Work Text:
“HU TAO!”
Hu Tao melayang-layang di udara, arus angin yang tidak menentu itu membuat gadis itu tidak bisa mengarahkan wind glider-nya dengan benar. “JANGAN KHAWATIRKAN AKU! OH!—OH! LIHAT DISANA, AKU AKAN COBA MASUK KE SANA!” Telunjuk Hu Tao mengarah pada lubang besar tepat di bawah sarang makhluk dengan elemen elektro berada.
Xiao menatap khawatir, “HU TAO ITU BERBAHAYA!”
“AKU HANYA AKAN MENGINTIP ISINYA”
Lalu wujud gadis itu tidak terlihat, tertutupi oleh awan badai yang tebal. Xiao menggenggam tangannya gelisah, ia memutuskan untuk menyusul gadis itu. Lubang besar menyambutnya ketika Xiao sudah setengah jalan terjatuh. Deru mesin yang aktif karena mendeteksi musuh juga terdengar jelas. Bisa-bisanya Hu Tao mencoba untuk masuk kemari.
“Ini akan menyenangkan, Sho!”
Itu adalah kata-kata Hu Tao.
Beberapa saat sebelum peristiwa ini terjadi. Penakluk Iblis bersurai kehijauan melepas topeng Yakhsha-nya.
Sembari berpegangan pada senjatanya waspada, ia melirik sekitar. Manik keemasannya menatap awas. Akses keluar yang tadi dipakainya untuk memasuki labirin ini mendadak tertutup oleh selaput tipis. Xiao meraba dinding transparan kemerahan yang terpampang. Tangannya tidak berhasil menembus selaput tersebut—selaput pelindung yang sama kuatnya seperti milik Rex Lapis.
Xiao menurunkan tangannya, ia melangkah mencari jalan keluar. Namun, baru saja ia melewati satu lorong, netra emasnya menangkap bahwa akses keluar lainnya juga ditutup oleh selaput-selaput emas.
Ia sungguh-sungguh terjebak.
Yaksha pelindung Liyue itu mencoba memutar otaknya.
Apa dia bisa mencoba menghancurkannya? Xiao mendekat—mencoba menyentuh kembali. Kelihatannya mustahil, tetapi bisa saja ada secerah harapan. Xiao mengangkat tombaknya, dihantamkannya ke arah selaput pelindung tersebut—tombaknya menembus selaput. Apakah itu tidak berpengaruh? Xiao rasa sia-sia.
Ah, bagaimana jika memakai bantuan vision?
Xiao menjatuhkan tombaknya, kali ini ia akan mencoba dengan tangan kosong karena senjata terbukti tidak dapat menggores selaput tersebut walaupun sedikit. Desiran angin berkumpuk ditangannya, membentuk suatu bola elemen yang berpendar kehijauan. Bola tersebut melesat ke depan. Merusak dinding yang ada di seberang selaput.
Elemen juga tidak berpengaruh.
Xiao menghela napasnya, ia bisa saja merusak atap labirin. Hanya saja ia berusaha berhati-hati. Jika salah langkah, bisa saja labirin bawah tanah ini runtuh dan mencelakai Hu Tao yang entah sedang berada di mana saat ini.
Ziing
Selaput emas itu hilang dengan tiba-tiba. Xiao menoleh, “Apa ada yang membukanya?” gumamnya pada diri sendiri. Persetan dengan pelaku yang membuka selaput, ia harus segera ke luar dari labirin ini. Prioritasnya adalah menemukan Hu Tao. Gadis itu terpisah darinya semenjak terjatuh dari tempat Thunder Manisfestation berada. Xiao menyusulnya kemari dan disinilah ia saat ini.
“Hu Tao?” panggil Xiao. Langkahnya bergerak naik, menyusuri tangga yang mengarahkannya untuk terus pergi ke atas. Xiao berhenti ketika melihat ada akses yang kembali tertutup. Dua selaput merah. Sang penakluk iblis kembali mendengus. Lagi-lagi ia terjebak.
“Apakah ada jalan memutar?”
Xiao menjelajahi kembali labirin. Ia sudah tahu Inazuma adalah tempat yang berbahaya, bahkan Rex Lapis pernah menyebutkannya dalam percakapan mereka. Xiao tidak masalah apabila ia terjebak sendirian. Labirin tua ini bisa dihancurkannya dengan mudah jika ia tersesat. Namun, keadaan kali ini ada satu mortal yang harus ia jaga. “Hu Tao?” Xiao kembali memanggil nama sang gadis.
Tidak ada sahutan balasan. Xiao tetap berjalan. Ia hanya kembali menemukan lorong tempatnya terperangkap pertama kali. Satu-satunya harapan adalah menunggu selaput tersebut di non aktifkan dengan sendirinya.
“Hah, sudah kuduga Inazuma itu ide yang buruk”
“Sekarang ... di mana dia?” Xiao menangkupkan tangannya pada selaput, mencoba meneliti apa yang ada di seberang dinding tak berwujud yang menghalangi.
Beberapa detik kemudian, bunyi khas ziingg itu kembali terdengar. Selaput di depan Xiao hilang.
Ia kembali mengeluarkan senjatanya. Bisa saja setelah keadaan tenang yang ia alami, akan ada musuh yang menyerang. Xiao kembali memakai topengnya, jalan mengarah pada tangga yang terus naik dan naik. Hingga sekelebat siluet terlihat berlarian dari lorong menuju lorong lainnya. Xiao berlari kecil, menyusul siluet tersebut.
Ditepuknya pundak sang mortal, “Hei.”
“AHH!—OH! Hai, Sho!” Hu Tao mengelus dadanya, kiranya orang lain ternyata adalah Xiao.
Syukurlah itu Xiao.
“Ke mana saja kam—“
“Darimana kamu tahu aku di sini??” Hu Tao menatap Xiao lekat, ia kebingungan sekaligus senang—ia memotong ucapan sang yaksha tanpa perasaan bersalah.
Xiao melepas topengnya, selagi mendekat ke arah wajah Hu Tao. “Tentu saja aku tahu, kamu pikir siapa aku?” penakluk iblis itu menghela napas kemudian.
Hu Tao tersenyum lebar, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Habisnya, di sini banyak sekali halangan.”
Xiao memutar bola matanya, “Yah, kamu tidak salah.”
“Aku memang sempat terjebak oleh dinding-dinding transparan.”
“AH! Itu aku” Hu Tao tertawa. Ia menunjuk beberapa selaput yang hilang dari tempatnya karena suatu tuas yang ditarik oleh Hu Tao. “Kupikir Sho akan menunggu di atas”
Jitakan lembut melayang ke kepala Hu Tao. Gadis itu mengaduh pelan sembari terkekeh. “Mana mungkin aku setega itu, kamu itu mortal.”
“Inazuma itu berbahaya, sudah kuperingatkan berkali-kali. Kamu tidak mendengarkan aku”
Hu Tao melangkah mendahului Xiao, “Tapi, lihat, sepanjang perjalanan, kamu menyukai pemandangannya, bukan?” Ia tersenyum simpul. “Aku melihatmu tersenyum beberapa kali”
‘Itu karena kehadiranmu’, jawab Xiao dalam hati. Jika tanpa Hu Tao, mungkin perjalanan ini tidak akan semenyenangkan itu jika dilakukan sendirian. Pandangannya tentang Hu Tao tidak pernah berubah sejak ia pertama kali bertemu dengannya. Ia mortal, yang dapat membuat kegundahan Xiao pergi. Kekuatan tambahan sekaligus kelemahannya dalam satu waktu. Karena itu Xiao terjun turun menyusul Hu Tao, ia tidak ingin gadis itu terluka.
Beberapa ornamen jatuh tergeletak, bekas dari musuh yang dikalahkan Hu Tao sebelumnya. Rupanya justru gadis itu yang bertemu dengan mesin-mesin yang serupa dengan penjaga lubang tersebut.
“Aku tidak menyangka, kamu berhasil sampai di sini” ucap Hu Tao. Ia memungut beberapa chaos device. Xiao melipat tangannya di depan dada. Mendengus—lagi.
Ia mengambil device-device dari genggaman Hu Tao, memerangkap gadis itu dengan lengannya. Kecupan singkat mendarat pada bibir Hu Tao. Xiao mengelus pipi gadis mortal itu lembut.
“Sudah kubilang aku akan menemukanmu.”
