Chapter Text
Ketenangan.
Sinar matahari menyelinap dari sela-sela tirai. Burung-burung beterbangan di luar, cuit-cuitan terdengar merdu di telinga. Ah… rasanya tidak ingin bangun dari ranjang kalau begini ceritany—
Splat!
Splat!
"AH! Shit! What the… Seungmin?!" Pemuda yang tengah tertidur dengan tenang itu sontak terbangun saat merasakan percikan air yang menyentuh wajahnya.
" Wake up, sleepy head~ kita masih ada sekolah untuk dikunjungi hari ini." Ujar Seungmin—si pelaku cipratan air—dengan wajah datar khasnya. Sementara pemuda yang baru bangun itu menggerutu kesal, Seungmin membuka tirai kamarnya dengan kasar. " Hurry up, would ya? Kita tidak punya banyak waktu untuk berleha-leha.”
“ Five more minutes, mom —AKH! IYA IYA, AKU BANGUN!” Pemuda yang sedang terbaring itu langsung bangkit dari kasurnya kala ia merasakan dinginnya air di kepalanya lagi.
“Mandi sekarang, Han Jisung.” Tegas Seungmin sebelum dia akhirnya keluar dari kamar Jisung. Pemuda bernama Jisung itu mendengus kesal. Tangannya bergerak mengusak surai pirangnya yang mulai kembali menghitam di bagian tengahnya, sebelum dia akhirnya bangkit untuk mengambil handuk dan beranjak masuk ke kamar mandi.
.
.
.
'Kereta akan tiba sebentar lagi—'
Keduanya berdiri menunggu kereta tujuan untuk datang. Jisung mengetuk-ngetuk skateboard miliknya sembari memakan roti lapis untuk menghilangkan kebosanannya.
"Hei, Jisung. Bagaimana menurutmu?" Seungmin bertanya tanpa konteks, tangannya bergerak menyodorkan ponselnya ke arah sang sepupu. Jisung memperhatikan layar tersebut dengan seksama, tak butuh waktu lama hingga akhirnya melepas pandangan dari sana.
" You're still looking for a part time job…? " Tanya Jisung sebelum mengunyah gigitan roti baru di mulutnya.
"Ya… kita tak akan bergantung dengan uang orang tua kita saja kan? Mereka sengaja mengirim kita satu apartemen bersama untuk belajar hidup mandiri, so why not? " Balas Seungmin.
Jisung mendengus pelan.
"Dari sekian banyak lowongan pekerjaan kenapa jadi pelayan kafe?"
"Hei! Mencari lowongan pekerjaan untuk anak SMA itu cukup sulit, oke?!" Tangan Seungmin bergerak memukul belakang kepala Jisung, buat korbannya menggerutu kesal. "Lagipula, menjadi pelayan kafe tidak seburuk itu juga."
Kereta tujuan mereka sampai di stasiun. Keduanya memasuki gerbong dan menghela napas lega mengetahui masih ada dua bangku kosong tersisa di antara padatnya penduduk yang ada.
" Whatever you want, Seung. Kalau menurutmu itu yang terbaik, lakukan. Hanya saja… aku khawatir kamu akan kesulitan mengatur waktu." Ujar Jisung. Seungmin di sampingnya memutar bola matanya malas sambil memasang earphone -nya di telinga.
" Geez, look who's saying. Kau menasehatiku seperti tidak bangun kesiangan hari ini."
Jisung hanya bisa tersenyum konyol, mengetahui bahwa fakta itu benar.
Seungmin yang asik dengan lantunan lagu di ponselnya dan Jisung yang masih memakan sarapannya. Keduanya tidak sadar mereka telah mencapai ke stasiun kedua, satu stasiun lagi sebelum sampai ke sekolah mereka.
Pintu gerbong terbuka, menunjukkan lebih banyak arus manusia. Jisung dari tempatnya melihat seorang ibu hamil dan putranya yang masih balita. Melihatnya, Jisung menepuk Seungmin agar sadar dari dentuman musik di telinganya. Keduanya berbagi pikiran yang sama, langsung bangkit dari kursi mereka dan berpindah ke bagian berdiri penumpang.
Sang ibu hamil sepertinya menyadarinya. Ia bergerak bersama putra kecilnya untuk duduk di tempat yang awalnya milik Jisung dan Seungmin. Dalam perjalanannya, seorang pria paruh baya duduk di kursi bagian Seungmin, buat si dua sepupu itu mengedipkan mata mereka dengan bingung.
Mereka menyiapkan dua bangku untuk ibu dan putranya, sekarang ingin mengusir kakek itu saja rasanya sudah salah.
"Ah… Daniel, kamu duduk saja ya, nak. Biar mama yang berdiri." Ibu berbadan dua itu tersenyum melihat putranya dengan patuh duduk di sebelah sang kakek, sebelum dia ikut bergabung berdiri di samping Jisung.
This doesn't feel right.
" Hey, kid. " Panggil Jisung ke anak kecil tadi. Anak kecil itu beserta ibundanya menoleh bersamaan ke arahnya. Jisung tersenyum cerah, berusaha menunjukkan kalau dia bukan orang asing jahat yang bisa mengancam ketenangan anak itu. "Apa kamu menyukai Avengers?"
Anak kecil di hadapannya mengangguk dengan semangat.
"Suka sekali! Aku ingin menjadi pahlawan super seperti mereka, piw piw pi-piw! " Sang anak mengikuti cara bertarung Iron Man, karakter film di televisi, mengundang kekehan kecil dari Seungmin.
"Oh benarkah? Memang kamu berani melawan orang-orang jahat itu?"
"Berani! Daniel sudah berlatih di rumah, bahkan Daniel punya perisai Captain America !"
"Ah… begitu ya. Bagaimana kalau aku tes kepahlawananmu hari ini?" Jisung tersenyum manis. Anak kecil itu mengangguk dengan antusias. "Kamu lihat mama mu kan? Menurutmu, apa yang mama bawa di perutnya?"
"Umm… mama bilang di dalam sana ada adik Daniel! Katanya Daniel baru bisa lihat adik dua bulan lagi!" Serunya dengan semangat.
"Benar sekali! Nah, Daniel… mama Daniel itu bisa bertarung dengan kuat. Kalau ada penjahat, dia pasti akan melindungi Daniel sebisa mungkin." Ujar Jisung. Anak kecil dihadapannya terlihat begitu menyimak apa yang ia katakan. "Tapi… mama sedang membawa adik Daniel di perutnya. Dia jadi cepat lelah, sulit bertarung, dan bisa sakit kalau tidak dijaga."
Anak kecil bernama Daniel itu terkesiap. Langsung melihat ibunya dengan khawatir.
"Daniel mau jadi pahlawan super tidak? Bantu jaga mama dari sini agar tidak kesakitan?" Tanya Jisung.
"Mau! Mau, Daniel mau! Mama, ayo duduk di sini! Daniel akan jaga mama dengan baik!" Anak kecil itu langsung berdiri. Sang ibunda dengan ragu duduk di tempat bekas putranya. Jisung bergeser ke tempat yang sebelumnya ditempati sang ibu berbadan dua dan Daniel berdiri di depan ibunya.
"Nah, kalau Daniel khawatir jatuh, Daniel bisa pegangan ke bajuku atau baju kakak di samping Daniel. Yang penting, Daniel izin dulu ya!" Ujar Jisung sebelum mengusap pelan rambut anak kecil polos di sampingnya.
"Terima kasih, nak." Ibu tersebut tersenyum ke arah Jisung. Senyuman lembut terukir di wajah Jisung, mengangguk pelan sebagai respon tambahan.
Another day, another positivity to bring.
.
.
.
Langkah menuju gerbang sekolah dari stasiun tidak sejauh itu. Jisung dan Seungmin akan menghilangkan bosan dengan berbincang hal-hal seputar sekolah atau beberapa topik di rumah yang sangat tidak penting .
"— okay, tapi kamu setuju kan kalau sampo ku masih lebih wangi dibandingkan milikmu."
Seperti saat ini.
" No??? Wangi sampo ku bahkan tahan lebih lama dibandingkan wangi lavender aneh di rambutmu!" Seungmin mengelak.
Mereka bahkan tidak berhenti setelah memasuki pekarangan sekolah.
"YA! Orang gila mana yang tidak menyukai wangi lavend—"
" OH MY GOD! He's hereeee! " Teriakan beberapa siswa sukses buat Jisung menghentikan kalimatnya. Jisung dan Seungmin dengan kompak melihat ke arah gerbang, menemukan mobil hitam mewah yang bertugas mengantar salah satu murid terpopuler di sekolah.
" Geez, that fancy boy couldn't stop being the center of attention, huh? " Ujar Seungmin. Tidak mendapat respon apapun, Seungmin melirik ke arah sepupunya. Menemukan Jisung hanya terdiam, memperhatikan pemuda bersurai cokelat gelap itu berusaha berjalan menuju gedung sekolah sambil diikuti puluhan penggemar siswa. "Astaga, berhenti menjadi menggelikan. Kau menatapnya dengan pandangan penuh puja."
Jisung tertawa kecil saat melihat Seungmin berpura-pura muntah.
" What are you saying! Aku tidak memperhatikannya."
" Yea right. Say that bullshit right on my face. "
Pukulan kecil diterima Seungmin di lengannya. Keduanya hendak melanjutkan perjalanan mereka menuju gedung sekolah sebelum—
SET!
"HEI!" Seungmin berseru kala kacamata yang bertengger di hidungnya diambil begitu saja oleh seseorang. Mereka berdua mencari pelakunya, menemukan pemuda berbaju merah memainkan kacamata milik Seungmin di tangannya.
"Yo, Kim! Ku pinjam kacamatanya ya! HAHAHAHA!" Pemuda itu tertawa kencang sebelum berlari menjauh dari mereka.
" That motherf*cker… SAM, KEMBALI KE SINI!" Jisung dengan geram menurunkan skateboard nya dan pergi meninggalkan Seungmin untuk mengejar pemuda bernama Sam itu.
"Jisung, janga- oh, for the love of God. " Seungmin hanya bisa menghela napasnya saat ia melihat sang sahabat sepupu nya yang gila itu mulai mengejar si penindas. Ia tidak bisa kemana-mana tanpa kacamatanya, takut bertemu seseorang tanpa bisa melihat jelas sosok mereka.
Sementara itu, Jisung masih terus mengendarai skateboard miliknya. Ia bergerak dengan cepat, melewati satu persatu manusia yang masih ramai mengikuti pemuda populer tadi.
" Excuse me! Maaf! Permisi! Coming through! "
Sebisa mungkin tidak kehilangan jejak Sam. Ia telah mencapai bagian depan keramaian, kepadatan siswa mulai berkurang dan jalannya lebih jelas. Namun ia tak sadar ada kaki seseorang di depannya papannya tersandung dan buat Jisung jatuh dari platform nya.
"Akh! Shit! " Gerutu Jisung kala merasa lututnya terbentur permukaan kasar tanah.
Sam tertawa kala melihat tubuh Jisung yang terjatuh dilihat oleh keramaian orang di sana. Namun ia tidak sadar ada sosok di belakangnya yang mengambil kacamata itu dari tangannya secara tiba-tiba.
"Hei!—"
" Could you stop being a bully for at least ONE day? Tidakkah kamu lelah mengganggu ketenangan orang lain?" Suara dingin itu seakan bisa menusuk kulitmu dari dalam.
Sam terdiam kala melihat sosok yang mengambil kacamata itu. Dia hanya bisa memasang wajah kesal, melihat ke arah para penggemar sosok tersebut yang siap menerjangnya kapan saja jika dia berani membantah. Pada akhirnya, sang bully meninggalkan tempat dan bergegas masuk ke dalam gedung.
Pemuda tersebut memperhatikan kacamata di tangannya, setelah itu melihat sekelilingnya untuk mencari pemilik dari objek tersebut. Ia menemukan sosok pirang yang berusaha bangkit, tanpa satupun orang dari keramaian untuk membantunya. Ia menghela napasnya, berjalan mendekati pemuda tersebut untuk memberikan kembali barangnya.
Jisung merapikan bajunya, tangannya bergerak mengambil skateboard nya, dan sebelum dia berhasil bangun dari duduknya—
" Hey, are you okay? "
Suara itu…
Kepala Jisung langsung terangkat secara otomatis kala suara familiar itu terdengar di telinganya. Maniknya bertabrakan dengan manik elang yang memancarkan kelembutan dari sosok bersurai gelap. Tangannya terulur, mencoba membantu Jisung bangkit dari tempatnya.
Minho.
"A-ah, ya… aku tidak apa-apa." Jisung dengan ragu menerima uluran tangan itu, dibantu berdiri oleh pemuda bernama Minho tersebut walau ia tahu bisa bangkit sendiri.
"Kau yakin? Kakimu sepertinya terluka…"
"Oh, ini sudah biasa. Nanti juga sembuh." Jisung menggaruk belakang kepalanya dengan canggung. Luka di lutut ini bukan hal yang besar. Untuk seorang pemain skateboard, ini hanya luka ringan, jadi bukan masalah besar.
"Oh… okay then, uhm… ini. Kacamata ini milikmu kan?" Minho menyodorkan kacamata Seungmin kepada Jisung.
" Sweet! Thanks a lot… ini milik temanku. Anak kurang ajar tadi mengambilnya." Jisung tersenyum lebar, sangat lebar sampai dia bisa merasa pipinya pegal. Teringat keadaan sekarang, dimana semua orang menatapnya seperti pusat perhatian, buat Jisung sadar dia harus segera pergi dari hadapan Minho sebelum penggemarnya mulai menyerangnya. " W-well then… terima kasih banyak."
Jisung kembali menjatuhkan skateboard di tangannya ke tanah sebelum menempatkan salah satu kakinya di sana. Beberapa orang memberi jalan kala ia bergerak maju untuk pergi dari area sana. Tiba-tiba suara familiar itu kembali berteriak.
" Hey, kid! "
Dia tidak yakin panggilan itu diperuntukkan kepada dirinya atau bukan, namun Jisung tetap menoleh. Minho dari kejauhan dan beberapa penggemar yang asik berbisik menatap ke arahnya.
"Pergi ke ruang perawatan secepatnya. Kakimu bisa infeksi kalau lukanya dibiarkan terlalu lama." Ujar Minho dengan suara sehangat madunya. Senyuman manis di akhir buat jantung Jisung terasa berhenti untuk sedetik sebelum kembali berdetak dengan tempo yang lebih cepat. Jisung terkekeh melihat ke arah lututnya yang terluka, terlalu malu untuk menatap ke arah Minho.
" I… I will. " Ujar Jisung sebelum ia benar-benar membawa tubuhnya di atas skateboard kembali ke lokasi awal Seungmin.
"... apa kau baru saja berbicara bersama SANG Lee Minho?" Pertanyaan pertama yang Seungmin lontarkan setelah ia mendapatkan kacamatanya kembali. Jisung hanya mengedikkan bahunya usil, kembali mengangkat papan seluncurnya untuk berjalan menuju tangga masuk gedung sekolah. " OH, COME ON! You gotta spill the tea, man! "
"Kukira kau tidak tertarik dengan fancy boy seperti dia?" Ledek Jisung. Sahabatnya yang satu itu memutar bola matanya malas.
Should've not said that.
.
.
.
“ We’re going on a study trip! ” Sang guru di depan kelas mengumumkan. Semua murid di kelas membukakan matanya penuh harapan.
“YEEAAAY—”
“Ke perusahaan Oscorp!”
“ NOOOO! ”
Semangat kelas mendadak turun saat mendengar kata Oscorp dari bibir sang guru.
“Kukira mereka akan mengganti destinasi tahun ini.” Bisik Seungmin pada Jisung yang duduk di sebelahnya. Karyawisata ke perusahaan Oscorp sudah menjadi tradisi setiap angkatan tahun ke tahun. Tahun lalu, angkatan di atas mereka tidak melakukan study tour, pasal serangan alien yang terjadi seminggu sebelum keberangkatan mereka. Pembangunan ulang fasilitas umum, sekolah, bahkan Oscorp Company yang memaksa mereka untuk membatalkan karyawisata tahun kemarin.
Semenjak itu, datanglah rumor bahwa rantai kunjungan Oscorp akan segera berakhir di tahun angkatan Jisung dan Seungmin. Namun kabar dari Miss Emily—guru yang paling jarang berbohong dan selalu antusias kapanpun dan dimanapun itu— membuktikan bahwa rumor tetaplah rumor.
“Oh, ayolah anak-anak… cheer up! Perusahaan Oscorp menyediakan berbagai hal untuk ditunjukkan ke sekolah kita tahun ini, itu merupakan kesempatan besar.” Nyonya Emily berjalan menuju mejanya, bergerak merapikan barang-barangnya untuk segera keluar kelas sebelum jam istirahat berdering. “Kalian juga tidak akan pergi sendirian. Ada angkatan atas yang tidak sempat study trip tahun kemarin. Mereka akan bergabung bersama perjalanan kita, you know… the more the merrier! ”
Jisung membuka matanya yang awalnya setengah mengantuk menjadi lebar penuh antusias.
‘Bersama angkatan atas…? Angkatan Minho…?’
Senyuman tipis tanpa sadar terlukis di bibir kecil Jisung.
“Oke, sebelum aku keluar, ingat untuk selesaikan pendapat kalian terhadap teks di buku paket halaman lima puluh enam. Selamat beristirahat, anak-anak!”
“Terima kasih, Miss Emily! ”
Nampan penuh dengan makanan itu diletakkan di meja. Jisung dan Seungmin duduk bersama di kantin yang ramai. Kali ini, lelaki berambut hitam dengan kaos abunya ikut bergabung bersama mereka, namanya Changbin.
“ I think it’s not fair! ” Seru Changbin. Suaranya yang cenderung kencang tetap tenggelam di antara lautan suara unik di kantin, Seungmin bisa menghela napasnya lega.
“Apa yang tidak adil?” Tanya Jisung setelah mengangkat kepalanya dengan pipi penuh dengan pudding.
“Semuanya! Kenapa kita harus pergi ke Oscorp?!”
“Karena sekolah ini terlalu malas mencari destinasi baru…?” Ujar Seungmin dengan kebingungan, tidak tahu harus respon apa atas pertanyaan Changbin.
“ Or… maybe because none of the parents are even complaining about it! ” Bentak Changbin. Kedua pemuda di hadapannya hanya saling lirik dengan tatapan tak tertarik.
“Kalau protes juga untuk apa? Orang tua kita hanya peduli anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang berkualitas.” Balas Seungmin, Jisung disampingnya mengangguk setuju. Changbin menghela napasnya.
“Aku akan tetap berusaha meyakinkan kedua orang tuaku untuk memprotes.”
“ Geez, chill out, Changbin. Karyawisata ke Oscorp tidak mungkin seburuk itu.” Jisung kembali menyantap makan siangnya.
“ Easy for you two nerdy cousins who always got an A on your chemistry exams! Berkeliling di tempat orang-orang pintar bukan gayaku.” Changbin menenggak air mineralnya setelah ia menyelesaikan hidangan pencuci mulutnya. Menyetujui perkataan teman mereka, Jisung dan Seungmin melakukan fistbump karena percaya diri dengan kemampuan otak mereka.
.
.
.
Bel pulang sekolah berdering kencang. Jisung berjalan melalui lorong-lorong yang ramai dengan skateboard yang setia bertengger di tangannya. Arus manusia rusuh yang keluar dari kelas mereka buat Jisung menggerutu kesal tak bisa meluncur bebas melintasi jalan yang seharusnya luang. Namun pemuda karismatik itu tetap berjalan santai dengan senyum di wajahnya, sesekali menyapa temannya dari kelas lain, atau menghindari tatapan para bully yang selalu menunggu mangsa mereka di pinggir lorong.
Jisung akan selalu berjalan di tengah kerumunan. Sekali dia terdorong keluar arus manusia, habislah Jisung di tangan mereka.
Tenggelam dalam pikirannya, Jisung kembali ke kesadarannya setelah menerima pukulan ringan di belakang kepalanya.
“ Ouch! Hey— ”
“Kamu melamun lagi, dumbass .” Itu Seungmin yang baru menyusulnya. Jisung menghela napasnya.
“ Sorry… those bullies, mereka memperhatikanku lagi.”
“ Well… that’s what you get for chasing one of them down with your funky skateboard. ”
Jisung terkekeh kecil, merasa konyol dengan tingkah laku Seungmin yang seakan-akan mengomeli namun ia bisa melihat sepupunya melirik sekilas ke arah gerombolan penindas itu sebelum merangkul pundaknya sebagai tindak perlindungan.
“Kau yang belanja persediaan makanan hari ini.” Ujar Seungmin setelah mereka keluar dari pintu sekolah. Sementara yang lebih tinggi terus melangkah, Jisung langsung berhenti di tempatnya. Wajahnya terlihat… tersinggung?
Merasakan ketidakhadiran sang sepupu di sampingnya, Seungmin menemukan Jisung masih terkesiap di belakang, menatapnya dengan kesal.
"... what's with the face? "
" NU-UH! I'm not buying the groceries tonight! " Ujar Jisung. Kedua tangannya disimpan di pinggulnya, menunjukkan ia sedang membantah.
" You promised me last week… and the other last week… and the other OTHER last week… " Seungmin menghela napasnya jengah. Kakinya kembali ia bawa berjalan, menunjukkan ia tak peduli dengan protes Jisung lebih lanjut.
Merasa diabaikan, yang lebih pendek mengejarnya dengan skateboard -nya karena jalan di luar lebih lenggang dibandingkan lorong di gedung.
" Oh, pleaasee~ I promise I'll do it next week– "
"Tidak ada lagi alasan! Ayolah Jisung, aku ada kerja kelompok malam ini. Kau harus belanja sebelum toko di kota tutup, oke? Lagipula kita juga sudah sepakat untuk saling bergantian…"
Jisung terdiam memperhatikan wajah Seungmin yang terlihat lelah. Rasa bersalahnya muncul begitu saja, merasa ia telah menyulitkan sepupunya tiga minggu belakangan ini karena mengganggu waktunya.
"Hah… baiklah. Aku akan belanja setelah aku pulang dari toko buku." Jisung memaksakan sebuah senyuman tipis. Seungmin tersenyum lembut saat mendengar jawabannya. Pundaknya ditepuk sebagai tanda terima kasih, sebelum ia memperhatikan Seungmin yang beranjak pergi ke teman-teman sekelompoknya.
Jisung menghela napas. Ia memutuskan untuk membawa dirinya berkeliling kota menggunakan skateboard kesayangannya.
.
.
.
"Sudah belanja?"
"Akan kulakukan. Aku baru saja selesai membaca beberapa buku yang baru kubeli."
"Jangan lengah. If I don't find the grocery anywhere when I come home I'm gonna—"
" Yea yea, kill me or whatever. Aku janji… I'm at East 12th street. Tidak terlalu jauh dari 3rd Avenue. "
Setelah berbincang sedikit lebih lama, panggilan antara Jisung dan Seungmin pun terputus. Jisung mendorong kembali kakinya agar skateboard nya kembali bergerak menuju toko yang dituju.
" That'll be 18 bucks. "
Jisung mengeluarkan kartu kreditnya agar proses pembayaran selesai lebih cepat. Setelah semua belanjaannya berhasil dibayarkan, ia berterimakasih pada kasirnya dan segera keluar membawa skateboard kesayangannya.
Jisung dengan santai membawa belanjaan di tangannya sambil berseluncur melewati manusia-manusia lain yang berlalu lalang. Suara klakson mobil dan lagu-lagu yang diputar dari restoran menemani perjalanan pulangnya.
“HEI! TOLONG! SESEORANG MENGAMBIL TASKU!”
Teriakan seorang wanita buat Jisung berbalik dengan cepat, bersamaan dengan seorang lelaki dengan beanie di kepalanya yang menyenggol pundaknya. Melihat orang tersebut membawa tas yang sepertinya dimaksud sang wanita, Jisung langsung mendorong papannya untuk bergerak mengejar pria tersebut.
Ia bawa kakinya ke kanan atau kiri, berusaha menghindari manusia yang berlalu lalang di jalanan umum. Jisung berusaha sebisa mungkin untuk tidak kehilangan sosok tersebut. Tidak lama hingga jaraknya dengan sang pencopet mulai terkikis, Jisung akhirnya berhasil meraih belakang baju sang kriminal dan menahan papan skateboard -nya agar berhenti. Pria tersebut terjungkal ke belakang akibat tangan Jisung yang menahan bajunya.
Tas di tangannya berhasil direbut, buat pria bertopi itu menatap geram ke arah Jisung. Oh, Jisung tentunya tak takut untuk membalasnya dengan pandangan yang sama mengintimidasinya.
And the next thing happened, polisi membawa pelaku kejahatan itu bersama mereka.
Jisung kembali ke tempat sebelumnya, menemukan wanita tadi berdiri di depan restoran yang sama ditemani oleh sosok pria dengan mantel hitam yang berusaha menenangkannya. Yakin itu adalah wanita yang kehilangan tasnya, Jisung menggerakkan skateboard -nya mendekat untuk mengembalikan tasnya.
“ Excuse me, ma’am. ” Jisung memanggil wanita tersebut. Wanita itu menoleh bersamaan dengan pria di sampingnya, Jisung bisa melihat air mata membekas di pipi sang pemilik tas. “ I believe this is yours… ”
Sesaat Jisung menunjukkan tas tersebut, wanita itu begitu terkesiap dan menatap Jisung dengan kagum.
“ Oh my god… young man. Terima kasih… terima kasih banyak.” Wanita tersebut menghapus air mata di pipinya sebelum mengambil tas miliknya kembali ke genggamannya. Ia menarik tangan Jisung, membawanya untuk dijabat berkali-kali saking bahagianya. “Aku sangat berterima kasih padamu! Bagaimana aku bisa menggantikannya? A-apakah kau butuh sesuatu? A-aku akan traktir makan malam! Atau m-mungkin uang? Kumohon biarkan aku membalas bud—”
“Nyonya! Nyonya… kumohon, simpan saja.” Jisung menahan tangan wanita itu sebelum dia mengeluarkan sepeser uang untuknya. Sebagai remaja yang tahu sopan santun, Jisung melepas tangannya dan tersenyum lembut. “Kata terima kasih dari nyonya sudah cukup bagiku.”
“Tunggu sebentar…” Lelaki di samping wanita itu buka suara. Jisung tersentak— suara sehangat madu, suara familiar itu . Suara itu buat Jisung menoleh dengan cepat ke arah sosok bermantel hitam tinggi tersebut. “Bukankah kamu orang yang terjatuh di halaman sekolah tadi pagi?!”
Wajah Jisung memerah saat mengingat kejadian memalukan tadi pagi.
“Ah… Minho, kamu mengenal pemuda ini?” Wanita itu bertanya kepada sosok lelaki di sampingnya.
What are the odds, Jisung sekarang malah bertemu dengan crush -nya setelah melakukan aksi heroik beberapa menit yang lalu.
“Dia adik kelasku dari sekolah! Aku baru saja mengenalnya pagi ini.” Setelah membalas pertanyaan wanita itu, Minho kembali melihat ke arah Jisung yang tak bisa mengalihkan pandangannya dari paras tampan Minho. Bagaimana dia bisa? Wajah tampan itu tetap terlihat indah bahkan dengan penerangan dari belakang. Senyuman tipis di wajah Minho buat Jisung ingin jungkir balik di tempat saat itu juga.
Keduanya saling menatap dengan dalam, tak tahu apa yang buat keduanya terasa begitu sulit untuk melepas pandangan mereka dari satu sama lain. Hingga akhirnya Jisung berdeham dan keduanya saling berpindah arah pandang. Minho terkekeh pelan sebelum kembali memberikan atensinya untuk wanita di sampingnya.
“Bibi, bisakah bibi kembali ke dalam? Aku akan berbincang sebentar dengannya.”
Minho? Ingin berbicara denganku? Lagi?
Pertanyaan memenuhi kepala Jisung begitu saja.
“Ah! Baiklah. Sekali lagi, terima kasih atas bantuanmu, nak.”
Wanita yang ternyata adalah bibinya Minho itu akhirnya meninggalkan mereka berdua di depan restoran. Keduanya hanya terdiam dengan canggung, membiarkan beberapa orang berlalu lalang di jalan umum ini.
“ So… is there anything you wanted to say to me…? ” Jisung akhirnya buka suara, kepalang penasaran apa yang Minho ingin bicarakan.
“Oh, ya… umm.. terima kasih telah membantu bibiku.” Ujar Minho.”Itu tadi sangat berbahaya, kau bisa terluka jika sampai terjatuh dari skateboard- mu, atau mungkin pencopet tadi bisa melakukan sesuatu kepadamu.”
“Bukan masalah besar, itu hanya spontan terjadi saat aku mendengar seseorang butuh bantuan. Lagipula jatuh dari skateboard juga bukan masalah besar, ingat?” Jisung mengangkat kakinya yang sempat terjatuh tadi. Keduanya tertawa hingga Minho melihat lutut Jisung yang masih terluka. Sudah bersih dari darah, namun masih belum diobati.
“ Hey! Are you okay? ”
“Huh? Oh! Y-yeah, yeah… I’m good. Aku hanya… teralihkan.” Minho terkekeh pelan lalu berdeham. Ia terlalu fokus memperhatikan luka di lutut pemuda di hadapannya hingga tidak sadar dia melamun terlalu lama. “Omong-omong… kita belum berkenalan kan? Namaku Min—”
“Minho Lee.” Sela Jisung dengan cepat. Minho di hadapannya langsung memasang wajah terherannya. “A-aku tahu namamu– MAKSUDKU s-semua orang di sekolah… tahu tentangmu.”
Jisung dalam hati merutuki dirinya sendiri karena telah bertindak aneh dan mungkin terlihat bodoh di hadapan Minho.
“Ah… aku tak tahu aku sepopuler itu.” Minho mengangguk mengerti. “ And you are…? ”
“Jisung. Jisung Han.” Balas pemuda bersurai pirang.
“ Well then, Jisung, it’s nice to know you. ” Minho tersenyum lagi. Jisung bersumpah jika dia tak tahu malu, dia akan mencium bibir indah itu karena astaga… Minho terlalu indah untuk dilihat saja.
“ Y-yeah… nice to know you too… ”
“Omong-omong apa yang kamu lakukan di sini? Dilihat dari penampilanmu, sepertinya ini masih baju yang sama dengan yang kau pakai di sekolah.” Minho memulai pembicaraan baru setelah acara perkenalan mereka selesai.
“Aku baru saja belanja.” Jisung mengangkat kantung penuh belanjaannya. “Aku tinggal bersama sepupuku di sekitar sini. Aku berjanji padanya untuk belanja minggu ini.”
“Oh, apakah jauh? Kalau begitu aku antar saja.” Minho berusaha mengambil kantong belanjaan milik Jisung, namun yang lebih muda menghindar.
“ What? N-no, you shouldn’t… lagipula aku bisa membawanya sendiri—”
“Hm? Aku hanya ingin membantumu, you know… sebagai tanda terima kasih karena sudah membantu bibiku.”
“Aku tidak ingin merepotkanmu…”
“ Hey, Jisung. ”
Sebelum Jisung bahkan bisa menolak lagi, pandangannya bertemu dengan tatapan Minho. Mata itu menatap ke arahnya begitu lembut, begitu meyakinkan. Jisung bahkan tak sadar ia menahan napasnya saat manik mereka saling mengunci.
“Kamu tidak merepotkanku, oke? Now, let me help you. ”
Dan pada akhirnya kantong belanja milik Jisung berpindah tangan pada kakak kelas impian di hadapannya.
.
.
.
“ —benarkah?! Kukira itu hanya kisah omong kosong oleh alumni-alumni menyebalkan!”
“Hm-mm… awalnya kukira juga itu hanya karangan bodoh dari Jack— teman kelasku . Tapi saat kulihat makhluk itu dengan mataku sendiri, rasanya seperti terkena tamparan realita di wajahku.”
“ Wow… I wanna see an elf… ”
Mereka telah membicarakan perihal elf selama delapan menit perjalanan.
“ Well… I can show you sometimes. Mungkin saat kita punya waktu senggang di sekolah.”
Minho tersenyum kecil sembari memperhatikan Jisung yang asik menaiki skateboard -nya di depan. Bagaimana rambut itu dihembus angin ke belakang, pergerakannya yang meliuk-liuk santai di trotoar yang akhirnya sepi dari penduduk, dia bisa melihat Jisung berada di dalam elemennya.
“Apa keluargamu tidak mengkhawatirkanmu?”
Suara Jisung buat Minho kembali tersadar ke realita.
“Huh? Oh… tidak masalah. Aku sudah menghubungi bibiku. Lagipula itu hanya perkumpulan keluarga biasa, bukan masalah besar.”
“ You left your family… for me? ” Aneh, tapi Minho tetap mengangguk membenarkan. “ Why? ”
“Aku bosan. Mereka hanya akan membicarakan tentang potensi bisnis keluargaku dan bla bla bla… not looking forward to that topic tonight. ”
Jisung tertawa kecil, sesekali berhenti menggerakkan skateboard -nya agar Minho tidak tertinggal jauh di belakang.
“ Really? Kukira anak pebisnis besar sepertimu selalu tertarik dengan hal berbau… bisnis.”
“ Nah… I prefer doing some sports like shooting. ”
“ Wow… that’s cool. ” Jisung mulai bergerak menggunakan papannya lagi. “Aku selalu suka skateboarding . Tapi selain itu aku juga gemar membaca buku, bereksperimen di lab, membuat lirik lagu…”
“Hm… kalau begitu sepertinya kau antusias dengan study trip kita minggu depan.” Ujar Minho.
“Maksudmu ke Oscorp? Tentu saja. Aku tidak begitu antusias sih… namun mungkin mereka menyiapkan berbagai hal menarik di dalam sana.”
Perbincangan terus berlanjut untuk beberapa menit hingga akhirnya mereka sampai di lobby utama apartemen Jisung. Minho menyerahkan kembali kantong miliknya dan Jisung mengangkat skateboard kesayangannya dari tanah.
“Terima kasih sudah mengantarkanku.” Ujar Jisung.
“ No problem. Aku senang bisa mengobrol denganmu dan mengenalmu lebih baik.” Balas yang lebih tua. Keduanya lagi-lagi terdiam dengan canggung.
“ W-well then… I’ll see you next time? ” Jisung jadi pertama yang menawarkan perpisahan.
“ Yeah… see you next time. ”
Keduanya tersenyum kepada satu sama lain sebelum saling berpisah. Jisung menurunkan kembali skateboard -nya dan Minho segera beranjak untuk kembali ke restoran tempat keluarganya berkumpul. Namun sebelum mereka berdua berpisah terlalu jauh, Jisung bisa mendengar suara Minho memanggil namanya.
“Jisung!”
Yang dipanggil pun menghentikan papannya, menoleh kembali ke arah Minho. Sebelum ia siap, Jisung langsung menangkap barang yang Minho lempar secara tiba-tiba. Ia membuka tangannya, menemukan antiseptik, kapas, dan band aid di dalam sebuah kantong plastik.
“Untuk luka di lutut mu.”
Jisung rasa kakinya berubah menjadi jeli kala ia melihat kedipan mata Minho. Yang lebih tua akhirnya beranjak pergi, meninggalkan Jisung yang tersenyum menatap kantong plastik di genggamannya.
Ia melanjutkan perjalanannya, melompat-lompat sambil menari kecil dengan bahagia.
What a day to live.
