Chapter Text
"Jen… Jenar!" Gadis berkulit sawo matang yang berkemben batik itu tergopoh mengejar temannya yang sudah terlebih dahulu berjalan mendahului.
Cepol rambut gadis berkulit sawo matang yang hitam legam berlonjak naik turun, kompak dengan cepol rambut temannya, sesuai dengan irama langkah keduanya. "Jenar ihh.. keburu apa sih kamu?" protes sang Gadis.
Tangan kiri gadis itu memikul satu bakul berisi pakaian kotor, sedang tangan kanannya sibuk menahan kemben yang melorot turun seiringan dengan goyangan nenen mengkal miliknya. Jalanan tak rata yang kini sedang mereka telusuri, ditambah langkah tergopoh yang mereka ambil, sama sekali tidak ramah untuk pakaian yang mereka kenakan. Belum lagi hujan semalam membuat jalanan yang mereka lalui saat ini nemblong , penuh dengan kubangan-kubangan lumpur di sana dan di sini. Tapi alih mengacuhkan salah satu kubangan lumpur yang menutupi hampir setengah jalan itu, gadis bernama Jenar melompatinya.
" Hadooh , lumpur nya nyiprat Jennn!"
Ya, namanya juga tubuhnya sedang terlilit kain batik lusuh yang sengaja dibuat press tubuh, gadis itu jadi kesulitan untuk melangkah, terlebih melompat. Berujung menginjak kubangan lumpur yang tadinya ia coba hindari. " Ck ! Kamu itu yang buruan! Tadi aku ajakin berangkat pagi aja, malah tidur-tiduran," omel Jenar. Ia mengabaikan lumpur yang menyiprat serta mengotori kaki jenjang putih susunya dan terus berjalan setengah berlari.
Langkah Jenar kembali menderap menyusur jalan setapak yang becek akibat hujan tadi malam. Tak ada yang bisa menghentikan langkah Jenar. Tidak sang teman, tidak juga sang mentari yang mulai bersinar terik.
Tujuan Jenar hanya satu, tepian sungai. Dan suara riuh aliran sungai yang bertumbuk dengan bebatuan, serta kilauan air yang sudah mulai terlihat sedikit dari sudut pandangnya, menunjukkan bahwa kedua teman itu sudah di dekat tujuannya. Jenar hanya mau sampai dengan cepat di tepian sungai. Cepat sampai, cepat mencuci, lalu cepat kembali.
Jenar menepok keras daun ilalang yang menjulur dan menutupi pandangannya dari sungai yang membentang di hadapannya. Tak ada yang boleh menutupinya dari tujuannya.
"Ya kan, cuma umbah-umbah aja. Kenapa harus pagi-pagi sih? Enak juga siangan gini. Mataharinya pas nyorot jadi bikin baju cepet kering itu loh" Gadis berkulit sawo matang di belakang Jenar mencincing kemben yang ia kenakan lalu pelan-pelan melangkahkan kaki melewati kubangan lumpur yang tadi terinjak temannya.
"Loh, justru harus pagi-pagi. Biar—,"
Siulan seorang pemuda yang terdengar nyaring membuat Jenar memutar bola matanya malas. " Walahh yoo , pagi-pagi kembang desanya udah pada rajin ke kalen . Mau umbah-umbah , nduk ?"
Gadis teman Jenar yang tadinya mencincingkan kembennya hingga sepaha buru-buru menurunkan dan merapikan nya. Ia yang merasa tidak nyaman dengan mata yang mulai jelalatan miliki pemuda desa blasteran londo di hilir sungai itu buru-buru memeluk erat bakul yang ia bawa. Bermaksud memeluk rasa takut nya, juga menutupi buah dada nya yang ia yakin sudah hanya setengah tertutup kain kemben. Yang hanya menutup sebatas lingkaran pink kecoklatan tepat cuatan pentilnya saja.
"Bukan urusan kamu," desis Jenar.
" Bukan urusan kamu , Mardi," ejek pemuda desa lainnya yang sedang membasuh tubuh di dinginnya air sungai, tak berjarak jauh dari pemuda desa blasteran londo itu. Pun ejekan itu mengundang riuh bahak tawa sekumpulan pemuda desa yang tengah mandi sekaligus bercengkrama bersama.
"Ya jelas urusan Mas dong, Cantiik," Kerlingan mata Mardi membuat Jenar semakin gencar menahan diri untuk tidak mencongkel mata keranjang sang pemuda. "Nanti kalau kamu kepleset kan Mas jadi bisa gendong kamu pulang. Sekalian gendong kamu ke pelaminan juga Mas sanggup,"
Jenar makin geram saat teman-teman Mardi mengelukan gombalan murahan tadi selayaknya puisi maha karya pujangga tersohor.
"Pergi yuk, Hen,"
Jenar sudah males ngeladeni candaan murahan pemuda desa itu. Nggak ada habisnya, dan cuma bisa menguras tenaganya. Gadis di samping Jenar pun mengangguk kecil sembari terus menatap bakul pakaian kotornya, enggan beradu pandang dengan pemuda-pemuda yang sedari tadi mencoba mengintip nenen mengkalnya yang tersembunyi di balik bakul pakaiannya.
"Dek Heni nya masih mau disini itu, Jen. Jangan dibawa pergi. Lagian aman disini sama kita. Ndak bakalan diapa-apain,"
Mata Jenar menyalang marah ke sekumpulan pemuda nir-etik. Tapi bukannya membuat para pemuda takut, mereka malah semakin semangat bersiul menggoda kembang desa yang mengamuk gemas itu.
Jenar segera merangkul tubuh Heni yang sedetik lagi akan menangis ketakutan jika tinggal lebih lama disitu, lalu menggiring nya meninggalkan sungai.
"Aku bilang juga apa. Mending tadi itu kita berangkatnya pagi aja, biar ndak ketemu, terus digodain Mardi sama temen-temennya itu loh," Dengan langkah mencak-mencak Jenar berderap menjauhi area sungai, disusul oleh Heni. "Aku ndak habis pikir sama mereka. Otaknya cuma di selangkangan aja. Ndak bisa dibuat mikir, ndak bisa dibuat kerja. Bisanya cuma dibuat ongkang-ongkang di sungai dari siang sampe sore, terus pulang, makan, tidur, besok diulang lagi,"
"Gitu itu yang dibilang pemuda desa, masa depan desa. Mikir besok makan apa, makan gimana aja, mereka ndak bisa," Semua gerutuan Jenar Heni simak baik-baik. Tidak ada satu patah sanggahan yang Heni ucapkan. Selain karena saat ini ia sendiri ribet mengurusi bakul pakaian yang merosot dari tangan licinnya yang berkeringat, juga lilitan kemben yang nggak pas hingga bikin kain itu semakin turun dari tubuhnya sedari tadi, Heni itu tipe gadis yang manut, juga takut. Manut sama perintah orang tua, takut sama ajaran orang tua.
Kalau kata Bapak, perempuan itu tugasnya cuma 3, macak, masak, manak — berdandan, memasak, dan beranak. Nggak ada tuh tugas memaki pemuda desa. Jadi Heni memilih untuk tidak mengerjakan yang bukan tugasnya. Karena kalau sampai Bapak tahu, pantat mengkalnya bakalan kena ceplesan panas berkali-kali hingga memerah jambu dan nyeri saat dibuat duduk. Jadi, meski segala ucapan Jenar semuanya dapat ia setujui, Heni memilih untuk tetap diam.
Berbeda dengan temannya, si Jenar. Jenar itu tipe gadis yang berani. Bukan sekedar berani membangkang, tapi berani membela diri.
"Apa ndak kasian sih sama calon istri mereka? Harus ngurus rumah tangga ditambah bayi besar kayak mereka yang bisanya cuma nguntal sama ngenthu ,"
Heni yang manyun-manyun mengangguk setuju dengan ungkapan Jenar. Meski beda sifat, Heni diam-diam mengidolakan temannya itu. Jenar itu berani dan pintar, pintar ngomong pula. Nggak kayak Heni, yang bisanya diem-diem aja kalau dapat suatu ketidakadilan, berujung keki sendiri.
Sepersekon Heni terdiam, lalu mengerjap bingung, " Lhoh tapi Jen, kan kita calon nya mereka…" lirih Heni. Saking asiknya mencerca pemuda desa, Jenar agaknya lupa kalau dia juga pemudi desa. Nggak menutup kemungkinan kalau masa depannya pemuda desa itu ya sama pemudi desa, ya sama mereka salah duanya, Jenar dan Heni.
"Aku ndak sudi nikah sama salah satu dari mereka!" Sumpah Jenar. "Tiap hari makan ati , Hen… kamu bakalan kerja sendiri, mereka nya seenak sendiri. Belum lagi mata jelalatan itu lho… hihhh . Ndak bakalan sembuh itu meski udah nikah!"
"Bisa kok, bisa sembuh. Buktinya Mas Jamal sembuh, habis nikah sama Rayi," celetuk Heni.
Hening menyambut saat teman yang memimpin jalan di depan itu tidak membalas ungkapan Heni.
Jenar yang mendengar nama familiar terucap dari mulut Heni, tanpa pamit segera menghentikan langkah kakinya. Gadis berkulit putih susu itu pun membalik tubuhnya. Membiarkan Heni yang tidak awas dengan temannya yang sudah berhenti, menabrakkan tubuh sekalnya pada sang teman. "Kok kamu bandingin Mas ku sama orang-orang itu?!"
Gelagapan Heni mencari alasan sembari menjauhkan diri dari Jenar. Mau menyanggah, tapi mulut asal jeplaknya sudah lancang duluan. " Aa—anu … Em ," Reka Heni mengulur waktu untuk membuat Jenar tidak curiga, malah membuat temannya menggeram marah. "Hen?! Kamu diapain sama Mas ku?" Mata Jenar membulat penuh, menyalangkan api amarah.
"Jen— ampun, ndak gitu maksudku. M-maksudku tuh… Haduhh … Jangan bilang Rayi, ya?"
"Kamu diapain Hen sama Mas Jamal?!" Jenar menuntut jawaban dari Heni.
Mata Heni sudah membasah takut, berbeda drastis dengan mata berapi sang teman. Lagi pula, orang mana sih yang berani ngadu dilecehkan ke adik dari pelakunya sendiri. Terlebih lagi pelakunya itu sudah jadi suami dari sahabat dekat lainnya juga. "Cepet bilang!"
"Cuma diliatin tok," suara Heni bergetar. Mulut Heni merengut takut.
"Cuma diliatin tok," perawan di hadapan Jenar menunduk ke arah buah dadanya, "Diliatin tok terus digodain. K-katanya nenen gedhe i-itu pantesnya cuma dibuat jepit kacuk,"
Wah…
Wah…
Wah, kurang ajar!
Kobaran api yang menyalang di mata Jenar membuat Heni makin menciut rasanya. "Tolong jangan bilang Rayi, Jen…" tangan kanan Heni mengulur untuk menggenggam tangan Jenar. Menahan sang teman agar tidak beranjak kemana. "Kejadiannya udah lama kok. Terus juga Mas Jamal ndak gitu lagi ke aku setelah nikah sama Rayi. Aku ndak mau Rayi nanti jadi benci aku, atau marah ke Mas Jamal. Rayi kan cinta mati sama Mas Jamal, aku ndak tega ngerusaknya," Mohon nya dengan air mata yang merembes mili .
Jenar berdecak kesal. Ingin rasanya berlari kencang ke rumah Kakak dan teman nya— yang sekarang jadi Kakak Ipar nya, lalu memaki— kalau bisa lanjut ngantemi habis-habisan pria yang berusia 5 tahun lebih tua darinya itu. Tapi karena melihat wajah melas sahabatnya, ia pun mengalah. " Woo .. besok kalo ketemu tak potong kacuk nya, tak krues , tak buang kalen sisan . Asal omong aja!" Sumpah anak bungsu itu.
Mata Heni membulat terkejut, lalu tertawa lebar meski pipinya masih basah akibat air mata, "Kasian Rayi. Jadi susah nanti kawinnya," Pun celetukan polos Heni mau tak mau memancing tawa Jenar.
"Besok lagi tuh bilang kalau dinakalin orang, jangan kamu simpen sendiri," Jenar mengusap lengan sahabatnya. "Kalau bisa juga yang berani. Tapuki orangnya, dorong sampe kejungkel . Ndak usah takut dia siapa. Mau itu keluarga kamu, atau keluarga ku atau Rayi, atau siapa aja. Rela aku, kamu jahatin mereka, yang penting kamu ndak digodain lagi,"
Heni menundukkan kepalanya. Baru menangis, lalu tertawa, dan kini terenyuh akibat ucapan Jenar. Seperti nggak ada waktu buat Heni menata hatinya. Gadis berkulit sawo matang itu merengut sedih.
"Tubuh tubuh kamu, ndak ada orang lain yang boleh ngerendahin tubuh kamu,"
Sejenak Jenar memandang buah dada sang teman. Simpati dengan kondisinya sekarang yang mengenaskan. Mungkin karena tergesa-gesa, ditambah bertemu pemuda nakal desa, temannya bahkan belum sempat membenarkan lilitan kembennya.
Heni memang punya nenen yang besarnya melebihi nenen gadis-gadis di desanya. Menurut Jenar, yang tidak memiliki nenen sebesar milik Heni, itu anugrah, karena nenen besar itu terlihat indah— sexy . Tapi menurut Heni si empunya nenen raksasa, itu petaka, karena setiap lelaki mata keranjang yang melihatnya selalu merasa terundang melecehkannya— verbal maupun non . Padahal Heni tidak mengundang, apalagi sudi dilecehkan.
Jenar meletakkan bakulnya di tanah, lalu menarik kemben Heni, membantu melilitkan kain yang melonggar agar kembali membalut apik nenen sang teman. "Ini itu aset. Kunci lanjutnya kehidupan manusia. Ndak ada tetek , anak-anak jadi ndak bisa nyusu , ndak bisa tumbuh besar. Ini berharga buat hidup manusia. Bukan cuma buat jepit kacuk ," Jenar menopang kedua bongkah nenen Heni yang kini telah terbalut rapi oleh kemben, "Cantik gini kok dibilang jepit kacuk ," gerutu Jenar. Pun empunya nenen itu merona pipinya setelah mendengar pujian dari teman nya.
"Hahhh.. emosi aku pagi-pagi," Gerutu Jenar sembari melepaskan tangannya dari nenen Heni. Membuat gadis yang nenennya habis ditangkup memandang malu ke arah bulat nenen yang melonjak naik turun setelah kehilangan penopangnya. "Harus kemana deh sekarang kita umbah-umbah nya?"
Kedua gadis desa itu masih ada tanggungan bakul pakaian kotor untuk dicuci hari ini juga. Sialnya usai bersua dengan Mardi dan kawannya, acara umbah-umbah — cuci baju mereka di sungai jadi berantakan. Sekarang mereka jadi kebingungan mau kemana untuk menyelesaikan umbahan mereka.
"Mm… aku tau tempat yang sepi,"
Jenar memerjabkan matanya kagum pada "tempat sepi" yang ditunjukan Heni padanya. 16 tahun hidupnya, ia bahkan tidak tahu bahwa ada sebuah tuk — mata air yang tersembunyi rapat-rapat di balik rimbunan hutan dekat desanya. 16 tahun hidupnya, ia bahkan tidak tahu ada mata air sejernih ini di area desanya. 16 tahun hidupnya, ia kemana saja sih??
Tapi kalau dipikir, akan sulit juga untuk orang mengetaui ada sebuah tuk tersembunyi dibalik rimbunan pohon bambu serta padat semak belukar di tengah hutan pohon asam. Nggak akan ada yang tahu, kecuali kalau orang-orang itu punya dedikasi sendiri untuk membuka hutan dan mencari suatu hal baru. Tapi kayaknya juga ngga mungkin. Warga desanya tidak serajin itu, mengingat pembangunan desanya hanya berkisaran disitu-situ saja.
Berbeda dengan Jenar, Heni yang sudah akrab dengan tempat yang kini mereka kunjungi, segera bergegas menyelupkan setengah pahanya pada genangan mata air jernih. " Hii adem banget Jen airnya," Gadis sawo matang itu menggigilkan tubuhnya. Kemben lusuh yang ia kenakan kini membasah kuyup oleh air tuk , dan menempel erat ke lekukan kakinya.
Terpanggil dengan ucapan airnya dingin, Jenar segera mendekat ke mata air usai menaruh bakul pakaian kotornya di atas bebatuan dekat tuk itu. Telapak kaki yang Jenar cemplungkan ke tuk itu segera njenggirat setelah bersentuhan dengan air segar. "Hen? Seger banget?!"
"Iya kan? Bilangin juga apa!" Seru Heni yang kini dengan perlahan meniti bebatuan di dasar kolam untuk masuk lebih dalam ke tuk .
Tanpa menunggu, Jenar segera memasukkan setengah tubuhnya ke dalam tuk , menyusul temannya yang kini sudah berada ke tengahan tuk yang dalamnya hanya sampai batas dada. Dada kedua perawan desa itu terlihat mengkilap dari permukaan mata air akibat pantulan sinar mentari yang menerobos dari sela rimbunan dedaunan. Senyum tidak luput dari wajah kedua teman itu saat keduanya membiarkan dingin mata air menusuk kulit madu mereka. "Kamu tau dari mana nek ada tuk ini?" tanya kembang desa itu kepada temannya.
"Dulu aku sama Rayi sempet nyasar kesini. Waktu disuruh Simbok nya Rayi cari rebung. Ya sekitaran situ," ujar Heni sembari menunjuk ke sebuah rimbunan pohon bambu tak jauh dari tuk itu, "Habis itu kami jadi sering main kesini sebelum Rayi sama Mas Jamal nikah. Sepi soalnya, seger juga airnya,"
Jenar mengerutkan dahinya, "Hah? Kapan? Kok aku ndak tau?"
"Pas itu kamu ke Budhe mu deh. Eh atau kemana ya… Ndak tau lah, pokoknya kamu ndak pernah ikut. Ya itu sih rugi mu,"
Jenar merenggut kesal dengan perkataan temannya, lalu menyipratkan air ke arah sang teman. "Terusin aja, pergi ke tempat bagusnya sama Rayi aja, aku nya ndak diajak,"
"Bukan git— pweh ," sebelum Heni berhasil menyelesaikan pembicaraannya, seciprat air menubruk wajahnya.
"Ihh Jen— pweh ," lagi-lagi Jenar menyipratkan air ke wajah Heni sebelum gadis sawo matang itu berhasil menjelaskan.
Si pelaku tertawa terbahak-bahak setelah melihat korbannya mengusap wajahnya dengan kesal.
"Jena— ohok- ohok … masuk mulut Jenarr!"
Tak mau terus-terusan menjadi pihak yang kalah, Heni segera membalas Jenar dengan menyipratkan air bertubi-tubi ke arah gadis sipit yang kini tersenyum lebar melihat temannya kewalahan membalas serangan air darinya. Keduanya lalu cekikikan bermain air di tuk sepi itu, sebelum nantinya harus bekerja keras mencuci baju.
Mencuci baju sambil bergosip, adalah rutinitas sederhana yang selalu ditunggu-tunggu oleh kedua teman itu. Biasanya mereka berjanji untuk bertemu 2 hari sekali untuk mencuci baju bersama. Dan dalam hari mencuci, mereka bisa menghabiskan waktu seharian untuk mencuci dan bergosip bersama.
Padahal rumah mereka di desa tidak berjarak jauh satu sama lain, hanya kurang lebih satu atau dua kilometer. Dan cerita mereka hanya seputar warga desa yang mereka sama-sama kenal, juga terkadang sama-sama tahu ceritanya. Tapi entah mengapa rutinitas mencuci yang mereka lakukan selalu membutuhkan waktu dari pagi hingga sore, saking banyaknya hal yang dibicarakan. Orang tua mereka pun tidak ada yang protes. Selayaknya mewajarkan tindakan putri mereka. Mungkin saking seringnya hal itu terjadi. Dan mungkin karena keluarga mereka sudah terlalu lelah menegur gadis-gadis perawan super ngeyel itu. Jadi mau seberapa lama mereka pergi mencuci, asal sebelum petang gadis perawan itu sudah sampai di rumah, orang tua mereka tidak akan banyak bicara.
Dulunya, rutinitas dua orang itu selalu dilakukan oleh tiga orang. Heni, Jenar, dan Rayi. Tapi karena sekarang salah satu teman mereka tengah hamil besar dan tidak diperbolehkan meninggalkan rumah, dua teman yang masih menyandang status perawan itu yang kini meneruskan rutinitas mereka berdua. Berdua terus hingga setidaknya sampai satu lagi teman mereka melahirkan, dan diperbolehkan mencuci baju di luar rumah kembali.
"Rayi sehat kan Jen?" Tanya Heni.
"Sehat kok. Cuma ya itu, Mas Jamal manjain banget. Perkara beli sayur di Mang Unda yang biasa keliling desa sampai ke depan rumah aja ndak boleh. Makanya aku juga jadi makin jarang ketemu dia. Udah kayak dipingit lah Rayi," Gerutu Jenar. Tak terelakan lagi kalau kedua teman itu kangen teman mereka.
Setelah Rayi menikah, mereka jadi jarang main bersama. Ya, mereka mau tidak mau mewajarkannya. Sebab banyak hal yang harus Rayi urus sebagai istri dan calon ibu. Yang Heni dan Jenar bisa lakukan saat ini hanya mengeluh kangen, dan sesekali mendatangi rumah Rayi untuk bergosip. Itu pun hanya bisa sampai jam 6 sore, karena seterusnya Rayi harus meladeni suaminya, dan tidak enak kalau mereka nimbrung di rumah pengantin baru itu.
Ah — pembicaraan tentang Rayi membuat Jenar makin kangen. Mungkin besok Jenar bakalan mengunjungi rumah Mas nya buat ngobrol sama Rayi. Juga buat diam-diam membalaskan dendam Heni ke Mas nya.
Tangan kembang desa berkulit putih susu itu bergerak sibuk mengucek baju. Di dalam bakulnya masih tersisa kiranya 10 potong baju yang belum tercuci. Sedang Heni sudah selesai mencuci dan kini tinggal termangu menunggu temannya rampung .
Wajar kalau cepat selesai, karena Heni hanya hidup berdua bersama Bapaknya sejak kecil. Jadi pakaian yang harus ia cuci sedikit. Berbeda dengan Jenar yang selalu harus mencuci bertumpuk tinggi baju setiap kalinya, karena anggota keluarganya lebih banyak. Meski sekarang Jenar hanya hidup bertiga dengan Bapak dan Ibunya usai Mas nya menikah dan keluar rumah, tapi tetap saja pakaian yang jadi tanggungannya lebih banyak dari Heni.
"Makanya waktu kamu cerita Mas Jamal kelakuannya kayak gitu, aku kaget, Hen. Aku kira hidup dia lempeng-lempeng aja, muter di Rayi-Rayi aja. Taunya…"
Heni menoleh ke arah Jenar. "Jen, udah. Jangan dipikirin lagi," rengek Heni. Gadis berkulit sawo matang itu awas dengan temannya yang masih tampak marah. Takut juga kalau lebih lama dipikirin, dan dimasukin hati, bisa-bisa Jenar keterucutan ngomong ke Rayi. Takutnya nanti Rayi jadi benci Heni.
"Ya gimana ndak dipikirin? Ndak sopan loh itu! Di depan Bapak, Ibu, sama aku dia anteng-anteng aja, ternyata di belakang kita dia gituin kamu,"
"Paling waktu itu dia bercandaan aja, aku yang terlalu masukin ke hati,"
"Hen!" Jenar memukulkan bajunya ke air guna melampiaskan amarahnya, "Dibilang bercandaan itu kalau bikin semua orang ketawa. Bukan bikin orang lain sakit hati!"
" Ihh .. ndak papa, Jen… lagi pula itu cuma kejadian sekali kok," bujuk Heni biar Jenar ndak makin marah sama Mas nya sendiri. "Terus juga itu ndak separah yang dilakuin Mardi,"
Jenar menghela nafas dalam-dalam, dan melemparkan baju yang sudah rampung ia cuci ke atas tumpukan baju bersih lainnya, lalu mengambil satu lagi baju kotornya. "Ngapain lagi dia?!"
"Nerusin candaanya Mas Jamal sambil— meragain," suara Heni makin lirih. Mukanya memerah saat mengingat Mardi mengocokkan udara kosong tepat di dadanya sambil menjulurkan lidahnya dengan sange.
" Juancok !"
Kucekan tangan Jenar semakin keras. Tergambar jelas emosi kembang desa itu. "Ta-tapi ndak papa kok. Soalnya habis itu Bapak dateng ngusir mereka,"
"Hen! Jangan ndak papa- ndak papa aja! Sekali-kali kacuk nya Mardi itu perlu di tendang!"
"Tapi beneran ndak papa, Jen. Soalnya Bapak—," ucapan Heni terpotong usai sekelebat ia mengingat sesuatu. Pun setelahnya mata Heni membelalak lebar, " Oh iya, Bapak! " Gadis itu segera memasukkan cucian bersihnya ke bakulnya sendiri.
"Bapak kenapa?" Gadis kembang desa itu melongok ke temannya yang tiba-tiba terburu-buru merapikan barang bawaannya.
"Bapak belum aku buatin godogan daun kelor. Harusnya siang tadi ngunjuk godogan daun kelor. Katanya Nyi Sardah itu bagus buat kesehatan Bapak. Jadi mulai purnama kemarin aku bikinkan. Halah yungg kok bisa lupa aku sak plengan ," Baru mau bangkit berdiri, Heni melirik ke arah Jenar, "Eh, tapi kan kamu belum selesai," lirih Heni.
"Tinggal aja, ndak papa, Hen. Aku bisa pulang sendiri,"
"Emangnya kamu tau jalan pulang?" Selidik Heni. Senyum cengengesan lebar milik Jenar kurang lebih menjawab pertanyaan Heni kalau sebenarnya gadis itu tidak tahu. "Tuh kan,"
"Aku bisa inget-inget dikit, Hen. Beneran. Sana tinggal, sehatnya Bapak lebih penting," ujar Jenar, "Toh ya aku bentar lagi rampung nyuci nya,"
Wajah Heni tampak menimbang-nimbang omongan Jenar. "Maaf ya, aku tinggal," putus Heni.
"Iya, ndak papa," Bunyi kucekan baju kembali menggaung saat Jenar melanjutkan aktivitasnya.
"Pokoknya nanti kalau pulang, ikutin aja pohon asemnya. Nanti mak bedunduk kan nembus rumah Simbok nya Rayi," pesan Heni.
" Iyo ," jawab Jenar singkat.
Jenar meneruskan kegiatannya nyuci baju sendirian usai Heni pulang. Sebenarnya dia juga sudah biasa mengerjakan apa-apa sendirian. Dan kata takut tidak pernah singgah di benaknya saat ia melakukan sebuah kegiatan sendirian.
Lagi pula, di tengah tuk yang indah seperti ini, hal buruk apa sih yang akan terjadi? Tinggi air yang hanya se dada tidak memungkinkan seseorang untuk hanyut dan tenggelam. Ditambah, semak belukar yang padat menutupi dirinya pandangan orang luar, membuatnya seperti dilindungi dari orang-orang yang mungkin bermaksud jahat. Jenar betah dan mau kalau disuruh lama-lama berdiam disini. Terlebih ia punya waktu hingga sore datang, kan?
Jenar membilas baju terakhir yang ia cuci, memerasnya agar tidak kopoh-kopoh karena air, lalu memasukkannya ke dalam bakul pakaian yang ia bawa. Hasil kerja payah Jenar seharian ini terlihat nyata. Bakul yang tadinya bertumpuk tinggi pakaian kotor, kini menjadi bertumpuk tinggi pakaian bersih. Jenar tersenyum puas. Ia mengusap tetes keringat di dahinya.
Kalau dipikir-pikir, melelahkan juga kegiatannya hari ini. Berdebat dengan Mardi dan temannya, bergosip dengan Heni, lalu mencuci puluhan potong baju.
Berdebat dengan Mardi, sih. Terutama yang bikin Jenar lelahnya minta ampun.
Tapi, kalau dipikir-pikir juga, jika tadi ia tidak bertemu dan berantem dengan Mardi, Jenar nggak akan bisa sampai di tuk ini. Si nakal Heni dan Rayi pun pastinya akan diam-diam saja dan merahasiakan keberadaan tuk ini dari Jenar. Dan memilih untuk bermain berdua saja disini. Buktinya, kalau Heni dan Jenar tidak kepepet seperti tadi, Heni akan bungkam. Seolah ia lupa kalau temannya yang lain juga sebenernya pengen diajakin ke tempat bagus seperti ini.
Jenar menyandarkan berat tubuhnya pada kedua tangan yang ia renggangkan di belakang. Ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Heni dan Rayi, sih. Kalau Jenar yang berada di posisi mereka— mengetahui keberadaan tuk ini sendirian, ia pun memilih nggak akan beritahu siapapun.
Biar dia sendiri yang datang kesini, biar dia sendiri yang menikmati ini.
Jenar menghirup dalam-dalam udara sejuk yang menerpa tubuh setengah basahnya akibat cipratan air cucian baju. Senandung merdu pun lolos dari bibir lembutnya.
Bersantai di tengah indahnya pemandangan kali ini benar-benar nikmat.
Kaki Jenar diselonjorkan untuk masuk ke dalam kolam. Beberapa kali gadis itu goyangkan kakinya, mengangkat kakinya tinggi-tinggi usai menangkap beberapa alir air, lalu membiarkan air di ujung kakinya mengalir jatuh ke arah selangkangannya. Dingin, geli, dan saru . Gadis itu tertegun usai menyadari kegiatan yang baru saja ia lakukan. Sensasi dingin dan geli itu membuat tubuhnya bergedik saru .
Seumur-umur, Jenar tidak pernah merasakan sensasi geli di kakinya yang diciptakan dari aliran air dingin yang turun dari ujung kakinya hingga menelusup masuk menyentuh kain cawatnya yang kini membasah dan dingin.
Pipi kembang desa itu merona. Jenar suka. Suka dengan sensasi baru yang tidak pernah ia dapatkan.
Pun Gadis itu menggigit bibirnya saat ia sekali lagi melakukan kegiatan menyenangkannya barusan. Lalu sekali lagi juga tubuhnya meremang saat sensasi basah nan dingin yang geli itu kembali muncul.
Adiksi baru tercipta berkat aliran air tuk .
Lagi, lagi, dan lagi dilakukan sang gadis, hingga cawat satinnya membasah kuyup dan dingin.
Lagi, lagi, dan lagi gadis itu ingin merasakan sensasi dingin, dan geli.
Saru .
Terlebih saat ia mengangkat kakinya tinggi-tinggi dan membiarkan angin nakal berhembus ke arahnya, ke arah cawatnya, ke arah kelaminnya— yang terbungkus cawat basah, ada sensasi dingin-dingin yang menggelitik. " Mhh —," Senandung Jenar perlahan tergantikan dengan dengungan lirih.
Sungguh, nikmat. Jenar menikmati adiksi baru itu.
Ingin rasanya ia menyendiri di tuk ini, dan terus-terusan berkegiatan saru tadi.
Eh — tapi kan sekarang ia juga lagi sendirian.
Iya, kan? Sendiri?
Kembang perawan itu melirik ke segala arah dengan was-was. Memastikan kalau ia benar-benar sendirian di kolam mata air ini.
Nafasnya berhembus lega saat ia mendapati hanya sinar mentari yang mengintip dari balik tingginya rimbunan dedaunan bambu, serta hembusan angin yang menerpa tubuh lah yang menemani.
Pandangan gadis itu meniti pagar semak belukar yang melingkari tuk. Semuanya masih berdiri rapat. Tidak ada satu celah pun yang memperbolehkan siapapun mengintip ke dalam tuk . Jenar merasa aman.
Gadis itu memilih untuk berdiam lebih lama disana. Setidaknya masih ada waktu cukup untuk menikmati tuk sendirian. Melakukan kegiatan vulgar entah apapun namanya itu— dan mungkin mandi. Ya, mandi . Jenar jelas butuh mandi untuk membasuh lengketnya keringat dari tubuhnya.
Gadis yang merasa semakin aman berada di tengah pagar semak belukar itu bangkit berdiri dan mengurai buntalan kain yang menahan kemben di tubuhnya. Gadis itu ingin tahu, bagaimana rasanya kalau ia melakukan kegiatan saru tadi tanpa terbalut kain. Tebakannya, tubuh telanjangnya akan terasa lebih sensitif. Dan adiksi itu, akan terasa lebih nikmat saat dikabulkan. Berbekal rasa penasaran yang dibalut apik dengan adrenalin, Jenar melorotkan kain lusuh yang selama ini memenjarakan tubuhnya. Pun setelah terlepas, gadis itu segera meletakkan kain batik lusuh diatas bakul pakaiannya, menyisakan sepotong kain satin yang melilit selangkangannya sebagai cawat. Ia menghembuskan nafas lega, seolah ia sudah jengah dengan penjara lusuh itu.
Dingin.
Hawa dingin seakan menggigit tubuh telanjang sang gadis.
Jenar tersenyum puas. Selain menebus adiksinya dengan rasa yang lebih kental, lebih vulgar. Ia juga puas dengan kebebasan yang ia rasakan.
Kini tubuh indahnya tidak lagi terpenjara. Kini tubuh indahnya merasakan kebebasan.
Nenen milik Jenar memang tidak se-raksasa nenen milik Heni. Tapi bagi Jenar, nenennya nggak kalah indah kok. Masing bongkah nenen berukuran pas yang cukup diraup dengan satu tangan saja, dengan pusat pentil membulat dan menonjol berwarna pink pucat. Milik Jenar sudah lebih dari sekedar indah.
Tangan Jenar bergerak meremas bongkah nenennya. Nggak ada orang lain disini, artinya dia bisa lakukan apa yang dia mau disini. " Anghh —," Pipi Jenar merona merah akibat mendengar desahan lirih yang menguar dari mulutnya sendiri.
Gadis itu dengan was-was menoleh ke segala penjuru guna memastikan kalau masih hanya dia sendiri di tuk itu. Bisa malu kalau ada warga desa lain yang mendapati gadis galak itu sedang menikmati dirinya sendiri di alam bebas. Dan untung, tak ada siapa selain terik mentari dan sepoi angin yang menemani gadis itu bereksperimen dengan adiksi baru serta kebebasan tubuhnya sendiri.
Terpaan angin sejuk di tubuh polosnya membuat Jenar mengadahkan kepalanya. Angin nakal itu seolah membelai tubuh Jenar dengan lembut. Mengusap setiap jengkal keindahannya. Angin nakal itu seolah menunjukkan arah kemana saja gadis itu harus mengusap tubuhnya untuk mendapatkan sensasi geli yang ia damba-dambakan. Perlahan dan pasti, tangan yang meremas nenennya sendiri berjalan turun menuju perut ramping, serta pinggul mungilnya. Selayaknya memuja ciptaan Tuhan yang tak lain adalah tubuh eloknya sendiri, gadis perawan itu mengusap setiap jengkal kulitnya.
Rahasia si kembang desa itu, sebenarnya ia suka bertelanjang bulat.
Ia suka saat ia merasakan hembusan angin nakal menggerayangi tubuh polosnya. Selain itu, ia benci dengan pakaian yang mengharuskan untuk dililit kencang-kencang di tubuhnya. Dua hal yang ia suka dan benci menjadi dasar mengapa ia suka bertelanjang bulat.
Geli. Layaknya angin memuja keindahan tubuhnya.
Bebas. Layaknya tak harus terpenjara dengan kain sempit nan lusuh.
Jenar tersenyum lebar. Namun sekon lainnya, senyumnya memudar saat terdengar sisi lain pikirannya yang memaki.
Saru. Anak perawan kok udo mbligo mamerke nenen karo nunuke.
Gadis perawan itu menggigil ngeri mendengar isi pikirannya sendiri. Tapi alih bergerak mengambil kain untuk menutupi bagian yang sudah seharusnya ditutupi, Jenar malah memandang sayu ke arah cawat yang melindungi nunuknya.
Saru . Kaya gundik sing ra tau diajari tata krama .
Gadis itu mengerang. Makian dari sudut pikirannya sendiri menghantarkan sengatan-sengatan listrik geli di tubuhnya. Ia yang merasakan area selangkangannya memanas, buru-buru menekan kedua kakinya bersama.
Saru . Tapi Jenar suka.
Nasib jelek Jenar yang tinggal di desa padat penduduk, yang mana kalau menoleh ke satu sudut pasti bertemu orang. Jenar nggak akan bisa melakukan kegiatan vulgar yang ia lakukan saat ini. Karena kalau bertelanjang di luar rumah, pasti langsung ketahuan orang lain. Apalagi ada warga desa yang namanya Mardi, yang punya mulut sama otak kurang didikan. Hal yang Jenar suka mau tak mau dikubur dalam-dalam oleh sang gadis.
Gengsi dan malu adalah satu-satunya yang menahan Jenar untuk tetap waras dan memakai baju setiap keluar kamar.
Jenar suka bertelanjang bulat. Tapi kalau dilihat orang lain, digodain orang lain, dimaki orang lain err — kayaknya engga dulu deh.
Sekarang akhirnya Jenar bisa merasakan kebebasan setelah tahu tidak ada orang lain selain Jenar di tuk rahasia itu. Sekarang Jenar jadi tahu sensasi geli dan mencandu dari bertelanjang di alam terbuka. Sekarang Jenar jadi ketagihan untuk melakukan lebih. Lebih terbuka— lebih nikmat.
Oleh karena itu, sang perawan jadi makin berani mengurai ikatan cawat di kedua sisi pinggulnya. Melepaskannya, lalu membiarkan lebat jembutnya terpampang di alam terbuka. Membiarkan rambut kelaminnya menjadi satu-satunya penutup lipatan tembem nunuk nya. Membiarkan tubuh polosnya seutuhnya terbebas dari lilitan kain yang membekap tubuhnya selama ini.
Jenar merasa bebas.
Aduh, sukanya Jenar.
Dan aduh, kain cawat yang Jenar kenakan terlihat mengenaskan.
Kembang desa itu mengangkat tinggi-tinggi kain kecil itu dan mengamatinya. Kain cawat itu basah, jelas, ia sudah basahi beberapa kali dengan mengaliri air ke arahnya. Tapi ada kilau lain yang membuat Jenar tertarik. Kilau lendir yang membekas di kain cawatnya. Kilau lendir yang menambah basah kain cawatnya.
Gadis polos itu terhenyak. Lendir dari cawat itu, lendir dari— nunuknya?
Tangan penasaran Jenar merambat turun, menyentuh tempat yang ia yakini sumber dari lendir itu. Dan benar tebakannya, seutas lendir ikut terbawa saat tangan Jenar berhasil menyentuh basah tubuhnya, lalu bergerak menjauh untuk dilihat.
Jenar mengerutkan dahinya bingung. Tidak, dia tidak sepolos itu sampai tidak tahu itu lendir apa. Tapi yang bikin dia bingung, bertelanjang bulat di alam terbuka bisa bikin dirinya terangsang, ya?
Rona hangat menjalar di pipi sang gadis. Buru-buru ia memeperkan lendirnya di air tuk , juga membilas cawatnya agar tak menyisa lendir kawin.
Saru . Jenar saru .
Degup jantung sang gadis perlahan bertalu. Aduh, jangan sampai ada yang lihat kelakuan munafik kembang desa satu ini. Bilangnya ndak sudi tubuhnya direndahkan sama orang lain, tapi hobinya telanjang bulat di alam terbuka, mana nunuknya nggak berhenti ngucurin lendir kawin.
Jenar, Jenar…
Gadis itu mengangkat kain cawatnya saat ia yakin tidak ada lendir yang menyisa, dan berniat menaruh kain cawat itu di atas bakul pakaiannya. Ia juga berniat segera melanjutkan mandinya, terus pulang. Kapan-kapan lagi, ia akan kesini lagi. Kapan-kapan lagi, ia akan menikmati tuk ini sendiri lagi.
Tapi saat gadis itu hampir meletakkan cawatnya di atas tumpukan baju cuciannya, saat itu juga tiba-tiba rimbunan semak-semak yang menutupi tuk itu dari pandangan orang awam terbuka, dan seorang pria berpakaian prajurit berjalan masuk ke area tuk .
"AAAHHH!!!!!" Pekikan melengking Jenar membuat prajurit yang tadinya menatap jalan agar tidak terkantuk bebatuan dan jalan tak rata, jadi mengangkat wajah berparas eloknya ke arah gadis telanjang itu. Prajurit itu membelalakkan matanya, dan seperti tersiram air es, ia diam terpaku.
Tanpa berpikir lama, sang prajurit bertubuh kekar itu buru-buru membalikkan badannya, mengalihkan pandangannya dari perawan desa yang bertelanjang bulat. Sedang Jenar, ia buru-buru mengambil kembennya dan menutup tubuh polosnya ala kadarnya. Saking terburunya, tangannya tanpa sengaja menyenggol kain cawatnya sampai hanyut ikut aliran air tuk . Gadis itu berdecak menyesali kebodohannya sendiri. Ia hanya mampu menonton cawatnya terhanyut ikut aliran tuk .
"Kan—,"
Gadis itu kembali berteriak setelah melihat pria bertubuh kekar lain yang buru-buru menghampiri pria di seberangnya. Jelas pria yang baru datang itu jadi penasaran dan ingin memastikan sendiri siapa yang berteriak di balik temannya. Tapi belum sempai pria itu melongok, Jenar dapat melihat jelas prajurit yang memunggunginya menggeleng pelan lalu mengisyaratkan temannya untuk pergi. Dan tanpa banyak bertanya, pria yang baru saja datang menundukkan kepalanya dan berjalan menjauh.
"Maaf, aku ndak tau kalau ada kamu disini," suara bariton yang keluar dari mulut prajurit itu terdengar rendah di telinga Jenar.
Perawan itu hanya terdiam, masih mencoba memproses kejadian ini. Radar Jenar berkata bahaya. Ada orang lain yang masuk di lingkar amannya. Jenar harus cepat-cepat bergegas. Harusnya. Tapi gadis perawan itu malah terdiam bingung. Ia bingung antara mau berlari kencang membawa bakulnya tanpa berpamitan, atau mengusir pemuda itu biar dia bisa membasuh badannya yang sudah lengket akibat keringat dari mencuci hari ini. Tapi bukannya bersuara menanyakan dua pilihan itu, sang gadis malah bertanya. "Ka-kamu ngapain disini?"
"Mau mandi,"
Jenar merutuki dirinya sendiri. Rasanya jadi orang terbodoh sedunia. Jelas kalau ke tuk , selain melakukan entah aktivitas apa yang Jenar lakukan tadi, ya untuk mandi— kan? "E-enggak gitu, maksudku kenapa disini? Kan mandi bisa di sungai,"
Prajurit itu terdiam. Sejenak Jenar merasa bangga dengan cepat pikirannya mencari pertanyaan dengan aksen mengusir, tapi sejenak lain Jenar merutuki dirinya. Kenapa dia bertingkah seakan yang punya tuk ini? Kan ini tempat umum .
" Tuk ini punya keluargaku. Tanah ini tanah keluargaku. Aku biasa mandi disini. Harusnya aku yang tanya kenapa kok kamu bisa ada disini,"
Jenar ternganga mendengar perkataan sang prajurit.
"Maaf," Gadis berkulit putih susu itu kini sudah kembali memakai kemben dengan baik— meski tidak ada kain cawat yang menutupi nunuk licin nya saat ini. EH— Jenar, fokus sama apa yang kamu hadapi sekarang!
Prajurit di hadapan Jenar berdeham singkat. Kini ia tidak ragu untuk menghadap ke kembang desa itu. Sudah ada kain yang menutupi tubuhnya. Sudah tidak saru lagi. "Aku ndak tau kalau ini tuk keluarga nya njenengan ," lirih Jenar, "Aku minta maaf udah nyuci sama mandi disini ndak pake izin,"
Jenar sedikit-sedikit menatap kakinya, lalu sedikit-sedikit mengintip ke wajah rupawan sang prajurit. Pikiran Jenar ricuh. Apa Jenar lebih baik pergi aja langsung? Mas itu nggak lihat waktu Jenar pegang nunuk nya sendiri— kan? Terus tadi berarti Mas itu lihat tubuh telanjang Jenar? Mas ini siapa sih? Kok Jenar belum pernah lihat seumur-umur di desa? Tapi ngakunya yang punya tanah ini? Mas ini lebih tua ya dari Jenar? Benar kan kalau Jenar panggil dengan panggilan Mas? Biar sopan? Ah — tapi Jenar sedari tadi sudah tidak sopan dengan prajurit di hadapannya.
"Sudah?"
"Eh? Ngapunten — Mas?"
"Sudah selesai? Nyuci sama mandinya?" Jenar tergagu mendengar ucapan sang prajurit.
"Sudah selesai belum?" tanya si prajurit. Jenar mengangguk pelan, tapi juga menggeleng pelan. "Sudah—?" tanya prajurit itu dan Jenar mengangguk, "—belum?" Lalu Jenar menggeleng.
Eh aduh, kenapa gadis itu jadi salah tingkah sih?
Pun kekehan bersuara rendah milik sang prajurit membuat Jenar menggigit bibirnya. "Kalau belum, lanjutin aja. Tuk nya luas. Aku bisa di sisi sini, kamu bisa di sisi sana," tutur sang prajurit. Melihat gadis perawan itu tak berkutik, si prajurit memilih untuk membiarkannya, lalu melepaskan pernak-pernik yang menempel di tubuhnya. Dimulai dari blangkon yang tersemat di kepalanya, keris yang terbalut kain di perutnya, juga beskap yang menyembunyikan otot kekar di tangannya.
Eh haduh ?! Prajurit itu mau telanjang?
Mengira kalau prajurit itu akan melepaskan semua pakaiannya, Jenar buru-buru menoleh ke arah lain. Entah kemana perginya angin sejuk dan udara dingin yang menemani Jenar sedari tadi. Kini gadis perawan itu merasakan panas yang menjalar di setiap jengkal tubuhnya.
"Kalau mau lanjut mandi, silahkan," tawar sang prajurit. Gadis itu diam-diam melirik ke arah sang prajurit. Nafasnya langsung berhembus lega saat melihat prajurit itu masih mengenakan kain jarik lapisan terakhir miliknya sebelum menenggelamkan dirinya ke dalam tuk. "Kalau mau pulang, juga silahkan. Aku ndak akan maksa,"
Prajurit itu menenggelamkan dirinya ke dalam mata air, lalu kembali ke permukaan sembari mengibaskan surai basahnya.
Ganteng banget?
Mulut Jenar jadi menganga lebar. Air tuk yang membasahi tubuh kekar sang prajurit membuat sang pria tampak ribuan kali lebih gagah dari detik mata mereka pertama bersua. Belum lagi tetes-tetes air yang turun dari ujung surainya. Prajurit itu tampak perkasa. Wajah dan postur tubuhnya membuat Jenar kepalang naksir.
Jenar nggak pernah segitunya naksir orang. Atau mungkin karena pemuda desa nggak ada yang setampan dan seperkasa prajurit itu. Atau mungkin karena sisa-sisa lonjakan hormon kawin Jenar yang membuat wanita itu jadi gampang tergila-gila sama pria. Jadi pengen direngkuh tangan kekar prajurit itu, jadi pengen—
Prajurit yang sadar kalau ada sepasang mata yang mengamatinya, menoleh ke arah Jenar yang masih setia berdiri di tepi tuk . " Ndak mau mandi?" tanya sang pria, "atau keberatan mandi kalau ada aku?"
" Ndak masalah kalau kamu mau tunggu sebentar. Mandi ku ndak lam—,"
"Eh! Endak gitu. Kan ini tuk nya keluarga Mas. Ya Mas bebas aja mandi disini. Mau lama, mau sebentar," Jenar tampak menimbang-nimbang keputusannya. "Aku permisi ya, Mas. Numpang mandi,"
Bagaimanapun, Jenar merasa perlu mandi saat ini juga. Selain tubuh nya pliket akibat keringat seharian, nunuk nya juga licin akibat fantasi nya barusan. Nggak nyaman bagi sang gadis kalau harus pulang dengan kondisi mengenaskan begitu.
Lebih-lebih, Jenar tak mau momentum ini lewat begitu saja. Ia ingin memandangi wajah tampan si empunya tuk lebih lama lagi.
Beruntung prajurit itu berbaik hati membiarkannya singgah sebentar dan menemaninya untuk sementara. Jenar jadi punya alasan untuk tinggal lebih lama
Berkata tentang prajurit, Jenar sendiri sebenarnya tidak tahu kalau pria di hadapannya itu beneran prajurit atau bukan. Ia yang tidak pernah menginjakkan dirinya di kawedanan sekalipun seumur hidupnya, hanya mampu menerka-nerka bahwa pria yang mengenakan beskap dengan corak emas, menenteng keris kuningan, dan berjarik batik kawung itu pasti seorang prajurit, atau bisa jadi bangsawan. Yang pasti orang penting yang punya kasta lebih tinggi dari gadis desa miskin sepertinya.
Selayaknya orang berkasta tinggi, prajurit itu memiliki karisma yang berbeda. Seolah mengeluarkan aura bersinar yang nggak ditemukan di sembarang orang. Seperti orang penting yang Jenar ajak bicara pun, Jenar nggak layak. Ia cuma layak menunduk dan mengangguk patuh pada setiap ucapannya. Harusnya. Tapi bukannya menunduk seperti sebagaimana Jenar semestinya, gadis itu tak henti memandangi sang prajurit. Penasaran setengah mampus, tapi tidak berani berbuat apa-apa.
Dan mungkin, karena berasal dari kalangan tinggi, prajurit itu nampaknya lebih beradab.
Jenar itu kembang desa yang paling cantik di desanya. Nggak akan satu menit pun dia dibiarkan berdiam diri sendiri. Dimana pun ia berada, pasti seseorang akan terusan memandanginya, mengajaknya berbicara, atau bahkan menggodainya.
Memandanginya, adalah hal paling lumrah dilakukan oleh seseorang pada gadis itu. Memandanginya dengan tatapan memuja dan penuh hasrat ingin memiliki hingga membuat gadis itu muak dan risih. Tapi sekarang, boro-boro dipandangi, menoleh ke arahnya saja sang prajurit tidak mau. Prajurit itu terus-terusan memunggungi Jenar, melongok ke luar tuk . Bertindak seolah tak ada gadis cantik yang sedari tadi menunggu perhatiannya. Jenar pikir, mungkin si prajurit tidak mau sang gadis merasa tidak nyaman karena mandi di tuk bersama orang asing, pria pula. Mungkin juga, karena didikan kebangsawanan atau apapun itu yang membuat si prajurit enggan melihat wanita minim busana. Padahal sejatinya, Jenar mau dipandangi sang prajurit. Padahal sejatinya, Jenar mau mencuri perhatian sang prajurit.
Kenapa sih? Saat Jenar nya mau mendapatkan perhatian dari orang yang dia taksir malah gagal? Sedangkan mendapatkan perhatian dari orang yang dia benci malah gampang.
Jenar menggerutu kesal. Tangannya kemudian menggosokkan kulit susunya dengan kasar. Sudah lah, lebih baik ia buru-buru mandi, lalu pulang. Melupakan kejadian hari ini, juga melupakan rasa naksirnya pada sang prajurit.
"Ini, buat sabun,"
Ucapan pria itu membuat Jenar menengadah dan terperangah. Prajurit yang tadinya selalu memunggunginya, menyodorkan beberapa lembar daun sirih kepada sang gadis. "Di sisi kamu ndak ada semak sirihnya, adanya di sisi ku,"
Oh.. jadi tadi saat tadi prajurit itu memunggunginya, ia sebenarnya mencarikan Jenar daun sirih. "M-makasih, Mas," pipi Jenar merona merah. Ah , berarti gadis itu masih tetap diperhatikan sang prajurit. Gadis itu mengambil daun sirih di telapak tangan sang prajurit. Dengan terang-terangan gadis itu mengusap tangan halusnya pada tangan sang prajurit. Tangan prajurit itu terasa kasar, kuat, dan jantan. Mh — pasti bisa bikin geli saat mengusap kulit madu Jenar.
Seperti gayung bersambut, sang prajurit pun meremas pelan tangan perawan yang sedang berusaha mengambil daun sirih itu. "Sama-sama," suara rendah itu membuat sang gadis menggigil dan buru-buru menarik kembali tangannya.
Nah, ini. Ini yang dicari-cari oleh Jenar. Perhatian dari orang yang dia mau. Tapi sebelum sempat gadis itu mengajak sang prajurit berbicara, prajurit itu sudah berenang ke sisinya.
Dengan senyum yang tertahan, gadis itu meremas daun sirih hadiah sang prajurit di tangannya hingga mengeluarkan lendir berbusa. Oh — ada apa dengan pikiran Jenar dan lendir. Pikiran itu berkelana jauh ke hal-hal kotor tanpa sanggup ia hindari.
Pun pikiran nakal Jenar kembali menguasai kepolosan sang perawan. Tangan lentik nya ia jawil kan ke lendir kehijauan yang terbentuk dari remasan daun sirihnya, lalu memeperkannya di kedua bilah dada yang menyembul di atas permukaan air.
Pipinya merona darah. Meskipun gadis itu tidak melihat prajurit tampan itu, pikiran liarnya berfantasi bahwa si pria sedang mengamati tiap gerak-geriknya. Oh— sang gadis dengan lendir kehijauan di atas dadanya meremaskan kedua tangannya di nenen itu. Beralibi menyabun, padahal menggoda. Menggoda agar prajurit itu bernafsu akan sang perawan.
Jenar menggigit bibirnya. Bayangan si pria menatap lapar ke arahnya menjadi minyak tanah untuk mesin tubuh nya dalam melakukan tindakan vulgar. Pun saat lendir hijau yang terusik oleh dua tangan itu mengalir ke tengah dua bolah dadanya, gadis itu menengadahkan kepalanya. Menikmati geli saat lendir licin itu mengalir turun sebelum lebur dengan air tuk .
Jenar, Jenar… Saru .
Ia yang kepanasan dengan kegiatan saru nya sendiri mengintip dari sudut pandangnya, memastikan kalau setiap geraknya tidak luput dari pandangan sang pria.
Nahas. Jenar goblok!
Jenar buru-buru membalikkan tubuhnya, memunggungi sang pria lantaran kesal. Pria itu bahkan tidak melirik ke arahnya. Bahkan asik memandikan tubuh perkasa nya sendiri.
Sia-sia ia menggoda pria yang terlewat acuh dan santun untuk bernafsu akan nya!
Gadis itu menggeram kesal. Disisi lain menyalahkan dirinya, yang mungkin tidak secantik gadis-gadis kawedanan, sehingga prajurit itu wegah meliriknya. Dengan tergesa Jenar menyabuni ketiaknya, wajahnya, juga tangannya. Ia malu. Ia ingin buru-buru selesai, lalu pulang. Ia malu. Karena disini, di antara mereka berdua, sepertinya hanya perawan itu yang mengharap lebih untuk dapat perhatian lawan jenisnya. Dan usai ia membasuh tubuhnya, Jenar segera melompat keluar tuk .
"Sudah mau pulang?"
Sayang, dengan satu pertanyaan sederhana, rencana buru-buru pulang milik sang gadis ludes tak bersisa. "I-iya, Mas. Terima kasih sudah dibolehkan nyuci dan mandi disini,"
Prajurit itu mengangguk. Sudah lah, sepertinya tidak ada harapan lagi untuk si gadis mencari perhatian sang prajurit. Gadis itu bergegas mengambil langkah untuk meraup bakul pakaiannya, lalu keluar dari pagar semak belukar yang mengitari tuk .
"Besok lagi, kalau butuh nyuci atau mandi, boleh kesini,"
Jenar mengangguk.
"Aku biasa mandi sore disini. Biar ndak kaget, semisal nanti kita ketemu lagi,"
Ucapan terakhir itu membuat sang gadis tersenyum lebar. Kalau ngga salah, itu artinya si prajurit juga mau bertemu lagi dengan Jenar, kan?
" Pareng , Mas," pamit Jenar sambil senyam-senyum .
"
Lho kan wingi uwis umbah-umbah to, nduk
?" tanya Bapak Jenar yang kebingungan setelah melihat gadis perawannya pagi-pagi sudah
gedubrasan
mencari kain kotor di setiap sudut rumahnya.
"Yang ini Jenar cuci ya, Buk? Diganti aja sama kain yang baru. Yang ini udah kumal," Ya jelas sudah kumal, wong yang di tangan Jenar itu kain buat angkat wajan dari kompor minyak tanah. Kain yang udah lama dipakai jadi bikin kain itu blentong-blentong areng. Si gadis yang seolah tidak mendengar sindiran sang ayah, melanjutkan misinya— mencari kain kotor untuk dicuci.
" Walah yung, yung… kuping kok ra di nggo ," gerutu sang bapak setelah melihat kelakuan ajaib putrinya yang mencueki si bapak.
"
Mbok wes to
, Pak. Anak perawannya lagi rajin itu," ujar Ibu Jenar sembari meletakkan lauk yang sudah matang tergoreng di atas piring. "Itu sana,
sprei ne diloroti
. Sekalian kamu ganti yang baru, ambil di lemari Bapak-Ibu,"
"Jarang-jarang
lho
Jenar mau
umbah-umbah
sendiri
ndak
pake disuruh. Biasanya nunggu Heni atau Rayi ngajak
umbah-umbah
, atau di
ceples
dulu sama Ibu," sindir sang Ibu. Oh, Jenar dengar semuanya, semua sindiran dan obrolan sang Bapak dan Ibu. Tapi gadis itu abai dan segera berlari ke dalam kamar. Kamar nya, bekas kamar Mas nya, dan kamar Bapak-Ibu nya untuk mencopot semua sprei. "Disapu sekalian
bledug
nya!"
"Iya!" teriak Jenar membalas perintah sang Ibu.
Gadis perawan itu menjejalkan setiap kain kotor yang ia dapatkan ke dalam bakul pakaiannya. Tak lupa, menuruti perintah Ibunya, Jenar mengambil sapu dan menyapu lantai ketiga kamar di rumahnya, sebelum ikut duduk di meja makan bersamaan dengan sang Ibu selesai menaruh setiap lauk, sayur, dan nasi untuk sarapan keluarga Jenar.
" Umbahan kamu kemarin aja tuh belum kering lho , kok udah mau umbah-umbah lagi?" tanya sang Bapak.
"Ya aku bisanya bantu Ibu umbah-umbah kok, masa ndak boleh?"
"Ck!" Si Bapak berdecak kesal, "Kamu itu ditanyain baik-baik kok jawabannya ra menaki !"
" Hush , ndak berantem ah di meja makan," tegur Ibunya menengahi Bapak dan Anak yang sering beradu mulut itu. "Maksud Bapak itu, kamu sekarang sudah mau nikah, berkeluarga. Pekerjaan istri itu ndak cuma umbah-umbah . Harus bisa masak, bersihin rumah, nyapu, ngepel, setrika. Lho , banyak to ? Banyak banget, mbok kiro dikit po ? Belajar yang lain selain umbah-umbah to , nduk ," Sang Ibu yang lebih tenang memberikan pengertian.
"Nikah apa sih, Buk? Barusan juga Ibu selesai ngunduh mantu nya Mas Jamal. Masa udah mau ngadain pesta lagi," Jenar mengambil piring jatahnya dan menyendokkan nasi bergiliran setelah Bapak dan Ibunya.
"Loh, justru karena Mas Jamal itu telat nikahnya. Nungguin Rayi dewasa dulu, baru bisa nikahin . Harusnya tuh ini udah jatah nya kamu. Wong kamu juga seumuran to sama Rayi? Lagian juga udah lama, itu lihat Rayi sudah hamil besar,"
" Lha po to , Buk. Nanti-nanti aja lah aku nikahnya. Biarin itu Rayi lahiran dulu, baru bahas aku nikah kapan,"
" Ra usah ngeyel kalo diomongi Ibu mu!" gertak sang Bapak, "kalau Ibu mu bilang sebentar lagi kamu nikah, ya nikah!"
" Ndak mau, Pak!"
"Harus mau! Besok minggu Mardi ke rumah buat ngelamar kamu!"
"M-mardi?"
"Morda Mardi, MAS MARDI !" sentak sang Bapak, " Adabmu ki lho, nduk! Perawan kok mbalesi omongan wong tuwa? Saiki yo nambah njangkar ngundang wong sing luwih tuwa ra nganggo 'Mas' ,"
"Pak—," baru sang Ibu mau menengahi, anak gadisnya sudah lebih dulu menggebrak meja.
"Aku ndak mau nikah sama Mardi!"
" Kurang ajar !"
"Pak, sabar dulu. Nduk , mbok dengerin dulu omongan Bapak sama Ibu," pinta sang Ibu.
" Ndak ! Ndak mau! Sampe aku jadi perawan tua, aku ndak bakalan sudi nikah sama Mardi!" Kembang desa itu bangkit berdiri, mengabaikan makan di piringnya yang masih lengkap dan penuh.
"Jenar!"
"Jenar pamit umbah-umbah !" Gadis itu segera meraih bakul pakaiannya dan bergegas lari ke luar rumah. Mengabaikan sang Bapak dan Ibu yang terus-terusan memanggil namanya.
Enak saja dia disuruh menikah dengan Mardi! Gak sudi!
Sehabis pembicaraannya dengan kedua orang tua Jenar pagi itu. Sang gadis jadi murung.
Padahal hal pertama yang membuatnya bersemangat sejak pertama kali membuka matanya di pagi hari, adalah acara umbah-umbah siang ini. Biar nanti sore, bisa mandi lagi bareng si prajurit perkasa. Tapi nyatanya, semangat itu luntur usai berdebat dengan keluarganya. Umbah-umbah hari ini terasa sangat melelahkan bagi si gadis. Meski tetap, semua umbahan nya rampung dengan cepat.
Kini Jenar hanya bisa duduk termangu di bebatuan sisi tuk . Memikirkan masalah tadi pagi yang makin dipikir makin berat. Jenar juga nggak tahu mau apa. Soalnya si prajurit belum juga datang, dan Jenar sendiri wegah pulang rumah.
Hela nafas Jenar kembali terdengar menyayat hati.
"Sedih kenapa, nduk ?"
"Eh, Mas?" gadis itu menoleh ke arah datang suara rendah itu. Mungkin saking asiknya larut dengan pemikirannya akan mau dinikahkan dengan musuhnya sendiri, gadis itu tidak sadar kalau sosok yang ditunggu-tunggu sudah sampai. "Sudah sampai, Mas?"
"Kamu nungguin Mas?"
Gadis itu langsung tergagu setelah mendengar pertanyaan si prajurit. Sumpah! Saking kalutnya pikiran si gadis, ia sampai nggak sadar sama dirinya sendiri. Nggak sadar kalo mulutnya malah ngomongin rahasianya sendiri, "Eh, endak — maksudku—,"
"Yah, padahal Mas udah seneng ditungguin kamu,"
Eh—. Kembang desa itu tersipu malu mendengarnya. Ah , sudah lah. Lebih baik Jenar diam daripada nanti makin salah tingkah jika dipaksakan membalas ucapan si prajurit. "Mas duduk samping kamu, ya?" Ujar si prajurit meminta izin. Jenar mengangguk.
"Nama kamu siapa, nduk ?"
Mata Jenar tak lepas dari tubuh perkasa yang tengah duduk di sampingnya. Berbeda dengan kemarin, prajurit itu hari ini memilih untuk duduk berjarak cukup dekat dengan si gadis. Mungkin karena sudah saling percaya bahwa mereka satu sama lain adalah orang baik, tidak ada yang protes atau bergerak menjauh saat paha keduanya saling bersinggungan. "Jenar, Mas,"
"Cantiknya, kayak yang punya,"
Pujian yang kerap Jenar dengar dari pemuda desa itu entah kenapa saat keluar dari mulut sang prajurit terdengar berbeda. Seperti sangat manis, sangat tulus hingga mampu menggetarkan hati. Mengenyuh sang perawan dan membuatnya kembali tersipu malu. "Kalau Mas siapa?"
"Jeman,"
"Oh, Mas Jeman," lirih sang gadis mengulang nama si prajurit. Detak jantungnya bertalu cepat saat gadis itu bersiap membalas pujian si prajurit. Namun kalah cepat, karena… "Aduh duh, merdunya, nduk. Kalau kamu yang panggil,"
Cekikikan gadis itu dibuat Jeman. Si perawan memukul pelan paha montok si prajurit, "Mas~," protesnya dengan nada mendayu.
Pun si pria ikut terkekeh melihat rona merah di pipi sang perawan. "Nah mbok gitu. Ketawa biar cantiknya keluar, jangan mbesengut terus,"
Mendengar godaan itu, Jenar mengerucutkan bibir dengan gemas, berpura-pura kesal, lalu memukul kembali paha montok Mas Jeman. "Aduh, Mas jadi sakit to , nduk , kalau dipukulin terus,"
"Eh—," baru mau Jenar meminta maaf dan menarik tangannya dari paha Mas Jeman, tangan kasar sang prajurit menggenggam miliknya. "Mas nya jangan dipukulin terus. Mending kamu cerita, hari ini sedih kenapa?" tanya Jeman dengan lembut.
Jenar memandangi tangannya yang ditahan oleh Jeman. Tidak berucap sepatah katapun untuk menjawab sang pria. " Nduk ?" tanya Jeman sembari mengusapkan jempolnya pada punggung tangan sang gadis.
"Aku dipaksa kawin sama Bapak-Ibu, Mas," Ucap Jenar layaknya tengah mengadu kepada kekasih sendiri. Nyatanya, mengadu pada orang asing yang belum genap sehari ia kenal. "Aku ndak mau, Mas,"
" Ndak mau nikah?"
"Ih bukan," mau nikah kok, apalagi sama prajurit tampan di depannya .
"Terus apa,"
"Calon ku tuh jelekk, malesan, ndak bisa hargain perempuan, matanya jelalatan—," loh loh… Gadis itu malah meluapkan semua ketidaksukaannya akan Mardi kepada Jeman. Pun si prajurit menyimak setiap ucapan yang terucap dari mulut sang gadis.
"Aku ndak mau nikah sama dia," Suara Jenar bergetar, "Aku ndak mau. Dipaksa nikah sama dia rasanya sama aja kayak dipaksa masuk ke neraka,"
"Maaf, Mas," lirih sang gadis. Leleran air mata yang mulai merembes turun membuatnya menarik tangan dari genggaman Jeman, lalu dipakai mengusap air mata.
"Kamu sudah bilang Ibu Bapak mu? Bicarakan kalau kamu ndak mau,"
"Sudah," rengek Jenar, " Ndak ada yang mau dengar,"
"Aku takut, Mas. Aku ndak mau. Aku ndak sudi!" Raung sang gadis. Pun dengan sigap Jeman merangkul tubuh gadis yang mulai menangis brutal dan membawanya ke pelukannya. Jeman biarkan gadis itu menangis dan membasahi beskapnya dengan air mata. Jeman biarkan gadis itu terbalut hangat tubuhnya saat menuangkan segala emosi dalam tangisan.
Saat tangis Jenar mulai melirih, pria itu mengusap lembut rambut sang perawan di pelukannya. "Sudah, ndak usah nangis. Dicoba lagi ngomong baik-baik ke Bapak Ibu mu bisa, to ? Kalau perlu, ngomong kalau kamu punya calon lain, jadi ndak mau kawin sama calonnya Bapak Ibu mu,"
"Ngomong gimana? Orang ndak punya calon. Yang ada nanti diketawain Bapak Ibu ketauan boong,"
"Loh, ndak punya?"
Jenar mendorong tubuhnya menjauhi Jeman. " Yo endak —,"
"Waduh, gawat. Kok cantik gini belum ada yang berhasil dapetin hatinya,"
"Ih, Mas~," gadis itu mbesengut gemas sambil memukul pelan dada Mas Jeman.
Jeman yang kegemasan pun mencolek dagu Jenar, "Gawat. Alamat susah ini Mas dapetin hatinya,"
"Ah udah ah, Mas Jeman usil," Pun sang pria terkekeh melihat gadis menggemaskan itu.
"Dibicarakan baik-baik, nduk . Pasti Bapak Ibu mu luluh kalau kamu mintanya baik-baik," Jenar tertegun sambil menatap mata Jeman, "Mau pakai nama Mas juga ndak masalah,"
"Mas—,"
"Cuma biar Bapak Ibu mu ndak maksain kamu lagi. Biar mereka tahu kamu ada calon lain,"
Jenar mengangguk, "Makasih ya, Mas. Sudah mau dengar ceritaku,"
"Iya, nduk ," Netra kelam Jeman menatap sayu ke arah Jenar, lalu perlahan turun ke arah bilah lembut sang perawan. Keduanya sempat terdiam beberapa saat. Pipi Jenar terasa hangat. Kalau dilihatin bibirnya, itu artinya apa sih? Terus kenapa mata Jenar juga jadi tertarik ikut menatap balik bibir Jeman?
"Mandi, yuk?" Penawaran Mas Jeman itu dibalas anggukan patuh sang gadis. Pun saat Jenar belum tuntas mengamati bibir sang pria, Jeman sudah lebih dulu bangkit berdiri. Bibir yang sedari tadi memenuhi pandangan Jenar, kini tergantikan oleh tangan yang menyodorkan bantuan untuk sang gadis itu sanggup bangkit berdiri. Tangan gadis itu meraihnya, lalu menyamai berdiri sang pria.
Jenar agaknya terlalu malu untuk balas menatap mata Jeman yang kini terpaku pada dadanya, dan memilih untuk melihat pin pada dada kirinya yang berbentuk lingkar padi dan kapas dengan gadura di tengahnya. Pikirannya mau tak mau berputar, mencerna pin apa itu, dan menandai apa itu.
"Mas mau lepas semua jarik Mas," Perkataan Jeman itu sukses menalukan jantung Jenar, "Kamu ndak masalah kan, nduk ? Mas lupa bawa ganti jarik hari ini," izin sang prajurit.
Gadis itu harusnya berlari kencang dan pergi. Bukan malah mengamati tangan besar Jeman mengurai benik beskapnya satu-persatu, lalu melepaskannya dari tubuh. Gadis itu harusnya tahu saru dan menoleh ke arah lain. Bukan malah memelototi tangan besar Mas Jeman menaruh kerisnya di batu, lalu melucuti kamus dan sindur dari pinggang. Gadis itu harusnya tutup mata. Bukan malah menatap sayu tangan besar Mas Jeman yang mengurai jarik yang ia kenakan, hingga tampak kain satin cawat pembungkus kejantanan. Harusnya.
Tapi malah otaknya terpenuhi lolongan pikiran saru .
Kacuk nya… besar .
Kacuknya Mas Jeman besar... Bikin cawat yang dikenakan sang prajurit menggembung, besar, dan sesak.
Dan saat Mas Jeman mengurai ikatan cawatnya, barulah gadis itu mau menoleh ke arah lain.
Jeman yang sudah telanjang bulat, berjalan masuk mendahului ke dalam kolam. "Ayo, nduk ?" Ajaknya kepada si perawan. Entah lagi-lagi apa yang merasuki tubuh gadis itu, Jenar mengangguk dan ikutan mengurai kemben yang memenjara tubuhnya.
Jeman menatap lekat mata Jenar. Oh , degup jantung sang perawan saking kerasnya terdengar hingga ke telinganya. Mas Jeman juga lihatin Jenar . Gadis itu jadi tersipu malu setelah tahu pria itu juga melakukan hal yang sama dengannya tadi. Tapi bedanya, saat kemben Jenar melorot turun pun, tatapan Jeman tetap melekat ke matanya, tidak memalingkan tatapan, juga tidak mengintip elok tubuh Jenar yang langsung polos setelah satu-satunya kain penutupnya terlepas. Iya, Jenar tidak pakai cawat lagi hari ini.
Kembang perawan itu dengan berhati-hati melangkah masuk ke tuk , bergegas ke sisi kemarin ia mandi, lalu duduk di batu yang tenggelam di dalam tuk . Gadis itu menoleh ke arah Jeman untuk mendapati pria itu masih setia memandanginya. "Mas?"
"Hmm?"
"Boleh ambilkan daun sirihnya?" Pinta Jenar.
Gila! Perawan saru itu sudah seutuhnya gila!
Pun Jeman meranggeh daun sirih dari belukar di dekatnya dan berenang mendekati si gadis. Adalah bohong jika Jeman tidak mampu melihat lekuk tubuh sang gadis dibawah air sejernih berlian permata itu. "Makasih, Mas," ucap Jenar sembari mengambil daun sirih yang tersodor untuknya.
Usai merespon dengan dehaman, Jeman segera beranjak ke batu yang terletak tepat di seberang Jenar.
Tatapan kedua insan itu tak lepas satu sama lain saat keduanya meremas daun sirih guna mengekstrak lendir-lendir bau segar itu. Seperti menjiplak pergerakan satu sama lain, saat sang pria mengoles lendir sirih itu di tangannya, Jenar ikut. Lalu saat sang perawan mengoles lendir sirih itu di dadanya, Jeman ikut.
Jenar menggigit bibirnya. Mandi sambil tatap-tatapan seperti ini membuat tubuhnya memanas. Ikutan tindakannya akan Jeman membuatnya tersipu malu. Meski saru , tetap ia teruskan. Nafas gadis itu tercekat saat Jeman menjalankan tangannya ke arah perut lalu turun ke bagian lebih dalam yang tertutup riak air. Gadis itu menelan ludahnya dengan kasar. Tangan gemetar yang masih membawa lendir sirih pun ikut turun menjiplak gerakan Jeman. Gadis itu menyusur perutnya dengan pelan, sebelum sampai di nunuknya. Terkejutnya bukan main saat sang gadis merasakan lendir lain di area itu.
Pun saat tangan lentik nan lembut itu menyenggol buntal syaraf sensitif miliknya, gadis itu njenggirat . Membuat pria di seberang sana khawatir dengan perubahan wajah Jenar dengan tiba-tiba.
Bibir Jenar agaknya bengkak dan memerah akibat keseringan di gigit bibirnya. Tapi itu tidak menghentikannya untuk terus menggigit guna menahan desahan laknatnya keluar.
Dingin, geli, saru . Lagi-lagi sensasi ini muncul saat tangan lentiknya tak henti mengusap nunuknya. Oh— tatapan tajam Mas Jeman ke arah si gadis membuatnya semakin terpancing untuk mengusap lebih cepat.
Mulut gadis itu terbuka saat merasakan nikmat yang menggebu. Tangannya mulai gemetar saat saraf yang terangsang terasa makin sensitif. Pun pria di seberang sana seakan abai dengan riak gerak air di sekeliling Jenar, seakan tidak melihat pergerakan vulgar sang perawan. Puncak Jenar yakin Jeman tidak memperhatikannya, adalah saat pria itu menenggelamkan dirinya ke bawah air, membilas sirih yang tersisa.
Tahu tidak dilihati, gadis itu malahan membuka kedua pahanya lebar-lebar. Memanfaatkan kesempatan untuk menggoda nunuknya cepat-cepat.
Getaran tubuh Jenar semakin nyata, pun si pria belum juga naik kepermukaan. Gadis itu pelan-pelan mengadahkan kepalanya. Mampus. Mampus. Rasanya Jenar mau kencing.
" Anh —," desahan gadis itu tetiba terhenti saat sang pria kembali muncul di permukaan. Mau tak mau membuat gadis itu cepat menghentikan kegiatannya dan menjauhkan tangan dari nunuknya.
Jenar menggigit bibirnya malu. "Kenapa, nduk ?" Tanya Jeman. Yang ditanya menggelengkan kepala. Padahal ia menahan getaran tubuhnya, padahal ia kencingnya sendiri.
"Udah pulang,
nduk
?"
Jenar buru-buru meletakkan bakul pakaian nya di lantai. Mengabaikan sapaan ibunya yang tengah menyapu di teras rumah lalu beranjak masuk.
"Bapak lagi ke sawah,"
" Ndak nyariin Bapak,"
"Ibu cuma ngasih tau aja. Tadi Bapakmu uring-uringan waktu kamu langsung nyelonong keluar. Nanti minta maaf dulu sama Bapakmu, nduk , eh, eh — ini bakulnya kenapa ditinggal sini?" Volume suara si Ibu semakin keras saat gadis perawannya menyelonong masuk menuju kamarnya sendiri.
"Minta tolong jemurin bajunya ya, Buk? Adek meriang kayaknya," Belum sempat sang Ibu menjawab, gadis kembang desa itu segera masuk ke kamar dan menutup pintunya.
Jenar menyandar ke pintu kamarnya. Degup jantungnya masih cepat mengingat kejadian barusan. Aduhh… Kenapa dia bisa selancang itu mainin nunuk di depan Mas Jeman? —sampe mau kencing pula. Gadis itu tanpa sadar memukul keningnya sendiri.
Untung aja loh tadi Mas Jeman ndak lihat. Coba kalau lihat. Wah, bisa-bisa dicap jadi perempuan nggak bener Jenar.
"Ganti kembennya dulu, nduk . Jangan basah-basahan naik kasur. Nanti tambah meriang!"
Ah, iya kemben. Kemben Jenar basah kuyup akibat kecerobohannya sendiri menjatuhkan kain itu ke tuk saat hendak memakainya. Tangan Jenar terlalu lemah untuk mengambil kain jariknya usai permainannya sendiri.
Beruntung Mas Jeman mau mengantarkannya dengan delman sampai depan jalan rumahnya, jadi gadis perawan itu tidak harus keliling kampung dengan jarik basah kuyup yang rekat pada lekuk tubuhnya.
Jenar melepaskan kain setengah basah yang melilit tubuhnya dan menjatuhkannya sembarang ke lantai.
'kamu pakai beskap Mas dulu aja biar ndak kedinginan' suara berat Jeman yang tadi ia dengar saat di dalam delman kembali memenuhi pikiran sang gadis. Jenar membawa tangannya untuk memeluk dirinya sendiri, menikmati fragmen ingatan akan betapa hangatnya beskap Mas Jeman saat membalut dingin tubuhnya.
'Masih dingin? Mau Mas peluk?' Pelukan tubuh sang gadis semakin erat saat pikirannya melayang ke waktu Mas Jeman dan ia duduk rapat di delman sempit selagi ajudan sang prajurit menarik pelana kuda di depan. Anggukan kepala pelan Jenar lah yang menjadi izin Jeman sebelum prajurit itu memeluk tubuh sang gadis. Mas Jeman hangat, dan wangi.
Semerbak wangi sirih yang segar masih menempel di hidung Jenar. Wangi lain seperti bunga juga ikut menyerbak dari beskap sang prajurit. Kembang desa itu dibuat mabuk olehnya. 'Tidur dulu, nanti kalau sudah sampai Mas bangunkan' Padahal jarak rumah Jenar dari tuk itu tak lebih dari 3 kilometer, padahal tidur disaat orang asing mengantarnya pulang bukan ide yang bagus, tapi gadis itu tetap memejamkan matanya, berpura-pura mengikuti perintah, padahal sibuk merekam kenangan dipelukan sang pria.
"Jangan tidur dulu, nduk ! Mimik jamu dulu, sudah Ibu buatkan!"
Gadis itu langsung membelalakkan matanya dan lari masuk ke dalam kasur dan selimutnya. Sepersekon kemudian Ibunya membuka paksa pintu Jenar dengan membawa segelas jamu. " Halah yungg , mbok yang rapi jadi anak perempuan itu," gerutu Ibunya sembari melirik ke kemben yang jatuh di lantai. Jenar menarik selimutnya erat-erat, menutupi tubuh telanjangnya agar tak terlihat dari sang Ibu.
"Sini minum jamunya dulu," Gadis itu memaksa duduk dengan menggenggam selimutnya agar tidak merosot turun. " Dolan banyu wae kok , dibilangin Bapak ngeyel to kamu,"
Jenar meneguk obat herbal— jamu di tangan Ibu nya sampai ludes. "Dah sana tidur," ujar sang Ibu. Ibu Jenar lalu beranjak keluar dari kamar Jenar dan mengambil kemben anaknya. Kembang perawan itu kemudian baru bisa menghela nafas lega.
Tidur Jenar, Tidur
…
Tidur . Bukan malah inget-inget pelukan Mas Jeman tadi saat di delman. Bukan malah bayangin kalau tangan Mas Jeman nakalin kamu.
Jenar meneguk ludahnya yang masih terasa pahit akibat jamu yang dia minum barusan.
Gimana ya, kalau tadi tangan Mas Jeman nakal…
Gimana kalau tangan itu nggak cuma peluk pundak Jenar aja.
Gimana kalau tangan kasar itu pelan-pelan turun dari pundak, ke lengan, lalu ke perut.
Gimana kalau tangan perkasa itu nggak berhenti aja di perut Jenar, tapi juga elus-elus naik turun.
Gimana kalau tangan Mas Jeman naik sedikit buat elus nenen Jenan, atau turun sedikit buat elus nunuk Jenar.
Pipi Jenar merona merah. Gadis itu segera melonjakkan tubuhnya tidak nyaman di atas kasur usai merasakan panas mulai menjalar di tubuhnya. Ia menenggelamkan dirinya lebih jauh ke dalam selimutnya.
Gimana ya…
Soalnya kalau itu terjadi, Jenar nggak bakal coba hentiin tangan nakal Mas Jeman.
Jenar bakal biarin tangan itu menyentuh tubuhnya. Seperti saat ini Jenar menyentuh tubuhnya sendiri.
Tangan kanan Jenar merambat meremas nenennya. Kayak gini, Mas Jeman . Enggh~ gadis itu meremas nenennya, lalu memilin pentil pink pucat yang mengeras hebat. Dengan mata terpejam, sang perawan membayangkan kalau saat ini ia tidak lagi berada di dalam kamarnya, tapi di dalam delman Mas Jeman. Ia membayangkan saat Mas Jeman duduk rapat di sampingnya. Saat semerbak wangi sirih dan bunga memabukkan dirinya.
Jemari Jenar menari di atas pentil kerasnya. Gini, Mas Jeman . Mulut Jenar menganga lebar. Gadis perawan itu mencoba meraup oksigen yang mulai menipis di bawah selimutnya. Meski sesak, gadis itu tak ingin keluar dari krukupan selimutnya. Biar sensasi sesaknya sama, kayak waktu dia di dalam delman Mas Jeman. Sesak, panas, dan sempit.
Bayangan tangan Mas Jeman menggantikan gerak tangannya memenuhi pikiran belianya. Pun saat tangannya tidak sengaja menjepit pentilnya, gadis itu melirih perih. 'Gini, nduk?' Suara semu Mas Jeman seolah berbisik di sebelah kuping Jenar. Gadis itu mengangguk semangat. Gini, gini, gini, Mas . Ricuh pikiran Jenar dibuatnya.
Tangan gadis itu sibuk mengerjai dirinya sendiri, sedang otaknya sibuk menguntai memori yang tidak pernah terjadi. Di pikiran Jenar, sang perawan tengah menyandarkan tubuhnya dengan pasrah pada Mas Jeman. Pasrah memberikan tubuhnya dengan cuma-cuma untuk Mas Jeman. 'Suka, nduk? Enak dielus Mas?' Kekehan rendah Mas Jeman di pikirannya terdengar kelewat nyata. Gadis itu mengangguk cepat.
'Suka? Suka makanya nunuknya ngeces, ya?' Jenar tersentak mendengar ucapan Mas Jeman yang ia bayangkan sendiri. Tanpa gadis itu sadari, tangan kirinya sudah bergerak turun, menyentuh nunuk berlendir miliknya. 'Nunuknya sampai ngeces gini, mau dielus juga sama Mas Jeman biar enak?' Gadis itu mengangguk semangat dengan pertanyaan yang ia ukir sendiri dipikirannya.
'Mau ndak? Ngomong sama Mas yang bener'
Sang gadis menggigit bibirnya dengan kuat. Tangannya di bawah sana sudah mulai membuka bibir-bibir vaginanya hingga membuat lendir kawin itu menyentuh udara panas yang terperangkap di selimutnya. 'Mau ndak?'
"Mau, mau, mau, Mas Jeman, ngh —," lirih sang gadis. Pikiran acaknya yang sudah tak lagi bisa berpikir. Ia lupa kalau di rumah dia tidak sendiri, tapi ada sang Ibu yang menemani. Ada sang Ibu yang kapan saja bisa mengintip, lalu memarahi gadis perawannya yang sudah rela melacurkan diri hanya demi prajurit kawedanan yang ia temui di tuk tersembunyi.
Seperti menyambut ucapan sang prajurit. Gadis itu segera melesakkan satu jarinya ke dalam lubang kawinnya. Mewakili jemari Mas Jeman nya yang berada di pikirannya. " Ouh —,"
Jari Jenar bergerak masuk keluar lubang kawinnya. Gadis baru besar dengan pengalaman nihil itu mengerahkan jemarinya untuk menari di dalam dan di atas nunuk licinnya, mencari mana saja titik yang bisa membuatnya keenakan, titik mana saja yang bisa membuatnya gelonjotan.
Nggak tau. Jenar nggak tau mana aja yang bisa dielus biar rasa gatal di nunuknya terobati. Tapi dengan telaten, tangannya meraba setiap jengkal nunuknya. Mencari dengan mandiri cara memuaskan diri.
Di tengah frustasi, ingatan gadis itu melayang ke waktu ia berendam di tuk bersama Mas Jeman. Ia ingat akan enaknya buntalan syaraf di atas nunuknya yang mampu membuat sang gadis njenggirat keenakan saat disentuh. " Ahh~ ," rengeknya saat sang gadis menyentuh itilnya kembali, mengulang rasa enak yang ia temukan saat di tuk tadi.
'Enak, nduk? Itilnya dimainin sama Mas bikin enak? Bikin nunuknya makin ngeces? Hm?'
Gila! Perawan itu agaknya sudah gila akibat bayangan yang ia buat sendiri terasa sangat amat nyata baginya. Enak, enak, enak, Mas Jemann!
Gerakan tangan Jenar semakin tak beraturan menggaruk itil yang semakin lama terasa makin gatal dan sensitif dibuat oleh kukunya. " Ahh — ahh — geli, Mas— hh ,"
Jenar rasanya ingin menangis, bayangan Mas Jeman di pikirannya masih setia menemani permainan payahnya. Belum lagi, lendir kawinnya mengucur lebih deras saat gadis itu menepuk itil yang sudah mengacung keras miliknya.
'Enak? Mas bikin pipis-pipis, ngompol saking enaknya, mau?'
Pun perawan itu mengangguk lebih semangat, bergerak lebih cepat. Seakan semua hal saru yang ia lakukan kali ini semuanya dilakukan oleh Mas Jeman seorang. Meski Jenar tahu, permainan payahnya akan kalah dengan Mas Jeman yang asli.
Jari Jenar yang kelamaan mengkerut akibat terkena lendirnya perlahan menyentuh muasal lendir itu. Lubang legit miliknya terasa mengigit saat satu jari mencoba kembali memasukinya. " Ouh — Mas Jeman,"
Dahi Jenar berkerut kuat. Jari payahnya nggak sanggup menggaruk titik gatal yang berada di dalam lubang kawinnya. Kurang panjang, kurang tebal. Coba saja kalau jari Mas Jeman yang masuk. Coba saja kalau kacuk raksasa Mas Jeman yang masuk...
Jenar menangis sejadinya. Ia frustasi, kecewa dengan jari sial miliknya. Jenar mau punya Mas Jeman yang masuk, menggaruk nunuknya sampai gatalnya hilang!
Tapi Mas Jeman cuma ada dipikirannya, nggak benar-benar ada disini. Jadi hanya dia yang bisa memuaskan dirinya sendiri dengan bayangan tentang Mas Jeman. Suara kecipak basah nunuk perawan itu semakin terdengar nyaring di dalam selimut Jeman, pun bau amis maninya memperparah birahi si perawan. Tangannya kian gencar memainkan dirinya, tak mau kalah dengan bayangan Mas Jeman yang mengocok nunuknya di bayangannya sendiri.
"Mau— pipis— ngggh Mas Jeman~ Ahh —,"
'Pipis? Mau pipis? Gundiknya Mas nakal ya? Mau ngompolin jari Mas' Getaran tubuh Jenar semakin dahsyat. Otak sang gadis tak lagi sanggup bekerja. 'Sini, ngompol sini. Mas mau lihat gimana gundik Mas ngompolin jari Mas'
Dan dengan perintah bajingan yang terukir di pikiran sompral Jenar sendiri, sang gadis mengucurkan cairan maninya dengan deras hingga membasahi kasur yang ia tiduri. " Nghh — Mas Jeman~," rengeknya kepada seorang yang bahkan tidak ada secara nyata bersamanya.
"Jenar ngompol, Mas. Gundiknya Mas ngompol," ucap gadis itu dengan lirih sebelum ia memejamkan mata dan masuk ke dunia mimpinya lebih dalam lagi.
Kembang desa itu lalu tertidur di atas kubangan maninya sendiri.
"Yah, kok ndak ada kain kotor lagi sih, Buk?"
"Hla mosok tenan ki lho, Pak. Anakke dewe wes kenthir," Sang Ibu mengomel sambil menaruh lauk di atas meja, "Heh. Kamu itu lagi sakit. Ndak usah neko-neko umbah-umbah. Sembuh dulu!" gertak sang Ibu.
"Aku udah sembuh kok!" Sanggah Jenar. Gadis perawan itu menyodorkan dahinya ke sang Ibu, "Coba pegang aja kalo ngga percaya,"
Benar, tidak ada sedikit hawa panas yang menguar dari tubuh Jenar. Meski kemarin katanya dia meriang, dan meski kemarin dia tidur di atas kubangan maninya sendiri. "Iya kann?" tanya Jenar.
"Ah udah ah, aku mau umbah-umbah,"
Mungkin karena sakitnya tertekan semangatnya yang membara untuk mencuci, semangatnya untuk menggoda Mas Jeman!
Gemblung , memang. Gadis perawan itu dengan nekat memupuk tekatnya untuk menggoda Mas Jeman hari ini. Ia tak lagi peduli dengan gunjingan miring orang lain. Yang ia pedulikan adalah untuk mewujudkan impiannya kemarin. Impiannya untuk disentuh Mas Jeman... dan kalau bisa, dimasukin Mas Jeman...
Jenar akan menggoda Mas Jeman. Sampai Mas Jeman klepek-klepek sama dia. Sampai Mas Jeman mau sentuh tubuh dia.
"Sudah, mana yang bisa aku cuci?"
" Ndak tau to Ibuk. Mbok dilihat kain se rumah udah mbok cuci semua. Njuk ya yang kemarin masih gemelantung di tali cucian sana. Kamu tu kalo lagi rajin, mbok ya jangan umbah-umbah aja. Kalau rajin itu bantu Ibuk meres santen, atau beres-beres rumah,"
"Ya tapi Jenar maunya umbah-umbah, Buk,"
"Halah, umbah-umbah apa?! paling alasan aja!" gertak sang Ibu.
Deg…
Jantung Jenar sepertinya berhenti berdegup untuk sejenak.
Eh, apa erangannya kemarin terdengar Ibu? Ibunya sudah tahu kalau ia mau bertemu Mas Jeman? Apa Ibunya tahu kalau anak perawannya sudah mulai nakal? Apa Ibunya—
"Pasti kamu gosip juga kan sama Heni. Sambil dolan banyu . Ngerti to Ibu. Makanya pakai alasan umbah-umbah,"
Oh… tenang hati Jenar. Gadis perawan itu berdeham, "Ya kalau iya, emang kenapa? Emang aku ndak boleh main sama temenku sendiri? Kan aku main juga sekalian bantu Ibu biar Ibu ndak perlu repot umbah-umbah kan? Aku bantu kerjaan Ibu, lho ,"
Maaf Heni, Jenar pakai namamu.
"Ck! Kamu itu dibilangin ndak bisa! Ndak ada kain lagi di rumah. Kalau kamu mau umbah-umbah, itu sana ke rumah Mas mu. Bantu Mbak iparmu nyuci baju, kasian itu hamil besar jadi repot umbah-umbahnya!"
Oh… iya… ada Rayi.
"Rayii!" Panggil Jenar yang berlari tergopoh menuju rumah Mas nya sambil membawa bakul kosong yang sering ia bawa mencuci.
Di depan rumah terlihat Mas Jamal yang memakai sarung dan bertelanjang dada sedang menyirami burung peliharaannya dengan air. Siulan merdu Mas nya Jenar terdengar sampai pelataran rumah Rayi dan Mas Jamal.
Rutinitas pagi Mas Jamal, dolanan manuk .
Jenar nggak ambil pusing dengan keberadaan Mas nya. Ia juga sering melihat kegiatan lagi Mas Jamal yang gitu-gitu aja setiap hari sebelum pindah rumah. Tanpa repot bertegur sapa, si ragil itu segera menyelonong masuk. "Ray—"
"Heh, Dek! Ndak sopan! Wong Mas mu ada disini!"
Oh… nyadar to kalo ada tamu? Biasanya kalo lagi dolanan manuk , mau ada gempa atau gunung meletus pun ngga bakalan digubris, fokusnya tetep ke manuk .
"Mas Jamal," sapa Jenar sambil terkekeh jenaka. "Aku disini ndak nyariin Mas kok, tapi nyariin Rayi. Ada to di dalam? Lanjutin aja lagi, aku ndak mau ganggu Mas. Tuh lihat itu manuk nya lagi ngising ,"
"Rayii!" Panggil nya lagi usai berceloteh panjang lebar kepada Kang Mas nya.
Mas Jamal menggelengkan kepalanya melihat betapa urakan adiknya. Dari dulu memang sudah urakan, sih. Tapi sekarang kayaknya makin urakan.
"Rayi! Ray?!"
"Jenar, apa sih pagi-pagi udah teriak-teriak?" Rayi menggerutu. Ibu hamil dengan usia kandungan kurang lebih 6 bulan itu berjalan dengan perlahan keluar dari kamar. Rambutnya masih acakadut , daster yang ia kenakan juga ngelembreh turun.
Penampilan Rayi setelah menikah jauh beda dari Rayi yang masih perawan. Dulu perempuan itu yang paling rajin diantara tiga serangkai kembang desa. Dulu Rayi yang paling pertama jemputin temen-temennya buat umbah-umbah ke kalen bareng. Paling pertama juga untuk datang dengan terbalutkan kemben wangi dan rambut tercepol rapi.
Nggak tau aja Jenar, kalau dari dulu Rayi ya maksain badan malasnya buat mandi pagi-pagi, terus tebar pesona sama Kang Mas temennya yang biasanya pagi-pagi rajin mandiin manuk .
Ya siapa lagi kalau bukan pria yang sekarang mandiin manuk di depan rumah nya .
"Kamu belum mandi?"
Rayi menggeleng. Ia mendudukkan tubuh beratnya di kursi meja makan. Jenar menyusul dengan mendudukkan tubuhnya di kursi seberang "Ihh Rayi jorokk. Kamu lagi hamil. Mandi yang rajin dong, biar anakmu waktu lahiran ndak bau," ejek Jenar.
" Enak wae ! Aku tetep rajin mandi kok. Ini juga lagi nunggu gantian dimandiin sama Mas Jamal,"
"Manja banget?!" hardik Jenar.
"Ya kan sekalian nganu, Jen,"
"Nganu apa?—," pun sebelum sempat Rayi menjawab, mata Jenar segera melotot, " Hop ! Udah! Ndak usah mbok jawab! Ngeres banget!"
Rayi terkekeh mendengar temannya sendiri. "Kamu belum nikah, belum tau rasanya, Jen,"
Nikah… huh... lagi-lagi percakapan soal pernikahan.
Apa benar ya, usia seumuran Jenar saat ini sudah masuk usia menikah? Jenar masih berumur 16 tahun loh... Tapi ya kalau dipikir, usia 16 itu sudah dianggap matang di masyarakat desanya. Buktinya ibu hamil di hadapan Jenar saat ini juga berusia 16 tahun. Sudah menikah, dan sudah hamil tua.
"Heh, kok ndomblong ?" Tanya Rayi sambil meraih gelas bersih di atas meja makan, dan menuangkannya air dari kendi ke dalamnya. Ibu hamil itu menyerahkan air itu kepada temannya. "Lagi ada masalah?"
Jenar mengangguk.
"A-aku dipaksa Bapak buat nikah sama Mardi," Ucapan Jenar itu sukses membuat Rayi menghentikan kegiatannya yang tengah menuangkan air untuknya sendiri. "Jen," Ibu hamil itu iba akan temannya.
"Aku ndak mau nikah sama Mardi, Ray. Aku ndak cinta sama Mardi,"
Meski Rayi sudah menikah, teman Jenar itu merasa ia tidak bisa sepenuhnya berempati dengan Jenar. Rayi menikah dengan pria yang ia sukai, ia dambakan. Sedang Jenar? Boro-boro menyukai Mardi, melihat Mardi saja tidak sudi. Sang Ibu hamil meletakkan kendinya secara perlahan lalu menggenggam tangan Jenar.
"Jen, aku tau kamu ndak cinta sama Mardi. Tapi aku juga tau kalau Mardi itu cinta mati sama kamu. Kalau dibandingkan pemuda desa yang lain, Mardi paling klepek-klepek lho sama kamu. Sejauh yang aku tau, tentang pernikahan, nikah sama orang yang cinta sama kita tapi kita ndak cinta sama dia itu jauh lebih enak dari pada nikah sama orang yang kita cinta tapi dia ndak cinta sama kita. Kamu ndak akan menderita, karena pasangan kamu rela lakuin apa aja buat kamu seneng. Karena pasangan kamu cinta sama kamu,"
"Tapi kan aku maunya nikah sama yang sama-sama cinta, Ray. Kayak kamu sama Mas Jamal, kayak Bapak sama Ibuk—,"
"Ya terus, emang ada orang di desa ini yang kamu cinta?" Bagi Rayi itu skak mat , karena sejauh ia bersahabat dengan Jenar, kembang desa satu itu tidak pernah sekalipun naksir sama pemuda desa. Yang ada, ya selalu memaki semua pemuda desa yang mencoba mendekat. "Sekarang pilihannya cuma kamu nikah sama orang yang cinta kamu tapi kamu ndak cinta, atau kamu cinta tapi dia ndak cinta. Tapi yo kayaknya pilihan kedua ndak ada juga kan?"
"Ada!"
"Siapa, ndak percaya aku," dengus Rayi. Ibu hamil itu meneguk air minumnya.
"Mas Jeman," jawab Jenar dengan lugas.
Dahi Rayi mengerut bingung, "Jeman? Emang ada orang baru pindahan ke desa kita? Kok aku ndak tau?"
"Ihh, dia orang lama tau. Tapi jarang kesini aja soalnya dia prajurit di kawedanan. Dia yang punya tanah deket rumah Simbok kamu, yang ada tuk nya itu lho ," Raut wajah Rayi masih menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak tahu dengan maksud pembicaraan Jenar. "Pokoknya ada deh,"
"Dia jarang keliatan di desa, cuma sering mandi sore di tuk nya. Terus aku—,"
"HEH?! JENAR!" Seru Rayi. "Maksudmu apa? Kok kamu tau dia mandi sore di sana? Kamu ngintipin?!"
"Dek, jangan dinakalin Mbak mu itu, kata dukun beranak ndak boleh marah-marah dulu! Nanti bayinya Mas bisa sakit!" Teguran Mas Jamal dari luar rumah membuat Jenar gelagapan menyuruh Rayi untuk diam. "Shtt.. Jangan keras-keras, ndak ada orang yang tahu,"
Mata Rayi semakin melotot, "Jadi bener!?"
"Jenar! Dibilangin Mas kok susah to ? Pulang sana kalo disini cuma mau ganggu bojo sama anakku !" Jenar memutar bola matanya jengah. " Endak , yaampun. Urusin aja itu manuk Mas," balas Jenar dengan malas.
"Rayi! Diem!" Bisik Jenar. "Jangan bikin aku diusir sama Mas Jamal! Aku masih mau cerita,"
Si Ibu hamil memilih untuk mengangguk dan diam, menunggui sahabatnya bercerita.
"Aku tuh ndak sengaja ketemu dia waktu umbah-umbah di tuk . Tuk yang kamu sama Heni biasa kesana itu lho , yang aku ndak pernah diajak,"
Rayi berdeham malu setelah mendengar sindiran temannya. "Aku ndak ngintipin dia," lirih Jenar. Memang benar kok. Jenar nggak ngintipin sih, cuma ngeliatin aja waktu mandi bareng. Juga mainin nunuk sambil terus ngeliatin. Jenar berdeham sebelum melanjutkan bicaraannya. "Kita juga sempet ngobrol berdua. Orangnya ganteng, baik, gagah," jelas Jenar.
Sang sahabat melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa meronanya Jenar saat menceritakan tentang si Jeman Jeman ini. "Terus kamu suka?" tanya Rayi. Jenar tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengangguk.
"Terus orangnya suka kamu ndak?"
Jenar terdiam tak mampu menjawab. " Ndak tau," lirih Jenar. "Aku ndak tau gimana caranya bikin dia suka sama aku. Ray, aku kan cuma anak desa. Mas Jeman setiap hari di kawedanan. Ketemunya Mbak-Mbak ayu , wangi , tur sugih . Kalah to ya kalau aku dibandingin mereka,"
"Tapi kamu mau to, biar si Jeman itu suka sama kami?"
"Ya mau to , Ray! Coba kalau Mas Jeman suka sama aku. Aku ndak perlu repot-repot nguras hati buat nikah sama Mardi. Dibawa ke kawedanan dan ndak ketemu sama Bapak, Ibu, kamu, Heni,—sama Mas Jamal pun aku ndak masalah. Tapi kayaknya buat bikin Mas Jeman jadi suka sama aku, susah deh," Bahkan kalau harus dijadikan gundik simpanan pun, selama bersama Mas Jeman, Jenar mau.
Sang sahabat tersenyum lebar melihat Jenar galau karena laki-laki. Tidak biasanya Jenar begini. Rayi rasa, kalau sudah sejauh ini Jenar galaunya, berarti kembang desa di hadapannya ini benar-benar cinta mati sama Jeman Jeman itu. "Laki-laki itu paling lemah kalau tentang tiga hal, Jen," ujar Rayi, "Kamu bisa bikin laki-laki mana aja jatuh cinta sama kamu, dari wajah kamu, masakan kamu, sama—," Ibu hamil itu menyentuhkan tangannya ke area privat yang tertutup oleh daster corak batiknya, " ini mu,"
"Ray!" Wajah Jenar merona merah.
"Loh aku ngomong beneran," ujar Rayi. "Emang kamu pikir usia bayiku sama Mas Jamal bener 6 bulan?" Ujar sang ibu hamil sambil mengusap perutnya. Mulut Jenar menganga lebar mendengar pengakuan sahabatnya. "Mau tak ajarin ndak, caranya bikin laki-laki ndak bisa lepas dari kamu?" Tawar Rayi.
"Ray! Makasih ya! Cucian mu tak bawa dulu. Besok aku balikin,"
"Aku yang harusnya makasih, Jen. Udah dibantu umbah-umbah . Eling ya, omonganku. Percaya wes , Mas Jeman Jeman itu bakalan klepek-klepek sama kamu,"
Jenar memeluk erat tubuh Rayi. "Makasih banget lho Ray. Kamu emang sahabatku sing paling top, selain Heni,"
"Ya itu karena kamu ndak punya sahabat lain selain aku sama Heni," sindir Rayi. Ibu hamil itu membalas pelukan erat sahabatnya. "Pokoknya besok, kalau sudah jadi nyonya prajurit kawedanan, jangan lupa mampir-mampir,"
Iya kalau jadi nyonya… kalau jadi gundik?
Tapi, titel apa pun yang bakalan Jenar sandang nantinya, gadis itu akan terima dengan hati senang. Asal bisa mengambil hati Mas Jeman.
"Ngomongin apa sih kalian?" Tanya Jamal yang mendekati adik serta istrinya yang tengah berpelukan di depan pintu. Membuat Jenar mau tak mau melepaskan pelukannya dari Rayi. Membiarkan Masnya berganti memeluk erat pinggang istrinya, "Emang Jenar mau ngapain kok tiba-tiba jadi nyonya prajurit kawedanan?"
"Bukan urusan Mas," sinis Jenar. Rayi terkekeh, dan menaruhkan kepalanya pada pundak sang suami. Pertengkaran Jenar dan Jamal itu ngga ada habisnya. Dan Rayi diam-diam suka memperhatikan pertengkaran saudara itu.
"Loh, kamu itu adeknya Mas, urusan kamu urusan Mas juga. Siapa cowo yang mau lamar kamu? Prajurit apa? Biar ketemu Mas dulu. Biar Mas lihat pantas ndak jadi kepala keluarga kamu,"
Jenar mencebik bibirnya sebal. "Apa sih, urus aja itu matanya biar ndak jelalatan! Jangan berani-berani ya Mas selingkuhin temenku! Aku tau rahasia Mas!"
Mas Jamal membelalakkan matanya memandang adiknya, lalu istrinya sendiri. "Hah, ap—,"
Rayi yang tak kalah terkejutnya dari Jamal segera mengangkat kepalanya dan menjauh dari sang suami. "Mas selingkuh?" Tanya Rayi dengan lirih.
" Hah ?! Endak nduk , Mas ndak akan— JENAR!"
" Tak pamit umbah-umbah dulu ya Ray, besok pagi ku antar pulang!" ujar Jenar sembari berjalan cepat menjauhi rumah sepasang suami-istri muda itu.
"Mas, jujur. Mas selingkuh?" Air mata Rayi mulai mengumpul di bola matanya, membuat hati suaminya mencelos sedih.
"Enggak, cah ayu . Mas ndak akan selingkuh—,"
Tapi sebelum Mas Jamal mampu menjelaskan, Rayi buru-buru masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu dari dalam. Membiarkan Mas Jamal menggedor pintu kayu rumahnya dari luar sambil terus-terusan meminta sang istri untuk membuka pintu dan mendengar penjelasannya.
Huh… Salah siapa lecehin sahabatku.
Umbah-umbah hari ini selesai sangat cepat. Entah karena pakaian Rayi dan Mas Jamal yang nggak banyak, atau karena Jenar buru-buru menyelesaikan urusannya agar punya banyak waktu mempersiapkan diri sesuai ajaran Rayi.
'Pertama, kemben kamu. Lorotin sampe pentilmu hampir kelihatan. Ndak cuma itu aja, yang bagian bawah kamu jinjing sampe pantatmu tumpah-tumpah. Terus kencengin sampe nepak badanmu. Nek sesek ndak papa, tahan sebentar. Nanti kan nek Mas mu birahi habis lihat kamu, kan di sobek,'
Jenar meneguk ludahnya. Perintah-perintah Rayi terdengar lugas dan vulgar. Seakan Rayi sudah pernah melakukan itu sendiri hingga tahu sedetail apa yang harus Jenar lakukan. Pun si perawan manut, tak mau ambil pikir tentang kemungkinan besar Rayi pernah melakukannya sendiri kepada Kang Mas nya. Jenar melepaskan ikatan kembennya, lalu menekuknya menjadi dua memanjang supaya kemben panjang yang ia kenakan terkesan lebih pendek saat dililitkan nantinya.
Dengan tangan bergetar meragu, ia melilitkan kemben itu tepat di atas separuh nenennya, membiarkan lingkar pink pucat sedikit menyembul keluar dari tutupan kainnya. Jenar menghembuskan nafasnya dengan berat. Kemben sesak yang ia kenakan panjangnya tak sampai separuh paha pula. Membuat kaki jenjang berkulit putih susu milik sang kembang perawan terekspos.
'Kedua, rambutmu. Jangan sering-sering di cepol. Rembyak aja. Terus kadang sibakin rambutmu. Atau sampirin ke samping, terserah kiri atau kanan. Biar lehermu lebih menggoda,'
Jenar tersipu mendengarnya. Ia dengan perlahan melepas cepol rambutnya, lalu menyampirkan rambut panjang legamnya ke bahu kirinya. Jujur, Jenar merasa bahwa dirinya menjadi ratusan kali lebih cantik.
'Terus yang ketiga, harus mentel, Jen. Suaramu dilembut-lembutin. Kalau bisa sering-sering elus tangannya. Aku jamin, habis itu, Mas mu bakal gantian yang elus kamu,'
Degup jantung Jenar bertalu cepat. Ia rasa ia sudah lebih dari siap menyambut Mas Jeman sore ini.
'Sisanya, ikutin apa mau Mas mu, jangan nolak. Biar kamu dapat enaknya. Kalau dielus tanganmu sebelah kiri, sodorin nenenmu sebelah kiri, dielus tanganmu sebelah kanan, ganti sodorin nenenmu sebelah kanan. Kalau digoda, balas goda!'
Kemresek semak membuat jantung Jenar semakin bertalu cepat. Sosok yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Pikiran si gadis itu menjadi kosong melompong setelah melihat prajurit tampan kawedanan yang selalu ia nanti. Hawa panas dingin yang ia rasakan di tubuhnya, juga licin cawatnya membuat gadis itu terpatung. Pun tatanan kemben yang ia kenakan membuatnya semakin meremang. "Mas Jeman," sapa Jenar dengan suara yang ia tahan setengah mati agar tidak bergetar.
Pun prajurit itu tersenyum lebar seraya berjalan mendekat. "Nungguin Mas, nduk ?" tanya Jeman.
Tak seperti kemarin, hari ini Jenar menggigit bibirnya dengan manja lalu mengangguk malu. Mengakui apa yang seharusnya ia akui. Hirupan nafas Jenar menjadi semakin sesak saat bau perkasa sang prajurit bergerak mendekat. "Kamu cantik banget hari ini," Pujian yang terdengar di pendengaran Jenar membuat gadis itu mendongak ke arah prajurit di hadapannya. Makasih, Rayi . "Makasih, Mas,"
Jenar mendongak bangga, memberikan sedikit waktu untuk Mas Jeman memindai tubuhnya dengan tatapan memuja. Tahu gitu, sejak awal dia menemui Rayi. Biar lebih awal pula Jenar bisa mendapat perhatian prajurit kawedanan ini. "Mandi, yuk?" Tanya Jeman dengan nafas tertahan. Jenar dibuat bergidik mendengarnya. Hembusan nafas hangat Jeman yang menggelitik pipi ranumnya, serta tatapan tajam ke arah nenen mengkalnya, membuat kembang perawan itu terpaku. Otaknya terlalu beku menjawab ajakan sang prajurit. Namun dengan sabar sang prajurit mengulang pertanyaannya. "Mau, mandi sama, Mas?"
Seperti tersihir, gadis perawan itu mengangguk. Membuat sang prajurit tersenyum puas.
Tangan kasar sang prajurit meraih ikatan kemben mini milik Jenar, lalu melerainya hingga jatuh begitu saja ke tanah. Respon lambat Jenar adalah mengangkat kedua tangannya untuk menutupi buah dadanya. Semburat malu menyerang pipi Jenar. " Ndak usah ditutupi, Mas suka lihatnya, cantik ,"
Gadis perawan itu pelan-pelan menurunkan tangannya ke samping tubuhnya. Tubuh eloknya yang kini hanya tertutup kain segitiga cawatnya diamati dengan lamat oleh sang prajurit. Merasa belum puas, Jeman meraih ikatan cawat Jenar, lalu ikut melepasnya. Gadis itu kembali tersentak dengan perlakuan tiba-tiba Jeman. Ia hendak menutupi jembut lebatnya saat suara Rayi menggema dipikirannya. 'Ikutin apa mau Mas mu, jangan nolak. Biar kamu dapat enaknya,' Gadis itu lalu mengurungkan niatnya.
"Bantu lepas baju, Mas, nduk ," perintah Jeman menyadarkan lamunan sang perawan.
Gadis telanjang itu segera membawa tangan gemetarannya ke beskap sang prajurit. Lapis demi lapis kain yang membalut tubuh perkasa itu dengan telaten Jenar lepaskan. Dan saat sang gadis dengan telaten meladeni sang prajurit, Jeman mengamati Jenar dengan tatapan tajam. " Nduk ?" gumam Jeman yang dibalas dehaman oleh sang gadis. "Ikut Mas ke kota, mau?"
Gadis yang tengah melucuti jarik sang prajurit membeku dan membalas tatap Jeman. "Mas mau persunting kamu," Ungkapan hati sang prajurit membuat otak Jenar gagal bekerja.
"Mas jatuh cinta sama kamu, nduk . Mas sudah pikirkan pembicaraan kita kemarin seharian ini. Mas ndak mau kamu menikah dengan pilihan Bapakmu. Mas ndak mau kamu menikah sama orang yang kamu benci. Kamu menuhin pikiran Mas seharian ini. Mas jatuh cinta sama kamu, dan kalau kamu belum jatuh cinta sama Mas. Mas ndak masalah kalau harus berjuang untuk cinta kamu setelah kita menikah nanti. Mas—,"
"Mas?" Tanya Jenar dengan tangannya yang masih menggantung di pinggul Jeman. Tangannya siap melepas jarik yang dikenakan prajurit itu hingga jatuh ke tanah, "Mas sudah pernah menikah?" tanya sang gadis. Mata Jeman mengerjap usai mendengar pertanyaan Jenar. Pun prajurit itu menggeleng, "Belum,"
Jenar menghembuskan nafasnya lega. Artinya… artinya ia akan jadi istri pertama Jeman kan? Nyonya rumah prajurit kawedanan itu? Bukan menjadi gundik simpanan? —meski sebenarnya Jenar juga tidak akan mempermasalahkannya jika iya. Tapi menjadi nyonya rumah, adalah suatu impian yang didambakan gadis lugu desa itu. "Mau," ucap Jenar. Tangan Jenar melepaskan jarik Jeman hingga jatuh ke tanah.
"Aku mau nikah sama Mas," ulang Jenar lantaran Jeman tak juga merespon. Tangan gadis itu segera melucuti cawat sang prajurit— calon suaminya. Hingga pria itu sama telanjang bulatnya dengan sang gadis.
Makasih, Rayi. Makasih, Rayi . Lantunan syukur itu terus menggaung di kepala Jenar saat sang gadis meletakkan kedua tangannya di atas dada gagah sang prajurit. "Mas, kok ndak bilang apa-apa?" ujar sang gadis dengan mendayu. Gadis yang gelisah dengan respon sang pria meletakkan kepalanya pada dada bidang itu. Seolah menunggu sang pria merengkuh tubuhnya, gadis itu mengusapkan kepalanya dengan lembut pada Jeman.
Deg-deg… deg-deg…
Jenar tersenyum senang. Ternyata Mas nya itu sedang deg-degan, makanya ngga bisa jawab ucapan dia. Dan saat tangan perkasa Jeman merengkuh tubuhnya, kini ganti jantung Jenar yang bertalu cepat. "Nanti Mas akan antar kamu pulang, lalu minta izin Bapak Ibumu untuk boyong kamu ke kota,"
Gadis itu mengangguk patuh.
Usai Jeman berjanji untuk mempersunting Jenar setelah mandi sore ini, tak ada lagi yang membuat keduanya berenang berjauhan di dalam tuk yang selama ini menjadi saksi bisu acara mandi bersama pemuda-pemudi yang belum terikat perkawinan. Kini, kemana pun Jenar berenang, Jeman akan setia menunggui gadisnya dari belakang, mengikuti agar jangan sampai terperosok oleh licinnya bebatuan tuk .
Jenar senang. Perasaan yang ia simpan selama beberapa hari ini nyatanya tidak bertepuk sebelah tangan. Nyatanya, pria di belakangnya juga menginginkannya sama seperti Jenar menginginkan Mas Jeman.
Tapi entah kenapa gadis itu juga merasa kesal.
Jenar kesal. Karena usai berjanji akan mempersunting pun, Mas Jeman masih di dalam mode santunnya. Tidak menyentuh tubuh Jenar barang sejengkal pun. Padahal pikiran Jenar sudah melayang buana. Gadis itu menginginkan Mas Jeman untuk menyentuhnya sebagaimana Jenar memimpikan sentuhannya semalam. Gadis itu menginginkan Mas Jeman untuk meninggalkan semua tata krama dan sopan santunnya, lalu merengkuh sang perawan yang sebentar lagi akan ia timang sebagai istri.
Toh Mas Jeman sudah janji mempersunting. Toh sebentar lagi Jenar akan menjadi milik Jeman seutuhnya. Namun alih mendapatkan sentuhan panas yang gadis itu ingini, Jenar malah mendapatkan peringat-peringat "Hati-hati, nduk . Batunya licin,"
Jenar geram.
Pikirannya langsung berputar cepat supaya Mas Jeman mau menyentuh tubuhnya. Pinggulnya, minimal. Jenar mau disentuh!
Pun saat otaknya berputar. Gadis itu segera memelesetkan dirinya dengan sengaja. " Aduhh ,"
Aduh! Gawat! Jenar yang tadinya mau pura-pura terpeleset untuk mengambil perhatian Jeman, malah beneran terpeleset bebatuan licin di bawah sana.
Pun dengan segera gadis itu dapat merasakan riuh air yang bergerak menabrak dirinya. Degupan jantung Jenar semakin keras saat ada tangan kasar merengkuh pinggulnya. Hawa panas yang menggelitik bulu kuduk Jenar dapat langsung menjelaskan bahwa pria itu berdiri tepat di belakangnya. Merengkuh tubuh gadis yang besarnya tidak sampai setengah besar tubuh sang pria. "Pelan-pelan, nduk . Kan sudah Mas bilang, batunya licin," bisikan itu merindingkan roma sang perawan.
Jenar tersenyum senang. Meski kakinya sedikit nyeri akibat benar-benar terpeleset, setidaknya sekarang Mas Jeman jadi merengkuh tubuhnya. Dan seperti kerbau dicucuk hidungnya, gadis itu perlahan-lahan menyandarkan kepalanya pada bidang dada sang pria. "Makasih, Mas," lirih Jenar.
"Sakit ndak ?" tanya Jeman berbisik. Tangan kasar yang merengkuh pinggul telanjang Jenar itu mengusap, juga beberapa kali meremas-remas pelan. Gadis yang menyandar itu mengangguk manja.
"Mau Mas pijit ?" Bulu kuduk Jenar merinding.
Gadis itu berlonjak geli, bermaksud untuk menjauh sedikit, atau mungkin membenahi posisi sedikit. Gadis pemberani yang nekat menggoda pria di belakangnya agaknya berubah pikiran dan menjadi malu. Jenar berniat mundur dari rencananya. Namun, benda mengeras di pantat Jenar membuat gadis itu mematung. Gadis perawan yang penasaran itu menggoyangkan pantatnya ke kanan dan kiri, berniat mencari tahu benda apa yang menusuk. Dan tanpa ia maksud, benda keras itu menyusup ke belah kakinya, menyodok lipatan nunuknya.
Mata Jenar membelalak lebar. Itu… itu… kacuk nya Mas Jeman.
"Mas pijit, ya?" tanya Jeman sekali lagi. Pun gadis yang kini menahan kacuk di selangkangannya mengangguk cepat.
"Mananya yang mau Mas pijit?"
Jenar dapat merasakan sendiri kalau kacuk nakal dihimpitan kakinya bergerak maju dan mundur dan menekan di bawah nunuk Jenar. Gadis yang perlahan kehilangan warasnya hanya mampu menganga, lupa dengan pertanyaan Mas Jeman. "Mananya, nduk ?" tanya Jeman menagih jawaban. Seolah pria nakal itu nggak lagi ngelakuin hal saru pada gadis perawan di rengkuhannya.
"Sininya?" tanya Jeman sambil memijit pinggul Jenar. Gadis itu menggeleng.
Jeman menyeringai melihat kembang desa itu mulai kewalahan dengan gesekan kacuk keras di nunuknya. "Sininya?" tangan Jeman maju meremas perut Jenar. Dan lagi-lagi gadis itu menggeleng. Mata gadis itu memejam. Gesekan di nunuknya terasa semakin cepat— semakin menuntut. Tangan-tangan gemetaran Jenar lalu menyentuh bebatuan di depannya, mencoba mencari bantuan penyeimbang dari geboran kencang kacuk Mas Jeman.
"Sininya?"
" Angh ~," tubuh gadis perawan itu njenggirat saat tangan nakal Jeman melesak dan meremas nunuknya.
Mungkin karena kadung dirangsang habis-habisan oleh sang prajurit, Jenar tanpa sadar mengangguk goblok .
" Nduk , nduk ," kekeh Jeman, "yang kesleo kaki, yang minta dipijit pepek. Gundik kamu, iya?"
Pun alih menjawab pertanyaan senonoh sang pria. Kembang perawan itu terus-terusan melolongkan desah nikmat.
Namun sejatinya, tanpa perlu jawab pun, Jeman sudah tahu persis kalau perawan di rengkuhannya ini punya jiwa gundik kental. Yang hanya perlu diasah sekali dua kali—pakai kacuk , bakalan manut dan nagih-nagih terus buat dikawini.
Jeman tahu persis, sekali ia kawini kembang desa satu ini, lanjutnya ia akan dapat gundik baru haus kawin yang birahi sepanjang waktu.
Jeman tahu persi, lha wong sejak pertama kali ketemu dia sudah bisa lihat gerak-gerik murahan si perawan.
Kalau dia perawan baik-baik, dia nggak bakalan telanjang di alam bebas dan abai sama siapa aja yang bisa lihat. Kalau dia perawan baik-baik, dia nggak bakalan remes-remes teteknya di depan pria yang baru dia temui. Kalau dia perawan baik-baik, dia nggak bakalan garuk-garuk nunuk di depan pria yang baru dia kenal, lanjut pura-pura ngga nyadar kalau dilihatin, malah ngangkang lebih lebar. Terlebih kalau dia perawan baik-baik, pipi Jeman yang bakalan merah saat ini karena ditampar, bukan kacuk Jeman yang memerah karena dijepit lipatan pepek tembem.
"Mas…" lirih Jenar. Lirihan itu nyatanya membuat Jeman semakin semangat menggenjotkan kacuknya. Bersamaan dengan riuhnya air di sekeliling mereka, gadis itu melolongkan kata ampun, pelan, Mas. Tapi Jeman mengacuhkannya. "Jangan minta ampun sama Mas. Kamu yang minta sendiri,"
Pok, pok, pok.
Suara air bertubrukan akibat gerakan brutal sang prajurit terdengar nyaring mengaburkan rintihan ampun sang gadis. "Mas, udah—,"
"Jangan munafik kamu," desis Jeman, "Kalau mau udah, pepek kamu ndak bakalan kerasa makin licin,"
Mulut gadis itu menganga lebar. Semua desakan yang Jenar rasakan di nunuknya, juga ucapan-ucapan cabul Jeman membuat gadis itu kepanasan.
Ingatannya akan kejadian semalam saat ia mengusap nunuknya dengan bayangan atas Mas Jeman terasa sangat berbeda. Sangat polos kalau dibandingkan apa yang Mas Jeman lakukan saat ini.
Lagi, permainan polos yang Jenar lakukan kemarin pun nyatanya bisa membuatnya kencing-kencing —ngompol di atas kasurnya, lalu tidur kelelahan. Apalagi ini.
Gerakan kacuk yang semakin menuntut kelamin Jenar untuk semakin sensitif itu mau tak mau menggetarkan tubuh sang gadis dengan dahsyat. Perasaan yang memuncak mirip seperti semalam membuat gadis itu kepanikan. Ia mencoba menjauhkan dirinya sebelum ia lagi-lagi ngompol. Ngompol di atas kacuk calon suaminya sendiri. Bisa malu Jenar.
Tapi alih membiarkan gadis itu menjauh. Jeman yang agaknya lebih tahu banyak soal urusan bercinta menahan pinggul Jenar. "Mau kemana kamu? Hmm?" tanya Jeman. Tahu dia, kalau gadis perawan di depannya sudah mau mencapai puncaknya sendiri. Tahu dia, kalau gadis perawan itu sudah tidak tahan lagi. Tapi jahil di pikiran Jeman memaksa sang gadis untuk menerima godaan lebih banyak lagi.
"M-mau pi-pis— hh , Mas udah, udah, udah, mau pipis— ngghh !" Jeman tersenyum puas mendengar jawaban Jenar.
Semua erangan dan rengekan Jenar tidak mampu membuat Jeman menenang. Saat gadis itu mengucurkan cairan kelaminnya dengan deras di atas kacuk sang calon suami. Jeman tertawa puas, "Gundik beneran ya kamu, ngompol di kacuk Mas,"
Isakan Jenar terdengar lirih di telinga Jeman. Membuat prajurit itu semakin melayang tinggi kepuasan.
Tangan Jeman segera mengocok kacuknya di dalam tuk, dan tanpa peringatan, ia segera menjejalkan benda besar itu ke dalam liang kawin Jenar yang masih mengucurkan lendir. "Mas!" Teriak Jenar yang terkejut.
"Tahan, nduk . Katanya mau dibawa Mas ke kota. Mau dipersunting, Mas," ucap Jeman.
"Mau to ?"
Gadis itu mengangguk pelan. "Kalau mau, harus mau dikawin dulu sama Mas,"
Bajingan bejat itu kemudian menjejalkan inchi kelaminnya lebih dalam ke liang madu sang perawan. "Mau kan? Dikawin sama Mas? Hmm?"
Gadis yang tidak mampu berfikir logis itu hanya bisa mengangguk dengan tangan mencengkram bebatuan dan mengerang buas. Liang perawannya terasa penuh saat kacuk besar sang pria merobos masuk. "Tahan, nduk . Sebentar lagi Mas bikin enak. Sebentar lagi Mas bikin kamu ketagihan di kawin— asu ! Pepekmu nduk , nduk . Ngeremet kacuke Mas kenceng banget ! Ahh — ahhh enak, nduk !"
" Ndak salah Mas pilih kamu! Mas bakalan kawini kamu terus sampe yang bisa dipikirin sama otak goblokmu itu isinya cuma kawin kawin terus. Mas bakalan jadiin kamu gundik Mas yang bisanya cuma ngangkang nungguin Mas pulang terus ngawinin kamu!"
Harusnya Jenar tersinggung mendengar perkataan kasar yang terucap dari mulut Jeman. Harusnya Jenar marah mendengar degradasi yang jauh lebih parah dari yang biasa terucap dari mulut Mardi. Tapi gadis itu malah menjulurkan lidahnya seperti anjing birahi minta dikawin disana sini. Gadis itu malah melayang membayangkan betapa nikmatnya hari-harinya usai dipersunting oleh sang prajurit.
"Mau, nduk ? Jadi gundik Mas?"
Gadis itu mengangguk semangat. Pun pria itu menjadi kian semangat menggenjot lubang bekas perawan itu sambil terus melontarkan kata-kata degradasi yang makin membuat Jenar kepanasan.
"Ahh, ahhh… Mas, Jenar mau kencing lagi!"
"Lagi?" Kekeh Jeman. "Belum puas tadi kamu bikin kacuk Mas bau pesing? Sekarang mau ngompolin Mas lagi?"
Isakan Jenar semakin keras. "Mas! Pipis! Pipis!"
Kekehan Jeman membuat Jenar semakin merinding. "Sini, kencingin kacuk Mas sampe puas," bisik sang pria.
Gadis itu kembali menggelinjang kuat. Seluruh cairan di tubuhnya seakan dipaksa keluar melalui lubang kawinnya.
Jenar yang sudah hilang tenaga, menyandarkan tubuhnya pada Jeman. "Jangan pingsan dulu, nduk ," perintah sang pria, "gantian Mas yang kencingin nunuk gundikmu itu,"
Pun Jenar tak lagi ingat detail kejadian setelahnya. Yang ia ingat hanya Jeman membawanya keluar dari tuk, lalu membaringkannya di atas kain jarik di tanah. Dan terus-terusan menggenjot kacuknya hingga nunuk sang gadis terasa nyeri, kebas, dan penuh dengan cairan mani serta kencing sang pria.
" Kanjeng Romo, kawula nyuwun pangapura ," Permohonan sang ajudan membuat Jeman melirik malas. Di pangkuannya masih ada gadis yang tertidur lelap usai melepas perawannya. Kacuknya pun yang masih setengah berdiri masih tersemat di dalam liang kawin hangat sang gadis. Sang pria masih menikmati sisa-sisa kawinnya dengan gundik barunya itu. "Sudah malam, Kanjeng Romo . Sudah sebaiknya kita kembali ke Keraton malam ini,"
Jeman mendengus sebal. Sang Raja terlalu malas beranjak dari tuk rahasianya. Pun masih terlalu malas untuk melepas persatuan senggamanya dengan calon permaisurinya.
Calon permaisuri. Jeman tersenyum tipis mendengar pemikirannya sendiri.
Niatnya yang meninggalkan keraton setiap sore untuk menghindari Ibu suri nya, juga untuk terhindar dari perjodohan-perjodohan memuakkan, menuntunnya untuk menemukan permaisurinya sendiri. Permaisuri yang punya paras cantik dan cocok kalau dipajang di depan joglo keraton, sekaligus gundik yang mampu mengimbangi nafsu birahinya di ranjang.
Jenar . Jeman tersenyum puas. Ia tidak salah pilih.
Gadis di pelukan sang Raja menggeliat lemah, merintih di dalam tidurnya, lalu mendusal lebih dalam ke pelukan Jeman. "Siapkan mahar. Malam ini biar dia ku peristri. Malam ini biar dia ku bawa ke keraton," Jeman mengusap rambut legam Jenar.
" Njih, Kanjeng Romo ,"
