi menulikan diri saat pendengarannya menangkap suara tangisan yang terdengar begitu lirih.
Candrima menangis.
Istrinya menangis.
Mahen melonggarkan pelukannya. Membuat tubuh Candrima yang lemas karena dari tadi terus melawan jatuh di atas karpet tebal.
Tubuh Mahen kini ikut berjongkok di hadapan Candrima. Mahen saksikan bagaimana tangis Candrima belum juga berhenti.
Kemudian lelaki itu tertawa. Namun jelas tawanya kosong. Ia merasa malu. Tidak pernah Mahen merasa se-tidak diinginkan ini. Bahkan untuk menggauli istrinya— yang sah di mata hukum dan agama— Mahen harus bertindak seperti seorang pemerkosa.
"Sebegitu nggak maunya kamu melayani Mas, Ca?"
Candrima belum mampu menjawab. Ada pertentangan di hatinya mengenai haruskah dirinya jujur atau tidak jujur atas keberatannya jika Mahen masih suka main perempuan. Maksud Candrima, pernikahan ini juga bukan atas dasar cinta. Jadi ada ketakutan ketika dirinya melarang Mahen untuk berhenti atas gaya hidup yang selama ini dijalani, Mahen akan membalas, "kita ini bukan apa-apa selain dari orang asing yang terikat pernikahan."
Mahen menatap Candrima frustasi. Sesak dalam celana Mahen tidak seberapa dibanding sesak yang ia rasakan di dada. Hanya kenapa, kenapa dan kenapa. Pertanyaan itu terus menghantui Mahen selama lima bulan ini.
"Kenapa, Ca?" Mahen bertanya putus asa. Malam ini, Mahen pastikan tidak akan ada lagi tanya yang menggantung. "Kenapa kamu selalu menolak Mas ajak berhubungan?"
Mendengar pertanyaan dari Mahen, yang paling Candrima sesali hanyalah bagaimana lelaki itu terdengar sangat tersiksa. Kecewanya lelaki itu seperti mampu Candrima rasa. Padahal seharusnya tidak seperti ini . Padahal seharusnya jika Mahen masih suka bersenang-senang dengan wanita lain, keberadaan Candrima tidak akan berarti apa-apa. Kepuasan masih bisa Mahen terima dari liang manapun yang Mahen suka.
Tapi kenapa….
"Lima bulan, Ca. Mas nahan hasrat selama lima bulan!" Frustasi membuat suara Mahen agak bergetar. "Mas hargai kamu dengan nggak memaksa. Tapi kamu terus menolak, menolak, menolak. Mau sampai kapan? Pernikahan kita memang mendadak, mungkin perasaan kamu buat Mas juga belum ada. Tapi kalau keintiman diantara kita nggak kita mulai, nggak kita bangun, kapan kita bisa jatuh cinta berdua?"
"Mas mau jatuh cinta sama istri Mas sendiri, Ca. Apa Mas salah?"
Menerima pernyataan yang terdengar begitu jujur dari mulut sang suami, Candrima merasa jika mungkin… akan adil jika Mahen juga mengetahui apa alasan dibalik penolakannya. Sebab dari yang Candrima tangkap, Mahen ingin mulai membangun rasa. Jadi mungkin ketika Candrima meminta agar rasa itu tidak perlu dibagi kepada perempuan lain, Mahen juga akan mengerti.
"Salah… kalau kamu bilang begitu… tapi ternyata masih suka main perempuan di belakang aku." Akhirnya Candrima bersuara meski dengan terisak.
Alis Mahen bertaut mendengar ucapan Candrima. Ia bingung. Jelas bingung. "Maksud kamu?"
"Aku tahu… kalau Mas Mahen masih suka main perempuan." Masih dengan tangisnya, Candrima coba menjelaskan. "Mas… maafin aku. Tapi aku nggak mau… kita berhubungan kalau kamu aja masih doyan jajan di luar."
"Ca, Mas berani sumpah udah nggak pernah lagi main perempuan semenjak dikenalkan sama kamu!" Bantah Mahen, tidak terima dirinya dituduh seperti itu.
Meskipun memang Mahen akui ketakutan Candrima beralasan. Dirinya begitu terkenal tukang gonta-ganti perempuan sebelum dijodohkan. Mungkin Candrima juga beberapa kali dicekoki informasi ini oleh sepupu-sepupu Mahen yang tidak begitu menyukai dirinya. Tujuannya untuk apalagi selain menjelekkan citra Mahen dan membuat Candrima berpikir ulang atas pernikahan yang akan terlaksana. Sebab harus Mahen akui, pernikahannya dengan Candrima akan semakin menguntungkan usaha keluarganya di bidang properti mengingat keluarga Candrima merupakan seseorang yang berpengaruh. Namun kala itu, Candrima memilih percaya pada Mahen dan meneruskan perjodohan.
Hingga akhirnya, Candrima menyaksikan sendiri jika janji Mahen untuk setia hanyalah omong kosong belaka.
"Oh ya?" Tanya Candrima, tentunya tidak percaya.
Mahen beranjak berdiri. Kakinya mulai kesemutan karena kelamaan berjongkok. Kepalanya menengadah dengan tangan memijat pangkal hidung.
"Itu dulu, Ca. Itu dulu! Sekarang cuma ada kamu di hidup Mas!" Mahen menjawab penuh keyakinan.
Meskipun dengan kaki yang masih terasa lemas, sekuat tenaga Candrima berusaha untuk berdiri. Kini kedua insan itu saling berpandangan. Beragam emosi tersembunyi dari netra yang berlinang air mata, tidak hanya Candrima, nyatanya Mahen juga.
Mahen bisa melihat jelas bibir Candrima bergetar ketika pertanyaan nya yang kali ini terlontar. "Terus kenapa kamu ciuman sama perempuan lain di hari pernikahan kita, Mas? Aku lihat. Di taman belakang rumah kamu… Aku lihat kamu … " Bahkan Candrima tidak mampu meneruskan. Tangisnya membesar. Hal yang selama ini dirinya pendam, pertanyaan yang sangat Candrima takuti kebenarannya, akhirnya terucap dari mulut.
Keadaan Mahen sekarang? Tubuhnya mendadak kaku seperti disiram air es. Rahasia yang mau ia kubur dalam-dalam nyatanya diketahui oleh sang istri. Kesadaran lalu menghujam bagai panah.
Jadi Candrima melihat ciumannya dengan perempuan lain di malam itu.
Jadi ini pula yang menyebabkan Candrima enggan untuk ia sentuh.
"Ca… ini semua nggak seperti apa yang kamu pikir." Mahen mendekat pada sang istri. Kini dirinya berusaha meraih Candrima untuk dipeluk.
Candrima berusaha menolak. Perempuan itu mundur beberapa langkah untuk menghindar tubuh tegap Mahen. Tapi apa Mahen kini menyerah? Tidak. Jelas tidak.
Ada kesalah pahaman yang terbentang. Dan Mahen akan pastikan jika Candrima benar-benar dapat mendengar penjelasan darinya.
Dengan segala kuasa yang Mahen punya, pada akhirnya Candrima tidak lagi memiliki ruang gerak sebab betis perempuan itu sudah menyentuh ujung kasur. Maka Mahen memanfaatkan hal ini untuk membawa Candrima dalam dekapnya. Meskipun tetap mendapat perlawanan dengan Candrima yang tidak berhenti memukuli dada Mahen sambil menangis dan meraung, Mahen dengan sabar terima itu semua.
Ia biarkan Candrima menangis tersedu, namun tangan besar lelaki itu tidak henti mengusap punggung sang istri. Berharap sedikitnya membawa ketenangan untuk Candrima. Berharap dirinya akan diberi kesempatan untuk menjelaskan.
Tangis Candrima mereda. Jujur, dirinya merasa begitu capek. Tapi Mahen Masih sedia memeluk tubuhnya. Dan itu terasa nyaman. Candrima membenci fakta tersebut.
Mahen merasa jika sekarang adalah momentum yang tepat baginya memohon untuk didengar. “Mas mau jelasin, Ca. Kamu mau dengerin Mas? Nggak butuh dari sepuluh menit. Mas harus ngelurusin salah pahamnya kita.”
Mati-matian Mahen menahan air mata. Meskipun keduanya belum saling jatuh cinta, namun bagi Mahen melihat Candrima menangis dan dirinya yang menjadi penyebab utama adalah suatu mimpi buruk.
“Gimana kalau aku nggak mau dengerin?” Candrima berbisik. Wajahnya masih bersembunyi pada dada Mahen yang sudah basah namun Candrima masih enggan untuk beranjak dari sana. Bukan hanya Mahen, Candrima juga menahan ingin untuk dimanjakan seperti ini, dipeluk seperti ini, disentuh seperti ini. Candrima juga ingin.
“Maka Mas nggak akan maksa kamu. Tapi Mas akan selalu berusaha, sampai kamu mau mendengar, sampai hubungan kita akan seperti selayaknya suami-istri yang kamu impikan. Ca, Maaf Mas udah ngerusak kepercayaan kamu. Tapi Demi Tuhan… semua nggak seperti yang kamu pikirkan.”
Hubungan selayaknya suami-istri yang selalu Candrima impikan?
Seperti dicintai secara damai dan di dalamnya penuh saling paham. Dimana di dalamnya Candrima tidak akan lagi tertidur dengan hatinya yang selalu merasa gamang. Dimana di dalamnya Candrima tidak lagi perlu menerka-nerka akan sebuah kesetiaan.
Mahen menawarkan hal tersebut kepada Candrima. Dan Candrima akan merasa menyesal jika harus melewatkan kesempatan ini. Hanya perlu mendengarkan, bukan? Tidak akan ada ruginya bagi Candrima. Bahkan jika kejujuran dari Mahen malah membuat dirinya merasa semakin kecewa, Candrima rasa ini juga saat yang tepat untuk memikirkan mengenai perpisahan. Dirinya hanya akan berharap kedua orang tuanya akan mengerti tanpa mengadili.
Pria berumur tiga puluh empat itu patut bernafas lega saat ia bisa merasakan sebuah anggukan kecil di dadanya. Lalu suara merdu Candrima menyusul, membuat Mahen tidak sabar untuk meluruskan kesalah pahaman ini kepada sang istri. “Aku mau dengerin.”
Tubuh mungil Candrima Mahen bawa untuk duduk di pangkuannya. Sekarang Candrima memilih untuk menurut, sama sekali tidak ada perlawanan di sana. Meskipun Candrima sedikit merasa tidak nyaman, sebab dipangku seperti ini membuat bajunya semakin tersingkap dan paha miliknya semakin terbuka.
“Kenapa harus dipangku?” Candrima mengutarakan tanya dengan pipi yang bersemu. Karena ini adalah pertama kali dalam keadaan sukarela ia berada sedekat ini dengan sang suami.
Mahen tersenyum. Kedua tangannya memerangkap tubuh Candrima dalam pelukan. “Supaya kamu nggak lagi bisa menghindar. Supaya penjelasanku bisa aku pastikan kamu dengar, Ca.”
Candrima membuang muka. “Yaudah… ayo jelasin.” Candrima memainkan jarinya gelisah di pangkuannya sendiri. Perempuan itu belum tahu harus menempatkan tangannya di mana.
“Ca… lihat Mas, please ?” Satu tangan Mahen bergerak menyentuh wajah Candrima. Mengarahkan supaya mata keduanya saling bertemu.
Jemari Mahen bergerak halus mengusap jejak air mata yang mulai mengering di pipi sang istri. Ia pandang Candrima dalam, penuh pengertian dan penuh pengharapan.
Ditatap begitu dalam oleh Mahen, Candrima selalu takut tenggelam di sana.
“Dia karyawan Mas. Staff hotel pusat.” Mahen memulai penjelasannya. Tangannya tidak berhenti bermain di pipi halus milik Candrima. “Kamu tahu, kan… kalau memang dulu Mas suka main perempuan. dia salah satunya. Mas minta maaf buat itu, Ca. Buat masa lalu Mas yang bobrok dan Mas nggak akan bisa ubah. Tapi Mas udah janji sama Bapak kamu dari awal pertemuan kita, kalau Mas akan berhenti main-main. Dan Mas tepatin janji itu. Mas berhenti, nggak ada lagi perempuan selain kamu setelahnya.”
Salah satu yang amat disesali Mahen, bermain-main dengan seseorang yang ia kenal. Mahen sangat menyesali sudah mau menerima tawaran dari si pegawai tanpa tahu jika nantinya si pegawai malah banyak tuntutan.
Candrima menunduk. Bibir bawahnya ia gigit gugup. Haruskah ia percaya kepada sang suami?
“Tapi malam itu kalian…”
“Dia nggak terima hubungan kami yang memang tanpa status dan rasa itu Mas sudahi.” Mahen langsung menjawab, memotong ucapan Candrima. “Dia datang ke pernikahan kita, terus dia bohong sama Mas. Dia bilang ingin ketemuan berdua untuk nyerahin bukti salah satu pegawai kami yang lain melakukan korupsi. Bodohnya Mas percaya. Tapi kemudian dia malah cium Mas tiba-tiba. Mungkin itu yang kamu lihat. Tapi yang harus kamu percaya, Ca… ciuman itu sama sekali nggak Mas inginkan dan nggak Mas balas. Secepat mungkin juga Mas dorong dia supaya ciuman kami terlepas.”
Bisa jadi perkataan Mahen benar. Sebab dalam ingatan Candrima, ia melihat perempuan itu mencondongkan tubuhnya terlebih dahulu kepada Mahen. Lalu Candrima yang tidak sanggup meneruskan aksi mengintipnya secepat kilat berbalik memasuki rumah tanpa tahu adegan apa selanjutnya yang terjadi.
Candrima belum menjawab apa-apa. Mungkin perempuan itu masih belum seratus persen bisa percaya. Siapa pula yang bisa dengan cepat mempercayai omongan mantan buaya.
Maka Mahen mengeluarkan ponsel miliknya, ia membuka whatsapp dan membuka blokiran nomor si pegawai. Kemudian Mahen menekan tombol memanggil. Tidak memerlukan waktu lama, panggilannya dijawab. Lelaki itu juga menekan tombol pengeras suara agar sang istri bisa mendengar percakapan yang terjadi.
“Ngapain lagi Bapak nelpon saya?” Nada ketus langsung menyambut Mahen dan Candrima.
Mahen sendiri bersikap begitu tenang, berbanding terbalik dengan si karyawan. “Jelasin kejadian saat kamu nyamperin saya di malam pernikahan saya.”
“Buat apa lagi?! Nggak cukup bapak mecat dan mempermalukan saya di depan staff hotel lain, hah?” Dua hari setelah cuti menikahnya selesai, Mahen langsung kembali bekerja. Dan ia memang langsung memecat si perempuan di depan karyawan lain.
“Kamu pantes dapetin itu setelah menjebak dan mencium saya secara paksa.”
“Dasar laki-laki brengsek!”
Lalu panggilan terputus begitu saja.
Menyisakan Candrima yang dilanda kaget menerima fakta jika hal ini pernah dilalui oleh sang suami.
Mahen simpan ponsel miliknya di atas kasur. Kembali ia tatap Candrima yang terlihat masih kaget. “Aku rela kelihatan brengsek di mata orang-orang, Ca. Asal nggak di mata kamu, di mata istriku. Aku harap kamu nerima maafnya aku dan paham kalau malam itu, sama sekali aku nggak berniat untuk ngekhianatin kamu.”
Sekarang, yang Candrima rasa sepenuhnya adalah perasaan lega. Suaminya terbukti tidak berkhianat.
Kedua tangan milik Candrima tidak lagi kebingungan untuk berlabuh di mana. Kedua tangan itu kini sudah melingkari leher sang suami. Candrima peluk erat tubuh Mahen. Wajah miliknya mendusal pada leher milik lelaki itu.
Lalu Candrima berbisik, “aku percaya sama Mas.”
Mahendra Danishwara tersenyum lebar untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Pria itu memeluk balik tubuh istrinya, mengusap-usap punggung kecil milik Candrima dan mengangguk penuh kemenangan. “Makasih banyak, Ca.”
Untuk beberapa saat keduanya hanya diam saling mendekap. Pelukan ini — bagi Candrima juga Mahen — adalah awal dari membangun intimasi. Tidak ada paksaan, juga tidak ada yang menghindar. Hanya ada nyaman yang mereka rasa.
Sampai akhirnya Candrima melerai peluk, perempuan itu mulai merasa dingin dari ac kamar hotel yang mengenai tubuhnya sebab ia masih mengenakan dress mini .
“Aku mau ganti baju dulu, ya. Dingin.”
Ada perasaan sedikit tidak rela yang Mahen rasa. Lelaki itu masih haus tubuh Candrima. Bagaimanapun ia hanyalah seorang lelaki dewasa yang selama lima bulan menahan hasrat untuk berhubungan badan dengan sang istri. Maka dari itu masih ada keinginan jika sebisa mungkin malam ini hasratnya akan terbalaskan dengan Candrima yang sama-sama merasakan nikmat.
“Ca … jangan ganti baju dulu.” Pinta Mahen, sama seperti tadi.
“Emang kenapa?”
Mahen mencium pundak telanjang Candrima dan tidak ada penolakan darinya. Sentuhan dari sang suami bukan lagi mimpi buruk bagi Candrima. “Nggak apa-apa.”
“Yaudah, turunin akunya.”
“Gini aja sayang.” Jawab Mahen di sela bibirnya yang masih sibuk menciumi pundak sang istri.
Candrima tertawa kecil. “Kamu nggak pegel emangnya?”
Mahen menggeleng cepat. Kepalanya sudah tidak lagi merunduk dan kini menatap penuh harap kepada Candrima. Tatapan mata Mahen yang selalu Candrima hindari sebab ia takut tenggelam, sekarang terlihat tidak lagi menakutkan. Candrima akan belajar berenang di sana, menyelami dalamnya pandangan Mahen akan ia, menyelami perasaan apa yang sebenarnya pria itu rasa. Maka kali ini, Candrima sama sekali tidak memalingkan wajah.
“Terus sekarang mau apa?”
Dalam tatap Mahen yang coba Candrima selami, ada hasrat di sana. Mata lelaki itu menggelap penuh gairah. Pandangannya tidak lepas dari wajah Cantik sang istri.
“Aku mau kamu, Ca.” Jawab Mahen jujur. “Kalaupun ada yang mau aku sentuh di malam pernikahan kita, itu adalah kamu, istriku. Aku cuma mau menyentuh istriku.”
Debar jantung Candrima meningkat dua kali lipat saat Mahen menyentuh dan mengusap bibir miliknya. “Bibir ini yang selalu aku damba. Ca, aku mau banget cium kamu.” Bukan bibir perempuan itu , lanjut Mahen dalam hati. Bukan pula bibir wanita manapun yang sempat aku tiduri.
“Tapi aku nggak jago ciuman. Aku takut Mas kecewa.” Melihat bagaimana sepak terjang sang suami, bukan tidak mungkin lelaki itu mempunyai standar akan bagaimana dirinya dipuaskan di atas ranjang. Ada kekhawatiran dalam diri Candrima jika ia tidak bisa memenuhi standar tersebut.
“Buktiin. Mas mau buktinya kalau kamu nggak jago ciuman. Cium Mas, Ca.”
Sejenak Candrima terdiam, berpikir haruskah ia benar-benar mencium sang suami. Tapi Mahen yang tidak lagi bisa menunggu, menarik dengan lembut tengkuk Candrima dan membuat kening mereka bertemu, wajah keduanya kini berjarak hanya dua ruas jari.
Candrima tersentak. Bisa ia rasakan nafas Mahen yang berhembus tepat pada wajahnya. Kemudian laki-laki itu berbisik, “Cium Mas, sayang.”
Maka dengan mata yang memejam rapat, Candrima sentuhkan bibirnya pada milik Mahen. Perempuan itu masih meraba-raba, dengan bibir yang tertutup rapat, ia terus mendaratkan ciuman — yang lebih pantas disebut kecupan — di bibir tipis sang suami.
Mahen melihat usaha sang istri, sedari tadi matanya terbuka saat menerima kecupan dari Candrima. Astaga, istrinya benar-benar menggemaskan. Alisnya bertaut penuh konsentrasi, ekspresi Candrima lebih mirip seseorang yang sedang ujian SIM dibanding berciuman. Tawa kecil kemudian keluar dari mulut Mahendra dan membuat Candrima secepat kilat berhenti mengecup Mahen
“Kenapa ketawa?” Tanya Candrima dengan wajah yang semerah tomat. Dirinya maluu.
“Kamu beneran nggak jago.”
“Tuhkan, aku udah bilang padahal.” Bibir bawahnya digigit dengan wajah berpaling ke samping. Sudah tidak lagi ada muka menatap sang suami.
Namun Mahen tidak membiarkan wajah itu berpaling terlalu lama. Satu tangannya menyentuh pipi Candrima dan membawa kembali wajah itu untuk kembali menghadapnya. “Mas akan ajarin kamu.”
Mahen yang kini memulai. Ia cium Candrima lembut. Satu tangan miliknya mengusap paha Candrima, sedang tangan yang lain membelai pipi istrinya. Mahen berharap Candrima bisa merasa rileks. Namun setelah beberapa saat, Mahen merasakan jika bibir Candrima masih kaku menutup rapat.
"Buka sedikit bibirnya, Ca." Pinta Mahen.
Candrima menurut, ia membuka sedikit bibir miliknya. Dan setelah itu, Candrima bisa merasakan jika bibir Mahen sangat tepat untuk mengisi celah bibirnya. Perempuan itu mulai meremang. Mahen menciumnya dalam, Candrima bisa merasakan bibir milik Mahen bergerak begitu sensual. Mencium, menghisap, sampai menggigit-gigit kecil bibir milik si perempuan.
Ditambah tangan Mahen yang tidak berhenti mengusap-usap pahanya hingga dress yang Candrima kenakan sama sekali tidak lagi menutupi pantat miliknya. Perempuan itu merasa kegelian. Jari-jemari Candrima meremat pundak Mahen sebagai pegangan.
Perempuan itu berusaha mengimbangi ciuman panas sang suami. Ada lenguhan yang keluar saat Candrima merasakan pahanya yang terus diusap pelan. Juga geraman pelan Mahen yang merasa gemas sekaligus terangsang dengan gerakan malu-malu istrinya. Sampai akhirnya Candrima kehabisan nafas dan melepaskan ciuman.
Mahen terlihat begitu puas. Basah bibir sang Candrima dilapnya menggunakan ibu jari. Bibir penuh sang istri terlihat membesar dan mengkilap. Rasanya Mahen ingin langsung menciumnya lagi kalau-kalau ia tidak melihat bagaimana Candrima terlihat sedang kesusahan mengatur nafas.
Dengan gerakan yang begitu mudah, Mahen mengangkat tubuh Candrima seakan perempuan itu seringan kapas. Tubuh sang istri kemudian Mahen tempatkan di tengah tempat tidur.
Dan Mahen, sudah mengklaim tempatnya untuk berada di atas tubuh Candrima.
“Ini aku yang bikin.” Ucap Mahen penuh kebanggaan, dengan jari yang menelusuri tanda keunguan yang tadi ia beri di leher Candrima.
Candrima merona. Dirinya sedang mengantisipasi apa yang akan Mahen perbuat lagi di malam ini.
“Aku boleh buat lagi, sayang?”
“Emang… Mas mau buat di mana lagi?”
Mahen tersenyum. “All over your body.”
Yang selanjutnya Candrima tahu sesaat setelah ia mengangguk adalah Mahen yang menurunkan dress miliknya sampai ke perut setelah membuka tali pita tipis yang berada di kedua pundaknya. Dan dengan begitu mudah, Mahen mengeluarkan dua payudara Candrima dari strapless bra yang kini nasibnya sudah teronggok di lantai kamar.
Bertumpu pada dua lutut, secepat kilat Mahen juga membuka kemeja dan celana bahan sampai ke dalaman. Tidak ada yang tersisa dari tubuh pria itu. Memberikan tontonan pada Candrima yang berada di bawahnya seberapa kokoh tubuh sang suami yang selama ini ia tolak untuk sentuh. Candrima terbelalak saat melihat penis milik Mahen. Gila. Gede banget . Milik suaminya kenapa begitu besar?!
Namun Candrima tidak diberikan banyak waktu untuk memikirkan penis sang suami yang begitu besar. Pikirannya sudah melayang saat Mahen melabuhkan hisapan pada payudara miliknya yang sudah mengeras terangsang.
“ Ahh… ” Jemari Candrima mengusap-usap rambut Mahen. Menyalurkan nikmat atas perlakuan sang suami yang sedang asyik menyedot payudaranya bergantian.
“ Hmmh… enak banget, Ca. Nyusu sama kamu enak banget.”
Satu tangan Mahen memijat-mijat payudara sang istri yang tidak ia kulum, merasakan betapa kenyal dan kencangnya benda itu. Sedang tangan yang lain sedang berusaha menerobos celana dalam sang istri yang sekarang makin mudah diakses setelah menyingkap dress yang istrinya kenakan. Dress itu sekarang bertumpuk di perut Candrima.
“ AHH MAS!” Candrima berteriak saat ia merasakan satu jari Mahen mencoba masuk ke dalam vagina miliknya.
Mahen mencabut jari itu dan mengacungkannya di hadapan Candrima. “Basah, Ca.”
Candrima sudah semakin memerah sampai ke leher-leher. Ia menerima ciuman Mahen di bibir sebelum lelaki itu berkata, “ I wanna claim you down there too. ”
Belum sempat Candrima mengerti, Mahen langsung memberinya penjelasan dengan mensejajarkan wajahnya di kewanitaan sang istri. Mahen lepas celana dalam pink yang Candrima kenakan, membuat Candrima sedikit tersentak.
Apalagi saat Mahen melebarkan dua paha milik Candrima. Rasanya Candrima begitu malu dan hanya ingin merapatkan kakinya kembali. Tapi jelas Mahen tidak membiarkan itu terjadi. Ia tahan dua paha itu untuk mengangkang. Dan vagina sang istri kini terlihat begitu jelas.
Tidak menyia-nyiakan waktu, Mahen mendekatkan wajahnya ke arah kemaluan Candrima. Indah. Indah sekali. Milik istrinya sama sekali tidak ditumbuhi bulu, sepertinya Candrima rutin melakukan waxing. Lalu lidahnya menjulur, ia jilat bibir vagina milik Candrima. Secara otomatis, tubuh Candrima bergetar. Perempuan ini benar-benar sensitif.
“Hnggh … Mas…”
Mahen jilat sekali, dua kali, ia jilat seperti sedang memakan ice cream. Enak. Enak. Istrinya terasa begitu enak.
“Ahhh…”
Di atas sana, Candrima sudah kelojotan. Pahanya bergetar tiap Mahen menjilati vaginanya. Dua tangan Candrima sibuk menggenggam bantal, menahan tubuhnya yang ingin meronta.
Mulut Mahen tidak berhenti memanjakan Candrima di bawah sana. Klitoris miliknya dihisap, dijilat. Rasanya Candrima sudah mabuk kepayang.
Merasakan bahwa sang istri sudah semakin basah, Mahen merasa jika ini saat yang tepat baginya untuk mengajak vagina milik Candrima dengan penis miliknya.
Mahen bangkit, ia mengelap basah bibirnya menggunakan punggung tangan. Ada perasaan kehilangan yang Candrima rasa. Sekarang vaginanya berkedut, seolah meminta untuk dimainkan.
Lalu Mahen merunduk, sekarang wajahnya berhadapan dengan milik sang istri yang sudah memandangnya sayu. “Ca, Mas masukin kontol punya Mas, ya?”
Tanpa sadar, Candrima sekarang mencari friksi untuk menggesekkan vaginanya yang terasa makin berkedut pada paha milik sang suami. Mahen yang menyadari hal tersebut tertawa kecil.
“ Hhhh… Mas …”
“Iya, Ca. Mas tahu. Mau kontol punya Mas, nggak?”
“Iya, mau… Mas… ayo.” Vaginanya terus ia gesekkan ke sana kemari, tapi itu belum cukup.
“Sabar, sayang. Kakinya kayak gini, ngelingkar ke pinggang Mas. Iya pinter.”
Setelah memposisikan Candrima agar perempuan itu merasa nyaman, Mahen mengocok pelan penisnya untuk menyebar pre-cum yang sudah keluar agar miliknya sedikit licin. Lalu Mahen arahkan penis itu ke bibir vagina sang istri. Ia goda Candrima dengan hanya menggesek-gesekkan ujung penisnya di sana tanpa memasukkanya secara langsung.
Mahen dapat melihat lubang milik Candrima berkedut minta diisi. Dan Mahen bersumpah, pemandangan ini terlihat begitu menggairahkan.
“Sayang… indah banget kamu, sayang.”
“Maas…” Candrima terdengar merengek. Pinggulnya sudah naik-naik saat menerima gesekan penis milik Mahen.
“Tahan sedikit, ya. Ini pertama kali buat kamu, pasti ada perasaan nggak nyaman.” Ucap Mahen, kemudian ia cium bibir istrinya dalam.
Candrima mengangguk. Dalam hati dirinya sudah bersiap. Memang, mendengar dari cerita teman-temannya yang sudah duluan menikah, malam pertama akan terasa sedikit tidak nyaman.
Tapi Candrima tidak menyangka jika akan se-tidak nyaman ini. Begitu Mahen melesakkan penisnya ke dalam tubuh Candrima, perempuan itu merasa tubuhnya bagai dibelah dua oleh pasak kayu.
Candrima merintih. “ Awh… awh … Mas…”
Penis Mahen baru masuk setengahnya, tapi istrinya di bawah sana sudah terlihat kesakitan. ”Tahan, sayang.” Sempit. Istrinya begitu sempit.
Kembali Mahen memasukkan setengah miliknya. Kini, sepenuhnya Mahen sudah berada di dalam tubuh Candrima.
Namun lelaki itu belum bisa bergerak mengejar kenikmatan. Mati-matian ia menahan diri untuk tidak langsung menggenjot sang istri.
“ Hiks… Mas Mahen…” Candrima menangis. Kewanitaannya terasa perih.
Mahen tatap Candrima khawatir. “Sakit?” Tanyanya. Ia usap air mata sang istri.
Candrima mengangguk. “Perih.”
Aduh… kalau sudah begini, lalu bagaimana? Tidak mungkin kan mereka berhenti. Sudah nanggung sekali.
Mahen kecup bertubu-tubi bibir istrinya. “Ca… fokus sama ciuman kita, bisa? Mas akan gerak sepelan mungkin supaya kamu terbiasa. Kalau Mas diem aja, kamu nggak akan ngerasain nikmat juga, sayang. Tahan sebentar bisa, ya? Promise I’ll be gentle.”
Perempuan itu mengangguk. Lalu ia balas ciuman Mahen yang membuatnya keenakan.
Dengan begitu hati-hati Mahen menggerakkan penisnya untuk keluar masuk milik sang istri. Berusaha membuat vagina Candrima familiar dengan penis miliknya.
Keringat sudah bercucuran pada tubuh keduanya. Dingin AC kamar kini seolah tidak berarti apa-apa. Di atas ranjang, hanya ada panas cinta yang membara.
Setelah Mahen merasa Candrima mulai rileks, gerakan pinggulnya pria itu sedikit percepat. Bibirnya terlepas dari milik Candrima ketika ia menggeram.
“ Hooowh , Ca. Enak banget, Ca.” Mahen menggeram, penisnya benar-benar dimanjakan oleh sempit lubang sang istri.
“Mas, p– peluk.”
Mahen peluk tubuh Candrima, dan Candrima balas memeluk punggung telanjang Mahen.
“Masih sakit?”
Candrima menggeleng. Sakit sudah berganti nikmat dan sekarang ia mau terus dihujam oleh milik suaminya.
“Kamu suka?”
“ Hnggh , suka. Gerak terus, Mas.”
Penis itu terus bergerak konstan keluar masuk lubang Candrima. Mahen sembunyikan wajahnya pada bahu sang istri. Sesekali ia menggeram penuh kenikmatan di sana.
“Mas… Mas aku kayaknya mau pipis…” Ujar Candrima saat merasakan perutnya terasa makin panas.
“Nggak apa-apa, Ca. Pipis disini aja. Itu kamu udah mau klimaks namanya. Tapi kamu bisa tahan sebentar? Ah! Mas juga kayaknya bentar lagi sampe.”
Mahen tidak bisa lagi mengontrol gerakannya mencari nikmat. Sekarang tubuhnya semakin bergerak brutal dan cepat.
“Ah mas! ah ah ah ah ah ah! ” Candrima mendesah saat lubangnya terasa makin kedut-kedutan.
Dan Mahen yang merasa penisnya makin diperas oleh lubang sang istri juga merasa nikmatnya akan sampai.
Tidak lama kemudian, paha keduanya bergetar hebat seiring sperma dan mani keduanya berlomba untuk keluar.
Malam ini, setelah penantian selama lima bulan, akhirnya Mahen dan Candrima mulai memupuk rasa di atas ranjang.
[]
“Bukan mimpi.” Mahen berbisik pada dirinya sendiri. Ia perhatikan lekat wajah sang istri yang tertidur damai meski matahari sudah keluar dari gelapnya malam.
”Bukan mimpi.” Ujar Mahen sekali lagi. Kini sembari menyusuri kulit halus sang istri yang dihiasi tanda cinta yang ia beri.
“Ini bukan mimpi.” Mahen peluk tubuh Candrima. Ia cium puncak kepala istrinya. Bahagia bukan kepalang saat memori semalam terngiang-ngiang.
Candrima yang terusik tidurnya sebab pelukan Mahen terhitung begitu erat dan membuatnya sedikit kesulitan bernafas kini membuka mata perlahan.
“ Morning .” Ucap Candrima malu-malu. Ia balas pelukan sang suami.
" Morning, sweetheart ." Balas Mahen. Pipi Candrima yang sekarang ia kecup.
Beberapa saat keduanya hanya saling tatap dan tersenyum tanpa sebab.
Lalu Mahen bertanya pada istrinya. "Ca, ini bukan mimpi, 'kan?
Meski tidak tahu konteks sebenarnya akan apa pertanyaan dari sang suami, tapi Candrima mengangguk saja. “Iya. Ini bukan mimpi, Mas.”
Sebab semalam, Candrima pergi tidur tanpa ada ketakutan apa-apa. Ia bahkan bermimpi sedang dipeluk erat sang suami. Tapi kemudian, saat ia membuka mata, peluk sang suami adalah nyata. Jadi benar, ini semua bukan lagi sekedar mimpi.
Mahen dan Candrima, sekarang mereka sudah siap meronce cinta sepanjang hidup berdua.
-FIN
