Actions

Work Header

Good Morning

Summary:

Pagi hari di kediaman keluarga Fushiguro

Work Text:

Haus. Itulah yang Toji rasakan ketika kelopak matanya terbuka. Beban pada lengan kiri yang ia rasakan membuatnya menolehkan kepala. Sepasang manik itupun melirik apa gerangan yang membuat lengannya terasa berat.

Surai putih adalah yang pertama ia lihat. Bibirnya yang dihiasi dengan bekas luka vertikal di sudut itu sedikit tertarik ke atas ketika mengetahui sosok yang kini tengah memeluk tubuhnya dengan erat.

Tangan kanannya yang bebas ia gunakan untuk mengusap lembut surai itu. Kemudian sedikit turun ke bawah untuk menyapa ujung kelopak mata tertutup yang ditumbuhi oleh bulu-bulu lentik dengan warna yang senada dengan rambutnya. Tangannya pun bergerak semakin ke bawah hingga mencapai tulang pipi. Toji sedikit mengelus gumpalan berisi lemak tersebut sebelum mengecup puncak kepala sosok itu dan memindahkan kepalanya dengan perlahan di atas bantal. Rupanya pergerakan Toji membuat tidur nyenyak sosok itu sedikit terusik. Kini sosok itu tertidur dengan posisi terlentang, sebelumnya ia memposisikan tubuhnya sedikit miring untuk mencari kehangatan dari tubuh Toji.

Toji sedikit merenggangkan badannya sebelum turun dari ranjang dengan seprei putih yang terlihat berantakan itu, ia menyempatkan meraih kaos hitam berlengan pendek dan mengenakannya sembari melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur. Teko kaca berisi air pun diraihnya. Kemudian dituangkan isinya ke dalam gelas sebelum meminumnya. Pemilik mata hijau itu melirik jam dinding yang berada di atas lemari pendingin. Pukul tiga pagi.

"Terlalu pagi untuk olahraga." Monolognya setelah menandaskan air di dalam gelas.

Kaki panjangnya kembali melangkah. Kali ini tujuannya adalah ruangan dengan pintu bercat putih dengan stiker huruf M berukuran sedang, kamar Megumi.

Saat membuka pintu kamar yang dipenuhi dengan nuansa warna biru itu Toji disambut oleh tatapan seorang balita berusia tiga tahun. Balita itu tengah tengkurap dengan kepala menengadah menatap sang ayah yang berjalan mendekatinya.

"Hey, jagoan ayah." Sapa Toji.

Ia mengangkat si balita kemudian mengusakkan hidungnya pada perut berlemak dan terasa halus milik sang bayi. Yang diperlakukan seperti itu hanya dapat tergelak karena rasa geli yang berasal dari perutnya.

"Kenapa Megumi bangun?"

Sang anak tak menjawab, ia menatap lekat wajah ayahnya kemudian menggelengkan kepala. Toji pun menyipitkan matanya menatap Megumi dengan curiga. Sampai kemudian sebuah pemikiran terlintas di kepalanya.

"Gumi poo poo?"

Kali ini pertanyaan Toji dijawab dengan anggukan pelan. Pria dewasa tersebut terkekeh melihat betapa lucunya anak semata wayangnya yang kini menggembungkan pipinya dengan bibir mengerucut dan kepala tertunduk. Tanpa berbasa-basi lagi Toji segera melepas popok yang telah kotor itu dan menggantinya dengan yang baru.

"Ayaaah Gumi mawu pee pee."

Bencana susulan. Toji yang sedang membuang popok bekas itu pun segera berlari menghampiri anaknya.

"Gumi udah pee pee?" Pertanyaan itu dijawab dengan gelengan kepala oleh Megumi yang tengah terbaring di atas ranjang.

Dengan secepat mungkin Toji melepaskan popok yang dipakai oleh Megumi dan membawa balita itu ke kamar mandi. Toji memang sudah mengajarkan kepada anaknya agar belajar buang air kecil atau besar di kamar mandi. Lagipula Megumi pun membenci memakai popok, menurutnya memakai popok hanya mempersulit gerakannya. Apalagi jika popoknya basah, maka akan terasa semakin berat. Gumi tidak suka.

Setelah segalanya beres; mengantar Megumi buang air kecil di kamar mandi dan memakaikannya celana —karena balita itu menolak memakai popoknya lagi— Toji menggendongnya menuju kamar sebelah. Kamar tempatnya tidur dan kamar dimana seseorang masih terlelap di dalamnya.

Toji menurunkan Megumi di atas ranjang. Balita itu pun merangkak mendekati sosok yang masih setia memejamkan matanya. Ia menyentuh pipi sosok itu dengan jemari mungilnya, kemudian merangkak naik ke atas tubuh yang berlapis baju tidur berwarna biru tua itu. Megumi duduk di atas perut sosok tersebut, lalu ambruk dengan lengan pendeknya memeluk tubuh sosok di bawahnya.

"Papa." Panggil Megumi pada sosok itu.

Sosok itu hanya menggumam tidak jelas sebagai jawaban. Karena tak mendapatkan respon seperti yang ia inginkan, Megumi memandang Ayahnya dengan tatapan seolah meminta pertolongan.

Yang ditatap seperti itu pun tersenyum tipis lalu membisikkan kata "Kiss" pada megumi.

Megumi pun bangun, lalu merangkak di atas tubuh sosok itu guna mendekat pada wajahnya. Sepersekian detik kemudian ia mendaratkan ciuman pada wajah sosok itu. Ciuman basah yang benar-benar basah karena tercampur dengan liur Megumi.

Merasakan ada sesuatu yang mengusik tidurnya, sosok itu perlahan membuka matanya, kelereng biru cantik dengan campuran warna putih pun terlihat. Bibir tipisnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman ketika melihat si pengganggu tidurnya.

"Good morning." Sapa Satoru, sosok yang baru saja bangun dari tidur nyenyaknya.

"Mowning." Jawab Megumi dengan senyum cerah yang terpatri di wajahnya.

"Good morning, sleepyhead." Toji pun ikut merespon.

Tak lupa ia membubuhkan ciuman singkat pada bibir Satoru setelah pasangannya itu menutup mata Megumi dengan telapak tangannya. Ciuman singkat itu hanya berlangsung selama beberapa detik, hanya beberapa lumatan dan diakhiri oleh Toji dengan gigitan pada bibir bagian bawah milik Satoru.

"Jam berapa?" Tanya Satoru pada Toji yang kini ikut berbaring di sampingnya.

"Tiga pagi. Mungkin sekarang setengah empat."

"Kenapa jagoan Papa bangun, hm?"

Megumi yang kembali memeluk tubuh Satoru pun mendongakkan kepalanya, "Gumi poo poo," jawabnya, "Telus Gumi pee pee."

"Ayah yang ganti popok Gumi?" Pertanyaan itu terlontar bersamaan dengan tangannya yang meraba bagian pantat Megumi. "Gumi ngga pakai popok?"

Balita yang dipanggil Gumi itu sedikit mengerucutkan bibirnya tanda ia tidak suka. "No no," Jawabnya lalu ia menggelengkan kepala, "Gumi nda cuka pakai popok, Papaaa."

"Jadi Gumi ngga boleh ngompol, Gumi harus bilang ke Papa atau Ayah kalau mau poo poo atau pee pee. Setuju?"

Anggukan pelan didapatkan sebagai jawaban. Satoru mengelus rambut hitam legam balita itu dan melontarkan pujian pada anaknya yang penurut dan pandai.

Sementara Toji yang menjadi saksi percakapan antara dua orang yang paling ia sayangi itu pun hanya terdiam dengan senyum bertengger di bibirnya yang dihiasi dengan bekas luka itu. Namun kini tangannya meraih tubuh kecil Megumi dan meletakkannya diantara tubuhnya dan sang pasangan hidup. Kemudian ia memiringkan tubuhnya untuk merengkuh tubuh kedua sosok itu dan memejamkan matanya.

"Ayo tidur."

"Gumi nda mawu tiduw, Ayah."

"Ayo kita tidur." Kini Satoru ikut memeluk tubuh kecil Megumi.

"Tapi Papa–"

Ucapan sang balita terhenti ketika ia melihat Satoru menguap, atau bisa dikatakan pura-pura menguap.

"Lihat, Papa ngantuk. Ayo tidur. Gumi juga harus tidur biar cepet tinggi." Bujuk Toji.

Mata bulat khas balita itu semakin melebar karena antusias, "Ayah nda bo'on? Gumi bica cepet tindi?"

Satoru mengangguk, "Iya dong, masa Ayah bohong. Nanti Gumi bisa cepet tinggi kalau tidurnya cukup. Jadi sekarang Gumi tidur, okay?"

Megumi menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk bulatan dengan ketiga jari lainnya masih berdiri tegap, pose okay kata Megumi. Ia punya menyerukan "Okay." Dengan riang dan segera menutup mata, tak lupa berharap agar tubuhnya cepat tumbuh tinggi.

 

 

END

Series this work belongs to: