Work Text:
“Om jangan, Om …” rengek Sunwoo lirih di atas pangkuan pacarnya.
Kuyupnya di bawah sana membuat celana dalam yang sayangnya masih menempel lekat di kulitnya terasa menyiksa. Rasanya ingin dia minta Om Sangyeon untuk lepas, robek, atau buang saja sisa-sisa kain tak berguna di tubuhnya, biar jari-jari nakal si pacar bisa bermain lebih bebas. Tapi mana mungkin Sunwoo bisa ngomong itu secara terang-terangan? Orang sekarang aja Sunwoo sudah malu setengah mati karena dia tau kalau reaksi tubuhnya, isi otaknya dan omongannya tidak ada yang sejalan.
“Cantiknya Om …” sapa Om Sangyeon di telinga kirinya membuat Sunwoo semakin merinding. “Belum apa-apa memek kamu udah tumpah-tumpah begini. Yakin mau berenti, Dek?”
Tangan kiri Om Sangyeon menahan pinggang pacarnya agar tetap duduk manis di atas pangkuan, sementara telunjuk dan Jari tengah kanannya masih menari di atas celana dalam Sunwoo yang bertambah lembab memalukan di bagian tengah. Bukan hanya klitorisnya yang diusap, tetapi lubang Sunwoo ditusuknya dari luar
“Gimana? Adek mau Om lanjut jangan?” tanya Om Sangyeon lagi karena belum mendapatkan jawaban pertama kali.
Kain yang seharusnya menutupi kemaluan Sunwoo malah memasuki rongga tubuhnya yang makin meleleh. Mau tidak mau, bibirnya yang licin tak berbulu terlihat menyeruak dari sisi-sisi celana dalam yang sudah semakin hilang karena Om Sangyeon sodok masuk.
“Mmmhhh … Iya … Lanjut ….”
Ya kali deh Sunwoo bisa ( mampu kata lebih tepatnya) jawab yang lain selain iya. Hal itu membuat senyum manis tersungging di bibir sang pacar yang kembali melukis bercak kemerahan di leher dan puncak bahu Sunwoo yang tak tertutup kemeja putih kebesaran yang sebenarnya milik pacarnya juga.
“Kamu tau gak sih kamu tuh cantik banget? Terutama di sini . Om suka.”
Bangsat emang setan.
Sunwoo tau banget kalau “sini” yang Om Sangyeon maksud itu ya memeknya, dan itu yang membuat pinggulnya menggelinjang semakin liar. Lagian kok bisa-bisanya dia yang remaja hormonal ™ ini dikasih Tuhan seorang pacar om-om mesum kayak Om Sangyeon? Alhasil kegiatan mereka kalau pacaran ya mau ngapain lagi selain ngewe?
Dan karena mereka sudah berhubungan lebih dari setengah tahun itulah, Sunwoo juga tau kalau Om Sangyeon suka banget pemandangan tembam bibir kemaluannya saat melahap celana dalamnya sendiri. Semua itu jelas terdengar dari desahan Om Sangyeon yang semakin berat di telinganya. Pun terlihat dari bagaimana dia terus-terusan menyiksa kelentit Sunwoo dengan menarik kain basah nan melar itu secara paksa ke atas. Sesekali dicubitnya juga bilah daging yang terbelah dari aksinya sampai kulit Sunwoo merona. Namun, tanda paling jelasnya adalah karena Sunwoo bisa merasakan sesuatu yang menggunduk yang dia duduki sedaritadi bertambah keras.
“Om?”
“Hmm?”
“Cium dulu,” pinta Sunwoo manja sambil berusaha menoleh ke belakang sejauh yang ia bisa. Sunwoo kesulitan bergerak karena dari awal mereka main Om Sangyeon sudah lebih dulu mengikat tangannya dibelakang dengan dasi kerjanya. Habisnya Sunwoo nakal sih, masa Om pulang bukan disapa tapi lanjut main game di hapenya.
Mendengar permintaan dari pacar kecilnya, Om Sangyeon segera melayangkan satu kecupan ke bibir manis yang menunggu. Namun malah kernyitan dahi yang menyapa Om Sangyeon setelahnya.
“Kenapa lagi?”
“Sunwoo kan mintanya dicium, bukan dikecup.”
“Emang apa bedanya?”
Jujur, malas Sunwoo kalau harus menjelaskan.
“Becanda sayanggg … Aduh, cantiknya Om, jangan cemberut terus dong. Kalo bibirnya gak bisa balik gimana?”
Ih, kesel deh dibecandain terus! Tapi sebelum Sunwoo bisa menjawab, Om Sangyeon menciumnya sebagai mana ia telah harapkan.
Bibir bertemu bibir, lidah menyapa lidah. Hidung bergesek bertabrakan saat mereka menghirup satu sama lain lebih dalam. Tangan Om Sangyeon yang barusan menusuk-nusuk memek Sunwoo dibawanya ke atas menangkup rahang Sunwoo agar ciuman mereka terus berlanjut. Sedikit lengket rasanya di dagu, tapi gak apa, nanti juga kering. Satu tangan Om Sangyeon lainnya meremas dada Sunwoo yang sudah lama terbengkalai.
Ah, enak.
Sumpah, saran Sunwoo sih kalau kalian mau partner ngewe yang dijamin enak mending cari pacar yang jauh lebih tua aja, kayak Om Sangyeon ini. Bener-bener practice makes perfect lah! Dia paling tau kapan harus ngapain dan gimana tekniknya supaya dapatkan reaksi ternikmat dari tubuh remaja Sunwoo. Tapi Sunwoo juga gak begitu pengen tau sih pacarnya ini udah latihan sama berapa banyak orang dulu sebelum sama dia, apalagi dulu sempat beristri. Ya udahlah, yang penting dia kena bagian enaknya aja.
Masih sambil memilin-milin puting pacar kecilnya dengan tangan yang dingin karena udara AC, Om Sangyeon menunduk untuk menggantikan satu tangannya dengan mulutnya yang panas. Dingin di kanan, panas di kiri, tapi sama gelinya. Putingnya sampai mencuat menegang. Sunwoo mendesah keenakan.
“Dulu pas kita pertama ketemu kayaknya kamu gak senakal ini deh. Aku masih inget dulu kamu liat kontol aku aja nangis, takut gak bisa masuk.”
Om Sangyeon berhenti bicara sebentar untuk kenyot pentil Sunwoo keras-keras sampai pipinya kempot. Sunwoo cuma bisa membusungkan dadanya dengan harapan Om Sangyeon mempermainkan badannya lebih, lebih, dan lebih.
“Sekarang liat badan kamu. Memeknya baru dicolek udah banjir, nenennya dikenyot sedikit loncat-loncat kesenengan. Udah jadi lonte kamu sekarang?”
Sunwoo mau nangis rasanya. Om Sangyeon ini kalau ngomong emang suka jorok banget. Awalnya dia sempat culture shock , tapi lama-lama kok ucapan-ucapan vulgar tak tau malu itu malah bikin dia tambah sange ya? Mana sekarang Sunwoo jadi ingat lagi kejadian memalukan di awal mereka pacaran.
Malam itu, di mobil saat pulang dari nonton bioskop tengah malam, Sunwoo si genit iseng-iseng coba remas titit Om Sangyeon yang lagi nyetir dengan khusyuk. Anehnya bukan Om Sangyeon yang kaget, tetapi malah Sunwoo yang terkejut bukan main pas ngerasain gundukan daging tak bertulang dicengkraman jarinya itu.
“Anjir?! Ini salah pegang gak sih gue? Gede banget woy! ” pikir Sunwoo 6 bulan yang lalu.
Tidak cuma sampai disitu, karena keisengan Sunwoo yang bikin Om Sangyeon kepalang napsu, keduanya lalu berakhir menginap bersama di suatu hotel di tengah kota. Nah, di kamar hotel itulah Sunwoo hampir pingsan pas lihat Om Sangyeon yang habis mandi membuka bathrobe -nya. Kalau diingat lagi malu-maluin banget sih dulu Sunwoo sempat nangis-nangis minta dipulangin aja karena sempat berpikir gak mungkin itu kontol setebal kaleng coca-cola bisa cukup masuk ke memeknya. Tapi nyatanya masuk-masuk aja kok. Malah dia yang ketagihan habis itu gak mau berhenti digenjot sampai pagi.
Namun rasanya kadang Sunwoo itu lupa bahwa Om Sangyeon juga cuma manusia biasa yang kalau sudah disodorkan badan remaja sintal penuh nafsu di depan mukanya gak mungkin lah dia tolak. Dan keluguan serta inexperienced -nya Sunwoo justru menjadi hal yang membuat Om Sangyeon semakin jatuh hati, karena berbeda dari partner bercintanya yang lain, Sunwoo-nya bisa dia ajarkan dari nol tentang berbagai macam cara untuk memuaskan dirinya. Singkatnya Sunwoo adalah sex-doll yang manis dan patuh, dan benar-benar dibuat hanya untuk Om Sangyeon seorang.
Anyway, poinnya adalah … yaa Sunwoo jadi nakal begini kan gara-gara ajaran Om Sangyeon juga.
“Hnngghhh … Iya, lontenya Om!”
“Yakin buat Om doang? Paling dikobelin satpam lobby apartemen juga kamu bakal muncrat-muncrat. Mau taruhan?”
Membayangkan Om Sangyeon membiarkan dirinya dilecehkan oleh orang lain, atau seperti katanya sendiri, dikobelin satpam sampai muncrat-muncrat demi taruhan bikin Sunwoo mendesah sambil secara tidak sadar menggoyangkan pinggulnya semakin heboh. Ia mencoba mencari friksi untuk liangnya yang kepalang gatal karena dianggurkan untuk noktah-noktah kecoklatan di dadanya.
PLAK
Satu tamparan mendarat tanpa aba-aba di bagian bawah Sunwoo yang membuatnya langsung menjerit kaget.
PLAK
Tamparan kedua yang mendarat masih sama mengagetkannya. Panas. Cairan yang terasa familiar mulai mengucur dari sela paha Sunwoo.
“Jawab Om.”
“Gak! Sunwoo janji sampe mati Sunwoo punyanya Om Sangyeon doang!”
Kali ini bukan tamparan yang Sunwoo terima, melainkan cengkraman erat pada vagina tembamnya yang disusul dengan kecupan manis di ubun-ubun. Sunwoo mau melayang rasanya. Rela tubuhnya yang lonte ini dipakai buat memuaskan Om Sangyeon seumur hidup.
“Berdiri, buka kemeja dan celana dalam kamu. Ikut Om ke kamar sekarang.”
Oh, dengan senang hati.
Setelah Om Sangyeon melepas ikatan dasi di pergelangan tangannya, Sunwoo langsung melucuti dirinya dari kain-kain yang sedaritadi sudah menyiksa. Dilempar pakaiannya ke sembarang arah. Biar saja nanti Bibi yang suka datang buat bersihin rumah untuk memungut dan mencucinya.
Sejujurnya Sunwoo kurang suka dengan Si Bibi. Sering ia tangkap asisten rumah tangga itu menatap sinis ke arahnya seolah mau bilang “Dasar pelacur!” Seakan-akan dia manusia yang jauh lebih baik dan suci karena metode mencari uangnya yang halal jika dibanding Sunwoo (ini dulu ya, sekarang mah hubungan mereka sudah berbasis cinta ).
Karena Om Sangyeon gak tahu-menahu soal perang dingin Sunwoo dengan asisten rumah tangganya, jadi sekalian saja Sunwoo suka sengaja mengajak pacarnya main di tempat-tempat yang repot untuk dibersihkan, seperti meja dapur dan karpet bulu berwarna putih di ruang tengah. Dia juga sering meninggalkan jejak alias pakaian dalamnya yang basah bekas bercinta di sembarang tempat. Biar Si Bibi tiap kerja dapet surprise . Toh, kalau dia memang pelacur, Si Bibi juga tetap harus bekerja mengurus rumah dan barang-barang punya pelacur.
Well, buat Sunwoo sih semua ini lucu di otaknya.
Sesampainya di kamar, Om Sangyeon langsung melempar Sunwoo dengan kasar hingga terjatuh mengangkang di atas kasur. Dengan kemeja dan rambut yang sudah acak-acakan, Om Sangyeon terlihat seperti serigala kelaparan. Si mangsa refleks menutup kakinya.
Takut.
Sunwoo takut Om Sangyeon menyantapnya hingga tak bersisa.
Namun decakan tidak puas dari pacarnya yang lebih tua itu membuat Sunwoo langsung memperbaiki perilakunya. Dengan sigap Sunwoo merangkak ke kepala kasur, disingkirkannya bantal-bantal ke bawah, dan bersandarlah ia ke kepala ranjang sambil membuka kedua pahanya lebar-lebar.
Di tengah selangkangannya yang basah, dipamerkanlah bunganya yang merekah, merah menggoda.
Dengan puppy eyes -nya Sunwoo seperti berkata, “Lihat aku! Semua ini milik Om seorang!”
Memang, ini pose mesum kesukaan Om Sangyeon. Tak jarang Sunwoo dipinta menunggu Om Sangyeon selesai bekerja dalam keadaan itu sambil tangan dan kakinya diikat ke tiang-tiang di kepala ranjang dan sebuah dildo atau vibrator atau keduanya (tergantung mood Si Om) menari-nari tanpa henti di lubangnya. Kata Om Sangyeon, ini biar Sunwoo jadi anak pintar dan patuh. Sialnya, Si Bibi pernah sekali menemukan Sunwoo yang sedang muncrat-muncrat keenakan karena Om Sangyeon lupa telah meninggalkannya lama dalam pose itu. Sunwoo malu, tapi kelihatannya Si Bibi yang langsung membanting tutup pintu kamar sambil berteriak-teriak minta maaf jauh lebih malu.
Om Sangyeon memilih duduk dengan santai di tepi kasur. Tangan kirinya menopang tubuhnya, sementara tangan kanannya mengusap kulit mulus paha jenjang dan betis Sunwoo dengan lemah lembut. Sunwoo tak ayal bergerak memajukan pinggulnya. Inginnya Om Sangyeon tidak kebanyakan menggoda.
“Kamu baru shaving ?”
“ No, waxing. ”
“Kapan?”
“Kemarin, pas Om bilang bakal pulang hari ini.”
“Pantes ….”
“Om suka?”
Om Sangyeon mengangguk dan mendekatkan wajahnya ke lubang Sunwoo yang semakin bercucuran karena excited . “Lembut… Kayak pantat bayi.” Sayang kecupan Si Om malah mendarat ke pangkal paha kirinya. “Basah bener, disentuh aja belom.”
“Om ….”
“Apa?”
“Jangan digodain terus aku-nya ….”
“Emang kamu maunya diapain sih? Ngomong sama Om.”
“Itu ….”
“Itu apa? Ngomong yang jelas, Sunwoo.”
“Yang di bawah ….”
Tolong jangan buat Sunwoo harus ngomong kata-kata jorok itu terang-terangan, please !
“Apa yang di bawah? Punya mulut dipake yang bener dong, anak manis. Kalo kamu gak bilang Om gak bakal tau Adek mau apa.”
Ya Tuhan, mending Sunwoo mati aja sekarang, gak sih?
“Hnnggg … Itu … Yang di bawah … Mau … Dijilat? Boleh … ?”
Sunwoo menyembunyikan wajah merahnya di balik kedua tangan mungil. Malu malu malu!
Ditariknya kedua tangan itu oleh Om Sangyeon untuk selanjutnya dikecup. Gemas.
“Cantik … Buat kamu apa sih yang enggak?”
Dan akhirnya, sampai juga wajah tampan Om Sangyeon ke bagian bawah Sunwoo yang kepalang kuyup. Dihirupnya lekat-lekat aroma manis si kecil dari sumbernya. Geli rasanya saat hidung mancung Om Sangyeon tak sengaja (apa jangan-jangan sengaja?) menggesek kelentit Sunwoo yang mencuat semangat. Namun belum sempat Sunwoo bereaksi, Om Sangyeon membenamkan wajahnya lebih dalam dan memulai jilatan-jilatan basah dan panjang dari lubang vaginanya dan terus ke atas.
Ah, sialan. Enak banget! Siapa yang gak sungkan dikatain pelacur kalau bisa ngerasain euforia kayak begini setiap hari. Pikir Sunwoo, buat apa lagi dia dilahirkan dengan memek kalo bukan buat dijilatin dan disodok sampai mampus terkencing-kencing.
Paha Sunwoo yang bergetar karena keenakan didorong sang pacar ke atas sampai menempel ke dadanya. Untung Sunwoo yang masih 21 tahun ini kuat dan fleksibel. Mau ditekuk, ditarik, dilipat, digendong, didorong ke bentuk apapun Sunwoo sanggup. Hal itu juga yang kadang bikin Om Sangyeon lupa waktu kala mereka sedang bercinta. Rasanya seperti baru mulai tapi kok tiba-tiba matahari sudah terbit dari balik gorden?
Dengan posisi ini juga Sunwoo bisa melihat bagaimana vaginanya diacak-acak kanan, kiri, atas, bawah oleh lancip ujung lidah Si Om yang tekniknya yang pasti sudah dia sempurnakan bertahun-tahun. Seluruh cairan di dalam tubuhnya seakan dipaksa keluar dengan sedotan-sedotan menyeruput yang suaranya menggema di kamar pasangan kekasih yang sedang dimabuk nafsu tersebut.
Badan si remaja menegang membusur, sementara jarinya mencengkram seprai dengan kuat. Melihatnya, tangan Om Sangyeon usil memainkan puncak dada Sunwoo yang menganggur. Om Sangyeon cuma punya dua tangan dan satu mulut, tetapi entah kenapa Sunwoo bisa merasakan sentuhannya di mana-mana.
Diantara lemasnya, Sunwoo mencoba untuk bangkit dan melihat keadaan kekasihnya. Dagu Om Sangyeon basah mengkilap, napasnya memburu saat ia mengembalikan tatapan Sunwoo dengan penuh napsu. Bibirnya yang merah dan bengkak mencium kelentit Sunwoo yang berkedut, sementara kontak mata keduanya tak pernah terputus.
Gila.
Sunwoo bisa gila.
Gak.
Sunwoo sudah gila.
Lidahnya menjulur keluar saat ia buka pahanya semakin lebar, sementara dua jari tangannya membentuk V, menyibak lipatan labianya terbuka, membantu Si Om yang sedang bekerja keras di bawah.
“Haahhh … Hahhh … Omhh … Enakhhh … Tolong, makan Sunwoo terus … terus hhh … sampe keluar pipisnya.”
Sesuai perintah, daging tak bertulang itu semakin berani menyelusup menyapa bagian intim Sunwoo semakin dalam. Sunwoo pun menyambut kedatangan organ lain itu memasuki tubuhnya dengan menggoyangkan pinggulnya berlawanan arah. Lidah Om Sangyeon menjelalah menelusuri keindahan rongga panas pacar kecilnya. Tak cuma menusuk keluar masuk, Om Sangyeon juga gunakan ujung lidahnya agar menggaruk, menggelitik dinding Sunwoo dari dalam.
“Lagiii … Terus … HhhA-ah! Di sini juga gatel. Itil Sunwoo gatel! Enghhh ―!”
PLAK! PLAK! PLAK!
“ a-AH!! SAKIT!”
Baru saja Sunwoo mencoba bermain dengan klitorisnya sendiri, namun dengan sergap tangannya ditepis dan kemaluannya ditampar hingga merah dengan telapak tangan Om Sangyeon yang besar dan tebal. Rasanya seperti disengat listrik pas lagi nikmat-nikmatnya, tapi kenapa ia malah banjir semakin deras?
“Om gak ada nyuruh kamu main sendiri. Sekali lagi kamu nakal, Om suruh temen-temen kantor Om dateng buat gilir kamu sampe besok pagi. Ngerti?”
Om Sangyeon menyelesaikan ancamannya dengan meludah tepat di liang Sunwoo yang sudah merem-melek. Tiga jarinya mendadak masuk, mengobrak-abrik lipatan daging tembam Sunwoo. Mencampur liurnya bersama cairan Sunwoo yang tak henti-hentinya mengalir.
Suara kecipak basah semakin terdengar jelas di ruangan yang semakin memanas itu. Tidak cuma mengkobel, jari Om Sangyeon juga membuat gerakan-gerakan menggunting di dalam hingga Sunwoo bisa merasakan lubangnya semakin melar. Teriakan melengking keluar dari tenggorokan Sunwoo kala jari itu menggaruk ke atas hingga menyentuh titik paling nikmatnya.
“AHHH!! IYA!! DI SITU OMM!!”
Semakin banyak desahan yang mengalir keluar dari Sunwoo, semakin banyak pula cairan yang mengalir keluar dari lubang kencingnya, maka semakin semangat pula Om Sangyeon mengejar itu semua sampai pelepasan Sunwoo makin terlihat ujungnya.
Sementara tangan kanannya sibuk mengobok-obok kehangatan yang memijat tiga jarinya erat, mulut Om Sangyeon menjilat, mengumpulkan tetesan-tetesan lendir yang keluar dari kemaluan Sunwoo untuk diludahkannya lagi tepat di klitoris yang terus berkedut di depannya. Lalu dikulumnya daging itu hingga tubuh Sunwoo memberikan jawaban.
“Omm … AH … Mau keluar, Om! AH! AHHH! KELUARRR! AKHH!”
Sunwoo mencapai klimaksnya dengan lenguhan tinggi yang khas dan cairan licin yang langsung dihirup Om Sangyeon tanpa sisa. Kakinya menjejak tanah, punggungnya membusur membawa pinggulnya naik, naik, naik… hingga akhirnya jatuh ke tanah seperti boneka yang putus talinya.
Sunwoo mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal. Memang sih, akhir-akhir ini udara sedang dingin-dinginnya karena hujan tak henti melanda Jakarta. Ditambah mereka sudah tidak bertemu seminggu lebih karena Om Sangyeon harus dinas ke luar kota. Namun, sepertinya Om Sangyeon memang bertekad untuk bikin dia keenakan sampai banjir-banjir sekasur hari ini.
Dengan tangan mungilnya Sunwoo berusaha melepaskan mulut dan jari-jari Om Sangyeon dari kemaluannya yang terlampau sensitif, akan tetapi yang lebih tua tak terlihat tanda-tanda mau melepaskan, maupun keinginan untuk berhenti memanjakannya. Om Sangyeon malah menggunakan lengan kirinya untuk membawa pinggul Sunwoo turun, menguncinya pergerakan Sunwoo agar bibir vagina-nya dan bibir Om Sangyeon terus erat menyatu. Nikmat Sunwoo yang tadinya hampir turun kembali menanjaki puncak bercampur dengan ngilu.
“Om … Om, please stop. Mau keluar i-in i… Mau keluar pipisnyaaa”
Seks adalah hal mutlak yang dilakukan kedua sejoli itu untuk melepas rindu setiap kali Om Sangyeon baru pulang dinas. Dan biasanya, seks pertama mereka selalu jadi yang paling liar dan panjang durasinya.
“Engh, Om awas a-ahh … Jangan disitu, Sunwoo mau pipis ahH! AHHH!”
Mengingat Om Sangyeon baru benar-benar turun dari pesawat gak sampai 2 jam yang lalu, Sunwoo lebih baik berdoa, karena berarti ini baru sepersekian dari kegarangan Om Sangyeon di kasur.
“Keluarin semua di mulut Om.”
Telinganya serasa berdering, dadanya membuncah seperti mau lepas, mata Sunwoo terguling kebelakang saking nikmatnya. Sekali lagi Sunwoo mencapai puncaknya, dan yang kali ini bukan hanya meneteskan lendir, tetapi cairan orgasmenya muncrat dengan deras langsung ke wajah, leher, dan mulut Om Sangyeon yang sudah siap menampung semuanya.
“HHAHHhh … Muncrat semuaahhh … Enakhhh hhuhu … Memek Sunwoo dilahap sampe bocor …”
Jorok, sumpah. Jorok banget semua ini pikir Sunwoo. Tapi itu kalau dia masih punya otak. Sekarang akalnya sudah tak di bumi lagi. Kakinya hampir mati rasa karena ditekuk Om Sangyeon yang mengejar semua cairan pelepasannya dalam-dalam. Memeknya kebas dan terlihat sedikit membengkak. Mau dirogoh keluar kek cairannya, mau dijilat-jilat acak, Sunwoo sudah pasrah tak mampu melawan.
“ Such a good girl for me, aren’t you? Hmm, cantiknya Om?”
Akhirnya, selesai juga Om Sangyeon dengan memek basah Sunwoo (untuk sekarang at least ). Om Sangyeon menidurkan tubuhnya ke atas, mengungkung pacar kecilnya di bawah dua lengan kekarnya yang hasil nge-gym bertahun-tahun itu
Buat pria berumur hampir 50, Om Sangyeon bahkan bisa saja jadi ayahnya. Lagipula umur Om Sangyeon dan ayah Sunwoo di rumah memang cuma beda 3 tahun lebih muda. Tapi, untuk ayahnya punya badan seperti Om Sangyeon di umurnya sekarang? Wah, kayaknya sih butuh keajaiban.
“Maafin Sunwoo … S-sunwoo … Pipis di muka Om …”
“ What? No, baby I love it . Itu cuma squirt lagian bukan pipis. Apa kamu mau dibuat pipis betulan?”
Sunwoo mengangguk mantap.
Om Sangyeon membalasnya dengan melumat habis bibirnya.
Ciuman-ciuman mereka saat seks seringnya terasa seperti … Sunwoo. Iya, Sunwoo. Karena tak habis-habis bibir dan lidah Om Sangyeon mengerjai Sunwoo, bahkan mengobrak-abrik langsung dari pabriknya.
“Masih kuat kan, Cantik?”
“M-masih … Om belum kontolin Adek sampe mentok. Ayo Om, bikin Adek bocor … Kangennn …”
“Pinternya.”
Om Sangyeon tersenyum bangga sambil menciumnya terakhir kali sebelum bangun untuk duduk di antara kedua kaki jenjang Sunwoo. Dibuka belt dan resleting celana kerjanya dengan tergesa, dan diturunkannya sedikit celana dalamnya hingga kemaluannya yang sebesar kaleng coca-cola itu (kesaksian Sunwoo) menggelepar keluar.
“Om gak mau buka baju dulu? Nanti kotor …” kata Sunwoo sambil menonton Om Sangyeon memompa penis besarnya yang mulai basah oleh precum . Butuh kekuatan hebat dari dalam Sunwoo untuk menahan dirinya agar tidak melahap daging keras itu.
Dibandingkan Sunwoo yang sudah telanjang bulat, Om Sangyeon masih berpakaian sangat (terlalu) lengkap. Selain sepatu, kaos kaki, dan dasi yang tadi sempat dipakainya untuk menghukum pacarnya, Om Sangyeon tidak berpikiran untuk melepas lebih. Cuma lengan kemejanya saja yang dilipat ke atas.
Kebiasaan Om Sangyeon ini kerap kali bikin Sunwoo kesal, karena membuatnya merasa benar-benar seperti pelacur yang disewa om-om untuk bersenang-senang sebentar sebelum mereka harus kembali pulang ke rumah, bertemu istri dan anaknya.
Dan Om Sangyeon tau betul semua itu. Tetapi hal itu juga lah yang membuatnya semakin enggan melepas pakaian.
“Gak perlu. Paling main sama kamu cepet selesainya.”
Biar Sunwoo kesal. Soalnya Sunwoo makin cantik kalo lagi kesal dan ngambek menurut Om Sangyeon.
Di bawah sana, Om Sangyeon menepuk-nepuk klitorisnya yang masih sensitif dengan berat penisnya berkali-kali. Dengan pucuknya, ia juga menekan, menggaruk, mengerjai daging sensitif itu dengan kasar ke berbagai arah. Suara lengket hasil basah precum Si Om dan vagina Sunwoo yang dengan mudahnya banjir lagi pun terdengar.
Schlik schlik schlik.
Jujur, Sunwoo sudah lelah berlagak kuat hari ini. Apalagi ia sudah lihat kontol yang biasa memuaskannya itu di depan mata. Menggesek kelentitnya tak henti-henti sampai kelojotan.
“Sunwoo gak kuat. Cepetan Om! Ahhhh … Masukin please !”
“ As you wish. On all fours. ”
Dengan penuh semangat Sunwoo berguling tengkurap ke posisi yang diperintahkan. Dada dan kedua telapak tangannya rata dengan kasur, sementara pinggulnya dibawa naik, menungging setinggi yang ia bisa dengan kedua kaki terbuka lebar. Sunwoo harap liangnya yang berliur dan kosong terlihat menggiurkan dari sudut pandang Om Sangyeon di belakangnya.
Detik-detik sebelum Om Sangyeon memasukinya selalu jadi yang paling menegangkan untuk Sunwoo. Karena ia tidak tau apa yang akan terjadi kepada dirinya dan kapan.
Pertama, dingin dan basah. Walaupun tak bisa melihat, Sunwoo bisa merasakan dengan pasti kalau Om Sangyeon baru saja membuang ludah tepat ke lubangnya.
Setelah itu, panas dan tebal. Walaupun tak bisa melihat, Sunwoo bisa merasakan dengan pasti kalau Om Sangyeon kini sedang menggesekan penisnya ke lipatan basah vagina Sunwoo. Membentuk bibir labia Sunwoo mengikuti bentuk batangnya. Lelehan Sunwoo di bawah sana ditangkup Om Sangyeon agar lumuri seluruh batangnya licin mengkilap.
“aanNNGhhh … Besarrr … Om besar banget ahh … Sunwoo takut ughhh …”
Dan akhirnya sampailah kita ke inti acaranya. Kontol besar Om Sangyeon kini parkir di lubang senggama Sunwoo.
Om Sangyeon bawa tubuhnya turun, seperti selembar selimut hangat di punggung Sunwoo. Tak henti-hentinya ia merapalkan mantra berupa kata-kata manis untuk menenangkan yang lebih kecil di bawah agar terbiasa dengan ukurannya yang menyumpal lubang Sunwoo penuh. Beberapa menit dan belasan kecupan sayang di punggung kemudian, Sunwoo menggoyangkan pinggulnya agar Om Sangyeon mulai bergerak.
“Ah … Adek, kamu ditinggal seminggu aja langsung jadi ketat banget gini, Om sampe susah gerak. Lemesin lagi sayang,” ucap Om Sangyeon sambil menggerakan pinggulnya maju-mundur perlahan.
“Hnngg makanya Om jangan pergi kelamaan … Hnghhh … Mau memek aku kendor terus karena dipake Omhhh …”
Ya kalau boleh jujur juga Om Sangyeon maunya di rumah terus ngentotin memek Sunwoo dari bangun sampai tidur lagi, sampai melar dan bocor, sampai megap-megap karena tak sanggup lagi menahan peju panas di dalamnya. Mungkin si remaja lupa kalau Om Sangyeon pergi kerja ya supaya dia bisa santai ongkang-ongkang kaki saja di rumah.
Tak terasa gerakan Om Sangyeon semakin lama semakin kasar. Kepala Sunwoo menabrak-nabrak kepala ranjang di depannya. Sementara suara kulit bertemu kulit menutupi decitan lemah kasur yang ikut terbawa arus gerakan panas kedua sejoli di atasnya.
“Ugh … Enak memeknya dimentokin kontol sampe tolol?”
“Ngaa-AHh! Enakhh, kontol om paling enak … Uhhh uhhh ahhh mentokin terusss … Uhh disitu lagi, iya!”
Gempuran demi gempuran diterima Sunwoo secara suka rela. Bokong sintalnya terus memantul dalam setiap hentakan. Sekali-dua kali Om Sangyeon menampar pipi bokong yang menggemaskan itu. Apalagi ketika Sunwoo secara tidak sadar mengetatkan lubangnya tiap permukaan tangan Om Sangyeon bersentuhan dengan bokongnya.
“Pinter banget kamu, Dek. Pijet terus kontol Om sampe keluar. Sunwoo mau dipejuin sampe penuh?”
“Mauuu … Terusss Ommmhhh”
Om Sangyeon memindahkan pegangannya ke pinggul Sunwoo, mengunci agar tubuhnya tak bisa kemana-mana. Ia menarik dan mendorong Sunwoo dengan kasar. Sunwoo dipakainya seperti ia hanya lubang untuk memuaskan Om Sangyeon. Sebuah pocket pussy mungkin. Atau ya, sex doll . Namun Om Sangyeon juga tidak puas apabila dirinya jadi yang pertama keluar. Ia mau Sunwoo memuncratkan pelepasannya lebih dahulu.
“Sunwoo mau dipejuin sampe hamil?”
“Mauuu … Mau anak Ommh- AH!”
Diambilnya satu tangan Sunwoo yang mencengkram erat bantal yang kini sudah basah oleh liur dan diarahkannya untuk mengusap kepala klitorisnya. “Kalo gitu Sunwoo nurut sama Om, ya. Anak pinter, keluaran pipisnya di kontol Om.”
Seperti yang diminta sang pacar, Sunwoo pun mulai memainkan dirinya sendiri. Dicubit dan ditariknya daging sensitifnya sendiri sampai ia mengerang keenakan. Beberapa kali, jarinya yang mengkobel itilnya bersentuhan pada bagian penyatuannya dengan Si Om. Merinding bulu kuduk Sunwoo merasakannya. It feels too real . Tubuhnya benar-benar sedang dijamah, dijajah, dibentuk ulang mengikuti ukuran pacarnya.
Masih dengan tangannya yang sibuk memuaskan dirinya sendiri di bawah, tak lama kemudian Sunwoo menegang saat klimaksnya datang. Pelepasannya kali ini tanpa suara, melaninkan hanya tarikan napas terputus-putus dari bibirnya yang membentuk huruf O sempurna. Putih matanya nampak saat dua bola mata cantik itu berputar ke belakang saking nikmatnya. Namun sayang, tak ada tanda-tanda bahwa ia squirting seperti yang diharapkan Om Sangyeon.
Tidak puas, Om Sangyeon segera menarik kedua lengan Sunwoo ke belakang hingga punggung Sunwoo menempel ke dadanya. Lelaki paruh baya itu menunggangi tubuh si remaja layaknya seekor binatang.
“Omhh! Enghhh … Om memek Sunwoo pegel … Hnng … AH ― ”
Lima jemari melilit leher Sunwoo. Cengkramannya tidak cukup kuat untuk menghentikan suara desahan, namun cukup untuk membuat bernapas semakin berat.
“Om udah bilang keluarin pipisnya. Kamu yang gak patuh sama Om.”
“AAHHH!! Tapi udah mentok, Om! Penuh!” Tangis Sunwoo pecah diikuti air mata yang meleleh ke pipinya.
Tetapi genjotan Om Sangyeon tak berhenti barang sedikit pun. Yang ada semakin hentakannya semakin ganas sampai tubuh yang kecil ikut loncat terangkat dari kasur. Semakin tinggi lutut Sunwoo loncat dari kasur, semakin titit Om Sangyeon menohok masuk ke dalam saat ia turun. Benar-benar dihancurkannya lubang Sunwoo hari ini. Gak mungkin setelah ini dia bisa pindah ke penis lain.
“Hhaa haaa … Mamaa … Hngghhh … Sunwoo udah hancur Maaa!”
Mungkin memang Sangyeon sakit, karena mendengar si kecil sampai lupa diri mencari-cari ibunya ditengah seks membuat ia semakin terangsang. Penisnya makin menegang dan memuncratkan lendir precum ke dinding hangat senggama Sunwoo. Gawat, kalau begini Sangyeon bisa-bisa keluar sebentar lagi.
“Anak pinter, gak boleh berenti kalau belum pipis.” Dikecupnya dahi dan pipi si remaja dari samping. Asin. Ini pasti karena air mata yang tak habis-habis mengalir. “Ughhh gila ketat banget ini memek lacur satu!”
“AAHHH!! Mentok, udah mentok banget inihhh!”
Si Om tau sedikit lagi disenggol pasti Sunwoo akan keluar. Jadilah jarinya mengeroyok kelentit Sunwoo yang berkedut kegirangan menyambut stimulasi-stimulasi buatan Om Sangyeon. Dicubit, ditarik, bahkan disentilnya kelentit yang membengkak merah itu.
“Sunwoo bisa. Pipis buat Om. Sekarang.”
Perintah. Bukan pernyataan.
“A~ahhh! Mamaa, Sunwoo gak bisaahhh! MAMAAA!”
Usai teriakannya, Sunwoo bernapas melalui mulut dengan lidah yang terjulur keluar. Matanya juling, berputar ke atas. Sungguh terlihat bodoh. Benar-benar seperti anjing. Liang sengamanya becek. Pipisnya mengalir deras dari sela-sela lubang yang masih dikerjai oleh kontol besar Om Sangyeon, ke dua paha mulusnya, hingga berlabuh di kasur, menciptakan genangan air.
“Memek Sunwoo muncrat Maaa … Pipis banyak-banyak enak …”
“Cantiknya Om, kita belum selesai yaa. Om belum keluar nih, ayo Adek loncat-loncat lagi di titit Om.”
Dan terjadi lagi, Sunwoo diewe sampe tolol oleh Om Sangyeon.
Si Om keluar tidak lama setelah itu. Tiga kali di dalam memek Sunwoo sampai pejunya tak bisa lagi ditampung. Sementara si remaja hormonal ™ yang teriak-teriak memanggil ibunya saat sex berhasil keluar empat kali lagi. Kalau tadi dia cuma buat spreinya basah, sekarang sekasur-kasur sepertinya harus dijemur supaya kering. Memang, memek Sunwoo kalau sudah bocor susah selesainya.
Kini keduanya sedang terbaring lemas di sofa ruang tengah sambil menunggu kasur di kamar kering. TV tidak menyala pun tak ada yang bicara. Masing-masing hanya menikmati sisa oxytocin hasil kegiatan panas mereka.
Jari Om Sangyeon masih usil menari di atas klitoris Sunwoo, yang membuat memek si remaja kembang-kempis keenakan. Lucu, butt plug yang dipasangnya di memek Sunwoo jadi ikut berkedut. Didorongnya benda itu agar menusuk vagina Sunwoo semakin dalam, mendorong pula semua spermanya yang tertahan di dalam sana.
Hasil tiga kali pelepasan itu kalau dilepas sekarang pasti semuanya akan mengucur keluar. Membayangkannya saja Om Sangyeon langsung ngaceng lagi. Apa perlu dicoba? Nanti ia jilat semuanya sampai bersih, sampai Sunwoo nangis-nangis memanggil ibunya agar Om Sangyeon berhenti.
Namun belum sempat Om Sangyeon melaksanakan aksinya, terdengar heboh suara pintu dibanting disusul teriakan-teriakan maaf dari baliknya.
“ASTAGA! Maaf tuan saya gak tau tuan udah pulang! Maaf, saya gak lihat apa-apa! Saya cuma dipanggil Mas Sunwoo buat beberes rumah.”
Om Sangyeon menatap Sunwoo penuh tanya.
“Hehehe, Si Bibi dapet surprise lagi deh,” ucap Sunwoo usil.
